Arab dan Ibrani: Dua Saudara yang Terpisah

Lukisan pemandangan padang pasir di Timur Tengah kuno (sekitar abad ke-10 SM). Di latar depan, sebuah kafilah unta yang sarat dengan peti kayu, karung rempah, dan kain berwarna-warni sedang berhenti di depan gerbang kota berbatu yang megah (menggambarkan Yerusalem pada masa Raja Sulaiman). Beberapa pedagang berjubah putih dan sorban (melambangkan orang Arab) berbicara dengan hormat kepada seorang pejabat kota berjubah biru (melambangkan wakil kerajaan Israel) yang berdiri di samping gerbang. Seorang perempuan berpakaian anggun dengan mahkota kecil (kiasan untuk Ratu Saba') berdiri di dekat untanya sambil memegang sebuah peti kecil berisi batu mulia.

Mengapa "Arab" Tidak Disebut dalam Silsilah Nuh?

Saat membaca Kitab Taurat, kita akan menemukan satu keanehan. Dalam daftar keturunan Nuh — anak-anaknya: Sam, Ham, dan Yafits — nama "Arab" tidak pernah disebut. Padahal, banyak nama suku yang jelas-jelas berasal dari Arab dan tinggal di Jazirah Arab justru disebutkan.

Mengapa?

Penulis kitab Al-Mufashshal memberikan jawaban yang menarik. Kata "Arab" pada zaman itu belum berarti "bangsa" . Ia hanya berarti "badui" — penduduk padang pasir yang hidup nomaden. Sementara Taurat hanya mencatat bangsa-bangsa yang menetap (hadharah) seperti orang Kanaan, Fenisia, Mesir, dan lain-lain. Orang badui yang tidak memiliki satu nenek moyang tunggal dan terus berpindah-pindah tidak masuk dalam kategori "bangsa" menurut cara berpikir para penulis Taurat.

Oleh karena itu, ketika Taurat ingin menyebut orang Arab badui, mereka tidak menggunakan kata "Arab" sebagai nama bangsa, melainkan menyebut nama-nama spesifik suku mereka — seperti Ismael, Midian, Kedar, dan lain-lain. Atau, jika mereka tidak tahu nama sukunya, mereka cukup menyebutnya "badui" (Arab).

Benarkah Bangsa Ibrani Berasal dari Jazirah Arab?

Sebagian besar orientalis modern berpendapat bahwa bangsa Ibrani (Yahudi) adalah keturunan migran dari Jazirah Arab. Mereka berargumentasi:

  1. Persamaan besar antara gaya hidup bangsa Ibrani kuno dengan gaya hidup orang Arab badui — hidup dalam tenda, beternak unta dan kambing, berpindah-pindah mencari air dan padang rumput.
  2. Banyak kisah dalam Taurat, seperti kisah para patriark (Ibrahim, Ishak, Yakub), sangat mirip dengan kehidupan suku-suku Arab hingga saat ini.
  3. Akar agama Yahudi banyak bersumber dari kepercayaan Arab kuno.
  4. Secara linguistik, bangsa Ibrani dan Arab sama-sama Semit: dan Jazirah Arab adalah "sarang" (tempat asal) bangsa Semit.

Dengan kata lain, bangsa Ibrani pada mulanya adalah orang Arab. Mereka kemudian "mengkhianati" tanah asalnya, hijrah ke utara, lalu membangun peradaban yang berbeda. Inilah sebabnya mengapa Taurat — dalam sistem silsilahnya — secara tidak langsung mengakui bahwa bangsa Yaqthan (Qahthan) lebih tua peradabannya daripada bangsa Israel. Yaqthan adalah keturunan Sam, sementara Israel berasal dari jalur yang lebih muda.

Ayub: Sosok Hikmat dari Tanah Arab

Salah satu tokoh paling misterius dalam Taurat adalah Ayub, yang namanya menjadi judul sebuah kitab tersendiri. Sebagian besar pakar Taurat sepakat bahwa Ayub bukan orang Yahudi, melainkan orang Arab — dari kalangan "Bani Qedem" (Bani Timur).

Tanah asalnya disebut "Uz" (Arab: 'Aus). Letak pastinya masih diperdebatkan: ada yang bilang di Najd (Arab tengah), ada yang bilang di Hauran (Syria selatan), atau di perbatasan Edom. Namun ciri-ciri kehidupannya sangat khas Arab:

  • Ia memiliki 7.000 kambing domba, 3.000 unta, 500 pasang sapi, dan 500 keledai betina — kekayaan yang lazim bagi seorang kepala suku Arab kaya.
  • Ia disebut "terbesar dari semua Bani Timur" (Bene Qedem) — istilah yang dipakai Taurat untuk menyebut suku-suku Arab di timur Palestina.
  • Musuh-musuhnya adalah orang Saba' (Sabaean) dari selatan dan orang Kasdim (Chaldean) dari Irak — menunjukkan wilayah penggembalaan ternaknya membentang luas.

Bahkan seorang rabi Yahudi ternama abad ke-12, Ibnu Ezra, dengan tegas menyatakan bahwa Kitab Ayub mengandung banyak pengaruh bahasa dan budaya Arab. Sebagian peneliti bahkan menduga bahwa kitab Ayub pada awalnya ditulis dalam bahasa Arab, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani. Imam Al-Hamdani dalam kitabnya Al-Iklil juga menyebut bahwa beberapa ayat dalam Kitab Ayub mirip dengan puisi Arab kuno.

Ayub, menurut kesimpulan banyak pakar, adalah seorang Arab yang saleh — bukan nabi, bukan rasul, tetapi seorang yang dicintai Tuhan karena kesabarannya.

Abiel si Arab dan Obil si Ismail: Sahabat Daud

Kitab Taurat juga menyebut beberapa orang Arab yang menjadi pahlawan atau pejabat tinggi di istana Raja Daud.

  • Abiel orang Arab (Abiel ha-Arabi) — ia adalah salah satu pahlawan Daud yang termasyhur, berasal dari "Bet-Arabah" (Rumah Orang Arab) di padang belantara Yehuda.
  • Obil orang Ismael — ia diangkat menjadi pengawas unta-unta Daud. Ya, seorang Arab badui yang ahli dalam urusan unta dipercaya mengurus seluruh peternakan unta kerajaan.

Ini menunjukkan bahwa orang Arab sudah lama hidup berdampingan dengan bangsa Ibrani — bahkan sebelum Kerajaan Israel berdiri.

Ratu Saba' yang Mengunjungi Sulaiman: Dari Yaman atau Arab Utara?

Kisah Ratu Saba' (Ratu Syeba) yang mengunjungi Nabi Sulaiman tercantum dalam Taurat (1 Raja-raja 10 dan 2 Tawarikh 9). Ia datang dengan rombongan besar, membawa emas, batu mulia, dan wewangian dalam jumlah luar biasa — untuk menguji kebijaksanaan Sulaiman.

Pertanyaan: Siapakah Ratu Saba' ini? Apakah ia berasal dari Yaman (Arab Selatan) atau dari Arab Utara?

Mayoritas penafsir tradisional mengatakan ia dari Yaman, ibu kota kerajaan Saba' yang terkenal. Namun, beberapa kritikus Taurat modern meragukan hal ini karena:

  1. Dalam prasasti Arab Selatan, tidak pernah ditemukan nama seorang ratu yang memerintah kerajaan Saba'. Penguasa Saba' selalu bergelar "Mukarrib" (laki-laki).
  2. Kemungkinan besar, yang dimaksud adalah kelompok Saba' yang hijrah ke utara — ke wilayah Yordania atau Hijaz utara — dan di sana mereka dipimpin oleh seorang ratu.

Apa pun pendapat tentang asalnya, satu hal yang pasti: kisah ini membuktikan hubungan erat antara Kerajaan Sulaiman dan dunia Arab — baik dari selatan maupun utara.

Emas dari Ofir dan Tarsis: Petualangan Laut Sulaiman

Sulaiman tidak hanya kaya dari upeti para raja Arab. Ia juga mengirim ekspedisi laut ke negeri-negeri penghasil emas: Ofir dan Tarsis.

Kapal-kapalnya berlayar dari pelabuhan Ezion-Geber (dekat Aqaba, di Laut Merah), dibantu oleh pelaut-pelaut ulung dari Fenisia (kota Tirus) yang dikirim Raja Hiram. Mereka berlayar jauh, lalu kembali dengan membawa:

  • 420 talenta emas (sekitar 12,6 ton!)
  • Kayu cendana yang berharga
  • Batu-batu mulia
  • Di kemudian hari (dari Tarsis): emas, perak, gading, kera, dan burung merak

Di manakah Ofir? Sebagian besar pakar modern meyakini Ofir terletak di Jazirah Arab — mungkin di Asir (barat daya Saudi), atau di Midian (utara Hijaz). Ada juga yang mengaitkannya dengan nama tempat "Al-Hafir" yang disebut Al-Hamdani di wilayah Yamamah, yang terkenal memiliki tambang emas yang melimpah.

Di manakah Tarsis? Ada yang berpendapat di Spanyol (Tartessos), ada yang bilang di Afrika, atau di Asia selatan. Yang jelas, Sulaiman dan rekannya Hiram menguasai jalur laut yang sangat menguntungkan ini selama puluhan tahun.

Sayangnya, setelah Sulaiman wafat, kerajaan Israel terpecah menjadi dua (Israel dan Yehuda). Bangsa Ibrani — yang tidak terbiasa dengan laut — gagal mempertahankan armada dagangnya. Raja Yehosyafat (Yehuda) mencoba membangun kembali pelabuhan Ezion-Geber pada abad ke–9 SM, tetapi kapalnya hancur sebelum sempat berlayar. Ia kemudian ditawari bantuan oleh raja Israel, namun ditolak. Sejak saat itu, tidak ada lagi pelayaran laut Ibrani ke Ofir atau Tarsis.

Ketika Orang Arab Menyerbu Yerusalem

Pada masa pemerintakan Raja Yehram (Yoram) dari Yehuda (851–843 SM), terjadi peristiwa mengerikan. Taurat mencatat:

"Maka Tuhan membangkitkan semangat orang Filistin dan orang Arab yang tinggal di dekat orang Kush melawan Yoram. Mereka maju menyerang Yehuda, membobol masuk, dan merampas segala harta milik yang terdapat di istana raja, juga anak-anaknya dan istri-istrinya..." (2 Tawarikh 21:16-17)

Penulis Al-Mufashshal menjelaskan bahwa "orang Arab yang tinggal di dekat orang Kush" bisa berarti:

  • Orang Arab selatan (Yaman) — karena mereka berdekatan dengan "Kush" (Etiopia/Somalia) hanya dipisahkan Selat Bab al-Mandab.
  • Atau, orang Arab di Sinai barat — karena Sinai juga berdekatan dengan "Kush" yang dimaksud sebagai tanah Ham.

Yang jelas, serangan ini sangat dahsyat. Semua putra Yoram tewas kecuali yang bungsu, Ahazia. Yoram sendiri menderita sakit perut yang parah dan meninggal dua tahun kemudian "tanpa ada yang menyesalinya".

Penyerbuan ini adalah bukti bahwa bangsa Arab — baik dari selatan maupun utara — memiliki kekuatan militer yang cukup untuk menghancurkan ibu kota Yehuda. Ini bukan serangan perampok biasa, tetapi invasi terorganisasi yang mungkin dibantu oleh angkatan laut (jika dari selatan) atau melalui darat (jika dari Sinai).

Arab Melawan Pembangunan Tembok Yerusalem (Masa Nehemia)

Kita lompat ke masa setelah pembuangan ke Babel. Sekitar tahun 445 SM, Nehemia — seorang Yahudi yang menjadi juru minuman Raja Artahsasta dari Persia — mendapat izin untuk kembali ke Yerusalem dan membangun kembali tembok kota yang telah runtuh.

Namun, para tetangga tidak senang. Mereka bersekutu untuk menghalangi Nehemia. Di antara musuh-musuhnya terdapat "Gesyem (Jeshem) orang Arab" , yang bersama Sanbalat (penguasa Samaria) dan Tobia (penguasa Amon), mengejek dan mengancam.

Nehemia menulis dalam kitabnya:

"Ketika Sanbalat, Tobia, dan orang Arab, dan orang Amon, dan orang Asdod mendengar bahwa tembok Yerusalem sedang diperbaiki dan celah-celahnya mulai tertutup, mereka menjadi sangat marah. Mereka semua bersekongkol untuk datang menyerang Yerusalem dan menimbulkan kekacauan di sana." (Nehemia 4:7–8)

Gesyem orang Arab ini bukanlah tokoh kecil. Ia adalah penguasa wilayah Arab yang membentang dari Sinai hingga Edom (Arab utara) , memiliki kekuasaan politik yang cukup besar. Nehemia merespons ancaman ini dengan berdoa dan tetap melanjutkan pembangunan — sambil memasang penjaga bersenjata di setiap titik rawan.

Kisah ini menunjukkan bahwa pada abad ke-5 SM, orang Arab sudah menjadi kekuatan politik yang diakui oleh kerajaan-kerajaan besar dan diperhitungkan oleh para pemimpin Yahudi.

Kesimpulan: Saudara yang Sering Berseteru

Apa yang dapat kita petik dari hubungan panjang antara Arab dan Ibrani?

  1. Mereka berasal dari akar yang sama (Sam bin Nuh), tetapi kemudian berpisah karena perbedaan gaya hidup (nomaden vs menetap). Taurat sendiri secara implisit mengakui bahwa peradaban Arab (Qahthan/Yaqthan) lebih tua daripada peradaban Israel.
  2. Hubungan mereka tidak selalu buruk. Ada momen kerja sama (Daud mempekerjakan orang Arab, Sulaiman berdagang dengan Ratu Saba'), ada momen persahabatan (Ayub disebut sebagai "Bani Timur" yang dihormati), tetapi juga banyak momen konflik (invasi ke Yerusalem di masa Yoram, perlawanan terhadap Nehemia).
  3. Kata "Arab" itu sendiri membingungkan. Taurat menggunakan kata ini hanya untuk badui, bukan untuk seluruh bangsa Arab. Oleh karena itu, banyak tokoh Arab yang jelas-jelas disebut (seperti Ayub, Abiel, Obil) tidak berlabel "Arab", sementara kelompok badui anonim disebut "Arab".
  4. Orang Arab telah hadir di Palestina sejak ribuan tahun sebelum Islam. Mereka bukan "pendatang baru". Mereka adalah tetangga lama, partner dagang, kadang sekutu, kadang musuh.
  5. Jamak ditemukan orang Arab yang taat kepada Tuhan — seperti Ayub — bahkan sebelum wahyu Taurat dan Injil disempurnakan oleh Al-Qur'an. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam bahwa setiap umat memiliki orang-orang saleh yang tidak selalu terkait dengan Bani Israil.

Akhirnya, perbedaan bukanlah alasan untuk bermusuhan. Yang membedakan manusia di sisi Allah hanyalah ketakwaan — sebagaimana firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ

"Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Sumber :

Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilmun: Negeri Para Dewa, Pusat Perdagangan, dan Misteri Peradaban Kuno di Bahrain

Jejak Peradaban Kuno: Bahrain, Mesopotamia, dan Munculnya "Arab" dalam Catatan Sejarah

Arab di Bulan Sabit Subur: Jejak Terawal dalam Prasasti Raksasa Mesopotamia