Menghitung Jejak Perjuangan: Berapa Kali Rasulullah ﷺ Berperang?

peta Jazirah Arab kuno yang digambar di atas perkamen besar, terbentang di atas meja kayu. Di atas peta terdapat titik-titik merah kecil yang menandai lokasi berbagai peperangan dan ekspedisi. Beberapa anak panah tipis menghubungkan titik-titik tersebut. Di sudut peta, terdapat tumpukan buku catatan dan pena bulu.

Setelah menuntaskan pembahasan Perang Tabuk—yang merupakan peperangan terakhir yang diikuti langsung oleh Rasulullah —kita sampai pada sebuah pertanyaan menarik: Sudah berapa banyakkah peperangan (ghazwah) dan ekspedisi (sariyyah) yang terjadi di masa kenabian?

Para ulama dan ahli sejarah memiliki catatan yang berbeda-beda. Namun perbedaan ini bukanlah pertentangan, melainkan kekayaan pandangan yang justru menunjukkan betapa luasnya medan juang para sahabat.


Kesaksian Sahabat: Berapa Ghazwah yang Diikuti?

Para sahabat yang mulia memberikan kesaksian berdasarkan ingatan dan pengalaman mereka masing-masing. Mari kita simak beberapa di antaranya:

1. Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu

Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Abu Ishaq as-Sabi’i bercerita:

“Aku pernah duduk di samping Zaid bin Arqam, lalu aku bertanya kepadanya: ‘Berapa kali Nabi melakukan peperangan (ghazwah)?’ Ia menjawab: ‘Sembilan belas kali.’ Aku bertanya: ‘Berapa kali engkau ikut serta bersamanya?’ Ia menjawab: ‘Tujuh belas kali.’ Aku bertanya: ‘Peperangan apakah yang pertama kali?’ Ia menjawab: ‘Al-‘Usyair atau Al-‘Usairah.’”

Teks Hadits (lafadz riwayat Muslim):

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: غَزَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَ عَشْرَةَ غَزْوَةً.

Artinya: “Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Rasulullah melakukan sembilan belas kali peperangan.’”

2. Buraidah radhiyallahu ‘anhu

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Buraidah:

غَزَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَ عَشْرَةَ غَزْوَةً، قَاتَلَ فِي ثَمَانٍ مِنْهُنَّ

Artinya: “Rasulullah melakukan sembilan belas kali peperangan, dan beliau benar-benar bertempur dalam delapan peperangan di antaranya.”

3. Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma

Jabir menyatakan bahwa ia ikut serta dalam sembilan belas peperangan bersama Rasulullah . Namun Jabir tidak ikut Perang Badar dan Uhud karena ayahnya melarangnya (agar ia menjaga saudara-saudara perempuannya). Setelah ayahnya gugur di Uhud, Jabir tidak pernah absen dalam peperangan selanjutnya.

Menurut hitungan Jabir, total ghazwah yang dilakukan Rasulullah menjadi dua puluh satu kali. Dua tambahan tersebut adalah Perang Al-Abwa’ dan Buwath, yang terjadi sebelum Perang Al-‘Usyair.


Catatan Ibnu Ishaq: Dua Puluh Tujuh Ghazwah

Ibnu Ishaq, ahli sirah terkemuka, menyebutkan bahwa Rasulullah melakukan dua puluh tujuh kali peperangan (ghazwah). Berikut adalah nama-namanya secara berurutan:

  1. Waddan (Al-Abwa’)
  2. Buwath
  3. Al-‘Usyair
  4. Badr al-Ula (mengejar Kraz bin Jabir)
  5. Badr al-Kubra
  6. Bani Sulaim (hingga Al-Kudr)
  7. Bahran
  8. Uhud
  9. Hamra’ al-Asad
  10. Bani Nadhir
  11. Dzat ar-Riqa’
  12. Badr al-Akhirah
  13. Dumah al-Jandal
  14. Khandaq (Ahzab)
  15. Bani Quraizhah
  16. Bani Lihyan
  17. Hudaibiyah (meskipun tidak terjadi pertempuran)
  18. Khaibar
  19. Al-Fath (Pembebasan Mekah)
  20. Mu’tah
  21. Dzat as-Salasil
  22. ‘Uzrah
  23. Ghabah
  24. Hunain
  25. Tha’if
  26. Tabuk

Ibnu Ishaq juga menyebutkan bahwa dari semua itu, hanya sembilan peperangan yang benar-benar terjadi bentrokan, yaitu: Badar, Uhud, Khandaq, Quraizhah, Al-Muraisi’ (Bani Mushthaliq), Khaibar, Fathu Makkah, Hunain, dan Tha’if.


Mengapa Angka-Angka Berbeda?

Perbedaan jumlah ini bukanlah sebuah kesalahan atau pertentangan. Para ulama menjelaskan bahwa perbedaan disebabkan oleh sudut pandang yang berbeda-beda, antara lain:

  • Ada yang menggabungkan dua peperangan yang berdekatan (misalnya Khandaq dan Bani Quraizhah dianggap satu), ada yang memisahkan.
  • Ada yang menghitung semua ekspedisi yang dipimpin langsung Rasulullah , ada yang hanya menghitung yang terjadi pertempuran.
  • Ada yang tidak memasukkan Perang Hudaibiyah karena tidak terjadi perang, ada yang memasukkannya karena beliau tetap keluar membawa pasukan.
  • Ada yang lupa karena faktor usia (seperti Zaid bin Arqam yang masih muda pada perang awal), ada yang tidak ikut dalam beberapa peperangan.

Penulis kitab ini (Syaikh Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad asy-Syaukani? Tidak, kitab ini karya Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi? Yang jelas, dari teks ini penulisnya tidak disebut. Tapi kita tetap sebutkan sumber kitabnya) menegaskan:

“Perbedaan ini tidak perlu membuatmu bingung, wahai pembaca yang cerdas. Karena pernyataan-pernyataan itu tidak bersifat membatasi (hashing), dan angka-angka itu tidak memiliki konsekuensi tertentu. Setiap orang mengabarkan apa yang diketahuinya. Bisa jadi seorang sahabat memiliki informasi yang tidak dimiliki sahabat lain, atau seorang sahabat menyaksikan peperangan yang tidak disaksikan sahabat lain.”


Ekspedisi (Saraya dan Ba’uts): Ratusan Pengorbanan Tanpa Nama

Selain peperangan yang dipimpin langsung Rasulullah , terdapat juga ekspedisi militer (sariyyah) yang dipimpin oleh para sahabat, serta pengiriman pasukan (ba’ts) untuk misi tertentu.

Para ulama juga berbeda dalam menghitung jumlahnya:

  • Ibnu Ishaq: 38 ekspedisi
  • Al-Waqidi: 48 ekspedisi
  • Ibnu Sa’d: 56 ekspedisi
  • Ibnu al-Jauzi (dalam At-Talqih): 56 ekspedisi (mengikuti Ibnu Sa’d)
  • Al-Mas’udi: 60 ekspedisi
  • Al-Hafizh al-‘Iraqi (dalam Nazhm as-Sirah): lebih dari 70 ekspedisi
  • Al-Hakim (dalam Al-Iklil): menyebutkan bahwa jumlahnya lebih dari seratus—bisa jadi ia menggabungkan ghazwah dan sariyyah.

Perbedaan ini wajar karena para ulama memiliki kriteria yang tidak sama: ada yang hanya menghitung yang melibatkan pasukan besar, ada yang menghitung semua misi, termasuk yang hanya terdiri dari beberapa orang.


Pelajaran dari Perbedaan Hitungan

Sahabat-sahabat Rasulullah adalah orang-orang yang paling jujur dan paling teliti. Mereka lebih suka jatuh dari gunung daripada berdusta atas nama Rasulullah . Allah sendiri telah memuji mereka dalam Al-Qur’an, dan Rasulullah telah menyanjung mereka setinggi-tingginya.

Perbedaan hitungan mereka tidak mengurangi kehormatan sedikit pun. Justru, itu menunjukkan bahwa mereka adalah manusia biasa yang memiliki kapasitas ingatan yang berbeda, dan bahwa medan perjuangan Islam sangatlah luas sehingga tidak semua sahabat mampu mengikuti semua peperangan.

Tujuan penulis kitab ini—dan semoga kita semua memiliki tujuan yang sama—adalah untuk menunjukkan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an saling membenarkan, hadits-hadits yang shahih tidak saling bertentangan, dan bahwa perbedaan pendapat dapat dikompromikan dengan pikiran yang jernih, hati yang beriman, dan akal yang tenang.


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perang Badar Kubra Bagian 4

Tahun ke-10 Hijriah: Dakwah Meluas ke Seluruh Jazirah

Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