Alexander Agung dan Mimpi Menguasai Arab: Ekspedisi yang Gagal karena Kematian

Lukisan pemandangan pelabuhan kuno di Teluk Persia sekitar tahun 324 SM. Di perairan biru kehijauan, beberapa kapal layar kayu bergaya Yunani kuno berlayar tenang mengarah ke sebuah pulau (menggambarkan pulau Tylos/Bahrain). Di latar depan, seorang pria berpakaian Yunani (jubah panjang, sandal) berdiri di dermaga sambil memegang gulungan peta atau perkamen, berdialog dengan dua pedagang berpakaian Arab (jubah putih, sorban) yang menunjuk ke arah pulau. Di latar belakang, pulau terlihat subur dengan pohon palem dan beberapa bangunan sederhana. Matahari sore memancarkan cahaya keemasan.

Pembuka: Alexander yang Terpesona oleh Kekayaan Arab

Pada abad ke-4 SM, seorang panglima muda dari Makedonia bernama Alexander Agung (356–323 SM) berhasil menaklukkan wilayah yang membentang dari Yunani hingga India. Setelah menguasai Mesir dan Mesopotamia (Irak), pandangannya tertuju ke selatan: Jazirah Arab.

Mengapa ia begitu tertarik? Sejarawan Arrianus (Flavius Arrianus) mencatat beberapa alasan. Ada yang mengatakan Alexander sakit hati karena sebagian besar suku Arab tidak mengirim utusan untuk menyambutnya. Namun Arrianus sendiri meyakini bahwa ambisi sejati Alexander adalah menguasai wilayah baru dan menjadikan Lautan Hindia sebagai "laut Yunani" dengan menguasai pelabuhan-pelabuhan Arab.

Alexander juga mendengar tentang kekayaan Arab — kemenyan, mur, rempah-rempah, dan batu mulia. Ia juga mendengar pantai-pantai Arab yang luas, pulau-pulau yang melimpah, dan pelabuhan yang potensial. Kabar-kabar itu membangkitkan hasratnya untuk menaklukkan Arabia.


Alasan Lain: Ingin Menjadi Dewa Ketiga bagi Suku Arab?

Arrianus juga mencatat sebuah cerita menarik. Menurut informan Alexander, orang-orang Arab menyembah dua dewa utama: Uranus (dewa langit) dan Dionysus (dewa anggur dan kesenangan), serta semua planet, terutama matahari. Ketika Alexander mendengar hal itu, ia bercita-cita menjadikan dirinya dewa ketiga yang disembah oleh bangsa Arab! Ambisi ini menunjukkan betapa besarnya ego sang penakluk.


Persiapan Ekspedisi Besar-besaran

Alexander tidak serta-merta menyerbu Arab dari darat. Ia sadar bahwa medan gurun yang gersang, suku-suku yang gigih, dan kurangnya air akan menyulitkan pasukannya. Oleh karena itu ia memilih invasi laut.

Ia membangun armada kapal besar di Babilonia, dengan bahan baku kayu dari Phoenicia (Libanon) dan Siprus. Lalu ia mengirim tiga komandan ekspedisi untuk menyusuri pantai Arab:

  • Archias (Arkhyas) — berlayar hingga mencapai pulau Tylos (Bahrain), tapi tidak lebih jauh.
  • Androsthenes — berhasil mencapai lokasi yang lebih jauh dari Archias.
  • Hieron — yang paling jauh. Hieron ditugaskan berlayar mengelilingi seluruh Jazirah Arab hingga ke Heroopolis (Suez di Mesir). Ia kembali dengan membawa informasi penting tentang pelabuhan, pasokan air, tumbuh-tumbuhan, dan kebiasaan penduduk.

Alexander kemudian menyiapkan segalanya. Namun, di usia yang baru 32 tahun, Alexander meninggal mendadak di Babilonia pada 323 SM. Setelah kematiannya, para jenderalnya berebut kekuasaan dan melupakan proyek Arab. Rencana besar itu pun mati bersama sang penakluk.


Pulau Tylos dan Ikaros: Mutiara di Teluk Persia

Para pelaut Alexander melaporkan keberadaan pulau-pulau di Teluk Persia:

  • Tylos (Bahrain) — pulau yang luas, terjal, tetapi subur. Jika ditanami, dapat menghasilkan buah-buahan. Jarak dari muara Efrat: satu hari satu malam pelayaran dengan angin baik.
  • Ikaros — pulau kecil yang dipenuhi pepohonan, memiliki kuil dewi Artemis. Hewan-hewan berkeliaran bebas karena dilindungi status suci. Alexander menamainya sesuai dengan pulau Ikaros di Laut Aegea.

Penemuan ini menunjukkan minat awal Yunani terhadap kepulauan Teluk Persia.


Perlawanan Gaza: Kisah "Batish" si Panglima Arab

Sebelum berangkat ke Mesir, Alexander mengepung Kota Gaza pada tahun 332 SM. Kota itu bertahan dengan sengit di bawah komandan bernama Batis (disebut oleh Arrianus). Sejarawan modern menduga bahwa "Batis" adalah bentuk Yunani dari nama Arab "Batish" (bāṭish — yang perkasa/penghajar). Nama serupa ditemukan dalam prasasti Nabataean: "Batishu".

Apa bukti bahwa Batis adalah orang Arab? Gaza adalah ujung jalur kafilah dagang Arab yang membawa rempah dari Yaman dan Hijaz. Tidak masuk akal jika penguasanya adalah orang Persia. Jadi, kemungkinan besar Batis adalah seorang kepala suku Arab.

Pengepungan berlangsung lima bulan. Pasukan Arab bahkan menyerang menara pengepungan Alexander dan hampir mengalahkan pasukan Makedonia. Alexander sendiri terluka. Pada akhirnya Gaza jatuh, dan orang Yunani menemukan di dalam kota simpanan besar kemenyan dan mur — harta dagang Arab yang sangat berharga. Mereka merampasnya, menyebabkan kerugian besar bagi para saudagar Arab.


Kota Charax: Benteng Yunani di Tanah Arab

Salah satu kota yang dibangun Alexander atau jenderalnya adalah Charax (kemudian disebut Charax Spasinou). Kota ini terletak di titik paling utara Teluk Persia, di wilayah yang sekarang bernama Al-Muhammarah (Khuzestan, Iran). Lokasinya dekat pertemuan Sungai Karun dengan Tigris.

Kota ini dibangun di tanah Arab, berfungsi sebagai pusat perdagangan. Namun sering rusak karena banjir. Raja Arab bernama Spasines (Hyspaosines) — penguasa wilayah sekitarnya — memperbaikinya pada abad ke-2 SM. Ia membangun tanggul penahan banjir dan menamainya Charax Spasinou. Kota ini kemudian disebut "Karkhā Maysān" (Karak Mesopotamia).

Koin-koin atas nama Spasines ditemukan, dan dinasti kecil ini bertahan hingga kedatangan Ardashir Sassani (224 M). Charax menjadi kota kosmopolitan yang dihuni pedagang Yunani, Arab, dan Persia.


Gerrha: Kota Garam yang Menjadi Pusat Perdagangan Rempah

Sejarawan Strabo (berdasarkan sumber Eratosthenes) menggambarkan kota Gerrha di pantai timur Arab (dekat Al-Hasa atau Bahrain). Ciri-cirinya unik:

  • Didirikan oleh imigran Kasdim (Chaldean) dari Babilonia.
  • Terletak di tanah garam, rumah-rumah dibangun dari batu garam. Karena panas, dinding harus disiram air agar lapisan garam tidak rontok.
  • Berjarak sekitar 200 stadion (37 km) dari laut.

Gerrha adalah pusat perdagangan rempah-rempah: kemenyan, mur, dan wewangian lainnya. Kafilah membawa barang dagangan melalui rute darat ke Babilonia, lalu ke Thapsacus (sekarang Deir ez-Zor atau Al-Mayadin di Suriah), dan dari sana ke berbagai pelabuhan Mediterania. Gerrha juga menjadi titik transit antara India, Afrika selatan, dan dunia Yunani-Romawi.

Perjalanan kafilah dari Gerrha ke Hadhramaut (penghasil rempah utama) memakan waktu sekitar 40 hari.


Penutup: Warisan yang Terlupakan

Alexander Agung wafat sebelum mewujudkan mimpinya menguasai Arab. Namun ekspedisi eksplorasinya memberikan pengetahuan geografis yang berharga bagi dunia Yunani tentang pantai-pantai Teluk Persia dan pulau Bahrain.

Kota Charax berdiri sebagai simbol interaksi awal Yunani-Arab, meskipun akhirnya dikuasai oleh Parthia dan Sassania. Adapun Gerrha tetap menjadi pusat dagang yang makmur hingga abad-abad pertama Masehi.

Hubungan Yunani-Arab tidak hanya tentang perang; tetapi juga tentang perdagangan, navigasi, dan pertukaran pengetahuan. Para pelaut, saudagar, dan diplomat dari kedua peradaban saling mempengaruhi.

Sementara Alexander dan para jenderalnya gagal menaklukkan Arabia, mereka berhasil menanamkan kesadaran di dunia Barat bahwa "di selatan sana, ada negeri yang kaya raya" — sebuah pengetahuan yang akan memotivasi penguasa-penguasa berikutnya, termasuk Kaisar Augustus yang mencoba dan gagal menguasai Yaman beberapa abad kemudian.


Sumber Kisah

Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penaklukan di Irak dan Wilayah Timur Tahap Ketiga

Arab dan Kasdim: Jejak Kekaisaran Babilonia di Jantung Jazirah Arab

Gesyem si Arab dan Tembok Yerusalem: Kisah Perlawanan yang Mengubah Peta Politik