Strata Silsilah Suku Arab: Pohon Raksasa yang Tumbuh dari Padang Pasir
Pengantar: Mengapa Suku Berlapis-Lapis?
Bayangkan sebuah pohon raksasa dengan akar yang dalam,
batang yang kokoh, cabang yang merambat, dahan yang bercabang lagi, hingga
ranting-ranting kecil dan daun-daun yang tak terhitung jumlahnya. Pohon
silsilah suku-suku Arab pun demikian.
Para ulama ilmu nasab (silsilah) telah menyusun suku-suku
Arab dalam tingkatan-tingkatan berurutan. Mereka ingin menunjukkan bahwa setiap
orang Arab memiliki tempat yang jelas dalam struktur sosialnya—dari leluhur
terjauh hingga keluarga terdekat.
Lalu, apa saja tingkatan itu? Simaklah dengan saksama.
Tujuh Tingkatan Utama Menurut Para Ahli Nasab
Para ahli nasab sepakat bahwa strata suku-suku Arab terbagi
menjadi tujuh tingkatan utama, yaitu:
- Asy-Sya'bu (الشعب)
- bangsa/pokok: nasab yang paling jauh, contohnya 'Adnan dan
Qahthan
- Al-Qabilah (القبيلة)
- suku besar: contohnya Rabi'ah dan Mudhar
- Al-'Imarah (العمارة)
- rumpun suku: contohnya Quraisy dan Kinanah
- Al-Bathnu (البطن)
- golongan: contohnya Bani 'Abdi Manaf dan Bani Makhzum, juga Bani Hasyim
dan Bani Umayyah
- Al-Fakhdz (الفخذ)
- kaum: contohnya...
- Al-Fashilah (الفصيلة)
- kerabat dekat: contohnya Bani Abi Thalib dan Bani al-'Abbas
- Al-'Asyirah (العشيرة)
- kabilah: ada yang menempatkan antara fakhdz dan fashilah
Sebagian ulama—seperti Ibnu al-Kalbi—menambahkan
satu tingkatan di antara fakhdz dan fashilah yang disebut al-'Asyirah,
yaitu rahthu ar-rajul (kelompok seseorang).
Perbedaan Pendapat di Kalangan Ahli: Siapa yang Benar?
Namun, para ulama tidak selalu sepakat dalam
urutan dan jumlah tingkatan. Mari kita lihat variasi pendapat mereka:
An-Nuwairi membangun strata suku di atas sepuluh
tingkatan:
- Al-Jidzm
(الجذم)
≥ Al-Jamahir (الجماهير)
≥ Asy-Syu'ub (الشعوب)
≥ Al-Qaba'il (القبائل)
≥ Al-'Ama'ir (العمائر)
≥ Al-Buthun (البطون)
≥ Al-Afkhadz (الأفخاذ)
≥ Al-'Asya'ir (العشائر)
≥ Al-Fashail (الفصائل)
≥ Al-Arhat (الأرهاط)
Nasywan bin Sa'id al-Himyari menyusun sebagai:
- Asy-Sya'bu
≥ Al-Qabilah ≥ Al-'Imarah ≥ Al-Bathnu ≥ Al-Fakhdzu ≥ Al-Jilu (الجيل
- generasi) ≥ Al-Fashilah.
- Ia
memberi contoh: Mudhar = Sya'bu, Kinanah = Qabilah, Quraisy = 'Imarah,
Fihr = Bathnu, Qushay = Fakhdzu, Hasyim = Jilu, dan Bani al-'Abbas =
Fashilah.
Adapula yang menambahkan setelah al-'asyirah:
al-Usrah (keluarga), lalu al-'Itrah (keturunan). Yang lain menambah di
antaranya: al-Bayt (rumah), al-Hayy (kabilah yang bermukim), dan al-Jama'
(kumpulan).
Mengapa Mereka Berbeda? Pertanda Bukan Warisan Jahiliyah
Murni
Perbedaan pendapat yang cukup tajam di kalangan ahli nasab
ini—dalam hal urutan (mendahulukan dan mengakhirkan), dalam hal menambah atau
mengurangi istilah—bukanlah sesuatu yang buruk. Justru, perbedaan ini
memberikan petunjuk penting kepada kita:
Bahwa pengaturan strata ini BUKAN berasal dari tradisi
Jahiliyah yang disepakati secara bulat oleh orang-orang Arab sebelum Islam.
Seandainya strata ini sudah baku sejak zaman Jahiliyah,
niscaya para ahli nasab Islam tidak akan berbeda pendapat seperti ini.
Lalu dari mana asalnya?
Penulis berpendapat bahwa strata ini adalah hasil
ijtihad para ulama Islam yang mereka susun berdasarkan:
- Apa
yang mereka dengar dari para perawi (periwayat)
- Kondisi
kesukuan yang berlaku di zaman mereka
- Ijtihad
pribadi mereka sendiri
Maka, mereka menyusun tingkatan-tingkatan itu sesuai ijtihad
masing-masing.
Bukti dari Al-Qur'an: "Kami Jadikan Kamu
Bersuku-suku dan Berpuak-puak"
Menariknya, Al-Qur'an sendiri telah menyebutkan
kedua istilah ini (sya'bu dan qabilah) secara berurutan. Allah Ta'ala
berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًۭا
وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ
إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu
dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu
berbangsa-bangsa (syu'uban) dan bersuku-suku (qaba'ila) agar kamu saling
mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang
paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti." (QS.
Al-Hujurat [49]: 13)
Perhatikan baik-baik: Allah menyebut as-syu'ub (bangsa-bangsa) lebih
dulu, baru al-qaba'il (suku-suku). Ini menunjukkan
bahwa sya'bu lebih tinggi tingkatannya daripada qabilah—sesuai
dengan apa yang dikatakan sebagian besar ahli nasab.
Ayat ini juga menegaskan bahwa konsep "bangsa"
(sya'bu) sebagai kumpulan yang lebih besar dari suku, sudah dikenal pada masa
turunnya Al-Qur'an. Artinya, gagasan kebangsaan dalam arti luas mulai
muncul di kalangan orang Arab pada masa Jahiliyah akhir yang dekat
dengan Islam. Mereka mulai merasa perlu bersatu melawan musuh dari luar:
- Seperti
orang-orang Yaman melawan pasukan Habasyah (Etiopia)
- Seperti
suku-suku Arab di Irak melawan bangsa Persia
Suku Badui vs Suku Kota: Apakah Sama?
Pembagian strata ini tidak hanya berlaku untuk orang-orang
badui (ahlul wabar), tetapi juga untuk penduduk kota (ahlul
madar)—terutama penduduk Hijaz seperti Makkah, Madinah, dan Tha'if.
Mengapa penduduk kota pun masih terikat dengan strata
kesukuan? Bukankah mereka sudah menetap dan hidup dalam masyarakat kota?
Jawabannya: Meskipun mereka sudah menetap dan hidup
dalam rumah-rumah batu (madar), mereka tidak bisa melepaskan diri dari sistem
sosial warisan kehidupan badui. Mengapa? Karena kondisi alam saat itu
memaksa mereka untuk tetap bergantung pada ikatan darah dan perlindungan suku.
Belum ada pemerintahan modern yang menjamin keamanan. Yang melindungi seseorang
dari kezaliman hanyalah 'ashabiyah (fanatisme kesukuan) yang
didasari oleh nasab dan ikatan darah.
Maka, mereka tetap mempertahankan sistem yang sama:
pembagian menjadi sya'bu, qabilah, 'imarah, bathn, fakhdz, fashilah, dan
seterusnya. Perbedaan antara badui dan penduduk kota hanya terletak pada tempat
tinggalnya, bukan pada sistem kekerabatan dan perlindungannya.
Apakah Istilah "Qabilah" Ada dalam Prasasti
Arab Selatan?
Penulis melakukan penelitian menarik: Ia mencari
istilah-istilah ini dalam prasasti Arab Selatan kuno (tulisan
musnad).
Hasilnya:
- Ia
TIDAK menemukan lafal "al-qabilah" dalam
prasasti musnad. Kata ini mungkin khas untuk penduduk Hijaz dan Nejd.
- Namun
ia menemukan lafal "sya'b" dalam bahasa Arab
Selatan, yang berarti qabilah (suku) dalam pengertian
kita.
- Untuk
tingkatan yang lebih rendah dari suku, ia juga tidak menemukan nama-nama
khusus seperti yang disebut para ahli nasab Islam. Sebagai gantinya,
orang-orang Arab Selatan membagi suku menjadi "rub'u" (ربعن
= seperempat suku) dan "tsuluts" (ثلثن
= sepertiga suku). Mungkin ada pembagian lain yang belum ditemukan.
Penulis optimis: "Semoga hari-hari mendatang
akan memberi kita istilah-istilah nasab yang digunakan orang Arab Selatan jauh
sebelum Islam, serta istilah-istilah untuk cabang-cabang suku pada zaman
itu."
Keanehan: Suku Menisbahkan Diri kepada Tuhan, Bukan
kepada Leluhur!
Sekarang, perhatikan fenomena yang sangat menarik dan
mungkin membingungkan bagi kita yang terbiasa dengan konsep "nasab =
bapak-kakek-ayah":
Ahli nasab Islam menisbahkan semua suku—baik
badui maupun penduduk kota—kepada bapak-bapak yang benar-benar hidup
dan mati (seperti 'Adnan, Qahthan, Mudhar, Rabi'ah, dan seterusnya).
Mereka menganggap suku-suku itu benar-benar keturunan dari tokoh-tokoh
tersebut.
Tapi, bagaimana dengan bangsa M'in (Minyun),
penduduk Arab Selatan kuno? Mereka menggunakan kalimat: "Auladuhu
Wadd" (أولده
ود) artinya "anak-anak Wadd" —sedangkan Wadd adalah
nama tuhan (dewa) terbesar bagi bangsa M'in.
Demikian pula, bangsa Saba' menyebut diri
mereka "Aulad al-Maqah" (ولد المقه) artinya "anak-anak
al-Maqah" —al-Maqah adalah tuhan utama Saba'.
Dan bangsa Qataban menyebut diri
mereka "Aulad 'Am" (ولد عم) artinya "anak-anak
'Am" —'Am adalah tuhan mereka.
Artinya, masing-masing suku besar di Arab Selatan
menisbahkan diri kepada tuhan mereka sendiri, bukan kepada bapak atau kakek
manusia yang hidup dan mati. Mereka berlindung dan bangga dengan tuhan suku
mereka, yang mereka anggap sebagai pelindung, pemberi rezeki, dan pembela
mereka—sama seperti yang dilakukan bangsa Ibrani (Bani Israil) dan bangsa-bangsa
lain.
Lalu, apa artinya ini?
Artinya, yang disebut "nasab" menurut versi para
sejarawan dan ahli nasab Islam—yaitu bapak manusia yang benar-benar hidup,
punya anak dan cucu—tidak ditemukan dalam prasasti Arab Selatan kuno
(musnad) yang sampai kepada kita sekarang.
Penulis menyatakan dengan jujur: "Ini (nasab
dengan bapak manusia) belum sampai berita dan kabarnya kepada kami dalam
tulisan-tulisan musnad, atau dalam semua tulisan Jahiliyah yang sampai kepada
kami hingga sekarang."
Maka, para ahli nasab Islam mungkin mengambil model nasab
dari tradisi lisan Arab Utara (Hijaz, Nejd) dan kemudian menerapkannya secara
umum, sementara tradisi kuno Arab Selatan lebih bersifat teologis (berkaitan
dengan tuhan) daripada genealogis (berkaitan dengan leluhur manusia).
Penutup: Antara Pohon Nasab dan Realitas Sejarah
Dari pembahasan panjang ini, kita belajar bahwa:
- Sistem
strata suku (sya'bu, qabilah, 'imarah, dll.) memang ada dalam
masyarakat Arab, tetapi bentuknya tidak sekaku dan seformal yang
dibayangkan para ahli nasab. Perbedaan pendapat mereka menjadi bukti bahwa
sistem ini lebih merupakan ijtihad ulama Islam daripada
warisan murni dari zaman Jahiliyah yang telah disepakati secara bulat.
- Al-Qur'an
mengakui keberadaan syu'ub dan qaba'il sebagai sarana saling
mengenal, tetapi mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah nasab,
melainkan ketakwaan.
- Tradisi
nasab versi "bapak manusia" (seperti 'Adnan dan
Qahthan) tidak ditemukan dalam prasasti Arab Selatan kuno. Sebaliknya,
suku-suku di sana menisbahkan diri kepada tuhan-tuhan mereka.
Ini menunjukkan bahwa praktik "menjadikan tokoh manusia sebagai
leluhur suku" mungkin berkembang belakangan—terutama di Arab
Utara—lalu digeneralisasi oleh para ahli nasab ke seluruh bangsa Arab.
- Penelitian
masih terus berlanjut. Penulis berharap agar di masa depan ditemukan
lebih banyak prasasti yang bisa menjelaskan istilah-istilah nasab pada
masyarakat Arab Selatan kuno. Semua yang kita ketahui sekarang masih
bersifat sementara.
Akhirnya, apapun strata dan nasab seseorang, Al-Qur'an telah
mengingatkan kita dengan firman-Nya yang agung (sebagaimana telah disebutkan di
atas). Yang membedakan hanyalah ketakwaan.
Sumber Kisah
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar