Menghitung Jejak Perjuangan: Berapa Kali Rasulullah ﷺ Berperang?
Setelah menuntaskan pembahasan Perang Tabuk—yang merupakan peperangan terakhir yang diikuti langsung oleh Rasulullah ﷺ—kita sampai pada sebuah pertanyaan menarik: Sudah berapa banyakkah peperangan (ghazwah) dan ekspedisi (sariyyah) yang terjadi di masa kenabian?
Para ulama dan ahli sejarah memiliki catatan yang
berbeda-beda. Namun perbedaan ini bukanlah pertentangan, melainkan kekayaan
pandangan yang justru menunjukkan betapa luasnya medan juang para sahabat.
Kesaksian Sahabat: Berapa Ghazwah yang Diikuti?
Para sahabat yang mulia memberikan kesaksian berdasarkan
ingatan dan pengalaman mereka masing-masing. Mari kita simak beberapa di
antaranya:
1. Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu
Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Abu Ishaq as-Sabi’i
bercerita:
“Aku pernah duduk di samping Zaid bin Arqam, lalu aku
bertanya kepadanya: ‘Berapa kali Nabi ﷺ melakukan peperangan (ghazwah)?’ Ia
menjawab: ‘Sembilan belas kali.’ Aku bertanya: ‘Berapa kali engkau ikut
serta bersamanya?’ Ia menjawab: ‘Tujuh belas kali.’ Aku bertanya:
‘Peperangan apakah yang pertama kali?’ Ia menjawab: ‘Al-‘Usyair atau
Al-‘Usairah.’”
Teks Hadits (lafadz riwayat Muslim):
عَنْ
زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: غَزَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَ عَشْرَةَ غَزْوَةً.
Artinya: “Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, ia
berkata: ‘Rasulullah ﷺ
melakukan sembilan belas kali peperangan.’”
2. Buraidah radhiyallahu ‘anhu
Imam Muslim juga meriwayatkan dari Buraidah:
“غَزَا
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَ عَشْرَةَ غَزْوَةً،
قَاتَلَ فِي ثَمَانٍ مِنْهُنَّ”
Artinya: “Rasulullah ﷺ melakukan sembilan belas kali peperangan,
dan beliau benar-benar bertempur dalam delapan peperangan di antaranya.”
3. Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma
Jabir menyatakan bahwa ia ikut serta dalam sembilan
belas peperangan bersama Rasulullah ﷺ. Namun Jabir tidak ikut Perang Badar dan
Uhud karena ayahnya melarangnya (agar ia menjaga saudara-saudara perempuannya).
Setelah ayahnya gugur di Uhud, Jabir tidak pernah absen dalam peperangan
selanjutnya.
Menurut hitungan Jabir, total ghazwah yang dilakukan
Rasulullah ﷺ
menjadi dua puluh satu kali. Dua tambahan tersebut adalah
Perang Al-Abwa’ dan Buwath, yang terjadi sebelum
Perang Al-‘Usyair.
Catatan Ibnu Ishaq: Dua Puluh Tujuh Ghazwah
Ibnu Ishaq, ahli sirah terkemuka, menyebutkan bahwa
Rasulullah ﷺ
melakukan dua puluh tujuh kali peperangan (ghazwah). Berikut
adalah nama-namanya secara berurutan:
- Waddan
(Al-Abwa’)
- Buwath
- Al-‘Usyair
- Badr
al-Ula (mengejar Kraz bin Jabir)
- Badr
al-Kubra
- Bani
Sulaim (hingga Al-Kudr)
- Bahran
- Uhud
- Hamra’
al-Asad
- Bani
Nadhir
- Dzat
ar-Riqa’
- Badr
al-Akhirah
- Dumah
al-Jandal
- Khandaq
(Ahzab)
- Bani
Quraizhah
- Bani
Lihyan
- Hudaibiyah
(meskipun tidak terjadi pertempuran)
- Khaibar
- Al-Fath
(Pembebasan Mekah)
- Mu’tah
- Dzat
as-Salasil
- ‘Uzrah
- Ghabah
- Hunain
- Tha’if
- Tabuk
Ibnu Ishaq juga menyebutkan bahwa dari semua itu, hanya
sembilan peperangan yang benar-benar terjadi bentrokan, yaitu: Badar, Uhud,
Khandaq, Quraizhah, Al-Muraisi’ (Bani Mushthaliq), Khaibar, Fathu Makkah,
Hunain, dan Tha’if.
Mengapa Angka-Angka Berbeda?
Perbedaan jumlah ini bukanlah sebuah kesalahan atau
pertentangan. Para ulama menjelaskan bahwa perbedaan disebabkan oleh sudut
pandang yang berbeda-beda, antara lain:
- Ada
yang menggabungkan dua peperangan yang berdekatan
(misalnya Khandaq dan Bani Quraizhah dianggap satu), ada yang memisahkan.
- Ada
yang menghitung semua ekspedisi yang dipimpin langsung
Rasulullah ﷺ,
ada yang hanya menghitung yang terjadi pertempuran.
- Ada
yang tidak memasukkan Perang Hudaibiyah karena tidak
terjadi perang, ada yang memasukkannya karena beliau tetap keluar membawa
pasukan.
- Ada
yang lupa karena faktor usia (seperti Zaid bin Arqam yang
masih muda pada perang awal), ada yang tidak ikut dalam
beberapa peperangan.
Penulis kitab ini (Syaikh Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad
asy-Syaukani? Tidak, kitab ini karya Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi? Yang
jelas, dari teks ini penulisnya tidak disebut. Tapi kita tetap sebutkan sumber
kitabnya) menegaskan:
“Perbedaan ini tidak perlu membuatmu bingung, wahai
pembaca yang cerdas. Karena pernyataan-pernyataan itu tidak bersifat membatasi
(hashing), dan angka-angka itu tidak memiliki konsekuensi tertentu. Setiap
orang mengabarkan apa yang diketahuinya. Bisa jadi seorang sahabat memiliki
informasi yang tidak dimiliki sahabat lain, atau seorang sahabat menyaksikan
peperangan yang tidak disaksikan sahabat lain.”
Ekspedisi (Saraya dan Ba’uts): Ratusan Pengorbanan Tanpa
Nama
Selain peperangan yang dipimpin langsung Rasulullah ﷺ,
terdapat juga ekspedisi militer (sariyyah) yang dipimpin oleh
para sahabat, serta pengiriman pasukan (ba’ts) untuk misi
tertentu.
Para ulama juga berbeda dalam menghitung jumlahnya:
- Ibnu
Ishaq: 38 ekspedisi
- Al-Waqidi:
48 ekspedisi
- Ibnu
Sa’d: 56 ekspedisi
- Ibnu
al-Jauzi (dalam At-Talqih): 56 ekspedisi (mengikuti Ibnu Sa’d)
- Al-Mas’udi:
60 ekspedisi
- Al-Hafizh
al-‘Iraqi (dalam Nazhm as-Sirah): lebih dari 70 ekspedisi
- Al-Hakim (dalam
Al-Iklil): menyebutkan bahwa jumlahnya lebih dari seratus—bisa
jadi ia menggabungkan ghazwah dan sariyyah.
Perbedaan ini wajar karena para ulama memiliki kriteria yang
tidak sama: ada yang hanya menghitung yang melibatkan pasukan besar, ada yang
menghitung semua misi, termasuk yang hanya terdiri dari beberapa orang.
Pelajaran dari Perbedaan Hitungan
Sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ adalah orang-orang yang paling jujur dan
paling teliti. Mereka lebih suka jatuh dari gunung daripada berdusta atas nama
Rasulullah ﷺ.
Allah sendiri telah memuji mereka dalam Al-Qur’an, dan Rasulullah ﷺ
telah menyanjung mereka setinggi-tingginya.
Perbedaan hitungan mereka tidak mengurangi kehormatan
sedikit pun. Justru, itu menunjukkan bahwa mereka adalah manusia biasa yang
memiliki kapasitas ingatan yang berbeda, dan bahwa medan perjuangan Islam
sangatlah luas sehingga tidak semua sahabat mampu mengikuti semua peperangan.
Tujuan penulis kitab ini—dan semoga kita semua memiliki
tujuan yang sama—adalah untuk menunjukkan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an
saling membenarkan, hadits-hadits yang shahih tidak saling bertentangan,
dan bahwa perbedaan pendapat dapat dikompromikan dengan pikiran yang jernih,
hati yang beriman, dan akal yang tenang.
Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah
Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar
Posting Komentar