Kafilah yang Selamat: Kisah Perdagangan, Perang, dan Doa di Kerajaan Ma'in

Lukisan pemandangan kota kuno Qarnu (ibukota Kerajaan Ma'in) di lembah Al-Jawf, Yaman. Di latar depan, sebuah kafilah unta yang sarat muatan karung rempah dan peti kayu berjalan perlahan menuju gerbang kota yang megah dengan tembok batu dan menara. Para pedagang berjubah putih dan sorban duduk di atas unta dengan ekspresi lega dan bersyukur. Di samping gerbang, sebuah prasasti batu besar bertuliskan aksara Musnad (Arab Selatan kuno) yang memuat teks syukur kepada dewa-dewa karena kafilah selamat dari bahaya. Langit senja dengan gradasi jingga dan ungu, bukit-bukit tandus di kejauhan. Suasana tenang, penuh kedamaian dan rasa syukur.

Sebuah Perjalanan Penuh Bahaya

Bayangkan sebuah kafilah dagang yang melintasi gurun pasir yang luas. Unta-unta membawa muatan rempah, kemenyan, dan barang berharga lainnya. Para pedagang duduk di atas pelana, waspada terhadap bahaya di sekeliling mereka. Tujuan mereka adalah kembali ke kampung halaman, ke kota Qarnu, ibu kota Kerajaan Ma'in.

Teks ini (prasasti Glaser 1155 = Halévy 535) menceritakan kafilah semacam itu. Namun, arah perjalanan kafilah ini masih diperdebatkan. Apakah mereka berangkat dari Ma'in ke utara (Suriah), atau sebaliknya — dari koloni Ma'in di Mesir ("Ma'in Mishran") kembali ke Yaman? Para ahli cenderung percaya bahwa kafilah ini sedang kembali ke Yaman, ke ibu kota mereka.

Dalam perjalanan pulang, mereka menghadapi dua malapetaka besar:

  1. Perang saudara antara Selatan dan Utara (Dzu Yaminat vs Dzu Syamat).
  2. Perang antara "Mudzay" dan "Mishr" (Media/Medes vs Mesir?).

Kafilah itu nyaris dijarah. Beruntung, mereka selamat.


Unta yang Membawa Harta, Jalan yang Penuh Jerat

Mengapa kafilah dagang selalu menjadi sasaran empuk? Karena muatan mereka sangat berharga. Pemerintah setempat biasanya membuat perjanjian dengan para pemimpin suku yang menguasai jalur karavan. Para pedagang membayar "upeti jalan" untuk mendapatkan perlindungan.

Namun, perjanjian itu tidak selalu cukup. Suku-suku lain (musuh dari suku pelindung) bisa saja menyerang. Atau, para pemimpin suku tiba-tiba menaikkan tarif secara sepihak. Akibatnya, harga barang di tujuan melonjak — tidak hanya karena pajak, tetapi juga karena risiko tinggi yang harus ditanggung para saudagar.

Tidak heran, jika seorang pedagang atau kafilah selamat sampai tujuan, mereka akan menggelar pesta dan bersyukur kepada para dewa. Prasasti GL 1155 adalah salah satu bentuk syukur itu — diukir di batu agar dikenang selamanya.


Perang "Mudzay" dan "Mishr": Apa dan Siapa?

Prasasti itu menyebut sebuah perang yang terjadi "di tengah-tengah Mishr" (wilayah Mesir atau perbatasan timurnya) antara "Mudzay" dan "Mishr". Para ahli berbeda pendapat tentang identitas kedua pihak yang bertikai.

Teori 1: Media (Mād / Medes) vs Mesir

Sebagian sarjana (termasuk Winnett dan Albright) mengidentifikasi "Mudzay" dengan Media (orang Medes, bangsa Iran kuno) dan "Mishr" dengan Mesir. Mereka menghubungkan perang ini dengan invasi Artahsasta III Ochus yang merebut Mesir pada tahun 343 SM. Ini adalah penaklukan kembali Mesir oleh Kekaisaran Persia Akhemeniyah.

  • Kelebihan: Tanggalnya jelas dan dikenal dalam sejarah dunia.
  • Kelemahan: Teks ini ditulis dalam aksara Ma'in; bagaimana orang Ma'in tahu tentang perang antara Persia dan Mesir? (Mungkin karena koloni dagang Ma'in di Mesir).

Teori 2: Cambyses dan Penaklukan Mesir (525 SM)

Mlaker berpendapat bahwa perang ini adalah invasi Cambyses II (raja Persia) ke Mesir pada tahun 525 SM, yang mengakhiri Dinasti ke-26 Mesir.

  • Tanggal: lebih tua, sekitar tahun 525 SM.

Teori 3: Seleukia vs Ptolemeus (abad ke-3 SM)

J. Pirenne justru menafsirkan "Mudzay" sebagai Seleukia (Yunani yang menguasai Suriah dan Irak) dan "Mishr" sebagai Ptolomeus (Yunani yang menguasai Mesir). Ia menghubungkannya dengan perang yang memuncak pada Pertempuran Raphia (217 SM), di mana Ptolemeus IV mengalahkan Antiokhus III.

  • Kelebihan: Periode ini dekat dengan masa prasasti Ma'in yang banyak ditemukan di Mesir dan Yunani.
  • Kelemahan: Apakah orang Ma'in menyebut orang Yunani Seleukia sebagai "Mudzay"? Itu tidak lazim; "Mudzay" biasanya merujuk pada Media/Persia.

Teori 4: Siapapun yang Menguasai Irak disebut "Mudzay"

Ada pula yang berpendapat bahwa orang Ma'in menggunakan istilah "Mudzay" sebagai sebutan umum untuk penguasa Irak, baik itu Media, Persia, atau Seleukia. Argumennya: dalam prasasti Safaitik (abad ke-7 M), istilah "Humadhy" (orang Medes) digunakan untuk menyebut orang Persia Sasaniyah. Jadi, bisa saja "Mudzay" di sini berarti orang Persia, atau bahkan orang Yunani Seleukia yang dianggap sebagai pewaris kekaisaran Persia.


"Ma'in Mishran": Koloni Ma'in di Mesir?

Prasasti ini menyebut dua pejabat tinggi Ma'in: 'Am Shadiq dan Sa'd bin Walak. Mereka bergelar "Kabaray" (jamak dari Kabir) — semacam gubernur atau menteri. Wilayah kekuasaan mereka meliputi:

  • "Ma'in Mishran" (Ma'in Mishrāna) — kemungkinan besar koloni para pedagang Ma'in di wilayah timur Mesir (Sinai dan perbatasan Palestina).
  • "Ashur" — menurut Hommel dan Glaser, ini bukanlah Asyur, melainkan wilayah yang disebut "Asshurim" dalam Alkitab (Kejadian 25:3), yaitu keturunan Dedan (anak Abraham dari Qatura). Mereka adalah suku yang tinggal di kemah, di daerah antara Mesir, Beer-syeba, dan Hebron — atau tepatnya: Gurun Sinai dan selatan Palestina.

Jadi, kedua pejabat ini mengelola kepentingan Ma'in di wilayah perbatasan Mesir-Palestina-Sinai, tempat banyak terdapat pedagang dan pemukim Ma'in.

Siapa yang menyerang kafilah itu? Beberapa peneliti menduga para penyerang berasal dari suku Saba' dan Khawlan (sebuah suku besar Yaman yang masih ada hingga sekarang).


Dua Perang, Banyak Pertanyaan

Prasasti GL 1155 mencatat bahwa dua perang besar terjadi sebelum kafilah itu berangkat:

  1. Perang antara Dzu Yaminat (Selatan) dan Dzu Syamat (Utara) — konflik internal di Arabia? atau antara Ma'in dan kerajaan tetangga?
  2. Perang antara Mudzay dan Mishr (Media vs Mesir / Seleukia vs Ptolemeus).

Akibat kedua perang ini, kafilah Ma'in mengalami kerugian besar (mungkin beberapa barang dijarah atau rute terhambat). Namun, mereka akhirnya selamat dan tiba di Qarnu.

Sayangnya, prasasti tidak memberi cukup informasi untuk menentukan kapan kedua perang itu terjadi, atau berapa lama jarak waktu antara perang dan penulisan prasasti. Karena itu, para ahli berbeda pendapat hingga hari ini.

Pentingnya prasasti ini terletak pada koneksi internasional yang ditunjukkannya: Ma'in tidak hanya kerajaan lokal di Al-Jawf, tetapi memiliki jaringan dagang yang membentang hingga Mesir, Palestina, dan mungkin Suriah. Mereka juga mengikuti berita politik besar (perang antara kekaisaran). Ini adalah tingkat globalisasi yang menakjubkan untuk sebuah kerajaan kecil di Yaman!


Raja Abi Yada' Yitha' dan Putranya Waqah'il Rayam

Dari prasasti lain (Rep. Epig. 3535), kita mengetahui bahwa raja Ma'in Abi Yada' Yitha' memiliki seorang putra bernama Waqah'il Rayam (atau Waqah'il Riyam). Prasasti itu ditulis oleh Sa'd bin Hawfa'that (dari klan Dhafjan, sama dengan pejabat di GL 1155). Ia juga seorang "Kabir" yang mengelola koloni Ma'in Mishran. Prasasti itu merayakan pembangunan sebuah mazbah (altar/ tempat persembahan) dan memohon berkah dari dewa-dewa Ma'in serta raja mereka dan putranya.

Fakta bahwa putra raja disebut bersama raja menunjukkan bahwa Waqah'il Rayam saat itu menjabat sebagai rekan bupati atau putra mahkota yang ikut serta dalam pemerintahan. Ini adalah praktik umum di kerajaan-kerajaan Arab Selatan.

Setelah Abi Yada' Yitha', tahta Ma'in jatuh ke tangan putranya, Waqah'il Rayam (menurut Philby dan Albright — meski Albright sempat ragu dalam tulisannya yang lain).


Para Raja Berikutnya: Perdebatan Tak Berkesudahan

Setelah Waqah'il Rayam, suksesi menjadi kabur. Inilah daftar raja berikutnya menurut berbagai ahli, dengan perbedaan pendapat yang lebar:

Menurut Philby (kronologi sangat tua):

  1. Hafn Shadiq (putra Hawfa'that? putra Waqah'il Rayam?) — memerintah sekitar tahun 900–880 SM
  2. Alif' Yafish (putra Hafn Shadiq) — sekitar 880–870 SM
  3. Ada jeda 20 tahun tanpa nama raja yang diketahui — sekitar 870–850 SM
  4. Yitha' il Shadiq (dinasti baru) — membangun benteng Yashbum
  5. Waqah'il Yitha' (putra Yitha' il Shadiq)
  6. Alif' Yashar (putra Waqah'il Yitha') — di masa pemerintahannya, Ma'in mulai melemah. Sebuah prasasti dari kaum Dzu Marran (Dzu Marān/Dzu Maran) menyebut bahwa mereka mewakafkan tanah untuk kuil, dengan menyebut "Tuan kami Waqah'il Yitha' dan putranya Alif' Yashar, raja Ma'in" — namun juga menyebut "Ratu Syahri'il Yahkib, raja Qataban". Ini menunjukkan bahwa Qataban lebih kuat dari Ma'in saat itu, dan raja Ma'in mengakui supremasi Qataban (setidaknya secara nominal).
  7. Hafn Rayam (putra Alif' Yashar), bersama saudaranya Waqah'il Nabath dan Kah'il Nabath — masih bertahta setelah masa Alif' Yashar.

Menurut Albright (kronologi lebih muda — sekitar abad ke-4 hingga ke-2 SM):

Albright tidak memasukkan semua nama di atas dalam daftarnya. Ia menempatkan Yitha' il ShadiqWaqah'il Yitha', dan Alif' Yashar dalam kelompok terakhir raja-raja Ma'in. Bagi Albright, raja-raja ini hidup sekitar 350–150 SM, bukan 1000 SM.

Perbedaan sekitar 700 tahun antara Philby dan Albright — sebuah jurang yang sangat lebar!


Prasasti dari Dedan: Bukti Koloni Utara

Dua prasasti Ma'in ditemukan di Dedan (Al-Ula, Arab Saudi), menyebut seorang raja bernama Alif' Bashar (bentuk lain dari Alif' Yashar?). Prasasti pertama ditulis oleh Wahb'il bin Hayw Dzu 'Am Ratan' (seorang bangsawan Ma'in yang tinggal di utara). Prasasti kedua ditulis oleh Yaf'an (salah satu pemimpin Dedan). Keduanya berasal dari keluarga besar yang dikenal pada periode akhir Ma'in dan periode Lihyanite (setelah Ma'in runtuh).

Keberadaan prasasti ini menegaskan bahwa Dedan adalah koloni permanen Ma'in di utara, dihuni oleh para pedagang, pejabat, dan keluarga mereka.


Kesimpulan: Misteri yang Masih Tersisa

Prasasti GL 1155 dan temuan lain mengungkapkan betapa majunya Kerajaan Ma'in:

  • Mereka memiliki jaringan dagang internasional hingga ke Mesir, Palestina, dan Yunani.
  • Mereka memiliki sistem administrasi yang terstruktur dengan gelar "Kabir" untuk gubernur koloni.
  • Mereka memiliki hubungan diplomatik dan komersial dengan kekuatan besar seperti Mesir, Persia, Seleukia, dan Qataban.
  • Mereka mendokumentasikan rasa syukur mereka dalam prasasti batu yang masih dapat kita baca 2.300 tahun kemudian.

Namun, banyak yang masih menjadi misteri:

  • Kapan sebenarnya raja-raja Ma'in memerintah? Perbedaan 700 tahun antara para ahli tidak bisa diabaikan. Diperlukan penggalian arkeologi lebih lanjut dan penemuan prasasti baru yang sinkron dengan peristiwa dunia yang diketahui (misalnya dengan tahun pemerintahan Ptolemeus atau Seleukia) untuk menjawab pertanyaan ini.
  • Apa yang menyebabkan keruntuhan Ma'in? Apakah dikuasai oleh Saba'? Atau Qataban? Atau dihancurkan oleh Romawi? Teks-teks tidak memberi jawaban.
  • Siapa saja nama lengkap para raja? Kita baru memiliki sekitar dua lusin nama. Mungkin masih ada puluhan raja lain yang belum ditemukan.

Semoga para arkeolog masa depan dapat menggali lebih dalam dan mengungkap lebih banyak tentang kerajaan saudagar yang luar biasa ini.


Sumber Kisah

Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alexander Agung dan Mimpi Menguasai Arab: Ekspedisi yang Gagal karena Kematian

Pengangkatan Utsman ibnu Affan Sebagai Khalifah

Fitnah dan Terbunuhnya Utsman bin Affan r.a