Ekspedisi Rahasia Romawi ke Yaman: Misteri Rute dan Kota yang Hilang
Mengapa Jejak Ekspedisi Romawi Sulit Dilacak?
Sejarawan Strabo (64 SM – 24 M) menuliskan
kisah ekspedisi gagal Aelius Gallus ke Arabia Selatan pada
sekitar 25 SM. Namun, ia sangat sedikit menyebut nama tempat. Ia hanya
mencatat Negrani (Najran), Marsiaba (kota
terjauh yang dicapai), dan beberapa nama lain. Padahal jarak antara Leuke Kome
(pelabuhan di Hijaz) ke Najran sangat jauh, melewati wilayah luas yang tidak
disebutkan namanya.
Mengapa Strabo begitu pelit informasi? Kemungkinan karena ia
tidak ikut serta dalam ekspedisi itu—meskipun beberapa peneliti menduga ia
ikut. Informasinya mungkin berasal dari laporan resmi yang disampaikan
sahabatnya, Aelius Gallus sendiri. Atau, ia sengaja tidak ingin membuka terlalu
banyak rahasia militer Romawi.
Akibatnya, para ahli modern berselisih paham tentang rute
yang ditempuh pasukan Romawi. Mari ikuti perdebatan mereka.
Negrani = Najran: Titik Terang di Tengah Kegelapan
Hampir semua peneliti sepakat bahwa Negrani (disebut
juga Negrana) adalah kota Najran di Yaman utara, dekat
perbatasan Saudi. Ini adalah titik penting karena Najran adalah pusat
perdagangan dan pertanian di jalur rempah.
Dari sini, pasukan Romawi berjalan selama enam hari hingga
mencapai sebuah sungai, di mana terjadi pertempuran besar. Menurut Strabo (yang
sangat pro-Romawi), 10.000 orang Arab tewas sementara Romawi
hanya kehilangan dua orang! Ini jelas propaganda—tidak mungkin dalam
pertempuran sesungguhnya. Tapi setidaknya kita tahu bahwa pertempuran itu
terjadi di suatu lembah sungai di utara Najran.
Siapa "Aretas"? Bukan Raja Nabatean yang Itu
Setelah meninggalkan Leuke Kome, pasukan Romawi
memasuki "tanah Aretas" . Strabo menjelaskan bahwa
Aretas ini adalah kerabat Raja Obadas dari Nabatea. Jadi
Aretas bukanlah Raja Aretas IV dari Petra yang terkenal, melainkan seorang
penguasa lokal di wilayah utara Yaman atau selatan Hijaz.
Peneliti Glaser berpendapat bahwa
"Tanah Aretas" adalah wilayah Bani al-Harits bin Ka'b,
sebuah suku besar yang mendiami daerah antara Najran dan Wadi Tathlith. Nama
"Aretas" adalah bentuk Yunani dari "al-Harits". Jadi,
Romawi menyebut seluruh wilayah itu dengan nama penguasanya yang terkenal.
Jadi, ketika Strabo mengatakan "tanah Aretas",
yang dimaksud adalah wilayah kekuasaan seorang raja Arab bernama
al-Harits—bukan nama resmi kerajaan.
Ararene: Padang Pasir yang Tidak Ramah
Setelah tanah Aretas, pasukan memasuki wilayah bernama Ararene.
Nama ini mungkin berasal dari kata Arab 'Ar'aran atau 'Ar'arin (nama
tempat yang disebut Al-Hamdani). Ini adalah daerah gurun yang tandus, sulit
air, dan hanya dihuni oleh suku-suku badui.
Ararene adalah daerah 'Ar'ar di utara
Najran? Atau mungkin merujuk pada padang pasir yang memisahkan Najran dari
dataran tinggi Yaman? Tidak ada yang pasti.
Sabus dan Sungai Pertempuran
Strabo menyebut seorang raja bernama Sabos yang
menguasai Ararene. Peneliti modern menduga "Sabos" adalah bentuk
Yunani dari kata Arab Sha'b (yang berarti "suku"
atau "kaum"). Jadi, bukan nama pribadi, melainkan gelar atau sebutan
untuk pemimpin suku.
Adapun sungai tempat pertempuran besar, Glaser
mengidentifikasinya sebagai Wadi al-Khard di daerah Al-Jawf (Yaman
utara). Jika benar, maka Romawi telah masuk ke jantung wilayah Ma'in kuno
sebelum memasuki kota-kota bersejarah di lembah itu.
Perdebatan Rute: Daratan Tinggi atau Pesisir?
Para ahli berbeda pendapat tentang rute yang ditempuh Gallus
dari Leuke Kome ke Najran.
- Glaser berpendapat
bahwa Romawi berjalan di sepanjang lereng timur Pegunungan Sarat (dataran
tinggi tengah Arab), menghindari jalur karavan utama agar tidak bertemu
banyak perlawanan. Mereka melewati wilayah Yatsrib (Madinah), lalu ke
Qasim, terus ke selatan hingga Najran.
- Sprenger berpendapat
mereka melalui Wadi Idham menuju Madinah, lalu ke Najd
dan Al-Falj, baru ke Najran.
- Forster meyakini
mereka dari Leuke Kome (yang diyakininya sebagai Al-Haura) ke Yatsrib,
lalu ke Qasim, memasuki jantung Najd, lalu ke Najran, lalu ke Yaman.
Perbedaan ini menunjukkan betapa terbatasnya pengetahuan
kita tentang geografi Arabia kuno.
Kota-Kota yang Direbut Romawi (Menurut Pliny dan Strabo)
Pliny the Elder (wafat 79 M) menulis daftar kota
yang dihancurkan atau diduduki Gallus, yang tidak disebut Strabo. Daftarnya
adalah:
- Negrana =
Najran
- Nestus
/ Nesca / Nescus = kota kuno Nashq (sekarang
Al-Baydha) di Al-Jawf, ibukota Kerajaan Ma'in
- Magusus
/ Magusa = dekat Majzar (selatan Al-Baydha)
- Caminacum =
dekat Kamna (sebuah situs kuno)
- Labaetia
/ Labetia = mungkin Laqba atau Lawq (nama
tempat yang tidak dikenal)
- Mariba
/ Mariaba = bukan Ma'rib Saba'? (akan dibahas)
- Caripeta =
kota terjauh yang dicapai Romawi
Dio Cassius (sejarawan Romawi kemudian)
menyatakan bahwa kota Athrula (bukan Caripeta) adalah titik
terjauh.
Jadi, bahkan sumber Romawi sendiri tidak konsisten.
Marsiaba: Bukan Ma'rib?
Pertanyaan paling kontroversial: Apakah Marsiaba yang
disebut Strabo dan Mariba yang disebut Pliny adalah Ma'rib,
ibu kota Kerajaan Saba' (Sheba)?
Sebagian besar peneliti abad ke-19 dan awal abad ke-20
menyatakan ya. Namun, Glaser dan beberapa ahli modern meragukan.
Alasan mereka:
- Strabo
mengatakan Marsiaba adalah ibu kota Rhamanitae, bukan Saba'.
Jika itu Ma'rib, seharusnya Strabo menyebut Saba'.
- "Rhamanitae" mungkin
adalah ejaan salah dari "Raiman" atau "Radhman" –
nama suku di sekitar Al-Jawf, bukan Saba'.
- Ma'rib
sangat besar dan kuat. Tidak mungkin Romawi merebutnya hanya dalam 6 hari
pengepungan, apalagi dengan pasukan yang sudah kelelahan.
Glaser berpendapat bahwa Marsiaba adalah kota benteng
di Al-Jawf, mungkin Ma'rib lain (bukan ibukota
Saba'), atau sebuah kota bernama Mariaba yang sekarang belum
diidentifikasi. Ia juga mencatat bahwa nama-nama tempat yang disebut Pliny
(Nesca, Magusus, Caminacum, Labaetia) semuanya terletak di sekitar Al-Jawf,
bukan di sekitar Ma'rib Saba'.
Siapa Rhamanitae dan Ilasaros?
Rhamanitae (atau Ramanitai) adalah nama suku
atau rakyat yang dikalahkan Romawi. Peneliti modern menduga ini adalah ejaan
Yunani dari:
- Raiman (sebuah
suku atau wilayah di Yaman utara)
- Radhman (disebut
dalam prasasti Arab Selatan)
- Ragwan (nama
tempat)
- Ra'ban
/ Rabban (nama suku dalam prasasti)
Ilasaros (atau Illasarus), raja Rhamanitae,
kemungkinan adalah "al-Sharh" (Yashrah?) – nama yang
umum di kalangan raja-raja Arab Selatan. Ia mungkin adalah al-Sharh
Yakhdhib, seorang pangeran Himyar yang sedang berkonflik dengan Saba' pada
masa itu. Jika benar, maka kedatangan Romawi justru menguntungkan al-Sharh
karena mengalihkan perhatian musuh-musuhnya.
Von Wissmann berpendapat bahwa Rhamanitae
sebenarnya adalah suku Raiman, dan "Marsiaba" adalah
Ma'rib. Penamaan "Marsiaba" sebagai ibu kota Rhamanitae terjadi
karena komandan Romawi mendengar bahwa pembela Ma'rib adalah seorang qayl (kepala
suku) dari Raiman, lalu mereka mengira seluruh kota itu milik Raiman.
Mengapa Tidak Ada Prasasti Arab yang Menyebut Ekspedisi
Ini?
Fakta paling aneh: Tidak satu pun prasasti Arab
Selatan (Musnad) yang menyebut invasi Romawi ini. Padahal, peristiwa
sebesar itu pasti meninggalkan jejak.
Para ahli seperti Halévy dan Philby mencari,
namun tidak menemukan. Glaser mengusulkan bahwa frasa "Dhu
Shamut" dalam prasasti Halévy 535 mungkin merujuk pada
"Romawi Suriah". Tapi ini spekulatif.
Penulis kitab Al-Mufashshal memberikan
jawaban sederhana: Kita belum menggali cukup dalam. Semua prasasti
yang ditemukan selama ini berada di permukaan tanah. Belum ada penggalian
arkeologi sistematis di situs-situs utama Yaman. Suatu hari nanti, mungkin akan
ditemukan dokumen-dokumen yang mengungkap hubungan diplomasi antara Saba' dan
Romawi.
Kesimpulan: Ekspedisi yang Gagal, Misteri yang Abadi
Ekspedisi Aelius Gallus ke Arabia Selatan pada 25 SM
adalah kegagalan total. Romawi tidak mendapat apa-apa selain korban
jiwa karena penyakit, panas, dan kekurangan air. Namun, dari kegagalan ini,
Romawi belajar untuk tidak lagi menyerang Arabia dari darat. Mereka beralih ke
strategi laut dan diplomasi.
Adapun identifikasi rute dan kota yang dikunjungi
Gallus—masih menjadi teka-teki hingga kini. Najran pasti, Al-Jawf kemungkinan,
Ma'rib masih diperdebatkan. Yang jelas, Strabo dan Pliny tidak sempurna.
Catatan mereka penuh dengan kesalahan, kekurangan informasi, dan bias Romawi.
Kita harus menunggu para arkeolog masa depan yang berani
menggali dalam-dalam kota-kota kuno Yaman untuk menemukan jawaban.
Sumber Kisah
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar