Perang Badar Kubra Bagian 4

Ilustrasi Perang Badar, sekitar 350 pasukan muslim berbaris berhadapan dengan sekitar 1000 pasukan Quraisy di padang pasir luas menjelang pertempuran.

Wasiat Nabi ﷺ Menjelang Pertempuran

Pagi itu, di dataran Badar yang sunyi, dua pasukan sudah saling mendekat. Debu berterbangan di cakrawala, sementara detak jantung para prajurit terdengar dalam diam.

Di satu sisi, pasukan Quraisy datang dengan jumlah besar, perlengkapan lengkap, dan kuda-kuda yang gagah. Di sisi lain, kaum muslimin yang jumlahnya jauh lebih sedikit, hampir tanpa kuda, berdiri teguh di posisi mereka, menanti perintah Rasulullah ﷺ.

Sebelum pertempuran dimulai, Rasulullah ﷺ berpesan kepada para sahabat dengan strategi yang sangat matang. Beliau bersabda:

«لَا تَحْمِلُوا حَتَّى آمُرَكُمْ، وَإِنِ اكْتَنَفَكُمُ الْقَوْمُ فَانْضَحُوهُمْ بِالنَّبْلِ، وَلَا تَسُلُّوا السُّيُوفَ حَتَّى يَغْشُوكُمْ»

“Janganlah kalian menyerang hingga aku perintahkan. Jika musuh telah mengepung kalian, hujani mereka dengan panah. Janganlah kalian menghunus pedang hingga mereka menyerbu kalian.”

Dengan jumlah yang sedikit dan hampir tanpa kavaleri, kaum muslimin tidak mungkin melakukan serangan terbuka. Karena itu, Rasulullah ﷺ memilih strategi bertahan yang penuh perhitungan: menunggu lawan mendekat, melemahkan mereka dengan panah, lalu menyambut serangan dari jarak dekat.

Di balik sabda yang singkat itu, tersimpan puncak kecerdasan militer dan tawakal yang sempurna kepada Allah.

________________________________________

Di Dalam Tenda: Kecemasan dan Doa

Setelah menata barisan, Rasulullah ﷺ kembali ke tenda yang disebut al-‘Arisy, sebuah tempat yang dijadikan pos komando. Di sana, beliau ditemani sahabat terdekatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Sementara itu, Sa’ad bin Mu’adz radhiyallahu ‘anhu berdiri di pintu tenda dengan pedang terhunus, menjaga Rasulullah ﷺ dengan penuh kesiagaan.

Di dalam tenda itu, kegundahan Rasulullah ﷺ memuncak. Jumlah sahabat yang sedikit, medan perang yang menentukan masa depan dakwah, serta nasib umat setelah hari itu, semua berkumpul dalam hati beliau. Lalu beliau mengangkat kedua tangan, mempersembahkan doa yang tulus kepada Rabbnya:

«اللهم أنجز لي ما وعدتني، اللهم إن تهلك هذه العصابة من أهل الإسلام فلا تعبد بعد في الأرض أبدا»

“Ya Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, jika kelompok kecil dari pemeluk Islam ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi selamanya.”

Beliau terus memohon, mengulang-ulang doa, hingga selendang yang ada di pundaknya terjatuh ke tanah karena begitu khusyuk dan lamanya beliau berdoa. Abu Bakar mengangkat kembali selendang itu, meletakkannya di atas pundak Rasulullah ﷺ dan berkata dengan penuh harap:

“Wahai Rasulullah, cukuplah permohonanmu kepada Rabbmu. Sesungguhnya Dia akan memenuhi janji-Nya kepadamu.”

Setelah itu, Rasulullah ﷺ tertidur sejenak karena kelelahan dalam doa. Tidak lama kemudian, beliau terbangun dengan wajah yang berseri-seri dan kabar yang menenangkan hati. Beliau bersabda:

«أبشر يا أبا بكر، فقد أتاك نصر الله، هذا جبريل أخذ بعنان فرسه يقوده على ثناياه النقع»

“Bergembiralah wahai Abu Bakar! Pertolongan Allah telah datang kepadamu. Ini adalah Jibril, memegang tali kekang kudanya, menuntunnya sementara debu beterbangan di sekitar giginya.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan saat-saat doa dan turunnya pertolongan itu dalam firman-Nya:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkannya bagimu, ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.’”

(QS. Al-Anfal: 9)

________________________________________

Janji Surga dan Semangat Jihad

Setelah mendapatkan kabar gembira tentang turunnya bantuan dari langit, Rasulullah ﷺ keluar dari tenda dan berjalan menuju barisan kaum muslimin. Wajah-wajah para sahabat menatap beliau dengan penuh harap. Inilah saatnya meneguhkan hati mereka sebelum pedang-pedang terhunus.

Rasulullah ﷺ menyampaikan kabar yang lebih besar dari sekadar kemenangan dunia. Beliau menjanjikan mereka surga bagi siapa saja yang berjuang dengan ikhlas dan teguh:

«والذي نفس محمد بيده لا يقاتلهم اليوم رجل فيقتل صابرا محتسبا، مقبلا غير مدبر، إلا أدخله الله الجنة. ومن قتل قتيلا فله سلبه»

“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun yang memerangi mereka hari ini lalu terbunuh dalam keadaan sabar, mengharap pahala, maju (ke depan) dan tidak mundur ke belakang, melainkan Allah akan memasukkannya ke dalam Surga. Dan barang siapa membunuh seorang musuh, maka baginya harta rampasan (salb) orang itu.”

Kemudian beliau berseru:

«قوموا إلى جنة عرضها السماوات والأرض»

“Bangkitlah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”

Kata-kata itu menyentuh hati para sahabat lebih dalam daripada suara perang apa pun. Di antara mereka, seorang pemuda Anshar bernama ‘Umair bin Al-Humam radhiyallahu ‘anhu tergerak kuat oleh seruan itu. Ia bertanya:

“Wahai Rasulullah, surga yang luasnya seluas langit dan bumi?!”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Ya.”

Tanpa bisa menahan kekagumannya, ‘Umair mengucapkan, “Bakh bakh!” — sebuah ungkapan kagum dan rida.

Rasulullah ﷺ bertanya, “Apa yang mendorongmu mengatakan ‘bakh bakh’?”

Ia menjawab, “Demi Allah, wahai Rasulullah, tidak ada maksud lain kecuali aku berharap menjadi salah satu penghuninya.”

Rasulullah ﷺ bersabda, menegaskan harapannya:

“Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya.”

Di tangan ‘Umair saat itu ada beberapa butir kurma yang sedang ia makan. Ia memandang kurma-kurma itu, lalu berkata pada dirinya sendiri, “Sungguh, jika aku masih hidup sampai menghabiskan kurma-kurma ini, berarti itu adalah kehidupan yang sangat panjang!”

Ia melemparkan kurma-kurma itu, kemudian bergegas maju ke medan pertempuran sambil bersyair:

“Berlari menuju Allah tanpa bekal,

Kecuali takwa dan amal untuk akhirat.

Dan kesabaran karena Allah dalam jihad.

Setiap bekal pasti akan habis,

Kecuali takwa, kebajikan, dan petunjuk.”

Ia terus maju, menebas dan menangkis, hingga akhirnya gugur sebagai syahid. Semoga Allah meridhainya dan membuatnya ridha.

________________________________________

Kisah Auf bin Al-Harits: Melepaskan Baju Besi Demi Ridha Allah

Di antara para pemuda Anshar yang ikut dalam perang Badar, ada seorang lagi yang hatinya menyala karena rindu kepada Allah, yaitu ‘Auf bin Al-Harits, putra ‘Afra’ radhiyallahu ‘anhu.

Ia mendekati Rasulullah ﷺ dan bertanya:

“Wahai Rasulullah, apakah yang membuat Rabb tertawa melihat hamba-Nya?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

«غمسه يده – أي سيفه – في العدو حاسرا»

“(Yaitu) ketika ia menancapkan tangannya — maksudnya pedangnya — ke tengah musuh dengan kepala terbuka (tanpa pelindung).”

Mendengar itu, ‘Auf langsung memutuskan. Ia melepas baju besinya dan melemparkannya. Tanpa pelindung di tubuhnya, hanya bersenjata iman dan pedang, ia terjun ke tengah-tengah pasukan musyrik dan berperang hingga gugur sebagai syahid. Semoga Allah meridhainya dan menjadikannya ridha.

________________________________________

Lemparan Kerikil dan Seruan: “Seranglah dengan Kuat!”

Ketika kedua pasukan semakin dekat, Rasulullah ﷺ maju ke depan. Beliau mengambil segenggam kerikil dari tanah, lalu menghadapi pasukan musyrik. Di hadapan lautan manusia bersenjata itu, beliau mengangkat tangannya dan berseru:

«شاهت الوجوه»

“Semoga wajah-wajah (musuh) menjadi buruk!”

Kemudian beliau melemparkan kerikil itu ke arah mereka. Setelah itu beliau menoleh kepada para sahabat dan memerintahkan:

«شدّوا»

“Seranglah dengan kuat!”

Kerikil itu tampak kecil dan ringan, namun dampaknya luar biasa. Pada saat itulah kaum muslimin menyerbu dengan segenap kekuatan. Pedang-pedang beradu, tombak-tombak menusuk, dan takbir menggema di tengah suara senjata.

Di balik peristiwa itu, bala tentara yang tidak tampak mata manusia ikut turun. Allah berfirman:

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا ۚ سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ ۖ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ

“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.’ Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.”

(QS. Al-Anfal: 12)

Pertempuran berlangsung sengit, namun tidak lama. Semangat kaum muslimin yang dipenuhi keyakinan dan cinta akan syahadah mengalahkan jumlah dan perlengkapan musuh. Hari itu terbukti bahwa kekuatan ruhani yang bersandar kepada Allah jauh lebih dahsyat daripada kekuatan materi semata.

Semboyan kaum muslimin pada hari Badar adalah “Ahad, Ahad” — “Allah Maha Esa, Allah Maha Esa.” Dengan semboyan itu, hati mereka teguh, meskipun tubuh mereka berada di tengah badai pedang.

Tidak sampai berjam-jam, pertempuran itu berakhir dengan kemenangan telak bagi kaum muslimin. Tujuh puluh tokoh penting Quraisy terbunuh dan tujuh puluh lainnya ditawan. Orang-orang yang selamat dari terbunuh atau tertawan kabur sambil berteriak, “Selamatkan diri! Selamatkan diri!”

Adapun kaum muslimin, hanya empat belas orang yang gugur sebagai syahid: enam orang dari kalangan Muhajirin dan delapan dari kalangan Anshar. Di balik sebab-sebab lahiriah itu, ada tangan kekuasaan Allah yang bekerja. Karena itu Allah menegaskan:

وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ رَمَىٰ

“Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allahlah yang melempar.”

(QS. Al-Anfal: 17)

Dan Dia juga berfirman:

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُم بِهِ ۗ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan Allah menjadikannya (bantuan malaikat itu) hanya sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

(QS. Al-Anfal: 10)

________________________________________

Hari Al-Furqan: 17 Ramadhan

Kemenangan di Badar terjadi pada hari Jumat, 17 Ramadhan. Hari itu disebut juga Yawm Al-Furqan — hari pembeda, karena pada hari itu Allah membedakan dengan nyata antara yang haq dan yang batil, antara petunjuk dan kesesatan.

Menariknya, hari itu bertepatan dengan hari ketika Allah memulai turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad ﷺ di Gua Hira’, empat belas tahun qamariyah sebelumnya. Sejarah wahyu dimulai dengan Al-Qur’an di Mekah, lalu dimahkotai dengan kemenangan Badar di Madinah — kemenangan yang menegaskan kebenaran wahyu itu di medan nyata.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Sungguh, Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukuri(-Nya).”

(QS. Ali ‘Imran: 123)

________________________________________

Rasulullah ﷺ di Garis Depan

Rasulullah ﷺ bukan hanya berdoa dan memberikan semangat dari jauh. Beliau sendiri ikut berdiri di garis depan, berhadapan langsung dengan bahaya.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa pada perang Badar, para sahabat berlindung mendekati Rasulullah ﷺ. Beliaulah yang paling dekat dengan musuh dan yang paling berani pada hari itu.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ keluar dari tenda pada hari Badar dengan memakai baju besi, sambil berjalan cepat dengan penuh keyakinan. Saat itu beliau membaca ayat:

سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ ۝ بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَىٰ وَأَمَرُّ

“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. Bahkan hari Kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.”

(QS. Al-Qamar: 45–46)

Ayat ini adalah ayat Makkiyah, turun saat kaum muslimin masih lemah di Mekah. Namun bukti kebenarannya tampak jelas di Badar. Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya ketika ayat itu turun, “Golongan mana ini?!” Tafsir ayat itu menjadi nyata di hari Badar, ketika Rasulullah ﷺ mengulang-ulangnya sambil menyongsong pertempuran.

________________________________________

Abu Bakar Ash-Shiddiq: Pemberani yang Menjaga Rasulullah ﷺ

Pada hari Badar, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu hampir tidak pernah berpisah dari Rasulullah ﷺ. Di dalam tenda, dialah yang menenangkan beliau ketika berdoa. Di luar tenda, ia berdiri dengan pedang terhunus untuk menjaga, agar tidak ada seorang pun musuh yang mampu mendekati Rasulullah ﷺ.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu suatu ketika berkhutbah dan bertanya kepada orang-orang:

“Wahai manusia, siapakah manusia paling pemberani?”

