Arab dan Kasdim: Jejak Kekaisaran Babilonia di Jantung Jazirah Arab
Pengantar: Antara Fakta dan Legenda
Bagaimana hubungan bangsa Arab dengan kerajaan Babilonia
yang termasyhur? Seberapa jauh pasukan Raja Nebukadnezar (Bukhtanashshar)
menembus padang pasir Arab? Apakah benar ia mencapai kota-kota di Hijaz?
Catatan sejarah tentang hubungan Arab dengan Kasdim
(Babilonia) sangatlah langka. Tidak ada prasasti Kasdim yang secara gamblang
menceritakan interaksi mereka dengan suku-suku Arab. Namun, ketiadaan
bukti tertulis bukan berarti tidak ada hubungan. Fakta bahwa wilayah Arab
bertetangga langsung dengan Babilonia, serta bukti bahwa orang Arab membantu
Babilonia dalam melawan Asyur, sudah cukup menunjukkan bahwa hubungan itu pasti
ada.
Nebukadnezar dan Kampanye ke Arab: Fakta atau Legenda?
Para ahli sejarah dan periwayat (khabariyun) menceritakan
bahwa Nebukadnezar (604–561 SM) pernah menyerang Arab pada
masa hidup Ma'ad bin 'Adnan — seorang tokoh legendaris dalam
silsilah Arab utara. Mereka meriwayatkan bahwa pasukan Babilonia mencapai
tempat bernama Dzatu 'Irq (dekat Makkah). Namun, kisah
ini—seperti yang diakui oleh penulis kitab ini—diambil dari cerita-cerita
Israiliyat (tradisi Yahudi) yang kemudian dicampur dengan rekayasa
sendiri oleh para periwayat, sehingga tidak memiliki nilai sejarah yang
dapat diandalkan.
Penulis bersikap hati-hati. Ia tidak sepenuhnya menolak
kemungkinan Nebukadnezar bertempur melawan suku-suku Arab—karena secara
geografis itu masuk akal. Setelah menaklukkan Palestina, pasukan Babilonia
dapat dengan mudah bergerak ke selatan menuju Hijaz. Namun, cara
bercerita yang bombastis dan penuh legenda versi para khabariyun harus
disikapi dengan skeptis.
Bukti Prasasti Babilonia: Kampanye Tahun 599 SM
Untungnya, prasasti Babilonia yang otentik memberikan
sedikit pencerahan. Dalam sebuah prasasti, tercatat bahwa pada bulan Kislev (November-Desember)
tahun 599 SM (tahun keenam pemerintahan Nebukadnezar), raja
mengirim ekspedisi militer ke padang pasir untuk melawan
orang-orang Arab.
Apa yang dilakukan pasukan Babilonia di sana?
- Mereka
menjarah harta benda dan ternak.
- Mereka
menyita berhala-berhala (sesembahan) orang Arab.
Mengapa berhala dijarah? Karena bagi orang Arab kuno,
berhala adalah simbol kekuatan spiritual dan identitas suku. Menyita berhala
berarti mematahkan semang juang. Seperti yang dilakukan raja-raja
Asyur sebelumnya (Sargon, Sanherib, Esarhaddon), Nebukadnezar ingin memaksa
suku-suku Arab tunduk dengan menyandera dewa-dewa mereka.
Sayangnya, prasasti itu tidak menyebutkan nama
padang pasir, nama suku, atau lokasi persisnya. Para ahli menduga bahwa
kampanye itu dilancarkan dari wilayah Hamath, Riblah, atau Kadesh (di
Suriah/Palestina), lalu pasukan menembus jauh ke padang pasir.
Sementara itu, Kitab Yeremia dalam Alkitab (pasal
49) menyebut bahwa suku Qedar dan Bani al-Masyriq (Anak-anak
Timur) termasuk di antara yang diserang. Ini menunjukkan bahwa suku Qedar —
yang sering disebut dalam prasasti Asyur — masih menjadi kekuatan dominan di
padang pasir utara pada zaman Babilonia.
Penulis berpendapat bahwa penulis Kitab Yeremia mungkin
mengambil berita ini dari sumber Babilonia, lalu mengubahnya menjadi
"nubuat".
Nabonidus di Taima: Raja Babilonia yang Bermukim di Hijaz
Sekarang kita memasuki babak yang lebih menarik dan terbukti
secara arkeologis: kisah Raja Nabonidus (Nabonid) ,
penguasa terakhir Babilonia (555–538 SM).
Pada tahun ketiga pemerintahannya (±552 SM), Nabonidus
melancarkan ekspedisi ke Adumu (Dumat al-Jandal) — benteng di
utara Arab. Dari sana, ia berjalan melalui jalur yang belum pernah
dilalui sebelumnya menuju Taima (oase di utara
Madinah, sekarang di Arab Saudi).
Di Taima, ia membunuh raja setempat dan penduduknya (yang
melakukan perlawanan), kemudian menjadikan Taima sebagai ibu kota
barunya! Ia membangun istana megah di sana — setara dengan istana di
Babilon — dan tinggal selama bertahun-tahun, sementara putranya Belsyazar memerintah
Babilon sebagai wakil.
Mengapa Nabonidus melakukan ini? Para sejarawan berbeda
pendapat:
- Alasan
ekonomi: Taima berada di persimpangan jalur kafilah dagang yang
menghubungkan Syam, Mesopotamia, Yaman, dan Mesir. Menguasai Taima berarti
menguasai perdagangan rempah, dupa, emas, dan batu mulia.
- Alasan
kesehatan: Nabonidus mungkin ingin menghindari penyakit yang umum di
Babilon (yang lembab) dengan tinggal di dataran tinggi Hijaz yang kering
dan sejuk (Taima berada di ketinggian ±1000 meter).
- Alasan
politik: Mungkin ia ingin memperluas kekuasaan ke seluruh Hijaz dan
mencapai Laut Merah, bahkan bermimpi menguasai Yaman dan mencapai Samudra
Hindia — sebuah ambisi kekaisaran yang luar biasa.
Prasasti Harran: Penemuan yang Mengubah Segalanya
Pada tahun 1956, sebuah prasasti penting
ditemukan di reruntuhan Masjid Agung Harran (Turki). Prasasti itu ditulis oleh
Raja Nabonidus sendiri. Isinya sangat mengagetkan:
Setelah menduduki Taima dan menaklukkan penduduknya,
Nabonidus melanjutkan ekspedisi ke:
- Dadanu → Dedan (sekarang
Al-Ula, Arab Saudi)
- Padakku → Fadak (oase
terkenal di dekat Khaibar)
- Khaibara → Khaibar (oase
Yahudi yang terkenal)
- Iadihu → Yadi' (antara
Fadak dan Khaibar)
- Iatribu → Yatsrib (nama
lama Madinah)
Ini adalah bukti tertulis pertama yang menyebut
"Yatsrib" (Madinah) dalam dokumen sejarah — sekitar 1.100 tahun
sebelum hijrah Nabi Muhammad!
Setelah menaklukkan kota-kota itu, Nabonidus membuat perjanjian
damai dengan Mesir (dikuasai Dinasti ke-26), Media (Persia),
dan Arab. Prasasti itu menyebut "Mat A-ra-bi-u" (Tanah
Arab).
Namun, perjanjian itu tidak berlangsung lama. Beberapa suku
Arab — mungkin karena dendam atau persaingan internal — menyerang wilayah
Babilonia. Nabonidus membalas dengan kampanye penghukuman yang menimbulkan
banyak korban di pihak Arab.
Nabonidus akhirnya terpaksa kembali ke Babilon ketika Koresh
(Cyrus) dari Persia mulai mengancam (sekitar 540–539 SM). Tidak lama
kemudian, Babilonia jatuh ke tangan Persia selamanya.
Bukti Arkeologis Lain: Tulisan Tamud dan Makam Raja
Di samping prasasti Harran, para arkeolog juga
menemukan dua prasasti Tamud (tulisan kuno suku Tamud) yang
berbunyi:
- "Tombak
Raja Babilon"
- "Perang
Dedan"
Para ahli menafsirkan ini sebagai kenangan akan perang yang
dilancarkan oleh Nabonidus atau Nebukadnezar melawan penduduk Dedan. Suku Tamud
tampaknya menggunakan peristiwa ini sebagai penanda tahun baru —
seperti "tahun perang Dedan". Sayangnya, prasasti itu tidak memuat
angka tahun secara spesifik, sehingga kita tidak bisa menentukan tanggal
pastinya.
Makna Sejarah: Jejak Peradaban yang Terlupakan
Kisah hubungan Arab dengan Kasdim mengajarkan beberapa hal
penting:
- Jazirah
Arab bukan wilayah terisolasi. Pasukan Babilonia — kekuatan terbesar
pada masanya — mampu menembus jauh ke Hijaz, mencapai Madinah, Khaibar,
hingga Fadak. Ini membuktikan bahwa jalur perdagangan kuno sudah ramai dan
kekuatan politik besar tertarik menguasainya.
- Raja
Nabonidus adalah tokoh eksentrik nan ambisius. Ia meninggalkan ibu
kotanya yang megah untuk tinggal di tengah padang pasir selama lebih dari
satu dekade — sebuah tindakan yang hampir tidak pernah dilakukan oleh
penguasa Mesopotamia lainnya. Apakah karena alasan spiritual, kesehatan,
atau imperialisme murni? Para sejarawan masih berdebat.
- Prasasti
Harran adalah dokumen emas bagi sejarah Arab. Berkat penemuan ini,
kita mengetahui bahwa kota-kota Hijaz (Taima, Dedan, Fadak, Khaibar,
Yatsrib) sudah menjadi pusat peradaban yang terorganisir dengan raja-raja
setempat — jauh sebelum Islam muncul.
- Legenda
Nebukadnezar versi khabariyun harus disaring dengan kritik sejarah.
Meskipun kampanye ke Arab mungkin benar terjadi, detail-detail seperti
"bertemu dengan Ma'ad bin 'Adnan" atau "atas perintah
wahyu" adalah sisipan belakangan yang tidak berdasar.
Akhirnya, kisah ini mengingatkan kita bahwa sejarah tidak
selalu tertulis di atas kertas — kadang ia terpendam di bawah reruntuhan masjid
atau di prasasti batu yang terlupakan selama 2.500 tahun. Dan berkat ketekunan
para arkeolog, kita sekarang bisa mendengar kembali gema langkah kaki pasukan
Babilonia di pasir gurun Hijaz.
Sumber :
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar