Gerrha, Kota Perdagangan Misterius di Gurun Arab yang Menggoda Para Raja
Di Persimpangan Jalan Rempah Dunia
Jika Anda bepergian ke timur Jazirah Arab pada abad ke-3 SM,
Anda akan menjumpai sebuah kota yang aneh namun memikat. Namanya Gerrha.
Letaknya di pesisir Teluk Persia, sekitar 50 mil dari laut.
Rumah-rumahnya—menurut para penulis Yunani—dibangun dari batu garam,
dan penduduknya begitu kaya raya hingga mereka mencetak perabotan rumah dari
emas dan perak!
Gerrha bukanlah kota biasa. Ia adalah pusat
perdagangan terbesar di Arab timur pada masanya. Para pedagangnya
menguasai jalur rempah antara Arab Selatan, Afrika, India, dan dunia
Mediterania. Karavan mereka menempuh perjalanan 40 hari menuju
Hadhramaut (penghasil kemenyan dan mur) dan kembali dengan muatan berharga.
Mereka juga berdagang dengan Nabatean di utara melalui Dumat
al-Jandal dan Petra.
Kota ini begitu makmur hingga menarik perhatian raja-raja
besar. Sayangnya, kekayaan yang melimpah sering kali mengundang bencana.
Ketika Raja Seleukia Mengincar Harta Karun Gerrha
Pada tahun 205 SM, Raja Antiokhus III dari
Dinasti Seleukia (penerus kekuasaan Alexander Agung di Asia) sedang dalam
perjalanan pulang dari kampanye militernya di India. Ketika armadanya berlayar
di Teluk Persia, ia mendengar desas-desus tentang sebuah kota yang sangat
kaya: Gerrha, yang penduduknya konon memiliki emas, perak, permata,
mutiara, dan bahkan menggunakan emas untuk atap rumah dan perabotan.
Raja yang tamak itu langsung mengarahkan armadanya ke kota
tersebut. Para pedagang Gerrha, yang terkenal cinta damai, tidak ingin kota
mereka hancur. Mereka mengirim utusan kepada Antiokhus dengan pesan yang penuh
kebijaksanaan:
"Wahai Raja, para dewa telah menganugerahkan kepada
kami dua nikmat terbesar: kedamaian dan kebebasan. Janganlah engkau merampas
keduanya dari kami."
Antiokhus tersentuh (atau mungkin cukup puas dengan tawaran
upeti yang besar). Ia menerima 100 talenta perak dan sejumlah
besar kemenyan serta minyak wewangian, lalu membatalkan penyerangan. Gerrha
selamat—untuk sementara waktu.
Catatan lain menyebut bahwa Antiokhus benar-benar mendarat
di wilayah Chattenia (Al-Khatt, di pesisir timur Arab) dan
kemudian para pedagang Gerrha datang untuk bernegosiasi damai.
Apakah Gerrha Itu? Misteri Lokasi yang Tak Kunjung Usai
Para ahli hingga kini masih berbeda pendapat tentang lokasi
persis Gerrha. Beberapa teori yang berkembang:
- Al-Uqair —
Didukung oleh Sprenger, Philby, dan lainnya. Al-Uqair adalah pelabuhan
kecil di pesisir Saudi timur, dengan reruntuhan bernama Abu Z
hamul yang mungkin merupakan pelabuhan kuno Gerrha.
- Al-Jar'a —
Sebuah tempat di dekat Al-Uqair yang namanya mirip dengan
"Gerrha" dan dihubungkan dengan Bani Tamim. Al-Hamdani menyebut
bahwa suku Tamim memiliki pasar di Al-Jar'a, sebuah bukit
pasir tempat orang Arab berdagang.
- Al-Qatif atau Salwa —
Ada juga yang mengusulkan lokasi-lokasi lain di pesisir.
Yang pasti, Gerrha adalah kota pelabuhan yang sangat penting
pada abad ke-3 hingga ke-1 SM. Namun, seiring waktu, kota saingan seperti Charax (didirikan
oleh Alexander dan dibangun kembali oleh raja Arab Spasines) mengambil alih
peran dominannya. Perubahan rute pelayaran (kapal menjadi lebih besar dan tidak
perlu singgah di banyak pelabuhan) serta pergeseran jalur karavan darat
menyebabkan Gerrha perlahan-lahan kehilangan pamornya.
Pulau Tylos dan Pulau Ikaros: Pangkalan Yunani di Teluk
Persia
Para penulis Yunani-Romawi juga menyebut dua pulau penting
di Teluk Persia: Tylos dan Ikaros.
- Tylos —
Ini adalah Bahrain modern. Nama "Tylos"
kemungkinan besar berasal dari "Tilmun" (Dilmun) kuno. Pulau ini
terkenal dengan mutiara berkualitas tinggi, dan menjadi pusat perdagangan
penting. Para arkeolog menemukan tembikar Yunani dari akhir abad ke-4 SM
di Bahrain, bukti adanya pemukiman atau interaksi dagang dengan orang
Yunani (mungkin sejak Alexander hingga era Seleukia).
- Ikaros —
Pulau kecil yang diidentifikasi sebagai Failaka (Kuwait)
atau mungkin pulau lain di lepas pantai. Disebut demikian karena bentuknya
mirip pulau Ikaros di Laut Aegea; di sini berdiri kuil dewi Artemis yang
suci, di mana hewan-hewan berkeliaran bebas tanpa diganggu.
Pengaruh Yunani di Bahrain tampaknya berlangsung hingga era
Parthia (abad ke-1 SM – ke-3 M), meskipun tidak dalam bentuk pemerintahan
langsung melainkan melalui perdagangan dan kehadiran komunitas kecil.
Makae, Maka, dan Magan: Hubungan dengan Zaman Kuno
Strabo juga menyebut suku Macae yang
tinggal di sekitar Selat Hormuz, di sebuah tanjung bernama Maketa atau Ras
Musandam (ujung utara Oman). Nama ini mengingatkan pada Magan kuno
(Makan), wilayah yang disebut dalam prasasti Mesopotamia sebagai sumber
tembaga. Para ahli menduga bahwa "Makae" adalah bentuk Yunani dari
"Magan". Jika benar, maka nama ini telah bertahan selama ribuan
tahun!
Apologus: Pelabuhan di Muara Efrat
Selain Gerrha, ada pelabuhan penting lainnya di utara Teluk
Persia: Apologus (dalam bahasa Akkadia: Ubulum).
Pelabuhan ini terletak di dekat muara Sungai Efrat (kemungkinan dekat Basra
modern). Dari sini, barang-barang diangkut melalui sungai ke Seleukeia (di
Tigris, dekat Baghdad) atau ke Charax. Apologus mengekspor mutiara,
kurma, dan emas ke Arabia Selatan, dan mengimpor rempah-rempah serta wewangian
dari sana. Dalam Periplus Maris Erythraei (sebuah buku panduan
pelayaran abad ke-1 M), Apologus disebut sebagai pelabuhan utama di wilayah
Persia.
Orang Arab dalam Pasukan Seleukia
Ketika Antiokhus III melakukan kampanye militer besarnya
(Perang Keempat dan Kelima, sekitar 219–217 SM), ribuan tentara Arab bergabung
dalam barisannya. Dalam Pertempuran Raphia (217 SM), disebutkan bahwa Antiokhus
memiliki 10.000 tentara Arab di bawah komandan bernama Zabdidelos (tentunya
"Zabda'il" atau "Zabdi-El", nama Arab asli).
Juga dilaporkan bahwa sekitar tahun 190 SM, satu
detasemen pasukan unta Arab bertugas menjaga perbatasan gurun
Kekaisaran Seleukia, melindungi dari serangan suku-suku badui lain, dan
membantu pasukan reguler saat melintasi padang pasir.
Mengapa orang Arab lebih memihak Antiokhus daripada
Ptolemeus (penguasa Mesir)? Kemungkinan karena Ptolemeus menguasai
wilayah-wilayah yang dihuni banyak suku Arab (seperti Palestina, Sinai, dan
pantai timur Laut Merah), sehingga terjadi gesekan. Sementara Antiokhus, yang
berpusat di Suriah dan Irak, belum terlalu ikut campur dalam urusan internal
Arab.
Upaya Ptolemeus Menguasai Laut Merah: Kanal dan Ekspedisi
Di Mesir, dinasti Ptolemeus (keturunan salah satu jenderal
Alexander) lebih ambisius dalam perdagangan laut selatan. Mereka melanjutkan
proyek kuno yang menghubungkan Sungai Nil dengan Laut Merah.
Ptolemeus II Philadelphus (285–246 SM)
memerintahkan perbaikan kanal kuno antara Nil dan Teluk Suez. Kanal ini
(disebut "Kanal Ptolemeus") selesai sekitar tahun 269 SM. Kota Arsinoe (dekat
Suez modern) dibentengi untuk melindungi dari serangan suku Arab badui yang
telah lama menghuni wilayah itu.
Ptolemeus II juga mengirim ekspedisi eksplorasi laut ke
selatan. Salah satu komandannya, Ariston (Ariston), berlayar
menyusuri pantai barat Laut Merah hingga ke Samudra Hindia. Dalam laporannya,
ia menyebutkan suku Thamud—ini mungkin catatan tertua tentang
Thamud dalam sumber Yunani.
Ptolemeus juga mendirikan koloni Yunani di pulau Sokotra (Dioscorida)
di lepas pantai Somalia/Yaman. Pulau ini penting karena menghasilkan kemenyan,
getah, dan wewangian yang sangat dicari, serta menjadi tempat
persinggahan kapal yang berlayar antara India, Afrika, dan Arabia. Penduduk
Sokotra menjadi campuran Arab, Yunani, Romawi, Afrika, dan India. Kemudian,
pulau ini jatuh di bawah kekuasaan Raja Eleazus dari Sabbatha (Shabwah,
ibu kota kerajaan Hadhramaut), menunjukkan dominasi Arab Selatan atas wilayah
tersebut.
Penutup: Jejak yang Masih Tersisa
Kisah kota Gerrha, pelabuhan Apologus, dan pulau-pulau
Tylos, Ikaros, serta Sokotra menggambarkan jaringan perdagangan maritim
yang kompleks pada zaman Helenistik. Orang Arab tidak hanya menjadi
perantara pasif; mereka adalah pedagang ulung, pelaut pemberani, dan penguasa
kota-kota kaya yang disegani.
Meskipun Alexander Agung gagal menaklukkan Arabia, para
penerusnya—Seleukia dan Ptolemeus—berhasil menjalin hubungan dagang dan
diplomatik yang intens dengan penduduk setempat. Gerrha membayar upeti untuk
mempertahankan kemerdekaannya. Kerajaan Nabatean di utara berkembang pesat.
Sementara di Yaman Selatan, kerajaan-kerajaan seperti Saba' dan Qataban terus
memasok kemenyan, mur, dan rempah yang sangat dibutuhkan kuil-kuil Yunani dan
Romawi.
Sayangnya, Gerrha tidak bertahan selamanya. Itu
berangsur-angsur menghilang dari peta karena perubahan rute perdagangan. Namun
namanya tetap terukir dalam manuskrip Yunani dan Romawi, sebagai pengingat akan
masa ketika kota garam di tepi gurun menjadi pusat kekayaan dunia.
Sumber Kisah
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar