Kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan R.A (41-60 H) :Biografi dan Kekhalifahan Beliau
Silsilah dan Keluarganya:
Beliau adalah Muawiyah bin Abi Sufyan Shakhr bin Harb bin
Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay, Abu Abdurrahman Al-Qurasyi
Al-Umawi, paman para mukmin (karena saudarinya, Ummu Habibah, adalah istri
Nabi), dan penulis wahyu Tuhan semesta alam. Beliau masuk Islam bersama ayah
dan ibunya, Hindun binti Utbah bin Rabi'ah bin Abdi Syams, pada hari pembebasan
kota Mekah (Fathu Makkah). Namun, diriwayatkan dari Muawiyah bahwa ia berkata,
"Aku masuk Islam pada hari Umrah Qadha', tetapi aku menyembunyikan
keislamanku dari ayah dan ibuku hingga hari Fathu Makkah."
Ayahnya adalah salah satu tokoh terpandang kaum Quraisy pada
masa Jahiliah, dan kepemimpinan Quraisy beralih kepadanya setelah Perang Badar,
sehingga dialah panglima perang dari pihak mereka. Beliau adalah pemimpin yang
ditaati dan memiliki kekayaan yang melimpah. Ketika masuk Islam, ayahnya
berkata, "Wahai Rasulullah, perintahkah aku agar aku memerangi orang-orang
kafir sebagaimana dulu aku memerangi orang-orang Islam." Nabi menjawab,
"Ya." Ayahnya berkata lagi, "Dan jadikanlah Muawiyah sebagai
penulis di hadapanmu." Nabi menjawab, "Ya."
Maksudnya adalah Muawiyah bertugas menuliskan wahyu untuk
Rasulullah ﷺ
bersama para penulis wahyu lainnya, semoga Allah meridai mereka semua.
Istri-Istri dan Anak-Anaknya
Beliau menikahi Fakhitah binti Qarazhah bin Abdi 'Amr bin
Naufal bin Abdi Manaf, dan dari pernikahan ini lahirlah Abdurrahman—yang
menjadi dasar nama julukan (kunyah) Muawiyah—di mana Ath-Thabari menyebutkan
bahwa ia meninggal saat masih kecil, serta Abdullah yang memiliki kelemahan
akal. Beliau juga memiliki putri bernama Hindun yang dinikahi oleh Abdullah bin
Amir bin Kuraiz.
Beliau kemudian menikahi Kunud binti Qarazhah (saudari
Fakhitah) secara terpisah setelah menduda darinya, dan Kunud inilah yang
menemani beliau saat menaklukkan Siprus.
Beliau juga menikahi Naila binti Umarah Al-Kalbiyah dan
beliau mengaguminya.
Beliau pun menikahi Maysun binti Bahdal bin Unaif bin Duljah
bin Qunafah Al-Kalbi. Maysun adalah seorang wanita yang sangat tegas,
terpandang, berparas rupawan, memiliki jiwa kepemimpinan, berakal cerdas, dan
taat beragama. Dari Maysun lahirlah anaknya yang paling terkenal, Yazid, serta
seorang putri bernama Ramlah yang kemudian dinikahi oleh Amr bin Utsman bin
Affan.
Keislaman dan Keutamaannya:
Muawiyah masuk Islam pada tahun pembebasan kota Mekah (Fathu
Makkah). Diriwayatkan bahwa ia berkata, "Aku masuk Islam pada hari
Al-Qadhiyyah (Perjanjian Hudaibiyah), tetapi aku menyembunyikan keislamanku
dari ayahku. Ketika ayahku mengetahuinya, ia berkata kepadaku: 'Ini saudaramu,
Yazid, dia lebih baik darimu karena tetap memeluk agama kaumnya.' Maka aku
menjawab: 'Aku tidak akan menyia-nyiakan diriku.'"
Muawiyah berkata, "Ketika Rasulullah memasuki Mekah
pada masa Umrah Qadha', aku benar-benar telah membenarkan (beriman kepada)
beliau. Kemudian, ketika tahun Fathu Makkah tiba, aku menampakkan keislamanku.
Aku datang menemui beliau, lalu beliau menyambutku dengan hangat dan aku pun
menulis (wahyu) di hadapan beliau."
Al-Waqidi mengatakan, "Muawiyah ikut serta bersama Nabi
dalam Perang Hunain, dan Nabi memberinya seratus ekor unta serta empat puluh
uqiyah emas." Muawiyah berteman dekat dengan Rasulullah, menuliskan wahyu
di hadapan beliau bersama para penulis lainnya, serta meriwayatkan banyak hadis
dari Rasulullah yang tercantum dalam kitab Shahihain (Shahih Bukhari dan
Shahih Muslim) maupun kitab-kitab Sunan dan Musnad lainnya. Hadis
darinya juga diriwayatkan oleh sekelompok sahabat dan tabiin.
Imam Ahmad, Muslim, dan Al-Hakim dalam kitab Mustadrak-nya
meriwayatkan dari jalur Abu Awanah Al-Waddhah bin Abdullah Al-Yasykuri, dari
Abu Hamzah Imran bin Abi Atha', dari Ibnu Abbas yang berkata: "Dulu aku
sedang bermain bersama anak-anak, tiba-tiba Rasulullah ﷺ datang. Aku mengira
beliau datang hanya kepadaku, maka aku bersembunyi di balik pintu. Beliau lalu
menghampiriku dan menepuk pundakku, kemudian bersabda:
«اذْهَبْ
فَادْعُ لِي مُعَاوِيَةَ» “Pergilah, dan panggillah Muawiyah
kemari untukku.” Saat itu Muawiyah bertugas menulis wahyu. Ibnu Abbas
berkata: "Aku pun pergi memanggilnya, lalu ada yang memberi tahu: 'Dia
sedang makan.' Aku kembali kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: 'Dia sedang makan.' Beliau
bersabda: «اذْهَبْ
فَادْعُهُ» “Pergilah, panggillah dia.” Aku mendatanginya untuk
kedua kali, dan dijawab lagi: 'Dia sedang makan.' Aku kembali kepada Rasulullah
ﷺ
dan memberi tahu beliau. Pada kali ketiga, beliau bersabda: «لَا أَشْبَعَ اللَّهُ بَطْنَهُ»
“Semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya.” Ibnu Abbas berkata:
"Maka sejak itu, ia tidak pernah merasa kenyang."
Aku (penulis) berkata: Muawiyah justru mendapatkan manfaat
dari doa ini, baik untuk urusan dunia maupun akhiratnya.
Untuk urusan dunia, ketika menjabat sebagai gubernur di
Syam, ia makan tujuh kali dalam sehari. Dihidangkan kepadanya wadah besar
berisi banyak daging dan bawang, lalu ia memakannya. Dalam sehari ia makan
daging sebanyak tujuh kali, ditambah banyak sekali manisan dan buah-buahan. Ia
berkata, "Demi Allah, aku tidak berhenti karena kenyang, melainkan karena
lelah mengunyah." Ini adalah sebuah nikmat dan kapasitas lambung yang
diidam-idamkan oleh semua raja.
Adapun untuk urusan akhirat, Imam Muslim menyertakan hadis
ini setelah hadis lain yang diriwayatkannya bersama Al-Bukhari serta ulama
lainnya, dari berbagai jalur dari sekelompok sahabat, bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
«اللَّهُمَّ
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ ، فَأَيُّمَا عَبْدِ سَبَبْتُهُ أَوْ جَلَدْتُهُ أَوْ
دَعَوْتُ عَلَيْهِ، وَلَيْسَ لِذَلِكَ أَهْلًا، فَاجْعَلْ ذَلِكَ كَفَّارَةً
وَقُرْبَةً تُقَرِّبُهُ بِهَا عِنْدَكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» “Ya Allah,
sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia. Maka dari itu, siapa saja dari
hamba-Mu yang aku cela, aku cambuk, atau aku doakan keburukan baginya, padahal
ia tidak layak menerimanya, maka jadikanlah hal itu sebagai pelebur dosa dan
sarana yang mendekatkan dirinya di sisi-Mu pada hari kiamat kelak.” Melalui
penggabungan hadis pertama dengan hadis ini, Imam Muslim menyusun sebuah
catatan keutamaan bagi Muawiyah, dan beliau tidak mencantumkan riwayat selain
itu untuknya.
Sementara itu, Abu Al-Qasim Ath-Thabarani dan Ibnu Asakir
mencantumkan banyak hadis yang palsu (maudhu'). Sungguh mengherankan, dengan
keluasan hafalan dan wawasan mereka, mengapa mereka tidak memberi peringatan
akan kepalsuan, kejanggalan, serta kelemahan para perawi hadis-hadis tersebut.
Hanya Allah yang memberi petunjuk menuju kebenaran.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami
Abdurrahman bin Mahdi, dari Muawiyah (yaitu Ibnu Shalih), dari Yunus bin Saif,
dari Al-Harits bin Ziyad, dari Abu Ruhm, dari Al-Irbadh bin Sariyah As-Sulami
yang berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ mengajak kami untuk sahur pada bulan
Ramadan dengan bersabda:
«هَلُمَّ
إِلَى الْغَدَاءِ الْمُبَارَكِ» “Kemarilah menuju hidangan yang berkah
ini (sahur).” Kemudian aku mendengar beliau berdoa: «اللَّهُمَّ عَلَّمْ مُعَاوِيَةَ
الْكِتَابَ وَالْحِسَابَ، وَقِهِ الْعَذَابَ» “Ya Allah,
ajarkanlah Muawiyah membaca/menulis serta berhitung, dan jagalah ia dari siksa
(neraka).” Hadis ini diriwayatkan secara mandiri oleh Ahmad, dan Ibnu Jarir
juga meriwayatkannya dari hadis Ibnu Mahdi.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Ali bin
Bahr, menceritakan kepada kami Al-Walid bin Muslim, menceritakan kepada kami
Said bin Abdul Aziz, dari Rabi'ah bin Yazid, dari Abdurrahman bin Abi Umayrah
Al-Azdi, dari Nabi ﷺ
bahwa beliau menyebut tentang Muawiyah lalu berdoa:
«اللَّهُمَّ
اجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا وَاهْدِ بِهِ» “Ya Allah,
jadikanlah ia seorang pemberi petunjuk yang dibimbing (di atas kebenaran), dan
berilah petunjuk kepada orang lain melaluinya.” Demikian pula diriwayatkan
oleh At-Tirmidzi, dari Muhammad bin Yahya, dari Abu Mushir, dari Said bin Abdul
Aziz dengan jalur yang sama, dan ia berkata: "Hadis ini berstatus hasan
gharib."
Ibnu Asakir memberikan perhatian besar pada hadis ini.
Beliau mengulasnya secara panjang lebar, mendalam, indah, dan menarik,
memberikan banyak manfaat, ulasan yang matang, serta kritik yang baik. Semoga
Allah merahmatinya, betapa banyak pembahasan di mana beliau tampil lebih unggul
daripada para ahli hafal hadis dan kritikus lainnya. Kemudian Ibnu Asakir
berkata: "Hadis paling sahih yang diriwayatkan mengenai keutamaan Muawiyah
adalah hadis Abu Hamzah dari Ibnu Abbas, bahwa Muawiyah adalah penulis Nabi ﷺ
sejak ia masuk Islam." Hadis ini dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya.
Setelah itu, hadis Al-Irbadh: "Ya Allah, ajarkanlah Muawiyah
menulis/membaca." Lalu disusul hadis Ibnu Abi Umayrah: "Ya
Allah, jadikanlah ia seorang pemberi petunjuk yang dibimbing."
Aku (penulis) berkata: Al-Bukhari telah menyebutkan dalam
kitab Al-Manaqib, bab Sebutan tentang Muawiyah bin Abi Sufyan:
Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Bisyr, menceritakan kepada kami
Al-Mu'afa, dari Utsman bin Al-Aswad, dari Ibnu Abi Mulaikah yang berkata:
"Muawiyah melakukan salat witir satu rakaat setelah salat Isya, dan di
dekatnya ada seorang mantan budak milik Ibnu Abbas. Orang itu kemudian
mendatangi Ibnu Abbas (dan menceritakannya), maka Ibnu Abbas berkata:
'Biarkanlah dia, karena sesungguhnya dia telah bersahabat dengan Rasulullah ﷺ.'"
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Maryam, menceritakan
kepada kami Nafi' bin Umar, menceritakan kepada kami Ibnu Abi Mulaikah, ia
berkata: Pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbas, "Bagaimana pendapatmu
tentang Amirul Mukminin Muawiyah? Dia tidak melakukan salat witir melainkan
hanya satu rakaat saja." Ibnu Abbas menjawab, "Dia benar,
sesungguhnya dia adalah seorang yang fikih (paham agama)."
Dari Humran bin Aban, dari Muawiyah, ia berkata:
"Sesungguhnya kalian benar-benar melakukan suatu salat, padahal kami telah
menemani Rasulullah ﷺ
namun kami tidak pernah melihat beliau melakukan kedua salat itu, dan beliau
benar-benar melarang keduanya, yaitu dua rakaat setelah salat Asar."
Kemudian Al-Bukhari menyebutkan setelah itu: Sebutan
tentang Hindun binti Utbah bin Rabi'ah: Bahwa Aisyah berkata: Hindun binti
Utbah datang lalu berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah, dahulu tidak ada
satu pun penghuni kemah di atas muka bumi ini yang paling aku inginkan agar
mereka terhina melainkan penghuni kemahmu. Namun hari ini, tidak ada satu pun
penghuni kemah di atas muka bumi ini yang paling aku inginkan agar mereka mulia
melainkan penghuni kemahmu." Maka Nabi bersabda:
«وَأَيْضًا
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ» “Demikian pula aku, demi Dzat yang
jiwaku berada di tangan-Nya.” Hindun berkata lagi, "Wahai Rasulullah,
sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang pria yang sangat kikir, apakah berdosa
jika aku memberi makan keluarga kami dari hartanya?" Nabi bersabda: «لَا،
بِالْمَعْرُوفِ» “Tidak (berdosa), asalkan dengan cara yang baik.”
Pujian dalam sabda beliau: "Demikian pula aku, demi
Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya," bermakna bahwa dahulu Nabi
ingin agar Hindun, keluarganya, dan seluruh orang kafir terhina dalam keadaan
mereka masih kafir. Namun ketika mereka masuk Islam, Nabi ingin agar mereka
mulia, maka Allah pun memuliakan mereka, yaitu para penghuni kemahnya.
Amru bin Yahya bin Said Al-Umawi meriwayatkan dari kakeknya,
ia berkata: Muawiyah pernah menemui Umar dengan mengenakan pakaian hiasan
berwarna hijau. Para sahabat pun memandangi pakaian tersebut. Ketika Umar
melihat hal itu, ia segera bangkit menghampirinya sambil membawa cambuk kayu
(dirrah) lalu memukulinya. Muawiyah pun berkata, "Wahai Amirul Mukminin,
bertakwalah kepada Allah atas diriku!" Umar lalu kembali ke tempat
duduknya, maka orang-orang bertanya kepadanya, "Mengapa engkau memukulnya
wahai Amirul Mukminin, padahal tidak ada orang seperti dia di kaummu?!"
Umar menjawab, "Demi Allah, aku tidak melihat darinya kecuali kebaikan,
dan tidak ada kabar yang sampai kepadaku tentangnya kecuali kebaikan. Akan
tetapi aku melihatnya—sambil Umar mengisyaratkan dengan tangannya—dan aku ingin
merendahkan egonya yang mulai meninggi."
Abu Dawud meriwayatkan bahwa Abu Maryam Al-Azdi mengabarkan
kepadanya, ia berkata: Aku menemui Muawiyah, lalu ia berkata, "Maa
an'amanaa bika abaa fulaan?" (Sungguh menyenangkan kedatanganmu wahai
Abu Fulan)—sebuah ungkapan yang diucapkan oleh orang Arab untuk mengekspresikan
kegembiraan atas kedatangan seseorang. Aku menjawab, "Ada sebuah hadis
yang telah aku dengar dan ingin aku sampaikan kepadamu, aku mendengar
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«مَنْ
وَلَاهُ اللَّهُ - عَزَّوَجَلَ - شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاحْتَجَبَ
دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ احْتَجَبَ اللَّهُ دُونَ حَاجَتِهِ
وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ» “Barang siapa yang Allah 'Azza wa
Jalla serahi tugas untuk mengurusi urusan kaum muslimin, lalu ia menutup diri
dari kebutuhan, kepentingan, dan kemiskinan mereka, maka Allah akan menutup
diri dari kebutuhan, kepentingan, dan kemiskinan dirinya.” Abu Maryam
berkata: "Mendengar itu, Muawiyah langsung mengangkat seorang petugas
khusus untuk mengurusi segala keperluan masyarakat." Hadis ini juga
diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ulama lainnya.
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami Marwan
bin Muawiyah Al-Fazari, menceritakan kepada kami Habib bin Asy-Syahid, dari Abu
Mijlaz, ia berkata: Muawiyah pernah keluar menemui orang-orang, lalu mereka
berdiri untuk menghormatinya, maka Muawiyah berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ
bersabda:
«مَنْ
أَحَبَّ أَنْ يَتَمَثَّلَ لَهُ الرِّجَالُ قِيَامًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ
مِنَ النَّارِ»
“Barang siapa yang suka apabila orang-orang berdiri tegak
untuk menghormatinya, maka hendaklah ia bersiap menduduki tempat duduknya di
neraka.”
Telah sahih dalam kitab Shahihain (Bukhari &
Muslim) dari hadis Az-Zuhri, dari Humaid bin Abdurrahman, dari Muawiyah bahwa
ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ
يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهُهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ
وَاللَّهُ يُعْطِي ، وَلَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى
الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ
أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ»
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka
Dia akan memahamkannya dalam urusan agama. Sesungguhnya aku hanyalah yang
membagikan, sedangkan Allah-lah yang memberi. Dan akan selalu ada sekelompok
dari umatku yang menang di atas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang
yang mencampakkan mereka maupun orang yang menyelisihi mereka, hingga datangnya
keputusan Allah sedangkan mereka dalam keadaan menang.”
Dalam riwayat lain disebutkan: "Dan mereka tetap
berada dalam keadaan demikian."
Az-Zuhri berkata: Telah menceritakan kepadaku Al-Qasim bin
Muhammad, bahwa ketika Muawiyah datang ke Madinah untuk menunaikan ibadah haji,
ia menemui Aisyah. Keduanya berbincang berdua saja dan tidak ada seorang pun
yang menyaksikan percakapan mereka kecuali Zakwan Abu Amr, mantan budak Aisyah.
Aisyah berkata, "Apakah engkau merasa aman jika aku menyembunyikan seorang
pria di sini untuk membunuhmu sebagai balasan atas tindakanmu yang membunuh
saudaraku, Muhammad (bin Abi Bakar)?" Muawiyah menjawab, "Engkau benar."
Muawiyah lalu berbicara kepadanya, dan setelah Muawiyah menyelesaikan
perkataannya, Aisyah mengucapkan syahadat, kemudian menyebutkan tentang
petunjuk dan agama yang hak yang dibawa oleh Nabi ﷺ yang diutus oleh Allah, serta apa yang
telah digariskan oleh para khalifah setelah beliau. Aisyah mendorong Muawiyah
untuk mengikuti jejak urusan mereka, dan ia berbicara banyak tentang hal itu
tanpa melewatkan apa pun. Ketika Aisyah selesai menyampaikan perkataannya,
Muawiyah berkata kepadanya, "Demi Allah, engkau adalah orang yang paling
mengetahui tentang urusan Rasulullah ﷺ, seorang penasihat yang tulus lagi penuh kasih sayang, serta
pemberi nasihat yang sangat fasih. Engkau telah mendorong kepada kebaikan dan
memerintahkannya, serta tidaklah engkau memerintahkan kami kecuali pada apa
yang mendatangkan kebaikan bagi kami, dan engkau adalah orang yang sangat layak
untuk ditaati." Aisyah dan Muawiyah pun banyak berbincang-bincang. Ketika
Muawiyah berdiri untuk pergi, ia bersandar pada Zakwan dan berkata, "Demi
Allah, aku tidak pernah mendengar seorang orator selain Rasulullah ﷺ
yang lebih fasih bicaranya daripada Aisyah."
Muhammad bin Sa'd berkata: Telah menceritakan kepada kami
Khalid bin Mukhallad Al-Bajali, menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal,
telah menceritakan kepadaku Alqamah bin Abi Alqamah, dari ibunya, ia berkata:
Muawiyah bin Abi Sufyan datang ke Madinah, lalu ia mengirim utusan kepada
Aisyah untuk meminta, "Kirimkanlah kepadaku pakaian jubah tebal
(Anbijaniyah) milik Rasulullah ﷺ dan beberapa helai rambut beliau." Aisyah pun
mengirimkannya bersamaku untuk aku bawa, hingga aku masuk menemui Muawiyah.
Muawiyah lalu mengambil jubah tersebut dan memakainya, kemudian mengambil
rambut beliau dan meminta air, lalu membasuhnya (mengambil berkah dari air
basuhan rambut Nabi), meminum air tersebut, dan mengusapkannya ke seluruh
kulitnya.
Ibnu Wahb meriwayatkan dari Malik, dari Az-Zuhri, ia
berkata: Aku bertanya kepada Said bin Al-Musayyib tentang para sahabat
Rasulullah ﷺ,
maka ia berkata kepadaku, "Dengarlah wahai Zuhri! Barang siapa yang
meninggal dunia dalam keadaan mencintai Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta
bersaksi untuk sepuluh sahabat yang dijanjikan masuk surga, serta mendoakan
rahmat untuk Muawiyah, maka sudah selayaknya bagi Allah untuk tidak mempersulit
hisabnya (perhitungannya) kelak."
Muhammad bin Yahya bin Said berkata: Ibnu Al-Mubarak pernah
ditanya tentang Muawiyah, maka ia menjawab, "Apa yang bisa aku katakan
tentang seorang pria yang ketika Rasulullah ﷺ mengucapkan: 'Sami'allahu liman
hamidah' (Semoga Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya), lalu ia
yang berada di belakang beliau mengucapkan: 'Rabbana wa lakal hamd'
(Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala pujian)?" Kemudian ditanyakan lagi
kepadanya, "Mana yang lebih utama? Dia atau Umar bin Abdul Aziz?"
Ibnu Al-Mubarak menjawab, "Sungguh, debu yang berada di lubang hidung
Muawiyah saat bersama Rasulullah ﷺ itu jauh lebih baik dan lebih utama daripada Umar bin Abdul
Aziz."
Ulama lain meriwayatkan dari Ibnu Al-Mubarak, ia berkata:
"Muawiyah bagi kami adalah sebuah batu ujian. Barang siapa yang kami lihat
memandangnya dengan pandangan sinis/merendahkan, maka kami akan mencurigai
keislamannya terhadap kaum tersebut," yang dimaksud adalah para sahabat
Nabi.
Abu Taubah Ar-Rabi' bin Nafi' Al-Halabi berkata:
"Muawiyah adalah tirai penutup bagi para sahabat Rasulullah ﷺ.
Jika seseorang berani membuka tirai tersebut, niscaya ia akan berani lancang
terhadap apa yang ada di baliknya."
Al-Maimuni berkata: Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku,
"Wahai Abu Al-Hasan, jika engkau melihat seorang pria menyebut salah
seorang dari sahabat Nabi dengan keburukan, maka curigailah keislamannya."
Al-Fadhl bin Ziyad berkata: Aku mendengar Abu Abdullah (Imam
Ahmad) ditanya tentang seorang pria yang mencela Muawiyah dan Amru bin Al-Ash,
"Apakah orang tersebut boleh disebut sebagai seorang Rafidhi (Syi'ah
ekstrem)?" Imam Ahmad menjawab, "Dia tidak akan berani bersikap
lancang terhadap keduanya melainkan karena ia memiliki niat buruk yang busuk.
Tidaklah seseorang mencela salah seorang dari sahabat Rasulullah ﷺ
melainkan karena di dalam hatinya terdapat kebusukan."
Muawiyah—semoga Allah meridainya—pernah berkata:
"Manusia yang paling utama adalah orang yang berakal dan penyantun; yaitu
orang yang jika diberi ia bersyukur, jika diuji ia bersabar, jika marah ia
menahan diri, jika berkuasa/mampu membalas ia memaafkan, jika berjanji ia
menepati, jika berbuat khilaf ia memohon ampunan."
Ibnu As-Simak berkata: Muawiyah berkata, "Setiap
manusia sanggup aku buat rida kecuali orang yang mendengki atas suatu nikmat;
karena sesungguhnya tidak ada yang bisa membuatnya rida melainkan hilangnya
nikmat tersebut dari diriku."
Az-Zuhri meriwayatkan dari Abdul Malik bin Marwan, dari Abu
Bahriyyah, ia berkata: Muawiyah berkata, "Harga diri (muru'ah) itu
terletak pada empat hal: menjaga kehormatan diri dalam Islam, mengelola harta
dengan baik, menjaga hubungan baik dengan saudara, dan menolong tetangga."
Sifat-Sifat dan Sifat Santunnya
Beliau adalah seorang pria yang berkulit putih, berpostur
tinggi, berambut botak di bagian depan (ajlah), serta memiliki rambut kepala
dan jenggot yang memutih, yang biasa beliau warnai dengan daun pacar (hinna)
dan katam. Di akhir usianya, beliau sempat terkena penyakit kelumpuhan wajah
(bell's palsy), sehingga beliau sering menutupi wajahnya dan berkata,
"Semoga Allah merahmati seorang hamba yang mendoakan kesembuhan bagiku,
karena sesungguhnya aku telah diuji pada bagian penampilanku yang paling bagus
dan yang paling terlihat dari diriku." Beliau adalah seorang yang sangat
penyantun, berwibawa, berjiwa pemimpin, menjadi tokoh terpandang di tengah
masyarakat, dermawan, adil, serta pemberani.
Al-Madaini meriwayatkan dari Shalih bin Hassan, ia berkata:
Salah seorang pakar firasat Arab pernah melihat Muawiyah ketika ia masih kecil,
lalu orang itu berkata, "Sesungguhnya aku menduga anak ini kelak akan
memimpin kaumnya." Mendengar itu, ibunya (Hindun) berkata, "Celakalah
dia jika dia hanya memimpin kaumnya saja!"
Muhammad bin Sa'd berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ali
bin Muhammad bin Abdullah bin Abi Saif, ia berkata: Pada suatu hari Abu Sufyan
memandang ke arah Muawiyah yang saat itu masih kecil, lalu ia berkata kepada
Hindun, "Sesungguhnya anakku ini memiliki kepala yang besar, dan dia
sangat pantas untuk memimpin kaumnya." Hindun menjawab, "Hanya
kaumnya saja?! Celakalah dia jika dia tidak memimpin seluruh bangsa Arab secara
keseluruhan." Dahulu Hindun sering menggendongnya saat masih kecil sambil
mendendangkan syair:
إِنَّ
بُنَيَّ مُعْرِقٌ كَرِيمُ مُحَبَّبٌ فِي أَهْلِهِ حَلِيمُ
لَيْسَ
بِفَحَّاشٍ وَلَا لَئِيمُ وَلَا بِطُخْرُورٍ وَلَا سَئُومُ
صَخْرُ
بَنِي فَهْرِ بِهِ زَعِيمُ لَا يُخْلِفُ الظَّنَّ وَلَا يَخِيمُ
Sesungguhnya anak kecilku ini mengakar keturunan mulia
lagi dermawan
Dicintai di tengah keluarganya lagi penyantun
Bukanlah seorang yang suka berkata keji ataupun berjiwa
hina
Bukan pula orang yang lemah tak berdaya ataupun pembosan
Pemimpin dari keturunan Bani Fihr bersamanya
Dia tidak akan mengecewakan harapan dan tidak akan mundur
ketakutan
Abdul Razzaq berkata: Telah menceritakan kepada kami Ma'mar,
dari Az-Zuhri, dari Humaid bin Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami
Al-Miswar bin Makhramah bahwa ia pernah menjadi utusan yang menemui Muawiyah.
Al-Miswar berkata: Ketika aku masuk menemuinya—aku mengira beliau berkata: aku
mengucapkan salam kepadanya—maka Muawiyah langsung bertanya, "Apa yang
melatarbelakangi celaanmu terhadap para pemimpin wahai Miswar?" Al-Miswar
berkata: Aku menjawab, "Tinggalkanlah kami dari pembahasan ini, dan bersikap
baiklah pada urusan kedatangan kami ini." Namun Muawiyah berkata,
"Engkau harus mengutarakan kepadaku apa yang mengganjal di dalam
hatimu." Al-Miswar berkata: "Maka aku tidak menyisakan satu cacat pun
yang aku ketahui pada dirinya melainkan aku sampaikan semuanya kepadanya."
Mendengar itu, Muawiyah berkata, "Tidak ada seorang pun yang bebas dari
dosa. Apakah engkau sendiri memiliki dosa-dosa yang engkau takutkan akan
membinasakanmu jika Allah tidak mengampuninya untukmu?" Al-Miswar berkata:
Aku menjawab, "Ya." Muawiyah berkata, "Lantas, apa yang
membuatmu merasa lebih berhak untuk mengharapkan ampunan daripada diriku? Demi
Allah, apa yang aku urusi berupa perbaikan di antara manusia, menegakkan
hukum-hukum Allah (hudud), berjihad di jalan Allah, serta urusan-urusan besar
yang kami hitung maupun yang tidak sanggup kami hitung, itu jauh lebih banyak
daripada apa yang engkau urusi. Dan sesungguhnya aku berada di atas koridor
agama di mana Allah menerima amal-amal kebaikan dan mengampuni dosa-dosa
keburukan. Demi Allah, selain itu, tidaklah aku dihadapkan pada pilihan antara
Allah dan urusan selain-Nya, melainkan aku pasti akan memilih Allah di atas
yang lainnya." Al-Miswar berkata: "Maka aku pun merenungkan apa yang
dikatakannya kepadaku, dan aku menyadari bahwa dia telah mematahkan
argumenku." Al-Miswar berkata: "Sejak saat itu, jika Al-Miswar
menyebut tentang Muawiyah setelah peristiwa tersebut, ia selalu mendoakan
kebaikan untuknya." Dan Syu'aib telah meriwayatkan dari Az-Zuhri, dari
Urwah, dari Al-Miswar dengan kisah yang serupa.
Abdul Razzaq meriwayatkan dari Ma'mar, dari Hammam, ia
berkata: Aku mendengar Ibnu Abbas berkata: "Aku tidak pernah melihat
seorang pria yang lebih pantas dan berbakat untuk menjadi seorang raja selain
daripada Muawiyah."
Suatu hari Abdul Malik bin Marwan menyebut tentang Muawiyah
lalu ia berkata, "Aku tidak pernah melihat orang yang seperti dirinya
dalam hal kesantunan, ketahanan (menahan amarah), dan kedermawanannya."
Qabishah bin Jabir berkata, "Aku tidak pernah melihat
seseorang yang lebih agung kesantunannya, lebih besar jiwa kepemimpinannya,
lebih mendalam ketenangannya, lebih lembut sikapnya, dan lebih dermawan dalam
hal kebaikan daripada Muawiyah."
Anak saudarinya, Abdurrahman bin Ummi Al-Hakam, pernah
mengadu kepada Muawiyah, "Sesungguhnya si fulan telah mencaciku."
Maka Muawiyah berkata kepadanya, "Rendahkanlah dirimu (tundukkan kepalamu)
di hadapan cacian itu, niscaya ia akan berlalu dan melewatimu."
Ibnu Al-A'rabi berkata: Seorang pria pernah berkata kepada
Muawiyah, "Aku tidak pernah melihat orang yang lebih rendah (menghinakan
diri) daripada engkau." Maka Muawiyah menjawab, "Tentu ada, yaitu
orang yang menghadapi orang lain dengan perkataan seperti ini."
Kedermawanan dan Kebaikannya
Hisyam bin Urwah meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata:
Muawiyah pernah mengirimkan uang sebesar seratus ribu (dirham) kepada Ummul
Mukminin Aisyah. Beliau (Aisyah) langsung membagi-bagikannya pada hari itu juga
hingga tidak tersisa satu dirham pun. Pelayannya lalu berkata kepada beliau,
"Mengapa engkau tidak menyisakan satu dirham saja untuk kita membeli
daging?" Aisyah menjawab, "Seandainya tadi engkau mengingatkanku,
niscaya aku akan melakukannya."
Suatu kali, Al-Hasan dan Al-Husain datang berkunjung
menemuinya, maka Muawiyah langsung memberi mereka hadiah seketika itu juga
sebesar dua ratus ribu (dirham). Muawiyah berkata kepada keduanya, "Belum
pernah ada seorang pun sebelumku yang memberikan hadiah sebesar ini." Maka
Al-Husain membalas, "Dan engkau juga tidak pernah memberikan hadiah kepada
seorang pun yang lebih utama daripada kami."
Al-Asma'i meriwayatkan, ia berkata: Al-Hasan dan Abdullah
bin Az-Zubair datang berkunjung menemui Muawiyah. Muawiyah lalu berkata kepada
Al-Hasan, "Selamat datang wahai putra Rasulullah ﷺ," kemudian beliau memerintahkan untuk
memberinya hadiah sebesar tiga ratus ribu (dirham). Lalu beliau berkata kepada
Ibnu Az-Zubair, "Selamat datang wahai putra bibi Rasulullah ﷺ,"
kemudian memerintahkan untuk memberinya hadiah sebesar seratus ribu (dirham).
Keindahan Siasat (Politik) dan Pemerintahannya
Ibnu Duraid meriwayatkan dari Abu Hatim, dari Al-'Utbi, ia
berkata: Muawiyah pernah berpidato, "Wahai manusia, sesungguhnya aku
bukanlah orang yang terbaik di antara kalian, dan sesungguhnya di antara kalian
benar-benar ada orang yang lebih baik dariku; seperti Abdullah bin Umar,
Abdullah bin Amru, dan tokoh-tokoh utama lainnya. Akan tetapi, boleh jadi aku
adalah orang yang paling membawa manfaat bagi kalian dalam pemerintahan, paling
tegas terhadap musuh kalian, dan paling melimpah dalam memberikan fasilitas
(kesejahteraan) kepada kalian."
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata, "Aku
benar-benar mengetahui dengan apa Muawiyah bisa menguasai manusia; mereka itu
apabila terbang (marah/emosi) maka Muawiyah akan hinggap (tenang/mengalah), dan
apabila mereka hinggap, maka dialah yang terbang."
Muawiyah pernah menulis surat kepada gubernurnya, Ziyad:
"Sesungguhnya tidak sepantasnya kita memimpin manusia dengan satu siasat
saja; jika kita hanya menggunakan kelembutan maka mereka akan meremehkan dan
bertindak sewenang-wenang, dan tidak pula dengan kekerasan karena kita akan
membawa manusia pada kebinasaan. Akan tetapi, jadikanlah dirimu sebagai
perlambang ketegasan dan kekerasan, sedangkan aku menjadi perlambang
kelembutan, keramahan, serta kasih sayang. Dengan demikian, apabila ada orang yang
merasa takut, ia akan menemukan pintu tempatnya berlindung (yaitu mengadu
kepada Muawiyah)."
Muawiyah pernah berkata kepada Abu Bakrah, "Apakah ada
sebuah pesan yang ingin engkau sampaikan kepada kami?" Abu Bakrah
menjawab, "Ya, aku berpesan kepadamu wahai Amirul Mukminin agar engkau
memperhatikan dirimu sendiri serta rakyatmu, dan beramallah dengan saleh.
Sesungguhnya engkau telah memegang perkara yang sangat agung, yaitu
kekhalifahan Allah dalam mengurusi makhluk-Nya. Maka bertakwalah kepada Allah,
karena sesungguhnya engkau memiliki batas usia yang tidak akan bisa engkau
lewati, dan di belakangmu ada pengejar (maut) yang sangat cepat. Hampir tiba
saatnya engkau mencapai batas itu, lalu pengejar itu akan menyusulmu, sehingga
engkau akan kembali kepada Dzat yang akan menanyakanmu tentang apa yang telah
engkau jalani, dan Dia lebih mengetahui hal itu daripada dirimu. Sesungguhnya
ini hanyalah persoalan pertanggungjawaban (hisab) dan penghentian, maka jangan
sekali-kali engkau mengutamakan apa pun di atas rida Allah."
Abu Dawud meriwayatkan dari hadis Ats-Tsauri, dari Tsaur bin
Yazid, dari Rasyid bin Sa'd Al-Muqra'i Al-Himshi, dari Muawiyah yang berkata:
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«إِنَّكَ
إِنْ تَتَبَّعْتَ عَوْرَاتِ النَّاسِ أَفْسَدْتَهُمْ أَوْ : كِدْتَ أَنْ
تُفْسِدَهُمْ» “Sesungguhnya jika engkau mencari-cari kesalahan (aib)
manusia, niscaya engkau akan merusak mereka atau hampir merusak mereka.”
Abu Ad-Darda' berkata, "Itu adalah sebuah kalimat yang didengar oleh
Muawiyah, lalu Allah memberikan manfaat kepadanya melalui kalimat
tersebut." Hadis ini diriwayatkan secara mandiri oleh Abu Dawud, yang
menunjukkan makna bahwa Muawiyah adalah seorang pemimpin yang memiliki rekam
jejak yang baik, suka memaafkan kesalahan, mengampuni dengan indah, dan banyak
menutupi aib rakyatnya, semoga Allah Ta'ala merahmatinya.
Abu Al-Qasim Al-Baghawi meriwayatkan dari Suwaid bin Sa'id,
dari Dhimam bin Ismail, dari Abu Qabil yang berkata: Dahulu Muawiyah selalu
mengutus seorang pria yang dipanggil Abu Al-Jaisy setiap hari. Pria tersebut
berkeliling ke tempat-tempat perkumpulan untuk bertanya apakah ada seseorang
yang baru melahirkan bayi, atau apakah ada utusan yang baru datang. Apabila ia
dikabari tentang hal itu, ia langsung mencatatnya ke dalam diwan (buku
administrasi negara), yang bermaksud agar bayi atau utusan tersebut diberikan
tunjangan atau santunan dari negara.
Wasiatnya
Lebih dari satu ulama menyebutkan: Ketika Muawiyah
menghadapi detik-detik wafatnya, putranya (Yazid) sedang pergi berburu. Maka
Muawiyah memanggil Adh-Dhahhak bin Qais Al-Fihri—yang menjabat sebagai kepala
keamanan Damaskus—dan Muslim bin Uqbah. Beliau memberikan wasiat kepada
keduanya agar menyampaikan salam kepada Yazid dan berpesan kepadanya: Hendaknya
ia memperhatikan dan menjaga penduduk Hijaz. Jika penduduk Irak meminta
kepadanya setiap hari untuk memecat seorang pejabat dan mengangkat pejabat yang
lain, maka lakukanlah; karena memecat satu orang pejabat itu lebih engkau sukai
daripada ada seratus ribu mata pedang yang terhunus kepadamu. Hendaklah ia juga
berpesan kebaikan kepada penduduk Syam, menjadikan mereka sebagai penolongnya,
serta memenuhi hak-hak mereka.
Muhammad bin Sa'd berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ali
bin Muhammad, dari Muhammad bin Al-Hakam, dari orang yang menceritakannya,
bahwa ketika Muawiyah hendak wafat, ia mewasiatkan agar setengah dari hartanya
dikembalikan ke Baitul Mal. Seolah-olah ia ingin membersihkan hartanya; hal itu
karena dahulu Umar bin Al-Khattab sering membagi dua harta kekayaan para
gubernurnya.
Wafatnya
Seorang pria dari penduduk Madinah pernah menulis surat
kepada Muawiyah bin Abi Sufyan—semoga Allah meridainya—berisi bait syair:
إِذَا
الرِّجَالُ وَلَدَتْ أَوْلَادُهَا وَاضْطَرَبَتْ مِنْ كِبَرٍ أَعَضَادُهَا وَجَعَلَتْ
أَسْقَامُهَا تَعْتَادُهَا فَهِيَ زُرُوعٌ قَدْ دَنَا حَصَادُهَا Apabila orang-orang telah melahirkan anak-anak
mereka, dan lengan-lengan mereka telah gemetar karena usia tua Serta
penyakit-penyakit telah mulai sering mendatangi mereka, maka mereka laksana
tanaman yang telah dekat masa panennya Mendengar syair itu, Muawiyah
berkata, "Dia sedang mengumumkan berita kematian diriku kepada diriku
sendiri."
Muhammad bin Uqbah berkata: Ketika kematian telah menjemput
Muawiyah, ia berkata, "Duhai seandainya aku hanyalah seorang pria biasa
dari kaum Quraisy yang tinggal di Dzi Thuwa, dan aku tidak pernah memegang
urusan pemerintahan ini sedikit pun."
Abu As-Sa'ib Al-Makhzumi berkata: Ketika Muawiyah menghadapi
wafatnya, ia melantunkan bait syair seorang penyair:
إِنْ
تُنَاقِشُ يَكُنْ نِقَاشُكَ يَا رَبِّ عَذَابًا لَا طَوْقَ لِي بِالْعَذَابِ
أَوْ
تُجَاوِزُ تَجَاوُزَ الْعَفْوِ فَاصْفَحْ عَنْ مُسِيءٍ ذُنُوبُهُ كالتُّرَابِ
Jika Engkau mengaudit (menghisab dengan teliti), maka
audit-Mu ya Rabbi akan menjadi siksaan, dan aku tidak memiliki kemampuan
menahan siksa
Namun jika Engkau memaafkan dengan ampunan-Mu, maka
maafkanlah pelaku dosa yang dosa-dosanya laksana tumpukan debu
Muhammad bin Sirin berkata: Ketika ajal menjemput Muawiyah,
ia mulai meletakkan pipinya ke tanah, kemudian ia membalikkan wajahnya dan
meletakkan pipinya yang sebelah lagi sambil menangis dan berdoa, "Ya
Allah, sesungguhnya Engkau telah berfirman dalam kitab-Mu:
﴿إِنَّ
اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن
يَشَاءُ ﴾ “Sesungguhnya Allah tidak akan
mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari
(syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48) Ya Allah,
maka jadikanlah aku termasuk ke dalam golongan orang yang Engkau kehendaki
untuk Engkau ampuni."
Al-Utbi meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata: Muawiyah saat
menjelang kematiannya melantunkan bait syair gubahan seseorang ketika ia dalam
keadaan sakaratulmaut:
هُوَ
الْمَوْتُ لَا مَنْجَى مِنَ الْمَوْتِ وَالَّذِي نُحَاذِرُ بَعْدَ الْمَوْتِ
أَدْهَى وَأَفْظَعُ Itulah
kematian, tidak ada tempat selamat dari kematian; dan apa yang kita takuti
setelah kematian itu jauh lebih dahsyat dan mengerikan Kemudian beliau
berdoa, "Ya Allah, ringankanlah kesalahan, ampunilah ketergelinciran, dan
maafkanlah dengan kesantunan-Mu atas kebodohan orang yang tidak mengharapkan
selain-Mu. Sesungguhnya ampunan-Mu sangatlah luas, tidak ada tempat lari bagi
pelaku dosa dari kesalahannya melainkan hanya kepada-Mu."
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa beliau—semoga Allah
meridainya—wafat di kota Damaskus pada bulan Rajab tahun 60 Hijriah.
Adh-Dhahhak bin Qais mensalatinya setelah salat Zuhur di Masjid Damaskus,
kemudian beliau dimakamkan di pemakaman Babush Shaghir. Ini adalah pendapat
mayoritas ulama (jumhur), dan usia beliau saat itu telah melewati 80 tahun.
Masa kekuasaannya secara penuh/mandiri adalah sejak bulan
Jumada tahun 41 Hijriah ketika Al-Hasan bin Ali membaiatnya di Adzruh, sehingga
masa pemerintahannya berlangsung selama sembilan belas tahun dan tiga bulan,
sedangkan masa jabatannya saat menjadi gubernur di wilayah Syam adalah selama
dua puluh tahun.
Masa Kekhalifahannya
Pemberhentian Muawiyah dari Jabatan Gubernur Syam
Ketika Ali bin Abi Thalib memegang tampuk kekhalifahan,
banyak dari panglimanya yang menyarankan agar beliau memberhentikan Muawiyah
dari jabatan Gubernur Syam, dan mengangkat Sahl bin Hunaif sebagai gantinya.
Ali pun memberhentikannya, namun keputusan pemberhentian tersebut tidak
berjalan lancar bagi Ali. Sekelompok penduduk Syam justru bersatu mendukung
Muawiyah dan menghalangi Ali untuk menguasai wilayah tersebut. Muawiyah sendiri
telah menyatakan, "Aku tidak akan membaiatnya sampai ia menyerahkan para pembunuh
Utsman kepadaku, karena Utsman dibunuh secara zalim. Padahal Allah Ta'ala telah
berfirman:
﴿وَمَن
قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَنًا﴾
“Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya
Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya.” (QS. Al-Isra: 33)
Ibnu Abbas meriwayatkan, ia berkata, "Aku selalu yakin
bahwa Muawiyah kelak akan memegang kekuasaan dan pemerintahan berdasarkan ayat
ini." Ketika Muawiyah menolak untuk berbaiat kepada Ali hingga Ali
menyerahkan para pembunuh tersebut, maka terjadilah Perang Shiffin sebagaimana
yang telah kami sebutkan sebelumnya.
Setelah itu, urusan tersebut berlanjut pada proses tahkim
(arbitrase). Maka terjadilah peristiwa antara Amru bin Al-Aas dan Abu
Musa—sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya—yang secara lahiriah
memperkuat posisi penduduk Syam. Urusan Muawiyah pun menjadi sangat kuat,
sementara urusan Ali terus-menerus diwarnai perselisihan dengan para
pengikutnya sendiri hingga beliau dibunuh oleh Ibnu Muljam, sebagaimana
penjelasan yang telah lalu.
Penyerahan Kekuasaan oleh Al-Hasan dan Pembaiatan Muawiyah – Semoga Allah Meridai Mereka
Penduduk Irak membaiat Al-Hasan bin Ali, sedangkan penduduk
Syam membaiat Muawiyah bin Abi Sufyan. Kemudian Al-Hasan berangkat memimpin
pasukan Irak tanpa ada keinginan (untuk berperang) dari dirinya, dan Muawiyah
pun berangkat memimpin penduduk Syam. Ketika kedua pasukan telah saling
berhadapan dan kedua kelompok telah bertemu, orang-orang berusaha menengahi
keduanya untuk perdamaian.
Akhirnya situasi berujung pada keputusan Al-Hasan untuk
melepaskan dirinya dari jabatan kekhalifahan, dan menyerahkan kekuasaan kepada
Muawiyah bin Abi Sufyan. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Rabiul Awwal
tahun 41 Hijriah. Muawiyah kemudian memasuki kota Kufah lalu menyampaikan
pidato yang sangat menyentuh di hadapan manusia setelah mereka membaiatnya.
Wilayah-wilayah kekuasaan pun tunduk kepadanya, baik di timur maupun barat,
yang jauh maupun yang dekat. Tahun ini kemudian dinamakan sebagai 'Amul
Jama'ah (Tahun Persatuan); karena bersatunya kembali kesepakatan masyarakat
di bawah satu pemimpin setelah adanya perpecahan, dan seluruh rakyat sepakat
untuk membaiatnya.
Sejak masa itu, beliau terus memegang kendali urusan
pemerintahan secara mandiri hingga wafatnya. Di masa itu, jihad di negeri musuh
tetap tegak, kalimat Allah membubung tinggi, harta rampasan perang berdatangan
kepadanya dari berbagai penjuru bumi, dan kaum muslimin hidup bersamanya dalam
ketenteraman, keadilan, kelapangan dada, serta pemaafan.
Terdapat keterangan dalam hadis bahwa masa kekhalifahan
setelah beliau (Nabi) ﷺ
adalah selama tiga puluh tahun, kemudian setelah itu akan berubah menjadi
sistem kerajaan. Masa tiga puluh tahun tersebut telah genap dengan berakhirnya
masa kekhalifahan Al-Hasan bin Ali. Oleh karena itu, masa pemerintahan Muawiyah
adalah awal dari sistem kerajaan, sehingga beliau merupakan raja pertama dalam
Islam dan yang terbaik di antara mereka.
At-Thabarani meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami
Ali bin Abdul Aziz, menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, menceritakan
kepada kami Al-Fudhail bin Iyadh, dari Laits, dari Abdurrahman bin Sabith, dari
Abu Tsa'labah Al-Khusyani, dari Mu'adz bin Jabal dan Abu Ubaidah, keduanya
berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda:
«إِنَّ
هَذَا الْأَمْرَ بَدَأَ رَحْمَةً وَنُبُوَّةً، ثُمَّ يَكُونُ رَحْمَةً
وَخِلَافَةً، ثُمَّ كَائِنٌ مُلْكًا عَضُوضًا، ثُمَّ كَائِنٌ عُتُوًّا
وَجَبْرِيَّةً وَفَسَادًا فِي الْأَرْضِ، يَسْتَحِلُّونَ الْحَرِيرَ وَالْفُرُوجَ
وَالْخُمُورَ، وَيُرْزَقُونَ عَلَى ذَلِكَ وَيُنْصَرُونَ حَتَّى يَلْقَوُا اللَّهَ
عَزَّوَجَلَّ» “Urusan (pemerintahan) ini dimulai sebagai rahmat dan
kenabian, kemudian menjadi rahmat dan kekhalifahan, lalu akan menjadi kerajaan
yang menggigit, kemudian akan menjadi kesombongan, pemaksaan, dan kerusakan di
bumi. Mereka menghalalkan sutra, kemaluan (zina), dan khamar; mereka diberi
rezeki atas hal itu dan ditolong hingga mereka bertemu dengan Allah 'Azza wa
Jalla.” (Sanad hadis ini baik/jayyid).
Kami juga telah menyebutkan dalam kitab Dala'il
An-Nubuwwah sebuah hadis yang diriwayatkan melalui jalur Ismail bin Ibrahim
bin Muhajir—yang padanya terdapat kelemahan—dari Abdul Malik bin Umair, ia
berkata: Muawiyah berkata, "Demi Allah, tidak ada yang mendorongku untuk
memegang kekhalifahan melainkan sabda Rasulullah ﷺ kepadaku:
«يَا
مُعَاوِيَةُ، إِنْ مَلَكْتَ فَأَحْسِنْ» “Wahai Muawiyah, jika engkau berkuasa,
maka berbuat baiklah.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi).
Kemudian Al-Baihaqi berkata bahwa hadis tersebut memiliki
penguat (syawahid) dari jalur-jalur lain, di antaranya adalah hadis Amru bin
Yahya bin Said bin Al-Aas, dari kakeknya (Said) bahwa Muawiyah pernah
mengambilkan wadah air lalu mengikuti Rasulullah ﷺ. Beliau memandangnya lalu bersabda
kepadanya:
«يَا
مُعَاوِيَةُ، إِنْ وَلِيتَ أَمْرًا فَاتَّقِ اللهَ وَاعْدِلْ» “Wahai Muawiyah,
jika engkau memegang suatu urusan pemerintahan, maka bertakwalah kepada Allah
dan berlakulah adil.” Muawiyah berkata, "Sejak saat itu aku selalu
menduga bahwa aku akan diuji dengan suatu jabatan tugas, karena sabda
Rasulullah ﷺ
tersebut."
Di antara penguat lainnya adalah hadis Rasyid bin Sa'd, dari
Muawiyah yang berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّكَ
إِنِ اتَّبَعْتَ عَوْرَاتِ النَّاسِ أَفْسَدْتَهُمْ» “Sesungguhnya
jika engkau mencari-cari kesalahan (aib) manusia, niscaya engkau akan merusak
mereka.” Abu Ad-Darda' berkata, "Itu adalah kalimat yang didengar oleh
Muawiyah dari Rasulullah ﷺ,
lalu Allah memberikan manfaat kepadanya melalui kalimat tersebut."
Ya'qub bin Sufyan meriwayatkan dari Nashr bin Muhammad bin
Sulaiman As-Sulami Al-Himshi, dari ayahnya, dari Abdullah bin Abi Qais: Aku
mendengar Umar bin Al-Khattab berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«رَأَيْتُ
عَمُودًا مِنْ نُورٍ خَرَجَ مِنْ تَحْتِ رَأْسِي سَاطِعًا حَتَّى اسْتَقَرَّ
بِالشَّامِ»
“Aku melihat sebatang tiang cahaya keluar dari bawah
kepalaku, memancar terang hingga akhirnya menetap di Syam.”
Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari
Abdullah bin Shafwan, ia berkata: Seseorang pernah berkata pada hari perang
Shiffin, "Ya Allah, laknatlah penduduk Syam." Maka Ali berkata
kepadanya, "Janganlah engkau mencaci penduduk Syam secara keseluruhan,
karena sesungguhnya di sana terdapat para wali Abdal, karena sesungguhnya di
sana terdapat para wali Abdal, karena sesungguhnya di sana terdapat para wali
Abdal." Hadis ini juga diriwayatkan dari jalur lain secara marfu'
(bersambung sampai Nabi).
Kemudian mengenai apa yang terjadi antara beliau dan Ali
setelah terbunuhnya Utsman, hal itu berjalan di atas jalan ijtihad dan
pandangan masing-masing, sehingga terjadilah pertempuran yang besar di antara
keduanya. Kebenaran dan ketepatan berada di pihak Ali, sedangkan Muawiyah
adalah orang yang uzur (dimaafkan karena berijtihad) menurut mayoritas ulama
salaf (terdahulu) maupun khalaf (belakangan). Hadis-hadis yang sahih pun telah
mempersaksikan keislaman bagi kedua belah pihak dari kedua kubu; yaitu penduduk
Irak dan penduduk Syam.
Sebagaimana yang telah tsabit (tetap) dalam hadis yang
sahih:
«تَمْرُقُ
مَارِقَةٌ عَلَى حِينِ فُرْقَةٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، فَيَقْتُلُهَا أَدْنَى
الطَّائِفَتَيْنِ إِلَى الْحَقِّ» “Akan keluar sekelompok orang yang
menyempal (Khawarij) di saat terjadinya perpecahan di antara kaum muslimin,
mereka akan diperangi oleh salah satu dari dua kelompok yang lebih dekat kepada
kebenaran.” Kelompok yang menyempal tersebut adalah kaum Khawarij, dan yang
memerangi mereka adalah Ali beserta para sahabatnya, kemudian setelah itu Ali
terbunuh.
Diriwayatkan dari berbagai jalur bahwa Abu Muslim
Al-Khaulani beserta sekelompok orang bersamanya pernah masuk menemui Muawiyah.
Mereka bertanya kepadanya, "Apakah engkau ingin menentang Ali atau apakah
engkau merasa setara dengannya?" Muawiyah menjawab, "Demi Allah,
sesungguhnya aku benar-benar mengetahui bahwa dia lebih baik dariku, lebih
utama, dan lebih berhak memegang urusan ini daripada diriku. Akan tetapi,
bukankah kalian mengetahui bahwa Utsman dibunuh secara zalim? Sedangkan aku adalah
sepupunya, dan aku menuntut darahnya, serta urusannya diserahkan kepadaku. Maka
katakanlah kepadanya agar ia menyerahkan para pembunuh Utsman kepadaku, dan aku
akan menyerahkan urusan kekuasaan ini kepadanya." Mereka pun mendatangi
Ali dan membicarakan hal tersebut kepadanya, namun Ali tidak menyerahkan
seorang pun dari mereka. Pada saat itulah, penduduk Syam memantapkan tekad
untuk berperang bersama Muawiyah.
Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Zur'ah Ar-Razi, bahwa
seseorang pernah berkata kepadanya, "Sesungguhnya aku membenci
Muawiyah." Abu Zur'ah bertanya kepadanya, "Mengapa?" Orang itu
menjawab, "Karena ia memerangi Ali." Maka Abu Zur'ah berkata
kepadanya, "Celaka engkau! Sesungguhnya Tuhan Muawiyah adalah Tuhan Yang
Maha Penyayang, dan musuh Muawiyah (Ali) adalah musuh yang mulia, lalu apa
urusanmu ikut campur di antara keduanya?! Semoga Allah meridai mereka berdua."
Imam Ahmad pernah ditanya tentang apa yang terjadi antara
Ali dan Muawiyah, lalu beliau membaca ayat:
﴿تِلْكَ
أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ وَلَا
تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾ “Itu
adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang
sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa
yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 134) Demikian pulalah yang
diucapkan oleh banyak ulama salaf.
Ibnu Ishaq dan mayoritas ulama mengatakan: Muawiyah dibaiat
di Iliya (Yerusalem) pada bulan Ramadan tahun 40 Hijriah, yaitu ketika berita
terbunuhnya Ali sampai kepada penduduk Syam. Akan tetapi, beliau baru memasuki
kota Kufah setelah adanya perdamaian dengan Al-Hasan pada bulan Rabiul Awwal
tahun 41 Hijriah, yang merupakan 'Amul Jama'ah. Peristiwa perdamaian
tersebut terjadi di suatu tempat bernama Maskin, yang termasuk wilayah Sawad di
Irak dari arah daerah Anbar. Muawiyah pun memegang kendali pemerintahan secara
mandiri hingga beliau wafat pada tahun 60 Hijriah.
Ibnu Abi Khaitsamah meriwayatkan: Menceritakan kepada kami
Harun bin Ma'ruf, menceritakan kepada kami Dhamrah, dari Ibnu Syaudzab, ia
berkata: Dahulu Muawiyah selalu berkata, "Aku adalah raja yang pertama dan
khalifah yang terakhir."
Ibnu Katsir berkata: Yang sesuai dengan sunnah adalah
Muawiyah itu disebut dengan sebutan "Raja", dan tidak disebut dengan
sebutan "Khalifah", hal itu berdasarkan hadis Safinah, bahwa
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«الْخِلَافَةُ
بَعْدِي ثَلَاثُونَ سَنَةً، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَضُوضًا»
“Kekhalifahan setelahku adalah selama tiga puluh tahun,
kemudian setelah itu akan menjadi kerajaan yang menggigit.”
Sumber Kisah:
Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar
Posting Komentar