Rasulullah ﷺ: Ayah yang Penyayang, Manusia yang Agung, Pendidik yang Bijaksana

Nabi sebagai Ayah: Kasih Sayang yang Tak Terbatas

Rasulullah bukan hanya suami teladan, tetapi juga seorang ayah yang sangat penyayang, lembut, dan penuh kasih. Beliau menunjukkan cinta yang mendalam kepada putri-putrinya, cucu-cucunya, dan bahkan kepada putranya yang masih kecil, Ibrahim. Setiap hari, beliau pergi ke luar Madinah hanya untuk menjenguk Ibrahim, menggendongnya, menciumnya, dan membelainya.

Kepada Hasan dan Husain, putra-putri tercintanya Fathimah, beliau juga menunjukkan kasih yang tulus. Beliau sering mencium mereka dan bersabda:

هُمَا رَيْحَانَتَايَ مِنَ الدُّنْيَا

“Keduanya adalah dua bunga wangiku dari dunia.”

Suatu ketika, Al-Aqra’ bin Habis melihat Rasulullah sedang mencium Hasan. Ia berkata dengan heran: “Sungguh, aku memiliki sepuluh orang anak, tetapi tidak pernah sekalipun aku mencium seorang pun di antara mereka.”

Rasulullah bersabda dengan tegas namun penuh makna:

إِنَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Sesungguhnya siapa yang tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi.”

Dalam riwayat lain, seorang badui melihat Rasulullah dan para sahabat mencium anak-anak mereka. Badui itu berkata: “Demi Allah, kami tidak pernah mencium anak-anak kami.” Maka Rasulullah yang penuh kasih bersabda:

أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنَّ اللَّهَ نَزَعَ الرَّحْمَةَ مِنْ قَلْبِكَ؟!”

“Apakah aku dapat berbuat sesuatu jika Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu?!”


Bermain dan Bercanda bersama Cucu

Rasulullah tidak pernah merasa tinggi diri untuk bermain dengan anak-anak kecil. Beliau bahkan membawa Umamah —putri dari putrinya Zainab—saat salat. Ketika sujud, beliau meletakkannya, dan ketika berdiri, beliau menggendongnya lagi.

Dalam sebuah khutbah di atas mimbar, tiba-tiba Hasan dan Husain datang berjalan terhuyung-huyung dengan mengenakan dua kemeja merah. Rasulullah segera turun dari mimbar, menggendong mereka, dan meletakkan mereka di hadapannya.

Abdullah bin Zubair meriwayatkan:

“Aku melihat Hasan bin Ali datang saat Rasulullah sedang sujud. Hasan langsung menaiki punggung beliau. Beliau tidak segera bangun sampai Hasan sendiri yang turun. Aku juga melihat beliau dalam keadaan rukuk, lalu beliau merenggangkan kedua kakinya sehingga Hasan bisa keluar dari sana.”

Ketika para sahabat berusaha melerai dan mencegah kedua cucu itu bermain di atas punggung Rasulullah saat sujud, beliau berisyarat kepada mereka:

دَعُوهُمَا

“Biarkan mereka berdua.”


Kemuliaan untuk Fathimah

Rasulullah sangat memuliakan putrinya, Fathimah az-Zahra. Setiap kali Fathimah datang, beliau berdiri untuk menyambutnya, menciumnya, dan menyambutnya dengan ucapan:

مَرْحَبًا بِابْنَتِي

“Selamat datang, putriku.”

Beliau mempersilakannya duduk di samping kanannya, bahkan terkadang membentangkan kainnya untuk Fathimah duduk di atasnya —sebuah penghormatan yang luar biasa.

Beliau pun bersabda:

فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي، فَمَنْ أَغْضَبَهَا فَقَدْ أَغْضَبَنِي

“Fathimah adalah bagian dari diriku. Barang siapa yang membuatnya marah, maka sungguh ia telah membuatku marah.” (HR. Bukhari)


Nabi sebagai Manusia: Menghormati Semua Manusia

Kemanusiaan Rasulullah begitu agung dan melampaui batas-batas kesukuan, agama, bahkan permusuhan sekalipun.

Bukhari meriwayatkan bahwa suatu ketika beliau berdiri ketika melihat sebuah jenazah lewat. Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, itu jenazah seorang Yahudi!”

Beliau menjawab dengan pertanyaan yang mengguncang hati:

أَلَيْسَتْ نَفْسًا مَنْفُوسَةً؟!”

“Bukankah ia juga seorang manusia yang bernyawa?!”

Dalam sebuah peperangan, beliau melihat seorang wanita terbunuh. Beliau marah dan bersabda: “Wanita ini tidak pantas ikut berperang!” Lalu beliau melarang pembunuhan wanita dan anak-anak.

Setiap kali mengirim pasukan, beliau selalu berpesan:

لَا تَغُلُّوا، وَلَا تَغْدِرُوا، وَلَا تُمَثِّلُوا، وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا

“Janganlah kalian khianat (dalam rampasan perang), jangan mengingkari janji, jangan memutilasi, dan jangan membunuh anak kecil.” (HR. Muslim)

Beliau juga pernah menjenguk seorang pelayan Yahudi yang sedang sakit dan mengajaknya masuk Islam. Ketika sang pelayan masuk Islam, beliau bersabda:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.” (HR. Bukhari)


Nabi sebagai Pendidik dan Pengajar: Sang Guru yang Mudah dan Bijak

Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُتَعَنْتًا، وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang mempersulit, tetapi mengutusku sebagai pengajar yang mempermudah.”

Dan dalam hadits lain:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ وَمَحَاسِنَ الْأَفْعَالِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak dan keindahan perbuatan.” (HR. Malik dan Ahmad)

Beliau mengubah bangsa Arab yang jahiliah —penyembah berhala, suka menumpahkan darah, merampas harta dan kehormatan, membanggakan nasab, memakan riba, meminum khamr, dan melakukan perbuatan keji —menjadi umat yang bertauhid, bertakwa, berilmu, penyayang, dan bersaudara. Mereka menjadi sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia.

Siapa yang menyangka bahwa pusat-pusat kemusyrikan di Jazirah Arab akan berubah menjadi mercusuar tauhid? Siapa yang menyangka bahwa orang Arab yang paling sombong dengan nasabnya akan menjadi umat paling menjunjung tinggi kesetaraan? Hingga Bilal bin Rabah —seorang budak hitam dari Habasyah—menjadi muazin pertama dalam Islam! Hingga Umar bin al-Khaththab, pemimpin Quraisy, berkata tentang Abu Bakar dan Bilal: “Dia (Bilal) adalah pemimpin kami, dan dia (Abu Bakar) telah memerdekakan pemimpin kami.”


Metode Pendidikan Rasulullah

Rasulullah mendidik umatnya dengan tiga cara: perkataan, perbuatan, atau keduanya sekaligus.

Beliau bersabda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihatku salat.” (HR. Bukhari)

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah dariku tata cara ibadah haji kalian.” (HR. Muslim)

Untuk memperjelas makna persaudaraan, beliau menggenggamkan jari-jari tangannya dan bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.”

Pendidikan ini tidak hanya untuk laki-laki. Para wanita datang meminta waktu khusus untuk belajar, dan beliau mengabulkannya. Anak-anak, remaja, dan pemuda pun mendapat perhatian penuh. Beliau mengajarkan secara bertahap dan tidak setiap hari agar mereka tidak bosan.


Metode Bertanya untuk Mengasah Kecerdasan

Salah satu metode unik Rasulullah dalam mengajar adalah dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan menantang yang membutuhkan pengetahuan, kecerdasan, dan ketajaman pikiran. Contohnya, beliau bertanya:

إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا، وَلَا يَنْقَطِعُ نَفْعُهَا، وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ، حَدِّثُونِي مَا هِيَ؟

“Sesungguhnya di antara pepohonan ada pohon yang daunnya tidak pernah gugur, dan manfaatnya tidak pernah putus. Ia adalah perumpamaan seorang Muslim. Coba sebutkan, pohon apakah itu?”

Ibnu Umar berkata: “Orang-orang menerka pohon-pohon di padang pasir. Tetapi dalam hatiku, aku yakin itu adalah pohon kurma. Namun aku malu untuk menjawab karena menghormati para sahabat senior.” Setelah itu, ia memberi tahu ayahnya, dan ayahnya berkata: “Seandainya engkau menjawab, itu lebih aku sukai daripada memiliki unta merah (harta yang sangat berharga).”


Menghormati Ilmu dan Ulama

Rasulullah mengangkat derajat ilmu dan ulama. Beliau bersabda sebagaimana firman Allah:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا (QS. Thaha: 114)

Dan beliau bersabda:

الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil ilmu itu, ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Kepada Ali bin Abi Thalib, beliau bersabda:

فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

“Demi Allah, sungguh jika Allah memberi petunjuk kepada seorang laki-laki melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu daripada (memiliki) unta merah (harta paling berharga).” (HR. Bukhari-Muslim)

Cukuplah penghormatan ini bagi para ulama, pendidik, dan guru: mereka mendapat pengakuan dari Imam para nabi dan junjungan para pendidik, Rasulullah Muhammad .


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Detik-Detik Duka: Wafatnya Rasulullah dan Lahirnya Kepemimpinan Abu Bakar

Detik-Detik Terakhir Sang Kekasih: Dari Ranjang Sakit Menuju Ar-Rafiq Al-A'la

Detik-Detik Terakhir: Memandikan, Mengafani, dan Memakamkan Sang Kekasih Allah