Fitnah dan Terbunuhnya Utsman bin Affan r.a

Ilustrasi sinematik realistis bergaya sejarah Islam abad ke-7 menampilkan Khalifah Utsman bin Affan duduk dari sudut belakang sambil membaca mushaf Al-Qur’an di dalam rumah sederhana di Madinah. Cahaya matahari hangat masuk melalui jendela, menerangi ruangan bercorak Arab klasik dengan karpet, lampu minyak, dan rak kayu. Beberapa sahabat muda berdiri dengan sikap hormat dan cemas di sekelilingnya, menciptakan suasana spiritual, damai, dan penuh keteguhan iman.

Bab Kelima: Fitnah dan Terbunuhnya Utsman

Sebab Penghasutan Para Pemberontak terhadap Utsman dan Para Walinya

Saif bin Umar menyebutkan bahwa sebab berkumpulnya kelompok-kelompok yang menentang Utsman adalah seorang lelaki bernama Abdullah bin Saba'. Ia dulunya adalah seorang Yahudi, lalu berpura-pura masuk Islam dan pergi ke Mesir. Di sana, ia membisikkan perkataan yang ia karang-karang sendiri kepada sekelompok orang. Inti perkataannya adalah ia bertanya kepada seseorang, "Bukankah telah tetap (dalam keyakinan) bahwa Isa bin Maryam akan kembali ke dunia ini?"

Orang tersebut menjawab, "Ya!"

Lalu Abdullah bin Saba' berkata, "Rasulullah lebih utama darinya, maka mengapa kamu mengingkari bahwa beliau akan kembali ke dunia ini, padahal beliau lebih mulia daripada Isa bin Maryam 'Alaihis Salam (عَلَيْهِ السَّلَامُ)?"

Kemudian ia berkata lagi, "Dan sesungguhnya beliau telah berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib. Maka Muhammad adalah penutup para nabi, dan Ali adalah penutup para penerima wasiat."

Selanjutnya ia berkata, "Maka dialah (Ali) yang lebih berhak memegang urusan kepemimpinan daripada Utsman, sedangkan Utsman telah melanggar batas dengan mengambil wilayah kekuasaan yang bukan haknya. Oleh karena itu, ingkarilah hal ini dan mulailah mencela para pemimpin kalian, serta tampakkanlah perkara amar makruf nahi mungkar agar kalian dapat menarik simpati orang-orang."

Akibatnya, banyak sekali penduduk Mesir yang terpedaya olehnya. Mereka kemudian menyurati kelompok-kelompok dari kalangan orang awam di penduduk Kufah dan Basrah. Mereka saling bersepakat dan berkirim surat dalam hal itu, serta berjanji untuk berkumpul guna menentang Utsman.

Mereka juga mengirim utusan kepada Utsman untuk mendebatnya dan menyampaikan hal-hal yang mereka benci darinya, seperti pengangkatan kerabat dekat dan hubungan rahimnya sebagai pejabat, serta pemecatan para sahabat-sahabat besar. Hal ini akhirnya merasuk ke dalam hati banyak orang.

Pengusiran Sekelompok Penduduk Kufah ke Syam pada Tahun 33 Hijriah

Pada tahun ini, Amirul Mukminin memindahkan sekelompok penduduk Kufah ke wilayah Syam. Sebab dari peristiwa ini adalah mereka mengucapkan perkataan yang buruk di majelis Said bin Al-Ash (wali Kufah). Maka Said menulis surat kepada Utsman mengenai urusan mereka, lalu Utsman membalas suratnya agar mereka diasingkan dari negerinya ke Syam. Utsman juga menulis surat kepada Muawiyah (gubernur Syam) yang isinya: "Aku telah mengirimkan kepadamu beberapa orang ahli al-qur'an (para pembaca) dari penduduk Kufah, maka tempatkanlah mereka, muliakanlah mereka, dan rangkullah mereka."

Ketika mereka datang, Muawiyah menempatkan dan memuliakan mereka. Ia berkumpul dengan mereka, memberikan nasihat, serta mengarahkan mereka pada perkara yang bisa diandalkan, yaitu untuk mengikuti jemaah (persatuan) dan meninggalkan sikap menyendiri serta menjauh. Namun, juru bicara mereka justru membalas dengan perkataan yang buruk dan keji. Muawiyah menahan diri menghadapi mereka karena sifat santunnya, lalu ia mulai memuji kaum Quraisy—yang mana kaum tersebut telah dicela oleh mereka—serta memuji Rasulullah dan menyanjung beliau.

Kemudian Muawiyah memberikan nasihat kepada mereka sekali lagi, namun ternyata mereka justru terus tenggelam dalam kesesatan serta melanjutkan kebodohan dan kebebalan mereka. Pada saat itulah, Muawiyah mengeluarkan dan mengusir mereka dari Syam agar mereka tidak merusak akal orang-orang awam. Hal itu karena isi ucapan mereka mengandung celaan terhadap kaum Quraisy, dengan menganggap bahwa kaum Quraisy telah melampaui batas dan menyia-nyiakan kewajiban yang harus mereka tegakkan dalam membela agama serta menumpas para perusak. Tujuan mereka sebenarnya hanyalah untuk menjatuhkan dan mencari-cari aib, serta mereka pun mencaci Utsman dan Said bin Al-Ash.

Mereka berjumlah sepuluh orang, dan ada yang mengatakan sembilan orang—dan pendapat ini yang lebih mendekati kebenaran. Mereka adalah: Kumail bin Ziyad, Al-Asytar Malik bin Al-Harits An-Nakha'i, Alqamah bin Qais An-Nakha'i, Sha'sha'ah bin Shauhan Al-Abdi, Tsabit bin Qais An-Nakha'i, Jundub bin Zuhair Al-Ghamidi, Jundub bin Ka'ab Al-Azdi, Urwah bin Al-Ja'd, dan Amru bin Al-Hamiq Al-Khuza'i.

Ketika mereka keluar dari Damaskus, mereka mengungsi ke wilayah Al-Jazirah. Di sana mereka ditemui oleh Abdul Rahman bin Khalid bin Al-Walid, yang saat itu menjadi wakil di Al-Jazirah. Ia mengancam dan memperingatkan mereka, sehingga mereka pun meminta maaf kepadanya dan kembali untuk mencabut apa yang selama ini mereka lakukan. Kemudian Al-Asytar An-Nakha'i diutus menghadap Utsman bin Affan untuk meminta maaf mewakili teman-temannya di hadapan beliau. Utsman menerima permohonan maaf mereka dan memberikan kebebasan bagi mereka untuk tinggal di mana pun mereka suka. Mereka memilih untuk berada di bawah wilayah kekuasaan Abdul Rahman bin Khalid bin Al-Walid, lalu mendatangi Homs. Abdul Rahman memerintahkan mereka untuk tinggal di daerah pesisir dan menjamin nafkah kehidupan mereka.

Ada pula yang mengatakan bahwa ketika Muawiyah membenci mereka, ia menulis surat tentang mereka kepada Utsman. Lalu datang surat balasan dari Utsman agar mengembalikan mereka kepada Said bin Al-Ash di Kufah, maka Muawiyah pun mengembalikan mereka kepadanya. Namun ketika mereka kembali, lisan mereka menjadi lebih tajam (pemberani dalam mencela) dan membawa keburukan yang lebih banyak. Akhirnya Said bin Al-Ash mengadukan keluhan mengenai mereka kepada Utsman, sehingga Utsman memerintahkannya untuk mengasingkan mereka kepada Abdul Rahman bin Khalid bin Al-Walid di Homs dan agar mereka menetap di pos-pos penjagaan perbatasan.

Pengasingan Sekelompok Penduduk Basrah pada Tahun 33 Hijriah

Pada tahun ini pula, Utsman memindahkan sebagian penduduk Basrah dari kota tersebut menuju Syam dan Mesir, karena adanya alasan-alasan yang membenarkan tindakan yang beliau lakukan Radhiyallahu 'Anhu (رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ). Orang-orang tersebut termasuk golongan yang menghasut untuk menentangnya dan bersekongkol dengan musuh untuk menjatuhkan serta mencela beliau. Mereka adalah orang-orang yang zalim dalam tindakan tersebut, sedangkan beliau adalah orang yang berbakti lagi berada di atas petunjuk Radhiyallahu 'Anhu (رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ).

Tuntutan Penduduk Kufah untuk Mencopot Wali Mereka, Said bin Al-Ash

Pada tahun 34 Hijriah, orang-orang yang menyimpang dari Utsman saling berkirim surat—yang mana mayoritas mereka adalah penduduk Kufah, dan saat itu mereka sedang berada di wilayah kekuasaan Abdul Rahman bin Khalid bin Al-Walid di Homs dalam keadaan diasingkan dari Kufah. Mereka melakukan pemberontakan terhadap Said bin Al-Ash, gubernur Kufah, bersekongkol untuk menentangnya, serta mencela dirinya dan Utsman. Mereka mengirim utusan kepada Utsman untuk mendebatnya tentang apa yang telah ia lakukan dan keputusan yang ia ambil, seperti mencopot banyak sahabat serta mengangkat sekelompok orang dari Bani Umayyah yang merupakan kerabatnya. Mereka menyampaikan perkataan yang kasar kepada beliau dan menuntut agar beliau mencopot para pejabatnya dan mengganti mereka dengan orang lain, hingga hal tersebut terasa sangat berat bagi beliau.

Cara Utsman Menghadapi Fitnah

Utsman Radhiyallahu 'Anhu mengirim utusan kepada para panglima pasukan, lalu mengumpulkan mereka di sisinya untuk meminta saran. Maka berkumpullah di hadapannya: Muawiyah bin Abi Sufyan (gubernur Syam), Amru bin Al-Ash (gubernur Mesir), Abdullah bin Saad bin Abi Sarh (gubernur Maghrib), Said bin Al-Ash (gubernur Kufah), dan Abdullah bin Amir (gubernur Basrah). Beliau meminta pandangan mereka mengenai urusan yang tengah terjadi.

Abdullah bin Amir menyarankan agar menyibukkan mereka dengan peperangan (jihad) agar mereka teralih dari keburukan yang sedang mereka rencanakan, sehingga perhatian setiap orang dari mereka hanya tertuju pada dirinya sendiri dan kondisi tunggangannya serta perlengkapan perangnya. Sementara Said bin Al-Ash menyarankan untuk menumpas habis akar para perusak tersebut dan memotong jalan mereka. Adapun Muawiyah menyarankan agar mengembalikan para pejabat ke daerahnya masing-masing dan tidak memedulikan orang-orang tersebut serta keburukan yang mereka kumpulkan, karena mereka adalah pasukan yang paling sedikit dan paling lemah. Sedangkan Abdullah bin Saad bin Abi Sarh menyarankan agar merangkul mereka dengan harta, lalu memberikan harta tersebut kepada mereka guna menahan keburukan mereka, mengamankan bahaya mereka, dan melunakkan hati mereka kepadanya.

Maka pada saat itu, Utsman menetapkan para pejabatnya pada kedudukan mereka semula, melunakkan hati orang-orang tersebut dengan harta, dan memerintahkan agar mereka dikirim untuk berperang di perbatasan, sehingga beliau mengombinasikan seluruh kemaslahatan yang ada.

Di sisi lain, penduduk Kufah telah menghalangi Said bin Al-Ash untuk masuk ke tempat mereka. Mereka memakai senjata dan bersumpah tidak akan membiarkannya masuk sampai Utsman mencopotnya dan mengangkat Abu Musa Al-Asy'ari sebagai wali atas mereka. Maka Said pun berbalik pulang kembali ke Madinah demi meredam fitnah. Hal itu membuat penduduk Kufah kagum, lalu mereka menulis surat kepada Utsman, dan Utsman pun mengabulkan apa yang mereka minta sebagai bentuk menggugurkan alasan mereka, melenyapkan syubhat mereka, dan memutus hujah-hujah mereka.

Melalui teks-text sejarah di berbagai sumber, tampak jelas bahwa Utsman Radhiyallahu 'Anhu menghadapi fitnah dengan sejumlah metode, yaitu:

  1. Mengumpulkan ahli syura dari kalangan sahabat dan meminta saran dari mereka mengenai metode yang akan diambil untuk menghadapi kekacauan para pemberontak di beberapa wilayah, kemudian beliau Radhiyallahu 'Anhu mengamalkan apa yang mereka sarankan.
  2. Mengutus orang-orang dari sisinya ke berbagai wilayah untuk menyelidiki perkara-perkara yang menjadi sumber keluhan. Mereka pun kembali dan tidak menemukan adanya sebab-sebab yang nyata, melainkan hanyalah provokasi yang tidak ada hakikatnya dalam realitas.
  3. Meminta para wali untuk datang menemuinya di Madinah, kemudian mendiskusikan sebab-sebab keluhan tersebut dengan mereka, serta mengarahkan mereka untuk berbuat baik kepada manusia dan mengatasi setiap sebab yang memicu provokasi atau keluhan.
  4. Melarang para wali untuk melakukan tindakan keras terhadap para pemicu kekacauan—baik berupa penahanan atau pembunuhan—dengan harapan perlakuan yang baik dapat meredakan gejolak mereka.
  5. Menegakkan hujah atas para pemberontak, yaitu dengan cara mendiskusikan dan membantah klaim-klaim mereka serta menyingkap kepalsuannya di dalam Masjid Rasulullah di hadapan kumpulan para sahabat dan penduduk Madinah. Kemudian beliau mengingatkan mereka kepada Allah, menasihati mereka untuk menetapi jemaah dan mengikuti kebenaran, hingga mereka menampakkan sikap menarik diri dan bertobat.
  6. Memenuhi sebagian tuntutan mereka dalam hal mencopot beberapa wali dan mengangkat orang yang mereka minta untuk diangkat.

Metode-metode ini sebenarnya sudah sangat cukup dalam penanganan serta menegakkan kebenaran dan keadilan, andaikata perkara-perkara tersebut berjalan dalam situasi yang normal. Namun kenyataannya, di balik keluhan dan provokasi ini terdapat perkara-perkara yang tersembunyi serta dendam-dendam jahiliyah yang berusaha mengobarkan fitnah di antara kaum muslimin dan memecah belah persatuan mereka. Sampai akhirnya terjadilah apa yang telah dikabarkan oleh Nabi berupa kesyahidan Utsman Radhiyallahu 'Anhu dan terbunuhnya beliau secara zalim, serta fitnah dan perpecahan yang mengikuti setelahnya. Dan ketetapan Allah itu adalah suatu ketetapan yang pasti berlaku.

Kedatangan Utusan dari Mesir pada Bulan Rajab Tahun 35 Hijriah

Orang-orang Khawarij dari kalangan penduduk Mesir dulunya merasa terkepung oleh Amru bin Al-Ash, maka mereka mulai membuat siasat untuk menentangnya. Mereka mengadukannya kepada Utsman agar beliau mencopot Amru dari jabatan mereka dan mengangkat orang yang lebih lembut darinya untuk memimpin mereka. Hal tersebut terus menjadi kebiasaan mereka hingga akhirnya Utsman mencopot Amru dari urusan peperangan (militer) dan membiarkannya memimpin salat saja, sedangkan urusan peperangan dan pajak (kharaj) diserahkan kepada Abdullah bin Saad bin Abi Sarh.

Kemudian mereka (para pemberontak) menjalankan aksi adu domba di antara keduanya hingga terjadi ketegangan ucapan di antara keduanya. Maka Utsman mengirim utusan untuk menyatukan seluruh kepemimpinan Mesir—baik pajak, peperangan, maupun salat—ke dalam genggaman Ibnu Abi Sarh. Beliau juga mengirim pesan kepada Amru yang isinya: "Tidak ada kebaikan bagimu untuk tinggal di sisi orang yang membencimu, maka datanglah kepadaku." Maka pindahlah Amru bin Al-Ash ke kota Madinah.

Abdullah bin Sa'ad sibuk memerangi penduduk Maghrib serta menaklukkan negeri Berber dan Afrika. Di Mesir, muncul sekelompok orang yang menghasut massa untuk memerangi Utsman dan memprotes kebijakannya. Penggerak utama gerakan ini dinisbatkan kepada Muhammad bin Abi Bakar dan Muhammad bin Abi Hudzaifah. Mereka berhasil menggerakkan sekitar enam ratus pengendara untuk pergi ke Madinah dengan berpura-pura sebagai jamaah umrah pada bulan Rajab, dengan tujuan untuk memprotes Utsman.

Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh menulis surat kepada Utsman untuk mengabarkan kedatangan kelompok tersebut ke Madinah yang berniat memprotesnya dengan berpura-pura sebagai jamaah umrah. Ketika mereka sudah dekat dengan Madinah, Utsman memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk menemui mereka agar menyuruh mereka kembali ke negeri mereka sebelum masuk ke dalam kota Madinah.

Dikatakan juga: Utsman menyeru masyarakat untuk menemui mereka, lalu Ali menawarkan diri untuk tugas tersebut, maka Utsman mengutusnya. Ali keluar bersama sekelompok pemuka masyarakat, lalu menemui rombongan tersebut di Al-Juhfah. Rombongan tersebut sangat menghormati Ali dan mengagungkannya. Ali pun menolak, menegur, dan mencela tindakan mereka, hingga akhirnya mereka menyesali diri mereka sendiri. Mereka berkata: "Inilah orang yang kalian jadikan alasan untuk memerangi Amir (Utsman) dan kalian jadikan hujah melawannya."

Dikatakan pula: Ali berdiskusi dengan mereka mengenai Utsman dan bertanya tentang apa saja yang mereka benci dari kebijakan Utsman. Mereka menyebutkan beberapa hal, di antaranya: bahwa Utsman mengkhususkan lahan penggemangan (al-hima), membakar mushaf-mushaf, menyempurnakan rakaat salat (menjadi empat rakaat saat safar), mengangkat pejabat dari kalangan anak-anak muda, dan memberikan harta kepada Bani Umayyah lebih banyak daripada orang lain.

Maka Ali menjawab tuduhan-tuduhan tersebut:

Mengenai lahan penggembalaan (al-hima), Utsman mengkhususkannya hanya untuk unta-unta zakat agar menjadi gemuk, bukan untuk unta atau kambing miliknya pribadi. Lagipula, Umar juga telah melakukan hal yang sama sebelum dirinya.

Mengenai mushaf-mushaf, Utsman hanyalah membakar mushaf yang di dalamnya terdapat perbedaan bacaan, dan mempertahankan mushaf yang telah disepakati oleh mereka sebagaimana yang telah ditetapkan dalam setoran bacaan terakhir (bersama Malaikat Jibril).

Mengenai penyempurnaan salat di Makkah, hal itu karena Utsman telah berkeluarga di sana dan berniat untuk tinggal, sehingga beliau menyempurnakan salatnya.

Mengenai pengangkatan pejabat dari kalangan anak muda, Utsman tidak mengangkat melainkan seorang lelaki yang cakap dan adil. Rasulullah sendiri pernah mengangkat Attab bin Asid sebagai gubernur Makkah padahal usianya baru dua puluh tahun. Beliau juga pernah mengangkat Usamah bin Zaid bin Haritsah yang saat itu masih sangat muda, hingga sebagian orang mencela kepemimpinannya.

Mengenai sikapnya yang mengutamakan kaumnya dari Bani Umayyah, Rasulullah pun dahulu pernah mengutamakan kaum Quraisy di atas manusia lainnya.

Diriwayatkan bahwa rombongan tersebut mengirimkan perwakilan mereka untuk menyaksikan khotbah Utsman mengenai urusan ini. Ketika uzur-uzur (alasan) telah dijelaskan, keraguan mereka sirna, dan tidak ada lagi syubhat yang tersisa, sebagian sahabat menyarankan Utsman untuk menghukum mereka. Namun, beliau memaafkan mereka—semoga Allah meridhasinya—dan mengembalikan mereka kepada kaumnya. Mereka pun pulang dengan tangan hampa dari apa yang mereka harapkan dan cita-citakan. Ali kemudian kembali kepada Utsman dan mengabarkan bahwa mereka telah pulang serta telah mendengarkan penjelasannya.

Kedatangan Pasukan Sekutu (Al-Ahzab) dari Mesir dan Wilayah Lainnya pada Bulan Syawal Tahun 35 Hijriah

Penduduk Mesir, Kufah, dan Basrah saling berkirim surat dan berkorespondensi. Kemudian dipalsukanlah surat-surat atas nama para sahabat besar yang ada di Madinah, yaitu Ali, Thalhah, Al-Zubair, dan Aisyah. Surat-surat palsu tersebut berisi ajakan kepada masyarakat untuk memerangi Utsman dan membela agama, serta menyebut tindakan itu sebagai jihad terbesar saat ini.

Saif bin Umar Al-Tamimi menyebutkan dari Muhammad, Thalhah, Abu Haritsah, Abu Utsman, dan selain mereka juga mengatakannya, mereka berkata: Ketika memasuki bulan Syawal tahun 35 Hijriah, penduduk Mesir keluar dalam empat kelompok di bawah pimpinan empat komandan. Pendapat yang menyebutkan jumlah paling sedikit mengatakan ada enam ratus orang, sedangkan yang menyebutkan paling banyak mengatakan seribu orang. Kelompok-kelompok tersebut dipimpin oleh Abdurrahman bin Udayis Al-Balawi, Kinanah bin Bisyr Al-Tujibi, Sudan bin Humran Al-Sukuni, dan Qutairah Al-Sukuni. Sedangkan komandan tertinggi bagi seluruh rombongan tersebut adalah Al-Ghafiqi bin Harb Al-Aki. Mereka keluar dengan menampakkan diri kepada masyarakat seolah-olah sebagai jamaah haji. Di antara mereka terdapat Ibnu as-Sauda' (Abdullah bin Saba'), yang asalnya adalah seorang Yahudi lalu berpura-pura masuk Islam dan membuat bid'ah-bid'ah baik dalam ucapan maupun perbuatan—semoga Allah menghinakannya.

