Biografi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu

Ilustrasi sinematik suasana masjid kuno di Kufah pada malam menjelang subuh. Seorang tokoh berjubah panjang digambarkan dari belakang berjalan perlahan di antara tiang-tiang masjid bercahaya lampu minyak, sementara beberapa jamaah duduk dan bersiap untuk salat dalam suasana tenang, hangat, dan penuh kekhusyukan.

Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu (36 - 40 H)

Fasal Pertama: Biografi Beliau radhiyallahu 'anhu

Nasab dan Kedudukannya

Beliau adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Manaf bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah.

Beliau bergelar Abu Al-Hasan dan Al-Husain, serta dijuluki dengan Abu Turab. Beliau merupakan sepupu Rasulullah SAW sekaligus menantu beliau karena menikahi putri beliau, Fatimah Az-Zahra.

Ibunya adalah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay. Dikatakan bahwa ibunya adalah wanita Hasyimiah pertama yang melahirkan anak keturunan Hasyim.

Beliau memiliki beberapa saudara laki-laki, yaitu Thalib, Aqil, dan Ja'far, yang semuanya lebih tua dari beliau dengan jarak usia masing-masing sepuluh tahun. Beliau juga memiliki dua saudara perempuan, yaitu Ummu Hani' dan Jumanah. Semuanya lahir dari rahim Fatimah binti Asad, yang telah masuk Islam dan ikut berhijrah.

Ayahnya, Abu Thalib, adalah paman kandung Rasulullah SAW yang sangat menyayangi dan mendampingi beliau. Nama asli Abu Thalib adalah Abdul Manaf, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ahmad serta banyak ulama nasab dan sejarah. Kaum Rafidhah (Syi'ah) mengklaim bahwa nama Abu Thalib adalah Imran, dan dialah yang dimaksud dalam firman Allah Ta'ala:

{إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى ءَادَمَ وَنُوحًا وَءَالَ إِبْرَاهِيمَ وَءَالَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ}

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka)." (QS. Ali 'Imran: 33)

Mereka telah melakukan kesalahan yang sangat besar dalam hal tersebut dan tidak mencermati Al-Qur'an sebelum melontarkan kedustaan ini dalam tafsir mereka. Sebab, Allah Ta'ala setelah ayat itu langsung menyebutkan firman-Nya:

{إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا}

"(Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu anak yang dalam kandungan ku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat..."" (QS. Ali 'Imran: 35)

Di mana ayat selanjutnya langsung menyebutkan tentang kelahiran Maryam binti Imran 'alaihas salam, dan hal ini sudah sangat jelas, segala puji bagi Allah.

Abu Thalib sangat mencintai Rasulullah SAW, namun ia tidak beriman kepada beliau, melainkan wafat dalam keadaan kafir sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Shahih Al-Bukhari.

Ali adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dipersaksikan masuk surga, salah satu dari enam anggota tim syura, termasuk sahabat yang ditinggalkan wafat oleh Rasulullah SAW dalam keadaan beliau rida kepada mereka, dan beliau merupakan Khalifah Rasyidin yang keempat.

Sifat Fisik Beliau

Beliau adalah seorang pria yang berkulit sawo matang (sangat gelap), matanya lebar dan kemerah-merahan pada bagian putihnya, berperut agak besar, botak, postur tubuhnya cenderung pendek, berjanggut lebat yang memenuhi dada hingga kedua pundaknya, janggutnya berwarna putih, memiliki banyak rambut di dada dan pundak, berwajah tampan, murah senyum, serta memiliki langkah kaki yang ringan saat berjalan di atas bumi.

Keislaman dan Peran Beliau Sebelum Menjadi Khalifah

Ali masuk Islam sejak masa awal, saat beliau berusia tujuh tahun, ada yang mengatakan delapan tahun, dan yang lain mengatakan sepuluh tahun. Ada pula yang menyebutkan bahwa beliau adalah orang yang pertama kali masuk Islam.

Namun yang benar, beliau adalah orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan anak-anak (pemuda). Sebagaimana Khadijah adalah yang pertama masuk Islam dari kalangan wanita, Zaid bin Haritsah dari kalangan budak yang dimerdekakan, dan Abu Bakar As-Shiddiq dari kalangan pria dewasa yang merdeka. Faktor penyebab Ali masuk Islam di usia belia adalah karena beliau berada di bawah pengasuhan Rasulullah SAW. Saat itu, kota Mekah sedang dilanda musim paceklik dan kelaparan, sehingga Rasulullah mengambil Ali dari ayahnya untuk diasuh. Ketika Allah mengutus beliau dengan membawa kebenaran, Khadijah dan seluruh penghuni rumah beriman, termasuk Ali radhiyallahu 'anhu. Namun, iman yang membawa manfaat luas dan berimbas kepada masyarakat luas adalah imannya Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.

Terdapat riwayat dari Ali yang menyebutkan bahwa beliau berkata: "Aku adalah orang yang pertama kali masuk Islam," namun sanad riwayat ini tidak sah sampai kepada beliau.

Ali berhijrah setelah keluarnya Rasulullah SAW dari Mekah. Nabi memerintahkannya untuk tinggal terlebih dahulu guna melunasi utang-utang beliau dan mengembalikan barang-barang titipan kepada pemiliknya, baru kemudian menyusul beliau. Ali pun mematuhi perintah tersebut lalu berhijrah. Nabi kemudian mempersaudarakannya dengan Sahl bin Hunaif.

Ibnu Ishaq dan para pakar sejarah serta peperangan lainnya menyebutkan bahwa Rasulullah SAW mempersaudarakan Ali dengan diri beliau sendiri. Mengenai hal ini, terdapat banyak hadis yang beredar namun tidak ada satu pun yang sah karena sanadnya yang lemah dan redaksinya yang rapuh. Bahkan sebagian redaksinya berbunyi: "Engkau adalah saudaraku, ahli warisku, khalifahku, dan orang terbaik yang memerintah setelahku." Hadis ini adalah hadis palsu (maudhu') dan bertentangan dengan apa yang telah sahih dalam Kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim serta kitab lainnya.

Beliau ikut serta dalam Perang Badar dan memiliki peran serta kontribusi yang sangat besar di dalamnya. Beliau juga ikut dalam Perang Uhud dan berada di posisi sayap kanan sambil memegang bendera perang setelah gugurnya Mush'ab bin Umair. Beliau hadir dalam Perang Khandaq dan berhasil membunuh salah satu penunggang kuda Arab yang paling berani dan terkenal, yaitu Amr bin Abdu Wud Al-Amiri. Beliau juga menghadiri Perjanjian Hudaibiyah, Bai'at Ar-Ridhwan, serta Perang Khaibar. Dalam Perang Khaibar, beliau menunjukkan aksi heroik dan pencapaian yang luar biasa, hingga Allah memberikan kemenangan lewat kedua tangannya dan beliau berhasil membunuh Marhab, tokoh Yahudi.

Beliau ikut dalam Umrah Qadha', yang mana di dalam momentum tersebut Nabi SAW bersabda kepadanya:

{أَنْتَ مِنِّي، وَأَنَا مِنْكَ}

"Engkau adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian darimu."

Adapun apa yang sering diceritakan oleh para tukang kisah mengenai pertarungan Ali melawan jin di Sumur Dzat al-Alam (sebuah sumur dekat Al-Juhfah), kisah tersebut sama sekali tidak ada asal-usulnya. Itu hanyalah karangan orang-orang bodoh dari kalangan ahli dongeng, sehingga jangan sampai terperdaya olehnya.

Beliau juga ikut serta dalam Pembebasan Kota Mekah (Fathu Makkah), Perang Hunain, dan Perang Thaif, serta terlibat dalam banyak pertempuran di medan-medan tersebut. Beliau melakukan umrah dari Al-Ji'ranah bersama Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW hendak berangkat menuju Perang Tabuk dan menunjuk Ali sebagai wakil yang memimpin Madinah selama beliau pergi, Ali bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah engkau meninggalkanku bersama wanita dan anak-anak?"

Maka Nabi SAW bersabda:

{أَلَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى غَيْرَ أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي}

"Tidakkah engkau rida kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa? Hanya saja, tidak ada nabi setelahku."

Rasulullah SAW juga pernah mengutusnya sebagai pemimpin sekaligus hakim ke wilayah Yaman bersama Khalid bin Walid. Kemudian beliau menyusul Rasulullah SAW pada momen Haji Wada' di Mekah sambil membawa hewan kurban, dan beliau berihram dengan niat yang sama seperti ihramnya Nabi SAW. Nabi pun menyertakan Ali dalam hewan kurbannya, dan Ali tetap mempertahankan keadaan ihramnya hingga mereka menyembelih hewan kurban bersama-sama setelah menyelesaikan manasik.

Ketika Rasulullah SAW sedang sakit menjelang wafatnya, Al-Abbas berkata kepada Ali: "Tanyakan kepada Rasulullah, siapakah yang memegang urusan kepemimpinan setelah beliau?"

Ali menjawab: "Demi Allah, aku tidak akan menanyakannya. Karena jika beliau melarang kita untuk memegangnya, maka orang-orang tidak akan pernah memberikannya kepada kita lagi setelah itu selama-lamanya."

Hadis-hadis yang sahih dan tegas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berwasiat tentang kekhalifahan kepada Ali maupun kepada orang lain. Sebaliknya, beliau justru memberi isyarat yang kuat dan sangat jelas mengarah kepada Abu Bakar As-Shiddiq, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, segala puji bagi Allah.

Adapun apa yang diada-adakan oleh kebanyakan orang bodoh dari kalangan Syi'ah dan para tukang dongeng yang dungu—bahwa Nabi telah berwasiat tentang kekhalifahan kepada Ali—maka itu adalah kedustaan, kebohongan, dan fitnah besar. Tuduhan tersebut berdampak pada kesalahan fatal, yaitu menganggap para sahabat telah berkhianat karena mengabaikan wasiat Nabi setelah beliau wafat, tidak menyampaikannya kepada orang yang diwasiatkan, dan malah mengalihkan kepemimpinan kepada orang lain tanpa alasan atau sebab. Setiap orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta meyakini bahwa Islam adalah agama yang benar, pasti mengetahui kebatilan fitnah ini. Karena para sahabat adalah makhluk terbaik setelah para nabi, dan mereka adalah generasi terbaik dari umat ini, yang mana umat ini adalah umat yang paling mulia di dunia dan akhirat berdasarkan nas Al-Qur'an serta konsensus (ijmak) ulama salaf dan khalaf, segala puji bagi Allah.

Kemudian ketika Rasulullah SAW wafat, Ali termasuk di antara orang-orang yang memandikan, mengkafani, dan mengurus pemakaman beliau. Dan ketika Abu Bakar dibai'at di Saqifah, Ali juga termasuk di antara orang-orang yang ikut membai'at beliau di dalam masjid sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya.

Ali berada di hadapan Abu Bakar sama seperti para pemimpin sahabat lainnya; beliau memandang bahwa ketaatan kepada Abu Bakar adalah suatu kewajiban atas dirinya dan hal yang paling beliau sukai. Ketika Fatimah wafat enam bulan kemudian—yang mana sebelumnya Fatimah sempat agak kecewa kepada Abu Bakar karena masalah harta warisan peninggalan ayahnya, karena saat itu ia belum mengetahui adanya nas khusus mengenai para nabi bahwa mereka tidak mewariskan harta—ketika berita itu sampai kepadanya, Fatimah meminta Abu Bakar agar suaminya (Ali) yang mengelola sedekah tersebut, namun Abu Bakar menolaknya. Maka sempat tersisa ganjalan di dalam hati Fatimah, dan Ali perlu sedikit menjaga perasaan istrinya tersebut. Begitu Fatimah wafat, Ali pun segera memperbarui bai'atnya kepada Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu 'anhuma.

Ketika Abu Bakar wafat dan Umar memegang kendali kekhalifahan berdasarkan wasiat dari Abu Bakar, Ali termasuk orang yang membai'atnya. Beliau selalu bersama Umar dan menjadi tempat bermusyawarah dalam berbagai urusan. Dikatakan pula bahwa Umar mengangkatnya sebagai hakim (qadhi) pada masa kekhalifahannya. Ali juga berangkat bersama para tokoh pemimpin sahabat menuju Syam dan menghadiri khutbah Umar di Al-Jabiyah.

Ketika Umar ditusuk dan menjadikan urusan kekhalifahan sebagai musyawarah di antara enam orang sahabat (yang salah satunya adalah Ali), pemilihan tersebut akhirnya mengerucut kepada Utsman dan Ali. Pada akhirnya Utsman lebih diutamakan daripada Ali, dan Ali pun mendengar serta taat kepada keputusan tersebut.

Keutamaan-Keutamaan Beliau

Imam Ahmad, Ismail Al-Qadhi, An-Nasa'i, dan Abu Ali An-Naisaburi berkata: "Tidak ada riwayat mengenai keutamaan salah seorang sahabat dengan sanad-sanad yang jayyid (bagus/kuat) yang lebih banyak daripada riwayat yang datang tentang keutamaan Ali."

Al-Hafiz Ibnu Hajar menjelaskan: "Penyebab dari hal tersebut adalah karena beliau wafat paling akhir di antara para Khalifah Rasyidin. Selain itu, terjadi perselisihan pada masanya dan keluarnya orang-orang yang memberontak kepadanya. Kondisi inilah yang memicu tersebarnya manaqib (rekam jejak keutamaan) beliau karena banyaknya sahabat yang menyebarkannya sebagai bantahan terhadap orang-orang yang menyelisihinya. Maka Ahlussunnah merasa perlu untuk menyebarluaskan keutamaan-keutamaannya sehingga para penukilnya pun menjadi sangat banyak. Jika tidak demikian, pada hakikatnya setiap orang dari keempat khalifah tersebut memiliki keutamaan yang jika ditimbang dengan neraca keadilan, nilainya tidak akan keluar dari koridor prinsip Ahlussunnah wal Jama'ah sama sekali."

Ibnu Katsir berkata: "Di antara keutamaannya adalah bahwa beliau merupakan orang yang paling dekat nasabnya dengan Rasulullah SAW di antara sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga."

Di antara keutamaannya yang lain adalah khutbah beliau pada hari kedelapan belas bulan Dzulhijjah tahun Haji Wada' di suatu tempat yang bernama Ghadir Khum. Beliau (Nabi) bersabda dalam khutbahnya:

{مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ}

"Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai penolong/pemimpinnya, maka Ali adalah penolong/pemimpinnya."

Dan dalam sebagian riwayat terdapat tambahan: "Ya Allah, cintailah orang yang mencintainya, dan musuhilah orang yang memusuhinya, serta hinakanlah orang yang menghinakannya." Beliau (Ibnu Katsir) berkata: "Yang terjaga kesahihannya adalah redaksi yang pertama."

Dan Ali telah ikut serta dalam Perang Badar. Rasulullah pernah bersabda mengenai para pengikut Perang Badar:

«وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللهَ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ»

"Tahukah kamu, moga-moga Allah melihat kepada para pengikut Perang Badar lalu berfirman: 'Perbuatlah apa yang kalian kehendaki, karena Aku telah mengampuni kalian.'"

Beliau juga ikut serta dalam Baiat Ridhwan. Allah Ta'ala telah berfirman:

﴿لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ﴾

"Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon." (QS. Al-Fath: 18)

Rasulullah juga bersabda:

«لَنْ يَدْخُلَ أَحَدٌ بَايَعَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ النَّارَ»

"Tidak akan masuk neraka seorang pun yang ikut berjanji setia di bawah pohon."

Berikut ini kami sajikan keutamaan-keutamaan Ali radhiyallahu 'anhu lainnya dari Kitab Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) sesuai metode yang kami gunakan dalam membahas keutamaan para khalifah radhiyallahu 'anhum.

Imam Al-Bukhari berkata dalam kitab Shahihnya:

Bab Keutamaan Ali bin Abi Thalib Al-Qurashi Al-Hasyimi Abu Al-Hasan radhiyallahu 'anhu.

Nabi pernah bersabda kepada Ali:

«أَنْتَ مِنِّي وَأَنَا مِنْكَ»

"Engkau adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darimu."

Umar berkata: "Rasulullah wafat dalam keadaan rida kepadanya."

Ali Termasuk Orang yang Mencintai Allah dan Rasul-Nya

Dari Sahl bin Sa'ad radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah bersabda: "Sungguh, besok aku akan menyerahkan bendera (komando) kepada seorang pria yang melalui kedua tangannya Allah akan memberikan kemenangan." Semalaman orang-orang memperbincangkan siapakah di antara mereka yang akan diserahi bendera tersebut. Ketika pagi menjelang, mereka bergegas menemui Rasulullah , masing-masing berharap dialah yang akan dipilih. Rasulullah lalu bertanya: "Di mana Ali bin Abi Thalib?"

Mereka menjawab: "Kedua matanya sedang sakit, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Panggillah dan bawa dia kemari." Ketika Ali datang, Rasulullah meludahi kedua matanya dan berdoa untuknya, seketika itu juga matanya sembuh seolah-olah tidak pernah sakit sebelumnya. Rasulullah kemudian menyerahkan bendera itu kepadanya. Ali berkata: "Wahai Rasulullah! Apakah aku harus memerangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita?"

Beliau bersabda:

«أَنْفِذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ حَقِّ اللهِ فِيهِ، فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ»

"Melangkahlah dengan tenang hingga kamu sampai di tempat mereka, kemudian serulah mereka kepada Islam dan sampaikanlah hak-hak Allah yang wajib mereka penuhi. Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk kepada satu orang saja lewat perantaraanmu, itu jauh lebih baik bagimu daripada unta-unta merah (harta yang paling berharga)."

Kelembutan Nabi kepada Ali dan Pemberian Julukannya

Dari Sahl bin Sa'ad, ia berkata: Ali datang menemui Fatimah, lalu keluar dan berbaring di masjid. Nabi kemudian datang dan bertanya: "Di mana sepupumu?"

Fatimah menjawab: "Di masjid." Nabi lalu keluar menemuinya dan mendapati selendang Ali telah jatuh dari punggungnya sehingga punggungnya penuh debu. Nabi pun mulai membersihkan debu dari punggung Ali seraya bersabda: "Bangunlah, wahai Abu Turab (bapaknya debu)," beliau mengucapkannya dua kali.

Ibnu Umar Menjelaskan Keutamaan-Keutamaan Ali

Dari Sa'ad bin Ubaidah, ia berkata: Seorang pria datang menemui Ibnu Umar lalu bertanya tentang Utsman. Ibnu Umar kemudian menyebutkan kebaikan-kebaikan amal Utsman, lalu bertanya: "Mungkin hal itu membuatmu kesal?"

Pria itu menjawab: "Ya." Ibnu Umar berkata: "Semoga Allah menghinakanmu!" Kemudian pria itu bertanya tentang Ali. Ibnu Umar pun menyebutkan kebaikan-kebaikan amal Ali dan berkata: "Dialah orangnya, rumahnya berada di tengah-tengah rumah para istri Nabi ." Ibnu Umar lalu bertanya: "Mungkin hal itu membuatmu kesal?"

Pria itu menjawab: "Benar."

Ibnu Umar berkata: "Semoga Allah menghinakanmu! Pergilah, dan kerahkanlah seluruh kemampuanmu (untuk membencinya)."

Kedudukannya di Sisi Rasulullah

Dari Sa'ad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf, ia berkata: Aku mendengar Ibrahim bin Sa'ad bin Abi Waqqash dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah bersabda kepada Ali:

«أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى»

"Tidakkah kamu rida kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa?"

Ali Membenci Perselisihan

Dari Ubaidah bin Amru As-Salmani, dari Ali radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Putuskanlah perkara sebagaimana kalian biasa memutuskan, karena sesungguhnya aku membenci perselisihan, sampai manusia bersatu dalam satu jamaah, atau aku mati sebagaimana sahabat-sahabatku telah mati." Karena hal inilah Ibnu Sirin berpandangan bahwa sebagian besar riwayat yang bersumber dari Ali adalah kedustaan.

Wasiat untuk Berpegang Teguh pada Kitab Allah dan Ahli Bait

Imam Muslim berkata: Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Syuja' bin Makhlad, semuanya dari Ibnu Ulayyah. Zuhair berkata: Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim, telah menceritakan kepadaku Abu Hayyan, telah menceritakan kepadaku Yazid bin Hayyan, ia berkata: Aku pergi bersama Hushain bin Sabrah dan Umar bin Muslim menemui Zaid bin Arqam. Ketika kami duduk bersamanya, Hushain berkata kepadanya: "Wahai Zaid, engkau sungguh telah mendapatkan kebaikan yang sangat banyak. Engkau telah melihat Rasulullah , mendengar hadis beliau, dan ikut berperang bersama beliau."

"Dan engkau telah salat di belakang beliau. Wahai Zaid, engkau benar-benar telah mendapatkan kebaikan yang banyak. Ceritakanlah kepada kami, wahai Zaid, apa yang engkau dengar dari Rasulullah !"

Zaid berkata: "Wahai anak saudaraku! Demi Allah, usiaku telah tua, masaku telah lama berlalu, dan aku telah lupa sebagian dari apa yang aku ingat dari Rasulullah . Maka apa yang aku ceritakan kepada kalian, terimalah, dan apa yang tidak aku ceritakan, janganlah kalian membebaniku." Kemudian ia berkata: "Pada suatu hari, Rasulullah berdiri berkhotbah di hadapan kami di suatu mata air yang disebut Khumm, yang terletak di antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, menyanjung-Nya, memberikan nasihat, dan mengingatkan, kemudian bersabda: 'Amma ba'du. Ketahuilah wahai sekalian manusia! Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia, hampir tiba utusan Tuhanku (malaikat maut) datang lalu aku memenuhinya. Aku meninggalkan dua perkara besar di tengah-tengah kalian: yang pertama adalah Kitab Allah, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah Kitab Allah dan berpegang teguhlah dengannya.' Beliau sangat mendorong dan memotivasi untuk berpegang pada Kitab Allah. Kemudian beliau bersabda: 'Dan ahli baitku (keluargaku). Aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku.'"

Hushain bertanya kepada Zaid: "Siapakah ahli bait beliau, wahai Zaid? Bukankah istri-istri beliau termasuk ahli baitnya?"

Zaid menjawab: "Istri-istri beliau memang termasuk ahli baitnya, akan tetapi ahli bait beliau (yang dimaksud di sini) adalah orang-orang yang diharamkan menerima zakat setelah wafatnya beliau."

Hushain bertanya: "Siapa saja mereka?"

Zaid menjawab: "Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja'far, dan keluarga Abbas."

Hushain bertanya lagi: "Apakah mereka semua diharamkan menerima zakat?" Zaid menjawab: "Ya."

Mencintai Ali adalah Iman dan Membencinya adalah Nifak ( النفاق )

Dari Zirr bin Hubaisy, dari Ali, ia berkata: "Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan yang menciptakan jiwa, sesungguhnya merupakan janji Nabi yang ummi kepadaku: bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali orang yang beriman, dan tidak ada yang membenciku kecuali orang munafik."

Penjelasan Mengenai Istri-Istri dan Anak-Anak Lelaki serta Perempuan Beliau

Istri pertama yang dinikahi oleh Ali radhiyallahu 'anhu adalah Fatimah putri Rasulullah . Beliau membangun rumah tangga bersamanya setelah Perang Badar. Fatimah melahirkan Al-Hasan, Al-Husain, dan ada yang mengatakan juga Muhsin namun ia meninggal dunia saat masih kecil. Fatimah juga melahirkan Zainab Al-Kubra dan Ummu Kultsum Al-Kubra, yang kelak dinikahi oleh Umar bin Al-Khaththab. Ali tidak menikah dengan wanita lain selama Fatimah masih hidup hingga Fatimah wafat enam bulan setelah wafatnya Rasulullah . Setelah Fatimah wafat, Ali menikah dengan banyak wanita. Di antara mereka ada yang wafat saat Ali masih hidup, ada yang diceraikan, dan beliau wafat dengan meninggalkan empat orang istri.

Di antara istri-istri beliau adalah:

  • Ummu Al-Banin binti Hizam (yaitu Abu Al-Mahal bin Khalid bin Rabi'ah bin Al-Wahid bin Ka'ab bin Amir bin Kilab). Ia melahirkan Al-Abbas, Ja'far, Abdullah, dan Utsman. Mereka semua gugur bersama saudara mereka, Al-Husain, di Karbala, dan tidak ada keturunan dari mereka kecuali dari Al-Abbas.
  • Laila binti Mas'ud bin Khalid bin Malik dari Bani Tamim. Ia melahirkan Ubaidillah dan Abu Bakar. Hisyam bin Al-Kalbi menyebutkan bahwa keduanya juga gugur di Karbala. Sementara Al-Waqidi berpendapat bahwa Ubaidillah dibunuh oleh Al-Mukhtar bin Abi Ubaid pada hari Al-Madzar.
  • Asma binti Umais Al-Khats'amiyyah. Ia melahirkan Yahya dan Muhammad Al-Asghar menurut pendapat Ibnu Al-Kalbi. Sedangkan Al-Waqidi mengatakan bahwa Asma melahirkan Yahya dan Aun, adapun Muhammad Al-Asghar lahir dari seorang j some (budak wanita yang melahirkan anak tuannya).
  • Ummu Habib binti Rabi'ah bin Bujair bin Al-Abd bin Alqamah. Ia adalah seorang jampian (budak wanita) dari para tawanan yang ditawan oleh Khalid bin Al-Walid dari Bani Taghlib saat menyerang Ain Al-Tamar. Ia melahirkan Umar—yang mencapai usia delapan puluh lima tahun—dan Ruqayyah.
  • Ummu Sa'id binti Urwah bin Mas'ud bin Mut'ib bin Malik Ats-Tsaqafi. Ia melahirkan Ummu Al-Hasan dan Ramlah Al-Kubra.
  • Putri dari Imru' Al-Qais bin Adi bin Aus bin Jabir bin Ka'ab bin Alim bin Kalb Al-Kalbiyyah. Ia melahirkan seorang anak perempuan yang ketika masih kecil sering keluar bersama Ali menuju masjid. Ketika anak perempuan itu ditanya: "Siapa paman-paman dari pihak ibumu?" Ia menjawab: "Wah wah," yang maksudnya adalah Bani Kalb.
  • Dan Umamah binti Abil 'Ash bin Ar-Rabi' bin Abdul 'Uzza bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay. Ibunya adalah Zainab binti Rasulullah . Umamah inilah yang dahulu sering digendong oleh Rasulullah ketika beliau sedang salat; apabila beliau berdiri maka beliau menggendongnya, dan apabila beliau sujud maka beliau meletakkannya. Dari pernikahan ini, Umamah melahirkan Muhammad Al-Ausath (Muhammad yang pertengahan) untuk Ali.
  • Khawlah binti Ja'far bin Qais bin Maslamah bin Ubaid bin Tsa'labah bin Yarbu' bin Tsa'labah. Ia ditawan oleh Khalid (bin Walid) pada masa kekhalifahan Abu Bakar As-Shiddiq selama masa perang Riddah (melawan kaum murtad) dari Bani Hanifah. Kemudian ia menjadi milik Ali bin Abi Thalib, lalu melahirkan Muhammad Al-Akbar (yang dikenal dengan nama Ibnu Al-Hanafiyyah). Di antara kaum Syiah ada yang mengklaim bahwa ia memiliki hak imamah (kepemimpinan) dan maksum (terjaga dari dosa). Padahal, ia memang termasuk salah seorang tokoh terkemuka kaum muslimin, tetapi ia tidaklah maksum, begitu pula ayahnya tidak maksum. Bahkan, para Khulafaur Rasyidin sebelum ayahnya yang lebih utama dari ayahnya pun tidak wajib memiliki sifat maksum. Wallahu a'lam (Dan Allah yang lebih mengetahui).

Ali memiliki banyak anak lainnya dari berbagai ibu yang berbeda (ummahatul aulad). Beliau wafat dengan meninggalkan 4 orang istri dan 19 budak perempuan. Di antara anak-anak beliau yang tidak diketahui nama ibunya adalah: Ummu Hani', Maimunah, Zainab As-Sughra, Ramlah As-Sughra, Ummu Kultsum As-Sughra, Fatimah, Umamah, Khadijah, Ummu Al-Kiram, Ummu Ja'far, Ummu Salamah, Jumanah, dan Nafisah.

Ibnu Jarir mengatakan: "Jumlah seluruh anak kandung Ali adalah 14 anak laki-laki dan 17 anak perempuan."

Al-Waqidi mengatakan: "Keturunan Ali yang meneruskan nasabnya berasal dari lima anaknya, yaitu: Al-Hasan, Al-Husein, Muhammad bin Al-Hanafiyyah, Al-Abbas bin Al-Kilabiyyah, dan Umar bin At-Taghlibiyyah."

Bagian Mengenai Sejarah Kehidupan, Nasihat, Khotbah, dan Wasiat Beliau

Abdul Warits meriwayatkan dari Abu Amr bin Al-Ala', dari ayahnya, ia berkata: Ali pernah berkhotbah lalu berkata, "Wahai manusia! Demi Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, aku tidak pernah mengambil harta kalian sedikit pun maupun banyak, kecuali ini." Kemudian beliau mengeluarkan sebuah botol kaca dari lengan bajunya yang berisi minyak wangi, lalu berkata, "Ini adalah hadiah yang diberikan oleh seorang pemimpin wilayah (Dehqan) kepadaku."

Diriwayatkan dari Abdullah bin Zarir Al-Ghafiqi, ia berkata: Kami menemui Ali pada hari Idul Adha, lalu beliau menghidangkan kepada kami makanan Khazirah (sup daging dengan kuah tepung). Kami pun berkata, "Semoga Allah memperbaiki urusanmu, seandainya engkau menghidangkan daging bebek atau angsa ini kepada kami, karena sungguh Allah telah melimpahkan banyak kebaikan."

Mendengar hal itu, Ali berkata, "Wahai Ibnu Zarir, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda:

«لا يحل للخليفة من مال الله إلا قصعتان قصعة يأكلها هو وأهله، وقصعة يطعمها الناس»

Artinya: 'Tidak halal bagi seorang khalifah mengambil harta Allah kecuali dua mangkuk: satu mangkuk yang ia makan bersama keluarganya, dan satu mangkuk lagi untuk memberi makan orang-orang.'"

Abu Ubaid mengatakan, menceritakan kepada kami Abbad bin Al-Awwam, dari Harun bin Antarah, dari ayahnya, ia berkata: Aku menemui Ali bin Abi Thalib di istana Khawarnaq. Saat itu beliau memakai sehelai kain selimut berbulu sambil menggigil kedinginan. Aku pun berkata, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah menetapkan bagian untukmu dan keluargamu dari harta (baitul mal) ini, mengapa engkau memperlakukan dirimu seperti ini?!"

Beliau menjawab, "Demi Allah, aku tidak akan mengambil harta kalian sedikit pun. Kain selimut ini adalah kain yang kubawa dari rumahku—atau beliau berkata: dari Madinah."

Ya'qub bin Sufyan mengatakan, menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Humaidi, menceritakan kepada kami Sufyan, menceritakan kepada kami Abu Hayyan, dari Majma' bin Sam'an At-Taimi, ia berkata: Ali bin Abi Thalib pernah pergi membawa pedangnya ke pasar, lalu berkata, "Siapa yang mau membeli pedangku ini? Seandainya aku memiliki uang empat dirham saja untuk membeli kain sarung, niscaya aku tidak akan menjualnya."

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abbad bin Al-Awwam, dari Hilal bin Khabbab, dari seorang bekas budak Abu Ashifir, ia berkata: Aku melihat Ali keluar menemui seorang penjual kain kasar (karabis), lalu beliau bertanya kepadanya, "Apakah engkau punya baju gamis berbahan Sunbula?"

Orang itu mengeluarkan sehelai baju gamis lalu Ali memakainya. Ternyata panjang baju tersebut mencapai setengah betisnya. Beliau lalu melihat ke arah kanan dan kirinya kemudian berkata, "Aku melihat ukurannya sudah pas dan bagus. Berapa harganya?" Penjual itu menjawab, "Empat dirham, wahai Amirul Mukminin." Ali pun melepas uang tersebut dari ikatan kainnya lalu menyerahkannya kepada penjual itu, kemudian berlalu.

Muhammad bin Saad mengatakan, mengabarkan kepada kami Al-Fadhl bin Dukain, mengabarkan kepada kami Al-Hurr bin Jarmuz, dari ayahnya, ia berkata: Aku melihat Ali keluar dari istana dengan mengenakan dua potong kain Qatar (kain luar bergaris merah). Kain sarungnya setinggi setengah betis, dan selendangnya terangkat mendekati ukuran itu. Beliau membawa sebuah cemeti yang digunakannya sambil berjalan di pasar-pasar untuk memerintahkan manusia agar bertakwa kepada Allah, berniaga dengan baik, serta berkata, "Sempurnakanlah takaran dan timbangan."

Di Antara Ucapan Beliau yang Indah

Ibnu Abid Dunya mengatakan, menceritakan kepada kami Ali bin Al-Ja'd, mengabarkan kepada kami Amr bin Syamir, menceritakan kepadaku Ismail As-Suddi, ia berkata: Aku mendengar Abu Arakiyyah berkata: Aku pernah melaksanakan salat subuh bersama Ali. Ketika beliau selesai salat dan berbalik ke arah kanan, beliau berdiam diri seolah-olah sedang dirundung kesedihan yang mendalam. Hingga ketika matahari telah meninggi di dinding masjid setinggi satu tombak, beliau salat dua rakaat, kemudian membalikkan telapak tangannya lalu berkata:

"Demi Allah, sungguh aku telah melihat para sahabat Muhammad , dan pada hari ini aku tidak melihat satu pun yang menyerupai mereka. Dahulu di pagi hari wajah mereka tampak pucat, rambut mereka kusut, dan tubuh mereka berdebu. Di antara kedua mata mereka terdapat bekas sujud seperti lutut kambing. Mereka bermalam karena Allah dengan bersujud dan berdiri, membaca kitab Allah, serta bergantian bertumpu antara dahi dan kaki mereka. Apabila pagi hari tiba lalu mereka berzikir mengingat Allah, tubuh mereka bergetar sebagaimana pohon yang bergoyang ditiup angin kencang pada hari yang berangin, dan air mata mereka mengalir deras hingga membasahi pakaian mereka. Demi Allah, seolah-olah orang-orang zaman sekarang ini bermalam dalam keadaan lalai."

Setelah itu beliau bangkit berdiri, dan sejak saat itu beliau tidak pernah terlihat bersenang-senang atau tertawa terbahak-bahak hingga beliau dibunuh oleh Ibnu Muljam, musuh Allah yang fasik.

Waki' mengatakan dari Amr bin Munabbih, dari Aufa bin Dilham, dari Ali bin Abi Thalib bahwa beliau berkata: "Pelajarilah ilmu, niscaya kalian akan dikenal dengannya. Dan amalkanlah ilmu itu, niscaya kalian akan menjadi ahli ilmu. Karena sesungguhnya akan datang suatu zaman setelah kalian, di mana pada masa itu sembilan persepuluh dari kebenaran akan diingkari. Tidak ada yang selamat dari zaman tersebut kecuali orang-orang yang diam (tidak ikut campur dalam fitnah). Mereka itulah para pemimpin petunjuk dan pelita ilmu, mereka bukanlah orang-orang yang tergesa-gesa, suka menyebarkan rahasia, ataupun bermuka dua."

Kemudian beliau berkata: "Ketahuilah, dunia telah bersiap pergi membelakangi kita, dan akhirat telah datang menjelang. Masing-masing dari keduanya memiliki anak-anak pengikutnya, maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang zuhud di dunia menjadikan bumi sebagai hamparan kasur mereka, tanah sebagai tempat tidur mereka, dan air sebagai minyak wangi mereka. Ketahuilah, barang siapa yang rindu kepada akhirat, ia akan melupakan syahwat. Barang siapa yang takut kepada siksa neraka, ia akan menahan diri dari perkara yang haram. Barang siapa yang mendambakan surga, ia akan bersegera melakukan ketaatan. Dan barang siapa yang zuhud terhadap dunia, maka musibah-musibah dunia akan terasa ringan baginya.

Ketahuilah, sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang keadaannya seolah-olah melihat penduduk surga kekal di dalam surga, dan melihat penduduk neraka diazab di dalam neraka. Kejelekan mereka terjaga (orang lain aman dari gangguan mereka), hati mereka selalu merasa sedih (karena takut kepada Allah), diri mereka terpelihara dari yang haram, dan kebutuhan mereka serbaringan. Mereka bersabar dalam beberapa hari yang singkat di dunia untuk mendapatkan kenyamanan yang panjang di akhirat. Pada waktu malam hari, mereka merapatkan kaki-kaki mereka untuk salat, air mata mereka mengalir membasahi pipi mereka, mereka merintih memohon kepada Tuhan mereka: 'Wahai Tuhan kami, wahai Tuhan kami,' demi mengharapkan pembebasan diri mereka dari siksa api neraka. Sedangkan pada siang hari, mereka menjadi orang-orang yang berilmu, santun, berbakti, dan bertakwa. Tubuh mereka kurus bagaikan anak panah, hingga orang yang melihatnya akan mengira mereka sedang sakit, padahal mereka sama sekali tidak sedang sakit."

Teks Wasiat Ali Radhiyallahu 'Anhu

"Bismillahirrahmanirrahim (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), inilah apa yang diwasiatkan oleh Ali bin Abi Thalib;

Bahwasanya ia bersaksi tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang diutus membawa petunjuk dan agama yang haq (benar) untuk memenangkannya di atas seluruh agama meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya. Kemudian, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah apa yang diperintahkan kepadaku dan aku termasuk golongan orang-orang muslim.

Aku wasiatkan kepadamu wahai Hasan, serta seluruh anak-anakku, keluargaku, dan siapa saja yang sampai kepadanya surat wasiatku ini, agar bertakwa kepada Allah Tuhan kalian, dan janganlah kalian mati melainkan dalam keadaan berserah diri sebagai muslim. Berpegang teguhlah kalian semua kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai. Karena sesungguhnya aku mendengar Abul Qasim (Rasulullah) bersabda:

«إن صلاح ذات البين أفضل من عامة الصلاة والصيام»

Artinya: 'Sesungguhnya mendamaikan hubungan di antara orang yang berselisih itu lebih utama daripada pahala salat dan puasa secara umum.'"

"Pandangilah kerabat-kerabat kalian lalu sambunglah tali silaturahmi dengan mereka, niscaya Allah akan meringankan hitungan amal (hisab) kalian. Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah urusan anak-anak yatim; jangan sampai kelaparan menyiksa mulut-mulut mereka dan jangan sampai mereka telantar di hadapan kalian. Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah dalam urusan tetangga kalian; karena sesungguhnya mereka adalah wasiat nabi kalian. Beliau terus-menerus berwasiat tentang mereka hingga kami mengira beliau akan memberikan hak waris kepada mereka. Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah dalam urusan Al-Qur'an; jangan sampai orang lain mendahului kalian dalam mengamalkannya. Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah dalam urusan salat; karena salat adalah tiang agama kalian. Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah dalam urusan rumah Tuhan kalian (Ka'bah), jangan sampai ia kosong dari kalian selama kalian masih hidup; karena sesungguhnya jika ia ditinggalkan, kalian tidak akan dipandang lagi. Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah dalam urusan bulan Ramadan; karena sesungguhnya puasanya adalah perisai dari api neraka. Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah dalam urusan jihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah dalam urusan zakat; karena sesungguhnya zakat itu memadamkan kemurkaan Tuhan. Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah dalam urusan perlindungan nabi kalian; jangan sampai terjadi kezaliman di tengah-tengah kalian. Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah dalam urusan para sahabat nabi kalian; karena sesungguhnya Rasulullah telah berwasiat tentang mereka. Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah dalam urusan orang-orang fakir dan miskin, maka sertakanlah mereka dalam nafkah hidup kalian. Bertakwalah kepada Allah, bertakwalah kepada Allah dalam urusan budak-budak yang kalian miliki, karena sesungguhnya kalimat terakhir yang diucapkan oleh Rasulullah adalah bersabda:

«أوصيكم بالضعيفين؛ نسائكم وما ملكت أيمانكم»

“Aku wasiatkan kepada kalian tentang dua kaum yang lemah; kaum wanita kalian dan budak-budak yang kalian miliki.”

Jagalah salat, jagalah salat. Janganlah kalian takut terhadap celaan orang yang mencela dalam membela Allah, niscaya Dia akan melindungi kalian dari orang yang berniat buruk dan berbuat aniaya kepada kalian. Dan berkatalah yang baik kepada manusia sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kalian. Janganlah kalian meninggalkan amar makruf nahi mungkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran), sehingga urusan kalian akan dipimpin oleh orang-orang paling buruk di antara kalian, kemudian kalian berdoa namun doa kalian tidak dikabulkan.

Wajib bagi kalian untuk saling bersilaturahmi dan saling memberi, serta menjauhilah sikap saling membelakangi, saling memutuskan hubungan, dan saling berpecah belah. Tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras siksaan-Nya. Semoga Allah menjaga kalian sebagai ahli bait dan menjaga nabi kalian pada diri kalian. Aku menitipkan kalian kepada Allah, dan aku ucapkan salam serta rahmat Allah kepada kalian."

Terbunuhnya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu

Amirul Mukminin Radhiyallahu 'Anhu telah menghadapi situasi yang kacau, keadaan yang tidak stabil, serta pembangkangan dari pasukannya dari penduduk Irak dan yang lainnya. Mereka enggan berjuang bersamanya. Padahal, pemimpin mereka, Ali bin Abi Thalib, adalah manusia terbaik di muka bumi pada zaman tersebut. Beliau adalah orang yang paling rajin beribadah, paling zuhud, paling berilmu, dan paling takut kepada Allah Azza wa Jalla di antara mereka. Namun terlepas dari semua keutamaan itu, mereka tetap mengecewakan dan meninggalkannya. Padahal, beliau selalu memberikan pemberian yang banyak dan harta yang melimpah kepada mereka. Sikap buruk mereka ini terus berlanjut hingga beliau merasa jemu dengan kehidupan dan mengharapkan kematian. Hal itu dikarenakan banyaknya fitnah dan kemunculan berbagai ujian. Beliau sering kali berkata, "Apa yang menahan orang yang paling celaka itu —yaitu apa lagi yang ditunggunya— mengapa dia tidak segera membunuhku?"

Kemudian beliau berkata, "Demi Allah, sungguh ini akan diwarnai (berlumuran darah)," sambil mengisyaratkan ke jenggotnya, "dari ini," sambil mengisyaratkan ke bagian atas kepalanya.

Kisah Terbunuhnya Beliau Radhiyallahu 'Anhu

Ibnu Jarir dan beberapa ulama sejarah, biografi, serta kisah masa lalu menyebutkan bahwa ada tiga orang dari kaum Khawarij; mereka adalah:

  1. Abdurrahman bin 'Amru yang dikenal dengan nama Ibnu Muljam Al-Himyari kemudian Al-Kindi, sekutu bagi Bani Jabalah dari Kindah penduduk Mesir.
  2. Al-Burak bin Abdillah At-Tamimi.
  3. 'Amru bin Bakr At-Tamimi.

Mereka bertiga berkumpul dan memperbincangkan tentang pembunuhan saudara-saudara mereka sesama kaum Khawarij dari kalangan penduduk Nahrawan (oleh pasukan Ali). Mereka mendoakan rahmat untuk mereka dan berkata, "Apa yang bisa kita perbuat dengan tetap hidup setelah kematian mereka?! Bagaimana kalau kita mengorbankan diri kita, lalu kita datangi para pemimpin kesesatan itu untuk kita bunuh, sehingga kita bisa membebaskan negeri dari mereka sekaligus membalaskan dendam saudara-saudara kita?"

Ibnu Muljam berkata, "Aku yang akan membereskan Ali bin Abi Thalib untuk kalian." Al-Burak bin Abdillah berkata, "Aku yang akan membereskan Muawiyah bin Abi Sufyan untuk kalian." 'Amru bin Bakr berkata, "Aku yang akan membereskan 'Amru bin Al-'Aas untuk kalian."

Mereka pun saling berjanji dan bersumpah dengan teguh bahwa tidak boleh ada satu pun yang mundur dari sasarannya sampai dia berhasil membunuhnya atau mati dalam usahanya. Mereka lalu mengambil pedang masing-masing dan melumurinya dengan racun. Mereka menyepakati tanggal 17 Ramadan tahun 40 Hijriah sebagai waktu bagi setiap orang untuk menyergap sasarannya di kota tempat tinggalnya masing-masing.

Adapun Ibnu Muljam, dia berangkat menuju Kufah dan memasukinya. Dia menyembunyikan maksud kedatangannya, bahkan dari rekan-rekan sesama Khawarij yang ada di sana. Ketika dia sedang duduk bersama sekelompok orang dari Bani Taim ar-Rabab yang tengah mengenang orang-orang mereka yang tewas pada Perang Nahrawan, tiba-tiba datanglah seorang wanita dari golongan mereka yang bernama Qatham binti Asy-Syejnah. Ali telah membunuh ayah dan saudara laki-laki wanita ini pada Perang Nahrawan. Wanita itu sangat cantik jelita dan terkenal karena kecantikannya, serta telah mengasingkan diri di Masjid Jami' untuk beribadah.

Ketika Ibnu Muljam melihatnya, wanita itu langsung memikat akal sehatnya hingga dia melupakan urusan utama yang menjadi tujuan kedatangannya. Dia pun melamar wanita tersebut kepada dirinya sendiri. Wanita itu mengajukan syarat mahar berupa uang tiga ribu dirham, seorang pelayan, seorang budak wanita penyanyi, serta membunuh Ali bin Abi Thalib untuknya. Ibnu Muljam berkata, "Semua itu menjadi milikmu. Demi Allah, tidak ada yang membawaku ke kota ini melainkan untuk membunuh Ali." Dia pun menikahinya dan menggaulinya. Setelah itu, istrinya mulai menghasutnya untuk segera melaksanakan rencana tersebut, dan mencarikan seorang pria dari kaumnya (Taim ar-Rabab) yang bernama Wardan untuk membantunya dan menjadi pelindungnya. Ibnu Muljam juga berhasil memengaruhi pria lain bernama Syabib bin Bajrah Al-Asyja'i Al-Haruri.

Ibnu Muljam berkata kepadanya, "Maukah kamu mendapatkan kemuliaan dunia dan akhirat?" Syabib bertanya, "Apa itu?" Dia menjawab, "Membunuh Ali." Syabib berkata, "Celakalah ibumu! Kamu telah datang membawa perkara yang sangat mungkar, bagaimana mungkin kamu mampu melakukannya?" Ibnu Muljam berkata, "Kita mengintai dirinya di dalam masjid. Jika dia keluar untuk salat subuh, kita sergap dan kita bunuh dia. Jika kita selamat, kita telah memuaskan hati kita dan membalaskan dendam kita. Dan jika kita terbunuh, apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik daripada dunia." Syabib berkata, "Celaka kamu! Seandainya orang itu selain Ali, tentu akan lebih ringan bagiku. Kamu telah mengetahui rekam jejaknya yang terdahulu dalam Islam serta kekerabatannya dengan Rasulullah, maka aku tidak mendapati hatiku lapang untuk membunuhnya." Ibnu Muljam mendesak, "Bukankah kamu tahu bahwa dia telah membunuh penduduk Nahrawan?" Syabib menjawab, "Benar." Ibnu Muljam berkata, "Maka kita membunuhnya sebagai balasan atas saudara-saudara kita yang telah dibunuhnya." Akhirnya Syabib memenuhi ajakan tersebut setelah melalui perdebatan yang alot.

Ketika bulan Ramadan tiba, Ibnu Muljam menjanjikan kepada rekan-rekannya pada malam Jumat tanggal 17 Ramadan yang lalu. Dia berkata, "Inilah malam yang telah aku sepakati bersama teman-temanku bahwa setiap orang dari kami akan membunuh sasarannya masing-masing." Maka datanglah ketiga orang tersebut dengan menghunuskan pedang di balik pakaian mereka. Mereka duduk di depan pintu tempat keluarnya Ali. Ketika Ali keluar, beliau mulai membangunkan orang-orang dari tidur untuk menunaikan salat seraya berseru, "Salat, salat!"

Seketika itu juga Syabib menyerang dengan pedangnya namun meleset mengenai tiang/lengkungan pintu. Lalu Ibnu Muljam menyergapnya dan menebaskan pedang ke bagian atas kepalanya, sehingga darahnya mengalir membasahi jenggot beliau Radhiyallahu 'Anhu. Ketika Ibnu Muljam menebasnya, dia berteriak, "Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu wahai Ali dan bukan pula milik sahabat-sahabatmu!"

Dia juga terus membaca firman Allah Ta'ala:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” [Al-Baqarah: 207]

Ali pun berteriak, "Tangkap orang itu!"

Wardan melarikan diri, namun dia terkejar oleh seorang pria dari Hadramaut lalu dibunuh. Syabib juga melarikan diri dan berhasil lolos dari kepungan orang-orang. Sedangkan Ibnu Muljam berhasil ditangkap. Kemudian Ali menunjuk Ja'dah bin Hubairah bin Abi Wahb untuk mengimami manusia pada salat subuh. Ali lalu dibawa ke rumahnya, dan Ibnu Muljam juga dibawa masuk ke hadapan beliau dalam keadaan terikat tangannya —semoga Allah memburukkan rupanya—. Ali bertanya kepadanya, "Apa yang mendorongmu melakukan ini?" Ibnu Muljam menjawab, "Aku telah mengasah pedang ini selama empat puluh pagi, dan aku memohon kepada Allah agar pedang ini dapat membunuh makhluk-Nya yang paling buruk." Ali berkata kepadanya, "Aku tidak melihat dirimu melainkan kamu sendiri yang akan terbunuh oleh pedang ini, dan aku tidak melihat dirimu melainkan termasuk makhluk-Nya yang paling buruk." Kemudian Ali berkata, "Jika aku mati, maka bunuhlah dia. Namun jika aku selamat, aku lebih tahu apa yang akan aku perbuat dengannya."

Pemakaman Beliau Radhiyallahu 'Anhu

Ketika Ali Radhiyallahu 'Anhu wafat, jenazahnya dimandikan oleh kedua putranya, Al-Hasan dan Al-Husain, serta bersama mereka Abdullah bin Ja'far. Jenazahnya disalatkan oleh putranya, Al-Hasan, dengan mengumandangkan sembilan kali takbir, dan beliau dimakamkan di Darul Imarah (Istana Gubernur) di Kufah. Hal itu dilakukan karena khawatir terhadap kaum Khawarij jika mereka membongkar kuburannya untuk mengeluarkan jasad beliau. Inilah pendapat yang masyhur (terkenal).

Adapun orang yang mengatakan bahwa jasad beliau dinaikkan ke atas untanya lalu unta itu pergi entah ke mana tanpa diketahui rimbunya, maka pendapat itu salah, mengada-ada tanpa dasar ilmu, serta tidak dapat diterima oleh akal maupun syariat. Begitu pula apa yang diyakini oleh banyak orang Rafidhah yang bodoh bahwa kuburannya berada di makam Najaf; tidak ada dalil dan tidak ada dasar sama sekali untuk klaim tersebut. Bahkan dikatakan bahwa kuburan di sana sebenarnya adalah kuburan Al-Mughirah bin Syu'bah.

Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan dari Abu Nu'aim Al-Hafiz, dari Abu Bakar At-Thalhi, dari Muhammad bin Abdullah Al-Hadrami Al-Hafiz (Mutayyan), bahwasanya dia berkata, "Seandainya kaum Syiah mengetahui kuburan siapa yang mereka agung-agungkan di Najaf itu, niscaya mereka akan melemparinya dengan batu; ini adalah kuburan Al-Mughirah bin Syu'bah."

Dan dari Ja'far bin Muhammad Ash-Shadiq, dia berkata, "Ali disalatkan pada malam hari, dimakamkan di Kufah, dan disembunyikan... ...keberadaan lokasi makamnya, namun letaknya berada di dekat istana gubernur (Qashr al-Imarah)."

Tanggal Wafat dan Usia Beliau

Ali Radhiyallahu 'Anhu ditusuk pada malam Jumat waktu sahur, yaitu pada tanggal 17 yang telah lewat dari bulan Ramadan tahun 40 Hijriah. Ada yang mengatakan beliau wafat pada hari itu juga, dan ada yang mengatakan beliau wafat pada hari Ahad tanggal 19 Ramadan.

Al-Fallas berkata: Ada pula yang mengatakan beliau ditusuk pada malam ke-21, dan wafat pada malam ke-24 dalam usia 59 atau 58 tahun.

Ada yang mengatakan beliau wafat dalam usia 63 tahun, dan inilah pendapat yang masyhur. Pendapat ini dinyatakan oleh Muhammad bin al-Hanafiyyah, Abu Ja'far al-Baqir, Abu Ishaq as-Sabi'i, dan Abu Bakar bin 'Ayyasy.

Masa kekhalifahan beliau berlangsung selama lima tahun kurang tiga bulan. Ada yang mengatakan empat tahun sembilan mesej/bulan dan tiga hari. Ada pula yang mengatakan empat tahun delapan bulan dan dua puluh tiga hari, Radhiyallahu 'Anhu.


Sumber Kisah:

Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alexander Agung dan Mimpi Menguasai Arab: Ekspedisi yang Gagal karena Kematian

Pengangkatan Utsman ibnu Affan Sebagai Khalifah

Gesyem si Arab dan Tembok Yerusalem: Kisah Perlawanan yang Mengubah Peta Politik