Arab dan Ibrani: Dua Saudara yang Terpisah
Mengapa "Arab" Tidak Disebut dalam Silsilah Nuh?
Saat membaca Kitab Taurat, kita akan menemukan satu
keanehan. Dalam daftar keturunan Nuh — anak-anaknya: Sam,
Ham, dan Yafits — nama "Arab" tidak pernah disebut. Padahal,
banyak nama suku yang jelas-jelas berasal dari Arab dan tinggal di Jazirah Arab
justru disebutkan.
Mengapa?
Penulis kitab Al-Mufashshal memberikan
jawaban yang menarik. Kata "Arab" pada zaman itu belum
berarti "bangsa" . Ia hanya berarti "badui" —
penduduk padang pasir yang hidup nomaden. Sementara Taurat hanya mencatat bangsa-bangsa
yang menetap (hadharah) seperti orang Kanaan, Fenisia, Mesir, dan
lain-lain. Orang badui yang tidak memiliki satu nenek moyang tunggal dan terus
berpindah-pindah tidak masuk dalam kategori "bangsa" menurut cara
berpikir para penulis Taurat.
Oleh karena itu, ketika Taurat ingin menyebut orang Arab
badui, mereka tidak menggunakan kata "Arab" sebagai nama bangsa,
melainkan menyebut nama-nama spesifik suku mereka — seperti
Ismael, Midian, Kedar, dan lain-lain. Atau, jika mereka tidak tahu nama
sukunya, mereka cukup menyebutnya "badui" (Arab).
Benarkah Bangsa Ibrani Berasal dari Jazirah Arab?
Sebagian besar orientalis modern berpendapat bahwa bangsa
Ibrani (Yahudi) adalah keturunan migran dari Jazirah Arab. Mereka
berargumentasi:
- Persamaan
besar antara gaya hidup bangsa Ibrani kuno dengan gaya
hidup orang Arab badui — hidup dalam tenda, beternak unta dan
kambing, berpindah-pindah mencari air dan padang rumput.
- Banyak
kisah dalam Taurat, seperti kisah para patriark (Ibrahim,
Ishak, Yakub), sangat mirip dengan kehidupan suku-suku Arab hingga saat
ini.
- Akar
agama Yahudi banyak bersumber dari kepercayaan Arab kuno.
- Secara
linguistik, bangsa Ibrani dan Arab sama-sama Semit: dan
Jazirah Arab adalah "sarang" (tempat asal) bangsa Semit.
Dengan kata lain, bangsa Ibrani pada mulanya adalah
orang Arab. Mereka kemudian "mengkhianati" tanah asalnya, hijrah
ke utara, lalu membangun peradaban yang berbeda. Inilah sebabnya mengapa Taurat
— dalam sistem silsilahnya — secara tidak langsung mengakui bahwa bangsa Yaqthan
(Qahthan) lebih tua peradabannya daripada bangsa Israel. Yaqthan
adalah keturunan Sam, sementara Israel berasal dari jalur yang lebih muda.
Ayub: Sosok Hikmat dari Tanah Arab
Salah satu tokoh paling misterius dalam Taurat adalah Ayub,
yang namanya menjadi judul sebuah kitab tersendiri. Sebagian besar pakar Taurat
sepakat bahwa Ayub bukan orang Yahudi, melainkan orang Arab —
dari kalangan "Bani Qedem" (Bani Timur).
Tanah asalnya disebut "Uz" (Arab:
'Aus). Letak pastinya masih diperdebatkan: ada yang bilang di Najd (Arab
tengah), ada yang bilang di Hauran (Syria selatan), atau di
perbatasan Edom. Namun ciri-ciri kehidupannya sangat khas Arab:
- Ia
memiliki 7.000 kambing domba, 3.000 unta, 500 pasang sapi, dan 500
keledai betina — kekayaan yang lazim bagi seorang kepala suku
Arab kaya.
- Ia
disebut "terbesar dari semua Bani Timur" (Bene
Qedem) — istilah yang dipakai Taurat untuk menyebut suku-suku Arab di
timur Palestina.
- Musuh-musuhnya
adalah orang Saba' (Sabaean) dari selatan dan orang
Kasdim (Chaldean) dari Irak — menunjukkan wilayah penggembalaan
ternaknya membentang luas.
Bahkan seorang rabi Yahudi ternama abad ke-12, Ibnu
Ezra, dengan tegas menyatakan bahwa Kitab Ayub mengandung banyak
pengaruh bahasa dan budaya Arab. Sebagian peneliti bahkan menduga bahwa
kitab Ayub pada awalnya ditulis dalam bahasa Arab, lalu diterjemahkan ke dalam
bahasa Ibrani. Imam Al-Hamdani dalam kitabnya Al-Iklil juga
menyebut bahwa beberapa ayat dalam Kitab Ayub mirip dengan puisi Arab kuno.
Ayub, menurut kesimpulan banyak pakar, adalah
seorang Arab yang saleh — bukan nabi, bukan rasul, tetapi seorang yang
dicintai Tuhan karena kesabarannya.
Abiel si Arab dan Obil si Ismail: Sahabat Daud
Kitab Taurat juga menyebut beberapa orang Arab yang
menjadi pahlawan atau pejabat tinggi di
istana Raja Daud.
- Abiel
orang Arab (Abiel ha-Arabi) — ia adalah salah satu pahlawan Daud
yang termasyhur, berasal dari "Bet-Arabah" (Rumah Orang Arab) di
padang belantara Yehuda.
- Obil
orang Ismael — ia diangkat menjadi pengawas unta-unta
Daud. Ya, seorang Arab badui yang ahli dalam urusan unta dipercaya
mengurus seluruh peternakan unta kerajaan.
Ini menunjukkan bahwa orang Arab sudah lama hidup
berdampingan dengan bangsa Ibrani — bahkan sebelum Kerajaan Israel
berdiri.
Ratu Saba' yang Mengunjungi Sulaiman: Dari Yaman atau
Arab Utara?
Kisah Ratu Saba' (Ratu Syeba) yang
mengunjungi Nabi Sulaiman tercantum dalam Taurat (1 Raja-raja 10 dan 2 Tawarikh
9). Ia datang dengan rombongan besar, membawa emas, batu mulia, dan wewangian
dalam jumlah luar biasa — untuk menguji kebijaksanaan Sulaiman.
Pertanyaan: Siapakah Ratu Saba' ini? Apakah ia
berasal dari Yaman (Arab Selatan) atau dari Arab Utara?
Mayoritas penafsir tradisional mengatakan ia dari Yaman,
ibu kota kerajaan Saba' yang terkenal. Namun, beberapa kritikus Taurat modern
meragukan hal ini karena:
- Dalam
prasasti Arab Selatan, tidak pernah ditemukan nama seorang ratu yang
memerintah kerajaan Saba'. Penguasa Saba' selalu bergelar
"Mukarrib" (laki-laki).
- Kemungkinan
besar, yang dimaksud adalah kelompok Saba' yang hijrah ke utara —
ke wilayah Yordania atau Hijaz utara — dan di sana mereka dipimpin oleh
seorang ratu.
Apa pun pendapat tentang asalnya, satu hal yang pasti: kisah
ini membuktikan hubungan erat antara Kerajaan Sulaiman dan dunia Arab —
baik dari selatan maupun utara.
Emas dari Ofir dan Tarsis: Petualangan Laut Sulaiman
Sulaiman tidak hanya kaya dari upeti para raja Arab. Ia juga
mengirim ekspedisi laut ke negeri-negeri penghasil emas: Ofir dan Tarsis.
Kapal-kapalnya berlayar dari pelabuhan Ezion-Geber (dekat
Aqaba, di Laut Merah), dibantu oleh pelaut-pelaut ulung dari Fenisia (kota
Tirus) yang dikirim Raja Hiram. Mereka berlayar jauh, lalu kembali dengan
membawa:
- 420
talenta emas (sekitar 12,6 ton!)
- Kayu
cendana yang berharga
- Batu-batu
mulia
- Di
kemudian hari (dari Tarsis): emas, perak, gading, kera, dan burung merak
Di manakah Ofir? Sebagian besar pakar modern
meyakini Ofir terletak di Jazirah Arab — mungkin di Asir (barat
daya Saudi), atau di Midian (utara Hijaz). Ada juga yang
mengaitkannya dengan nama tempat "Al-Hafir" yang disebut
Al-Hamdani di wilayah Yamamah, yang terkenal memiliki tambang emas yang
melimpah.
Di manakah Tarsis? Ada yang berpendapat di Spanyol (Tartessos),
ada yang bilang di Afrika, atau di Asia selatan. Yang
jelas, Sulaiman dan rekannya Hiram menguasai jalur laut yang sangat
menguntungkan ini selama puluhan tahun.
Sayangnya, setelah Sulaiman wafat, kerajaan
Israel terpecah menjadi dua (Israel dan Yehuda). Bangsa Ibrani — yang tidak
terbiasa dengan laut — gagal mempertahankan armada dagangnya. Raja Yehosyafat (Yehuda)
mencoba membangun kembali pelabuhan Ezion-Geber pada abad ke–9 SM, tetapi
kapalnya hancur sebelum sempat berlayar. Ia kemudian ditawari bantuan oleh raja
Israel, namun ditolak. Sejak saat itu, tidak ada lagi pelayaran laut
Ibrani ke Ofir atau Tarsis.
Ketika Orang Arab Menyerbu Yerusalem
Pada masa pemerintakan Raja Yehram (Yoram)
dari Yehuda (851–843 SM), terjadi peristiwa mengerikan. Taurat mencatat:
"Maka Tuhan membangkitkan semangat orang Filistin
dan orang Arab yang tinggal di dekat orang Kush melawan Yoram.
Mereka maju menyerang Yehuda, membobol masuk, dan merampas segala harta milik
yang terdapat di istana raja, juga anak-anaknya dan istri-istrinya..." (2
Tawarikh 21:16-17)
Penulis Al-Mufashshal menjelaskan
bahwa "orang Arab yang tinggal di dekat orang Kush" bisa
berarti:
- Orang
Arab selatan (Yaman) — karena mereka berdekatan dengan
"Kush" (Etiopia/Somalia) hanya dipisahkan Selat Bab al-Mandab.
- Atau,
orang Arab di Sinai barat — karena Sinai juga berdekatan dengan
"Kush" yang dimaksud sebagai tanah Ham.
Yang jelas, serangan ini sangat dahsyat. Semua
putra Yoram tewas kecuali yang bungsu, Ahazia. Yoram sendiri menderita sakit
perut yang parah dan meninggal dua tahun kemudian "tanpa ada yang
menyesalinya".
Penyerbuan ini adalah bukti bahwa bangsa Arab — baik
dari selatan maupun utara — memiliki kekuatan militer yang cukup untuk
menghancurkan ibu kota Yehuda. Ini bukan serangan perampok biasa, tetapi
invasi terorganisasi yang mungkin dibantu oleh angkatan laut (jika dari
selatan) atau melalui darat (jika dari Sinai).
Arab Melawan Pembangunan Tembok Yerusalem (Masa Nehemia)
Kita lompat ke masa setelah pembuangan ke Babel.
Sekitar tahun 445 SM, Nehemia — seorang Yahudi yang menjadi
juru minuman Raja Artahsasta dari Persia — mendapat izin untuk kembali ke
Yerusalem dan membangun kembali tembok kota yang telah runtuh.
Namun, para tetangga tidak senang. Mereka bersekutu untuk
menghalangi Nehemia. Di antara musuh-musuhnya terdapat "Gesyem
(Jeshem) orang Arab" , yang bersama Sanbalat (penguasa Samaria)
dan Tobia (penguasa Amon), mengejek dan mengancam.
Nehemia menulis dalam kitabnya:
"Ketika Sanbalat, Tobia, dan orang Arab,
dan orang Amon, dan orang Asdod mendengar bahwa tembok Yerusalem sedang
diperbaiki dan celah-celahnya mulai tertutup, mereka menjadi sangat marah.
Mereka semua bersekongkol untuk datang menyerang Yerusalem dan menimbulkan
kekacauan di sana." (Nehemia 4:7–8)
Gesyem orang Arab ini bukanlah tokoh kecil. Ia
adalah penguasa wilayah Arab yang membentang dari Sinai hingga Edom
(Arab utara) , memiliki kekuasaan politik yang cukup besar. Nehemia
merespons ancaman ini dengan berdoa dan tetap melanjutkan pembangunan — sambil
memasang penjaga bersenjata di setiap titik rawan.
Kisah ini menunjukkan bahwa pada abad ke-5 SM, orang
Arab sudah menjadi kekuatan politik yang diakui oleh kerajaan-kerajaan
besar dan diperhitungkan oleh para pemimpin Yahudi.
Kesimpulan: Saudara yang Sering Berseteru
Apa yang dapat kita petik dari hubungan panjang antara Arab
dan Ibrani?
- Mereka
berasal dari akar yang sama (Sam bin Nuh), tetapi kemudian
berpisah karena perbedaan gaya hidup (nomaden vs menetap). Taurat sendiri
secara implisit mengakui bahwa peradaban Arab (Qahthan/Yaqthan) lebih tua
daripada peradaban Israel.
- Hubungan
mereka tidak selalu buruk. Ada momen kerja sama (Daud
mempekerjakan orang Arab, Sulaiman berdagang dengan Ratu Saba'), ada momen
persahabatan (Ayub disebut sebagai "Bani Timur" yang dihormati),
tetapi juga banyak momen konflik (invasi ke Yerusalem di masa Yoram, perlawanan
terhadap Nehemia).
- Kata
"Arab" itu sendiri membingungkan. Taurat menggunakan
kata ini hanya untuk badui, bukan untuk seluruh bangsa Arab.
Oleh karena itu, banyak tokoh Arab yang jelas-jelas disebut (seperti Ayub,
Abiel, Obil) tidak berlabel "Arab", sementara kelompok badui
anonim disebut "Arab".
- Orang
Arab telah hadir di Palestina sejak ribuan tahun sebelum Islam. Mereka
bukan "pendatang baru". Mereka adalah tetangga lama, partner
dagang, kadang sekutu, kadang musuh.
- Jamak
ditemukan orang Arab yang taat kepada Tuhan — seperti Ayub —
bahkan sebelum wahyu Taurat dan Injil disempurnakan oleh Al-Qur'an. Hal
ini sesuai dengan ajaran Islam bahwa setiap umat memiliki
orang-orang saleh yang tidak selalu terkait dengan Bani Israil.
Akhirnya, perbedaan bukanlah alasan untuk bermusuhan.
Yang membedakan manusia di sisi Allah hanyalah ketakwaan —
sebagaimana firman-Nya:
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًۭا
وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ
إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ
"Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kalian
dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kalian
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya
yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.
Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat
[49]: 13)
Sumber :
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar