Kejadian dan Peristiwa Pada Masa Kekhalifahan Ali Bin Abi Tahlib r.a
Bab Ketiga: Amal Perbuatan dan Peristiwa-Peristiwa di Masanya
Para Gubernur Saat Terbunuhnya Utsman radhiyallahu 'anhu:
Gubernur yang memegang wilayah Kufah adalah Abu Musa
al-Asy'ari yang mengimami salat, sedangkan urusan perang dipegang oleh
al-Qa'qa' bin Amru, dan urusan pajak (kharaj) dipegang oleh Jabir bin
Amru al-Muzani. Wilayah Basrah dipimpin oleh Abdullah bin Amir, sedangkan
wilayah Mesir dipimpin oleh Abdullah bin Saad bin Abi Sarh—namun wilayah ini
telah dikuasai oleh Muhammad bin Abi Hudzaifah.
Wilayah Syam dipimpin oleh Muawiyah bin Abi Sufyan, dengan
para wakilnya di beberapa daerah, yaitu:
- Homs:
Abdurrahman bin Khalid bin al-Walid
- Qinnasrin:
Habib bin Maslamah
- Yordania:
Abu al-A'war bin Sufyan
- Palestina:
Alqamah bin Hakim
Adapun gubernur untuk wilayah Azerbaijan adalah al-Asy'ats
bin Qais; wilayah Qarqisiya dipimpin oleh Jarir bin Abdullah al-Bajali; wilayah
Hulwan dipimpin oleh Utaibah bin an-Nahhas; wilayah Mah dipimpin oleh Malik bin
Habib; wilayah Hamadan dipimpin oleh an-Nusair; wilayah Ray dipimpin oleh Said
bin Qais; wilayah Isfahan dipimpin oleh as-Sa'ib bin al-Aqra'; dan wilayah
Masabadzan dipimpin oleh Hubaisyr.
Inilah nama-nama wakil Utsman yang disebutkan oleh Ibnu
Jarir, yang mana Utsman wafat saat mereka masih menjabat sebagai gubernur di
kota-kota tersebut. Sementara itu, petugas Baitulmal di Madinah adalah Uqbah
bin Amru, dan yang memegang urusan peradilan di Madinah adalah Zaid bin Tsabit.
Pengangkatan Gubernur Baru di Berbagai Wilayah oleh Ali:
Tahun 36 Hijriah dimulai ketika Amirul Mukminin Ali bin Abi
Thalib telah memegang tampuk kekhalifahan dan mengangkat para wakilnya untuk
memimpin berbagai wilayah. Beliau mengangkat Ubaidullah bin Abbas untuk
memimpin Yaman, Usman bin Hunaif untuk Basrah, Umarah bin Syihab untuk Kufah,
dan Qais bin Saad bin Ubadah untuk Mesir.
Sedangkan untuk wilayah Syam, beliau mengangkat Sahl bin
Hunaif sebagai pengganti Muawiyah. Sahl pun berangkat hingga sampai di Tabuk,
lalu dia dihadang oleh pasukan berkuda Muawiyah. Mereka bertanya, "Siapa
kamu?"
Sahl menjawab, "Seorang gubernur."
Mereka bertanya lagi, "Gubernur untuk wilayah
apa?"
Sahl menjawab, "Untuk wilayah Syam."
Mereka berkata, "Jika Utsman yang mengutusmu, maka
selamat datang. Namun jika orang lain yang mengutusmu, maka kembalilah."
Sahl bertanya, "Apakah kalian belum mendengar apa yang
telah terjadi?"
Mereka menjawab, "Sudah." Maka Sahl pun kembali
pulang menemui Ali.
Adapun Qais bin Saad, masyarakat Mesir berbeda pendapat
mengenainya. Mayoritas masyarakat membaiatnya, namun sekelompok orang berkata,
"Kami tidak akan membaiat sampai para pembunuh Utsman dihukum mati."
Begitu pula dengan masyarakat Basrah, ada sekelompok orang yang menolak
membaiat.
Sementara itu, Umarah bin Syihab yang diutus menjadi
gubernur Kufah dihalang-halangi oleh Thulaihah bin Khuwailid karena marahnya
Thulaihah atas kematian Utsman. Umarah pun kembali menemui Ali dan melaporkan
kejadian tersebut. Akhirnya fitnah mulai menyebar, keadaan semakin genting, dan
suara masyarakat terpecah belah. Namun, Abu Musa mengirim surat kepada Ali yang
mengabarkan bahwa mayoritas penduduk Kufah telah taat dan membaiatnya, kecuali
sebagian kecil saja.
Ali telah mengirim banyak surat kepada Muawiyah, tetapi
Muawiyah tidak kunjung membalasnya. Hal itu berulang kali terjadi hingga
memasuki bulan ketiga sejak terbunuhnya Utsman, yaitu pada bulan Safar.
Kemudian, Muawiyah mengirimkan sebuah lembaran surat yang dibawa oleh seorang
utusan. Utusan tersebut menemui Ali, lalu Ali bertanya kepadanya, "Apa
yang ada di belakangmu (apa kabar yang kau bawa)?"
Utusan itu menjawab, "Aku datang kepadamu dari hadapan
kaum yang tidak menginginkan apa pun kecuali qishash (hukuman balasan).
Mereka semua merasa dituntut untuk menuntut balas. Aku meninggalkan enam puluh
ribu orang tua yang menangis di bawah baju jubah Utsman, yang mana jubah itu
dipajang di atas mimbar Damaskus."
Ali berkata, "Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri
kepada-Mu dari darah Utsman." Setelah itu, utusan Muawiyah keluar dari
hadapan Ali, lalu orang-orang Khawarij yang dahulu membunuh Utsman
menghadangnya dan berniat membunuhnya. Utusan itu tidak bisa lolos melainkan
setelah bersusah payah.
Tuntutan untuk Menuntut Balas atas Darah Utsman radhiyallahu 'anhu:
Ketika Utsman radhiyallahu 'anhu terbunuh, Muawiyah
bin Abi Sufyan beserta sejumlah sahabat yang bersamanya berdiri di hadapan
masyarakat untuk mengobarkan semangat agar menuntut balas atas darah Utsman
dari orang-orang Khawarij yang telah membunuhnya.
Di antara para sahabat tersebut adalah Ubadah bin as-Samit,
Abu ad-Darda', Abu Umamah, Amr bin Abasah, dan para sahabat lainnya. Sedangkan
dari kalangan tabi'in di antaranya adalah Syarik bin Khabasyah, Abu Muslim
al-Khaulani, Abdurrahman bin Ghanm, dan lain-lain.
Ketika baiat untuk Ali telah mantap, Thalhah, az-Zubair,
beserta para tokoh sahabat radhiyallahu 'anhum menemui Ali. Mereka
meminta Ali untuk menegakkan hukum had dan menghukum pembunuh Utsman. Namun Ali
meminta maaf kepada mereka karena para pembunuh tersebut memiliki banyak
pendukung, sehingga hal itu tidak memungkinkan untuk dilakukan saat ini.
Ibnu Abbas sebenarnya telah menyarankan kepada Ali agar
tetap mempertahankan para gubernur bentukan Utsman di wilayah masing-masing
untuk sementara waktu sampai keadaan benar-benar stabil, dan secara khusus
tetap menetapkan Muawiyah di Syam. Ibnu Abbas berkata kepada Ali,
"Suratilah Muawiyah, janjikan sesuatu padanya dan buat dia tenang."
Namun Ali menjawab, "Demi Allah, hal ini tidak akan pernah terjadi sama
sekali." Ibnu Abbas berkata, "Wahai Amirul Mukminin, perang itu
adalah tipu daya," sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ.
Ibnu Abbas juga melarang Ali untuk menuruti saran orang-orang yang membujuknya
agar pergi ke Irak dan meninggalkan Madinah, namun Ali menolak semua saran
tersebut.
Berangkatnya Thalhah, az-Zubair, dan Aisyah ke Basrah:
Istri-istri Nabi ﷺ (Ummahatul Mukminin) telah berangkat melaksanakan ibadah
haji pada tahun 35 Hijriah. Ketika kabar terbunuhnya Utsman sampai kepada
mereka setelah mereka selesai menunaikan ibadah haji, mereka kembali ke Makkah
dan menetap di sana sambil menunggu apa yang akan dilakukan oleh masyarakat.
Ketika Ali telah dibaiat, orang-orang yang paling dekat
dengannya karena tuntutan keadaan dan desakan situasi—bukan karena pilihan Ali
sendiri—adalah para tokoh Khawarij yang membunuh Utsman. Padahal sebenarnya Ali
membenci mereka, namun beliau sedang menunggu waktu yang tepat dan berharap
bisa menguasai mereka untuk menegakkan hak Allah atas mereka. Akan tetapi,
karena keadaan terjadi demikian rupa, orang-orang tersebut menguasai keadaan
dan menghalangi para sahabat senior untuk mendekati Ali. Akibatnya, sekelompok
orang dari Bani Umayyah dan yang lainnya melarikan diri ke Makkah.
Thalhah dan az-Zubair pun meminta izin kepada Ali untuk
melaksanakan umrah. Setelah diizinkan, keduanya berangkat ke Makkah dan diikuti
oleh banyak orang. Di Makkah, datang pula Ya'la bin Umayyah dari Yaman—yang
dulunya adalah gubernur bentukan Utsman—dengan membawa 600 unta dan uang
sebanyak 600 ribu dirham. Abdullah bin Amir yang merupakan mantan gubernur
Basrah zaman Utsman juga datang ke Makkah.
Maka berkumpullah di Makkah para tokoh sahabat dan Ummahatul
Mukminin. Hasil musyawarah mereka sepakat untuk menuntut balas atas darah
Utsman. Sebagian orang mengusulkan, "Mari kita pergi ke Syam."
Namun yang lain berkata, "Sesungguhnya Muawiyah telah
mencukupi urusan di sana untuk kalian."
Sebagian yang lain mengusulkan, "Kita pergi ke Madinah,
lalu kita minta kepada Ali agar menyerahkan para pembunuh Utsman kepada kita
untuk dihukum mati."
Namun yang lain berkata, "Lebih baik kita pergi ke
Basrah, lalu kita memperkuat diri di sana dengan pasukan berkuda dan personil,
serta kita mulai dari para pembunuh Utsman yang ada di sana." Akhirnya,
pendapat inilah yang disepakati.
Orang-orang pun bergerak menuju Basrah. Yang bertindak
mengimami salat atas perintah Aisyah adalah anak saudarinya, yaitu Abdullah bin
az-Zubair, sedangkan Marwan bin al-Hakam yang mengumandangkan azan setiap masuk
waktu salat. Di tengah perjalanan pada malam hari, mereka melewati sebuah
sumber air yang bernama Al-Hawab.
Ketika mereka lewat, anjing-anjing di sekitar air tersebut
menggonggong kepada mereka. Begitu mendengar hal itu, Aisyah bertanya,
"Apa nama air ini?" Mereka menjawab, "Al-Hawab."
Seketika itu juga Aisyah menepukkan salah satu tangannya ke
tangan yang lain lalu berkata, "Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan
kepada-Nya kita akan kembali. Aku merasa bahwa aku harus pulang." Mereka
bertanya, "Mengapa?"
Aisyah menjawab, "Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ
bersabda kepada istri-istrinya:
»لَيْتَ
شِعْرِي أَيَّتُكُنَّ الَّتِي تَنْبَحُهَا كِلابُ الْحَوْأَبِ«
Artinya: 'Aduhai, siapakah di antara kalian yang akan
digonggongi oleh anjing-anjing Al-Hawab?' "
Kemudian Aisyah memukul punuk untanya agar menderem
(berlutut), lalu berkata, "Kembalikan aku! Kembalikan aku! Demi Allah,
akulah pemilik air Al-Hawab itu."
Masyarakat pun akhirnya ikut menderemkan unta mereka di
sekitar Aisyah selama sehari semalam. Abdullah bin az-Zubair lalu berkata
kepadanya, "Sesungguhnya orang yang mengabarkan kepadamu bahwa air ini
adalah air Al-Hawab telah berdusta."
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Basrah. Ketika
sudah dekat dengan Basrah, Aisyah mengirim surat kepada al-Ahnaf bin Qais dan
para tokoh masyarakat lainnya untuk mengabarkan kedatangannya. Mengetahui hal
itu, gubernur Basrah, Usman bin Hunaif, mengutus Imran bin Hushain dan Abu
al-Aswad ad-Du'ali untuk menemui Aisyah guna mencari tahu maksud kedatangannya.
Ketika keduanya sampai, mereka mengucapkan salam dan
bertanya tentang maksud kedatangan Aisyah. Aisyah pun menjelaskan bahwa
tujuannya datang adalah untuk menuntut balas atas darah Utsman, karena Utsman
dibunuh secara zalim di bulan yang haram (suci) dan di negeri yang haram
(suci). Aisyah kemudian membacakan firman Allah Ta'ala:
﴿لَّا
خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ
مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ
مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسوفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا﴾
Artinya: 'Tidak ada kebaikan pada banyak bisikan-bisikan
mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi
sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan
barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak
Kami memberi kepadanya pahala yang besar.' (QS. An-Nisa: 114)
Keduanya lalu keluar dari tempat Aisyah dan menemui Thalhah,
lalu bertanya, "Apa yang membuatmu datang ke sini?" Thalhah menjawab,
"Menuntut balas atas darah Utsman."
Mereka bertanya lagi, "Bukankah kamu telah membaiat
Ali?" Thalhah menjawab, "Benar, aku membaiat saat pedang berada di
leherku, dan aku tidak akan meminta pembatalan baiat itu jika dia membiarkan
kami menghukum para pembunuh Utsman."
Kemudian keduanya menemui az-Zubair, dan az-Zubair pun
mengatakan hal yang sama. Akhirnya Imran dan Abu al-Aswad kembali kepada Usman
bin Hunaif dan melaporkan hasilnya.
Usman bin Hunaif berkata, "Sesungguhnya kita adalah
milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. Demi Tuhan Pemilik Ka'bah, roda
fitnah Islam telah berputar, maka lihatlah di atas landasan apa kita akan
berpijak."
Imran berkata, "Benar, demi Allah, fitnah ini
benar-benar akan menggilas kalian dengan gilingan yang lama."
Kemudian Usman bin Hunaif bertanya kepada Imran bin Hushain,
"Berilah aku saran." Imran menjawab, "Menjauhlah (dari fitnah),
karena aku sendiri akan duduk diam di rumahku," atau dia berkata,
"duduk di atas untaku."
Namun Usman berkata, "Sebaliknya, aku akan menahan
mereka sampai Amirul Mukminin (Ali) datang." Usman lalu menyeru masyarakat
agar menyandang senjata dan berkumpul di masjid. Setelah mereka berkumpul, dia
memerintahkan mereka untuk bersiap-siap.
Ketika Usman bin Hunaif berada di atas mimbar, seorang
laki-laki berdiri dan berkata, "Wahai sekalian manusia, jika orang-orang
itu datang dalam keadaan takut, mereka sebenarnya datang dari negeri yang
bahkan burung pun aman di dalamnya (Makkah). Dan jika mereka datang untuk
menuntut balas atas darah Utsman, kita ini bukanlah para pembunuhnya. Oleh
karena itu, patuhilah aku dan kembalikan mereka ke tempat asal mereka."
Mendengar itu, Al-Aswad bin Sari' as-Sa'di berdiri dan
berkata, "Sesungguhnya mereka datang hanya untuk meminta bantuan kita guna
menghadapi para pembunuh Utsman, baik yang ada di kalangan kita maupun di luar
kita."
Masyarakat pun melempari al-Aswad dengan batu kerikil. Dari
kejadian itu, Usman bin Hunaif sadar bahwa para pembunuh Utsman ternyata
memiliki pendukung di Basrah, dan dia membenci hal tersebut.
Kemudian Ibu kaum Mukminin (Aisyah) tiba bersama
rombongannya, lalu mereka singgah di bagian atas Al-Mirbad, dekat dari Basrah.
Penduduk Basrah yang ingin bergabung dengan Aisyah pun keluar menemuinya. Di
sisi lain, Usman bin Hunaif juga keluar membawa pasukannya, lalu kedua kubu
bertemu di Al-Mirbad.
Thalhah—yang memimpin sayap kanan pasukan—berbicara menyeru
untuk menuntut balas dan menghukum pembunuh Utsman. Langkahnya diikuti oleh
az-Zubair yang menyampaikan seruan serupa. Namun, beberapa orang dari pasukan
Usman bin Hunaif menyanggah ucapan keduanya. Akhirnya, kelompok-kelompok dari
kedua belah pihak saling berselisih hingga terjadi aksi saling melempar batu,
sebelum akhirnya mereka saling menahan diri dan masing-masing kembali ke
pasukannya. Pada saat itu, sebagian pasukan Usman bin Hunaif membelot dan
bergabung dengan pasukan Aisyah sehingga jumlah mereka bertambah banyak.
Jariyah bin Qudamah as-Sa'di datang dan berkata, "Wahai
Ibu kaum Mukminin! Demi Allah, terbunuhnya Utsman itu lebih ringan daripada
keluarmu dari rumahmu di atas unta ini dengan menjadi sasaran senjata. Jika
engkau datang kepada kami atas kemauan sendiri, maka kembalilah ke rumahmu
tempat engkau datang. Namun jika engkau datang karena terpaksa, mintalah
bantuan kepada orang-orang untuk memulangkanmu."
Terjadinya Pertempuran antara Mereka dengan Gubernur Pilihan Ali di Basrah:
Hakim bin Jabalah—yang memimpin pasukan berkuda Usman bin
Hunaif—memulai pertempuran. Sementara itu, para pengikut Ibu kaum Mukminin
(Aisyah) menahan tangan mereka dan berusaha menghindari pertempuran. Namun,
Hakim terus merangsek menyerang mereka, hingga akhirnya mereka bertempur di
ujung jalan. Aisyah kemudian memerintahkan para pengikutnya untuk bergeser ke
arah kanan hingga mereka sampai di pemakaman Bani Mazin, lalu malam pun
memisahkan pertempuran mereka.
Ketika keesokan harinya, mereka kembali bersiap untuk
berperang. Terjadilah pertempuran yang sangat sengit hingga matahari bergeser
(tengah hari). Banyak sekali pasukan Ibnu Hunaif yang tewas, dan luka-luka
diderita oleh kedua belah pihak secara masif. Ketika perang telah melelahkan
mereka, kedua belah pihak menyerukan perdamaian.
Akan tetapi, sekelompok orang yang ikut terlibat dalam
pembunuhan Utsman beserta para pendukung mereka—yang berjumlah sekitar 300
orang di bawah pimpinan Hakim bin Jabalah (salah satu orang yang langsung
mengeksekusi pembunuhan Utsman)—tetap maju dan bertempur. Seseorang menebas
kaki Hakim bin Jabalah hingga terputus, namun Hakim merangkak mengambil kakinya
yang putus itu lalu melemparkannya ke arah orang yang menebasnya hingga orang
tersebut tewas. Akhirnya Hakim pun tewas beserta sekitar 70 orang dari para
pembunuh Utsman dan pendukung mereka.
Peristiwa ini terjadi pada lima malam terakhir di bulan
Rabiul Akhir tahun 36 Hijriah, dan peristiwa ini dinamakan dengan Perang Jamal
Kecil (Mawaqi'atul Jamal as-Sughra).
Perjalanan Ali bin Abi Thalib dari Madinah Menuju Irak:
Ali radhiyallahu 'anhu sebenarnya telah bersiap-siap
dengan maksud menuju Syam. Namun, ketika sampai kabar kepadanya bahwa Thalhah
dan az-Zubair bermaksud menuju Basrah, beliau berpidato di hadapan masyarakat
dan mendorong mereka untuk bergerak menuju Irak. Akan tetapi, mayoritas
penduduk Madinah merasa berat dan enggan, meskipun sebagian dari mereka
akhirnya menyambut seruan tersebut.
Ibnu Jarir dan sejarawan lainnya menyebutkan bahwa di antara
tokoh sahabat senior yang menyambut seruan Ali adalah Abu al-Haitsam bin
at-Tayyihan, Abu Qatadah al-Anshari, Ziyad bin Hanzhalah, dan Khuzaimah bin
Tsabit. Mereka menyatakan bahwa Khuzaimah ini bukanlah pemilik julukan Dzu
asy-Syahadatain (orang yang persaksiannya senilai dua orang), karena
Khuzaimah yang itu telah wafat di zaman Utsman radhiyallahu 'anhu.
Ali berangkat dari Madinah menuju ar-Rabadzah. Beliau
menunjuk Tammam bin Abbas sebagai penggantinya untuk memimpin Madinah, dan
Qutsam bin Abbas untuk memimpin Makkah. Keberangkatan ini terjadi di akhir
bulan Rabiul Akhir tahun 36 Hijriah, di mana Ali keluar dari Madinah bersama
sekitar 900 pejuang.
Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu sempat bertemu
dengan Ali saat beliau berada di ar-Rabadzah. Abdullah memegang tali kendali
kuda Ali dan berkata, "Wahai Amirul Mukminin! Janganlah engkau keluar dari
Madinah. Demi Allah, jika engkau keluar darinya, engkau tidak akan pernah
kembali lagi ke sana, dan kekuasaan kaum muslimin tidak akan pernah kembali
lagi ke Madinah selama-lamanya." Mendengar ucapan itu, sebagian orang
mencaci Abdullah bin Salam, namun Ali berkata, "Biarkan dia, karena dia
adalah sebaik-baik orang dari kalangan sahabat Nabi ﷺ."
Dan Al-Hasan bin Ali datang menemui ayahnya lalu berkata,
"Sungguh aku telah melarangmu namun engkau menentangku. Besok engkau akan
terbunuh di tempat yang sunyi ini tanpa ada seorang penolong pun." Ali
berkata kepadanya, "Engkau terus-menerus merengek kepadaku seperti
rengekan seorang anak perempuan. Lalu apa yang telah engkau larang dariku namun
aku tentani?"
Al-Hasan menjawab, "Bukankah sebelum terbunuhnya Utsman
aku telah memerintahkanmu untuk keluar dari Madinah, agar dia tidak terbunuh
saat engkau berada di sana, sehingga tidak ada orang yang akan menuduh atau
membicarakannya? Bukankah aku juga telah memerintahkanmu agar tidak menerima
baiat manusia setelah terbunuhnya Utsman sampai penduduk dari setiap wilayah
mengirimkan baiat mereka kepadamu? Dan aku pun telah memerintahkanmu ketika
wanita ini (Aisyah) dan kedua pria ini (Thalhah dan az-Zubair) keluar, agar
engkau tetap duduk diam di rumahmu sampai mereka berdamai, namun engkau
menentangku dalam semua hal itu?"
Maka Ali berkata kepadanya, "Adapun ucapanmu agar aku
keluar sebelum terbunuhnya Utsman, demi Allah kami telah dikepung sebagaimana
dia juga dikepung. Adapun masalah pembaiatanku sebelum datangnya baiat dari
kota-kota lain, sesungguhnya urusan kekhalifahan adalah urusan penduduk
Madinah, dan aku tidak suka jika urusan kepemimpinan ini menjadi telantar.
Sedangkan mengenai ucapanmu agar aku duduk diam saja
sementara mereka telah bergerak menuju apa yang mereka tuju, apakah engkau
ingin aku menjadi seperti hewan dubuk yang dikepung, lalu dikatakan kepadanya:
'Ketuklah, ketuklah, dia tidak ada di sini,' hingga urat kakinya terputus lalu
dia keluar? Jika aku tidak memperhatikan apa yang menjadi kewajibanku dalam
urusan ini dan apa yang dapat membantuku, lalu siapa lagi yang akan
memperhatikannya? Maka berhentilah merengek dariku, wahai anakku."
Ketika kabar tentang apa yang dilakukan oleh orang-orang di
Basrah sampai kepada Ali, beliau menulis surat kepada penduduk Kufah yang
dikirim bersama Muhammad bin Abi Bakar dan Muhammad bin Ja'far:
"Sesungguhnya aku telah memilih kalian di atas penduduk kota-kota lainnya,
dan aku meminta bantuan kepada kalian atas apa yang terjadi. Oleh karena itu,
jadilah kalian para penolong dan pembela agama Allah, dan bangkitlah menuju
kami, karena perbaikanlah yang kami inginkan agar umat ini kembali menjadi bersaudara."
Kedua utusan itu pun berangkat, dan Ali mengirim utusan ke Madinah untuk
mengambil senjata dan hewan tunggangan yang beliau inginkan.
Khotbah Ali radhiyallahu 'anhu:
Ali radhiyallahu 'anhu berdiri menyampaikan khotbah
di hadapan manusia, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah telah memuliakan
kita dengan Islam, mengangkat derajat kita dengannya, dan menjadikan kita
bersaudara setelah sebelumnya kita berada dalam kehinaan, jumlah yang sedikit,
saling membenci, dan saling menjauh. Maka manusia pun berjalan di atas hal itu
selama waktu yang dikehendaki Allah. Islam adalah agama mereka, kebenaran tegak
di antara mereka, dan Al-Kitab (Al-Qur'an) adalah imam mereka, hingga pria ini
(Utsman) ditimpa musibah oleh ulah sekelompok orang yang telah dihasut oleh
setan untuk menanamkan permusuhan di antara umat ini. Ketahuilah, umat ini
pasti akan terpecah belah sebagaimana umat-umat sebelum mereka telah terpecah
belah. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan apa yang akan terjadi, dan
apa yang telah digariskan pasti akan terjadi. Ketahuilah, sesungguhnya umat ini
akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, dan yang paling buruk di
antaranya adalah golongan yang menisbatkan diri kepadaku namun tidak
mengamalkan amalan-amalanku. Kalian telah mengetahui dan melihatnya, maka
berpegangteguhlah pada agama kalian, ambillah petunjuk dengan petunjuk Nabi
kalian, ikutilah sunahnya, dan berpalinglah dari apa yang meragukan kalian
hingga kalian menyandarkannya kepada Al-Kitab. Apa yang dikenali oleh Al-Qur'an
maka peganglah ia, dan apa yang diingkarinya maka tolaklah ia. Ridhailah Allah
sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai Nabi, dan Al-Qur'an
sebagai hukum dan imam."
Para perawi mengatakan: Ali lalu berangkat dari ar-Rabadzah
dengan pasukannya dalam kondisi siap siaga, beliau mengendarai unta merah
sambil menuntun seekor kuda yang berwarna merah tua (kamit). Ketika
sampai di Fayd, sekelompok orang dari suku Asad dan Thayyi' datang menemui
beliau dan menawarkan diri mereka untuk membantu, namun Ali berkata:
"Orang-orang yang bersamaku saat ini sudah mencukupi."
