Alexander Agung dan Mimpi Menguasai Arab: Ekspedisi yang Gagal karena Kematian
Pembuka: Alexander yang Terpesona oleh Kekayaan Arab
Pada abad ke-4 SM, seorang panglima muda dari Makedonia
bernama Alexander Agung (356–323 SM) berhasil menaklukkan
wilayah yang membentang dari Yunani hingga India. Setelah menguasai Mesir dan
Mesopotamia (Irak), pandangannya tertuju ke selatan: Jazirah Arab.
Mengapa ia begitu tertarik? Sejarawan Arrianus (Flavius
Arrianus) mencatat beberapa alasan. Ada yang mengatakan Alexander sakit hati
karena sebagian besar suku Arab tidak mengirim utusan untuk menyambutnya. Namun
Arrianus sendiri meyakini bahwa ambisi sejati Alexander adalah
menguasai wilayah baru dan menjadikan Lautan Hindia sebagai "laut
Yunani" dengan menguasai pelabuhan-pelabuhan Arab.
Alexander juga mendengar tentang kekayaan Arab —
kemenyan, mur, rempah-rempah, dan batu mulia. Ia juga mendengar pantai-pantai
Arab yang luas, pulau-pulau yang melimpah, dan pelabuhan yang potensial.
Kabar-kabar itu membangkitkan hasratnya untuk menaklukkan Arabia.
Alasan Lain: Ingin Menjadi Dewa Ketiga bagi Suku Arab?
Arrianus juga mencatat sebuah cerita menarik. Menurut
informan Alexander, orang-orang Arab menyembah dua dewa utama: Uranus (dewa
langit) dan Dionysus (dewa anggur dan kesenangan), serta semua
planet, terutama matahari. Ketika Alexander mendengar hal itu, ia bercita-cita
menjadikan dirinya dewa ketiga yang disembah oleh bangsa Arab! Ambisi
ini menunjukkan betapa besarnya ego sang penakluk.
Persiapan Ekspedisi Besar-besaran
Alexander tidak serta-merta menyerbu Arab dari darat. Ia
sadar bahwa medan gurun yang gersang, suku-suku yang gigih, dan kurangnya air
akan menyulitkan pasukannya. Oleh karena itu ia memilih invasi laut.
Ia membangun armada kapal besar di Babilonia,
dengan bahan baku kayu dari Phoenicia (Libanon) dan Siprus. Lalu ia mengirim
tiga komandan ekspedisi untuk menyusuri pantai Arab:
- Archias (Arkhyas)
— berlayar hingga mencapai pulau Tylos (Bahrain), tapi
tidak lebih jauh.
- Androsthenes —
berhasil mencapai lokasi yang lebih jauh dari Archias.
- Hieron —
yang paling jauh. Hieron ditugaskan berlayar mengelilingi seluruh Jazirah
Arab hingga ke Heroopolis (Suez di Mesir). Ia kembali
dengan membawa informasi penting tentang pelabuhan, pasokan air,
tumbuh-tumbuhan, dan kebiasaan penduduk.
Alexander kemudian menyiapkan segalanya. Namun, di usia yang
baru 32 tahun, Alexander meninggal mendadak di Babilonia pada
323 SM. Setelah kematiannya, para jenderalnya berebut kekuasaan dan melupakan
proyek Arab. Rencana besar itu pun mati bersama sang penakluk.
Pulau Tylos dan Ikaros: Mutiara di Teluk Persia
Para pelaut Alexander melaporkan keberadaan pulau-pulau di
Teluk Persia:
- Tylos (Bahrain)
— pulau yang luas, terjal, tetapi subur. Jika ditanami, dapat menghasilkan
buah-buahan. Jarak dari muara Efrat: satu hari satu malam pelayaran dengan
angin baik.
- Ikaros —
pulau kecil yang dipenuhi pepohonan, memiliki kuil dewi Artemis.
Hewan-hewan berkeliaran bebas karena dilindungi status suci. Alexander
menamainya sesuai dengan pulau Ikaros di Laut Aegea.
Penemuan ini menunjukkan minat awal Yunani terhadap
kepulauan Teluk Persia.
Perlawanan Gaza: Kisah "Batish" si Panglima
Arab
Sebelum berangkat ke Mesir, Alexander mengepung Kota Gaza pada
tahun 332 SM. Kota itu bertahan dengan sengit di bawah komandan bernama Batis (disebut
oleh Arrianus). Sejarawan modern menduga bahwa "Batis" adalah bentuk
Yunani dari nama Arab "Batish" (bāṭish — yang
perkasa/penghajar). Nama serupa ditemukan dalam prasasti Nabataean: "Batishu".
Apa bukti bahwa Batis adalah orang Arab? Gaza adalah ujung
jalur kafilah dagang Arab yang membawa rempah dari Yaman dan Hijaz. Tidak masuk
akal jika penguasanya adalah orang Persia. Jadi, kemungkinan besar Batis adalah
seorang kepala suku Arab.
Pengepungan berlangsung lima bulan. Pasukan Arab bahkan
menyerang menara pengepungan Alexander dan hampir mengalahkan pasukan
Makedonia. Alexander sendiri terluka. Pada akhirnya Gaza jatuh, dan orang
Yunani menemukan di dalam kota simpanan besar kemenyan dan mur —
harta dagang Arab yang sangat berharga. Mereka merampasnya, menyebabkan
kerugian besar bagi para saudagar Arab.
Kota Charax: Benteng Yunani di Tanah Arab
Salah satu kota yang dibangun Alexander atau jenderalnya
adalah Charax (kemudian disebut Charax Spasinou). Kota ini
terletak di titik paling utara Teluk Persia, di wilayah yang sekarang
bernama Al-Muhammarah (Khuzestan, Iran). Lokasinya dekat
pertemuan Sungai Karun dengan Tigris.
Kota ini dibangun di tanah Arab, berfungsi sebagai pusat
perdagangan. Namun sering rusak karena banjir. Raja Arab bernama Spasines (Hyspaosines)
— penguasa wilayah sekitarnya — memperbaikinya pada abad ke-2 SM. Ia membangun
tanggul penahan banjir dan menamainya Charax Spasinou. Kota ini
kemudian disebut "Karkhā Maysān" (Karak
Mesopotamia).
Koin-koin atas nama Spasines ditemukan, dan dinasti kecil
ini bertahan hingga kedatangan Ardashir Sassani (224 M). Charax menjadi kota
kosmopolitan yang dihuni pedagang Yunani, Arab, dan Persia.
Gerrha: Kota Garam yang Menjadi Pusat Perdagangan Rempah
Sejarawan Strabo (berdasarkan sumber
Eratosthenes) menggambarkan kota Gerrha di pantai timur Arab
(dekat Al-Hasa atau Bahrain). Ciri-cirinya unik:
- Didirikan
oleh imigran Kasdim (Chaldean) dari Babilonia.
- Terletak
di tanah garam, rumah-rumah dibangun dari batu garam. Karena
panas, dinding harus disiram air agar lapisan garam tidak rontok.
- Berjarak
sekitar 200 stadion (37 km) dari laut.
Gerrha adalah pusat perdagangan rempah-rempah: kemenyan,
mur, dan wewangian lainnya. Kafilah membawa barang dagangan melalui rute darat
ke Babilonia, lalu ke Thapsacus (sekarang Deir ez-Zor atau
Al-Mayadin di Suriah), dan dari sana ke berbagai pelabuhan Mediterania. Gerrha
juga menjadi titik transit antara India, Afrika selatan, dan dunia
Yunani-Romawi.
Perjalanan kafilah dari Gerrha ke Hadhramaut (penghasil
rempah utama) memakan waktu sekitar 40 hari.
Penutup: Warisan yang Terlupakan
Alexander Agung wafat sebelum mewujudkan mimpinya menguasai
Arab. Namun ekspedisi eksplorasinya memberikan pengetahuan geografis yang
berharga bagi dunia Yunani tentang pantai-pantai Teluk Persia dan pulau
Bahrain.
Kota Charax berdiri sebagai simbol interaksi awal
Yunani-Arab, meskipun akhirnya dikuasai oleh Parthia dan Sassania. Adapun
Gerrha tetap menjadi pusat dagang yang makmur hingga abad-abad pertama Masehi.
Hubungan Yunani-Arab tidak hanya tentang perang; tetapi juga
tentang perdagangan, navigasi, dan pertukaran pengetahuan. Para
pelaut, saudagar, dan diplomat dari kedua peradaban saling mempengaruhi.
Sementara Alexander dan para jenderalnya gagal menaklukkan
Arabia, mereka berhasil menanamkan kesadaran di dunia Barat bahwa "di
selatan sana, ada negeri yang kaya raya" — sebuah pengetahuan yang akan
memotivasi penguasa-penguasa berikutnya, termasuk Kaisar Augustus yang
mencoba dan gagal menguasai Yaman beberapa abad kemudian.
Sumber Kisah
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar