Gesyem si Arab dan Tembok Yerusalem: Kisah Perlawanan yang Mengubah Peta Politik
Pembukaan: Sebuah Tembok yang Memicu Konflik
Bayangkan Anda pulang ke kampung halaman setelah puluhan
tahun di pengasingan. Kota leluhur Anda hancur, temboknya runtuh, gerbangnya
hangus terbakar. Anda ingin membangunnya kembali. Tapi tetangga Anda tidak
senang. Mereka mengirim surat ancaman, mengejek, bahkan berkomplot untuk
menyerang.
Inilah yang dialami Nehemia, seorang Yahudi
terpercaya di istana Raja Artahsasta dari Persia. Pada tahun 445 SM, ia
mendapat izin untuk kembali ke Yerusalem dan membangun kembali tembok kota.
Namun, seorang pemimpin Arab bernama Gesyem (Jeshem) berdiri
di barisan terdepan para penentang.
Siapa Gesyem? Mengapa ia begitu vokal menolak pembangunan
tembok? Dan bagaimana hubungan Arab-Yahudi berkembang setelahnya? Mari kita
simak.
Gesyem: Penguasa Arab yang Menentang Kebangkitan Yehuda
Nehemia mencatat dalam kitabnya bahwa musuh-musuhnya terdiri
dari Sanbalat (penguasa Samaria), Tobia (penguasa
Amon), dan Gesyem si Arab. Mereka mengejek, mengirim surat ancaman,
dan berusaha memancing Nehemia untuk bertemu—yang diduga rencana pembunuhan.
Isi surat yang dikirim Gesyem kepada Nehemia sangat politis:
"Tersebut dalam surat yang dikirimnya: 'Telah
terdengar kabar di antara bangsa-bangsa, dan Gesyem juga
mengatakannya, bahwa engkau dan orang-orang Yahudi berniat untuk memberontak.
Itulah sebabnya engkau membangun tembok, dan engkau hendak menjadi raja mereka
sesuai dengan kabar itu. Juga engkau telah mengangkat nabi-nabi untuk
memberitakan tentang dirimu di Yerusalem, katanya: Ada seorang raja di
Yehuda!'"
Tuduhan ini berat. Nehemia membantahnya. Tapi dari sini kita
paham: Gesyem melihat pembangunan tembok sebagai langkah awal
kebangkitan kerajaan Yehuda yang akan mengancam wilayah kekuasaannya.
Siapakah Gesyem? Ia bukan pemimpin suku kecil. Para arkeolog
menemukan sebuah bejana perak dari Mesir (sekitar 12 mil barat
Ismailia) yang bertuliskan: "Qainu bin Gesyem, raja Kedar".
Ini menunjukkan bahwa Gesyem adalah raja dari suku Kedar (Qidri) —
sebuah kerajaan Arab yang wilayahnya membentang dari Delta Nil hingga
perbatasan Yehuda, dan selatan hingga ke Dedan (Al-Ula). Jadi, ketika Gesyem
menentang pembangunan tembok Yerusalem, ia sedang menjaga kepentingan
geopolitik kerajaannya yang besar.
Nehemia akhirnya berhasil menyelesaikan tembok dalam waktu
52 hari, meskipun terus-menerus mendapat tekanan. Gesyem dan sekutunya gagal
menghentikannya.
Setelah Tembok: Arab Mulai Dipandang Sebagai Musuh
Sejak masa Nehemia (pertengahan abad ke-5 SM), sikap orang
Yahudi terhadap orang Arab berubah. Mereka mulai menganggap Arab sebagai kelompok
yang memusuhi mereka. Ketegangan terus meningkat karena orang Arab
semakin masuk dan menetap di wilayah bekas kerajaan Israel dan Yehuda.
Pada masa Yudas Makabe (166–161 SM),
pejuang kemerdekaan Yahudi ini berperang melawan Timotius, pemimpin
Amon. Timotius menyewa tentara bayaran dari Arab dan bangsa
asing lainnya. Dalam pertempuran, orang-orang Arab yang diupah itu kalah.
Catatan Kitab Makabe II menyebutkan:
"Maka berangkatlah mereka dari sana… lalu berjalan
sembilan stadion menuju Timotius. Lalu orang-orang Arab menyerang
mereka, kira-kira lima ribu orang, dengan lima ratus pasukan berkuda… maka
terjadilah pertempuran yang hebat. Dengan pertolongan Allah, Yudas menang, dan
orang-orang Arab yang tinggal di padang gurun itu meminta perdamaian. Mereka
berjanji akan memberikan ternak dan menolong mereka dalam berbagai hal
lain."
Ini menunjukkan bahwa orang Arab di padang gurun—suku
badui—berperan aktif dalam politik regional, kadang sebagai tentara bayaran,
kadang sebagai pihak yang mencari perdamaian.
Zabdiel dan "Tanah Arab": Tempat Perlindungan
bagi Raja yang Kalah
Pada pertengahan abad ke-2 SM, terjadi perebutan kekuasaan
di kerajaan Seleukia. Seorang pangeran bernama Alexander Balas melarikan
diri ke "Tanah Arab" (Arabia) setelah kalah perang
melawan Ptolemeus. Di sana, ia ditangkap oleh seorang kepala suku Arab
bernama Zabdiel (atau Zabdai'el), yang kemudian memenggal
kepalanya dan mengirimkannya kepada Ptolemeus.
Catatan ini penting karena menunjukkan bahwa "Tanah
Arab" pada masa itu merujuk pada wilayah padang pasir
Suriah (Badiyah) — tempat yang sulit dijangkau pasukan reguler dan
menjadi tempat perlindungan aman bagi para buronan politik. Zabdiel adalah
salah satu penguasa badui yang memiliki kekuasaan nyata di wilayah itu meskipun
tidak diakui sebagai raja oleh kekuatan besar.
Antipater si Edom: Orang Arab yang Menjadi Penguasa
Yahudi
Salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Yahudi
adalah Antipater, seorang Edom (Idumea). Siapakah
orang Edom? Mereka adalah keturunan Esau, saudara Yakub. Dalam pandangan
Yahudi, mereka dianggap bersaudara namun sering bermusuhan. Pada abad ke-1 SM,
orang Edom telah bercampur dengan Arab—meminjam budaya, nama, dan gaya hidup Arab.
Sejarawan Yosefus dan Eusebius menyebut
mereka sebagai "Gabelene" (orang gunung), dan banyak ilmuwan
menganggap mereka sebagai bagian dari bangsa Arab (Nabatean).
Antipater bukan keturunan bangsawan. Namun, berkat
kecerdasan dan keberaniannya, ia berhasil menjadi gubernur (prokurator)
Yudea sekitar tahun 47 SM, diakui oleh Julius Caesar. Ia
mendirikan dinasti yang kelak melahirkan Herodes Agung—raja yang
terkenal karena pembangunan Bait Suci kedua dan juga pembantaian bayi-bayi di
Bethlehem.
Jadi, ironisnya, seorang Arab-Edom menjadi penguasa atas
orang Yahudi, dan dinastinya bertahan selama beberapa generasi.
Orang Arab di Yerusalem dan Palestina pada Masa Romawi
Pada abad pertama Masehi, Yerusalem adalah kota
kosmopolitan. Kitab Kisah Para Rasul (Perjanjian Baru)
menyebut bahwa pada hari Pentakosta (50 hari setelah kebangkitan Yesus), di
Yerusalem terdapat orang-orang dari berbagai bangsa, termasuk "Arab" .
Ini menandakan adanya komunitas Arab yang menetap di kota suci tersebut.
Strabo, ahli geografi Yunani-Romawi, mencatat bahwa
kota-kota di Palestina seperti Yerusalem, Yafo, dan Galilea dihuni oleh orang
Arab bersama dengan bangsa lain. Orang Edom yang telah
terarabisasi tinggal di bagian barat Yudea. Jadi, jauh sebelum Islam, orang
Arab sudah menjadi bagian dari mosaik penduduk Palestina.
Orang Arab dalam Literatur Yahudi: Talmud dan Mishnah
Setelah kehancuran Bait Suci (70 M), pusat pemikiran Yahudi
berpindah ke Irak (Babel). Di sanalah para rabi menyusun Talmud
Bavli (Talmud Babilonia), yang memuat ribuan halaman diskusi hukum,
etika, cerita rakyat, dan juga gambaran tentang tetangga mereka: orang
Arab.
Julukan "Thaya" atau "Thayyah"
Orang-orang Yahudi di Irak menyebut orang Arab dengan
sebutan "Thaya" (atau "Thayyah",
"Thi'a"). Kata ini berasal dari nama suku Thayyi' (Tha'i)
yang terkenal di Irak utara dan Arab tengah. Karena suku Thayyi' sangat
dominan, nama mereka menjadi julukan umum bagi semua orang Arab badui.
Kemampuan Super Orang Arab: Mencari Air dengan Mencium
Pasir
Talmud (Baba Batra 73b) menceritakan pengalaman seorang rabi
bernama Rabbah bar bar Hannah yang berjumpa dengan seorang
pedagang Arab. Sang Arab mampu mencium pasir untuk menentukan jarak ke
sumber air! Rabi itu sempat menguji kemampuannya dengan menukar pasir, dan
sang Arab pun kebingungan. Meskipun ada unsur jenaka, kisah ini menegaskan
bahwa orang Arab diakui memiliki keahlian navigasi padang pasir yang luar
biasa.
Mujizat Palsu? Kisah Arab dan Pedang Ajaib
Dalam Sanhedrin 67b, seorang Arab mengaku mampu memotong
unta menjadi potongan-potongan dengan pedang, lalu membangunkannya kembali
dengan membunyikan lonceng. Rabi Hiyya menyebut itu sebagai tipuan belaka.
Ini menunjukkan sikap kritis para rabi terhadap klaim supranatural yang dibawa
oleh orang non-Yahudi.
Tempat-tempat Suci dan Orang Mati di Padang Pasir
Kisah lain dalam Baba Batra 74a menceritakan bagaimana
seorang Arab membawa Rabbah bar bar Hannah ke tempat orang-orang mati dari
generasi pengembara di padang pasir (mereka yang mati di Tih). Sang Arab
memperingatkan: jangan mengambil apapun dari mereka, karena jika mengambil,
Anda akan terpaku di tempat. Setelah sang rabi mencoba mengambil ujung jubah
salah satu jenazah, ia tidak bisa bergerak sampai mengembalikannya.
Kisah-kisah ini kemungkinan besar adalah dongeng rakyat yang
memadukan kepercayaan Yahudi tentang kaum Korah dan legenda gurun, namun dengan
tokoh "Arab" sebagai pemandu yang mengetahui rahasia
gurun.
Hukum tentang Wadhah (Bejana Air) Arab
Dalam Mishnah Kelim (tentang bejana), para rabi
memperdebatkan apakah bejana air milik orang Arab (yang biasanya
terbuat dari kulit dan diikat dengan simpul khas Arab) dianggap suci atau najis.
Ada yang mengatakan bahwa simpul Arab membuat bejana tersebut tidak kedap air
sehingga dianggap tidak layak pakai (najis) menurut hukum Yahudi. Ini
menunjukkan kontak sehari-hari yang intens antara Yahudi dan Arab di pasar atau
di perjalanan.
Jilbab dan Penutup Wajah ala Arab
Mishnah juga membahas tentang penutup wajah
(niqab/litham) yang dibuat oleh orang Arab. Apakah seorang Yahudi
boleh mengenakannya? Apakah itu dianggap sebagai pakaian yang layak? Ini
menunjukkan bahwa pakaian khas Arab (penutup wajah untuk pria saat bepergian di
padang pasir) sudah dikenal luas di kalangan Yahudi.
Kemah Arab Dikecualikan dari Hukum "Oholot"
Dalam Mishnah Oholot (tentang kemah dan najis kematian),
aturan tentang kerabunan (tentara) tidak berlaku untuk kemah-kemah Arab karena
kemah sering dipindahkan, tidak seperti rumah permanen. Ini menunjukkan
pemahaman para rabi tentang gaya hidup nomaden Arab.
Makanan yang Dimasak di Atas Tungku Arab
Mishnah Menahot menyebutkan bahwa makanan yang dimasak di
atas tungku Arab tidak boleh dimakan oleh Yahudi (ada yang
berpendapat demikian), mungkin karena kekhawatiran akan campuran dengan
persembahan berhala.
Larangan Menggadaikan Budak Perempuan kepada Arab
Karena Arab non-Yahudi tidak dianggap memiliki komitmen yang
ketat terhadap moral seksual, para rabi khawatir budak perempuan Yahudi yang
digadaikan kepada Arab akan didekati secara tidak pantas. Hukum mengizinkan
menitipkan budak kepada Arab hanya jika bisa diawasi.
Sembelihan Arab: Darah untuk Berhala
Talmud Hullin 39b membahas tentang sembelihan yang
dilakukan oleh orang Arab untuk berhala mereka. Darah hewan kurban
biasa digunakan untuk mengoles patung berhala. Karena itu, Yahudi dilarang
makan daging dari sembelihan semacam itu.
Orang Arab Mendapat Sembilan per Sepuluh
"Kekurangajaran"
Dalam Talmud Kiddushin 49b, ada pernyataan hiperbolik: "Dunia
ini menerima sepuluh takar (kab) kekurangajaran, sembilan di antaranya diambil
oleh Arab, dan satu oleh seluruh dunia lainnya." Ini jelas
ungkapan stereotip negatif yang mencerminkan ketegangan sosial antara komunitas
Yahudi yang menetap dan tetangga Arab badui yang dianggap kasar dan suka
merampok.
Arayot: Pandangan tentang Perempuan Arab yang menyusui
Talmud Kethuboth 75a menyebutkan bahwa seorang Yahudi tidak
boleh melihat bagian tubuh perempuan Arab yang biasanya tertutup (misalnya dada
saat menyusui) karena akan membangkitkan nafsu. Namun, jika perempuan Arab itu
terbiasa telanjang dada, maka tidak masalah.
Sunat Orang Arab
Para rabi membahas apakah seorang Arab yang disunat (praktik
umum di kalangan Arab bahkan sebelum Islam) dapat dianggap sebagai proselit
(masuk Yahudi) hanya karena sunatnya. Jawabannya: tidak, karena mereka
melakukannya karena tradisi, bukan karena iman kepada Tuhan Yahudi.
Kisah Perempuan Arab dengan Jimat
Talmud Gittin 45b: Seorang perempuan Arab membawa kantung
berisi jimat untuk dijual. Seorang Yahudi menawarkan dua kurma untuk setiap dua
jimat. Sang perempuan marah dan membuang semua jimatnya ke sungai. Si Yahudi
menyesal karena terlalu pelit. Ini menunjukkan interaksi ekonomi antara Yahudi
dan Arab di pasar.
Serbia dan Kekerasan: Penyerbuan Arab terhadap Komunitas
Yahudi di Irak
Tidak semua hubungan berlangsung damai. Sumber-sumber Yahudi
mencatat serangan-serangan yang dilakukan oleh kepala suku Arab terhadap
pemukiman Yahudi di Irak, terutama di sekitar Nehardea, Pumbeditha, dan Sura.
- Penyerbuan
Nehardea (259 M) : Seorang pemimpin Arab bernama Papa bar
Nasr (mungkin dari dinasti "Al Nasr" raja-raja Hirah)
menyerbu kota Nehardea, menghancurkannya, dan membunuh banyak orang.
Beberapa rabi melarikan diri ke pemukiman lain.
- Ancaman
terhadap gembala Yahudi: Para gembala Yahudi yang membawa ternak ke
padang rumput sering menjadi sasaran perampokan oleh orang Arab badui.
- Penculikan:
Ada laporan tentang penculikan rabi-rabi Yahudi oleh orang Arab.
Sebagai respon, para rabi mengizinkan membawa
senjata pada hari Sabat untuk melindungi pemukiman dari serangan
mendadak—meskipun membawa senjata biasanya dilarang karena melanggar aturan
istirahat Sabat.
Kesimpulan: Sejarah Panjang yang Rumit
Hubungan antara Arab dan Yahudi selama periode ini (abad
ke-5 SM hingga abad ke-3 M) tidak sesederhana "musuh abadi". Mereka
adalah tetangga, mitra dagang, kadang sekutu, kadang lawan:
- Nehemia
melawan Gesyem yang berusaha mencegah kebangkitan Yehuda.
- Pada
masa Makabe, orang Arab menjadi tentara bayaran melawan Yahudi.
- Namun
ada juga perdagangan dan interaksi sosial sehari-hari (di pasar, di padang
gurun).
- Penguasa
Edom-Arab (Antipater) bahkan memerintah Yudea.
- Di
Irak, Yahudi dan Arab hidup berdampingan, tetapi sering terjadi ketegangan
dan kekerasan karena perbedaan budaya, agama, dan sumber daya.
Para rabi Talmud mengamati orang Arab dengan cermat: keahlian
mencari air, gaya pakaian, cara mengikat wadah air, makanan, perjodohan, jimat,
dan bahkan upacara kurban mereka. Ini semua terekam dalam ribuan halaman
diskusi hukum Yahudi.
Pada akhirnya, stereotip negatif ('sembilan dari sepuluh
kekurangajaran') mencerminkan kejengkelan terhadap serangan Arab, namun juga
menunjukkan bahwa orang Yahudi dan Arab tidak bisa dipisahkan di kawasan itu.
Mereka adalah anak-anak Sem yang tinggal di tanah yang
sama—berbagi bahasa, geografi, dan nasib.
Sumber :
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar