Kafilah yang Selamat: Kisah Perdagangan, Perang, dan Doa di Kerajaan Ma'in
Sebuah Perjalanan Penuh Bahaya
Bayangkan sebuah kafilah dagang yang melintasi gurun pasir
yang luas. Unta-unta membawa muatan rempah, kemenyan, dan barang berharga
lainnya. Para pedagang duduk di atas pelana, waspada terhadap bahaya di
sekeliling mereka. Tujuan mereka adalah kembali ke kampung halaman, ke
kota Qarnu, ibu kota Kerajaan Ma'in.
Teks ini (prasasti Glaser 1155 = Halévy 535) menceritakan
kafilah semacam itu. Namun, arah perjalanan kafilah ini masih diperdebatkan.
Apakah mereka berangkat dari Ma'in ke utara (Suriah), atau sebaliknya — dari
koloni Ma'in di Mesir ("Ma'in Mishran") kembali ke Yaman? Para ahli
cenderung percaya bahwa kafilah ini sedang kembali ke Yaman, ke ibu
kota mereka.
Dalam perjalanan pulang, mereka menghadapi dua malapetaka
besar:
- Perang
saudara antara Selatan dan Utara (Dzu Yaminat vs Dzu Syamat).
- Perang
antara "Mudzay" dan "Mishr" (Media/Medes vs
Mesir?).
Kafilah itu nyaris dijarah. Beruntung, mereka selamat.
Unta yang Membawa Harta, Jalan yang Penuh Jerat
Mengapa kafilah dagang selalu menjadi sasaran empuk? Karena
muatan mereka sangat berharga. Pemerintah setempat biasanya membuat perjanjian
dengan para pemimpin suku yang menguasai jalur karavan. Para pedagang
membayar "upeti jalan" untuk mendapatkan
perlindungan.
Namun, perjanjian itu tidak selalu cukup. Suku-suku lain
(musuh dari suku pelindung) bisa saja menyerang. Atau, para pemimpin suku
tiba-tiba menaikkan tarif secara sepihak. Akibatnya, harga barang di tujuan
melonjak — tidak hanya karena pajak, tetapi juga karena risiko tinggi yang
harus ditanggung para saudagar.
Tidak heran, jika seorang pedagang atau kafilah selamat
sampai tujuan, mereka akan menggelar pesta dan bersyukur kepada para
dewa. Prasasti GL 1155 adalah salah satu bentuk syukur itu — diukir di batu
agar dikenang selamanya.
Perang "Mudzay" dan "Mishr": Apa dan
Siapa?
Prasasti itu menyebut sebuah perang yang terjadi "di
tengah-tengah Mishr" (wilayah Mesir atau perbatasan timurnya)
antara "Mudzay" dan "Mishr".
Para ahli berbeda pendapat tentang identitas kedua pihak yang bertikai.
Teori 1: Media (Mād / Medes) vs Mesir
Sebagian sarjana (termasuk Winnett dan Albright)
mengidentifikasi "Mudzay" dengan Media (orang
Medes, bangsa Iran kuno) dan "Mishr" dengan Mesir.
Mereka menghubungkan perang ini dengan invasi Artahsasta III Ochus yang
merebut Mesir pada tahun 343 SM. Ini adalah penaklukan kembali
Mesir oleh Kekaisaran Persia Akhemeniyah.
- Kelebihan:
Tanggalnya jelas dan dikenal dalam sejarah dunia.
- Kelemahan:
Teks ini ditulis dalam aksara Ma'in; bagaimana orang Ma'in tahu tentang
perang antara Persia dan Mesir? (Mungkin karena koloni dagang Ma'in di
Mesir).
Teori 2: Cambyses dan Penaklukan Mesir (525 SM)
Mlaker berpendapat bahwa perang ini adalah
invasi Cambyses II (raja Persia) ke Mesir pada tahun 525 SM,
yang mengakhiri Dinasti ke-26 Mesir.
- Tanggal:
lebih tua, sekitar tahun 525 SM.
Teori 3: Seleukia vs Ptolemeus (abad ke-3 SM)
J. Pirenne justru menafsirkan "Mudzay"
sebagai Seleukia (Yunani yang menguasai Suriah dan Irak) dan
"Mishr" sebagai Ptolomeus (Yunani yang menguasai
Mesir). Ia menghubungkannya dengan perang yang memuncak pada Pertempuran
Raphia (217 SM), di mana Ptolemeus IV mengalahkan Antiokhus III.
- Kelebihan:
Periode ini dekat dengan masa prasasti Ma'in yang banyak ditemukan di
Mesir dan Yunani.
- Kelemahan:
Apakah orang Ma'in menyebut orang Yunani Seleukia sebagai
"Mudzay"? Itu tidak lazim; "Mudzay" biasanya merujuk
pada Media/Persia.
Teori 4: Siapapun yang Menguasai Irak disebut
"Mudzay"
Ada pula yang berpendapat bahwa orang Ma'in menggunakan
istilah "Mudzay" sebagai sebutan umum untuk penguasa
Irak, baik itu Media, Persia, atau Seleukia. Argumennya: dalam prasasti
Safaitik (abad ke-7 M), istilah "Humadhy" (orang
Medes) digunakan untuk menyebut orang Persia Sasaniyah. Jadi, bisa
saja "Mudzay" di sini berarti orang Persia, atau bahkan orang Yunani
Seleukia yang dianggap sebagai pewaris kekaisaran Persia.
"Ma'in Mishran": Koloni Ma'in di Mesir?
Prasasti ini menyebut dua pejabat tinggi Ma'in: 'Am
Shadiq dan Sa'd bin Walak. Mereka bergelar "Kabaray" (jamak
dari Kabir) — semacam gubernur atau menteri. Wilayah kekuasaan mereka meliputi:
- "Ma'in
Mishran" (Ma'in Mishrāna) — kemungkinan besar koloni para
pedagang Ma'in di wilayah timur Mesir (Sinai dan perbatasan Palestina).
- "Ashur" —
menurut Hommel dan Glaser, ini bukanlah Asyur, melainkan wilayah yang
disebut "Asshurim" dalam Alkitab (Kejadian
25:3), yaitu keturunan Dedan (anak Abraham dari Qatura). Mereka adalah
suku yang tinggal di kemah, di daerah antara Mesir, Beer-syeba, dan Hebron
— atau tepatnya: Gurun Sinai dan selatan Palestina.
Jadi, kedua pejabat ini mengelola kepentingan Ma'in di
wilayah perbatasan Mesir-Palestina-Sinai, tempat banyak terdapat pedagang dan
pemukim Ma'in.
Siapa yang menyerang kafilah itu? Beberapa peneliti menduga
para penyerang berasal dari suku Saba' dan Khawlan (sebuah
suku besar Yaman yang masih ada hingga sekarang).
Dua Perang, Banyak Pertanyaan
Prasasti GL 1155 mencatat bahwa dua perang besar terjadi
sebelum kafilah itu berangkat:
- Perang
antara Dzu Yaminat (Selatan) dan Dzu Syamat (Utara)
— konflik internal di Arabia? atau antara Ma'in dan kerajaan tetangga?
- Perang
antara Mudzay dan Mishr (Media vs Mesir
/ Seleukia vs Ptolemeus).
Akibat kedua perang ini, kafilah Ma'in mengalami kerugian
besar (mungkin beberapa barang dijarah atau rute terhambat). Namun, mereka
akhirnya selamat dan tiba di Qarnu.
Sayangnya, prasasti tidak memberi cukup informasi untuk
menentukan kapan kedua perang itu terjadi, atau berapa
lama jarak waktu antara perang dan penulisan prasasti. Karena itu,
para ahli berbeda pendapat hingga hari ini.
Pentingnya prasasti ini terletak pada koneksi
internasional yang ditunjukkannya: Ma'in tidak hanya kerajaan lokal di
Al-Jawf, tetapi memiliki jaringan dagang yang membentang hingga Mesir,
Palestina, dan mungkin Suriah. Mereka juga mengikuti berita politik besar
(perang antara kekaisaran). Ini adalah tingkat globalisasi yang menakjubkan
untuk sebuah kerajaan kecil di Yaman!
Raja Abi Yada' Yitha' dan Putranya Waqah'il Rayam
Dari prasasti lain (Rep. Epig. 3535), kita mengetahui bahwa
raja Ma'in Abi Yada' Yitha' memiliki seorang putra
bernama Waqah'il Rayam (atau Waqah'il Riyam). Prasasti itu
ditulis oleh Sa'd bin Hawfa'that (dari klan Dhafjan, sama
dengan pejabat di GL 1155). Ia juga seorang "Kabir" yang mengelola
koloni Ma'in Mishran. Prasasti itu merayakan pembangunan sebuah mazbah (altar/
tempat persembahan) dan memohon berkah dari dewa-dewa Ma'in serta raja mereka
dan putranya.
Fakta bahwa putra raja disebut bersama raja menunjukkan
bahwa Waqah'il Rayam saat itu menjabat sebagai rekan
bupati atau putra mahkota yang ikut serta dalam
pemerintahan. Ini adalah praktik umum di kerajaan-kerajaan Arab Selatan.
Setelah Abi Yada' Yitha', tahta Ma'in jatuh ke tangan
putranya, Waqah'il Rayam (menurut Philby dan Albright — meski
Albright sempat ragu dalam tulisannya yang lain).
