Strata Silsilah Suku Arab: Pohon Raksasa yang Tumbuh dari Padang Pasir

Lukisan pemandangan di dalam perpustakaan atau majelis kuno di Jazirah Arab. Di tengah ruangan terbentang sebuah gulungan perkamen besar yang digambar dengan tinta hitam berbentuk pohon silsilah bertingkat. Pohon itu memiliki akar yang tertulis "'Adnan" dan "Qahthan", batang utama bercabang menjadi "Mudhar", "Rabi'ah", lalu cabang-cabang kecil lainnya seperti "Quraisy", "Kinanah", "Bani Hasyim", "Bani Umayyah". Di samping gulungan itu, seorang pria berjubah putih dan sorban sedang duduk sambil memegang pena buluh, menambahkan nama pada salah satu cabang. Beberapa pria lain duduk melingkar di atas karpun beralas pasir, ada yang berdiskusi dengan tenang. Di belakang mereka, rak-rak berisi gulungan kitab

Pengantar: Mengapa Suku Berlapis-Lapis?

Bayangkan sebuah pohon raksasa dengan akar yang dalam, batang yang kokoh, cabang yang merambat, dahan yang bercabang lagi, hingga ranting-ranting kecil dan daun-daun yang tak terhitung jumlahnya. Pohon silsilah suku-suku Arab pun demikian.

Para ulama ilmu nasab (silsilah) telah menyusun suku-suku Arab dalam tingkatan-tingkatan berurutan. Mereka ingin menunjukkan bahwa setiap orang Arab memiliki tempat yang jelas dalam struktur sosialnya—dari leluhur terjauh hingga keluarga terdekat.

Lalu, apa saja tingkatan itu? Simaklah dengan saksama.


Tujuh Tingkatan Utama Menurut Para Ahli Nasab

Para ahli nasab sepakat bahwa strata suku-suku Arab terbagi menjadi tujuh tingkatan utama, yaitu:

  1. Asy-Sya'bu (الشعب) - bangsa/pokok: nasab yang paling jauh, contohnya 'Adnan dan Qahthan
  2. Al-Qabilah (القبيلة) - suku besar: contohnya Rabi'ah dan Mudhar
  3. Al-'Imarah (العمارة) - rumpun suku: contohnya Quraisy dan Kinanah
  4. Al-Bathnu (البطن) - golongan: contohnya Bani 'Abdi Manaf dan Bani Makhzum, juga Bani Hasyim dan Bani Umayyah
  5. Al-Fakhdz (الفخذ) - kaum: contohnya...
  6. Al-Fashilah (الفصيلة) - kerabat dekat: contohnya Bani Abi Thalib dan Bani al-'Abbas
  7. Al-'Asyirah (العشيرة) - kabilah: ada yang menempatkan antara fakhdz dan fashilah

Sebagian ulama—seperti Ibnu al-Kalbi—menambahkan satu tingkatan di antara fakhdz dan fashilah yang disebut al-'Asyirah, yaitu rahthu ar-rajul (kelompok seseorang).


Perbedaan Pendapat di Kalangan Ahli: Siapa yang Benar?

Namun, para ulama tidak selalu sepakat dalam urutan dan jumlah tingkatan. Mari kita lihat variasi pendapat mereka:

An-Nuwairi membangun strata suku di atas sepuluh tingkatan:

  • Al-Jidzm (الجذم) ≥ Al-Jamahir (الجماهير) ≥ Asy-Syu'ub (الشعوب) ≥ Al-Qaba'il (القبائل) ≥ Al-'Ama'ir (العمائر) ≥ Al-Buthun (البطون) ≥ Al-Afkhadz (الأفخاذ) ≥ Al-'Asya'ir (العشائر) ≥ Al-Fashail (الفصائل) ≥ Al-Arhat (الأرهاط)

Nasywan bin Sa'id al-Himyari menyusun sebagai:

  • Asy-Sya'bu ≥ Al-Qabilah ≥ Al-'Imarah ≥ Al-Bathnu ≥ Al-Fakhdzu ≥ Al-Jilu (الجيل - generasi) ≥ Al-Fashilah.
  • Ia memberi contoh: Mudhar = Sya'bu, Kinanah = Qabilah, Quraisy = 'Imarah, Fihr = Bathnu, Qushay = Fakhdzu, Hasyim = Jilu, dan Bani al-'Abbas = Fashilah.

Adapula yang menambahkan setelah al-'asyirah: al-Usrah (keluarga), lalu al-'Itrah (keturunan). Yang lain menambah di antaranya: al-Bayt (rumah), al-Hayy (kabilah yang bermukim), dan al-Jama' (kumpulan).


Mengapa Mereka Berbeda? Pertanda Bukan Warisan Jahiliyah Murni

Perbedaan pendapat yang cukup tajam di kalangan ahli nasab ini—dalam hal urutan (mendahulukan dan mengakhirkan), dalam hal menambah atau mengurangi istilah—bukanlah sesuatu yang buruk. Justru, perbedaan ini memberikan petunjuk penting kepada kita:

Bahwa pengaturan strata ini BUKAN berasal dari tradisi Jahiliyah yang disepakati secara bulat oleh orang-orang Arab sebelum Islam.

Seandainya strata ini sudah baku sejak zaman Jahiliyah, niscaya para ahli nasab Islam tidak akan berbeda pendapat seperti ini.
Lalu dari mana asalnya?

Penulis berpendapat bahwa strata ini adalah hasil ijtihad para ulama Islam yang mereka susun berdasarkan:

  1. Apa yang mereka dengar dari para perawi (periwayat)
  2. Kondisi kesukuan yang berlaku di zaman mereka
  3. Ijtihad pribadi mereka sendiri

Maka, mereka menyusun tingkatan-tingkatan itu sesuai ijtihad masing-masing.


Bukti dari Al-Qur'an: "Kami Jadikan Kamu Bersuku-suku dan Berpuak-puak"

Menariknya, Al-Qur'an sendiri telah menyebutkan kedua istilah ini (sya'bu dan qabilah) secara berurutan. Allah Ta'ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa (syu'uban) dan bersuku-suku (qaba'ila) agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti." (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Perhatikan baik-baik: Allah menyebut as-syu'ub (bangsa-bangsa) lebih dulu, baru al-qaba'il (suku-suku). Ini menunjukkan bahwa sya'bu lebih tinggi tingkatannya daripada qabilah—sesuai dengan apa yang dikatakan sebagian besar ahli nasab.

Ayat ini juga menegaskan bahwa konsep "bangsa" (sya'bu) sebagai kumpulan yang lebih besar dari suku, sudah dikenal pada masa turunnya Al-Qur'an. Artinya, gagasan kebangsaan dalam arti luas mulai muncul di kalangan orang Arab pada masa Jahiliyah akhir yang dekat dengan Islam. Mereka mulai merasa perlu bersatu melawan musuh dari luar:

  • Seperti orang-orang Yaman melawan pasukan Habasyah (Etiopia)
  • Seperti suku-suku Arab di Irak melawan bangsa Persia

Suku Badui vs Suku Kota: Apakah Sama?

Pembagian strata ini tidak hanya berlaku untuk orang-orang badui (ahlul wabar), tetapi juga untuk penduduk kota (ahlul madar)—terutama penduduk Hijaz seperti Makkah, Madinah, dan Tha'if.

Mengapa penduduk kota pun masih terikat dengan strata kesukuan? Bukankah mereka sudah menetap dan hidup dalam masyarakat kota?

Jawabannya: Meskipun mereka sudah menetap dan hidup dalam rumah-rumah batu (madar), mereka tidak bisa melepaskan diri dari sistem sosial warisan kehidupan badui. Mengapa? Karena kondisi alam saat itu memaksa mereka untuk tetap bergantung pada ikatan darah dan perlindungan suku. Belum ada pemerintahan modern yang menjamin keamanan. Yang melindungi seseorang dari kezaliman hanyalah 'ashabiyah (fanatisme kesukuan) yang didasari oleh nasab dan ikatan darah.

Maka, mereka tetap mempertahankan sistem yang sama: pembagian menjadi sya'bu, qabilah, 'imarah, bathn, fakhdz, fashilah, dan seterusnya. Perbedaan antara badui dan penduduk kota hanya terletak pada tempat tinggalnya, bukan pada sistem kekerabatan dan perlindungannya.


Apakah Istilah "Qabilah" Ada dalam Prasasti Arab Selatan?

Penulis melakukan penelitian menarik: Ia mencari istilah-istilah ini dalam prasasti Arab Selatan kuno (tulisan musnad).

Hasilnya:

  • Ia TIDAK menemukan lafal "al-qabilah" dalam prasasti musnad. Kata ini mungkin khas untuk penduduk Hijaz dan Nejd.
  • Namun ia menemukan lafal "sya'b" dalam bahasa Arab Selatan, yang berarti qabilah (suku) dalam pengertian kita.
  • Untuk tingkatan yang lebih rendah dari suku, ia juga tidak menemukan nama-nama khusus seperti yang disebut para ahli nasab Islam. Sebagai gantinya, orang-orang Arab Selatan membagi suku menjadi "rub'u" (ربعن = seperempat suku) dan "tsuluts" (ثلثن = sepertiga suku). Mungkin ada pembagian lain yang belum ditemukan.

Penulis optimis: "Semoga hari-hari mendatang akan memberi kita istilah-istilah nasab yang digunakan orang Arab Selatan jauh sebelum Islam, serta istilah-istilah untuk cabang-cabang suku pada zaman itu."


Keanehan: Suku Menisbahkan Diri kepada Tuhan, Bukan kepada Leluhur!

Sekarang, perhatikan fenomena yang sangat menarik dan mungkin membingungkan bagi kita yang terbiasa dengan konsep "nasab = bapak-kakek-ayah":

Ahli nasab Islam menisbahkan semua suku—baik badui maupun penduduk kota—kepada bapak-bapak yang benar-benar hidup dan mati (seperti 'Adnan, Qahthan, Mudhar, Rabi'ah, dan seterusnya). Mereka menganggap suku-suku itu benar-benar keturunan dari tokoh-tokoh tersebut.

Tapi, bagaimana dengan bangsa M'in (Minyun), penduduk Arab Selatan kuno? Mereka menggunakan kalimat: "Auladuhu Wadd" (أولده ود) artinya "anak-anak Wadd" —sedangkan Wadd adalah nama tuhan (dewa) terbesar bagi bangsa M'in.

Demikian pula, bangsa Saba' menyebut diri mereka "Aulad al-Maqah" (ولد المقه) artinya "anak-anak al-Maqah" —al-Maqah adalah tuhan utama Saba'.

Dan bangsa Qataban menyebut diri mereka "Aulad 'Am" (ولد عم) artinya "anak-anak 'Am" —'Am adalah tuhan mereka.

Artinya, masing-masing suku besar di Arab Selatan menisbahkan diri kepada tuhan mereka sendiri, bukan kepada bapak atau kakek manusia yang hidup dan mati. Mereka berlindung dan bangga dengan tuhan suku mereka, yang mereka anggap sebagai pelindung, pemberi rezeki, dan pembela mereka—sama seperti yang dilakukan bangsa Ibrani (Bani Israil) dan bangsa-bangsa lain.

Lalu, apa artinya ini?

Artinya, yang disebut "nasab" menurut versi para sejarawan dan ahli nasab Islam—yaitu bapak manusia yang benar-benar hidup, punya anak dan cucu—tidak ditemukan dalam prasasti Arab Selatan kuno (musnad) yang sampai kepada kita sekarang.

Penulis menyatakan dengan jujur: "Ini (nasab dengan bapak manusia) belum sampai berita dan kabarnya kepada kami dalam tulisan-tulisan musnad, atau dalam semua tulisan Jahiliyah yang sampai kepada kami hingga sekarang."

Maka, para ahli nasab Islam mungkin mengambil model nasab dari tradisi lisan Arab Utara (Hijaz, Nejd) dan kemudian menerapkannya secara umum, sementara tradisi kuno Arab Selatan lebih bersifat teologis (berkaitan dengan tuhan) daripada genealogis (berkaitan dengan leluhur manusia).


Penutup: Antara Pohon Nasab dan Realitas Sejarah

Dari pembahasan panjang ini, kita belajar bahwa:

  1. Sistem strata suku (sya'bu, qabilah, 'imarah, dll.) memang ada dalam masyarakat Arab, tetapi bentuknya tidak sekaku dan seformal yang dibayangkan para ahli nasab. Perbedaan pendapat mereka menjadi bukti bahwa sistem ini lebih merupakan ijtihad ulama Islam daripada warisan murni dari zaman Jahiliyah yang telah disepakati secara bulat.
  2. Al-Qur'an mengakui keberadaan syu'ub dan qaba'il sebagai sarana saling mengenal, tetapi mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah nasab, melainkan ketakwaan.
  3. Tradisi nasab versi "bapak manusia" (seperti 'Adnan dan Qahthan) tidak ditemukan dalam prasasti Arab Selatan kuno. Sebaliknya, suku-suku di sana menisbahkan diri kepada tuhan-tuhan mereka. Ini menunjukkan bahwa praktik "menjadikan tokoh manusia sebagai leluhur suku" mungkin berkembang belakangan—terutama di Arab Utara—lalu digeneralisasi oleh para ahli nasab ke seluruh bangsa Arab.
  4. Penelitian masih terus berlanjut. Penulis berharap agar di masa depan ditemukan lebih banyak prasasti yang bisa menjelaskan istilah-istilah nasab pada masyarakat Arab Selatan kuno. Semua yang kita ketahui sekarang masih bersifat sementara.

Akhirnya, apapun strata dan nasab seseorang, Al-Qur'an telah mengingatkan kita dengan firman-Nya yang agung (sebagaimana telah disebutkan di atas). Yang membedakan hanyalah ketakwaan.


Sumber Kisah

Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasab Arab: Antara Harga Diri, Politik, dan Catatan Sejarah

Qahthani dan 'Adnani: Konflik Identitas yang Lahir di Masa Islam

Gerakan Murtad dan Penumpasannya