Kemudian datang seorang pria dari penduduk Kufah yang
bernama Amir bin Mathar asy-Syaibani, lalu Ali bertanya kepadanya: "Apa
kabar yang ada di belakangmu (Kufah)?" Pria itu pun menceritakan kabarnya
kepada Ali. Ketika Ali bertanya mengenai sikap Abu Musa al-Asy'ari, pria itu
menjawab: "Jika engkau menginginkan perdamaian, maka Abu Musa adalah
orangnya. Namun jika engkau menginginkan peperangan, maka dia bukan
orangnya." Ali pun berkata: "Demi Allah, aku tidak menginginkan apa pun
kecuali perdamaian dari orang yang memberontak kepada kami."
Ketika Ali sampai di Dzu Qar, Usman bin Hunaif (mantan
gubernur Basrah) datang menemui beliau dan mengadukan kondisi yang dialaminya
(di mana rambut dan jenggotnya telah dicabuti oleh musuh). Ali berkata
kepadanya: "Engkau telah mendapatkan kebaikan dan pahala."
Ali menetap di Dzu Qar untuk menunggu jawaban atas surat
yang beliau kirim bersama Muhammad bin Abi Bakar dan rekannya, Muhammad bin
Ja'far. Keduanya telah menyampaikan surat beliau kepada Abu Musa dan menyerukan
perintah Ali di hadapan masyarakat, namun seruan itu tidak mendapatkan sambutan
sama sekali. Ketika sore hari tiba, beberapa orang yang berakal menemui Abu
Musa dan menawarkan kepatuhan kepada Ali untuk berangkat berperang.
Abu Musa berkata: "Pendapat yang tepat itu adalah yang
kemarin, sedangkan yang tersisa sekarang hanyalah dua pilihan: Duduk diam
(tidak ikut campur) adalah jalan akhirat, sedangkan keluar berperang adalah
jalan dunia. Maka pilihlah oleh kalian." Akibatnya, tidak ada seorang pun
yang bergerak berangkat.
Hal itu membuat Muhammad bin Abi Bakar dan Muhammad bin
Ja'far marah. Mengetahui hal tersebut, Ali kemudian mengutus Al-Hasan
(putranya) bersama Ammar bin Yasir. Keduanya berangkat hingga masuk ke dalam
masjid Kufah. Abu Musa pun keluar menemui mereka lalu memeluk Al-Hasan bin Ali.
Al-Hasan bin Ali berkata kepada Abu Musa: "Mengapa
engkau menghalang-halangi manusia dari kami? Demi Allah, kami tidak
menginginkan apa pun kecuali perbaikan, dan orang seperti Amirul Mukminin tidak
perlu dikhawatirkan akan berbuat zalim." Abu Musa menjawab: "Engkau
benar, demi ayah dan ibuku. Akan tetapi, orang yang dimintai saran itu harus
jujur dan amanah. Aku pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:
»إِنَّهَا
سَتَكُونُ فِتْنَةٌ القَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ القَائِمِ، وَالقَائِمُ خَيْرٌ
مِنَ المَاشِي، وَالمَاشِي خَيْرٌ مِنَ الرَّاكِبِ«
Artinya: 'Sesungguhnya akan terjadi fitnah, yang mana
orang yang duduk saat itu lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih
baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang
berkendara.' "
Abu Musa melanjutkan: "Dan Allah telah menjadikan kita
bersaudara serta mengharamkan atas kita darah dan harta kita. Sesungguhnya
fitnah itu jika datang akan terlihat samar, dan jika telah berlalu barulah
menjadi jelas."
Mendengar itu, al-Qa'qa' bin Amru berdiri dan berkata:
"Benar apa yang dikatakan oleh amir (Abu Musa), akan tetapi manusia harus
memiliki seorang pemimpin yang dapat mencegah orang zalim, membela orang yang
dizalimi, dan menyatukan urusan manusia. Amirul Mukminin Ali telah diuji dengan
memegang kepemimpinan ini, dan beliau telah berlaku adil dalam seruannya.
Beliau hanyalah menginginkan perbaikan, maka berangkatlah kalian
kepadanya."
Kemudian masyarakat saling berbalas ucapan, lalu Ammar bin
Yasir dan Al-Hasan bin Ali berdiri di atas mimbar untuk menyeru manusia agar
berangkat menemui Amirul Mukminin, karena beliau hanya menginginkan perdamaian
di antara manusia.
Saat itu, Ammar mendengar seorang pria mencaci Aisyah, maka
Ammar berkata: "Diamlah engkau, wahai orang yang buruk dan terhina! Demi
Allah, sesungguhnya dia adalah istri Rasulullah ﷺ di dunia dan di akhirat. Akan tetapi,
Allah menguji kalian dengannya untuk melihat apakah kalian menaati Allah atau
menaati dia (Aisyah)." Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
Hujr bin Adi juga berdiri dan berkata: "Wahai sekalian
manusia, berangkatlah menuju Amirul Mukminin! Berangkatlah kalian baik dalam
keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwa
kalian di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian
mengetahui."
Masyarakat pun menyambut seruan tersebut untuk berangkat.
Sebanyak sembilan ribu orang keluar bersama Al-Hasan melalui jalur darat dan
Sungai Tigris, bahkan ada yang mengatakan bahwa yang berjalan bersama Al-Hasan
mencapai dua belas ribu orang. Mereka mendatangi Amirul Mukminin, lalu Ali
menyambut mereka di tengah jalan menuju Dzu Qar bersama sekelompok sahabat,
termasuk di antaranya Ibnu Abbas. Ali menyambut mereka dan berkata: "Wahai
penduduk Kufah! Kalian telah menghadapi raja-raja ajam (Persia) dan mencerai-beraikan
pasukan mereka. Aku mengundang kalian ke sini agar kalian menyaksikan sikap
kami bersama saudara-saudara kita dari penduduk Basrah. Jika mereka mau kembali
(taat), maka itulah yang kita inginkan. Namun jika mereka menolak, kita akan
menyembuhkan mereka dengan kelembutan sampai mereka yang memulai kezaliman
kepada kita. Kita tidak akan meninggalkan satu urusan pun yang di dalamnya
terdapat kebaikan melainkan kita akan mengutamakannya daripada hal yang
mendatangkan kerusakan, insya Allah Ta'ala."
Maka berkumpullah mereka di sisi Ali di Dzu Qar. Di antara
para pemimpin terkenal yang bergabung dengan Ali adalah al-Qa'qa' bin Amru,
Su'ar bin Malik, Hindun bin Amru, al-Haitsam bin Syihab, Zaid bin Shuhan,
al-Asytar, Adi bin Hatim, al-Musayyib bin Najabah, Yazid bin Qais, Hujr bin
Adi, dan orang-orang yang sepadan dengan mereka. Suku Abdul Qais secara
keseluruhan juga berada di antara posisi Ali dan Basrah untuk menunggu
kedatangan beliau, dan jumlah mereka mencapai ribuan orang.
Utusan antara Ali, Thalhah, dan az-Zubair serta Kesepakatan Mereka untuk Berdamai:
Ali mengutus al-Qa'qa' bin Amru sebagai utusan menemui
Thalhah dan az-Zubair di Basrah untuk mengajak keduanya kepada persatuan dan
jamaah, serta menekankan besarnya dampak perpecahan dan perselisihan. Al-Qa'qa'
pun berangkat ke Basrah dan memulai kunjungannya dengan menemui Ibu kaum
Mukminin, Aisyah.
Al-Qa'qa' berkata: "Wahai ibundaku! Apa yang membuatmu
datang ke negeri ini?" Aisyah menjawab: "Wahai anakku, tujuannya
adalah untuk mengadakan perbaikan di antara manusia." Al-Qa'qa' kemudian
meminta Aisyah agar mengirim utusan kepada Thalhah dan az-Zubair agar keduanya
hadir di tempat Aisyah, dan keduanya pun datang.
Al-Qa'qa' berkata: "Aku telah bertanya kepada Ibu kaum
Mukminin tentang maksud kedatangannya, dan beliau menjawab bahwa beliau datang
untuk mengadakan perbaikan di antara manusia." Thalhah dan az-Zubair
menyahut: "Kami pun datang untuk tujuan yang sama."
Al-Qa'qa' berkata: "Maka kabarkanlah kepadaku,
bagaimana bentuk perbaikan itu dan di atas landasan apa hal itu bisa terwujud?
Demi Allah, jika kami mengenalinya, kami pasti akan berdamai. Namun jika kami
mengingkarinya, kami tidak akan bisa berdamai."
Keduanya menjawab: "Hukum mati para pembunuh Utsman!
Karena jika hal ini dibiarkan, maka itu berarti mengabaikan Al-Qur'an."
Al-Qa'qa' berkata: "Kalian berdua telah membunuh para
pembunuh Utsman yang berada di kalangan penduduk Basrah, padahal sebelum kalian
membunuh mereka, kalian berada dalam kondisi yang lebih dekat kepada kebenaran
daripada kondisi kalian hari ini. Kalian telah membunuh enam ratus orang,
akibatnya enam ribu orang marah karena kematian mereka lalu memisahkan diri
dari kalian dan keluar dari lingkungan kalian. Kalian juga mencari Hurqush bin
Zuhair (salah satu pembunuh Utsman), namun enam ribu orang melindunginya dari
kalian. Jika kalian membiarkan mereka, kalian jatuh ke dalam apa yang kalian
ucapkan (mengabaikan Al-Qur'an), namun jika kalian memerangi mereka lalu mereka
berhasil mengalahkan kalian, maka perkara yang kalian khawatirkan dan yang
mencerai-beraikan urusan ini akan jauh lebih besar daripada apa yang kalian
cegah dan kalian kumpulkan saat ini." Maksud al-Qa'qa' adalah bahwa
keinginan mereka untuk menghukum pembunuh Utsman adalah sebuah maslahat, namun
hal itu mendatangkan kerusakan yang jauh lebih besar lagi. Sebagaimana mereka
telah acuh dan tidak mampu menghukum Hurqush bin Zuhair demi mencegah
bangkitnya enam ribu orang yang melindunginya, maka Ali lebih memiliki uzur
untuk menunda hukuman bagi para pembunuh Utsman saat ini sampai beliau benar-benar
mampu menguasai mereka, karena saat ini suara di berbagai wilayah masih
terpecah belah terhadap beliau.
Kemudian al-Qa'qa' mengabarkan kepada mereka bahwa banyak
orang dari suku Rabi'ah dan Mudhar telah berkumpul untuk memerangi mereka
disebabkan oleh perkara yang terjadi ini.
Ibu kaum Mukminin (Aisyah) bertanya kepadanya: "Lalu
apa pendapatmu sendiri?" Al-Qa'qa' menjawab: "Aku berpendapat bahwa
perkara yang terjadi ini obatnya adalah ditenangkan terlebih dahulu. Jika
keadaan sudah tenang, barulah urusan ini bisa diselesaikan dengan baik. Jika
kalian menyetujui kami, maka itu adalah tanda kebaikan, tanda datangnya rahmat,
dan terwujudnya tuntutan balas darah. Namun jika kalian menolak dan tetap
bersikeras memaksakan perkara ini secara terburu-buru, maka itu adalah tanda
keburukan dan hilangnya kekuasaan ini. Utamakanlah keselamatan niscaya kalian
akan dikaruniai keselamatan, dan jadilah kalian sebagai pembuka pintu kebaikan
sebagaimana kalian dahulu pada awalnya. Janganlah kalian membawa kami ke dalam
bencana yang membuat kalian sendiri terjerumus ke dalamnya, sehingga Allah
membinasakan kami dan kalian. Demi Allah, sesungguhnya aku mengatakan hal ini
dan mengajak kalian kepadanya dalam keadaan aku sendiri merasa khawatir hal ini
tidak akan selesai sampai Allah mengambil apa yang menjadi keputusan-Nya atas
umat yang telah sedikit menikmatinya dan telah ditimpa musibah ini.
Sesungguhnya perkara yang terjadi ini adalah perkara yang sangat besar; ini
bukanlah seperti kasus seseorang membunuh orang lain, bukan sekelompok orang
membunuh satu orang, dan bukan pula satu suku membunuh satu orang."
Mendengar itu, mereka berkata: "Engkau telah benar dan
berbicara dengan sangat baik. Kembalilah menemui Ali, jika dia datang dalam
keadaan memegang pendapat yang sama dengannmu, maka urusan ini akan
damai." Al-Qa'qa' pun kembali menemui Ali dan melaporkan hasilnya, dan hal
itu membuat Ali merasa senang.
Aisyah juga mengirim utusan kepada Ali untuk memberi tahu
bahwa kedatangannya hanyalah untuk perdamaian. Hal itu membuat kedua belah
pihak merasa sangat gembira. Ali kemudian berdiri menyampaikan khotbah di
hadapan manusia, beliau menyebutkan tentang zaman jahiliah, kesengsaraannya,
dan amalan-amalannya. Beliau juga menyebutkan tentang Islam dan kebahagiaan
pemeluknya dengan adanya rasa persaudaraan dan persatuan, serta bagaimana Allah
menyatukan mereka setelah wafatnya Nabi ﷺ di bawah kepemimpinan Khalifah Abu Bakar
ash-Siddiq, kemudian setelahnya di bawah Umar bin al-Khattab, kemudian di bawah
Utsman. Lalu terjadilah peristiwa fitnah ini yang menimpa umat, yang digerakkan
oleh orang-orang yang mengejar dunia dan mendengki orang lain atas nikmat dan
keutamaan yang Allah berikan kepada mereka, serta berniat mengembalikan Islam
ke masa ke belakang, namun Allah pasti akan menyempurnakan ketetapan-Nya.
Di akhir khotbahnya, Ali berkata: "Ketahuilah,
sesungguhnya aku akan berangkat besok, maka bersiaplah kalian untuk berangkat.
Dan jangan sekali-kali ada seorang pun yang ikut berangkat bersamaku dari
kalangan orang yang telah membantu atas pembunuhan Utsman dalam urusan manusia
apa pun."
Ketakutan para Pembunuh Utsman terhadap Perdamaian dan Upaya Mereka untuk Merusaknya:
Ketika para sahabat telah sepakat untuk mengadakan
perdamaian, dan orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan Utsman mendengar
khotbah serta ucapan Ali radhiyallahu 'anhu, mereka merasa takut atas
keselamatan diri mereka sendiri. Maka berkumpullah para pemimpin mereka seperti
al-Asytar an-Nakha'i, Syuraih bin Aufa, Abdullah bin Saba' yang dikenal dengan
sebutan "Ibnu as-Sauda'", Salim bin Tsa'labah, Ilba' bin al-Haitsam,
dan yang lainnya dalam sebuah kelompok yang berjumlah sekitar dua ribu lima
ratus orang, yang mana tidak ada seorang sahabat Nabi pun di kalangan mereka.
Mereka bertanya: "Apa pendapat kalian?
Demi Allah, Ali adalah orang yang paling paham tentang
Kitabullah, dan dia termasuk orang yang menuntut pembunuh Utsman serta paling
dekat untuk melaksanakan hal itu. Dia telah mengatakan apa yang kalian dengar
sendiri tadi, dan besok dia akan mengumpulkan manusia untuk menghadapi kalian.
Sesungguhnya orang-orang itu semuanya hanya menginginkan kalian, maka bagaimana
dengan kalian sedangkan jumlah kalian sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah
mereka yang banyak?"
Al-Asytar berkata: "Kita telah mengetahui bagaimana
pendapat Thalhah dan az-Zubair mengenai diri kita, sedangkan pendapat Ali baru
kita ketahui hari ini. Jika dia telah berdamai dengan mereka, maka sesungguhnya
mereka bersepakat di atas darah kita. Jika perkaranya memang seperti ini, maka
mari kita susulkan Ali kepada Utsman (kita bunuh juga Ali), sehingga fitnah
kembali berkobar dan orang-orang itu akan rida kepada kita dengan memilih
diam."
Ibnu as-Sauda' menyanggah: "Buruk sekali pendapatmu
itu! Jika kita membunuhnya, kita pun akan ikut dibunuh. Sesungguhnya kita,
wahai golongan pembunuh Utsman, berjumlah dua ribu lima ratus orang, sedangkan
Thalhah, az-Zubair, dan para sahabatnya berjumlah lima ribu orang. Kalian tidak
akan memiliki kekuatan untuk menghadapi mereka, sedangkan mereka memang hanya
menginginkan kalian." Ilba' bin al-Haitsam mengusulkan: "Tinggalkan
mereka dan mari kita kembali pergi menuju sebagian wilayah agar kita bisa
membentengi diri di sana."
Ibnu as-Sauda' berkata lagi: "Buruk sekali apa yang
kamu katakan! Jika demikian, demi Allah manusia akan menculik kalian dengan
mudah."
Kemudian Ibnu as-Sauda'—semoga Allah memburukkannya—berkata:
"Wahai kaumku, sesungguhnya kejayaan kalian itu terletak pada saat kalian
bercampur baur dengan manusia. Oleh karena itu, apabila kedua pasukan telah
bertemu besok, kobarkanlah peperangan dan pertempuran di antara manusia dan
jangan biarkan mereka bersatu! Siapa pun orang yang kalian bersamanya, dia
tidak akan menemukan pilihan lain kecuali harus bertahan membela diri, sehingga
Allah menyibukkan Thalhah, az-Zubair, dan orang-orang yang bersama keduanya
dari apa yang mereka sukai, dan mendatangkan kepada mereka apa yang mereka
benci."
Mereka pun melihat pendapat itu sebagai langkah yang tepat,
lalu mereka berpisah di atas kesepakatan tersebut dalam keadaan manusia lainnya
tidak menyadari rencana mereka. Di pagi harinya, Ali berangkat bersama
pasukannya melewati wilayah Abdul Qais, dan mereka berjalan bersama beliau
hingga singgah di Az-Zawiyah. Dari sana Ali berjalan menuju Basrah, sedangkan
Thalhah, az-Zubair, dan orang-orang yang bersama keduanya keluar untuk menemui
beliau, lalu kedua pihak berkumpul di dekat istana Ubaidullah bin Ziyad, dan
masing-masing pasukan menempati areanya sendiri.
Ali telah mendahului pasukannya yang berjalan menyusul di
belakang beliau. Kedua belah pihak menetap di sana selama tiga hari dalam
kondisi para utusan saling bertukar pesan di antara mereka, dan peristiwa itu
terjadi pada pertengahan bulan Jumadil Akhir tahun 36 Hijriah.
Sebagian orang sempat menyarankan kepada Thalhah dan
az-Zubair untuk memanfaatkan kesempatan guna menghukum para pembunuh Utsman
saat itu. Namun keduanya menjawab: "Sesungguhnya Ali menyarankan untuk
menenangkan perkara ini terlebih dahulu, dan kami telah mengirim utusan
kepadanya untuk menyetujui perdamaian di atas hal itu."
Ali kemudian berdiri menyampaikan khotbah di hadapan
manusia, lalu al-A'war bin Banan al-Minqari berdiri menanyakan tujuan
kedatangan beliau kepada penduduk Basrah. Ali menjawab: "Perbaikan dan
memadamkan api fitnah; agar manusia berkumpul di atas kebaikan dan menyatukan
kembali urusan umat ini." Pria itu bertanya lagi: "Bagaimana jika
mereka tidak menyambut seruan kita?" Ali menjawab: "Kita biarkan
mereka selama mereka membiarkan kita." Pria itu bertanya lagi:
"Bagaimana jika mereka tidak membiarkan kita?" Ali menjawab:
"Kita akan membela diri kita dari mereka." Pria itu bertanya lagi:
"Apakah mereka memiliki hak yang sama dalam perkara ini sebagaimana hak
yang kita miliki?" Ali menjawab: "Ya."
Kemudian Abu Salamah ad-Dalani berdiri dan bertanya kepada
beliau: "Apakah orang-orang itu memiliki argumen atas apa yang mereka
tuntut dari darah ini, jika mereka menginginkan wajah Allah dalam hal
itu?" Ali menjawab: "Ya." Pria itu bertanya lagi: "Lalu
apakah engkau memiliki argumen atas penundaanmu terhadap hal itu?" Ali
menjawab: "Ya." Pria itu bertanya lagi: "Maka bagaimana kondisi
kami dan kondisi mereka jika besok kami diuji dengan pertempuran?" Ali
menjawab: "Sesungguhnya aku berharap tidak ada seorang pun di antara kami
dan mereka yang terbunuh dalam keadaan hatinya bersih kepada Allah melainkan
Allah akan memasukkannya ke dalam surga."
Ali juga berkata dalam khotbahnya: "Wahai sekalian
manusia, tahanlah tangan dan lisan kalian dari orang-orang itu, dan jangan
sekali-kali kalian mendahului kami, karena orang yang kalah besok adalah orang
yang mendebat hari ini."
Kemudian al-Ahnaf bin Qais datang bersama sekelompok orang
lalu bergabung dengan Ali. Beliau sebelumnya telah membaiat Ali di Madinah,
yaitu ketika beliau mendatangi Madinah saat Utsman sedang dikepung. Saat itu
al-Ahnaf bertanya kepada Aisyah, Thalhah, dan az-Zubair: "Jika Utsman
terbunuh, kepada siapa aku harus berbaiat?"
Mereka semua menjawab: "Baiatlah Ali." Maka ketika
Utsman terbunuh, dia pun membaiat Ali. Al-Ahnaf melanjutkan ceritanya:
"Kemudian aku kembali kepada kaumku, namun setelah itu datang kepadaku
perkara yang lebih mengejutkan, hingga manusia berkata: 'Ini Aisyah telah
datang untuk menuntut balas atas darah Utsman.' Aku pun menjadi bingung dalam
urusanku tentang siapa yang harus kuikuti, hingga akhirnya Allah menjagaku
berkat sebuah hadis yang pernah kudengar dari Abu Bakrah, dia berkata: Rasulullah
ﷺ
bersabda ketika sampai kabar kepada beliau bahwa bangsa Persia telah mengangkat
putri Kisra sebagai raja mereka, beliau bersabda: 'Tidak akan beruntung suatu
kaum yang menyerahkan urusan kepemimpinan mereka kepada seorang wanita.' Hadis
ini pada asalnya terdapat dalam Shahih Al-Bukhari."
Maksudnya adalah ketika al-Ahnaf bergabung dengan Ali, dia
membawa serta enam ribu orang pemanah. Dia berkata kepada Ali: "Jika
engkau mau, aku akan ikut bertempur bersamamu. Namun jika engkau mau, aku bisa
menahan sepuluh ribu bilah pedang agar tidak menyerangmu." Ali pun
menjawab: "Tahanlah dari kami sepuluh ribu bilah pedang tersebut."
Kemudian Ali mengirim utusan kepada Thalhah dan az-Zubair
untuk menyampaikan pesan: "Jika kalian berdua masih menetapi apa yang
menjadi kesepakatan kalian bersama al-Qa'qa' bin Amru, maka tahanlah pasukan
kalian sampai kami singgah sehingga kita bisa melihat perkara ini
bersama-sama." Kedua tokoh itu membalas pesan beliau dengan jawaban:
"Sesungguhnya kami masih menetapi apa yang menjadi kesepakatan kami
bersama al-Qa'qa' bin Amru mengenai perdamaian di antara manusia."
Mendengar hal itu, jiwa manusia pun menjadi tenang dan
tenteram, dan masing-masing kelompok bergabung dengan rekan-rekannya dari kedua
belah pasukan. Ketika sore hari tiba, Ali mengutus Abdullah bin Abbas menemui
mereka, dan mereka pun mengutus Muhammad bin Thalhah "as-Sajjad"
menemui Ali. Malam itu menjadi malam terbaik bagi manusia, namun menjadi malam
terburuk bagi para pembunuh Utsman. Mereka semalaman saling bermusyawarah dan
akhirnya bersepakat untuk mengobarkan peperangan di waktu subuh yang masih gelap
(ghalas).
Maka mereka pun bangkit sebelum terbitnya fajar dalam jumlah
yang mendekati dua ribu orang, lalu masing-masing kelompok menuju ke arah
kerabat mereka dan langsung menyerang mereka dengan pedang. Akibatnya, setiap
kelompok pasukan bangkit membela kaumnya masing-masing, dan orang-orang pun
terbangun dari tidur mereka langsung menyandang senjata.
Mereka berteriak: "Penduduk Kufah telah menyerang kita
di malam hari, mereka mengepung dan mengkhianati kita!"
Mereka menyangka bahwa serangan malam ini dilakukan atas
perintah dan kesepakatan dari para pengikut Ali. Ketika kabar tersebut sampai
kepada Ali, beliau bertanya: "Ada apa dengan manusia?" Mereka
menjawab: "Penduduk Basrah telah menyerang kita di malam hari." Maka
seketika itu juga masing-masing kubu bangkit mengambil senjata mereka,
mengenakan baju besi, dan menunggangi kuda-kuda mereka, dalam keadaan tidak ada
seorang pun dari kedua belah pihak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi
pada hakikat perkara tersebut, dan ketetapan Allah itu adalah takdir yang pasti
terjadi.
Terjadinya Peperangan di Hari Jamal:
Peperangan pun berkobar dengan sengitnya, dan kedua belah
pihak saling berhadapan di mana telah berkumpul bersama Ali sebanyak dua puluh
ribu pasukan, sedangkan yang mengelilingi Aisyah dan yang bersamanya berjumlah
sekitar tiga puluh ribu pasukan. Sementara itu, kelompok Sabaiyyah (para
pengikut Ibnu as-Sauda'—semoga Allah memburukkannya—) tidak henti-hentinya
melakukan pembunuhan. Utusan Ali terus berseru: "Ketahuilah, tahanlah
tangan kalian! Tahanlah tangan kalian!" namun tidak ada seorang pun yang
mendengarnya.
Kemudian datanglah Ka'b bin Sur, hakim kota Basrah, ia
berkata: "Wahai Ibu kaum Mukminin! Temuilah manusia, mudah-mudahan Allah
mengadakan perbaikan di antara manusia dengan perantaraanmu." Maka Aisyah
pun duduk di dalam sekedupnya (haudaj) di atas untanya, lalu mereka
melindungi sekedup itu dengan perisai-perisai besi. Aisyah datang dan berdiri
di posisi di mana beliau dapat melihat manusia di medan pertempuran mereka.
Al-Hafizh Abu Ya'la al-Mawshili meriwayatkan, ia berkata:
Abu Yusuf Ya'qub bin Ibrahim ad-Dawraqi menceritakan kepada kami, Abu Ashim
menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Muhammad bin Abdul Malik bin Muslim
ar-Raqasyei, dari kakeknya Abdul Malik, dari Abu Jarw al-Mazini.
Ia berkata: Aku menyaksikan Ali dan Zubair ketika keduanya
saling berhadapan—yaitu pada Perang Jamal. Ali berkata kepadanya: "Wahai
Zubair, aku mengingatkanmu demi Allah, apakah kamu pernah mendengar Rasulullah ﷺ
bersabda:
«إِنَّكَ
تُقَاتِلُنِي وَأَنْتَ ظَالِمٌ»
'Sesungguhnya engkau akan memerangiku, dan engkau berada
di pihak yang zalim?'"
Zubair menjawab: "Ya, dan aku tidak mengingatnya
kecuali pada posisiku (saat ini) ini." Kemudian ia pun pergi.
Lalu Zubair kembali di atas hewan tunggangannya sambil
membelah barisan pasukan. Putranya, Abdullah bin Zubair, menghadangnya dan
bertanya: "Ada apa denganmu?"
Zubair menjawab: "Ali mengingatkanku pada sebuah hadis
yang pernah kudengar dari Rasulullah. Aku mendengar beliau bersabda:
«لَتُقَاتِلَنَّهُ
وَأَنْتَ ظَالِمٌ لَهُ»
'Pasti engkau akan memeranginya, dan engkau berada di
pihak yang zalim kepadanya.'"
Abdullah bertanya: "Apakah engkau datang hanya untuk
berperang? Sesungguhnya engkau datang tidak lain adalah untuk mendamaikan
manusia, dan semoga Allah memperbaiki urusan ini melaluimu." Zubair
berkata: "Aku telah bersumpah untuk tidak memeranginya." Ada pula
yang mengatakan bahwa ia mundur dari peperangan ketika melihat Ammar bin Yasir
berada di kubu Ali, dan ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda kepada
Ammar:
«تَقْتُلُكَ
الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ»
'Engkau akan dibunuh oleh kelompok pemberontak (kelompok
yang melampaui batas).'
Maka ia khawatir Ammar akan terbunuh pada hari tersebut.
Ibnu Katsir berkata: "Menurutku, hadis yang telah kami kemukakan ini, jika
memang sahih bersumber darinya, maka tidak ada hal lain yang membuatnya mundur
selain hadis tersebut."
Terbunuhnya Zubair dan Thalhah
Intinya, ketika Zubair mundur pada hari Perang Jamal, ia
singgah di sebuah lembah bernama Lembah Siba' (Wadi as-Siba'). Kemudian seorang
pria bernama Amru bin Jurmuz mengikutinya, lalu mendatangi Zubair saat ia
sedang tidur dan membunuhnya secara sembunyi-sembunyi (pembunuhan
licik/ghilah).
Adapun Thalhah, sebuah anak panah yang tidak diketahui
arahnya mengenai dirinya di medan perang hingga menembus kakinya bersama
kudanya. Kuda tersebut berlari kencang tak terkendali, sehingga Thalhah mulai
berteriak: "Kemarilah, wahai hamba-hamba Allah! Kemarilah, wahai
hamba-hamba Allah!" Kemudian seorang mantan budaknya mengikutinya lalu
menahan kuda tersebut. Thalhah berkata kepadanya: "Celaka kamu, bawalah
aku ke pemukiman!" Sementara itu, sepatu boot-nya telah dipenuhi oleh darah.
Ia lalu berkata kepada pelayannya: "Bantulah aku naik di belakangmu."
Hal itu karena ia telah kehabisan banyak darah dan melemah.
Pelayan itu pun menaikkannya di belakangnya lalu membawanya ke sebuah rumah di
Bashrah, hingga akhirnya ia wafat di rumah tersebut, semoga Allah meridtainya.
Ada pula yang mengatakan bahwa ia wafat di medan pertempuran, dan Ali sempat
berdiri di hadapan jenazahnya seraya merasa sangat sedih atas kejadian itu.
Pertempuran di Sekitar Unta
Aisyah radhiyallahu 'anha maju di dalam sekedupnya
(tenda di atas unta). Ia menyerahkan sebuah mushaf Al-Qur'an kepada Ka'ab bin
Sur, hakim kota Bashrah, seraya berkata: "Serulah mereka kepada Al-Qur'an
ini!" Ketika Ka'ab bin Sur maju membawa mushaf tersebut untuk menyerukan
perdamaian, ia dihadang oleh garda depan pasukan Kufah.
Pada saat itu, Abdullah bin Saba' beserta para pengikutnya
berada di barisan depan pasukan, membunuh siapa saja dari penduduk Bashrah yang
mampu mereka kuasai tanpa pandang bulu. Begitu mereka melihat Ka'ab bin Sur
mengangkat mushaf, mereka langsung menghujaninya dengan anak panah secara
serentak layaknya satu orang, hingga berhasil membunuhnya.
Anak-anak panah tersebut juga sampai mengenai sekedup Ibu
kaum mukminin, Aisyah radhiyallahu 'anha. Beliau pun mulai berseru:
"Allah, Allah! Wahai anak-anakku, ingatlah Hari Perhitungan!" Beliau
mengangkat kedua tangannya seraya mendoakan keburukan bagi sekelompok orang
dari para pembunuh Utsman tersebut. Orang-orang pun riuh mengaminkan doa
bersama beliau, hingga suara keriuhan tersebut terdengar oleh Ali.
Ali bertanya: "Ada apa ini?" Mereka menjawab:
"Ibu kaum mukminin sedang berdoa untuk keburukan para pembunuh Utsman dan
para pengikut mereka."
Maka Ali pun berkata: "Ya Allah, laknatlah para
pembunuh Utsman." Kelompok orang tersebut tidak juga berhenti menghujani
sekedup Aisyah dengan anak panah hingga sekedup itu tampak (penuh dengan
tancapan panah) seperti landak. Beliau pun mulai mengobarkan semangat
orang-orang untuk menghalau dan menghentikan mereka. Pasukan Bashrah lalu
mendesak mereka hingga serangan tersebut sampai ke tempat Ali bin Abi Thalib
berada.
Ali berkata kepada putranya, Muhammad bin al-Hanafiyyah:
"Celaka kamu! Majulah membawa panji itu!" Namun ia tidak sanggup,
maka Ali mengambil panji tersebut dari tangannya lalu maju membawanya.
Pertempuran pun berkecamuk dengan sengit saling berbalas; terkadang kemenangan
berpihak pada penduduk Bashrah, dan terkadang berpihak pada penduduk Kufah.
Banyak sekali korban yang berjatuhan, dan tidak pernah terlihat suatu
pertempuran yang di dalamnya terjadi pemutusan tangan dan kaki yang lebih banyak
daripada pertempuran ini. Sementara itu, Aisyah terus membakar semangat
orang-orang untuk menghadapi kelompok pembunuh Utsman tersebut.
Tali kendali unta dipegang oleh Umairah bin Yatsribi, salah
seorang pemberani yang masyhur, dan ia tetap bertahan di posisinya hingga
gugur.
Orang-masing yang memiliki keberanian dan ketangguhan luar
biasa berkerumun melindungi Aisyah. Tidak ada yang berani mengambil alih panji
ataupun tali kendali unta tersebut melainkan seorang pemberani yang dikenal
luas, yang akan membunuh musuh yang mengincarnya sebelum akhirnya ia sendiri
gugur setelah itu. Pada hari itu, mata Adi bin Hatim tercolok hingga buta, dan
Abdullah bin Zubair menderita tiga puluh tujuh luka sabetan/tusukan. Marwan bin
Hakam pun turut terluka.
Kemudian, datanglah seorang pria yang menebas kaki-kaki unta
tersebut hingga terluka parah dan jatuh tersungkur ke tanah. Ada yang
mengatakan bahwa orang yang menyarankan untuk melumpuhkan unta tersebut adalah
Ali radhiyallahu 'anhu, dan ada pula yang mengatakan Al-Qa'qa' bin Amru.
Hal itu dilakukan agar Ibu kaum mukminin tidak terluka, karena beliau telah
menjadi sasaran empuk bagi para pemanah, serta demi menyudahi situasi
pertempuran yang telah memakan banyak korban jiwa ini.
Begitu unta tersebut jatuh ke tanah, orang-orang di
sekitarnya pun kocar-kacir melarikan diri. Sekedup Aisyah—yang tampak seperti
landak akibat tancapan anak panah—segera dievakuasi. Ali memerintahkan beberapa
orang untuk membawa sekedup tersebut dari sela-sela jasad korban yang gugur,
serta memerintahkan Muhammad bin Abi Bakar dan Ammar untuk mendirikan tenda
untuknya.
Saudara laki-lakinya, Muhammad, datang menemui beliau lalu
bertanya apakah ada luka yang mengenai dirinya. Aisyah menjawab: "Tidak,
dan apa urusanmu dengan hal itu, wahai putra wanita Khats'amiyyah?"
Ammar datang mengucapkan salam kepada beliau dan bertanya:
"Bagaimana keadaanmu, wahai Ibu?"
Aisyah menjawab: "Aku bukan ibumu." Ammar berkata:
"Benar, engkau adalah ibuku meskipun engkau tidak menyukainya."
Kemudian Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib datang menemui
beliau seraya mengucapkan salam dan bertanya: "Bagaimana keadaanmu, wahai
Ibu?"
Aisyah menjawab: "Baik." Ali berkata: "Semoga
Allah mengampunimu." Aisyah membalas: "Dan juga mengampunimu."
Tokoh-tokoh masyarakat, para panglima, dan pemuka-pemuka
lainnya pun berdatangan untuk mengucapkan salam kepada Ibu kaum mukminin radhiyallahu
'anha.
Ketika malam tiba, Ibu kaum mukminin memasuki kota Bashrah
didampingi oleh saudaranya, Muhammad bin Abi Bakar, lalu menetap di rumah
Abdullah bin Khalaf al-Khuzai, yang merupakan rumah paling besar di kota
Bashrah.