Penduduk Kufah juga keluar dengan jumlah yang setara dalam empat kelompok pula. Komandan-komandan mereka adalah Zaid bin Shauhan, Al-Asytar An-Nakha'i, Ziyad bin An-Nadhr Al-Haritsi, dan Abdullah bin Al-Asham. Sedangkan komandan tertingginya adalah Amru bin Al-Asham.

Penduduk Basrah pun keluar dengan jumlah yang setara di bawah empat bendera bersama Hakim bin Jabalah Al-Abdi, Bisyr bin Syurah bin Dhabiah Al-Qaisi, dan Dzarij bin Abbad Al-Abdi. Komandan tertinggi mereka semua adalah Hurqush bin Zuhair As-Sa'di.

Penduduk Mesir bersikeras menginginkan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, penduduk Kufah bertekad untuk mengangkat Al-Zubair, sedangkan penduduk Basrah bersikeras untuk mengangkat Thalhah. Setiap kelompok tidak ragu bahwa urusan mereka akan berhasil. Maka setiap kelompok bergerak dari negeri mereka hingga akhirnya mereka berkumpul di sekitar Madinah, sebagaimana yang mereka janjikan dalam surat-surat mereka, pada bulan Syawal tahun 35 Hijriah. Sebagian dari mereka singgah di Dzu Khasyab, sebagian di Al-A'wash, dan mayoritas dari mereka singgah di Dzu Marwah. Mereka sebenarnya merasa cemas terhadap penduduk Madinah. Oleh karena itu, mereka mengirim utusan dan mata-mata terlebih dahulu untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa mereka datang hanya untuk berhaji, bukan untuk tujuan lain, serta untuk meminta agar khalifah memberhentikan sebagian gubernurnya. Mereka berkata: "Kami tidak datang melainkan untuk urusan itu." Mereka pun meminta izin untuk masuk.

Namun, semua orang menolak dan melarang mereka masuk. Meski demikian, mereka nekat dan mendekati Madinah. Sekelompok orang Mesir mendatangi Ali yang saat itu sedang berada bersama pasukannya di dekat Ahjar Al-Zait, dengan mengenakan pakaian bergaris (hullah afwaf) dan sorban merah buatan Yaman, serta menyandang pedang. Orang-orang Mesir itu mengucapkan salam kepadanya, namun Ali berteriak menghardik dan mengusir mereka.

Ali berkata kepada mereka dengan membawakan makna sabda Nabi mengenai kesucian kota Madinah dan ancaman bagi yang berbuat kerusakan di dalamnya: "Sungguh, orang-orang saleh telah mengetahui bahwa pasukan Dzu Marwah dan Dzu Khasyab adalah orang-orang yang terlaknat melalui lisan Muhammad. Maka kembalilah, semoga Allah tidak memberikan keselamatan pagi kepada kalian!" Mereka menjawab: "Baiklah," lalu mereka pergi meninggalkan Ali atas dasar hal tersebut.

Orang-orang Basrah mendatangi Thalhah yang sedang berada di kelompok lain di samping Ali—dan Thalhah telah mengutus anak-anaknya untuk menjaga Utsman. Mereka mengucapkan salam kepadanya, namun Thalhah berteriak menghardik dan mengusir mereka, serta mengatakan kepada mereka hal yang sama seperti yang dikatakan Ali kepada penduduk Mesir.

Demikian pula penolakan yang diberikan oleh Al-Zubair kepada penduduk Kufah.

Kelompok Sekutu (Al-Ahzab) Berpura-pura Kembali ke Negeri Mereka

Setiap kelompok dari pasukan sekutu tersebut kembali kepada kaumnya, dan mereka menampakkan kepada masyarakat seolah-olah benar-benar pulang ke negeri masing-masing. Mereka berjalan selama beberapa hari untuk pulang, namun kemudian mereka berputar arah dan kembali lagi ke Madinah. Penduduk Madinah tidak mengejutkan mereka melainkan suara takbir yang menggema di berbagai sudut kota. Ternyata kaum tersebut telah bergerak menyerbu Madinah dan mengepungnya. Mayoritas dari mereka mengepung rumah Utsman bin Affan. Mereka menyerukan kepada masyarakat: "Barang siapa yang menahan tangannya (tidak ikut melawan), maka dia aman." Maka masyarakat pun menahan diri dan tetap tinggal di dalam rumah-rumah mereka.

Masyarakat menjalani kondisi tersebut selama beberapa hari. Selama masa itu, masyarakat tidak tahu apa yang akan diperbuat oleh kaum tersebut dan apa yang mereka rencanakan. Walaupun demikian, Amirul Mukminin Utsman bin Affan tetap keluar dari rumahnya untuk mengimami salat berjamaah bagi masyarakat. Penduduk Madinah dan juga orang-orang yang datang mengepung itu ikut salat di belakang beliau.

Para sahabat kemudian mendatangi para pengepung itu untuk menegur tindakan mereka yang kembali lagi setelah sebelumnya pergi. Hingga Ali berkata kepada penduduk Mesir: "Apa yang membuat kalian kembali lagi setelah sebelumnya kalian pergi dan membatalkan keputusan kalian?"

Mereka menjawab: "Kami menemukan sebuah surat pada seorang kurir yang memerintahkan untuk membunuh kami." Demikian pula yang dikatakan oleh Thalhah kepada penduduk Basrah, dan Al-Zubair kepada penduduk Kufah.

Setiap penduduk dari wilayah tersebut berkata: "Kami kembali hanya untuk menolong teman-teman kami."

Para sahabat bertanya kepada mereka: "Bagaimana bisa kalian mengetahui apa yang menimpa teman-teman kalian, padahal kalian sudah berpisah dan jarak antara kalian sudah sejauh beberapa tahapan perjalanan? Ini pasti urusan yang telah kalian sepakati bersama sebelumnya!"

Mereka menjawab: "Tafsirkanlah sesuka kalian. Kami sudah tidak butuh lagi pada orang ini (Utsman), biarlah dia turun dari jabatannya, dan kami akan membiarkannya." Maksud mereka adalah jika Utsman turun dari jabatan khilafah, mereka akan membiarkannya hidup dengan aman.

Kisah Pengendara dan Surat Palsu

Orang-orang Mesir mengklaim bahwa ketika mereka dalam perjalanan pulang ke negeri mereka, mereka berpapasan dengan seorang kurir yang berkendara dengan cepat. Mereka menangkap dan menggeledahnya, lalu mereka menemukan sebuah surat di dalam wadah airnya atas nama Utsman. Surat itu berisi perintah untuk membunuh sebagian dari mereka, menyalib sebagian yang lain, serta memotong tangan dan kaki sebagian lainnya. Surat tersebut dibubuhi stempel cap cincin Utsman, dan kurir tersebut merupakan salah seorang budak milik Utsman yang mengendarai unta milik Utsman pula.

Ketika mereka kembali ke Madinah, mereka membawa surat tersebut dan memperlihatkannya kepada masyarakat. Masyarakat kemudian mengonfirmasikan hal itu kepada Amirul Mukminin Utsman. Ali menceritakan hal itu kepadanya, maka Utsman berkata: "Demi Allah, aku tidak pernah menulisnya, tidak pernah mendiktenya, dan tidak tahu-menahu tentang hal itu sama sekali. Cincin stempel pun bisa dipalsukan." Orang-orang yang jujur membenarkan perkataan Utsman, sedangkan orang-orang yang ingkar mendustakannya.

Dikatakan bahwa penduduk Mesir pernah meminta kepada Utsman untuk mencopot Ibnu Abi Sarh dari jabatan gubernur mereka dan mengangkat Muhammad bin Abi Bakar sebagai gantinya. Utsman pun mengabulkan permintaan tersebut. Namun, ketika di perjalanan mereka menemukan seorang utusan pembawa pesan yang membawa surat berisi perintah untuk membunuh Muhammad bin Abi Bakar dan orang-masing yang bersamanya, mereka pun kembali dalam keadaan sangat marah kepada Utsman. Mereka membawa dan menunjukkan surat tersebut kepada orang-orang, sehingga hal itu memengaruhi pikiran banyak orang.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur Muhammad bin Ishaq, dari pamannya Abdurrahman bin Yasar, bahwa orang yang membawa surat dari Utsman ke Mesir tersebut adalah Abu al-A'war as-Sulami, yang mengendarai unta milik Utsman.

Ibnu Jarir juga menyebutkan dari jalur ini bahwa para sahabat menulis surat ke berbagai wilayah dari Madinah, memerintahkan orang-orang untuk datang menemui Utsman guna memeranginya.

Ibnu Katsir berkata: "Ini adalah kedustaan atas nama para sahabat. Surat-surat tersebut adalah surat palsu yang dibuat atas nama mereka, sebagaimana mereka juga membuat surat-surat palsu atas nama Ali, Thalhah, dan az-Zubair yang ditujukan kepada kaum Khawarij, yang kemudian dibantah oleh para sahabat tersebut. Begitu pula surat ini, dipalsukan atas nama Utsman, karena beliau tidak pernah memerintahkannya dan tidak mengetahuinya sama sekali."

Kembalinya Kelompok-Kelompok Penentang dan Pengepungan Khalifah di Rumahnya

Saif bin Umar menyebutkan bahwa setelah Utsman mengimami salat Jumat, beliau naik ke atas mimbar lalu berkhotbah kepada mereka. Beliau berkata dalam khotbahnya: "Wahai orang-orang asing! Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah! Demi Allah, sesungguhnya penduduk Madinah mengetahui bahwa kalian adalah orang-orang yang dilaknat melalui lisan Nabi Muhammad . Maka hapuslah kesalahan kalian dengan kebenaran, karena sesungguhnya Allah tidak menghapus keburukan kecuali dengan kebaikan."

Lalu Muhammad bin Maslamah berdiri dan berkata: "Aku bersaksi atas hal itu." Namun, Hakim bin Jabalah langsung menarik dan mendudukkannya. Kemudian Zaid bin Thabit berdiri dan berkata: "Sesungguhnya hal itu ada di dalam Kitabullah." Tiba-tiba seorang pria dari sudut lain bangkit dan berteriak mencelanya, lalu seluruh orang yang ada di sana bergerak secara serentak.

Mereka melempari orang-orang dengan batu hingga mengusir mereka dari masjid, dan mereka juga melempari Utsman hingga beliau jatuh pingsan dari mimbar. Beliau kemudian digotong dan dimasukkan ke dalam rumahnya.

Sejak saat itu, Utsman tidak lagi ke masjid. Pada awalnya beliau hanya keluar sesekali, hingga akhirnya sama sekali tidak keluar rumah di hari-hari terakhir pengepungan. Orang yang mengimami salat berjamaah pada masa-masa itu adalah Al-Ghafiqi bin Harb.

Pengepungan tersebut berlangsung selama lebih dari satu bulan—ada yang mengatakan empat puluh hari—hingga akhirnya beliau gugur sebagai syahid, semoga Allah meridwainya.

Sementara itu, Ibnu Jarir menyebutkan bahwa orang yang mengimami salat berjamaah selama masa pengepungan Utsman adalah Thalhah bin Ubaidillah.

Diriwayatkan pula dari Al-Waqidi bahwa Ali pernah mengimami mereka, begitu juga Abu Ayyub dan Sahl bin Hunaif. Ali sering mengumpulkan mereka dan beliaulah yang mengimami salat Id.

Teks-Teks Penjelasan Mengenai Pembelaan Utsman Terhadap Dirinya dengan Argumen dan Penjelasan

Imam Ahmad berkata: Bahz menceritakan kepada kami, Abu Awanah menceritakan kepada kami, Hushain menceritakan kepada kami, dari Umar bin Jawan, ia berkata: Al-Ahnaf berkata: "Kami berangkat untuk menunaikan ibadah haji lalu kami melewati Madinah. Ketika kami sedang berada di penginapan, datanglah seseorang dan berkata: 'Orang-benar berkumpul di masjid.' Maka aku dan temanku segera pergi ke sana. Ternyata orang-orang sedang mengerumuni beberapa tokoh di dalam masjid. Aku pun menyelinap di antara kerumunan hingga bisa berdiri di dekat mereka. Ternyata di sana ada Ali bin Abi Thalib, az-Zubair, Thalhah, dan Sa'ad bin Abi Waqqas."

Al-Ahnaf melanjutkan: "Tidak lama kemudian, datanglah Utsman sambil berjalan. Beliau bertanya: 'Apakah di sini ada Ali?' Mereka menjawab: 'Ya.' Beliau bertanya lagi: 'Apakah di sini ada az-Zubair?' Mereka menjawab: 'Ya.' Beliau bertanya: 'Apakah di sini ada Thalhah?' Mereka menjawab: 'Ya.' Beliau bertanya: 'Apakah di sini ada Sa'ad bin Abi Waqqas?' Mereka menjawab: 'Ya.' "

Beliau lalu berkata: "Aku meminta kesaksian kalian demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, tahukah kalian bahwa Rasulullah pernah bersabda:

«مَنْ يَبْتَاعُ مِرْبَدَ بَنِي فُلَانٍ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ»

artinya: 'Barang siapa yang membeli tempat penjemuran kurma milik Bani Fulan, maka Allah akan mengampuninya.' Lalu aku membelinya dan mendatangi Rasulullah , aku berkata: 'Aku telah membelinya.' Beliau bersabda: 'Jadikanlah ia perluasan bagi masjid kami, dan pahalanya untukmu.'"

Mereka menjawab: "Ya!" Beliau berkata lagi: "Aku meminta kesaksian kalian demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, tahukah kalian bahwa Rasulullah pernah bersabda:

«مَنْ يَبْتَاعُ بِئْرَ رُومَةَ؟»

artinya: 'Barang siapa yang membeli sumur Rumah?' Maka aku membelinya dengan harga sekian dan sekian. Lalu aku mendatangi Rasulullah dan berkata: 'Aku telah membelinya (yakni sumur Rumah).' Beliau bersabda: 'Jadikanlah ia sebagai tempat minum bagi kaum muslimin, dan pahalanya untukmu.'"

Mereka menjawab: "Ya!" Beliau berkata lagi: "Aku meminta kesaksian kalian demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, tahukah kalian bahwa Rasulullah memandang wajah orang-orang pada saat mempersiapkan Jaisyul Usrah (pasukan perang Tabuk) lalu bersabda:

«مَنْ يُجَهِّزُ هَؤُلَاءِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ؟»

artinya: 'Barang siapa yang mempersiapkan perbekalan untuk mereka, maka Allah akan mengampuninya.' Lalu aku memperlengkapi mereka semua hingga mereka tidak kehilangan seutas tali pengikat unta maupun tali kekang?"

Mereka menjawab: "Ya Allah, benar!"

Utsman lalu berkata: "Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah!" Kemudian beliau pergi. (Hadis ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa'i dari hadis Hushain) .

Imam Ahmad berkata: Ishaq bin Sulaiman menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Mughirah bin Muslim Abu Salamah menyebutkan dari Mathar, dari Nafi', dari Ibnu Umar, bahwa Utsman melihat ke arah para sahabatnya dari atas ketika beliau dikepung, lalu beliau berkata: "Atas dasar apa kalian hendak membunuhku? Padahal aku mendengar Rasulullah bersabda:

«لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ: رَجُلٌ زَنَى بَعْدَ إِحْصَانِهِ فَعَلَيْهِ الرَّجْمُ، أَوْ قَتَلَ عَمْدًا فَعَلَيْهِ الْقَوَدُ، أَوْ ارْتَدَّ بَعْدَ إِسْلَامِهِ فَعَلَيْهِ الْقَتْلُ»

artinya: 'Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga perkara: seseorang yang berzina setelah ia menikah (muhshan) maka ia harus dirajam, atau membunuh dengan sengaja maka ia harus di-qishash, atau murtad setelah memeluk Islam maka ia harus dihukum mati.'

Demi Allah, aku tidak pernah berzina baik di masa jahiliyah maupun setelah masuk Islam. Aku juga tidak pernah membunuh seorang pun sehingga aku harus menyerahkan diriku untuk di-qishash. Dan aku tidak pernah murtad sejak aku memeluk Islam. Sesungguhnya aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya." (Diriwayatkan juga oleh An-Nasa'i) .

Imam Ahmad berkata: Affan menceritakan kepada kami, Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, Yahya bin Said menceritakan kepada kami, dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, ia berkata: "Aku pernah bersama Utsman di dalam rumah ketika beliau dikepung. Kami biasanya memasuki suatu ruangan, yang jika kami masuk ke dalamnya, kami bisa mendengar perkataan orang-orang yang berada di al-Balath (halaman antara masjid dan rumah Utsman) ." Ia melanjutkan: "Suatu hari Utsman masuk ke ruangan tersebut untuk suatu keperluan, lalu beliau keluar menemui kami dengan wajah yang berubah pucat, kemudian berkata: 'Sesungguhnya mereka baru saja mengancam akan membunuhku.' "

Abu Umamah berkata: Kami menjawab: "Semoga Allah melindungimu dari mereka, wahai Amirul Mukminin." Beliau berkata: "Mengapa mereka hendak membunuhku? Padahal aku mendengar Rasulullah bersabda:

«لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ: رَجُلٌ كَفَرَ بَعْدَ إِسْلَامِهِ، أَوْ زَنَى بَعْدَ إِحْصَانِهِ، أَوْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ»

artinya: 'Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga perkara: seseorang yang kafir setelah berislam, atau berzina setelah menikah, atau membunuh orang lain bukan karena qishash.'

Demi Allah, aku tidak pernah berzina baik di masa jahiliyah maupun setelah masuk Islam sama sekali. Aku juga tidak pernah berharap ada pengganti bagi agamaku sejak Allah memberikan hidayah-Nya kepadaku, dan aku tidak pernah membunuh satu jiwa pun. Lalu atas dasar apa mereka hendak membunuhku?" (Hadis ini diriwayatkan oleh para penyusun kitab Sunan yang empat) .

Imam Ahmad berkata: Abu Qathan menceritakan kepada kami, Yunus—yaitu Ibnu Abi Ishaq—menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, ia berkata: Utsman melihat ke arah orang-orang dari atas istananya ketika beliau dikepung, lalu berkata: "Aku meminta kesaksian demi Allah kepada orang yang menyaksikan Rasulullah pada hari di gua Hira ketika gunung bergetar, lalu beliau menghentakkan kakinya dan bersabda:

«اسْكُنْ حِرَاءُ لَيْسَ عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدٌ»

artinya: 'Tenanglah wahai Hira, karena tidak ada di atasmu kecuali seorang Nabi, atau Shiddiq, atau Syahid.' Dan aku sedang bersama beliau." Maka beberapa orang pun memberikan kesaksian untuk beliau.

Kemudian beliau berkata: "Aku meminta kesaksian demi Allah kepada orang yang menyaksikan Rasulullah pada hari Baiat Ridhwan, ketika beliau mengutusku kepada kaum musyrikin penduduk Makkah, lalu beliau bersabda:

«هَذِهِ يَدِي وَهَذِهِ يَدُ عُثْمَانَ»

artinya: 'Ini adalah tanganku dan ini adalah tangan Utsman,' lalu beliau membaiat untukku." Maka beberapa orang pun memberikan kesaksian untuk beliau.

Kemudian beliau berkata: "Aku meminta kesaksian demi Allah kepada orang yang menyaksikan Rasulullah bersabda:

«مَنْ يُوَسِّعُ لَنَا بِهَذَا الْبَيْتِ فِي الْمَسْجِدِ بِبَيْتٍ لَهُ فِي الْجَنَّةِ»

artinya: 'Barang siapa yang memperluas rumah ini untuk masjid kita, maka baginya sebuah rumah di surga.' Lalu aku membelinya dengan harta pribadiku untuk memperluas masjid." Maka beberapa orang pun memberikan kesaksian untuk beliau.

Kemudian beliau berkata: "Aku meminta kesaksian demi Allah kepada orang yang menyaksikan Rasulullah pada hari Jaisyul Usrah bersabda:

«مَنْ يُنْفِقُ الْيَوْمَ نَفَقَةً مُتَقَبَّلَةً؟»

artinya: 'Barang siapa yang berinfak pada hari ini dengan infak yang diterima?' Lalu aku mempersiapkan perbekalan untuk setengah dari jumlah pasukan dengan hartaku." Maka beberapa orang pun memberikan kesaksian untuk beliau.

Kemudian beliau berkata: "Aku meminta kesaksian demi Allah kepada orang yang menyaksikan sumur Rumah dijual airnya kepada musafir (ibnu sabil), lalu aku membelinya dengan hartaku dan menggratiskan airnya bagi musafir." Ia berkata: "Maka beberapa orang pun memberikan kesaksian untuk beliau." (Diriwayatkan pula oleh An-Nasa'i) .

Imam Ahmad berkata: Yahya bin Ismail menceritakan kepada kami, Qais menceritakan kepada kami, dari Abu Sahlah, dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«ادْعُوا لِي بَعْضَ أَصْحَابِي»

artinya: 'Panggilkan untukku salah seorang sahabatku.' Aku bertanya: "Apakah Abu Bakar?" Beliau bersabda: 'Bukan.' Aku bertanya lagi: "Apakah Umar?" Beliau bersabda: 'Bukan.' Aku bertanya: "Apakah sepupumu, Ali?" Beliau bersabda: 'Bukan.' Aku bertanya: "Apakah Utsman?" Beliau menjawab: 'Ya.'

Ketika Utsman datang, Rasulullah bersabda kepada Aisyah: 'Menjauhlah.' Lalu beliau membisikkan sesuatu kepada Utsman, dan seketika wajah Utsman berubah pucat. Maka ketika hari pengepungan di rumahnya terjadi, kami berkata: "Wahai Amirul Mukminin, tidakkah sebaiknya engkau melawan?"

Beliau menjawab: "Tidak, sesungguhnya Rasulullah telah menyampaikan suatu pesan kepadaku, dan aku akan tetap bersabar memegang teguh pesan tersebut." (Hadis ini diriwayatkan secara tunggal oleh Ahmad) .

Muhammad bin Aid ad-Dimasyqi berkata: Al-Walid bin Muslim menceritakan kepada kami, Abdullah bin Lahiah menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Amru, bahwasanya ia mendengar Abu Tsaur al-Fahmi berkata: Aku mendatangi Utsman. Ketika aku sedang berada di dekatnya, aku keluar sejenak dan ternyata utusan dari penduduk Mesir telah kembali. Aku pun masuk lagi menemui Utsman dan memberitahukannya. Beliau bertanya: "Bagaimana pendapatmu tentang mereka?"

Aku menjawab: "Aku melihat keburukan di wajah-wajah mereka, dan mereka dipimpin oleh Ibnu Udayis al-Balawi." Kemudian Ibnu Udayis naik ke atas mimbar Rasulullah lalu mengimami mereka salat Jumat, dan ia mencela Utsman dalam khotbahnya. Maka aku masuk menemui Utsman dan mengabarkan apa yang ia katakan tentang mereka.

Utsman berkata: "Demi Allah, Ibnu Udayis telah berdusta. Kalaulah bukan karena apa yang ia sebutkan, niscaya aku tidak akan menyebutkan hal ini: Sesungguhnya aku adalah orang keempat yang masuk Islam. Dan Rasulullah telah menikahkan aku dengan putri beliau, kemudian ketika ia wafat, beliau menikahkan aku lagi dengan putrinya yang lain. Aku tidak pernah berzina, tidak pernah mencuri, baik di masa jahiliyah maupun setelah masuk Islam. Aku tidak pernah bernyanyi, tidak pernah berangan-angan yang buruk sejak aku masuk Islam. Aku juga tidak pernah menyentuh kemaluanku dengan tangan kananku sejak aku menggunakannya untuk membaiat Rasulullah . Dan sungguh, aku telah mengumpulkan (menghafal) Al-Qur'an pada masa hidup Rasulullah , dan tidaklah berlalu satu hari Jumat pun sejak aku masuk Islam melainkan aku memerdekakan seorang budak pada hari itu. Jika aku tidak menemukannya pada Jumat tersebut, aku akan menggantinya pada Jumat berikutnya.

Diriwayatkan oleh Ya'qub bin Sufyan dari Yahya bin Abdullah bin Bukair dari Ibnu Lahi'ah, ia berkata: "Sungguh, aku menyimpan sepuluh perkara di sisi Rabbku," lalu ia menyebutkan perkara-perkara tersebut.

Ibnu Katsir berkata: "Para pemberontak yang bodoh itu adalah orang-orang yang keras kepala, pengkhianat, zalim, dan pembohong. Karena itulah, mereka tetap bertekad untuk mengepung dan mempersempit ruang geraknya setelah beliau menyampaikan pidato ini, yang di dalamnya menjelaskan keutamaan-keutamaannya dan bahwa beliau tidak berhak diperlakukan seperti itu. Mereka bahkan menghalanginya dari mendapatkan pasokan makanan dan air, melarangnya pergi ke masjid, mengancamnya dengan pembunuhan, serta melarang orang-orang untuk masuk menemui atau keluar dari rumahnya."

Sikap Utsman Setelah Pengepungan Semakin Genting

Pengepungan tersebut berlangsung terus-menerus dari akhir bulan Dzulqa'dah hingga hari Jumat tanggal 18 Dzulhijjah. Sehari sebelum peristiwa itu terjadi, Utsman berkata kepada orang-orang yang berada bersamanya di dalam rumah—yang jumlahnya mendekati 700 orang , di antaranya terdapat Abdullah bin Umar, Abdullah bin az-Zubair, Al-Hasan, Al-Husein, Marwan, Abu Hurairah, serta banyak dari budak-budaknya yang andai saja Utsman membiarkan mereka, niscaya mereka akan membelanya : "Aku meminta dengan sangat kepada setiap orang yang memiliki kewajiban menaatiku agar menahan tangannya (tidak bertempur) dan kembalilah ke rumahnya masing-masing." Di dekatnya saat itu terdapat tokoh-tokoh sahabat dan anak-anak mereka dalam jumlah yang sangat banyak. Beliau juga berkata kepada budak-budaknya: "Siapa saja yang menyarungkan pedangnya, maka ia merdeka."

Maka redamlah pertempuran dari dalam rumah, namun gejolak di luar semakin memanas dan situasi menjadi kian genting. Penyebab sikap Utsman tersebut adalah karena beliau bermimpi yang menunjukkan bahwa ajalnya telah dekat. Beliau pun berserah diri kepada ketetapan Allah demi mengharap janji-Nya dan karena rasa rindu untuk bertemu Rasulullah , serta agar menjadi yang terbaik di antara kedua anak Adam (Habil dan Qabil) sebagaimana yang dikatakan salah satunya ketika saudaranya hendak membunuhnya:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

"Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka; dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim." (QS. Al-Ma'idah: 29)

Orang terakhir yang keluar dari rumah Utsman, setelah beliau mendesak mereka untuk pergi, adalah Al-Hasan bin Ali. Sedangkan panglima perang bagi orang-orang yang berada di dalam rumah adalah Abdullah bin az-Zubair — semoga Allah meridai mereka semua.

Musa bin Uqbah meriwayatkan dari Salim atau Nafi' bahwa Ibnu Umar tidak pernah mengenakan senjata lagi setelah wafatnya Rasulullah kecuali pada hari pengepungan rumah Utsman (Yaum ad-Dar) dan pada hari menghadapi Najdah Al-Haruri.

Abu Ja'far Ar-Razi meriwayatkan dari Ayyub As-Sikhtiyani, dari Nafi', dari Ibnu Umar: Bahwa pada pagi hari itu, Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu menceritakan kepada orang-orang dengan berkata : "Aku melihat Nabi dalam mimpi, lalu beliau bersabda:

"Wahai Utsman, berbukalah di tempat kami."

Maka pada pagi hari itu Utsman berada dalam keadaan berpuasa, dan beliau terbunuh pada hari tersebut. Saif bin Umar berkata, dari Abdurrahman bin Ziyad bin An'am, dari seorang laki-laki, ia berkata: Katsir bin ash-Shalt masuk menemui Utsman lalu berkata: "Wahai Amirul Mukminin, keluarlah dan duduklah di halaman rumah agar orang-orang melihat wajahmu. Jika Anda melakukannya, mereka pasti akan mundur."

Utsman pun tersenyum lalu berkata: "Wahai Katsir, semalam aku bermimpi seolah-olah aku masuk menemui Nabi Allah , dan di dekat beliau ada Abu Bakar dan Umar. Beliau bersabda: 'Kembalilah, karena sesungguhnya kamu akan berbuka di tempatku besok .'" Kemudian Utsman berkata: "Demi Allah, matahari esok hari tidak akan terbenam melainkan aku sudah menjadi penduduk akhirat."

Musa bin Uqbah berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu Alqamah —mantan budak Abdurrahman bin Auf— telah menceritakan kepadaku Ibnu ash-Shalt, ia berkata: Utsman bin Affan sempat tertidur sejenak pada hari beliau terbunuh, lalu beliau terbangun dan berkata: "Andai bukan karena takut orang-orang akan mengira Utsman hanya berandai-andai, niscaya aku akan menceritakan sesuatu kepada kalian."

Ibnu ash-Shalt berkata: Kami menjawab: "Semoga Allah memperbaiki keadaanmu, ceritakanlah kepada kami, karena kami tidak akan mengatakan apa yang dikatakan orang-orang bodoh itu." Utsman berkata: "Sesungguhnya aku melihat Rasulullah dalam tidurku ini, lalu beliau bersabda:

"Sesungguhnya kamu akan menghadiri hari Jumat bersama kami."

Abu Ya'la Al-Maushili dan Abdullah bin Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepadaku Utsman bin Abi Syaibah, menceritakan kepada kami Yunus bin Abi Ya'fur Al-Abdi, dari ayahnya, dari Muslim Abu Said —mantan budak Utsman bin Affan— bahwa Utsman memerdekakan dua puluh orang budak milik keluarganya. Beliau lalu meminta celana panjang (sirwal) kemudian mengikatnya kuat-kuat, padahal beliau tidak pernah memakainya baik pada masa Jahiliyah maupun masa Islam. Beliau berkata: "Sesungguhnya aku melihat Rasulullah dalam mimpi, begitu pula Abu Bakar dan Umar, dan mereka berkata kepadaku: 'Bersabarlah, karena sesungguhnya kamu akan berbuka di tempat kami besok malam.' " Kemudian beliau meminta mushaf Al-Qur'an lalu membentangkannya di hadapannya, dan beliau pun terbunuh ketika mushaf tersebut berada di depannya.

Ibnu Katsir berkata: "Beliau radhiyallahu 'anhu sengaja mengenakan celana panjang pada hari itu semata-mata agar auratnya tidak terbuka jika beliau terbunuh. Sebab, beliau adalah seorang yang sangat pemalu, bahkan para malaikat di langit pun malu kepadanya, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi . Beliau meletakkan mushaf di hadapannya untuk dibaca, berserah diri kepada takdir Allah 'Azza wa Jalla, menahan tangannya dari peperangan, serta memerintahkan dan menegaskan kepada orang-orang agar tidak berperang membelanya. Andai bukan karena ketegasan perintahnya kepada mereka, niscaya mereka akan menolongnya dari musuh-musuhnya. Namun, ketetapan Allah adalah takdir yang pasti terjadi."

Masa Pengepungan dan Tanggal Terbunuhnya Beliau radhiyallahu 'anhu

Masa pengepungan Utsman radhiyallahu 'anhu di rumahnya berlangsung selama empat puluh hari menurut pendapat yang masyhur, dan ada yang mengatakan empat puluh hari lebih beberapa hari.

Asy-Sya'bi berkata: "Lama pengepungan adalah dua puluh dua malam." Kemudian, peristiwa terbunuhnya beliau radhiyallahu 'anhu terjadi pada hari Jumat tanpa ada perselisihan. Saif bin Umar meriwayatkan dari guru-gurunya bahwa peristiwa itu terjadi pada jam terakhir dari hari Jumat tersebut , dan hal ini ditegaskan pula oleh Mush'ab bin az-Zubair serta yang lainnya.

Sementara yang lain mengatakan: Peristiwa itu terjadi pada waktu dhuha (pagi hari), dan ini adalah pendapat yang lebih mendekati kebenaran. Peristiwa tersebut terjadi setelah berlalu delapan belas malam dari bulan Dzulhijjah —menurut pendapat yang masyhur— pada tahun 35 Hijriah. Mengenai letak kuburnya, tanpa ada perselisihan berada di Hasy Kaukab, di sebelah timur pemakaman Baqi'.

Muawiyah pada masa pemerintahannya sangat memperhatikan makam Utsman. Beliau membongkar dinding pembatas antara makam tersebut dengan pemakaman Baqi', lalu memerintahkan orang-orang untuk memakamkan jenazah keluarga mereka di sekitar makam Utsman.

Ibnu Abdil Barr berkata: "Mereka memakamkan Utsman radhiyallahu 'anhu di Hasy Kaukab, sebuah lahan yang dahulunya telah dibeli oleh Utsman sendiri lalu ia masukan sebagai bagian perluasan pemakaman Baqi'."

Bagaimana Terbunuhnya Beliau radhiyallahu 'anhu

Utsman telah memerintahkan dengan tegas kepada orang-orang untuk kembali ke rumah mereka masing-masing, sehingga mereka pun pergi. Tidak ada lagi yang tersisa di sisinya kecuali keluarganya. Tiba-tiba para pemberontak masuk menemuinya melalui pintu dan melompati dinding. Utsman pun segera mendirikan salat dan membukanya dengan membaca surah Thaha.

Beliau adalah seorang yang cepat bacaannya, lalu beliau menyelesaikannya sementara orang-orang di luar sedang dalam kegaduhan yang luar biasa. Pintu dan atap selasar di dekatnya telah dibakar, dan mereka khawatir api tersebut akan menjalar hingga ke Baitul Maal. Setelah selesai dari salatnya, Utsman duduk dengan mushaf terbuka di hadapannya seraya membaca ayat ini:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

"(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, 'Susungguhnya orang-orang telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.'" (QS. Ali 'Imran: 173)

Orang pertama yang masuk menemui beliau adalah seorang laki-laki yang dijuluki "Al-Maut Al-Aswad" (Maut Hitam). Ia mencekik Utsman dengan sangat keras hingga beliau pingsan dan napasnya tersengal-sengal di tenggorokan, lalu orang itu meninggalkannya karena mengira telah berhasil membunuhnya.

Kemudian Ibnu Abi Bakar masuk, lalu ia memegang jenggot Utsman. Namun, ia kemudian menyesali perbuatannya dan langsung keluar.

Setelah itu masuklah orang lain membawa pedang lalu menebaskannya ke arah Utsman. Utsman menangkisnya dengan tangan beliau hingga tangannya terputus. Ada yang mengatakan tangan tersebut benar-benar putus terpisah, dan ada pula yang mengatakan terputus namun tidak sampai terpisah. Hanya saja, Utsman berkata: "Demi Allah, sesungguhnya itu adalah tangan pertama yang menulis surah-surah Al-Mufashshal."

Lalu datang lagi orang lain sambil menghunuskan pedangnya. Nailah binti Al-Farafisah (istri Utsman) menghadangnya untuk melindungi suaminya. Ia mencoba menangkap pedang tersebut, namun orang itu merenggutnya hingga memutus jari-jari Nailah. Orang itu kemudian merangsek maju dan menancapkan pedang ke perut Utsman seraya menumpukan badannya ke pedang tersebut. Ada yang mengatakan bahwa pembunuh itu adalah Sudan bin Humran. Melihat hal itu, seorang budak Utsman datang menerjang lalu menebas Sudan hingga tewas. Namun, budak tersebut kemudian ditebas dan dibunuh oleh seorang laki-laki bernama Qatirah.

Setelah itu, orang-orang durhaka tersebut menjarah apa saja yang ada di dalam rumah. Hal itu terjadi karena salah seorang dari mereka berseru: "Apakah darahnya halal bagi kita sedangkan hartanya haram?"

Maka mereka pun menjarahnya, lalu keluar dan mengunci pintu rumah yang di dalamnya terdapat jenazah Utsman beserta dua orang lainnya yang tewas. Ketika para penjarah sampai di halaman rumah, seorang budak Utsman yang lain melompat ke arah Qatirah lalu membunuhnya. Para pemberontak tidak melewati apa pun melainkan pasti merampasnya, sampai-sampai seorang laki-laki bernama Kultsum At-Tujibi merampas kain selendang milik Nailah. Budak Utsman kemudian memukulnya hingga tewas, dan budak tersebut akhirnya gugur terbunuh pula.

Kemudian orang-orang saling berseru: "Kejarlah baitul mal, jangan sampai kalian didahului!" Para penjaga baitul mal mendengar seruan itu lalu berkata: "Wahai kaum, selamatkan diri, selamatkan diri! Orang-orang itu hanya menginginkan harta dunia." Mereka pun melarikan diri, lalu kaum Khawarij datang dan mengambil seluruh harta di baitul mal yang jumlahnya sangat banyak.

Khalifah bin Khayyat meriwayatkan: Ibnu Ulayyah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Aun, dari Al-Hasan, ia berkata bahwa Watsab mengabarkan kepadanya: "Utsman mengutusku untuk memanggil Al-Asytar." Utsman lalu bertanya: "Apa yang diinginkan orang-orang?"

Al-Asytar menjawab: "Ada tiga pilihan yang tidak bisa tidak, salah satunya harus dipenuhi." Utsman bertanya: "Apa saja itu?"

Al-Asytar berkata: "Mereka memberikanmu pilihan antara menyerahkan urusan kekhalifahan ini kepada mereka lalu kamu berkata: 'Ini urusan kalian, pilihlah siapa saja yang kalian kehendaki'; atau kamu menyerahkan dirimu untuk dihukum qishash. Jika kamu menolak keduanya, maka mereka akan membunuhmu."

Utsman bertanya: "Apakah tidak ada pilihan lain selain ketiganya?" Al-Asytar menjawab: "Tidak, tidak ada pilihan lain."

Utsman lalu berkata: "Adapun jika aku harus melepaskan urusan kekhalifahan ini, aku tidak akan pernah melepaskan pakaian kepemimpinan yang telah Allah pakaikan kepadaku. Adapun jika aku harus diqishash, demi Allah, jika kalian membunuhku, kalian tidak akan pernah saling mencintai lagi setelahku, tidak akan pernah shalat berjamaah bersama lagi setelahku, dan tidak akan pernah memerangi musuh bersama-sama lagi setelahku untuk selamanya."

Watsab berkata: "Kemudian datanglah seorang laki-laki pendek (Ruwaijil) yang penampilannya seperti serigala, ia mengintip dari pintu lalu kembali pergi."

Lalu datanglah Muhammad bin Abi Bakar bersama tiga belas orang pria. Ia memegang janggut Utsman dan menariknya hingga aku mendengar bunyi kertakan gigi Utsman. Muhammad berkata: "Muawiyah tidak bisa membantumu, Ibnu Amir tidak bisa membantumu, dan surat-suratmu pun tidak berguna bagimu!" Utsman berkata: "Lepaskan janggutku, wahai putra saudaraku." Watsab berkata: "Lalu aku melihat Muhammad bin Abi Bakar meminta bantuan kepada salah seorang dari mereka secara khusus—yakni ia memberi isyarat kepadanya."

Orang tersebut kemudian maju membawa sebuah belati lalu menusukkannya ke kepala Utsman. Aku bertanya: "Lalu apa yang terjadi?" Watsab menjawab: "Kemudian mereka mengeroyoknya secara bergantian hingga membunuhnya."

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Aun, bahwa Kinanah bin Bisyr memukul dahi dan bagian depan kepala Utsman dengan tiang besi hingga Utsman jatuh tersungkur pada sisi badannya. Setelah itu, Sudan bin Humran Al-Muradi memukulnya kembali hingga tewas. Adapun Amr bin Al-Hamiq melompat ke dada Utsman saat ia masih mengembuskan napas terakhir, lalu menusuknya sebanyak sembilan kali seraya berkata: "Tiga tusukan ini karena Allah, dan enam tusukan lainnya karena rasa benci yang ada di dalam dadaku terhadapnya."

Telah kuat riwayat dari berbagai jalur bahwa tetesan darah Utsman yang pertama kali jatuh adalah pada firman Allah Ta'ala:

$$\text{﴿فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾}$$

"Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 137)

Diriwayatkan pula bahwa Utsman sedang membaca ayat tersebut pada lembaran mushaf ketika mereka menerobos masuk ke kamarnya. Hal ini sangat mungkin terjadi, karena mushaf tersebut memang sedang diletakkan di hadapannya untuk dibaca.

Dampak Terbunuhnya Utsman رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Ketika peristiwa besar yang sangat keji dan mengerikan ini terjadi, penyesalan mendalam melanda hati orang-orang. Mayoritas orang-orang Khawarij yang bodoh itu menyesali perbuatan mereka. Kondisi mereka mirip dengan kaum terdahulu yang dikisahkan oleh Allah di dalam kitab-Nya, yaitu orang-orang yang menyembah patung anak sapi, sebagaimana firman Allah Ta'ala:

$$\text{﴿وَلَمَّا سُقِطَ فِي أَيْدِيهِمْ وَرَأَوْا أَنَّهُمْ قَدْ ضَلُّوا قَالُوا لَئِن لَّمْ يَرْحَمْنَا رَبُّنَا وَيَغْفِرْ لَنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾}$$

"Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, mereka pun berkata: 'Hubungan kami dengan Tuhan kami sungguh telah terputus, jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan mengampuni kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang rugi'." (QS. Al-A'raf: 149)

Ketika berita terbunuhnya Utsman sampai kepada Az-Zubair—yang saat itu telah keluar dari Madinah—ia mengucapkan: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un," lalu mendoakan rahmat untuk Utsman. Ketika dikabarkan kepadanya bahwa para pembunuhnya kini menyesal, Az-Zubair berkata: "Celakalah mereka!" kemudian ia membaca firman Allah Ta'ala:

$$\text{﴿مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَحْصِمُونَ ۝ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَا إِلَىٰ أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ﴾}$$

"Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiat pun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya." (QS. Yasin: 49-50)

Berita pembunuhan itu juga sampai kepada Ali, maka ia mendoakan rahmat untuknya. Ketika mendengar tentang penyesalan para pembunuhnya, Ali membaca firman Allah Ta'ala:

$$\text{﴿كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِّنكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ﴾}$$

"(Bujukan orang-orang munafik itu) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia: 'Kafirlah kamu!' Maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata: 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam'." (QS. Al-Hasyr: 16)

Dan ketika berita pembunuhan Utsman sampai kepada Sa'ad bin Abi Waqqas, ia memohonkan ampunan serta mendoakan rahmat untuknya. Terhadap orang-orang yang membunuhnya, Sa'ad membaca firman Allah Ta'ala:

$$\text{﴿قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا ۝ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا﴾}$$

"Katakanlah: 'Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?' Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." (QS. Al-Kahfi: 103-104)

Kemudian Sa'ad berdoa: "Ya Allah, buatlah mereka menyesal, kemudian binasakanlah mereka."

Sebagian ulama salaf bahkan bersumpah demi Allah, bahwa tidak ada seorang pun dari para pembunuh Utsman yang mati melainkan dalam keadaan gila.

Hal yang demikian memang sepatutnya terjadi karena beberapa alasan, di antaranya adalah karena terkabulnya doa Sa'ad yang mustajab, sebagaimana yang telah tsabit (tetap) dalam hadits shahih.

Perkataan Para Sahabat dan Tabi'in Mengenai Terbunuhnya Utsman رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Al-Hafiz Ibnu Asakir meriwayatkan dari jalur Syababah bin Sawwar, dari Hafs bin Marwan Al-Bahili, dari Hajjaj bin Abi Utsman As-Sawwaf, dari Zaid bin Wahb, dari Hudzaifah , ia berkata: "Fitnah pertama adalah pembunuhan Utsman, dan fitnah terakhir adalah keluarnya Dajjal. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang mati sedangkan di dalam hatinya terdapat rasa cinta seberat biji sawi saja terhadap pembunuhan Utsman, melainkan ia akan menjadi pengikut Dajjal jika ia menjumpainya. Jika ia tidak menjumpainya (keburu mati), ia akan beriman kepada Dajjal di dalam kuburnya."

Abu Bakar bin Abi Dunya dan yang lainnya berkata: Muhammad bin Sa'ad mengabarkan kepada kami, Amr bin Ashim Al-Kilabi mengabarkan kepada kami, Abu Al-Asyhab menceritakan kepada kami, Auf menceritakan kepadaku, dari Muhammad bin Sirin, bahwa Hudzaifah bin Al-Yaman berkata: "Ya Allah, jika pembunuhan Utsman bin Affan adalah sebuah kebaikan, maka aku tidak memiliki bagian di dalamnya. Namun jika pembunuhannya adalah sebuah keburukan, maka aku berlepas diri darinya. Demi Allah, jika pembunuhannya adalah kebaikan, niscaya peristiwa itu akan menghasilkan susu; namun jika pembunuhannya adalah keburukan, niscaya peristiwa itu akan menghasilkan darah yang pekat." Perkataan ini juga disebutkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya.

Al-Hasan bin Arafah berkata: Ismail bin Ibrahim bin Ulayyah menceritakan kepada kami, dari Said bin Abi Arubah, dari Qatadah, dari Abu Musa Al-Asy'ari, ia berkata: "Jika pembunuhan Utsman merupakan suatu petunjuk, niscaya umat ini akan memerah susu darinya. Akan tetapi pembunuhan itu adalah sebuah kesesatan, sehingga umat ini memerah darah darinya." Riwayat ini terputus sanandnya.

Muhammad bin Sa'ad berkata: Arim bin Al-Fadhl mengabarkan kepada kami, Al-Sha'q bin Huzan mengabarkan kepada kami, Qatadah menceritakan kepada kami, dari Zahdam Al-Jarmi , ia berkata: Ibnu Abbas berkhotbah lalu berkata: "Seandainya manusia tidak menuntut darah Utsman, niscaya mereka akan dihujani batu dari langit." Riwayat ini juga diriwayatkan dari jalur lain darinya.

Al-A'masy dan yang lainnya meriwayatkan dari Tsabit bin Ubaid, dari Abu Ja'far Al-Anshari, ia berkata: "Ketika Utsman terbunuh, aku mendatangi Ali yang sedang duduk di masjid dengan mengenakan sorban hitam, lalu aku berkata kepadanya: 'Utsman telah terbunuh.' Ali lalu berkata: 'Binasalah mereka di akhir zaman'." Dalam riwayat lain disebutkan: "Kerugianlah bagi mereka."

Abu Al-Qasim Al-Baghawi berkata: Ali bin Al-Ja'd mengabarkan kepada kami, Syarik mengabarkan kepada kami, dari Abdullah bin Isa, dari Ibnu Abi Laila, ia berkata: Aku mendengar Ali berada di pintu masjid atau di dekat Ahjar al-Zait seraya meninggikan suaranya berkata: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepada-Mu dari darah Utsman."

Abu Hilal meriwayatkan dari Qatadah, dari Al-Hasan, ia berkata: "Utsman terbunuh ketika Ali sedang tidak berada di tempat, ia berada di tanah miliknya. Ketika berita itu sampai kepadanya, ia berkata: 'Ya Allah, sesungguhnya aku tidak ridha dan tidak pula membantu pembunuhan tersebut'."

Ats-Tsauri dan yang lainnya meriwayatkan dari Thawus, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ali berkata pada hari terbunuhnya Utsman: "Demi Allah, aku tidak membunuhnya, tidak pula memerintahkannya, akan tetapi aku ditumbangkan (tidak berdaya mencegahnya)." Riwayat yang senada dari Ali juga diriwayatkan dari berbagai jalur.

Al-Hafiz yang agung, Abu Al-Qasim Ibnu Asakir, menaruh perhatian besar untuk mengumpulkan jalur-jalur riwayat yang datang dari Ali yang menyatakan bahwa beliau berlepas diri dari darah Utsman. Ali sering bersumpah mengenai hal tersebut dalam khotbah-khotbahnya dan kesempatan lainnya, bahwa beliau tidak membunuhnya, tidak memerintahkan pembunuhannya, tidak membantu, dan tidak pula ridha atasnya. Beliau bahkan telah melarang tindakan tersebut, namun mereka tidak mau mendengarkannya. Hal ini telah valid dari beliau melalui jalur-jalur yang memberikan keyakinan pasti (qath'i) bagi banyak imam ahli hadits.

Telah valid pula dari beliau dari berbagai jalur bahwa beliau berkata: "Sesungguhnya aku berharap agar aku dan Utsman termasuk orang-orang yang difirmankan oleh Allah Ta'ala:"

$$\text{﴿وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ﴾}$$

"Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan." (QS. Al-Hijr: 47)

Dan juga valid dari beliau dari berbagai jalur bahwa beliau membaca ayat: "Maka barangsiapa bertaubat setelah kezalimannya dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Ma'idah: 39) .

Dalam sebuah riwayat, Ali berkata: "Utsman رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ adalah orang yang terbaik di antara kami, yang paling menyambung tali silaturahim, yang paling pemalu, yang paling baik bersucinya, dan yang paling bertakwa kepada Tuhan."

Ya'qub bin Sufyan meriwayatkan dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad bin Zaid, dari Mujalid, dari Umair bin Rudzi Abu Katsirah, ia berkata: Ali berkhotbah lalu kaum Khawarij memotong khotbahnya. Beliau kemudian turun dari mimbar dan berkata: "Perumpamaanku dan perumpamaan Utsman adalah seperti tiga ekor sapu jantan: yang merah, yang putih, dan yang hitam. Mereka tinggal di sarang singa bersama seekor singa. Setiap kali singa itu ingin memangsa salah satu dari mereka, sapi-sapi yang lain menghalanginya.

Lalu singa itu berkata kepada sapi hitam dan sapi merah: 'Sesungguhnya sapi putih ini telah membuat kita semua tercela di sarang ini, maka biarkanlah aku memakannya agar kita tenang.' Keduanya pun membiarkan singa itu, lalu singa itu memakannya.

Kemudian, setiap kali singa itu ingin memangsa salah satunya, yang lain menghalanginya. Singa itu lalu berkata kepada sapi merah: 'Sesungguhnya sapi hitam ini telah membuat kita tercela di sarang ini, dan warna kulitku sama dengan warna kulitmu, seandainya kamu membiarkanku, aku akan memakannya.' Sapi merah pun membiarkannya, lalu singa itu memakan sapi hitam.

Setelah itu, singa berkata kepada sapi merah: 'Sekarang aku akan memakanmu.' Sapi merah berkata: 'Biarkan aku berteriak sebanyak tiga kali.' Singa berkata: 'Silakan.' Sapi merah pun berteriak: 'Ketahuilah, sesungguhnya aku telah dimangsa pada hari ketika sapi putih dimangsa!' (ia mengucapkannya tiga kali) .

Kemudian Ali berkata: 'Dan sesungguhnya aku telah melemah pada hari ketika Utsman terbunuh.' (beliau mengucapkannya tiga kali)."

Muhammad bin Sa'ad berkata: Abdullah bin Idris mengabarkan kepada kami, Ismail bin Abi Khalid mengabarkan kepada kami, dari Qais bin

Abi Hazim, dari Said bin Zaid bin Amr bin Nufail, ia berkata: "Sungguh aku teringat ketika Umar mengikatku bersama saudara perempuannya karena kami masuk Islam. Dan seandainya gunung Uhud runtuh karena apa yang telah kalian perbuat terhadap Ibnu Affan (Utsman), maka runtuhnya gunung itu adalah hal yang pantas terjadi." Demikianlah hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya.

Muhammad bin Aidz meriwayatkan dari Ismail bin Ayyasy, dari Shafwan bin Amr, dari Abdurrahman bin Jubair, ia berkata: Abdullah bin Salam mendengar seorang laki-laki berkata kepada temannya: "Utsman bin Affan telah terbunuh, dan tidak ada dua ekor kambing pun yang saling menanduk karenanya."

Mendengar hal itu, Ibnu Salam berkata: "Benar! Sapi dan kambing memang tidak akan saling menanduk karena terbunuhnya seorang Khalifah, akan tetapi orang-oranglah yang akan saling menanduk dengan menggunakan senjata. Demi Allah, benar-benar akan ada kaum yang saling membunuh karena kematian Utsman, padahal saat ini mereka masih berada di dalam tulang sulbi ayah-ayah mereka dan belum dilahirkan ke dunia."

Muhammad bin Sirin berkata bahwa Aisyah berkata: "Kalian telah membersihkannya layaknya membersihkan wadah (bejana), kemudian setelah bersih kalian justru membunuhnya."

Khalifah bin Khayyat berkata: Abu Qutaibah menceritakan kepada kami, Yunus bin Abi Ishaq menceritakan kepada kami, dari Aun bin Abdullah bin Utbah , ia berkata: Aisyah berkata: "Apakah aku harus marah kepada kalian demi sebuah cambuk, sementara aku tidak boleh marah demi Utsman yang terbunuh oleh pedang? Kalian meminta dia untuk bertaubat, dan ketika dia telah meninggalkan dosa-dosanya hingga menjadi seperti hati yang bersih, kalian malah membunuhnya."

Abu Muawiyah meriwayatkan dari Al-A'masy, dari Khaitsamah, dari Masruq, ia berkata: Aisyah berkata ketika Utsman terbunuh: "Kalian meninggalkannya seperti kain bersih yang suci dari kotoran, kemudian kalian mendekatinya lalu menyembelihnya sebagaimana seekor domba jantan disembelih."

Masruq lalu berkata kepada Aisyah: "Ini semua adalah perbuatanmu! Kamulah yang menulis surat kepada orang-orang dan memerintahkan mereka untuk keluar menentang Utsman."

Aisyah menjawab: "Tidak! Demi Dzat yang diimani oleh orang-orang mukmin dan diingkari oleh orang-orang kafir; aku tidak pernah menulis surat kepada mereka, tidak ada tinta hitam di atas kertas putih (tidak menulis surat sama sekali) sampai aku duduk di tempatku ini."

Al-A'masy berkata: "Mereka (para sahabat) berpendapat bahwa surat itu ditulis atas nama Aisyah." Dan ini adalah sanad yang sahih sampai kepadanya.

Dalam peristiwa ini dan yang seumpamanya terdapat dalil yang nyata bahwa orang-orang Khawarij ini—semoga Allah memburukkan mereka—telah memalsukan surat-surat atas nama para sahabat ke berbagai wilayah untuk menghasut manusia agar memerangi Utsman, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.

Pendapat para ulama tabiin mengenai masalah ini sangat banyak jika kita sebutkan semuanya. Di antaranya adalah perkataan Abu Muslim Al-Khawlani ketika melihat utusan yang datang dari sisinya: "Apakah kalian tidak melewati negeri Tsamud?" Mereka menjawab: "Ya." Beliau berkata: "Aku bersaksi bahwa kalian sama seperti mereka, padahal Khalifah Allah (Utsman) lebih mulia di sisi-Nya daripada unta Nabi Saleh."

Ibnu Ulayyah meriwayatkan dari Yunus bin Ubaid, dari Al-Hasan, ia berkata: "Sekiranya pembunuhan Utsman adalah sebuah petunjuk, tentulah umat ini akan memerah susu (menikmati kebaikan), tetapi pembunuhan itu adalah kesesatan, sehingga umat ini justru memerah darah."

Abu Ja'far Al-Baqir berkata: "Pembunuhan Utsman terjadi dengan cara yang tidak benar."

Sungguh indah perkataan sebagian ulama salaf ketika ditanya tentang Utsman, beliau menjawab: "Beliau adalah pemimpin orang-orang baik, dan korban pembunuhan orang-orang fajir (jahat). Orang yang menelantarkannya akan telantar, dan orang yang menolongnya akan ditolong."

Guru kami, Abu Abdullah Al-Dzahabi, berkata di akhir biografi Utsman: "Orang-orang yang membunuhnya atau menghasut untuk melawannya telah pergi menuju ampunan dan rahmat Allah. Sedangkan orang-orang yang menelantarkannya, mereka juga ditelantarkan dan kehidupan mereka menjadi sengsara. Kekuasaan setelahnya berada di tangan Mu'awiyah dan anak-anaknya, kemudian di tangan menterinya, Marwan, serta delapan orang keturunannya. Mereka (kaum pemberontak) merasa umur Utsman terlalu panjang dan bosan kepadanya, padahal beliau memiliki keutamaan dan jasa yang terdahulu. Maka Allah menjadikan orang yang merupakan sepupunya berkuasa atas mereka selama delapan puluh sekian tahun. Keputusan hukum hanyalah milik Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar."

Sebagian Syair Ratapan untuk Utsman

Mujahid meriwayatkan dari Al-Sya'bi: "Aku tidak pernah mendengar syair ratapan untuk Utsman yang lebih indah daripada perkataan Ka'ab bin Malik:

فَكَفَّ يَدَيْهِ ثُمَّ أَغْلَقَ بَابَهُ ... وَأَيْقَنَ أَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِغَافِلِ

"Maka dia menahan kedua tangannya lalu mengunci pintunya, dan dia yakin bahwa Allah sama sekali tidak pernah lalai."

وَقَالَ لِأَهْلِ الدَّارِ لَا تَقْتُلُوهُمُ ... عَفَا اللَّهُ عَنْ كُلِّ امْرِئٍ لَمْ يُقَاتِلِ

"Dia berkata kepada penghuni rumah: 'Janganlah kalian memerangi mereka, semoga Allah memaafkan setiap orang yang tidak ikut berperang.'"

فَكَيْفَ رَأَيْتَ اللَّهَ صَبَّ عَلَيْهِمُ ... الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ بَعْدَ التَّوَاصُلِ

"Maka bagaimanakah kamu melihat Allah menuangkan permusuhan dan kebencian kepada mereka setelah sebelumnya mereka saling menyambung silaturahmi?"

وَكَيْفَ رَأَيْتَ الْخَيْرَ أَدْبَرَ بَعْدَهُ ... عَنِ النَّاسِ إِدْبَارَ النَّعَامِ الْجَوَافِلِ

"Dan bagaimanakah kamu melihat kebaikan pergi menjauh setelah kematiannya dari manusia, seperti perginya burung-burung unta yang berlarian cepat?"

Hassan bin Thabit juga berkata:

مَاذَا أَرَدْتُمْ مِنْ أَخِي الدِّينِ بَارَكَتْ ... يَدُ اللَّهِ فِي ذَاكَ الْأَدِيمِ الْمُقَدَّدِ

"Apa yang kalian inginkan dari saudara seagamamu ini? Semoga tangan Allah memberkahi kulit yang tersayat-sayat itu."

قَتَلْتُمْ وَلِيَّ اللَّهِ فِي جَوْفِ دَارِهِ ... وَجِئْتُمْ بِأَمْرٍ جَائِرٍ غَيْرِ مُهْتَدِ

"Kalian telah membunuh wali Allah di dalam rumahnya sendiri, dan kalian datang dengan membawa perkara yang zalim lagi sesat."

فَهَلَّا رَعَيْتُمْ ذِمَّةَ اللَّهِ بَيْنَكُمْ ... وَأَوْفَيْتُمْ بِالْعَهْدِ عَهْدِ مُحَمَّدِ

"Mengapa kalian tidak menjaga jaminan Allah di antara kalian, dan mengapa kalian tidak menepati janji, yaitu janji Nabi Muhammad?"

أَلَمْ يَكُ فِيكُمْ ذَا بَلَاءٍ مُصَدَّقٍ ... وَأَوْفَاكُمْ عَهْدًا لَدَى كُلِّ مَشْهَدِ

"Bukankah dia di antara kalian adalah orang yang perjuangannya diakui, dan orang yang paling menepati janji di setiap peristiwa?"

فَلَا ظَفِرَتْ أَيْمَانُ قَوْمٍ تَبَايَعُوا ... عَلَى قَتْلِ عُثْمَانَ الرَّشِيدِ الْمُسَدَّدِ

"Maka tidak akan beruntung tangan-tangan kaum yang saling berbaiat untuk membunuh Utsman yang mendapat petunjuk lagi lurus."

Penjelasan Sikap para Sahabat yang Tidak Memerangi Para Pemberontak Utsman Radhiyallahu 'Anhu

Jika ada yang bertanya: Bagaimana bisa pembunuhan Utsman radhiyallahu 'anhu terjadi di Madinah, padahal di sana terdapat sekumpulan tokoh-tokoh besar dari kalangan sahabat radhiyallahu 'anhum?

Maka jawabannya ada beberapa poin:

Pertama: Banyak dari mereka, bahkan sebagian besar atau seluruhnya, tidak mengira bahwa urusannya akan sampai pada tahap pembunuhan. Sebab, kelompok-kelompok pemberontak itu pada awalnya tidak mengincar nyawanya secara langsung, melainkan menuntut salah satu dari tiga hal: Utsman mengundurkan diri, menyerahkan Marwan bin Al-Hakam kepada mereka, atau mereka akan membunuhnya.

Para sahabat berharap agar Marwan diserahkan kepada orang-orang, atau Utsman mengundurkan diri sehingga terbebas dari kesulitan yang sangat menjepit ini.

Adapun mengenai pembunuhan, tidak ada seorang pun yang menyangka hal itu akan terjadi, dan tidak mengira bahwa mereka akan berani bertindak sejauh ini, sampai akhirnya terjadilah apa yang telah terjadi.

Kedua: Para sahabat sebenarnya telah membela dan melindungi Utsman dengan pembelaan yang sangat kuat. Namun, ketika pengepungan semakin ketat, Utsman memerintahkan dengan tegas kepada orang-orang agar menahan tangan mereka dan menyarungkan senjata mereka.

Maka mereka pun menuruti perintah tersebut, sehingga para pemberontak berhasil mencapai apa yang mereka inginkan. Walaupun demikian, tidak ada seorang pun yang mengira bahwa beliau akan dibunuh sama sekali.

Ketiga: Orang-orang Khawarij ini memanfaatkan momentum ketidakhadiran banyak penduduk Madinah yang sedang pergi melaksanakan ibadah haji. Di sisi lain, pasukan bantuan dari berbagai wilayah belum tiba untuk menolong. Maka mereka mengambil kesempatan emas ini—semoga Allah memburukkan mereka—dan melakukan perbuatan yang sangat keji tersebut.

Keempat: Jumlah pasukan Khawarij tersebut mendekati dua ribu pejuang, dan bisa jadi penduduk Madinah yang ada saat itu tidak memiliki jumlah pasukan sebanyak itu. Hal ini dikarenakan orang-orang sedang berada di perbatasan-perbatasan dan wilayah-wilayah luar di segala penjuru. Bersamaan dengan itu, banyak sahabat yang memilih menjauh dari fitnah ini dan menetap di rumah mereka. Di antara mereka yang mendatangi masjid, tidaklah datang melainkan membawa pedang yang diletakkan di pangkuannya saat duduk.

Sementara itu, orang-orang Khawarij telah mengepung rumah Utsman. Seandainya para sahabat ingin mengusir mereka dari rumah tersebut, kemungkinan hal itu tidak bisa dilakukan. Akan tetapi, para tokoh sahabat telah mengutus anak-anak mereka ke rumah Utsman untuk membela dan melindunginya radhiyallahu 'anhu.

Namun, masyarakat tiba-tiba dikejutkan ketika para pemberontak berhasil menguasai rumah tersebut dari arah luar, membakar pintunya, dan memanjat dinding menemui Utsman hingga akhirnya mereka membunuhnya.

Adapun apa yang disebutkan oleh sebagian orang bahwa ada sebagian sahabat yang menelantarkannya dan rida atas pembunuhannya, maka riwayat ini sama sekali tidak sahih dari seorang pun sahabat bahwa ada yang rida atas pembunuhan Utsman radhiyallahu 'anhu. Sebaliknya, mereka semua membenci peristiwa tersebut, mengutuknya, dan mencela pelakunya.


Sumber Kisah:

Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alexander Agung dan Mimpi Menguasai Arab: Ekspedisi yang Gagal karena Kematian

Pengangkatan Utsman ibnu Affan Sebagai Khalifah

Gesyem si Arab dan Tembok Yerusalem: Kisah Perlawanan yang Mengubah Peta Politik