Arab dan Asyur: Catatan Tertua tentang Bangsa Badui dalam Prasasti Raja-Raja Mesopotamia

Lukisan suasana istana kerajaan Asyur kuno di Niniwe (sekitar tahun 850 SM). Di ruangan terbuka dengan tiang-tiang batu dan dinding berhiaskan relief pahatan bergambar pohon kehidupan dan makhluk bersayap, seorang raja Asyur berjubah panjang dan mahkota tinggi (menggambarkan Raja Shalmaneser III) duduk di singgasana batu. Di hadapannya, seorang utusan berpakaian sederhana khas Arab kuno: jubah putih, sorban, dan selempang kulit, membawa sebuah gulungan kecil atau peti persembahan. Di antara mereka, di atas meja batu rendah, terlihat sebuah prasasti tanah liat bertuliskan aksara paku memuat nama "Gindibu". Di latar belakang, jendela memperlihatkan langit biru dan sebagian kota bertembok. Suasana diplomatik, hormat, dan damai.


Prasasti Pertama yang Menyebut "Arab"

Tahukah Anda, siapakah raja pertama di dunia yang mencatat kata "Arab" dalam prasasti kemenangannya?

Dialah Raja Shalmaneser III (Shalmaneser), penguasa Assyria yang perkasa. Pada sekitar tahun 853 atau 854 sebelum Masehi, tepatnya di tahun keenam pemerintahannya, ia mencatat sebuah kemenangan besar. Lawannya bukanlah raja biasa, melainkan sebuah koalisi besar yang dipimpin oleh Raja Damaskus, dibantu oleh para penguasa kerajaan-kerajaan di Syam, Raja Israel, dan… seorang kepala suku Arab bernama Gindibu (dalam bahasa Assyria ditulis "Gindibu", yang tidak lain adalah nama Arab asli: Jundab).

Apa artinya ini? Ini berarti bahwa bangsa Arab sudah dikenal oleh Assyria sejak hampir 2.900 tahun yang lalu!


"Arab" pada Zaman Assyria: Bukan Nama Bangsa, Tapi Gelar untuk Badui

Namun, penting untuk dipahami: apa yang dimaksud dengan "Arab" dalam catatan Assyria pada zaman itu? Bukanlah bangsa Arab dalam pengertian kita sekarang. Kata "Arab" bagi mereka berarti "badui" —para pengembara padang pasir yang hidup berpindah-pindah, bukan penduduk kota yang menetap.

Adapun orang-orang Arab yang hidup di kota-kota (hadhar), mereka disebut oleh orang Assyria dengan nama kota atau wilayah mereka masing-masing. Karena pada masa itu, kata "Arab" belum menjadi sebutan untuk satu kesatuan bangsa yang mencakup badui dan hadhar. Ini adalah fakta penting yang sering dilupakan.


Alasan Assyria Melawan Arab: Gangguan di Gurun Pasir

Mengapa Assyria, kekaisaran adidaya pada zamannya, sampai repot-repot melancarkan sembilan kali kampanye militer hanya untuk melawan orang Arab?

Sebabnya sederhana: orang Arab (badui) sering mengganggu perbatasan. Mereka membiasakan diri untuk:

  • Mengacaukan perbatasan Assyria
  • Menghalangi dan mengganggu perjalanan di padang pasir
  • Menyerang kafilah dagang
  • Melakukan serangan dadakan ke wilayah kekaisaran

Kadang-kadang, gerakan ini didalangi oleh Babilonia (musuh bebuyutan Assyria) atau Mesir. Kadang juga hanya karena orang Arab ingin mencari nafkah dari rampasan perang.

Gangguan ini sangat membuat jengkel para kaisar Assyria. Rasa kesal dan amarah mereka terekam dengan jelas dalam prasasti-prasasti mereka, serta dalam relief-relief istana yang masih bisa kita saksikan hingga hari ini.


Gambaran Orang Arab dalam Relief Istana Assyria

Di istana Raja Asyurbanipal di Niniwe (ibu kota Assyria), para arkeolog menemukan dinding-dinding yang dihiasi pahatan bergambar orang Arab. Bagaimanakah wujud mereka menurut pandangan Assyria?

Orang Arab digambarkan dengan:

  • Jenggot lebat
  • Rambut panjang tergerai hingga bahu, kadang dikepang dan diikat dengan tali
  • Kumis yang biasanya dipangkas rapi

Dalam beberapa adegan, mereka digambarkan telanjang dada atau hanya mengenakan ikat pinggang tebal dan sarung yang menutupi dari perut hingga lutut.

Namun, yang paling memilukan adalah adegan-adegan berikut:

  • Orang Arab digambarkan mencium kaki raja-raja Niniwe sebagai tanda ketundukan.
  • Mereka membawa persembahan berupa emas, batu mulia, wewangian (termasuk kohl, kemenyan), dan unta.
  • Di sisi lain, ada gambar tentara Assyria membakar tenda-tenda orang Arab yang sedang tertidur.
  • Ada pula adegan pasukan Assyria menunggang kuda mengejar orang Arab yang menunggang unta —dan orang Arab tidak bisa melarikan diri.

Ini adalah propaganda kekuasaan: Assyria ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang bisa melawan mereka, bahkan para penguasa gurun sekalipun.


Strategi Assyria Mengawasi Arab: Pos Militer, Benteng, dan Mata-mata

Untuk mengendalikan orang Arab, Assyria tidak hanya mengandalkan kekerasan. Mereka juga menerapkan strategi intelijen yang canggih.

Pertama, mereka mendirikan pos-pos militer (masalih) di perbatasan paling ujung yang terjangkau oleh kekuasaan mereka. Mereka juga membangun benteng-benteng di persimpangan jalan menuju padang pasir. Tujuannya: melindungi perbatasan dari serangan badui.

Kedua, mereka menempatkan pengawas (qibu) atau perwakilan politik di wilayah-wilayah tempat tinggal para pemimpin suku Arab. Para pengawas ini bertugas:

  • Memantau gerak-gerik suku
  • Melaporkan niat dan tindakan para pemimpin suku kepada pemerintah Assyria
  • Mempengaruhi para pemimpin suku agar melaksanakan keinginan raja-raja Assyria

Ini adalah politik "bagi dan kuasai" yang kemudian ditiru oleh kekaisaran-kekaisaran setelah Assyria (Persia, Yunani, Romawi, bahkan negara-negara modern).

Namun, Assyria bukanlah yang pertama menciptakan strategi ini. Jauh sebelum mereka, kerajaan-kerajaan terdahulu pasti sudah menerapkan cara serupa. Assyria hanya mewarisi dan menyempurnakannya.


Penutup: Warisan Assyria dalam Hubungan Arab-Penguasa Asing

Apa yang bisa kita petik dari catatan kuno ini?

  1. Orang Arab sudah menjadi bagian dari panggung sejarah Timur Dekat sejak 2.900 tahun yang lalu, dan bahkan lebih awal dari itu.
  2. Mereka bukan sekadar pengganggu, tetapi cukup disegani sehingga Assyria merasa perlu membangun pos-pos militer dan benteng khusus untuk menghadapi mereka.
  3. Gambaran fisik orang Arab dalam relief Assyria (jenggot, rambut panjang, pakaian sederhana) memberi kita gambaran tentang penampilan nenek moyang bangsa Arab di zaman kuno.
  4. Strategi Assyria dalam mengawasi suku-suku Arab (mata-mata di tengah suku, pos-pos perbatasan, membujuk pemimpin dengan hadiah) menjadi blueprint yang diikuti oleh hampir semua kekuatan asing yang berurusan dengan badui hingga abad ke-20.

Kisah ini mengajarkan bahwa meskipun Assyria telah lama runtuh, dan Niniwe telah menjadi debu, jejak interaksi antara peradaban besar dan bangsa Arab tetap terukir dalam batu — dan masih bisa kita baca hingga hari ini.


Sumber :

Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam" 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penaklukan pada Masa Pemerintahan Umar Ibnu al Khattab

Jejak Peradaban Kuno: Bahrain, Mesopotamia, dan Munculnya "Arab" dalam Catatan Sejarah

Dilmun: Negeri Para Dewa, Pusat Perdagangan, dan Misteri Peradaban Kuno di Bahrain