Arab dan Romawi: Kisah Aliansi, Pengkhianatan, dan Ekspedisi yang Gagal
Ketika Dua Dunia Bertemu
Setelah Alexander Agung wafat, kerajaannya yang luas mulai
retak. Kerajaan-kerajaan kecil saling bertarung memperebutkan warisan. Di
tengah kekacauan itu, sebuah kekuatan baru muncul dari Barat: Roma.
Lambat laun, Romawi menguasai Makedonia, Yunani, Asia Kecil, Suriah, dan Mesir.
Dengan demikian, mereka menjadi tetangga baru bagi bangsa Arab.
Orang-orang Arab sebenarnya sudah lama tinggal di Lebanon
dan Suriah sebelum Masehi. Sebagian beralih menjadi petani yang menetap.
Sebagian lainnya menjadi pengawal jalan dan pelindung kafilah dagang, terutama
di jalur Suriah–Palmyra–Irak. Penulis Romawi menyebut mereka "Arabes
Skynitai" — orang Arab yang tinggal di kemah.
Perebutan Kekuasaan di Yudea: Campur Tangan Romawi
Pertama
Pada tahun 63 SM, Jenderal Pompey datang ke
Suriah untuk menaklukkan wilayah itu sepenuhnya. Saat itu, Kerajaan Yudea
(Yahudi) sedang dilanda perang saudara antara dua bersaudara: Hyrcanus
II dan Aristobulus II. Hyrcanus melarikan diri ke Petra,
ibu kota Kerajaan Nabatean, dan meminta bantuan Raja Aretas (al-Harits).
Sebagai imbalan, ia berjanji menyerahkan dua belas kota yang pernah direbut
oleh Alexander Jannaeus.
Aristobulus, di pihak lain, mengirim duta ke jenderal
Romawi Scaurus yang sedang berada di Suriah. Kedua pihak
saling menjanjikan imbalan. Scaurus memutuskan mendukung Aristobulus. Ia
mengirim surat kepada Raja Aretas: "Tinggalkan pengepungan Yerusalem, atau
hadapi Romawi." Aretas yang gentar pun mundur. Dalam pertempuran kecil di
dekat sungai Yordan, Aristobulus keluar sebagai pemenang.
Namun Pompey sendiri kemudian datang ke Suriah pada 64 SM.
Kedua bersaudara itu datang kepadanya dengan membawa hadiah mewah, memintanya
menjadi wasit. Pompey melihat ini sebagai kesempatan emas. Ia mengirim pasukan
menyerang Aretas, yang melawan dengan gigih. Setelah berhasil, Romawi merebut
Yerusalem dan seluruh Palestina. Daerah itu digabungkan ke provinsi Romawi di
Suriah. Aristobulus dan para pengikutnya ditawan dan dibawa ke Roma dalam pawai
kemenangan Pompey pada tahun 61 SM.
Scaurus, gubernur Romawi yang baru, kemudian membuat
perjanjian dengan Raja Aretas. Sang raja Nabatean setuju untuk menjaga keamanan
perbatasan dan bekerja sama dengan Romawi. Sebuah koin ditemukan dengan gambar
yang melambangkan perjanjian ini.
Orang Arab dalam Perang Melawan Parthia
Bangsa Arab ternyata juga membantu Romawi melawan musuh
bebuyutan mereka: Parthia (Persia). Pada sekitar tahun 53 SM,
orang-orang Arab membantu jenderal Cassius dan Crassus dalam
perang melawan Parthia. Bantuan ini penting karena wilayah gurun adalah medan
yang sulit bagi pasukan reguler Romawi.
Antipater: Orang Edom yang Menjadi Penguasa Yudea
Pada tahun 47 SM, Julius Caesar mengangkat
seorang pria bernama Antipater sebagai Prokurator (gubernur)
Yudea. Antipater adalah orang Edom (Idumea) — dan para ahli
sepakat bahwa orang Edom pada masa itu sudah menjadi bagian dari bangsa Arab.
Ia adalah ayah dari Herodes Agung, raja terkenal yang membangun
Bait Suci kedua di Yerusalem. Caesar juga mengangkat seorang Arab lain
bernama Cypros dari keluarga terpandang.
Ini adalah awal dari politik Romawi yang cerdik: memanfaatkan
penguasa Arab lokal untuk mengelola wilayah perbatasan gurun, melindungi
dari serangan suku-suku lain dan dari Persia. Praktik ini berlanjut selama
berabad-abad.
Alchaidamos: Penguasa Arab yang Berkhianat
Seorang pemimpin Arab bernama Alchaidamos (mungkin
"Al-Khidhim" atau "Al-Khathim") menguasai suku Rhambaei (mungkin
"Rahbah" atau "Rihab") di padang gurun dekat Suriah. Ia
awalnya bersekutu dengan Romawi, tetapi kemudian tersinggung oleh perlakuan
seorang jenderal Romawi. Maka ia menyeberangi Sungai Efrat pada tahun 46 SM dan
berlindung kepada Parthia. Dari sana, ia melancarkan serangan ke wilayah
Romawi.
Sejarawan Dio Cassius menggambarkannya
sebagai seorang oportunis yang selalu berpihak pada yang kuat. Ia merebut
kota Arethusa (Ar-Rastan di Suriah, di tepi Sungai Orontes)
dan menjadikannya markasnya. Kekuasaannya bertahan lama, dari sekitar 46 SM
hingga 43 SM.
Putranya, Iamblichus (Jamlikh), kemudian
menjadi penguasa kota Emesa (Homs). Ia membantu Kaisar
Augustus melawan Parthia. Demikian pula raja Acbarus (Akbar)
dari Homs membantu Romawi pada tahun 49 M. Mereka tidak punya pilihan selain
berpihak pada Romawi, karena Romawi saat itu adalah penguasa tunggal di Suriah.
Malchus: Raja Nabatean yang Menyelamatkan Julius Caesar
Ketika Julius Caesar nyaris terkepung di Alexandria pada
tahun 47 SM, Raja Malchus (Malik I bin 'Ubadah) dari Nabatea
mengirim pasukan bantuan yang sangat besar. Bantuan ini menyelamatkan Caesar
dari situasi genting. Ini menunjukkan betapa pentingnya aliansi dengan Arab
Nabatean bagi Romawi.
Augustus dan Mimpi Menguasai Arabia
Setelah Augustus menjadi kaisar pertama Romawi (31 SM – 14
M), ia membenahi Mesir yang porak-poranda akibat perang saudara. Ia
membersihkan terusan kuno antara Nil dan Laut Merah, memperbaiki jalan, dan
memberantas bajak laut di Laut Merah. Tujuannya: menguasai perdagangan
rempah-rempah Arab yang sangat menguntungkan.
Ia mendengar bahwa Arabia Selatan (Yaman) sangat kaya —
penduduknya menukar kemenyan dan rempah dengan emas, perak, dan batu mulia.
Selain itu, bajak laut bersembunyi di pelabuhan-pelabuhan Arab. Maka Augustus
memerintahkan gubernur Mesir, Aelius Gallus, untuk menyerbu Arabia
dan menaklukkannya.
Persiapan Ekspedisi yang Megah namun Keliru
Gallus mempersiapkan armada besar. Ia membangun 80 kapal
perang dan 130 kapal angkut di Cleopatris (dekat Suez). Namun
ia kemudian mendapat laporan bahwa orang Arab tidak memiliki angkatan laut yang
berarti, sehingga ia mengubah rencana. Pasukannya yang berjumlah 10.000
prajurit (campuran Romawi, Mesir, dan 1.000 pasukan Nabatean serta 500
Yahudi) diangkut dengan kapal dari Mesir menyeberangi Laut Merah.
Mereka mendarat di pelabuhan Leuke Kome ("Kota
Putih") di pesisir Hijaz (kemungkinan Al-Haura atau dekat Yanbu). Namun
perjalanan laut sangat melelahkan. Kapal-kapal tidak dirancang untuk pelayaran
sejauh itu, banyak yang rusak. Pasukan tiba dalam keadaan lelah dan sakit
karena air dan makanan buruk. Gallus terpaksa menghabiskan musim panas dan
dingin di Leuke Kome untuk memulihkan pasukan.
Syllaeus, menteri Raja Nabatean (yang menjadi
"pemandu" Romawi), dituduh oleh Strabo sengaja menyesatkan Gallus. Ia
memberi informasi bahwa tidak ada jalan darat yang bisa dilalui, dan tidak ada
cukup unta, agar Romawi melemah dan ia sendiri bisa menjadi penguasa tunggal.
Perjalanan ke Selatan: Pertempuran dan Kota yang Jatuh
Setelah pulih, Gallus berjalan ke selatan. Ia melewati
wilayah seorang raja bernama Aretas (kerabat Raja Obadas dari
Nabatea), yang menyambutnya dengan baik. Kemudian ia memasuki padang pasir yang
gersang selama 30 hari, tiba di negeri Ararene (mungkin
'Ararah) yang dikuasai Raja Sabos.
Setelah 50 hari berjalan, ia mencapai kota Negrani (Najran?).
Sang raja melarikan diri, dan Romawi merebut kota itu. Enam hari kemudian,
mereka sampai di sebuah sungai. Di sana terjadi pertempuran besar. Menurut
Strabo (yang sangat memihak Romawi), 10.000 orang Arab tewas, sementara
Romawi hanya kehilangan 2 orang — sebuah klaim yang jelas berlebihan.
Kota Asca menyerah. Kota Athrula juga
menyerah tanpa perlawanan. Gallus meninggalkan garnisun di sana dan
mengumpulkan gandum serta buah-buahan.
Ia kemudian menuju Marsyaba (Marsiaba), ibu
kota suku Rhammanitae yang tunduk kepada Raja Illasarus.
Setelah dikepung selama enam hari, kota itu jatuh. Namun Gallus meninggalkannya
karena kekurangan air. Dari tawanan, ia mendengar bahwa daerah penghasil rempah
(Yaman Selatan) hanya berjarak dua hari perjalanan lagi. Tapi ia tidak
melanjutkan.
Mundur dengan Kekalahan
Dalam perjalanan pulang, Gallus memotong waktu. Dari
Marsyaba ke Negrana hanya ditempuh 9 hari (setelah sebelumnya 50 hari!). Ia
sampai di tempat yang disebut "Tujuh Sumur" , lalu
ke Chaalla dan Malothas di tepi sungai.
Setelah melintasi padang pasir lain, ia tiba di desa Egra (mungkin
Al-Hijr atau Madain Shalih? Atau Yanbu? Para ahli berbeda pendapat) di wilayah
Raja Obadas, di tepi laut. Perjalanan pulang dari Marsyaba ke Egra memakan
waktu 60 hari.
Dari Egra, Gallus dan pasukannya yang tersisa (banyak yang
tewas karena penyakit, bukan pertempuran) berlayar kembali ke Mesir, tiba
di Myus Hormus (pelabuhan di pesisir Mesir) dalam 11 hari,
lalu ke Koptus (Qift) dan kemudian ke Alexandria.
Ekspedisi ini gagal total. Strabo membela Gallus
dengan mengatakan bahwa hanya 7 orang tewas dalam pertempuran, tetapi ribuan
tewas karena penyakit dan kelelahan. Ini adalah peringatan bahwa Romawi
meremehkan kerasnya alam Arabia.
Pelajaran dari Kegagalan: Gurun Tak Dapat Ditaklukkan
Ekspedisi Aelius Gallus menjadi contoh klasik tentang kesombongan
kekaisaran. Romawi mengira mereka bisa menaklukkan Arabia dengan mudah
karena menganggap bangsa Arab tidak beradab. Mereka lupa bahwa gurun adalah
benteng alami yang paling tangguh. Ketiadaan air, panas yang menyengat, medan
yang terjal, dan penyakit lebih mematikan daripada pedang.
Setelah kegagalan ini, Romawi tidak pernah lagi mencoba
menaklukkan Arabia secara langsung. Mereka beralih ke strategi yang lebih
halus: menguasai jalur perdagangan melalui laut, bersekutu dengan
kerajaan-kerajaan lokal (seperti Nabatea), dan kemudian (setelah Nabatea
ditaklukkan pada 106 M) menganeksasi wilayah mereka secara bertahap.
Tetapi mimpi Augustus untuk menguasai "Arabia
Felix" (Arabia yang Makmur) tetap menjadi mimpi. Gurun itu tetap bebas.
Sumber Kisah
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar