Arab dan Romawi: Kisah Aliansi, Pengkhianatan, dan Ekspedisi yang Gagal

Lukisan pemandangan di padang pasir dekat kota Petra, ibukota Kerajaan Nabatean (sekitar tahun 60 SM). Di latar depan, tenda besar dari bulu domba berwarna krem dan merah terbuka. Di dalam tenda, seorang raja Arab berjubah putih dan mahkota sederhana (menggambarkan Raja Aretas atau Malchus) sedang duduk bersila di atas karpun bermotif. Di hadapannya, seorang utusan Romawi berjubah ungu dan toga (melambangkan Scaurus atau Petugas Romawi) berdiri dengan sikap hormat, membawa gulungan perkamen (perjanjian). Di luar tenda, terlihat unta dan kuda beristirahat, dengan latar belakang tebing batu merah khas Petra. Langit biru dengan awan tipis. Suasana diplomatik yang tenang dan penuh wibawa.

Ketika Dua Dunia Bertemu

Setelah Alexander Agung wafat, kerajaannya yang luas mulai retak. Kerajaan-kerajaan kecil saling bertarung memperebutkan warisan. Di tengah kekacauan itu, sebuah kekuatan baru muncul dari Barat: Roma. Lambat laun, Romawi menguasai Makedonia, Yunani, Asia Kecil, Suriah, dan Mesir. Dengan demikian, mereka menjadi tetangga baru bagi bangsa Arab.

Orang-orang Arab sebenarnya sudah lama tinggal di Lebanon dan Suriah sebelum Masehi. Sebagian beralih menjadi petani yang menetap. Sebagian lainnya menjadi pengawal jalan dan pelindung kafilah dagang, terutama di jalur Suriah–Palmyra–Irak. Penulis Romawi menyebut mereka "Arabes Skynitai" — orang Arab yang tinggal di kemah.


Perebutan Kekuasaan di Yudea: Campur Tangan Romawi Pertama

Pada tahun 63 SM, Jenderal Pompey datang ke Suriah untuk menaklukkan wilayah itu sepenuhnya. Saat itu, Kerajaan Yudea (Yahudi) sedang dilanda perang saudara antara dua bersaudara: Hyrcanus II dan Aristobulus II. Hyrcanus melarikan diri ke Petra, ibu kota Kerajaan Nabatean, dan meminta bantuan Raja Aretas (al-Harits). Sebagai imbalan, ia berjanji menyerahkan dua belas kota yang pernah direbut oleh Alexander Jannaeus.

Aristobulus, di pihak lain, mengirim duta ke jenderal Romawi Scaurus yang sedang berada di Suriah. Kedua pihak saling menjanjikan imbalan. Scaurus memutuskan mendukung Aristobulus. Ia mengirim surat kepada Raja Aretas: "Tinggalkan pengepungan Yerusalem, atau hadapi Romawi." Aretas yang gentar pun mundur. Dalam pertempuran kecil di dekat sungai Yordan, Aristobulus keluar sebagai pemenang.

Namun Pompey sendiri kemudian datang ke Suriah pada 64 SM. Kedua bersaudara itu datang kepadanya dengan membawa hadiah mewah, memintanya menjadi wasit. Pompey melihat ini sebagai kesempatan emas. Ia mengirim pasukan menyerang Aretas, yang melawan dengan gigih. Setelah berhasil, Romawi merebut Yerusalem dan seluruh Palestina. Daerah itu digabungkan ke provinsi Romawi di Suriah. Aristobulus dan para pengikutnya ditawan dan dibawa ke Roma dalam pawai kemenangan Pompey pada tahun 61 SM.

Scaurus, gubernur Romawi yang baru, kemudian membuat perjanjian dengan Raja Aretas. Sang raja Nabatean setuju untuk menjaga keamanan perbatasan dan bekerja sama dengan Romawi. Sebuah koin ditemukan dengan gambar yang melambangkan perjanjian ini.


Orang Arab dalam Perang Melawan Parthia

Bangsa Arab ternyata juga membantu Romawi melawan musuh bebuyutan mereka: Parthia (Persia). Pada sekitar tahun 53 SM, orang-orang Arab membantu jenderal Cassius dan Crassus dalam perang melawan Parthia. Bantuan ini penting karena wilayah gurun adalah medan yang sulit bagi pasukan reguler Romawi.


Antipater: Orang Edom yang Menjadi Penguasa Yudea

Pada tahun 47 SM, Julius Caesar mengangkat seorang pria bernama Antipater sebagai Prokurator (gubernur) Yudea. Antipater adalah orang Edom (Idumea) — dan para ahli sepakat bahwa orang Edom pada masa itu sudah menjadi bagian dari bangsa Arab. Ia adalah ayah dari Herodes Agung, raja terkenal yang membangun Bait Suci kedua di Yerusalem. Caesar juga mengangkat seorang Arab lain bernama Cypros dari keluarga terpandang.

Ini adalah awal dari politik Romawi yang cerdik: memanfaatkan penguasa Arab lokal untuk mengelola wilayah perbatasan gurun, melindungi dari serangan suku-suku lain dan dari Persia. Praktik ini berlanjut selama berabad-abad.


Alchaidamos: Penguasa Arab yang Berkhianat

Seorang pemimpin Arab bernama Alchaidamos (mungkin "Al-Khidhim" atau "Al-Khathim") menguasai suku Rhambaei (mungkin "Rahbah" atau "Rihab") di padang gurun dekat Suriah. Ia awalnya bersekutu dengan Romawi, tetapi kemudian tersinggung oleh perlakuan seorang jenderal Romawi. Maka ia menyeberangi Sungai Efrat pada tahun 46 SM dan berlindung kepada Parthia. Dari sana, ia melancarkan serangan ke wilayah Romawi.

Sejarawan Dio Cassius menggambarkannya sebagai seorang oportunis yang selalu berpihak pada yang kuat. Ia merebut kota Arethusa (Ar-Rastan di Suriah, di tepi Sungai Orontes) dan menjadikannya markasnya. Kekuasaannya bertahan lama, dari sekitar 46 SM hingga 43 SM.

Putranya, Iamblichus (Jamlikh), kemudian menjadi penguasa kota Emesa (Homs). Ia membantu Kaisar Augustus melawan Parthia. Demikian pula raja Acbarus (Akbar) dari Homs membantu Romawi pada tahun 49 M. Mereka tidak punya pilihan selain berpihak pada Romawi, karena Romawi saat itu adalah penguasa tunggal di Suriah.


Malchus: Raja Nabatean yang Menyelamatkan Julius Caesar

Ketika Julius Caesar nyaris terkepung di Alexandria pada tahun 47 SM, Raja Malchus (Malik I bin 'Ubadah) dari Nabatea mengirim pasukan bantuan yang sangat besar. Bantuan ini menyelamatkan Caesar dari situasi genting. Ini menunjukkan betapa pentingnya aliansi dengan Arab Nabatean bagi Romawi.


Augustus dan Mimpi Menguasai Arabia

Setelah Augustus menjadi kaisar pertama Romawi (31 SM – 14 M), ia membenahi Mesir yang porak-poranda akibat perang saudara. Ia membersihkan terusan kuno antara Nil dan Laut Merah, memperbaiki jalan, dan memberantas bajak laut di Laut Merah. Tujuannya: menguasai perdagangan rempah-rempah Arab yang sangat menguntungkan.

Ia mendengar bahwa Arabia Selatan (Yaman) sangat kaya — penduduknya menukar kemenyan dan rempah dengan emas, perak, dan batu mulia. Selain itu, bajak laut bersembunyi di pelabuhan-pelabuhan Arab. Maka Augustus memerintahkan gubernur Mesir, Aelius Gallus, untuk menyerbu Arabia dan menaklukkannya.


Persiapan Ekspedisi yang Megah namun Keliru

Gallus mempersiapkan armada besar. Ia membangun 80 kapal perang dan 130 kapal angkut di Cleopatris (dekat Suez). Namun ia kemudian mendapat laporan bahwa orang Arab tidak memiliki angkatan laut yang berarti, sehingga ia mengubah rencana. Pasukannya yang berjumlah 10.000 prajurit (campuran Romawi, Mesir, dan 1.000 pasukan Nabatean serta 500 Yahudi) diangkut dengan kapal dari Mesir menyeberangi Laut Merah.

Mereka mendarat di pelabuhan Leuke Kome ("Kota Putih") di pesisir Hijaz (kemungkinan Al-Haura atau dekat Yanbu). Namun perjalanan laut sangat melelahkan. Kapal-kapal tidak dirancang untuk pelayaran sejauh itu, banyak yang rusak. Pasukan tiba dalam keadaan lelah dan sakit karena air dan makanan buruk. Gallus terpaksa menghabiskan musim panas dan dingin di Leuke Kome untuk memulihkan pasukan.

Syllaeus, menteri Raja Nabatean (yang menjadi "pemandu" Romawi), dituduh oleh Strabo sengaja menyesatkan Gallus. Ia memberi informasi bahwa tidak ada jalan darat yang bisa dilalui, dan tidak ada cukup unta, agar Romawi melemah dan ia sendiri bisa menjadi penguasa tunggal.


Perjalanan ke Selatan: Pertempuran dan Kota yang Jatuh

Setelah pulih, Gallus berjalan ke selatan. Ia melewati wilayah seorang raja bernama Aretas (kerabat Raja Obadas dari Nabatea), yang menyambutnya dengan baik. Kemudian ia memasuki padang pasir yang gersang selama 30 hari, tiba di negeri Ararene (mungkin 'Ararah) yang dikuasai Raja Sabos.

Setelah 50 hari berjalan, ia mencapai kota Negrani (Najran?). Sang raja melarikan diri, dan Romawi merebut kota itu. Enam hari kemudian, mereka sampai di sebuah sungai. Di sana terjadi pertempuran besar. Menurut Strabo (yang sangat memihak Romawi), 10.000 orang Arab tewas, sementara Romawi hanya kehilangan 2 orang — sebuah klaim yang jelas berlebihan.

Kota Asca menyerah. Kota Athrula juga menyerah tanpa perlawanan. Gallus meninggalkan garnisun di sana dan mengumpulkan gandum serta buah-buahan.

Ia kemudian menuju Marsyaba (Marsiaba), ibu kota suku Rhammanitae yang tunduk kepada Raja Illasarus. Setelah dikepung selama enam hari, kota itu jatuh. Namun Gallus meninggalkannya karena kekurangan air. Dari tawanan, ia mendengar bahwa daerah penghasil rempah (Yaman Selatan) hanya berjarak dua hari perjalanan lagi. Tapi ia tidak melanjutkan.


Mundur dengan Kekalahan

Dalam perjalanan pulang, Gallus memotong waktu. Dari Marsyaba ke Negrana hanya ditempuh 9 hari (setelah sebelumnya 50 hari!). Ia sampai di tempat yang disebut "Tujuh Sumur" , lalu ke Chaalla dan Malothas di tepi sungai. Setelah melintasi padang pasir lain, ia tiba di desa Egra (mungkin Al-Hijr atau Madain Shalih? Atau Yanbu? Para ahli berbeda pendapat) di wilayah Raja Obadas, di tepi laut. Perjalanan pulang dari Marsyaba ke Egra memakan waktu 60 hari.

Dari Egra, Gallus dan pasukannya yang tersisa (banyak yang tewas karena penyakit, bukan pertempuran) berlayar kembali ke Mesir, tiba di Myus Hormus (pelabuhan di pesisir Mesir) dalam 11 hari, lalu ke Koptus (Qift) dan kemudian ke Alexandria.

Ekspedisi ini gagal total. Strabo membela Gallus dengan mengatakan bahwa hanya 7 orang tewas dalam pertempuran, tetapi ribuan tewas karena penyakit dan kelelahan. Ini adalah peringatan bahwa Romawi meremehkan kerasnya alam Arabia.


Pelajaran dari Kegagalan: Gurun Tak Dapat Ditaklukkan

Ekspedisi Aelius Gallus menjadi contoh klasik tentang kesombongan kekaisaran. Romawi mengira mereka bisa menaklukkan Arabia dengan mudah karena menganggap bangsa Arab tidak beradab. Mereka lupa bahwa gurun adalah benteng alami yang paling tangguh. Ketiadaan air, panas yang menyengat, medan yang terjal, dan penyakit lebih mematikan daripada pedang.

Setelah kegagalan ini, Romawi tidak pernah lagi mencoba menaklukkan Arabia secara langsung. Mereka beralih ke strategi yang lebih halus: menguasai jalur perdagangan melalui laut, bersekutu dengan kerajaan-kerajaan lokal (seperti Nabatea), dan kemudian (setelah Nabatea ditaklukkan pada 106 M) menganeksasi wilayah mereka secara bertahap.

Tetapi mimpi Augustus untuk menguasai "Arabia Felix" (Arabia yang Makmur) tetap menjadi mimpi. Gurun itu tetap bebas.


Sumber Kisah

Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alexander Agung dan Mimpi Menguasai Arab: Ekspedisi yang Gagal karena Kematian

Pengangkatan Utsman ibnu Affan Sebagai Khalifah

Gesyem si Arab dan Tembok Yerusalem: Kisah Perlawanan yang Mengubah Peta Politik