Mereka menjawab, “Engkau, wahai Amirul Mukminin.”

Ali menjawab dengan tawaduk dan kejujuran: “Setiap kali aku berduel dengan seseorang, aku dapat mengalahkannya. Akan tetapi, yang paling pemberani adalah Abu Bakar.”

Lalu ia menceritakan bagaimana mereka membuat tenda untuk Rasulullah ﷺ di Badar dan mencari siapa yang siap menjaga beliau. Ternyata yang berdiri di depan tenda dengan pedang terhunus hanyalah Abu Bakar. Tidak ada seorang musyrik pun yang mencoba mendekati Rasulullah ﷺ kecuali Abu Bakarlah yang maju menghalanginya.

Ali juga mengingat satu peristiwa di Mekah, ketika orang-orang Quraisy menangkap Rasulullah ﷺ, mencekik dan menarik beliau dengan keras sambil mengejek, “Apakah engkau menjadikan tuhan-tuhan itu menjadi satu tuhan?” Tidak ada seorang pun yang berani membela beliau saat itu kecuali Abu Bakar. Ia datang memukul yang satu, melawan yang lain, sambil berkata, “Celaka kalian, apakah kalian akan membunuh seseorang karena ia mengatakan: Tuhanku adalah Allah?”

Mengenang semua itu, Ali menangis hingga jenggotnya basah. Ia berkata bahwa satu saat dari keberanian Abu Bakar lebih baik daripada amal sebesar bumi dari seorang mukmin keluarga Fir’aun, karena mukmin keluarga Fir’aun menyembunyikan imannya, sedangkan Abu Bakar menampakkan imannya secara terbuka.

________________________________________

Bantuan Malaikat di Badar: Turun Bertahap

Para ulama sepakat bahwa pada hari Badar, Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong kaum muslimin dengan mengirim para malaikat sebagai bala bantuan. Allah berfirman:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ ۝ وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُم بِهِ ۗ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkannya bagimu, ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.’ Dan Allah menjadikannya (bantuan malaikat itu) hanya sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

(QS. Al-Anfal: 9–10)

Dan Allah juga berfirman:

إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَنْ يَكْفِيَكُمْ أَن يُمِدَّكُمْ رَبُّكُم بِثَلَاثَةِ آلَافٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ مُنزَلِينَ ۝ بَلَىٰ ۚ إِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ آلَافٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ … أَوْ يَكْبِتَهُمْ فَيَنقَلِبُوا خَائِبِينَ

“(Ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang-orang beriman, ‘Apakah tidak cukup bagimu bahwa Tuhanmu menolong kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan?’ Ya, (cukup)! Jika kamu bersabar dan bertakwa, dan mereka datang menyerangmu dengan tiba-tiba, niscaya Tuhanmu akan menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. … Atau (membinasakan musuhmu dan) mengecewakan mereka, lalu mereka kembali dengan hampa.”

(QS. Ali ‘Imran: 124–127, potongan ayat)

Dari ayat-ayat ini dipahami bahwa bantuan malaikat di Badar datang secara bertahap: pertama seribu, kemudian tiga ribu, lalu mencapai lima ribu malaikat yang ditandai secara khusus.

________________________________________

Apakah Malaikat Ikut Bertempur?

Para ulama kemudian berbeda pendapat dalam satu hal: apakah malaikat benar-benar ikut bertempur secara langsung di Badar, ataukah mereka hanya datang sebagai peneguh dan penambah jumlah?

Mayoritas ulama berpendapat bahwa sebagian malaikat memang ikut bertempur. Mereka berdalil dengan firman Allah:

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا ۚ سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ ۖ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ

“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.’ Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.”

(QS. Al-Anfal: 12)

Mereka juga berdalil dengan hadis-hadis yang menceritakan bagaimana para sahabat merasakan kehadiran malaikat. Di antaranya hadis dalam Shahih Muslim dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ia menceritakan bahwa ada seorang laki-laki Anshar pada hari Badar yang sedang mengejar seorang musyrik. Tiba-tiba ia mendengar suara cambuk di atasnya dan suara penunggang kuda berkata, “Majulah, Hai Zum!” Lalu ia melihat orang musyrik yang dikejarnya jatuh tersungkur, dengan hidung dan wajah terbelah, seakan-akan bekas cambukan, dan tubuhnya menjadi hijau kebiruan.

Orang Anshar itu kemudian menemui Rasulullah ﷺ dan menceritakan kejadian itu. Rasulullah ﷺ bersabda:

«ذلك من مدد السماء الثالثة»

“Itu adalah bantuan dari langit ketiga.”

Sebagian riwayat juga menyebutkan bahwa Ibnu ‘Abbas berkata, “Para malaikat tidak pernah bertempur pada suatu hari pun selain pada hari Badar. Pada hari-hari lain, mereka hadir sebagai penolong, peneguh hati, dan penambah jumlah, bukan sebagai petempur.”

Di sisi lain, sebagian ulama berpendapat bahwa malaikat tidak ikut bertempur secara langsung. Mereka hanya datang untuk menenteramkan hati dan menjadi kabar gembira. Mereka menunjuk pada firman Allah:

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُم بِهِ

“Dan Allah menjadikannya (malaikat-malaikat yang dijanjikan-Nya) hanya sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya.”

(QS. Al-Anfal: 10)

Dan firman-Nya:

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُم بِهِ

“Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira bagi kamu dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya.”

(QS. Ali ‘Imran: 126)

Menurut mereka, perintah “maka penggallah kepala mereka” dalam ayat tadi adalah bentuk kisah tentang apa yang Allah perintahkan kepada para malaikat untuk disampaikan dan ditanamkan ke dalam hati kaum muslimin, bukan bukti bahwa semua malaikat turun bertempur.

Pendapat yang paling seimbang — wallahu a’lam — adalah bahwa bantuan malaikat di Badar mencakup semuanya: menambah jumlah, meneguhkan hati, memberi kabar gembira, dan bahwa sebagian malaikat ikut bertempur, tetapi bukan semuanya. Namun, usaha terbesar dalam peperangan tetap berada di pundak kaum muslimin sendiri.

________________________________________

Hikmah: Mengapa Musuh Tidak Dihancurkan Seketika?

Mungkin muncul pertanyaan: “Kalau satu teriakan Jibril saja bisa menghancurkan suatu kaum, mengapa Allah mengirim begitu banyak malaikat? Bahkan mengapa orang-orang kafir Quraisy tidak dibinasakan secara langsung, tanpa perang dan tanpa darah kaum muslimin?”

Di sinilah tampak hikmah besar Allah terhadap umat Nabi Muhammad ﷺ. Sunnatullah terhadap umat ini bukanlah kebinasaan total dengan azab langsung dari langit, sebagaimana yang menimpa umat-umat terdahulu. Allah menghendaki agar kebenaran menang melalui sebab-sebab yang terlihat di bumi: melalui perjuangan orang-orang beriman melawan orang-orang kafir, orang-orang adil melawan orang-orang zalim.

Dengan cara itu, kehinaan yang menimpa orang-orang kafir menjadi lebih nyata, dan hati orang-orang beriman menjadi lebih lega. Allah menjadikan kaum mukminin sebagai alat untuk menegakkan kemenangan-Nya di muka bumi, sementara malaikat datang untuk menolong, meneguhkan, menakut-nakuti, dan — pada sebagian keadaan — ikut bertempur.

Allah mengisyaratkan hikmah ini dalam firman-Nya:

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِينَ ۝ وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ ۗ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ۝ أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِن دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, dan menghilangkan panas hati mereka. Dan Allah menerima tobat orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak menjadikan selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin sebagai teman dekat? Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

(QS. At-Taubah: 14–16)

Dengan demikian, perang Badar menjadi pelajaran abadi bahwa kemenangan hakiki datang dari Allah, tetapi melalui tangan hamba-hamba-Nya yang beriman, yang sabar, dan yang bertakwa.

________________________________________

Penutup 

Begitulah rangkaian peristiwa perang Badar: dimulai dengan wasiat Nabi ﷺ yang penuh hikmah, diliputi doa yang menggetarkan dari dalam tenda, disemarakkan keberanian para sahabat yang berlomba meraih surga, disertai turunnya bala bantuan dari langit, hingga berakhir dengan kemenangan yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an sebagai bukti janji-Nya.

Sumber :

As-Sirah An-Nabawiyyah fi Dhau’i Al-Qur’an wa As-Sunnah, karya Dr. Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pensyariatan Haji dan Wafatnya Sa'ad bin Mu'adz

Di Balik Pernikahan Rasulullah: Membantah Fitnah dan Menyingkap Hikmah Agung

Zainab binti Jahsy: Pernikahan Langit yang Mengubah Syariat