Kejadian dan Peristiwa Pada Masa Kekhalifahan Ali Bin Abi Tahlib r.a

Ilustrasi sinematik sejarah Islam abad ke-7 di padang pasir dekat Basrah pada pagi hari. Dua kelompok kaum muslimin tampak berjajar saling berhadapan dari kejauhan dalam suasana tegang namun belum terjadi pertempuran. Di bagian depan, beberapa tokoh berjubah Arab klasik dan penunggang unta terlihat berdialog serta berusaha menenangkan keadaan. Cahaya matahari pagi menyinari debu gurun dan bendera-bendera polos, menciptakan suasana penuh kehati-hatian, kesedihan, dan harapan akan perdamaian.

Bab Ketiga: Amal Perbuatan dan Peristiwa-Peristiwa di Masanya

Para Gubernur Saat Terbunuhnya Utsman radhiyallahu 'anhu:

Gubernur yang memegang wilayah Kufah adalah Abu Musa al-Asy'ari yang mengimami salat, sedangkan urusan perang dipegang oleh al-Qa'qa' bin Amru, dan urusan pajak (kharaj) dipegang oleh Jabir bin Amru al-Muzani. Wilayah Basrah dipimpin oleh Abdullah bin Amir, sedangkan wilayah Mesir dipimpin oleh Abdullah bin Saad bin Abi Sarh—namun wilayah ini telah dikuasai oleh Muhammad bin Abi Hudzaifah.

Wilayah Syam dipimpin oleh Muawiyah bin Abi Sufyan, dengan para wakilnya di beberapa daerah, yaitu:

  • Homs: Abdurrahman bin Khalid bin al-Walid
  • Qinnasrin: Habib bin Maslamah
  • Yordania: Abu al-A'war bin Sufyan
  • Palestina: Alqamah bin Hakim

Adapun gubernur untuk wilayah Azerbaijan adalah al-Asy'ats bin Qais; wilayah Qarqisiya dipimpin oleh Jarir bin Abdullah al-Bajali; wilayah Hulwan dipimpin oleh Utaibah bin an-Nahhas; wilayah Mah dipimpin oleh Malik bin Habib; wilayah Hamadan dipimpin oleh an-Nusair; wilayah Ray dipimpin oleh Said bin Qais; wilayah Isfahan dipimpin oleh as-Sa'ib bin al-Aqra'; dan wilayah Masabadzan dipimpin oleh Hubaisyr.

Inilah nama-nama wakil Utsman yang disebutkan oleh Ibnu Jarir, yang mana Utsman wafat saat mereka masih menjabat sebagai gubernur di kota-kota tersebut. Sementara itu, petugas Baitulmal di Madinah adalah Uqbah bin Amru, dan yang memegang urusan peradilan di Madinah adalah Zaid bin Tsabit.

Pengangkatan Gubernur Baru di Berbagai Wilayah oleh Ali:

Tahun 36 Hijriah dimulai ketika Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib telah memegang tampuk kekhalifahan dan mengangkat para wakilnya untuk memimpin berbagai wilayah. Beliau mengangkat Ubaidullah bin Abbas untuk memimpin Yaman, Usman bin Hunaif untuk Basrah, Umarah bin Syihab untuk Kufah, dan Qais bin Saad bin Ubadah untuk Mesir.

Sedangkan untuk wilayah Syam, beliau mengangkat Sahl bin Hunaif sebagai pengganti Muawiyah. Sahl pun berangkat hingga sampai di Tabuk, lalu dia dihadang oleh pasukan berkuda Muawiyah. Mereka bertanya, "Siapa kamu?"

Sahl menjawab, "Seorang gubernur."

Mereka bertanya lagi, "Gubernur untuk wilayah apa?"

Sahl menjawab, "Untuk wilayah Syam."

Mereka berkata, "Jika Utsman yang mengutusmu, maka selamat datang. Namun jika orang lain yang mengutusmu, maka kembalilah."

Sahl bertanya, "Apakah kalian belum mendengar apa yang telah terjadi?"

Mereka menjawab, "Sudah." Maka Sahl pun kembali pulang menemui Ali.

Adapun Qais bin Saad, masyarakat Mesir berbeda pendapat mengenainya. Mayoritas masyarakat membaiatnya, namun sekelompok orang berkata, "Kami tidak akan membaiat sampai para pembunuh Utsman dihukum mati." Begitu pula dengan masyarakat Basrah, ada sekelompok orang yang menolak membaiat.

Sementara itu, Umarah bin Syihab yang diutus menjadi gubernur Kufah dihalang-halangi oleh Thulaihah bin Khuwailid karena marahnya Thulaihah atas kematian Utsman. Umarah pun kembali menemui Ali dan melaporkan kejadian tersebut. Akhirnya fitnah mulai menyebar, keadaan semakin genting, dan suara masyarakat terpecah belah. Namun, Abu Musa mengirim surat kepada Ali yang mengabarkan bahwa mayoritas penduduk Kufah telah taat dan membaiatnya, kecuali sebagian kecil saja.

Ali telah mengirim banyak surat kepada Muawiyah, tetapi Muawiyah tidak kunjung membalasnya. Hal itu berulang kali terjadi hingga memasuki bulan ketiga sejak terbunuhnya Utsman, yaitu pada bulan Safar. Kemudian, Muawiyah mengirimkan sebuah lembaran surat yang dibawa oleh seorang utusan. Utusan tersebut menemui Ali, lalu Ali bertanya kepadanya, "Apa yang ada di belakangmu (apa kabar yang kau bawa)?"

Utusan itu menjawab, "Aku datang kepadamu dari hadapan kaum yang tidak menginginkan apa pun kecuali qishash (hukuman balasan). Mereka semua merasa dituntut untuk menuntut balas. Aku meninggalkan enam puluh ribu orang tua yang menangis di bawah baju jubah Utsman, yang mana jubah itu dipajang di atas mimbar Damaskus."

Ali berkata, "Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepada-Mu dari darah Utsman." Setelah itu, utusan Muawiyah keluar dari hadapan Ali, lalu orang-orang Khawarij yang dahulu membunuh Utsman menghadangnya dan berniat membunuhnya. Utusan itu tidak bisa lolos melainkan setelah bersusah payah.

Tuntutan untuk Menuntut Balas atas Darah Utsman radhiyallahu 'anhu:

Ketika Utsman radhiyallahu 'anhu terbunuh, Muawiyah bin Abi Sufyan beserta sejumlah sahabat yang bersamanya berdiri di hadapan masyarakat untuk mengobarkan semangat agar menuntut balas atas darah Utsman dari orang-orang Khawarij yang telah membunuhnya.

Di antara para sahabat tersebut adalah Ubadah bin as-Samit, Abu ad-Darda', Abu Umamah, Amr bin Abasah, dan para sahabat lainnya. Sedangkan dari kalangan tabi'in di antaranya adalah Syarik bin Khabasyah, Abu Muslim al-Khaulani, Abdurrahman bin Ghanm, dan lain-lain.

Ketika baiat untuk Ali telah mantap, Thalhah, az-Zubair, beserta para tokoh sahabat radhiyallahu 'anhum menemui Ali. Mereka meminta Ali untuk menegakkan hukum had dan menghukum pembunuh Utsman. Namun Ali meminta maaf kepada mereka karena para pembunuh tersebut memiliki banyak pendukung, sehingga hal itu tidak memungkinkan untuk dilakukan saat ini.

Ibnu Abbas sebenarnya telah menyarankan kepada Ali agar tetap mempertahankan para gubernur bentukan Utsman di wilayah masing-masing untuk sementara waktu sampai keadaan benar-benar stabil, dan secara khusus tetap menetapkan Muawiyah di Syam. Ibnu Abbas berkata kepada Ali, "Suratilah Muawiyah, janjikan sesuatu padanya dan buat dia tenang." Namun Ali menjawab, "Demi Allah, hal ini tidak akan pernah terjadi sama sekali." Ibnu Abbas berkata, "Wahai Amirul Mukminin, perang itu adalah tipu daya," sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah . Ibnu Abbas juga melarang Ali untuk menuruti saran orang-orang yang membujuknya agar pergi ke Irak dan meninggalkan Madinah, namun Ali menolak semua saran tersebut.

Berangkatnya Thalhah, az-Zubair, dan Aisyah ke Basrah:

Istri-istri Nabi (Ummahatul Mukminin) telah berangkat melaksanakan ibadah haji pada tahun 35 Hijriah. Ketika kabar terbunuhnya Utsman sampai kepada mereka setelah mereka selesai menunaikan ibadah haji, mereka kembali ke Makkah dan menetap di sana sambil menunggu apa yang akan dilakukan oleh masyarakat.

Ketika Ali telah dibaiat, orang-orang yang paling dekat dengannya karena tuntutan keadaan dan desakan situasi—bukan karena pilihan Ali sendiri—adalah para tokoh Khawarij yang membunuh Utsman. Padahal sebenarnya Ali membenci mereka, namun beliau sedang menunggu waktu yang tepat dan berharap bisa menguasai mereka untuk menegakkan hak Allah atas mereka. Akan tetapi, karena keadaan terjadi demikian rupa, orang-orang tersebut menguasai keadaan dan menghalangi para sahabat senior untuk mendekati Ali. Akibatnya, sekelompok orang dari Bani Umayyah dan yang lainnya melarikan diri ke Makkah.

Thalhah dan az-Zubair pun meminta izin kepada Ali untuk melaksanakan umrah. Setelah diizinkan, keduanya berangkat ke Makkah dan diikuti oleh banyak orang. Di Makkah, datang pula Ya'la bin Umayyah dari Yaman—yang dulunya adalah gubernur bentukan Utsman—dengan membawa 600 unta dan uang sebanyak 600 ribu dirham. Abdullah bin Amir yang merupakan mantan gubernur Basrah zaman Utsman juga datang ke Makkah.

Maka berkumpullah di Makkah para tokoh sahabat dan Ummahatul Mukminin. Hasil musyawarah mereka sepakat untuk menuntut balas atas darah Utsman. Sebagian orang mengusulkan, "Mari kita pergi ke Syam."

Namun yang lain berkata, "Sesungguhnya Muawiyah telah mencukupi urusan di sana untuk kalian."

Sebagian yang lain mengusulkan, "Kita pergi ke Madinah, lalu kita minta kepada Ali agar menyerahkan para pembunuh Utsman kepada kita untuk dihukum mati."

Namun yang lain berkata, "Lebih baik kita pergi ke Basrah, lalu kita memperkuat diri di sana dengan pasukan berkuda dan personil, serta kita mulai dari para pembunuh Utsman yang ada di sana." Akhirnya, pendapat inilah yang disepakati.

Orang-orang pun bergerak menuju Basrah. Yang bertindak mengimami salat atas perintah Aisyah adalah anak saudarinya, yaitu Abdullah bin az-Zubair, sedangkan Marwan bin al-Hakam yang mengumandangkan azan setiap masuk waktu salat. Di tengah perjalanan pada malam hari, mereka melewati sebuah sumber air yang bernama Al-Hawab.

Ketika mereka lewat, anjing-anjing di sekitar air tersebut menggonggong kepada mereka. Begitu mendengar hal itu, Aisyah bertanya, "Apa nama air ini?" Mereka menjawab, "Al-Hawab."

Seketika itu juga Aisyah menepukkan salah satu tangannya ke tangan yang lain lalu berkata, "Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. Aku merasa bahwa aku harus pulang." Mereka bertanya, "Mengapa?"

Aisyah menjawab, "Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda kepada istri-istrinya:

»لَيْتَ شِعْرِي أَيَّتُكُنَّ الَّتِي تَنْبَحُهَا كِلابُ الْحَوْأَبِ«

Artinya: 'Aduhai, siapakah di antara kalian yang akan digonggongi oleh anjing-anjing Al-Hawab?' "

Kemudian Aisyah memukul punuk untanya agar menderem (berlutut), lalu berkata, "Kembalikan aku! Kembalikan aku! Demi Allah, akulah pemilik air Al-Hawab itu."

Masyarakat pun akhirnya ikut menderemkan unta mereka di sekitar Aisyah selama sehari semalam. Abdullah bin az-Zubair lalu berkata kepadanya, "Sesungguhnya orang yang mengabarkan kepadamu bahwa air ini adalah air Al-Hawab telah berdusta."

Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Basrah. Ketika sudah dekat dengan Basrah, Aisyah mengirim surat kepada al-Ahnaf bin Qais dan para tokoh masyarakat lainnya untuk mengabarkan kedatangannya. Mengetahui hal itu, gubernur Basrah, Usman bin Hunaif, mengutus Imran bin Hushain dan Abu al-Aswad ad-Du'ali untuk menemui Aisyah guna mencari tahu maksud kedatangannya.

Ketika keduanya sampai, mereka mengucapkan salam dan bertanya tentang maksud kedatangan Aisyah. Aisyah pun menjelaskan bahwa tujuannya datang adalah untuk menuntut balas atas darah Utsman, karena Utsman dibunuh secara zalim di bulan yang haram (suci) dan di negeri yang haram (suci). Aisyah kemudian membacakan firman Allah Ta'ala:

﴿لَّا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسوفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا﴾

Artinya: 'Tidak ada kebaikan pada banyak bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.' (QS. An-Nisa: 114)

Keduanya lalu keluar dari tempat Aisyah dan menemui Thalhah, lalu bertanya, "Apa yang membuatmu datang ke sini?" Thalhah menjawab, "Menuntut balas atas darah Utsman."

Mereka bertanya lagi, "Bukankah kamu telah membaiat Ali?" Thalhah menjawab, "Benar, aku membaiat saat pedang berada di leherku, dan aku tidak akan meminta pembatalan baiat itu jika dia membiarkan kami menghukum para pembunuh Utsman."

Kemudian keduanya menemui az-Zubair, dan az-Zubair pun mengatakan hal yang sama. Akhirnya Imran dan Abu al-Aswad kembali kepada Usman bin Hunaif dan melaporkan hasilnya.

Usman bin Hunaif berkata, "Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. Demi Tuhan Pemilik Ka'bah, roda fitnah Islam telah berputar, maka lihatlah di atas landasan apa kita akan berpijak."

Imran berkata, "Benar, demi Allah, fitnah ini benar-benar akan menggilas kalian dengan gilingan yang lama."

Kemudian Usman bin Hunaif bertanya kepada Imran bin Hushain, "Berilah aku saran." Imran menjawab, "Menjauhlah (dari fitnah), karena aku sendiri akan duduk diam di rumahku," atau dia berkata, "duduk di atas untaku."

Namun Usman berkata, "Sebaliknya, aku akan menahan mereka sampai Amirul Mukminin (Ali) datang." Usman lalu menyeru masyarakat agar menyandang senjata dan berkumpul di masjid. Setelah mereka berkumpul, dia memerintahkan mereka untuk bersiap-siap.

Ketika Usman bin Hunaif berada di atas mimbar, seorang laki-laki berdiri dan berkata, "Wahai sekalian manusia, jika orang-orang itu datang dalam keadaan takut, mereka sebenarnya datang dari negeri yang bahkan burung pun aman di dalamnya (Makkah). Dan jika mereka datang untuk menuntut balas atas darah Utsman, kita ini bukanlah para pembunuhnya. Oleh karena itu, patuhilah aku dan kembalikan mereka ke tempat asal mereka."

Mendengar itu, Al-Aswad bin Sari' as-Sa'di berdiri dan berkata, "Sesungguhnya mereka datang hanya untuk meminta bantuan kita guna menghadapi para pembunuh Utsman, baik yang ada di kalangan kita maupun di luar kita."

Masyarakat pun melempari al-Aswad dengan batu kerikil. Dari kejadian itu, Usman bin Hunaif sadar bahwa para pembunuh Utsman ternyata memiliki pendukung di Basrah, dan dia membenci hal tersebut.

Kemudian Ibu kaum Mukminin (Aisyah) tiba bersama rombongannya, lalu mereka singgah di bagian atas Al-Mirbad, dekat dari Basrah. Penduduk Basrah yang ingin bergabung dengan Aisyah pun keluar menemuinya. Di sisi lain, Usman bin Hunaif juga keluar membawa pasukannya, lalu kedua kubu bertemu di Al-Mirbad.

Thalhah—yang memimpin sayap kanan pasukan—berbicara menyeru untuk menuntut balas dan menghukum pembunuh Utsman. Langkahnya diikuti oleh az-Zubair yang menyampaikan seruan serupa. Namun, beberapa orang dari pasukan Usman bin Hunaif menyanggah ucapan keduanya. Akhirnya, kelompok-kelompok dari kedua belah pihak saling berselisih hingga terjadi aksi saling melempar batu, sebelum akhirnya mereka saling menahan diri dan masing-masing kembali ke pasukannya. Pada saat itu, sebagian pasukan Usman bin Hunaif membelot dan bergabung dengan pasukan Aisyah sehingga jumlah mereka bertambah banyak.

Jariyah bin Qudamah as-Sa'di datang dan berkata, "Wahai Ibu kaum Mukminin! Demi Allah, terbunuhnya Utsman itu lebih ringan daripada keluarmu dari rumahmu di atas unta ini dengan menjadi sasaran senjata. Jika engkau datang kepada kami atas kemauan sendiri, maka kembalilah ke rumahmu tempat engkau datang. Namun jika engkau datang karena terpaksa, mintalah bantuan kepada orang-orang untuk memulangkanmu."

Terjadinya Pertempuran antara Mereka dengan Gubernur Pilihan Ali di Basrah:

Hakim bin Jabalah—yang memimpin pasukan berkuda Usman bin Hunaif—memulai pertempuran. Sementara itu, para pengikut Ibu kaum Mukminin (Aisyah) menahan tangan mereka dan berusaha menghindari pertempuran. Namun, Hakim terus merangsek menyerang mereka, hingga akhirnya mereka bertempur di ujung jalan. Aisyah kemudian memerintahkan para pengikutnya untuk bergeser ke arah kanan hingga mereka sampai di pemakaman Bani Mazin, lalu malam pun memisahkan pertempuran mereka.

Ketika keesokan harinya, mereka kembali bersiap untuk berperang. Terjadilah pertempuran yang sangat sengit hingga matahari bergeser (tengah hari). Banyak sekali pasukan Ibnu Hunaif yang tewas, dan luka-luka diderita oleh kedua belah pihak secara masif. Ketika perang telah melelahkan mereka, kedua belah pihak menyerukan perdamaian.

Akan tetapi, sekelompok orang yang ikut terlibat dalam pembunuhan Utsman beserta para pendukung mereka—yang berjumlah sekitar 300 orang di bawah pimpinan Hakim bin Jabalah (salah satu orang yang langsung mengeksekusi pembunuhan Utsman)—tetap maju dan bertempur. Seseorang menebas kaki Hakim bin Jabalah hingga terputus, namun Hakim merangkak mengambil kakinya yang putus itu lalu melemparkannya ke arah orang yang menebasnya hingga orang tersebut tewas. Akhirnya Hakim pun tewas beserta sekitar 70 orang dari para pembunuh Utsman dan pendukung mereka.

Peristiwa ini terjadi pada lima malam terakhir di bulan Rabiul Akhir tahun 36 Hijriah, dan peristiwa ini dinamakan dengan Perang Jamal Kecil (Mawaqi'atul Jamal as-Sughra).

Perjalanan Ali bin Abi Thalib dari Madinah Menuju Irak:

Ali radhiyallahu 'anhu sebenarnya telah bersiap-siap dengan maksud menuju Syam. Namun, ketika sampai kabar kepadanya bahwa Thalhah dan az-Zubair bermaksud menuju Basrah, beliau berpidato di hadapan masyarakat dan mendorong mereka untuk bergerak menuju Irak. Akan tetapi, mayoritas penduduk Madinah merasa berat dan enggan, meskipun sebagian dari mereka akhirnya menyambut seruan tersebut.

Ibnu Jarir dan sejarawan lainnya menyebutkan bahwa di antara tokoh sahabat senior yang menyambut seruan Ali adalah Abu al-Haitsam bin at-Tayyihan, Abu Qatadah al-Anshari, Ziyad bin Hanzhalah, dan Khuzaimah bin Tsabit. Mereka menyatakan bahwa Khuzaimah ini bukanlah pemilik julukan Dzu asy-Syahadatain (orang yang persaksiannya senilai dua orang), karena Khuzaimah yang itu telah wafat di zaman Utsman radhiyallahu 'anhu.

Ali berangkat dari Madinah menuju ar-Rabadzah. Beliau menunjuk Tammam bin Abbas sebagai penggantinya untuk memimpin Madinah, dan Qutsam bin Abbas untuk memimpin Makkah. Keberangkatan ini terjadi di akhir bulan Rabiul Akhir tahun 36 Hijriah, di mana Ali keluar dari Madinah bersama sekitar 900 pejuang.

Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu sempat bertemu dengan Ali saat beliau berada di ar-Rabadzah. Abdullah memegang tali kendali kuda Ali dan berkata, "Wahai Amirul Mukminin! Janganlah engkau keluar dari Madinah. Demi Allah, jika engkau keluar darinya, engkau tidak akan pernah kembali lagi ke sana, dan kekuasaan kaum muslimin tidak akan pernah kembali lagi ke Madinah selama-lamanya." Mendengar ucapan itu, sebagian orang mencaci Abdullah bin Salam, namun Ali berkata, "Biarkan dia, karena dia adalah sebaik-baik orang dari kalangan sahabat Nabi ."

Dan Al-Hasan bin Ali datang menemui ayahnya lalu berkata, "Sungguh aku telah melarangmu namun engkau menentangku. Besok engkau akan terbunuh di tempat yang sunyi ini tanpa ada seorang penolong pun." Ali berkata kepadanya, "Engkau terus-menerus merengek kepadaku seperti rengekan seorang anak perempuan. Lalu apa yang telah engkau larang dariku namun aku tentani?"

Al-Hasan menjawab, "Bukankah sebelum terbunuhnya Utsman aku telah memerintahkanmu untuk keluar dari Madinah, agar dia tidak terbunuh saat engkau berada di sana, sehingga tidak ada orang yang akan menuduh atau membicarakannya? Bukankah aku juga telah memerintahkanmu agar tidak menerima baiat manusia setelah terbunuhnya Utsman sampai penduduk dari setiap wilayah mengirimkan baiat mereka kepadamu? Dan aku pun telah memerintahkanmu ketika wanita ini (Aisyah) dan kedua pria ini (Thalhah dan az-Zubair) keluar, agar engkau tetap duduk diam di rumahmu sampai mereka berdamai, namun engkau menentangku dalam semua hal itu?"

Maka Ali berkata kepadanya, "Adapun ucapanmu agar aku keluar sebelum terbunuhnya Utsman, demi Allah kami telah dikepung sebagaimana dia juga dikepung. Adapun masalah pembaiatanku sebelum datangnya baiat dari kota-kota lain, sesungguhnya urusan kekhalifahan adalah urusan penduduk Madinah, dan aku tidak suka jika urusan kepemimpinan ini menjadi telantar.

Sedangkan mengenai ucapanmu agar aku duduk diam saja sementara mereka telah bergerak menuju apa yang mereka tuju, apakah engkau ingin aku menjadi seperti hewan dubuk yang dikepung, lalu dikatakan kepadanya: 'Ketuklah, ketuklah, dia tidak ada di sini,' hingga urat kakinya terputus lalu dia keluar? Jika aku tidak memperhatikan apa yang menjadi kewajibanku dalam urusan ini dan apa yang dapat membantuku, lalu siapa lagi yang akan memperhatikannya? Maka berhentilah merengek dariku, wahai anakku."

Ketika kabar tentang apa yang dilakukan oleh orang-orang di Basrah sampai kepada Ali, beliau menulis surat kepada penduduk Kufah yang dikirim bersama Muhammad bin Abi Bakar dan Muhammad bin Ja'far: "Sesungguhnya aku telah memilih kalian di atas penduduk kota-kota lainnya, dan aku meminta bantuan kepada kalian atas apa yang terjadi. Oleh karena itu, jadilah kalian para penolong dan pembela agama Allah, dan bangkitlah menuju kami, karena perbaikanlah yang kami inginkan agar umat ini kembali menjadi bersaudara." Kedua utusan itu pun berangkat, dan Ali mengirim utusan ke Madinah untuk mengambil senjata dan hewan tunggangan yang beliau inginkan.

Khotbah Ali radhiyallahu 'anhu:

Ali radhiyallahu 'anhu berdiri menyampaikan khotbah di hadapan manusia, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah telah memuliakan kita dengan Islam, mengangkat derajat kita dengannya, dan menjadikan kita bersaudara setelah sebelumnya kita berada dalam kehinaan, jumlah yang sedikit, saling membenci, dan saling menjauh. Maka manusia pun berjalan di atas hal itu selama waktu yang dikehendaki Allah. Islam adalah agama mereka, kebenaran tegak di antara mereka, dan Al-Kitab (Al-Qur'an) adalah imam mereka, hingga pria ini (Utsman) ditimpa musibah oleh ulah sekelompok orang yang telah dihasut oleh setan untuk menanamkan permusuhan di antara umat ini. Ketahuilah, umat ini pasti akan terpecah belah sebagaimana umat-umat sebelum mereka telah terpecah belah. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan apa yang akan terjadi, dan apa yang telah digariskan pasti akan terjadi. Ketahuilah, sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, dan yang paling buruk di antaranya adalah golongan yang menisbatkan diri kepadaku namun tidak mengamalkan amalan-amalanku. Kalian telah mengetahui dan melihatnya, maka berpegangteguhlah pada agama kalian, ambillah petunjuk dengan petunjuk Nabi kalian, ikutilah sunahnya, dan berpalinglah dari apa yang meragukan kalian hingga kalian menyandarkannya kepada Al-Kitab. Apa yang dikenali oleh Al-Qur'an maka peganglah ia, dan apa yang diingkarinya maka tolaklah ia. Ridhailah Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai Nabi, dan Al-Qur'an sebagai hukum dan imam."

Para perawi mengatakan: Ali lalu berangkat dari ar-Rabadzah dengan pasukannya dalam kondisi siap siaga, beliau mengendarai unta merah sambil menuntun seekor kuda yang berwarna merah tua (kamit). Ketika sampai di Fayd, sekelompok orang dari suku Asad dan Thayyi' datang menemui beliau dan menawarkan diri mereka untuk membantu, namun Ali berkata: "Orang-orang yang bersamaku saat ini sudah mencukupi."

Kemudian datang seorang pria dari penduduk Kufah yang bernama Amir bin Mathar asy-Syaibani, lalu Ali bertanya kepadanya: "Apa kabar yang ada di belakangmu (Kufah)?" Pria itu pun menceritakan kabarnya kepada Ali. Ketika Ali bertanya mengenai sikap Abu Musa al-Asy'ari, pria itu menjawab: "Jika engkau menginginkan perdamaian, maka Abu Musa adalah orangnya. Namun jika engkau menginginkan peperangan, maka dia bukan orangnya." Ali pun berkata: "Demi Allah, aku tidak menginginkan apa pun kecuali perdamaian dari orang yang memberontak kepada kami."

Ketika Ali sampai di Dzu Qar, Usman bin Hunaif (mantan gubernur Basrah) datang menemui beliau dan mengadukan kondisi yang dialaminya (di mana rambut dan jenggotnya telah dicabuti oleh musuh). Ali berkata kepadanya: "Engkau telah mendapatkan kebaikan dan pahala."

Ali menetap di Dzu Qar untuk menunggu jawaban atas surat yang beliau kirim bersama Muhammad bin Abi Bakar dan rekannya, Muhammad bin Ja'far. Keduanya telah menyampaikan surat beliau kepada Abu Musa dan menyerukan perintah Ali di hadapan masyarakat, namun seruan itu tidak mendapatkan sambutan sama sekali. Ketika sore hari tiba, beberapa orang yang berakal menemui Abu Musa dan menawarkan kepatuhan kepada Ali untuk berangkat berperang.

Abu Musa berkata: "Pendapat yang tepat itu adalah yang kemarin, sedangkan yang tersisa sekarang hanyalah dua pilihan: Duduk diam (tidak ikut campur) adalah jalan akhirat, sedangkan keluar berperang adalah jalan dunia. Maka pilihlah oleh kalian." Akibatnya, tidak ada seorang pun yang bergerak berangkat.

Hal itu membuat Muhammad bin Abi Bakar dan Muhammad bin Ja'far marah. Mengetahui hal tersebut, Ali kemudian mengutus Al-Hasan (putranya) bersama Ammar bin Yasir. Keduanya berangkat hingga masuk ke dalam masjid Kufah. Abu Musa pun keluar menemui mereka lalu memeluk Al-Hasan bin Ali.

Al-Hasan bin Ali berkata kepada Abu Musa: "Mengapa engkau menghalang-halangi manusia dari kami? Demi Allah, kami tidak menginginkan apa pun kecuali perbaikan, dan orang seperti Amirul Mukminin tidak perlu dikhawatirkan akan berbuat zalim." Abu Musa menjawab: "Engkau benar, demi ayah dan ibuku. Akan tetapi, orang yang dimintai saran itu harus jujur dan amanah. Aku pernah mendengar Nabi bersabda:

»إِنَّهَا سَتَكُونُ فِتْنَةٌ القَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ القَائِمِ، وَالقَائِمُ خَيْرٌ مِنَ المَاشِي، وَالمَاشِي خَيْرٌ مِنَ الرَّاكِبِ«

Artinya: 'Sesungguhnya akan terjadi fitnah, yang mana orang yang duduk saat itu lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berkendara.' "

Abu Musa melanjutkan: "Dan Allah telah menjadikan kita bersaudara serta mengharamkan atas kita darah dan harta kita. Sesungguhnya fitnah itu jika datang akan terlihat samar, dan jika telah berlalu barulah menjadi jelas."

Mendengar itu, al-Qa'qa' bin Amru berdiri dan berkata: "Benar apa yang dikatakan oleh amir (Abu Musa), akan tetapi manusia harus memiliki seorang pemimpin yang dapat mencegah orang zalim, membela orang yang dizalimi, dan menyatukan urusan manusia. Amirul Mukminin Ali telah diuji dengan memegang kepemimpinan ini, dan beliau telah berlaku adil dalam seruannya. Beliau hanyalah menginginkan perbaikan, maka berangkatlah kalian kepadanya."

Kemudian masyarakat saling berbalas ucapan, lalu Ammar bin Yasir dan Al-Hasan bin Ali berdiri di atas mimbar untuk menyeru manusia agar berangkat menemui Amirul Mukminin, karena beliau hanya menginginkan perdamaian di antara manusia.

Saat itu, Ammar mendengar seorang pria mencaci Aisyah, maka Ammar berkata: "Diamlah engkau, wahai orang yang buruk dan terhina! Demi Allah, sesungguhnya dia adalah istri Rasulullah di dunia dan di akhirat. Akan tetapi, Allah menguji kalian dengannya untuk melihat apakah kalian menaati Allah atau menaati dia (Aisyah)." Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

Hujr bin Adi juga berdiri dan berkata: "Wahai sekalian manusia, berangkatlah menuju Amirul Mukminin! Berangkatlah kalian baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwa kalian di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui."

Masyarakat pun menyambut seruan tersebut untuk berangkat. Sebanyak sembilan ribu orang keluar bersama Al-Hasan melalui jalur darat dan Sungai Tigris, bahkan ada yang mengatakan bahwa yang berjalan bersama Al-Hasan mencapai dua belas ribu orang. Mereka mendatangi Amirul Mukminin, lalu Ali menyambut mereka di tengah jalan menuju Dzu Qar bersama sekelompok sahabat, termasuk di antaranya Ibnu Abbas. Ali menyambut mereka dan berkata: "Wahai penduduk Kufah! Kalian telah menghadapi raja-raja ajam (Persia) dan mencerai-beraikan pasukan mereka. Aku mengundang kalian ke sini agar kalian menyaksikan sikap kami bersama saudara-saudara kita dari penduduk Basrah. Jika mereka mau kembali (taat), maka itulah yang kita inginkan. Namun jika mereka menolak, kita akan menyembuhkan mereka dengan kelembutan sampai mereka yang memulai kezaliman kepada kita. Kita tidak akan meninggalkan satu urusan pun yang di dalamnya terdapat kebaikan melainkan kita akan mengutamakannya daripada hal yang mendatangkan kerusakan, insya Allah Ta'ala."

Maka berkumpullah mereka di sisi Ali di Dzu Qar. Di antara para pemimpin terkenal yang bergabung dengan Ali adalah al-Qa'qa' bin Amru, Su'ar bin Malik, Hindun bin Amru, al-Haitsam bin Syihab, Zaid bin Shuhan, al-Asytar, Adi bin Hatim, al-Musayyib bin Najabah, Yazid bin Qais, Hujr bin Adi, dan orang-orang yang sepadan dengan mereka. Suku Abdul Qais secara keseluruhan juga berada di antara posisi Ali dan Basrah untuk menunggu kedatangan beliau, dan jumlah mereka mencapai ribuan orang.

Utusan antara Ali, Thalhah, dan az-Zubair serta Kesepakatan Mereka untuk Berdamai:

Ali mengutus al-Qa'qa' bin Amru sebagai utusan menemui Thalhah dan az-Zubair di Basrah untuk mengajak keduanya kepada persatuan dan jamaah, serta menekankan besarnya dampak perpecahan dan perselisihan. Al-Qa'qa' pun berangkat ke Basrah dan memulai kunjungannya dengan menemui Ibu kaum Mukminin, Aisyah.

Al-Qa'qa' berkata: "Wahai ibundaku! Apa yang membuatmu datang ke negeri ini?" Aisyah menjawab: "Wahai anakku, tujuannya adalah untuk mengadakan perbaikan di antara manusia." Al-Qa'qa' kemudian meminta Aisyah agar mengirim utusan kepada Thalhah dan az-Zubair agar keduanya hadir di tempat Aisyah, dan keduanya pun datang.

Al-Qa'qa' berkata: "Aku telah bertanya kepada Ibu kaum Mukminin tentang maksud kedatangannya, dan beliau menjawab bahwa beliau datang untuk mengadakan perbaikan di antara manusia." Thalhah dan az-Zubair menyahut: "Kami pun datang untuk tujuan yang sama."

Al-Qa'qa' berkata: "Maka kabarkanlah kepadaku, bagaimana bentuk perbaikan itu dan di atas landasan apa hal itu bisa terwujud? Demi Allah, jika kami mengenalinya, kami pasti akan berdamai. Namun jika kami mengingkarinya, kami tidak akan bisa berdamai."

Keduanya menjawab: "Hukum mati para pembunuh Utsman! Karena jika hal ini dibiarkan, maka itu berarti mengabaikan Al-Qur'an."

Al-Qa'qa' berkata: "Kalian berdua telah membunuh para pembunuh Utsman yang berada di kalangan penduduk Basrah, padahal sebelum kalian membunuh mereka, kalian berada dalam kondisi yang lebih dekat kepada kebenaran daripada kondisi kalian hari ini. Kalian telah membunuh enam ratus orang, akibatnya enam ribu orang marah karena kematian mereka lalu memisahkan diri dari kalian dan keluar dari lingkungan kalian. Kalian juga mencari Hurqush bin Zuhair (salah satu pembunuh Utsman), namun enam ribu orang melindunginya dari kalian. Jika kalian membiarkan mereka, kalian jatuh ke dalam apa yang kalian ucapkan (mengabaikan Al-Qur'an), namun jika kalian memerangi mereka lalu mereka berhasil mengalahkan kalian, maka perkara yang kalian khawatirkan dan yang mencerai-beraikan urusan ini akan jauh lebih besar daripada apa yang kalian cegah dan kalian kumpulkan saat ini." Maksud al-Qa'qa' adalah bahwa keinginan mereka untuk menghukum pembunuh Utsman adalah sebuah maslahat, namun hal itu mendatangkan kerusakan yang jauh lebih besar lagi. Sebagaimana mereka telah acuh dan tidak mampu menghukum Hurqush bin Zuhair demi mencegah bangkitnya enam ribu orang yang melindunginya, maka Ali lebih memiliki uzur untuk menunda hukuman bagi para pembunuh Utsman saat ini sampai beliau benar-benar mampu menguasai mereka, karena saat ini suara di berbagai wilayah masih terpecah belah terhadap beliau.

Kemudian al-Qa'qa' mengabarkan kepada mereka bahwa banyak orang dari suku Rabi'ah dan Mudhar telah berkumpul untuk memerangi mereka disebabkan oleh perkara yang terjadi ini.

Ibu kaum Mukminin (Aisyah) bertanya kepadanya: "Lalu apa pendapatmu sendiri?" Al-Qa'qa' menjawab: "Aku berpendapat bahwa perkara yang terjadi ini obatnya adalah ditenangkan terlebih dahulu. Jika keadaan sudah tenang, barulah urusan ini bisa diselesaikan dengan baik. Jika kalian menyetujui kami, maka itu adalah tanda kebaikan, tanda datangnya rahmat, dan terwujudnya tuntutan balas darah. Namun jika kalian menolak dan tetap bersikeras memaksakan perkara ini secara terburu-buru, maka itu adalah tanda keburukan dan hilangnya kekuasaan ini. Utamakanlah keselamatan niscaya kalian akan dikaruniai keselamatan, dan jadilah kalian sebagai pembuka pintu kebaikan sebagaimana kalian dahulu pada awalnya. Janganlah kalian membawa kami ke dalam bencana yang membuat kalian sendiri terjerumus ke dalamnya, sehingga Allah membinasakan kami dan kalian. Demi Allah, sesungguhnya aku mengatakan hal ini dan mengajak kalian kepadanya dalam keadaan aku sendiri merasa khawatir hal ini tidak akan selesai sampai Allah mengambil apa yang menjadi keputusan-Nya atas umat yang telah sedikit menikmatinya dan telah ditimpa musibah ini. Sesungguhnya perkara yang terjadi ini adalah perkara yang sangat besar; ini bukanlah seperti kasus seseorang membunuh orang lain, bukan sekelompok orang membunuh satu orang, dan bukan pula satu suku membunuh satu orang."

Mendengar itu, mereka berkata: "Engkau telah benar dan berbicara dengan sangat baik. Kembalilah menemui Ali, jika dia datang dalam keadaan memegang pendapat yang sama dengannmu, maka urusan ini akan damai." Al-Qa'qa' pun kembali menemui Ali dan melaporkan hasilnya, dan hal itu membuat Ali merasa senang.

Aisyah juga mengirim utusan kepada Ali untuk memberi tahu bahwa kedatangannya hanyalah untuk perdamaian. Hal itu membuat kedua belah pihak merasa sangat gembira. Ali kemudian berdiri menyampaikan khotbah di hadapan manusia, beliau menyebutkan tentang zaman jahiliah, kesengsaraannya, dan amalan-amalannya. Beliau juga menyebutkan tentang Islam dan kebahagiaan pemeluknya dengan adanya rasa persaudaraan dan persatuan, serta bagaimana Allah menyatukan mereka setelah wafatnya Nabi di bawah kepemimpinan Khalifah Abu Bakar ash-Siddiq, kemudian setelahnya di bawah Umar bin al-Khattab, kemudian di bawah Utsman. Lalu terjadilah peristiwa fitnah ini yang menimpa umat, yang digerakkan oleh orang-orang yang mengejar dunia dan mendengki orang lain atas nikmat dan keutamaan yang Allah berikan kepada mereka, serta berniat mengembalikan Islam ke masa ke belakang, namun Allah pasti akan menyempurnakan ketetapan-Nya.

Di akhir khotbahnya, Ali berkata: "Ketahuilah, sesungguhnya aku akan berangkat besok, maka bersiaplah kalian untuk berangkat. Dan jangan sekali-kali ada seorang pun yang ikut berangkat bersamaku dari kalangan orang yang telah membantu atas pembunuhan Utsman dalam urusan manusia apa pun."

Ketakutan para Pembunuh Utsman terhadap Perdamaian dan Upaya Mereka untuk Merusaknya:

Ketika para sahabat telah sepakat untuk mengadakan perdamaian, dan orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan Utsman mendengar khotbah serta ucapan Ali radhiyallahu 'anhu, mereka merasa takut atas keselamatan diri mereka sendiri. Maka berkumpullah para pemimpin mereka seperti al-Asytar an-Nakha'i, Syuraih bin Aufa, Abdullah bin Saba' yang dikenal dengan sebutan "Ibnu as-Sauda'", Salim bin Tsa'labah, Ilba' bin al-Haitsam, dan yang lainnya dalam sebuah kelompok yang berjumlah sekitar dua ribu lima ratus orang, yang mana tidak ada seorang sahabat Nabi pun di kalangan mereka. Mereka bertanya: "Apa pendapat kalian?

Demi Allah, Ali adalah orang yang paling paham tentang Kitabullah, dan dia termasuk orang yang menuntut pembunuh Utsman serta paling dekat untuk melaksanakan hal itu. Dia telah mengatakan apa yang kalian dengar sendiri tadi, dan besok dia akan mengumpulkan manusia untuk menghadapi kalian. Sesungguhnya orang-orang itu semuanya hanya menginginkan kalian, maka bagaimana dengan kalian sedangkan jumlah kalian sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah mereka yang banyak?"

Al-Asytar berkata: "Kita telah mengetahui bagaimana pendapat Thalhah dan az-Zubair mengenai diri kita, sedangkan pendapat Ali baru kita ketahui hari ini. Jika dia telah berdamai dengan mereka, maka sesungguhnya mereka bersepakat di atas darah kita. Jika perkaranya memang seperti ini, maka mari kita susulkan Ali kepada Utsman (kita bunuh juga Ali), sehingga fitnah kembali berkobar dan orang-orang itu akan rida kepada kita dengan memilih diam."

Ibnu as-Sauda' menyanggah: "Buruk sekali pendapatmu itu! Jika kita membunuhnya, kita pun akan ikut dibunuh. Sesungguhnya kita, wahai golongan pembunuh Utsman, berjumlah dua ribu lima ratus orang, sedangkan Thalhah, az-Zubair, dan para sahabatnya berjumlah lima ribu orang. Kalian tidak akan memiliki kekuatan untuk menghadapi mereka, sedangkan mereka memang hanya menginginkan kalian." Ilba' bin al-Haitsam mengusulkan: "Tinggalkan mereka dan mari kita kembali pergi menuju sebagian wilayah agar kita bisa membentengi diri di sana."

Ibnu as-Sauda' berkata lagi: "Buruk sekali apa yang kamu katakan! Jika demikian, demi Allah manusia akan menculik kalian dengan mudah."

Kemudian Ibnu as-Sauda'—semoga Allah memburukkannya—berkata: "Wahai kaumku, sesungguhnya kejayaan kalian itu terletak pada saat kalian bercampur baur dengan manusia. Oleh karena itu, apabila kedua pasukan telah bertemu besok, kobarkanlah peperangan dan pertempuran di antara manusia dan jangan biarkan mereka bersatu! Siapa pun orang yang kalian bersamanya, dia tidak akan menemukan pilihan lain kecuali harus bertahan membela diri, sehingga Allah menyibukkan Thalhah, az-Zubair, dan orang-orang yang bersama keduanya dari apa yang mereka sukai, dan mendatangkan kepada mereka apa yang mereka benci."

Mereka pun melihat pendapat itu sebagai langkah yang tepat, lalu mereka berpisah di atas kesepakatan tersebut dalam keadaan manusia lainnya tidak menyadari rencana mereka. Di pagi harinya, Ali berangkat bersama pasukannya melewati wilayah Abdul Qais, dan mereka berjalan bersama beliau hingga singgah di Az-Zawiyah. Dari sana Ali berjalan menuju Basrah, sedangkan Thalhah, az-Zubair, dan orang-orang yang bersama keduanya keluar untuk menemui beliau, lalu kedua pihak berkumpul di dekat istana Ubaidullah bin Ziyad, dan masing-masing pasukan menempati areanya sendiri.

Ali telah mendahului pasukannya yang berjalan menyusul di belakang beliau. Kedua belah pihak menetap di sana selama tiga hari dalam kondisi para utusan saling bertukar pesan di antara mereka, dan peristiwa itu terjadi pada pertengahan bulan Jumadil Akhir tahun 36 Hijriah.

Sebagian orang sempat menyarankan kepada Thalhah dan az-Zubair untuk memanfaatkan kesempatan guna menghukum para pembunuh Utsman saat itu. Namun keduanya menjawab: "Sesungguhnya Ali menyarankan untuk menenangkan perkara ini terlebih dahulu, dan kami telah mengirim utusan kepadanya untuk menyetujui perdamaian di atas hal itu."

Ali kemudian berdiri menyampaikan khotbah di hadapan manusia, lalu al-A'war bin Banan al-Minqari berdiri menanyakan tujuan kedatangan beliau kepada penduduk Basrah. Ali menjawab: "Perbaikan dan memadamkan api fitnah; agar manusia berkumpul di atas kebaikan dan menyatukan kembali urusan umat ini." Pria itu bertanya lagi: "Bagaimana jika mereka tidak menyambut seruan kita?" Ali menjawab: "Kita biarkan mereka selama mereka membiarkan kita." Pria itu bertanya lagi: "Bagaimana jika mereka tidak membiarkan kita?" Ali menjawab: "Kita akan membela diri kita dari mereka." Pria itu bertanya lagi: "Apakah mereka memiliki hak yang sama dalam perkara ini sebagaimana hak yang kita miliki?" Ali menjawab: "Ya."

Kemudian Abu Salamah ad-Dalani berdiri dan bertanya kepada beliau: "Apakah orang-orang itu memiliki argumen atas apa yang mereka tuntut dari darah ini, jika mereka menginginkan wajah Allah dalam hal itu?" Ali menjawab: "Ya." Pria itu bertanya lagi: "Lalu apakah engkau memiliki argumen atas penundaanmu terhadap hal itu?" Ali menjawab: "Ya." Pria itu bertanya lagi: "Maka bagaimana kondisi kami dan kondisi mereka jika besok kami diuji dengan pertempuran?" Ali menjawab: "Sesungguhnya aku berharap tidak ada seorang pun di antara kami dan mereka yang terbunuh dalam keadaan hatinya bersih kepada Allah melainkan Allah akan memasukkannya ke dalam surga."

Ali juga berkata dalam khotbahnya: "Wahai sekalian manusia, tahanlah tangan dan lisan kalian dari orang-orang itu, dan jangan sekali-kali kalian mendahului kami, karena orang yang kalah besok adalah orang yang mendebat hari ini."

Kemudian al-Ahnaf bin Qais datang bersama sekelompok orang lalu bergabung dengan Ali. Beliau sebelumnya telah membaiat Ali di Madinah, yaitu ketika beliau mendatangi Madinah saat Utsman sedang dikepung. Saat itu al-Ahnaf bertanya kepada Aisyah, Thalhah, dan az-Zubair: "Jika Utsman terbunuh, kepada siapa aku harus berbaiat?"

Mereka semua menjawab: "Baiatlah Ali." Maka ketika Utsman terbunuh, dia pun membaiat Ali. Al-Ahnaf melanjutkan ceritanya: "Kemudian aku kembali kepada kaumku, namun setelah itu datang kepadaku perkara yang lebih mengejutkan, hingga manusia berkata: 'Ini Aisyah telah datang untuk menuntut balas atas darah Utsman.' Aku pun menjadi bingung dalam urusanku tentang siapa yang harus kuikuti, hingga akhirnya Allah menjagaku berkat sebuah hadis yang pernah kudengar dari Abu Bakrah, dia berkata: Rasulullah bersabda ketika sampai kabar kepada beliau bahwa bangsa Persia telah mengangkat putri Kisra sebagai raja mereka, beliau bersabda: 'Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan kepemimpinan mereka kepada seorang wanita.' Hadis ini pada asalnya terdapat dalam Shahih Al-Bukhari."

Maksudnya adalah ketika al-Ahnaf bergabung dengan Ali, dia membawa serta enam ribu orang pemanah. Dia berkata kepada Ali: "Jika engkau mau, aku akan ikut bertempur bersamamu. Namun jika engkau mau, aku bisa menahan sepuluh ribu bilah pedang agar tidak menyerangmu." Ali pun menjawab: "Tahanlah dari kami sepuluh ribu bilah pedang tersebut."

Kemudian Ali mengirim utusan kepada Thalhah dan az-Zubair untuk menyampaikan pesan: "Jika kalian berdua masih menetapi apa yang menjadi kesepakatan kalian bersama al-Qa'qa' bin Amru, maka tahanlah pasukan kalian sampai kami singgah sehingga kita bisa melihat perkara ini bersama-sama." Kedua tokoh itu membalas pesan beliau dengan jawaban: "Sesungguhnya kami masih menetapi apa yang menjadi kesepakatan kami bersama al-Qa'qa' bin Amru mengenai perdamaian di antara manusia."

Mendengar hal itu, jiwa manusia pun menjadi tenang dan tenteram, dan masing-masing kelompok bergabung dengan rekan-rekannya dari kedua belah pasukan. Ketika sore hari tiba, Ali mengutus Abdullah bin Abbas menemui mereka, dan mereka pun mengutus Muhammad bin Thalhah "as-Sajjad" menemui Ali. Malam itu menjadi malam terbaik bagi manusia, namun menjadi malam terburuk bagi para pembunuh Utsman. Mereka semalaman saling bermusyawarah dan akhirnya bersepakat untuk mengobarkan peperangan di waktu subuh yang masih gelap (ghalas).

Maka mereka pun bangkit sebelum terbitnya fajar dalam jumlah yang mendekati dua ribu orang, lalu masing-masing kelompok menuju ke arah kerabat mereka dan langsung menyerang mereka dengan pedang. Akibatnya, setiap kelompok pasukan bangkit membela kaumnya masing-masing, dan orang-orang pun terbangun dari tidur mereka langsung menyandang senjata.

Mereka berteriak: "Penduduk Kufah telah menyerang kita di malam hari, mereka mengepung dan mengkhianati kita!"

Mereka menyangka bahwa serangan malam ini dilakukan atas perintah dan kesepakatan dari para pengikut Ali. Ketika kabar tersebut sampai kepada Ali, beliau bertanya: "Ada apa dengan manusia?" Mereka menjawab: "Penduduk Basrah telah menyerang kita di malam hari." Maka seketika itu juga masing-masing kubu bangkit mengambil senjata mereka, mengenakan baju besi, dan menunggangi kuda-kuda mereka, dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kedua belah pihak yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada hakikat perkara tersebut, dan ketetapan Allah itu adalah takdir yang pasti terjadi.

Terjadinya Peperangan di Hari Jamal:

Peperangan pun berkobar dengan sengitnya, dan kedua belah pihak saling berhadapan di mana telah berkumpul bersama Ali sebanyak dua puluh ribu pasukan, sedangkan yang mengelilingi Aisyah dan yang bersamanya berjumlah sekitar tiga puluh ribu pasukan. Sementara itu, kelompok Sabaiyyah (para pengikut Ibnu as-Sauda'—semoga Allah memburukkannya—) tidak henti-hentinya melakukan pembunuhan. Utusan Ali terus berseru: "Ketahuilah, tahanlah tangan kalian! Tahanlah tangan kalian!" namun tidak ada seorang pun yang mendengarnya.

Kemudian datanglah Ka'b bin Sur, hakim kota Basrah, ia berkata: "Wahai Ibu kaum Mukminin! Temuilah manusia, mudah-mudahan Allah mengadakan perbaikan di antara manusia dengan perantaraanmu." Maka Aisyah pun duduk di dalam sekedupnya (haudaj) di atas untanya, lalu mereka melindungi sekedup itu dengan perisai-perisai besi. Aisyah datang dan berdiri di posisi di mana beliau dapat melihat manusia di medan pertempuran mereka.

Al-Hafizh Abu Ya'la al-Mawshili meriwayatkan, ia berkata: Abu Yusuf Ya'qub bin Ibrahim ad-Dawraqi menceritakan kepada kami, Abu Ashim menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Muhammad bin Abdul Malik bin Muslim ar-Raqasyei, dari kakeknya Abdul Malik, dari Abu Jarw al-Mazini.

Ia berkata: Aku menyaksikan Ali dan Zubair ketika keduanya saling berhadapan—yaitu pada Perang Jamal. Ali berkata kepadanya: "Wahai Zubair, aku mengingatkanmu demi Allah, apakah kamu pernah mendengar Rasulullah bersabda:

«إِنَّكَ تُقَاتِلُنِي وَأَنْتَ ظَالِمٌ»

'Sesungguhnya engkau akan memerangiku, dan engkau berada di pihak yang zalim?'"

Zubair menjawab: "Ya, dan aku tidak mengingatnya kecuali pada posisiku (saat ini) ini." Kemudian ia pun pergi.