Para Raja Berikutnya: Perdebatan Tak Berkesudahan
Setelah Waqah'il Rayam, suksesi menjadi kabur. Inilah daftar
raja berikutnya menurut berbagai ahli, dengan perbedaan pendapat yang lebar:
Menurut Philby (kronologi sangat tua):
- Hafn
Shadiq (putra Hawfa'that? putra Waqah'il Rayam?) — memerintah
sekitar tahun 900–880 SM
- Alif'
Yafish (putra Hafn Shadiq) — sekitar 880–870 SM
- Ada
jeda 20 tahun tanpa nama raja yang diketahui — sekitar 870–850 SM
- Yitha'
il Shadiq (dinasti baru) — membangun benteng Yashbum
- Waqah'il
Yitha' (putra Yitha' il Shadiq)
- Alif'
Yashar (putra Waqah'il Yitha') — di masa pemerintahannya, Ma'in
mulai melemah. Sebuah prasasti dari kaum Dzu Marran (Dzu Marān/Dzu Maran)
menyebut bahwa mereka mewakafkan tanah untuk kuil, dengan menyebut
"Tuan kami Waqah'il Yitha' dan putranya Alif' Yashar, raja
Ma'in" — namun juga menyebut "Ratu Syahri'il Yahkib, raja
Qataban". Ini menunjukkan bahwa Qataban lebih kuat dari
Ma'in saat itu, dan raja Ma'in mengakui supremasi Qataban (setidaknya
secara nominal).
- Hafn
Rayam (putra Alif' Yashar), bersama saudaranya Waqah'il
Nabath dan Kah'il Nabath — masih bertahta
setelah masa Alif' Yashar.
Menurut Albright (kronologi lebih muda — sekitar
abad ke-4 hingga ke-2 SM):
Albright tidak memasukkan semua nama di atas dalam
daftarnya. Ia menempatkan Yitha' il Shadiq, Waqah'il Yitha',
dan Alif' Yashar dalam kelompok terakhir raja-raja Ma'in. Bagi
Albright, raja-raja ini hidup sekitar 350–150 SM, bukan 1000 SM.
Perbedaan sekitar 700 tahun antara Philby dan
Albright — sebuah jurang yang sangat lebar!
Prasasti dari Dedan: Bukti Koloni Utara
Dua prasasti Ma'in ditemukan di Dedan (Al-Ula,
Arab Saudi), menyebut seorang raja bernama Alif' Bashar (bentuk
lain dari Alif' Yashar?). Prasasti pertama ditulis oleh Wahb'il bin
Hayw Dzu 'Am Ratan' (seorang bangsawan Ma'in yang tinggal di utara).
Prasasti kedua ditulis oleh Yaf'an (salah satu pemimpin
Dedan). Keduanya berasal dari keluarga besar yang dikenal pada periode akhir
Ma'in dan periode Lihyanite (setelah Ma'in runtuh).
Keberadaan prasasti ini menegaskan bahwa Dedan
adalah koloni permanen Ma'in di utara, dihuni oleh para pedagang,
pejabat, dan keluarga mereka.
Kesimpulan: Misteri yang Masih Tersisa
Prasasti GL 1155 dan temuan lain mengungkapkan betapa
majunya Kerajaan Ma'in:
- Mereka
memiliki jaringan dagang internasional hingga ke Mesir,
Palestina, dan Yunani.
- Mereka
memiliki sistem administrasi yang terstruktur dengan
gelar "Kabir" untuk gubernur koloni.
- Mereka
memiliki hubungan diplomatik dan komersial dengan
kekuatan besar seperti Mesir, Persia, Seleukia, dan Qataban.
- Mereka mendokumentasikan
rasa syukur mereka dalam prasasti batu yang masih dapat kita baca
2.300 tahun kemudian.
Namun, banyak yang masih menjadi misteri:
- Kapan
sebenarnya raja-raja Ma'in memerintah? Perbedaan 700 tahun antara
para ahli tidak bisa diabaikan. Diperlukan penggalian arkeologi lebih
lanjut dan penemuan prasasti baru yang sinkron dengan peristiwa dunia yang
diketahui (misalnya dengan tahun pemerintahan Ptolemeus atau Seleukia)
untuk menjawab pertanyaan ini.
- Apa
yang menyebabkan keruntuhan Ma'in? Apakah dikuasai oleh Saba'?
Atau Qataban? Atau dihancurkan oleh Romawi? Teks-teks tidak memberi
jawaban.
- Siapa
saja nama lengkap para raja? Kita baru memiliki sekitar dua lusin
nama. Mungkin masih ada puluhan raja lain yang belum ditemukan.
Semoga para arkeolog masa depan dapat menggali lebih dalam
dan mengungkap lebih banyak tentang kerajaan saudagar yang luar biasa ini.
Sumber Kisah
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar