Detik-Detik Duka: Wafatnya Rasulullah dan Lahirnya Kepemimpinan Abu Bakar
Huru-hara di Madinah: Berita yang Mencengangkan
Berita wafatnya Rasulullah ﷺ menyebar cepat ke seluruh penjuru Madinah.
Seketika itu juga, tangisan dan ratapan bergema bagaikan suara talbiyah para
jamaah haji yang menggema. Kabar ini begitu mengguncang hati Umar bin
al-Khaththab. Ia berdiri dengan penuh amarah, mengancam dan memperingatkan
siapa pun yang berani mengatakan bahwa Nabi telah wafat.
Umar berseru dengan lantang: “Demi Allah, beliau
tidak mati! Beliau pergi menghadap Tuhannya sebagaimana Musa bin Imran pergi
meninggalkan kaumnya selama empat puluh malam, kemudian kembali kepada mereka.
Demi Allah, Rasulullah pasti akan kembali sebagaimana Musa kembali. Sungguh akan
kupotong tangan dan kaki orang-orang yang mengatakan bahwa beliau telah mati!”
Suasana mencekam. Orang-orang kebingungan. Ada yang terpaku,
ada yang menangis histeris. Hingga kemudian muncullah sosok penenang dari
kejauhan.
Abu Bakar: Ketegangan Berubah Menjadi Kesadaran
Abu Bakar ash-Shiddiq yang saat itu berada di
daerah As-Sanh (pinggiran Madinah) segera menaiki kudanya dan
bergegas menuju kota. Begitu tiba, ia langsung masuk menemui Rasulullah ﷺ
yang terbaring di kamar Aisyah, tertutup kain dari Yaman (barud hirah). Abu
Bakar membuka kain penutup wajah beliau, lalu menunduk dan menciumnya seraya
berkata:
“مَا
أَطْيَبَكَ حَيًّا وَمَيِّتًا”
Artinya: “Betapa harum dirimu, baik ketika hidup maupun
setelah wafat.”
Kemudian Abu Bakar keluar. Umar masih terus berbicara dengan
lantang. Abu Bakar berkata kepadanya: “Duduklah, wahai Umar.” Namun Umar tetap
melanjutkan pidatonya dalam amarahnya. Abu Bakar kemudian berdiri di hadapan
manusia dan berkhutbah. Setelah memuji Allah, beliau berkata:
“أَمَّا
بَعْدُ: فَإِنَّ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ،
وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ”
Artinya: “Amma ba'du: Barang siapa yang menyembah
Muhammad, maka sungguh Muhammad telah mati. Dan barang siapa yang menyembah
Allah, maka sungguh Allah Maha Hidup, tidak mati.”
Kemudian Abu Bakar membacakan firman Allah:
وَمَا
مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ
أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ
عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۚ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
Artinya: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul.
Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat
atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke
belakang, maka dia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Dan Allah akan
memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali 'Imran:
144)
Umar berkata: “Demi Allah, begitu aku
mendengar Abu Bakar membacakan ayat itu, aku jatuh tersungkur. Kedua kakiku tak
mampu menopangku. Aku pun sadar bahwa Rasulullah ﷺ benar-benar telah
wafat.”
Dan dengan ayat itu, manusia pun tersadar dari keterkejutan
mereka.
Saqifah Bani Sa'idah: Ketika Umat Bersepakat
Di tengah suasana duka yang masih menyelimuti, hampir
terjadi kekacauan dalam urusan kepemimpinan umat. Kaum Anshar berkumpul
di Saqifah (balai pertemuan) Bani Sa'idah. Sementara itu, Ali
bin Abi Thalib, Az-Zubair bin al-Awwam, dan Thalhah bin
Ubaidillah berkumpul di rumah Fathimah. Kaum Muhajirin
berkumpul mendekati Abu Bakar, dan Usaid bin Hudhair bersama
Bani Abdul Asyhal bergabung dengan mereka.
Umar berkata kepada Abu Bakar: “Mari kita pergi menemui
saudara-saudara kita dari kalangan Anshar.” Mereka berdua pun pergi ke Saqifah.
Di sana, mereka mendapati orang-orang berkumpul. Di
tengah-tengah mereka terbaring seorang laki-laki yang terselimuti kain. Ia
adalah Sa'd bin 'Ubadah yang sedang sakit. Seorang pemimpin
Anshar berdiri dan berpidato memuji Allah, lalu berkata:
“Amma ba'du: Kami adalah Ansharullah (penolong Allah) dan
pasukan Islam. Sedangkan kalian, wahai kaum Muhajirin, adalah keluarga Nabi
kami. Sekelompok dari kalian datang ingin mencabut kami dari akar kami dan
merebut kekuasaan dari kami.”
Ketika ia selesai, Umar hendak berbicara. Ia telah
menyiapkan kata-kata yang menurutnya bagus. Namun Abu Bakar menahannya karena
khawatir ketegasan Umar tidak tepat dalam situasi itu. Abu Bakar lalu berdiri
dan berpidato. Umar berkata: “Demi Allah, beliau tidak meninggalkan
satu kata pun yang aku kagumi dari persiapanku, kecuali beliau mengucapkannya
secara spontan, bahkan lebih baik.”
Abu Bakar berkata:
“يَا
أَيُّهَا النَّاسُ، نَحْنُ الْمُهَاجِرُونَ أَوَّلُ النَّاسِ إِسْلَامًا،
وَأَكْرَمُهُمْ أَحْسَابًا، وَأَوْسَطُهُمْ دَارًا، وَأَحْسَنُهُمْ وُجُوهًا،
وَأَكْثَرُهُمْ وِلَادَةً فِي الْعَرَبِ، وَأَمَسُّهُمْ رَحِمًا بِرَسُولِ
اللَّهِ، أَسْلَمْنَا قَبْلَكُمْ، وَقُدِّمْنَا فِي الْقُرْآنِ عَلَيْكُمْ،
فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ
الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ... فَنَحْنُ الْمُهَاجِرُونَ وَأَنْتُمُ
الْأَنْصَارُ، إِخْوَانُنَا فِي الدِّينِ، وَشُرَكَاؤُنَا فِي الْفَيْءِ، وَأَنْصَارُنَا
عَلَى الْعَدُوِّ. فَمَا ذَكَرْتُمْ فِيكُمْ مِنْ خَيْرٍ فَأَنْتُمْ لَهُ أَهْلٌ،
وَلَنْ تَعْرِفَ الْعَرَبُ هَذَا الْأَمْرَ إِلَّا لِهَذَا الْحَيِّ مِنْ
قُرَيْشٍ، فَمِنَّا الْأُمَرَاءُ وَمِنْكُمُ الْوُزَرَاءُ”
Artinya: “Wahai manusia! Kami kaum Muhajirin adalah orang
pertama yang masuk Islam, paling mulia nasabnya, paling tengah kedudukannya (di
Mekah), paling baik wajahnya, paling banyak keturunannya di kalangan Arab, dan
paling dekat hubungan kerabatnya dengan Rasulullah. Kami masuk Islam sebelum
kalian, dan kami didahulukan dalam Al-Qur'an atas kalian. Allah berfirman:
‘Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan
Anshar...’ Maka kami adalah Muhajirin dan kalian adalah Anshar. Kalian saudara
kami dalam agama, mitra kami dalam harta rampasan, dan penolong kami melawan
musuh. Adapun kebaikan yang kalian sebutkan tentang diri kalian, kalian memang
pantas mendapatkannya. Akan tetapi, bangsa Arab tidak akan menyerahkan
kepemimpinan ini kecuali kepada suku Quraisy ini. Maka pemimpin dari kami, dan
para menteri dari kalian.”
Seorang laki-laki dari Anshar berdiri dan berkata: “Aku
adalah jadzelnya yang kokoh (tempat bernaung) dan ‘udzaiquha yang dimuliakan
(pohon kurma yang disandarkan). Dari kami seorang pemimpin dan dari kalian
seorang pemimpin, wahai Quraisy!” Maka terjadilah perdebatan dan suara
pun meninggi.
Baiat Abu Bakar: Persatuan di Tengah Badai
Di tengah situasi yang memanas, Umar yang
dikenal dengan suaranya yang lantang berdiri dan berkata: “Ulurkan tanganmu,
wahai Abu Bakar!” Maka Abu Bakar mengulurkan tangannya, dan Umar membaiatnya.
Kemudian Umar berseru:
“يَا
مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، أَلَسْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَمَرَ أَبَا بَكْرٍ أَنْ يَؤُمَّ النَّاسَ؟
فَأَيُّكُمْ تَطِيبُ نَفْسُهُ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَبَا بَكْرٍ؟”
Artinya: “Wahai sekalian Anshar, bukankah kalian
mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ telah memerintahkan Abu Bakar untuk mengimami manusia? Maka
siapa di antara kalian yang rela hatinya untuk maju mendahului Abu Bakar?”
Kemudian kaum Muhajirin maju membaiat, disusul oleh kaum
Anshar. Dengan demikian, Allah menyelamatkan kaum Muslimin dari perpecahan dan
mempersatukan mereka di atas pemimpin terbaik mereka, Abu Bakar.
Baiat Umum di Masjid Nabawi
Keesokan harinya, Abu Bakar bersama Umar dan para sahabat
pergi ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan baiat umum. Abu Bakar naik ke mimbar.
Umar berdiri di hadapannya dan berkhutbah setelah memuji Allah:
“أَيُّهَا
النَّاسُ، إِنِّي كُنْتُ قُلْتُ لَكُمْ بِالْأَمْسِ مَقَالَةً مَا كَانَتْ وَلَا
وَجَدْتُهَا فِي كِتَابِ اللَّهِ، وَلَا كَانَتْ عَهْدًا عَهِدَهَا إِلَيَّ
رَسُولُ اللَّهِ، وَلَكِنِّي كُنْتُ أَرْجُو أَنْ يَعِيشَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى يُدَبِّرَنَا... فَإِنْ يَكُ مُحَمَّدٌ قَدْ
مَاتَ، فَإِنَّ اللَّهَ جَعَلَ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ نُورًا تَهْتَدُونَ بِهِ،
فَاعْتَصِمُوا بِهِ تَهْتَدُوا، وَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ صَاحِبُ رَسُولِ اللَّهِ،
ثَانِي اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ، فَإِنَّهُ أَوْلَى الْمُسْلِمِينَ
بِأُمُورِكُمْ، فَقُومُوا إِلَيْهِ فَبَايِعُوهُ”
Artinya: “Wahai manusia! Aku telah mengatakan kepadamu
kemarin suatu perkataan yang tidak aku temukan dalam kitab Allah, dan bukan
merupakan wasiat Rasulullah kepadaku. Aku hanya berharap Rasulullah ﷺ
masih hidup hingga memimpin kita... Jika Muhammad telah mati, maka sungguh
Allah telah menjadikan di tengah-tengah kalian cahaya yang kalian dapatkan
petunjuk dengannya. Maka berpegang teguhlah kalian kepadanya, niscaya kalian
mendapat petunjuk. Sesungguhnya Abu Bakar adalah sahabat Rasulullah, orang
kedua dari dua orang ketika mereka berada di gua. Dia adalah orang yang paling
berhak di antara kaum Muslimin untuk mengurus urusan kalian. Maka bangkitlah
kepadanya dan baiatlah dia.”
Maka semua orang pun berdiri dan membaiat Abu Bakar dengan
baiat umum.
Ali dan Az-Zubair: Akhirnya Membaiat
Abu Bakar memandang wajah-wajah orang yang hadir. Ia tidak
melihat Az-Zubair bin al-Awwam. Ia memanggilnya. Ketika Az-Zubair
datang, Abu Bakar berkata: “Putra dari bibi Rasulullah dan hawari (penolong
setia) beliau, apakah engkau hendak memecah belah umat Islam?” Az-Zubair
menjawab: “Tidak ada celaan lagi, wahai khalifah Rasulullah.” Lalu ia berdiri
dan membaiat.
Kemudian Abu Bakar tidak melihat Ali bin Abi Thalib.
Ia memanggilnya. Ali datang, dan Abu Bakar berkata: “Putra paman Rasulullah dan
menantunya (suami putri beliau), apakah engkau hendak memecah belah umat
Islam?” Ali menjawab: “Tidak ada celaan lagi, wahai khalifah Rasulullah.” Lalu
ia berdiri dan membaiat.
Inilah kebenaran tentang baiat Ali kepada Abu Bakar. Baiat
terjadi pada hari kedua. Adapun yang mengatakan bahwa baiatnya terjadi setelah
enam bulan, maka itu adalah pembaruan baiat dan penguatan ikatan. Inilah yang
pantas kita yakini tentang Abu al-Hasan dan al-Husain, pemuda Islam, Ali bin
Abi Thalib.
Khutbah Abu Bakar: Prinsip Kepemimpinan yang Agung
Setelah menjadi khalifah, Abu Bakar berkhutbah dengan
khutbah yang menjadi salah satu tanda kebijaksanaan dan ketegasan. Ia merangkum
pokok-pokok pemerintahan dalam Islam. Beliau bersabda setelah memuji Allah:
“أَيُّهَا
النَّاسُ: فَإِنِّي قَدْ وُلِّيتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِخَيْرِكُمْ، فَإِنْ
أَحْسَنْتُ فَأَعِينُونِي، وَإِنْ أَسَأْتُ فَقَوِّمُونِي؛ الصِّدْقُ أَمَانَةٌ،
وَالْكَذِبُ خِيَانَةٌ، وَالضَّعِيفُ فِيكُمْ قَوِيٌّ عِنْدِي حَتَّى أُرِيحَ
عَلَيْهِ حَقَّهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، وَالْقَوِيُّ فِيكُمْ ضَعِيفٌ عِنْدِي
حَتَّى آخُذَ الْحَقَّ مِنْهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ. لَا يَدَعُ قَوْمٌ الْجِهَادَ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا ضَرَبَهُمُ اللَّهُ بِالذُّلِّ. وَلَا تَشِيعُ
الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ إِلَّا عَمَّهُمُ الْبَلَاءُ. أَطِيعُونِي مَا أَطَعْتُ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ، فَإِنْ عَصَيْتُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَلَا طَاعَةَ لِي
عَلَيْكُمْ، قُومُوا إِلَى صَلَاتِكُمْ يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ”
Artinya: “Wahai manusia! Aku telah diangkat menjadi
pemimpin kalian, padahal aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku
berbuat baik, maka bantulah aku. Jika aku berbuat salah, maka luruskanlah aku.
Kejujuran adalah amanah, dan dusta adalah khianat. Orang yang lemah di antara
kalian adalah kuat di sisiku hingga aku berikan haknya dengan tenang, insya
Allah. Orang yang kuat di antara kalian adalah lemah di sisiku hingga aku ambil
hak darinya, insya Allah. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan
Allah, melainkan Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Dan tidaklah
perbuatan keji menyebar di suatu kaum, melainkan bala akan menimpa mereka
secara menyeluruh. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajiban taat
kepadaku. Tegakkanlah salat kalian, semoga Allah merahmati kalian.”
Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah
Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar
Posting Komentar