Tahun Kesebelas Hijriah: Detik-Detik Terakhir Sang Kekasih

padang pasir di luar kota Madinah yang disebut Juruf, dengan langit pagi berwarna jingga keemasan. Di tengah, tampak sekelompok laki-laki dewasa dan beberapa pemuda muda dengan pakaian Arab kuno berdiri di samping kuda-kuda mereka yang siap untuk berangkat. Seorang pemuda (Usamah) berdiri di depan, mengenakan sorban dan jubah sederhana, memegang bendera kecil dengan sikap tegar namun rendah hati. Di belakangnya, beberapa tokoh yang lebih tua (menggambarkan para sahabat senior) berdiri dengan sikap hormat, siap mengikutinya.

Pendahuluan: Tahun yang Penuh Makna

Tahun ke-11 Hijriah diawali dengan keadaan Rasulullah berada di Madinah, setelah kembali dari Haji Wada' dengan penuh kemuliaan, hati yang tenteram, dan dada yang lapang. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan Allah telah menyempurnakan agama serta menyempurnakan nikmat. Islam tampak unggul atas semua agama.

Namun Rasulullah tidak melupakan apa yang dilakukan Romawi kepada kaum Muslimin dalam Perang Mu'tah—terbunuhnya para pahlawan Zaid, Ja'far, Ibnu Rawahah, dan lainnya—serta niat mereka menyerang Madinah hingga terjadilah Perang Tabuk. Karena itu, beliau bertekad mengirim pasukan untuk membalas. Maka muncullah pengiriman pasukan Usamah bin Zaid.


Pengiriman Pasukan Usamah bin Zaid

Di akhir bulan Safar tahun ini, Rasulullah menyerukan kepada kaum Muslimin untuk berperang melawan Romawi. Tiga ribu pasukan dari kalangan terbaik Muslimin—termasuk para pemuka Muhajirin dan Anshar seperti Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah, Sa'ad, Sa'id, dan Salamah bin Aslam—bersedia.

Rasulullah memanggil Usamah bin Zaid—yang saat itu masih pemuda belum genap dua puluh tahun—dan bersabda:

سِرْ إِلَى مَوْضِعِ مَقْتَلِ أَبِيكَ، فَأَوْطِئْهُمُ الْخَيْلَ، فَقَدْ وَلَّيْتُكَ هَذَا الْجَيْشَ، وَأَغِرْ صَبَاحًا عَلَيْهِمْ، وَأَسْرِعِ السَّيْرَ تَسْبِقِ الْخَيْرَ، فَإِنْ ظَفَّرَكَ اللَّهُ بِهِمْ فَأَقِلَّ اللُّبْثَ فِيهِمْ

“Berangkatlah ke tempat terbunuhnya ayahmu, dan injak-injaklah mereka dengan kuda. Sungguh aku telah menjadikanmu pemimpin pasukan ini. Lakukanlah serangan di pagi hari, dan cepatlah dalam perjalanan agar mendapatkan kebaikan. Jika Allah memberimu kemenangan atas mereka, maka janganlah lama tinggal di antara mereka.”

Penunjukan pemuda ini sebagai panglima mengundang komentar dari sebagian sahabat. Ketika hal itu sampai kepada Rasulullah , beliau bersabda:

إِنْ تَطْعَنُوا فِي إِمَارَتِهِ فَقَدْ طَعَنْتُمْ فِي إِمَارَةِ أَبِيهِ مِنْ قَبْلُ، وَايْمُ اللَّهِ إِنْ كَانَ لَخَلِيقًا لِلْإِمَارَةِ، وَإِنْ كَانَ لَمِنْ أَحَبِّ النَّاسِ إِلَيَّ، وَإِنَّ هَذَا لَمِنْ أَحَبِّ النَّاسِ إِلَيَّ بَعْدَهُ

“Jika kalian mencela kepemimpinannya, sungguh kalian telah mencela kepemimpinan ayahnya sebelumnya. Demi Allah, sungguh dia (Zaid) memang layak untuk memimpin, dan dia adalah orang yang paling aku cintai. Dan sungguh anaknya (Usamah) ini adalah orang yang paling aku cintai setelahnya.” (HR. Bukhari)

Rasulullah mengikatkan bendera dengan tangannya sendiri. Usamah berangkat dan berkemah di Juruf (luar Madinah) untuk bersiap. Namun ketika mereka sedang bersiap, kabar tentang kerasnya penyakit Rasulullah sampai kepada mereka. Tidak ada pilihan selain menunda keberangkatan, karena di dalam pasukan terdapat para pemuka Muhajirin dan Anshar yang sangat dibutuhkan di Madinah dalam situasi kritis ini.

Hikmah penunjukan Usamah: Menggalakkan pengorbanan di jalan Allah, membalas pembunuh ayahnya, mematahkan kesombongan Arab yang membanggakan nasab, menegakkan prinsip kesetaraan dalam Islam, memberi kesempatan kepada generasi muda yang saleh, serta membiasakan mereka memikul tanggung jawab besar.


Awal Mula Sakit Rasulullah

Isyarat Dekatnya Ajal

Jiwa-jiwa yang jernih dan kuat dapat menangkap hal-hal tersembunyi di balik tabir gaib. Rasulullah memiliki porsi tertinggi dari sifat-sifat ini. Tidak mengherankan jika beliau memahami dari bacaan Al-Qur'an yang diajarkan Jibril dua kali di bulan Ramadhan tahun ke-10 sebagai isyarat dekatnya ajalnya. Begitu pula dari turunnya surat An-Nashr. Diriwayatkan bahwa beliau bersabda kepada Jibril: لَقَدْ نُعِيَتْ إِلَيَّ نَفْسِي (Sungguh telah diberitahukan kepadaku tentang kematianku). Jibril menjawab: "Dan akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang awal." Beberapa sahabat seperti Umar dan Ibnu Abbas juga memahami isyarat ini.

Mulainya Sakit

Awal sakit Rasulullah terjadi pada akhir bulan Safar atau awal Rabi'ul Awal. Beliau pernah memerintahkan untuk memohonkan ampun bagi penghuni pemakaman Baqi'. Beliau pergi bersama budaknya, Abu Muwaihibah, lalu mengucapkan:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ الْمَقَابِرِ، لِيَهْنِئْكُمْ مَا أَنْتُمْ فِيهِ مِمَّا أَصْبَحَ النَّاسُ فِيهِ، أَقْبَلَتِ الْفِتَنُ كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يَتْبَعُ آخِرُهَا أَوَّلَهَا

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian wahai penghuni kubur. Semoga apa yang sedang kalian alami (kebahagiaan akhirat) membahagiakan kalian, dibandingkan dengan apa yang sedang dialami manusia sekarang. Telah datang fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap, yang akhirnya mengikuti awalnya.”

Kemudian beliau berkata kepada Abu Muwaihibah:

إِنِّي قَدْ أُوتِيتُ مَفَاتِيحَ خَزَائِنِ الدُّنْيَا وَالْخُلْدِ فِيهَا ثُمَّ الْجَنَّةَ، فَخُيِّرْتُ بَيْنَ ذَلِكَ وَبَيْنَ لِقَاءِ رَبِّي وَالْجَنَّةِ

“Sungguh aku telah diberi kunci-kunci perbendaharaan dunia dan kekekalan di dalamnya kemudian surga, lalu aku diberi pilihan antara itu semua dengan bertemu Tuhanku dan surga.”

Abu Muwaihibah berkata: "Demi ayah dan ibuku, ambillah kunci-kunci perbendaharaan dunia dan kekekalan di dalamnya, kemudian surga!" Rasulullah bersabda: لَا وَاللَّهِ يَا أَبَا مُوَيْهِبَةَ، لَقَدِ اخْتَرْتُ لِقَاءَ رَبِّي وَالْجَنَّةَ (Tidak, demi Allah wahai Abu Muwaihibah, aku telah memilih bertemu Tuhanku dan surga). Kemudian beliau memohonkan ampun untuk ahli Baqi' dan pulang.

Sakit yang Mulai Terasa

Rasa sakit mulai menyerang. Beliau masuk menemui Aisyah yang sedang mengeluh pusing sambil berkata, "Wahai kepalaku." Maka Rasulullah bersabda: بَلْ أَنَا وَاللَّهِ يَا عَائِشَةُ وَارَأْسَاهْ (Bahkan akulah, demi Allah wahai Aisyah, wahai kepalaku). Kemudian beliau bergurau: وَمَا عَلَيْكِ لَوْ مُتِّ قَبْلِي، فَقُمْتُ عَلَيْكِ، وَكَفَّنْتُكِ، وَصَلَّيْتُ عَلَيْكِ، وَدَفَنْتُكِ؟ (Tidak apa-apa bagimu jika engkau mati sebelumku, lalu aku merawatmu, mengafanimu, menyalatkanmu, dan menguburkanmu?). Aisyah yang cemburu menjawab, "Demi Allah, sepertinya jika engkau lakukan itu, engkau akan kembali ke rumahku lalu mengadakan walimah dengan salah seorang istrimu yang lain." Rasulullah diam dan menganggap itu balasan gurauan.


Menjelang Kepergian Sang Kekasih

Perawatan di Rumah Aisyah

Rasulullah biasa menggilir para istrinya. Ketika sakitnya semakin parah di rumah Maimunah, beliau meminta izin kepada para istrinya untuk dirawat di rumah Aisyah. Mereka mengizinkan. Beliau keluar dengan dituntun oleh pamannya Abbas dan sepupunya Ali, kedua kakinya menyeret tanah, hingga tiba di rumah Aisyah.

Pertemuan dengan Fathimah

Suatu hari, putrinya Fathimah datang menjenguk. Rasulullah menyambutnya, mendudukkannya di sisinya, lalu membisikkan sesuatu kepadanya, dan Fathimah menangis. Kemudian beliau membisikkan lagi, dan Fathimah tertawa. Aisyah bertanya tentang rahasia itu, tetapi Fathimah mengatakan itu adalah rahasia. Setelah Rasulullah wafat, Fathimah menceritakan bahwa beliau memberitahukan tentang dekatnya ajalnya dan memerintahkan untuk bertakwa dan bersabar—maka ia menangis. Kemudian beliau memberitahukan bahwa Fathimah adalah anggota keluarganya yang pertama kali menyusulnya, dan bahwa ia adalah pemimpin wanita penghuni surga—maka ia tertawa. (HR. Bukhari)

Percakapan Abbas dan Ali

Abbas menemui Ali dan berkata: "Sungguh aku melihat Rasulullah akan meninggal karena sakitnya ini. Aku mengenali wajah Bani Abdul Muthalib saat menghadapi kematian. Mari kita pergi bertanya kepada beliau tentang siapa yang akan memegang urusan ini (kekhalifahan). Jika ada di antara kami, kami tahu; jika di luar kami, beliau berwasiat agar kami diperlakukan baik." Ali menjawab: "Jika kita memintanya lalu beliau tidak memberikannya kepada kita, maka manusia tidak akan memberikannya kepada kita setelah beliau. Demi Allah, aku tidak akan menanyakannya kepada Rasulullah ."

Pengobatan dan Akhir Hayat

Rasulullah berusaha meredakan demam dengan air dingin. Aisyah meruqyahnya dengan Al-Mu'awwidzatain dan Qul Huwallahu Ahad. Pada suatu saat beliau pingsan, lalu mereka melakukan "ladud" (memberi obat melalui mulut dengan paksa). Ketika beliau sadar, beliau memerintahkan agar setiap orang di rumah itu diberi perlakuan yang sama, kecuali pamannya Abbas.


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Para Utusan ke Yaman: Mendidik, Mengadili, dan Mengelola Zakat

Perang Badar Kubra Bagian 4

Menghitung Jejak Perjuangan: Berapa Kali Rasulullah ﷺ Berperang?