Di antara ketetapan (etika perang) mereka pada hari itu
adalah tidak menghabisi korban yang terluka, tidak mengejar pasukan yang lari
mundur, dan tidak memasuki rumah-rumah penduduk. Di samping itu, pertempuran
ini telah menelan korban jiwa yang sangat banyak, hingga Ali berkata kepada
putranya, Hasan: "Wahai putraku, andai saja ayahmu ini sudah mati dua
puluh tahun sebelum hari ini."
Hasan berkata kepadanya: "Wahai ayahku, sungguh aku
telah melarangmu dari urusan (peperangan) ini."
Said bin Abi Arubah meriwayatkan dari Qatadah, dari
Al-Hasan, dari Qais bin Abbad, ia berkata: Ali berkata pada hari Perang Jamal:
"Wahai Hasan, andai saja ayahmu telah mati sejak dua puluh tahun yang
lalu."
Hasan berkata kepadanya: "Wahai ayahku, sungguh aku
telah melarangmu dari urusan ini." Ali menjawab: "Wahai putraku,
sesungguhnya aku tidak mengira bahwa urusan ini akan membubung sejauh
ini."
Mubarok bin Fadhilah meriwayatkan dari Al-Hasan, dari Abu
Bakrah: Ketika pertempuran semakin sengit pada hari Perang Jamal dan Ali
melihat kepala-kepala berjatuhan, Ali meraih putranya, Hasan, lalu mendekapnya
ke dadanya seraya berkata: "Inna lillahi, wahai Hasan! Kebaikan apa lagi
yang bisa diharapkan setelah kejadian ini?"
Akhir Pertempuran:
Ali tinggal di pinggiran kota Bashrah selama tiga hari dan
menyalatkan korban yang gugur dari kedua belah pihak. Kemudian ia mengumpulkan
seluruh harta benda milik pasukan Aisyah yang ditemukan di dalam perkemahan,
lalu memerintahkan agar barang-barang tersebut dibawa ke Masjid Bashrah.
Barangsiapa yang mengenali sesuatu yang merupakan miliknya, maka silakan
mengambilnya, kecuali senjata yang berada di dalam gudang penyimpanan yang
memiliki stempel resmi penguasa.
Jumlah keseluruhan korban yang tewas pada hari Perang Jamal
dari kedua belah pihak adalah sepuluh ribu orang; lima ribu dari kubu ini dan
lima ribu dari kubu itu, semoga Allah merahmati mereka dan meridai para sahabat
yang ada di antara mereka.
Sebagian pengikut Ali sempat meminta agar ia membagikan
harta benda milik pasukan Thalhah dan Zubair kepada mereka, namun Ali
menolaknya. Atas keputusan ini, orang-orang dari kaum Sabaiyyah (pengikut
Abdullah bin Saba') mencelanya seraya berkata: "Bagaimana mungkin darah
mereka halal bagi kita, sedangkan harta mereka tidak halal bagi kita?!"
Berita tersebut akhirnya sampai kepada Ali, maka ia berkata:
"Siapa di antara kalian yang mau Ibu kaum mukminin (Aisyah) masuk ke dalam
bagian ghanimah-nya?"
Mendengar hal itu, orang-orang tersebut langsung terdiam.
Ketika Ali memasuki kota Bashrah, ia membagikan harta yang ada di dalam
baitulmal kepada para pengikutnya, sehingga setiap orang mendapatkan lima ratus
bagian. Ali berkata: "Kalian akan mendapatkan jumlah yang sama dari negeri
Syam untuk tunjangan-tunjangan kalian." Kaum Sabaiyyah kembali
memperbincangkan keputusan ini dan mencelanya secara sembunyi-sembunyi dari
belakang.
Sikap Ali terhadap Penduduk Bashrah
Ali memasuki kota Bashrah pada hari Senin, tanggal empat
belas bulan Jumadil Akhir tahun tiga puluh enam Hijriah. Penduduk kota tersebut
kemudian membaiatnya di bawah panji-panji mereka, termasuk para korban yang
terluka dan orang-orang yang meminta jaminan keamanan.
Abdurrahman bin Abu Bakrah ats-Tsaqafi datang menemui Ali
untuk membaiatnya. Ali bertanya kepadanya: "Bagaimana keadaan orang yang
sedang sakit?"—yang dimaksud adalah ayahnya. Abdurrahman menjawab:
"Demi Allah, dia memang sedang sakit, wahai Amirul Mukminin, namun dia
sangat mendambakan kebahagiaanmu."
Ali berkata: "Berjalanlah di depanku." Ali pun
pergi bersamanya untuk menjenguknya, dan Abu Bakrah menyampaikan permohonan
maaf kepada Ali, lalu Ali pun memaafkannya. Ali sempat menawarkan kepemimpinan
kota Bashrah kepadanya, namun ia menolak dan menyarankan: "Angkatlah
seorang pria dari keluargamu yang membuat masyarakat merasa tenang
bersamanya." Ia mengusulkan nama Ibnu Abbas, maka Ali pun mengangkat Ibnu
Abbas sebagai gubernur Bashrah.
Ali juga menempatkan Ziyad bin Abih bersamanya untuk
mengurus masalah pajak (kharaj) dan baitulmal, serta memerintahkan Ibnu Abbas
untuk mendengarkan (masukan dari) Ziyad. Sebelumnya, Ziyad memilih bersikap
netral dan tidak ikut serta dalam pertempuran.
Kemudian Ali mendatangi rumah tempat Ibu kaum mukminin,
Aisyah, tinggal. Ia meminta izin lalu masuk dan mengucapkan salam kepadanya,
dan Aisyah pun menyambutnya dengan hangat. Tiba-tiba seorang pria berkata
kepada Ali: "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya di dekat pintu ada dua
orang pria yang sedang mencela Aisyah." Maka Ali memerintahkan Al-Qa'qa'
bin Amru untuk mencambuk masing-masing dari keduanya sebanyak seratus kali.
Aisyah sempat bertanya tentang siapa saja yang gugur dari
pihak yang bersamanya serta dari pihak pasukan Ali. Setiap kali disebutkan satu
nama dari mereka, beliau senantiasa memohonkan rahmat dan berdoa kebaikan
untuknya.
Ketika Ibu kaum mukminin, Aisyah, hendak keluar meninggalkan
Bashrah, Ali radhiyallahu 'anhu mengirimkan segala hal yang
diperlukannya, mulai dari hewan tunggangan, perbekalan, barang bawaan, dan lain
sebagainya. Ali juga mengizinkan siapa saja yang selamat dari pasukan yang
datang bersamanya untuk ikut pulang kembali, kecuali bagi mereka yang memilih
untuk tetap tinggal di Bashrah. Ia juga mengutus saudaranya, Muhammad bin Abi
Bakar, untuk mengiringi perjalanannya.
Pada hari keberangkatannya, Ali datang dan berdiri di depan
pintu bersama masyarakat yang turut hadir. Aisyah keluar dari rumah di dalam
sekedupnya, lalu mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang dan mendoakan
mereka. Beliau berkata: "Wahai anak-anakku, janganlah sebagian dari kita
saling mencela sebagian yang lain. Demi Allah, tidak ada perkara yang terjadi
di masa lalu antara aku dan Ali melainkan seperti apa yang biasa terjadi antara
seorang wanita dan kerabat suaminya (ipar), dan sesungguhnya dia—terlepas dari
teguran-teguranku kepadanya—benar-benar termasuk orang-orang yang
terbaik."
Mendengar hal itu, Ali berkata: "Engkau benar demi
Allah, tidak ada perkara antara aku dan beliau melainkan hanya sebatas itu
saja, dan sesungguhnya beliau adalah istri nabi kalian di dunia dan di
akhirat."
Ali kemudian berjalan mengiringi dan mengantarkan kepergian
beliau sejauh beberapa mil. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Sabtu di awal
bulan Rajab tahun tiga puluh enam Hijriah. Dalam perjalanannya, beliau menuju
ke Makkah dan menetap di sana hingga menunaikan ibadah haji pada tahun
tersebut, kemudian beliau kembali pulang ke Madinah, radhiyallahu 'anha.
Inilah ringkasan dari apa yang disebutkan oleh Abu Ja'far
bin Jarir (At-Thabari) rahimahullah dari para imam dalam bidang ini. Di
dalamnya tidak terdapat apa yang biasa dituturkan oleh orang-orang yang
mengikuti hawa nafsu dari kalangan Syiah dan selain mereka, berupa hadis-hadis
yang direkayasa untuk menyudutkan para sahabat, serta berita-berita palsu
(hadis palsu) yang mereka nukil apa adanya. Apabila mereka diseru kepada
kebenaran yang benderang, mereka berpaling darinya dan berkata: "Bagi kami
berita-berita kami, dan bagi kalian berita-berita kalian." Maka pada saat
itu, kita katakan kepada mereka sebagaimana firman-Nya:
﴿سَلَامٌ
عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ﴾
“Selamat sejahtera bagimu, kami tidak ingin bergaul
dengan orang-orang jahil.” (QS. Al-Qashash: 55)
Sumber Kisah:
Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar
Posting Komentar