Lalu Zubair kembali di atas hewan tunggangannya sambil membelah barisan pasukan. Putranya, Abdullah bin Zubair, menghadangnya dan bertanya: "Ada apa denganmu?"

Zubair menjawab: "Ali mengingatkanku pada sebuah hadis yang pernah kudengar dari Rasulullah. Aku mendengar beliau bersabda:

«لَتُقَاتِلَنَّهُ وَأَنْتَ ظَالِمٌ لَهُ»

'Pasti engkau akan memeranginya, dan engkau berada di pihak yang zalim kepadanya.'"

Abdullah bertanya: "Apakah engkau datang hanya untuk berperang? Sesungguhnya engkau datang tidak lain adalah untuk mendamaikan manusia, dan semoga Allah memperbaiki urusan ini melaluimu." Zubair berkata: "Aku telah bersumpah untuk tidak memeranginya." Ada pula yang mengatakan bahwa ia mundur dari peperangan ketika melihat Ammar bin Yasir berada di kubu Ali, dan ia pernah mendengar Rasulullah bersabda kepada Ammar:

«تَقْتُلُكَ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ»

'Engkau akan dibunuh oleh kelompok pemberontak (kelompok yang melampaui batas).'

Maka ia khawatir Ammar akan terbunuh pada hari tersebut. Ibnu Katsir berkata: "Menurutku, hadis yang telah kami kemukakan ini, jika memang sahih bersumber darinya, maka tidak ada hal lain yang membuatnya mundur selain hadis tersebut."

Terbunuhnya Zubair dan Thalhah

Intinya, ketika Zubair mundur pada hari Perang Jamal, ia singgah di sebuah lembah bernama Lembah Siba' (Wadi as-Siba'). Kemudian seorang pria bernama Amru bin Jurmuz mengikutinya, lalu mendatangi Zubair saat ia sedang tidur dan membunuhnya secara sembunyi-sembunyi (pembunuhan licik/ghilah).

Adapun Thalhah, sebuah anak panah yang tidak diketahui arahnya mengenai dirinya di medan perang hingga menembus kakinya bersama kudanya. Kuda tersebut berlari kencang tak terkendali, sehingga Thalhah mulai berteriak: "Kemarilah, wahai hamba-hamba Allah! Kemarilah, wahai hamba-hamba Allah!" Kemudian seorang mantan budaknya mengikutinya lalu menahan kuda tersebut. Thalhah berkata kepadanya: "Celaka kamu, bawalah aku ke pemukiman!" Sementara itu, sepatu boot-nya telah dipenuhi oleh darah. Ia lalu berkata kepada pelayannya: "Bantulah aku naik di belakangmu."

Hal itu karena ia telah kehabisan banyak darah dan melemah. Pelayan itu pun menaikkannya di belakangnya lalu membawanya ke sebuah rumah di Bashrah, hingga akhirnya ia wafat di rumah tersebut, semoga Allah meridtainya. Ada pula yang mengatakan bahwa ia wafat di medan pertempuran, dan Ali sempat berdiri di hadapan jenazahnya seraya merasa sangat sedih atas kejadian itu.

Pertempuran di Sekitar Unta

Aisyah radhiyallahu 'anha maju di dalam sekedupnya (tenda di atas unta). Ia menyerahkan sebuah mushaf Al-Qur'an kepada Ka'ab bin Sur, hakim kota Bashrah, seraya berkata: "Serulah mereka kepada Al-Qur'an ini!" Ketika Ka'ab bin Sur maju membawa mushaf tersebut untuk menyerukan perdamaian, ia dihadang oleh garda depan pasukan Kufah.

Pada saat itu, Abdullah bin Saba' beserta para pengikutnya berada di barisan depan pasukan, membunuh siapa saja dari penduduk Bashrah yang mampu mereka kuasai tanpa pandang bulu. Begitu mereka melihat Ka'ab bin Sur mengangkat mushaf, mereka langsung menghujaninya dengan anak panah secara serentak layaknya satu orang, hingga berhasil membunuhnya.

Anak-anak panah tersebut juga sampai mengenai sekedup Ibu kaum mukminin, Aisyah radhiyallahu 'anha. Beliau pun mulai berseru: "Allah, Allah! Wahai anak-anakku, ingatlah Hari Perhitungan!" Beliau mengangkat kedua tangannya seraya mendoakan keburukan bagi sekelompok orang dari para pembunuh Utsman tersebut. Orang-orang pun riuh mengaminkan doa bersama beliau, hingga suara keriuhan tersebut terdengar oleh Ali.

Ali bertanya: "Ada apa ini?" Mereka menjawab: "Ibu kaum mukminin sedang berdoa untuk keburukan para pembunuh Utsman dan para pengikut mereka."

Maka Ali pun berkata: "Ya Allah, laknatlah para pembunuh Utsman." Kelompok orang tersebut tidak juga berhenti menghujani sekedup Aisyah dengan anak panah hingga sekedup itu tampak (penuh dengan tancapan panah) seperti landak. Beliau pun mulai mengobarkan semangat orang-orang untuk menghalau dan menghentikan mereka. Pasukan Bashrah lalu mendesak mereka hingga serangan tersebut sampai ke tempat Ali bin Abi Thalib berada.

Ali berkata kepada putranya, Muhammad bin al-Hanafiyyah: "Celaka kamu! Majulah membawa panji itu!" Namun ia tidak sanggup, maka Ali mengambil panji tersebut dari tangannya lalu maju membawanya. Pertempuran pun berkecamuk dengan sengit saling berbalas; terkadang kemenangan berpihak pada penduduk Bashrah, dan terkadang berpihak pada penduduk Kufah. Banyak sekali korban yang berjatuhan, dan tidak pernah terlihat suatu pertempuran yang di dalamnya terjadi pemutusan tangan dan kaki yang lebih banyak daripada pertempuran ini. Sementara itu, Aisyah terus membakar semangat orang-orang untuk menghadapi kelompok pembunuh Utsman tersebut.

Tali kendali unta dipegang oleh Umairah bin Yatsribi, salah seorang pemberani yang masyhur, dan ia tetap bertahan di posisinya hingga gugur.

Orang-masing yang memiliki keberanian dan ketangguhan luar biasa berkerumun melindungi Aisyah. Tidak ada yang berani mengambil alih panji ataupun tali kendali unta tersebut melainkan seorang pemberani yang dikenal luas, yang akan membunuh musuh yang mengincarnya sebelum akhirnya ia sendiri gugur setelah itu. Pada hari itu, mata Adi bin Hatim tercolok hingga buta, dan Abdullah bin Zubair menderita tiga puluh tujuh luka sabetan/tusukan. Marwan bin Hakam pun turut terluka.

Kemudian, datanglah seorang pria yang menebas kaki-kaki unta tersebut hingga terluka parah dan jatuh tersungkur ke tanah. Ada yang mengatakan bahwa orang yang menyarankan untuk melumpuhkan unta tersebut adalah Ali radhiyallahu 'anhu, dan ada pula yang mengatakan Al-Qa'qa' bin Amru. Hal itu dilakukan agar Ibu kaum mukminin tidak terluka, karena beliau telah menjadi sasaran empuk bagi para pemanah, serta demi menyudahi situasi pertempuran yang telah memakan banyak korban jiwa ini.

Begitu unta tersebut jatuh ke tanah, orang-orang di sekitarnya pun kocar-kacir melarikan diri. Sekedup Aisyah—yang tampak seperti landak akibat tancapan anak panah—segera dievakuasi. Ali memerintahkan beberapa orang untuk membawa sekedup tersebut dari sela-sela jasad korban yang gugur, serta memerintahkan Muhammad bin Abi Bakar dan Ammar untuk mendirikan tenda untuknya.

Saudara laki-lakinya, Muhammad, datang menemui beliau lalu bertanya apakah ada luka yang mengenai dirinya. Aisyah menjawab: "Tidak, dan apa urusanmu dengan hal itu, wahai putra wanita Khats'amiyyah?"

Ammar datang mengucapkan salam kepada beliau dan bertanya: "Bagaimana keadaanmu, wahai Ibu?"

Aisyah menjawab: "Aku bukan ibumu." Ammar berkata: "Benar, engkau adalah ibuku meskipun engkau tidak menyukainya."

Kemudian Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib datang menemui beliau seraya mengucapkan salam dan bertanya: "Bagaimana keadaanmu, wahai Ibu?"

Aisyah menjawab: "Baik." Ali berkata: "Semoga Allah mengampunimu." Aisyah membalas: "Dan juga mengampunimu."

Tokoh-tokoh masyarakat, para panglima, dan pemuka-pemuka lainnya pun berdatangan untuk mengucapkan salam kepada Ibu kaum mukminin radhiyallahu 'anha.

Ketika malam tiba, Ibu kaum mukminin memasuki kota Bashrah didampingi oleh saudaranya, Muhammad bin Abi Bakar, lalu menetap di rumah Abdullah bin Khalaf al-Khuzai, yang merupakan rumah paling besar di kota Bashrah.

Di antara ketetapan (etika perang) mereka pada hari itu adalah tidak menghabisi korban yang terluka, tidak mengejar pasukan yang lari mundur, dan tidak memasuki rumah-rumah penduduk. Di samping itu, pertempuran ini telah menelan korban jiwa yang sangat banyak, hingga Ali berkata kepada putranya, Hasan: "Wahai putraku, andai saja ayahmu ini sudah mati dua puluh tahun sebelum hari ini."

Hasan berkata kepadanya: "Wahai ayahku, sungguh aku telah melarangmu dari urusan (peperangan) ini."

Said bin Abi Arubah meriwayatkan dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Qais bin Abbad, ia berkata: Ali berkata pada hari Perang Jamal: "Wahai Hasan, andai saja ayahmu telah mati sejak dua puluh tahun yang lalu."

Hasan berkata kepadanya: "Wahai ayahku, sungguh aku telah melarangmu dari urusan ini." Ali menjawab: "Wahai putraku, sesungguhnya aku tidak mengira bahwa urusan ini akan membubung sejauh ini."

Mubarok bin Fadhilah meriwayatkan dari Al-Hasan, dari Abu Bakrah: Ketika pertempuran semakin sengit pada hari Perang Jamal dan Ali melihat kepala-kepala berjatuhan, Ali meraih putranya, Hasan, lalu mendekapnya ke dadanya seraya berkata: "Inna lillahi, wahai Hasan! Kebaikan apa lagi yang bisa diharapkan setelah kejadian ini?"

Akhir Pertempuran:

Ali tinggal di pinggiran kota Bashrah selama tiga hari dan menyalatkan korban yang gugur dari kedua belah pihak. Kemudian ia mengumpulkan seluruh harta benda milik pasukan Aisyah yang ditemukan di dalam perkemahan, lalu memerintahkan agar barang-barang tersebut dibawa ke Masjid Bashrah. Barangsiapa yang mengenali sesuatu yang merupakan miliknya, maka silakan mengambilnya, kecuali senjata yang berada di dalam gudang penyimpanan yang memiliki stempel resmi penguasa.

Jumlah keseluruhan korban yang tewas pada hari Perang Jamal dari kedua belah pihak adalah sepuluh ribu orang; lima ribu dari kubu ini dan lima ribu dari kubu itu, semoga Allah merahmati mereka dan meridai para sahabat yang ada di antara mereka.

Sebagian pengikut Ali sempat meminta agar ia membagikan harta benda milik pasukan Thalhah dan Zubair kepada mereka, namun Ali menolaknya. Atas keputusan ini, orang-orang dari kaum Sabaiyyah (pengikut Abdullah bin Saba') mencelanya seraya berkata: "Bagaimana mungkin darah mereka halal bagi kita, sedangkan harta mereka tidak halal bagi kita?!"

Berita tersebut akhirnya sampai kepada Ali, maka ia berkata: "Siapa di antara kalian yang mau Ibu kaum mukminin (Aisyah) masuk ke dalam bagian ghanimah-nya?"

Mendengar hal itu, orang-orang tersebut langsung terdiam. Ketika Ali memasuki kota Bashrah, ia membagikan harta yang ada di dalam baitulmal kepada para pengikutnya, sehingga setiap orang mendapatkan lima ratus bagian. Ali berkata: "Kalian akan mendapatkan jumlah yang sama dari negeri Syam untuk tunjangan-tunjangan kalian." Kaum Sabaiyyah kembali memperbincangkan keputusan ini dan mencelanya secara sembunyi-sembunyi dari belakang.

Sikap Ali terhadap Penduduk Bashrah

Ali memasuki kota Bashrah pada hari Senin, tanggal empat belas bulan Jumadil Akhir tahun tiga puluh enam Hijriah. Penduduk kota tersebut kemudian membaiatnya di bawah panji-panji mereka, termasuk para korban yang terluka dan orang-orang yang meminta jaminan keamanan.

Abdurrahman bin Abu Bakrah ats-Tsaqafi datang menemui Ali untuk membaiatnya. Ali bertanya kepadanya: "Bagaimana keadaan orang yang sedang sakit?"—yang dimaksud adalah ayahnya. Abdurrahman menjawab: "Demi Allah, dia memang sedang sakit, wahai Amirul Mukminin, namun dia sangat mendambakan kebahagiaanmu."

Ali berkata: "Berjalanlah di depanku." Ali pun pergi bersamanya untuk menjenguknya, dan Abu Bakrah menyampaikan permohonan maaf kepada Ali, lalu Ali pun memaafkannya. Ali sempat menawarkan kepemimpinan kota Bashrah kepadanya, namun ia menolak dan menyarankan: "Angkatlah seorang pria dari keluargamu yang membuat masyarakat merasa tenang bersamanya." Ia mengusulkan nama Ibnu Abbas, maka Ali pun mengangkat Ibnu Abbas sebagai gubernur Bashrah.

Ali juga menempatkan Ziyad bin Abih bersamanya untuk mengurus masalah pajak (kharaj) dan baitulmal, serta memerintahkan Ibnu Abbas untuk mendengarkan (masukan dari) Ziyad. Sebelumnya, Ziyad memilih bersikap netral dan tidak ikut serta dalam pertempuran.

Kemudian Ali mendatangi rumah tempat Ibu kaum mukminin, Aisyah, tinggal. Ia meminta izin lalu masuk dan mengucapkan salam kepadanya, dan Aisyah pun menyambutnya dengan hangat. Tiba-tiba seorang pria berkata kepada Ali: "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya di dekat pintu ada dua orang pria yang sedang mencela Aisyah." Maka Ali memerintahkan Al-Qa'qa' bin Amru untuk mencambuk masing-masing dari keduanya sebanyak seratus kali.

Aisyah sempat bertanya tentang siapa saja yang gugur dari pihak yang bersamanya serta dari pihak pasukan Ali. Setiap kali disebutkan satu nama dari mereka, beliau senantiasa memohonkan rahmat dan berdoa kebaikan untuknya.

Ketika Ibu kaum mukminin, Aisyah, hendak keluar meninggalkan Bashrah, Ali radhiyallahu 'anhu mengirimkan segala hal yang diperlukannya, mulai dari hewan tunggangan, perbekalan, barang bawaan, dan lain sebagainya. Ali juga mengizinkan siapa saja yang selamat dari pasukan yang datang bersamanya untuk ikut pulang kembali, kecuali bagi mereka yang memilih untuk tetap tinggal di Bashrah. Ia juga mengutus saudaranya, Muhammad bin Abi Bakar, untuk mengiringi perjalanannya.

Pada hari keberangkatannya, Ali datang dan berdiri di depan pintu bersama masyarakat yang turut hadir. Aisyah keluar dari rumah di dalam sekedupnya, lalu mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang dan mendoakan mereka. Beliau berkata: "Wahai anak-anakku, janganlah sebagian dari kita saling mencela sebagian yang lain. Demi Allah, tidak ada perkara yang terjadi di masa lalu antara aku dan Ali melainkan seperti apa yang biasa terjadi antara seorang wanita dan kerabat suaminya (ipar), dan sesungguhnya dia—terlepas dari teguran-teguranku kepadanya—benar-benar termasuk orang-orang yang terbaik."

Mendengar hal itu, Ali berkata: "Engkau benar demi Allah, tidak ada perkara antara aku dan beliau melainkan hanya sebatas itu saja, dan sesungguhnya beliau adalah istri nabi kalian di dunia dan di akhirat."

Ali kemudian berjalan mengiringi dan mengantarkan kepergian beliau sejauh beberapa mil. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Sabtu di awal bulan Rajab tahun tiga puluh enam Hijriah. Dalam perjalanannya, beliau menuju ke Makkah dan menetap di sana hingga menunaikan ibadah haji pada tahun tersebut, kemudian beliau kembali pulang ke Madinah, radhiyallahu 'anha.

Inilah ringkasan dari apa yang disebutkan oleh Abu Ja'far bin Jarir (At-Thabari) rahimahullah dari para imam dalam bidang ini. Di dalamnya tidak terdapat apa yang biasa dituturkan oleh orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dari kalangan Syiah dan selain mereka, berupa hadis-hadis yang direkayasa untuk menyudutkan para sahabat, serta berita-berita palsu (hadis palsu) yang mereka nukil apa adanya. Apabila mereka diseru kepada kebenaran yang benderang, mereka berpaling darinya dan berkata: "Bagi kami berita-berita kami, dan bagi kalian berita-berita kalian." Maka pada saat itu, kita katakan kepada mereka sebagaimana firman-Nya:

﴿سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ﴾

“Selamat sejahtera bagimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” (QS. Al-Qashash: 55)


Sumber Kisah:

Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alexander Agung dan Mimpi Menguasai Arab: Ekspedisi yang Gagal karena Kematian

Pengangkatan Utsman ibnu Affan Sebagai Khalifah

Bani Nadhir: Ketika Pengkhianatan Berujung Pengusiran