Arab dan Asyur: Catatan Tertua tentang Bangsa Badui dalam Prasasti Raja-Raja Mesopotamia
Tahukah Anda, siapakah raja pertama di dunia yang mencatat
kata "Arab" dalam prasasti kemenangannya?
Dialah Raja Shalmaneser III (Shalmaneser),
penguasa Assyria yang perkasa. Pada sekitar tahun 853 atau 854 sebelum
Masehi, tepatnya di tahun keenam pemerintahannya, ia mencatat sebuah
kemenangan besar. Lawannya bukanlah raja biasa, melainkan sebuah koalisi
besar yang dipimpin oleh Raja Damaskus, dibantu oleh para penguasa
kerajaan-kerajaan di Syam, Raja Israel, dan… seorang kepala suku Arab bernama Gindibu (dalam
bahasa Assyria ditulis "Gindibu", yang tidak lain adalah nama Arab
asli: Jundab).
Apa artinya ini? Ini berarti bahwa bangsa Arab sudah
dikenal oleh Assyria sejak hampir 2.900 tahun yang lalu!
"Arab" pada Zaman Assyria: Bukan Nama Bangsa,
Tapi Gelar untuk Badui
Namun, penting untuk dipahami: apa yang dimaksud dengan
"Arab" dalam catatan Assyria pada zaman itu? Bukanlah bangsa
Arab dalam pengertian kita sekarang. Kata "Arab" bagi mereka
berarti "badui" —para pengembara padang pasir yang
hidup berpindah-pindah, bukan penduduk kota yang menetap.
Adapun orang-orang Arab yang hidup di kota-kota (hadhar),
mereka disebut oleh orang Assyria dengan nama kota atau wilayah mereka
masing-masing. Karena pada masa itu, kata "Arab" belum menjadi
sebutan untuk satu kesatuan bangsa yang mencakup badui dan hadhar. Ini adalah
fakta penting yang sering dilupakan.
Alasan Assyria Melawan Arab: Gangguan di Gurun Pasir
Mengapa Assyria, kekaisaran adidaya pada zamannya, sampai
repot-repot melancarkan sembilan kali kampanye militer hanya
untuk melawan orang Arab?
Sebabnya sederhana: orang Arab (badui) sering
mengganggu perbatasan. Mereka membiasakan diri untuk:
- Mengacaukan
perbatasan Assyria
- Menghalangi
dan mengganggu perjalanan di padang pasir
- Menyerang
kafilah dagang
- Melakukan
serangan dadakan ke wilayah kekaisaran
Kadang-kadang, gerakan ini didalangi oleh Babilonia (musuh
bebuyutan Assyria) atau Mesir. Kadang juga hanya karena orang Arab ingin
mencari nafkah dari rampasan perang.
Gangguan ini sangat membuat jengkel para kaisar Assyria.
Rasa kesal dan amarah mereka terekam dengan jelas dalam prasasti-prasasti
mereka, serta dalam relief-relief istana yang masih bisa kita
saksikan hingga hari ini.
Gambaran Orang Arab dalam Relief Istana Assyria
Di istana Raja Asyurbanipal di Niniwe (ibu
kota Assyria), para arkeolog menemukan dinding-dinding yang dihiasi pahatan
bergambar orang Arab. Bagaimanakah wujud mereka menurut pandangan Assyria?
Orang Arab digambarkan dengan:
- Jenggot
lebat
- Rambut
panjang tergerai hingga bahu, kadang dikepang dan diikat dengan tali
- Kumis
yang biasanya dipangkas rapi
Dalam beberapa adegan, mereka digambarkan telanjang
dada atau hanya mengenakan ikat pinggang tebal dan sarung
yang menutupi dari perut hingga lutut.
Namun, yang paling memilukan adalah adegan-adegan berikut:
- Orang
Arab digambarkan mencium kaki raja-raja Niniwe sebagai
tanda ketundukan.
- Mereka
membawa persembahan berupa emas, batu mulia, wewangian
(termasuk kohl, kemenyan), dan unta.
- Di
sisi lain, ada gambar tentara Assyria membakar tenda-tenda orang
Arab yang sedang tertidur.
- Ada
pula adegan pasukan Assyria menunggang kuda mengejar orang Arab
yang menunggang unta —dan orang Arab tidak bisa melarikan diri.
Ini adalah propaganda kekuasaan: Assyria ingin menunjukkan
bahwa tidak ada yang bisa melawan mereka, bahkan para penguasa gurun sekalipun.
Strategi Assyria Mengawasi Arab: Pos Militer, Benteng,
dan Mata-mata
Untuk mengendalikan orang Arab, Assyria tidak hanya
mengandalkan kekerasan. Mereka juga menerapkan strategi intelijen yang
canggih.
Pertama, mereka mendirikan pos-pos militer (masalih) di
perbatasan paling ujung yang terjangkau oleh kekuasaan mereka. Mereka juga
membangun benteng-benteng di persimpangan jalan menuju padang
pasir. Tujuannya: melindungi perbatasan dari serangan badui.
Kedua, mereka menempatkan pengawas (qibu) atau
perwakilan politik di wilayah-wilayah tempat tinggal para pemimpin
suku Arab. Para pengawas ini bertugas:
- Memantau
gerak-gerik suku
- Melaporkan
niat dan tindakan para pemimpin suku kepada pemerintah Assyria
- Mempengaruhi
para pemimpin suku agar melaksanakan keinginan raja-raja Assyria
Ini adalah politik "bagi dan kuasai" yang
kemudian ditiru oleh kekaisaran-kekaisaran setelah Assyria (Persia, Yunani,
Romawi, bahkan negara-negara modern).
Namun, Assyria bukanlah yang pertama menciptakan strategi
ini. Jauh sebelum mereka, kerajaan-kerajaan terdahulu pasti sudah menerapkan
cara serupa. Assyria hanya mewarisi dan menyempurnakannya.
Penutup: Warisan Assyria dalam Hubungan Arab-Penguasa
Asing
Apa yang bisa kita petik dari catatan kuno ini?
- Orang
Arab sudah menjadi bagian dari panggung sejarah Timur Dekat sejak 2.900
tahun yang lalu, dan bahkan lebih awal dari itu.
- Mereka
bukan sekadar pengganggu, tetapi cukup disegani sehingga Assyria
merasa perlu membangun pos-pos militer dan benteng khusus untuk menghadapi
mereka.
- Gambaran
fisik orang Arab dalam relief Assyria (jenggot, rambut panjang,
pakaian sederhana) memberi kita gambaran tentang penampilan nenek moyang
bangsa Arab di zaman kuno.
- Strategi
Assyria dalam mengawasi suku-suku Arab (mata-mata di tengah suku,
pos-pos perbatasan, membujuk pemimpin dengan hadiah) menjadi blueprint yang
diikuti oleh hampir semua kekuatan asing yang berurusan dengan badui
hingga abad ke-20.
Kisah ini mengajarkan bahwa meskipun Assyria telah lama
runtuh, dan Niniwe telah menjadi debu, jejak interaksi antara peradaban besar
dan bangsa Arab tetap terukir dalam batu — dan masih bisa kita baca hingga hari
ini.
Sumber :
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar