Arab dan Kasdim: Jejak Kekaisaran Babilonia di Jantung Jazirah Arab

Lukisan pemandangan oasis kuno Taima di utara Arab Saudi sekitar tahun 550 SM. Di tengah gurun pasir yang luas, terdapat sebuah kota kecil bertembok batu dengan pohon-pohon kurma dan mata air yang jernih. Di dalam kota, tampak sebuah istana bergaya Babilonia dengan dinding bata berlapis glasir biru dan singa-singa bersayap (simbol kekuasaan Nabonidus). Di halaman istana, seorang pria berjubah panjang Babilonia dengan mahkota tinggi (menggambarkan Raja Nabonidus) sedang berbincang dengan para tetua setempat yang berpakaian Arab kuno (jubah putih, sorban). Di antara mereka, di atas meja batu rendah, terlihat sebuah prasasti tanah liat bertulisan paku dan sebuah peti kecil berisi rempah atau dupa (simbol perdagangan). Suasana diplomatik, damai, dan penuh kemegahan.

Pengantar: Antara Fakta dan Legenda

Bagaimana hubungan bangsa Arab dengan kerajaan Babilonia yang termasyhur? Seberapa jauh pasukan Raja Nebukadnezar (Bukhtanashshar) menembus padang pasir Arab? Apakah benar ia mencapai kota-kota di Hijaz?

Catatan sejarah tentang hubungan Arab dengan Kasdim (Babilonia) sangatlah langka. Tidak ada prasasti Kasdim yang secara gamblang menceritakan interaksi mereka dengan suku-suku Arab. Namun, ketiadaan bukti tertulis bukan berarti tidak ada hubungan. Fakta bahwa wilayah Arab bertetangga langsung dengan Babilonia, serta bukti bahwa orang Arab membantu Babilonia dalam melawan Asyur, sudah cukup menunjukkan bahwa hubungan itu pasti ada.


Nebukadnezar dan Kampanye ke Arab: Fakta atau Legenda?

Para ahli sejarah dan periwayat (khabariyun) menceritakan bahwa Nebukadnezar (604–561 SM) pernah menyerang Arab pada masa hidup Ma'ad bin 'Adnan — seorang tokoh legendaris dalam silsilah Arab utara. Mereka meriwayatkan bahwa pasukan Babilonia mencapai tempat bernama Dzatu 'Irq (dekat Makkah). Namun, kisah ini—seperti yang diakui oleh penulis kitab ini—diambil dari cerita-cerita Israiliyat (tradisi Yahudi) yang kemudian dicampur dengan rekayasa sendiri oleh para periwayat, sehingga tidak memiliki nilai sejarah yang dapat diandalkan.

Penulis bersikap hati-hati. Ia tidak sepenuhnya menolak kemungkinan Nebukadnezar bertempur melawan suku-suku Arab—karena secara geografis itu masuk akal. Setelah menaklukkan Palestina, pasukan Babilonia dapat dengan mudah bergerak ke selatan menuju Hijaz. Namun, cara bercerita yang bombastis dan penuh legenda versi para khabariyun harus disikapi dengan skeptis.


Bukti Prasasti Babilonia: Kampanye Tahun 599 SM

Untungnya, prasasti Babilonia yang otentik memberikan sedikit pencerahan. Dalam sebuah prasasti, tercatat bahwa pada bulan Kislev (November-Desember) tahun 599 SM (tahun keenam pemerintahan Nebukadnezar), raja mengirim ekspedisi militer ke padang pasir untuk melawan orang-orang Arab.

Apa yang dilakukan pasukan Babilonia di sana?

  • Mereka menjarah harta benda dan ternak.
  • Mereka menyita berhala-berhala (sesembahan) orang Arab.

Mengapa berhala dijarah? Karena bagi orang Arab kuno, berhala adalah simbol kekuatan spiritual dan identitas suku. Menyita berhala berarti mematahkan semang juang. Seperti yang dilakukan raja-raja Asyur sebelumnya (Sargon, Sanherib, Esarhaddon), Nebukadnezar ingin memaksa suku-suku Arab tunduk dengan menyandera dewa-dewa mereka.

Sayangnya, prasasti itu tidak menyebutkan nama padang pasir, nama suku, atau lokasi persisnya. Para ahli menduga bahwa kampanye itu dilancarkan dari wilayah Hamath, Riblah, atau Kadesh (di Suriah/Palestina), lalu pasukan menembus jauh ke padang pasir.

Sementara itu, Kitab Yeremia dalam Alkitab (pasal 49) menyebut bahwa suku Qedar dan Bani al-Masyriq (Anak-anak Timur) termasuk di antara yang diserang. Ini menunjukkan bahwa suku Qedar — yang sering disebut dalam prasasti Asyur — masih menjadi kekuatan dominan di padang pasir utara pada zaman Babilonia.

Penulis berpendapat bahwa penulis Kitab Yeremia mungkin mengambil berita ini dari sumber Babilonia, lalu mengubahnya menjadi "nubuat".


Nabonidus di Taima: Raja Babilonia yang Bermukim di Hijaz

Sekarang kita memasuki babak yang lebih menarik dan terbukti secara arkeologis: kisah Raja Nabonidus (Nabonid) , penguasa terakhir Babilonia (555–538 SM).

Pada tahun ketiga pemerintahannya (±552 SM), Nabonidus melancarkan ekspedisi ke Adumu (Dumat al-Jandal) — benteng di utara Arab. Dari sana, ia berjalan melalui jalur yang belum pernah dilalui sebelumnya menuju Taima (oase di utara Madinah, sekarang di Arab Saudi).

Di Taima, ia membunuh raja setempat dan penduduknya (yang melakukan perlawanan), kemudian menjadikan Taima sebagai ibu kota barunya! Ia membangun istana megah di sana — setara dengan istana di Babilon — dan tinggal selama bertahun-tahun, sementara putranya Belsyazar memerintah Babilon sebagai wakil.

Mengapa Nabonidus melakukan ini? Para sejarawan berbeda pendapat:

  1. Alasan ekonomi: Taima berada di persimpangan jalur kafilah dagang yang menghubungkan Syam, Mesopotamia, Yaman, dan Mesir. Menguasai Taima berarti menguasai perdagangan rempah, dupa, emas, dan batu mulia.
  2. Alasan kesehatan: Nabonidus mungkin ingin menghindari penyakit yang umum di Babilon (yang lembab) dengan tinggal di dataran tinggi Hijaz yang kering dan sejuk (Taima berada di ketinggian ±1000 meter).
  3. Alasan politik: Mungkin ia ingin memperluas kekuasaan ke seluruh Hijaz dan mencapai Laut Merah, bahkan bermimpi menguasai Yaman dan mencapai Samudra Hindia — sebuah ambisi kekaisaran yang luar biasa.

Prasasti Harran: Penemuan yang Mengubah Segalanya

Pada tahun 1956, sebuah prasasti penting ditemukan di reruntuhan Masjid Agung Harran (Turki). Prasasti itu ditulis oleh Raja Nabonidus sendiri. Isinya sangat mengagetkan:

Setelah menduduki Taima dan menaklukkan penduduknya, Nabonidus melanjutkan ekspedisi ke:

  • Dadanu → Dedan (sekarang Al-Ula, Arab Saudi)
  • Padakku → Fadak (oase terkenal di dekat Khaibar)
  • Khaibara → Khaibar (oase Yahudi yang terkenal)
  • Iadihu → Yadi' (antara Fadak dan Khaibar)
  • Iatribu → Yatsrib (nama lama Madinah)

Ini adalah bukti tertulis pertama yang menyebut "Yatsrib" (Madinah) dalam dokumen sejarah — sekitar 1.100 tahun sebelum hijrah Nabi Muhammad!

Setelah menaklukkan kota-kota itu, Nabonidus membuat perjanjian damai dengan Mesir (dikuasai Dinasti ke-26), Media (Persia), dan Arab. Prasasti itu menyebut "Mat A-ra-bi-u" (Tanah Arab).

Namun, perjanjian itu tidak berlangsung lama. Beberapa suku Arab — mungkin karena dendam atau persaingan internal — menyerang wilayah Babilonia. Nabonidus membalas dengan kampanye penghukuman yang menimbulkan banyak korban di pihak Arab.

Nabonidus akhirnya terpaksa kembali ke Babilon ketika Koresh (Cyrus) dari Persia mulai mengancam (sekitar 540–539 SM). Tidak lama kemudian, Babilonia jatuh ke tangan Persia selamanya.


Bukti Arkeologis Lain: Tulisan Tamud dan Makam Raja

Di samping prasasti Harran, para arkeolog juga menemukan dua prasasti Tamud (tulisan kuno suku Tamud) yang berbunyi:

  1. "Tombak Raja Babilon"
  2. "Perang Dedan"

Para ahli menafsirkan ini sebagai kenangan akan perang yang dilancarkan oleh Nabonidus atau Nebukadnezar melawan penduduk Dedan. Suku Tamud tampaknya menggunakan peristiwa ini sebagai penanda tahun baru — seperti "tahun perang Dedan". Sayangnya, prasasti itu tidak memuat angka tahun secara spesifik, sehingga kita tidak bisa menentukan tanggal pastinya.


Makna Sejarah: Jejak Peradaban yang Terlupakan

Kisah hubungan Arab dengan Kasdim mengajarkan beberapa hal penting:

  1. Jazirah Arab bukan wilayah terisolasi. Pasukan Babilonia — kekuatan terbesar pada masanya — mampu menembus jauh ke Hijaz, mencapai Madinah, Khaibar, hingga Fadak. Ini membuktikan bahwa jalur perdagangan kuno sudah ramai dan kekuatan politik besar tertarik menguasainya.
  2. Raja Nabonidus adalah tokoh eksentrik nan ambisius. Ia meninggalkan ibu kotanya yang megah untuk tinggal di tengah padang pasir selama lebih dari satu dekade — sebuah tindakan yang hampir tidak pernah dilakukan oleh penguasa Mesopotamia lainnya. Apakah karena alasan spiritual, kesehatan, atau imperialisme murni? Para sejarawan masih berdebat.
  3. Prasasti Harran adalah dokumen emas bagi sejarah Arab. Berkat penemuan ini, kita mengetahui bahwa kota-kota Hijaz (Taima, Dedan, Fadak, Khaibar, Yatsrib) sudah menjadi pusat peradaban yang terorganisir dengan raja-raja setempat — jauh sebelum Islam muncul.
  4. Legenda Nebukadnezar versi khabariyun harus disaring dengan kritik sejarah. Meskipun kampanye ke Arab mungkin benar terjadi, detail-detail seperti "bertemu dengan Ma'ad bin 'Adnan" atau "atas perintah wahyu" adalah sisipan belakangan yang tidak berdasar.

Akhirnya, kisah ini mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu tertulis di atas kertas — kadang ia terpendam di bawah reruntuhan masjid atau di prasasti batu yang terlupakan selama 2.500 tahun. Dan berkat ketekunan para arkeolog, kita sekarang bisa mendengar kembali gema langkah kaki pasukan Babilonia di pasir gurun Hijaz.


Sumber :

Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penaklukan pada Masa Pemerintahan Umar Ibnu al Khattab

Jejak Peradaban Kuno: Bahrain, Mesopotamia, dan Munculnya "Arab" dalam Catatan Sejarah

Dilmun: Negeri Para Dewa, Pusat Perdagangan, dan Misteri Peradaban Kuno di Bahrain