Arab di Bulan Sabit Subur: Jejak Terawal dalam Prasasti Raksasa Mesopotamia
Mendobrak Tabir Sejarah yang Tersembunyi
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana kehidupan bangsa Arab
ribuan tahun sebelum Masehi? Siapa nama mereka? Bagaimana hubungan mereka
dengan kerajaan-kerajaan adidaya pada zamannya: Akkadia, Asyur, Babilonia?
Selama ini, kabut tebal menyelimuti masa lalu itu. Namun,
berkat prasasti-prasasti yang digali dari reruntuhan istana Mesopotamia, kita
sekarang dapat mengintip jendela waktu dan melihat sekelumit
kisah nenek moyang bangsa Arab di Bulan Sabit Subur — wilayah yang membentang
dari Irak hingga Suriah dan Palestina.
Mari kita menyusuri lorong waktu bersama.
Narambu: Penguasa Pertama yang Menyebut "Arab"
Kisah tertua yang sampai kepada kita tentang hubungan antara
bangsa Arab dengan Mesopotamia berasal dari sekitar 2270–2223 SM,
yaitu pada zaman Raja Naram-Sin dari Akkadia. Dalam
prasastinya, raja ini menyebut bahwa ia menguasai tanah-tanah yang berbatasan
dengan Babel yang penduduknya adalah "Aribu" atau
"Arabu" — sebutan untuk bangsa Arab.
Maknanya sangat jelas: sejak lebih dari 4.200 tahun
yang lalu, suku-suku Arab sudah menetap di wilayah perbatasan Mesopotamia.
Mereka tinggal di sana sebelum Naram-Sin berkuasa. Bahkan, mereka telah
membentuk "syaikh-syaikh" dan "emirat-emirat" kecil,
mirip dengan emirat Al-Hirah yang kemudian menjadi terkenal pada masa setelah
Masehi.
Nama-Nama Arab dalam Catatan Asyur: Siapa Mereka?
Prasasti-prasasti Asyur menyebut sejumlah nama tokoh Arab
yang merupakan catatan tertua nama-nama Arab Utara yang kita
kenal. Nama-nama itu ditulis menurut lidah Asyur, sehingga sedikit berubah
bentuk. Mari kita lihat beberapa di antaranya:
|
Nama dalam Prasasti Asyur |
Nama Asli Arab yang Mungkin |
|
Zabibah / Zabibi |
Zubaybah |
|
Samsi / Shamsi |
Syams atau Syamsah |
|
Basqanu |
Al-Basiq |
|
Gindibu |
Jundab |
|
Akbaru |
Akbar atau Akhbar |
|
Niharu |
Nakhr atau Nahar |
|
Laili |
Layla |
Nama-nama ini terasa sangat akrab di telinga kita hingga
hari ini.
Perang Qarqar (854 SM): Ketika Arab Bersatu Melawan Asyur
Sekarang kita memasuki babak dramatis. Pada tahun 854
SM, raja Asyur yang perkasa, Salmaneser III, melancarkan
ekspansi ke barat. Raja Damaskus yang bernama Bir-idri (dalam
Alkitab disebut Benhadad) sangat ketakutan. Ia pun membentuk koalisi
besar untuk melawan Asyur.
Siapa saja yang bergabung? Sebanyak dua belas raja dari
Suriah, termasuk Ahab raja Israel, para penguasa Fenisia, dan
yang tidak kalah pentingnya: Gindibu, raja "Arab" (dalam
prasasti: "Gindibu, the Arab"). Raja Arab ini mengirimkan 1.000
ekor unta dan sejumlah prajurit ke medan perang.
Peperangan dahsyat pun terjadi di kota Qarqar,
sebelah utara Hama (Suriah). Salmaneser dengan bangga mencatat dalam
prasastinya:
"1.200 kereta perang, 1.200 pasukan berkuda, 20.000
prajurit dari Hadad'ezer (Benhadad) penguasa Damaskus... 1.000 unta dari
Gindibu, orang Arab... Keduabelas raja yang ia (Benhadad) kumpulkan untuk
membantunya, mereka maju ke medan perang dan pertempuran, mereka bersekutu
melawanku..."
Kemenangan akhirnya berada di pihak Asyur. Koalisi pun
bubar. Namun, peristiwa ini menunjukkan bahwa Arab telah menjadi pemain
penting dalam politik regional sejak 2.900 tahun lalu.
Ratu-Ratu Arab: Zabibah, Samsi, dan Iati'e
Salah satu hal paling menarik dari prasasti Asyur adalah
penyebutan ratu-ratu Arab yang memerintah suku-suku mereka.
Ini menunjukkan bahwa perempuan bisa memegang tampuk kekuasaan tertinggi di
kalangan Arab kuno.
Zabibah (Zubaybah) – Ratu yang Membayar Upeti
Pada tahun ketiga pemerintahan Tiglath-Pileser III (sekitar
745 SM), seorang ratu Arab bernama Zabibah (Zubaybah) membayar
upeti kepada Asyur. Ia memerintah "Aribi" (orang-orang Arab). Para
ahli menduga bahwa pusat kekuasaannya berada di Dumat al-Jandal (kota
kuno di utara Arab Saudi), dan ia mungkin juga seorang pendeta suku
Qaydar (Kedar).
Samsi (Syams) – Ratu yang Memberontak dan Akhirnya Tunduk
Ratu Arab lainnya bernama Samsi (Syams atau
Syamsah) juga disebut dalam prasasti Tiglath-Pileser III. Ia memberontak
melawan Asyur, mungkin bergabung dengan raja Damaskus. Akibatnya, raja Asyur
mengirim pasukan besar, menghancurkan dua kotanya, dan menguasai perkemahannya.
Samsi melarikan diri tanpa alas kaki, rambutnya terurai, kelaparan dan
kelelahan — sebuah gambaran yang sungguh memilukan.
Pada akhirnya, ia menyerah dan mengirim utusan untuk
berdamai, dipimpin oleh seorang bernama Yarpa' (Yarbu' atau
Yarfa'). Para utusan lainnya bernama Khatarnu, Janabu,
dan Tamranu — semuanya nama Arab asli.
Setelah itu, Samsi dan sejumlah suku Arab lainnya membayar
upeti tahunan kepada Asyur.
Iati'e (Yathi'ah) – Ratu yang Mengirim Bantuan ke
Babilonia
Pada sekitar tahun 703–702 SM, seorang ratu Arab
bernama Iati'e (mungkin Yathi'ah atau Bathi'ah) mengirim
pasukan untuk membantu Merodach-Baladan, raja Babilonia yang
memusuhi Asyur. Pasukan dipimpin oleh saudara laki-lakinya, Basqanu (Al-Basiq).
Sayangnya, mereka dikalahkan di kota Kish, dan Basqanu ditawan bersama sebagian
besar pasukannya.
Peta Kekuasaan Arab dalam Catatan Asyur
Tiglath-Pileser III juga mencatat bahwa ia menerima upeti
dari berbagai suku dan wilayah Arab, di antaranya:
1. Massa (Mas'a)
Suku ini disebut dalam Alkitab sebagai anak Ismail.
Wilayahnya kemungkinan di timur atau tenggara Meraab (dekat
Palestina). Ada juga laporan dari residen Asyur bahwa seorang raja dari suku
Massa bernama "Malku Qahru" (Malik Qahru?) menyerbu suku Nabi'ati.
2. Nabi'ati (Nabayot)
Inilah suku Nebayoth dalam Alkitab, juga
keturunan Ismail. Mereka terkenal sebagai pedagang dan penggembala. Wilayah
mereka berdekatan dengan suku Massa.
3. Tayma (Taima')
Taima adalah oasis terkenal di utara Arab Saudi,
disebut dalam Alkitab dan juga dalam catatan Islam. Letaknya di jalur
perdagangan penting yang menghubungkan Arab Selatan, Hijaz, Syam, Irak, dan
Mesir. Penduduk Taima membayar upeti untuk melindungi jalur kafilah dagang
mereka.
4. Saba (Saba')
Nama Saba dalam prasasti Asyur ini sangat
menarik. Tiglath-Pileser III menyebut Saba setelah Taima, yang menunjukkan
bahwa yang dimaksud adalah cabang Saba yang tinggal di utara Arab (mungkin di
daerah Dedan) — bukan kerajaan Saba di Yaman Selatan. Kelompok Saba
utara ini mengendalikan jalur perdagangan unta dan ternak.
5. Hayapa (Khayabah)
Suku ini mungkin adalah Eifah (Ayfah) yang
disebut dalam Alkitab sebagai keturunan Midian, yaitu anak Ibrahim dari Qatura.
Mereka terkenal sebagai saudagar yang membawa emas dan kemenyan. Wilayah mereka
diperkirakan di daerah Hasmi.
6. Badana (Bathanah)
Nama ini sulit diidentifikasi. Bisa jadi adalah Badan atau Midan.
Wilayahnya di sekitar Al-Ula (Dedan kuno). Sebagian dari
mereka juga tinggal di sekitar Petra (Jordan).
7. Idiba'il (Adba'il)
Ini adalah suku Adbeel dalam Alkitab, juga
termasuk keturunan Ismail. Wilayah mereka di barat daya Laut Mati, dekat Gaza
hingga ke perbatasan Mesir dan Sinai. Raja Asyur bahkan mengangkat seorang Arab
dari suku ini bernama Idiba'il (Adba'il) menjadi gubernur
wilayah "Mushri" (mungkin Sinai utara) sekitar tahun 734 SM, dengan
25 distrik dari Ashkelon di bawah kekuasaannya.
Raja-Raja Arab di Pedalaman dan Pesisir
Prasasti Sargon II (722–705 SM) mencatat
bahwa ia menerima upeti dari banyak raja Arab. Dalam salah satu prasastinya, ia
menyebut: "Dari raja-raja yang tinggal di pesisir, dan dari
raja-raja yang tinggal di padang pasir, aku menerima upeti: emas, batu mulia,
gading, biji-bijian, kuda, dan unta."
Ini menunjukkan bahwa kerajaan-kerajaan Arab sudah
terorganisasi dengan raja-raja yang menguasai wilayah pesisir maupun
pedalaman gurun.
Keajaiban Hubungan Asyur dengan Bahrain dan Saba
Kerajaan Dilmun (Bahrain)
Raja Sargon II dengan bangga menceritakan tentang Uperi,
raja Dilmun (Bahrain), yang mendengar keagungan Asyur lalu mengirim hadiah. Ia
menggambarkan negeri itu: "Yang tinggal seperti ikan di tengah
Laut Timur, laut tempat matahari terbit, pada jarak 30 beru (satuan
jarak)..." Ini menunjukkan bahwa Bahrain pada masa itu (sekitar
715 SM) adalah kerajaan yang merdeka di bawah rajanya sendiri, namun memiliki
hubungan dagang erat dengan Mesopotamia.
Raja Sanherib (putra Sargon) juga menyebut
bahwa raja Bahrain segera mengakui kekuasaannya setelah armada Asyur memasuki
Teluk Persia.
Raja Saba "Karibilu"
Raja Sanherib juga menerima hadiah dari Karibilu (Karab-El),
raja Saba (Saba'). Hadiahnya berupa batu mulia, dupa harum,
emas, perak, dan rempah-rempah yang terkenal dari Arab Selatan. Para ahli
meyakini bahwa "Karibilu" ini adalah salah satu Mukarrib (imam-raja)
Saba, bukan raja dalam pengertian Asyur. Ia mengirim hadiah secara sukarela,
bukan upeti paksaan.
Arab sebagai Pelindung Perbatasan: Politik Upah dan
Hadiah
Mengapa kerajaan besar seperti Asyur, Babilonia, dan
kemudian Persia, Romawi, bahkan negara-negara modern di abad 19-20, begitu
memperhatikan suku-suku Arab?
Jawabannya: suku Arab adalah penguasa padang pasir.
Pasukan reguler sulit memasuki gurun yang luas dan keras. Oleh karena itu,
pemerintah kuno (dan modern) menerapkan kebijakan yang cerdas: membayar
upeti tahunan, hadiah, dan tunjangan kepada para pemimpin suku, serta
kadang mengangkat mereka sebagai pejabat atau gubernur perbatasan.
Para pemimpin suku ini ditugaskan untuk:
- Menjaga
keamanan perbatasan
- Mencegah
serangan suku lain
- Membantu
militer dalam peperangan
- Melaporkan
gerak-gerik suku bermasalah
Ketika seorang kepala suku kuat, pemerintah akan bersahabat
dengannya. Ketika ia mulai melemah dan muncul pesaing yang lebih kuat,
pemerintah akan beralih loyalitas. Inilah politik realis kuno yang
terus berlangsung hingga kini.
Pelajaran dari Masa Lalu yang Jauh
Apa yang telah kita pelajari dari perjalanan panjang di bab
ini?
- Bangsa
Arab (badui) sudah ada di Bulan Sabit Subur sejak lebih dari 4.200 tahun
yang lalu — bahkan sebelum bangsa Ibrani muncul sebagai entitas
politik.
- Mereka
bukan sekadar perampok gurun, tetapi memiliki kerajaan-kerajaan kecil,
para ratu dan raja, dan sistem politik yang teratur.
- Nama-nama
mereka sejak 2.800 tahun lalu — seperti Zabibah, Samsi, Jundab,
Laili, Nabayot, Taima, Massa, Adba'il — masih akrab di telinga kita hingga
kini.
- Perempuan
Arab memegang kekuasaan tertinggi pada masa-masa awal — sebuah
fakta yang mungkin mengejutkan bagi yang mengira masyarakat Arab selalu
patriarkis.
- Arab
menjadi bagian tak terpisahkan dari geopolitik Timur Dekat kuno,
menjadi sekutu atau musuh bagi kerajaan-kerajaan adidaya Mesopotamia
tergantung pada kepentingan saat itu.
Sejarah panjang ini mengingatkan kita bahwa identitas
Arab bukanlah ciptaan baru, melainkan akar yang telah membentang jauh ke
masa lalu — melampaui Yunani, Romawi, bahkan melampaui kerajaan-kerajaan besar
pertama di dunia.
Sumber :
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar