Detik-Detik Duka: Wafatnya Rasulullah dan Lahirnya Kepemimpinan Abu Bakar

suasana di dalam sebuah balai pertemuan sederhana (saqifah) dengan atap dari pelepah kurma dan dinding batu. Di tengah, seorang laki-laki (Abu Bakar) duduk bersila di atas tikar. Di hadapannya, seorang laki-laki lain (Umar) berdiri dengan sikap hormat, mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dan membaiat. Di sekeliling mereka, puluhan laki-laki duduk melingkar dengan ekspresi tenang dan penuh dukungan. Tidak ada kemarahan, tidak ada senjata. Latar belakang terlihat beberapa tiang kayu dan langit-langit dari anyaman. Cahaya matahari sore yang hangat masuk dari bukaan di dinding.

Huru-hara di Madinah: Berita yang Mencengangkan

Berita wafatnya Rasulullah menyebar cepat ke seluruh penjuru Madinah. Seketika itu juga, tangisan dan ratapan bergema bagaikan suara talbiyah para jamaah haji yang menggema. Kabar ini begitu mengguncang hati Umar bin al-Khaththab. Ia berdiri dengan penuh amarah, mengancam dan memperingatkan siapa pun yang berani mengatakan bahwa Nabi telah wafat.

Umar berseru dengan lantang: “Demi Allah, beliau tidak mati! Beliau pergi menghadap Tuhannya sebagaimana Musa bin Imran pergi meninggalkan kaumnya selama empat puluh malam, kemudian kembali kepada mereka. Demi Allah, Rasulullah pasti akan kembali sebagaimana Musa kembali. Sungguh akan kupotong tangan dan kaki orang-orang yang mengatakan bahwa beliau telah mati!”

Suasana mencekam. Orang-orang kebingungan. Ada yang terpaku, ada yang menangis histeris. Hingga kemudian muncullah sosok penenang dari kejauhan.


Abu Bakar: Ketegangan Berubah Menjadi Kesadaran

Abu Bakar ash-Shiddiq yang saat itu berada di daerah As-Sanh (pinggiran Madinah) segera menaiki kudanya dan bergegas menuju kota. Begitu tiba, ia langsung masuk menemui Rasulullah yang terbaring di kamar Aisyah, tertutup kain dari Yaman (barud hirah). Abu Bakar membuka kain penutup wajah beliau, lalu menunduk dan menciumnya seraya berkata:

مَا أَطْيَبَكَ حَيًّا وَمَيِّتًا

Artinya: “Betapa harum dirimu, baik ketika hidup maupun setelah wafat.”

Kemudian Abu Bakar keluar. Umar masih terus berbicara dengan lantang. Abu Bakar berkata kepadanya: “Duduklah, wahai Umar.” Namun Umar tetap melanjutkan pidatonya dalam amarahnya. Abu Bakar kemudian berdiri di hadapan manusia dan berkhutbah. Setelah memuji Allah, beliau berkata:

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا فَإِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ

Artinya: “Amma ba'du: Barang siapa yang menyembah Muhammad, maka sungguh Muhammad telah mati. Dan barang siapa yang menyembah Allah, maka sungguh Allah Maha Hidup, tidak mati.”

Kemudian Abu Bakar membacakan firman Allah:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۚ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Artinya: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali 'Imran: 144)

Umar berkata: “Demi Allah, begitu aku mendengar Abu Bakar membacakan ayat itu, aku jatuh tersungkur. Kedua kakiku tak mampu menopangku. Aku pun sadar bahwa Rasulullah benar-benar telah wafat.”

Dan dengan ayat itu, manusia pun tersadar dari keterkejutan mereka.


Saqifah Bani Sa'idah: Ketika Umat Bersepakat

Di tengah suasana duka yang masih menyelimuti, hampir terjadi kekacauan dalam urusan kepemimpinan umat. Kaum Anshar berkumpul di Saqifah (balai pertemuan) Bani Sa'idah. Sementara itu, Ali bin Abi ThalibAz-Zubair bin al-Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah berkumpul di rumah Fathimah. Kaum Muhajirin berkumpul mendekati Abu Bakar, dan Usaid bin Hudhair bersama Bani Abdul Asyhal bergabung dengan mereka.

Umar berkata kepada Abu Bakar: “Mari kita pergi menemui saudara-saudara kita dari kalangan Anshar.” Mereka berdua pun pergi ke Saqifah.

Di sana, mereka mendapati orang-orang berkumpul. Di tengah-tengah mereka terbaring seorang laki-laki yang terselimuti kain. Ia adalah Sa'd bin 'Ubadah yang sedang sakit. Seorang pemimpin Anshar berdiri dan berpidato memuji Allah, lalu berkata:

“Amma ba'du: Kami adalah Ansharullah (penolong Allah) dan pasukan Islam. Sedangkan kalian, wahai kaum Muhajirin, adalah keluarga Nabi kami. Sekelompok dari kalian datang ingin mencabut kami dari akar kami dan merebut kekuasaan dari kami.”

Ketika ia selesai, Umar hendak berbicara. Ia telah menyiapkan kata-kata yang menurutnya bagus. Namun Abu Bakar menahannya karena khawatir ketegasan Umar tidak tepat dalam situasi itu. Abu Bakar lalu berdiri dan berpidato. Umar berkata: “Demi Allah, beliau tidak meninggalkan satu kata pun yang aku kagumi dari persiapanku, kecuali beliau mengucapkannya secara spontan, bahkan lebih baik.”

Abu Bakar berkata:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، نَحْنُ الْمُهَاجِرُونَ أَوَّلُ النَّاسِ إِسْلَامًا، وَأَكْرَمُهُمْ أَحْسَابًا، وَأَوْسَطُهُمْ دَارًا، وَأَحْسَنُهُمْ وُجُوهًا، وَأَكْثَرُهُمْ وِلَادَةً فِي الْعَرَبِ، وَأَمَسُّهُمْ رَحِمًا بِرَسُولِ اللَّهِ، أَسْلَمْنَا قَبْلَكُمْ، وَقُدِّمْنَا فِي الْقُرْآنِ عَلَيْكُمْ، فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ... فَنَحْنُ الْمُهَاجِرُونَ وَأَنْتُمُ الْأَنْصَارُ، إِخْوَانُنَا فِي الدِّينِ، وَشُرَكَاؤُنَا فِي الْفَيْءِ، وَأَنْصَارُنَا عَلَى الْعَدُوِّ. فَمَا ذَكَرْتُمْ فِيكُمْ مِنْ خَيْرٍ فَأَنْتُمْ لَهُ أَهْلٌ، وَلَنْ تَعْرِفَ الْعَرَبُ هَذَا الْأَمْرَ إِلَّا لِهَذَا الْحَيِّ مِنْ قُرَيْشٍ، فَمِنَّا الْأُمَرَاءُ وَمِنْكُمُ الْوُزَرَاءُ

Artinya: “Wahai manusia! Kami kaum Muhajirin adalah orang pertama yang masuk Islam, paling mulia nasabnya, paling tengah kedudukannya (di Mekah), paling baik wajahnya, paling banyak keturunannya di kalangan Arab, dan paling dekat hubungan kerabatnya dengan Rasulullah. Kami masuk Islam sebelum kalian, dan kami didahulukan dalam Al-Qur'an atas kalian. Allah berfirman: ‘Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar...’ Maka kami adalah Muhajirin dan kalian adalah Anshar. Kalian saudara kami dalam agama, mitra kami dalam harta rampasan, dan penolong kami melawan musuh. Adapun kebaikan yang kalian sebutkan tentang diri kalian, kalian memang pantas mendapatkannya. Akan tetapi, bangsa Arab tidak akan menyerahkan kepemimpinan ini kecuali kepada suku Quraisy ini. Maka pemimpin dari kami, dan para menteri dari kalian.”

Seorang laki-laki dari Anshar berdiri dan berkata: “Aku adalah jadzelnya yang kokoh (tempat bernaung) dan ‘udzaiquha yang dimuliakan (pohon kurma yang disandarkan). Dari kami seorang pemimpin dan dari kalian seorang pemimpin, wahai Quraisy!” Maka terjadilah perdebatan dan suara pun meninggi.


Baiat Abu Bakar: Persatuan di Tengah Badai

Di tengah situasi yang memanas, Umar yang dikenal dengan suaranya yang lantang berdiri dan berkata: “Ulurkan tanganmu, wahai Abu Bakar!” Maka Abu Bakar mengulurkan tangannya, dan Umar membaiatnya. Kemudian Umar berseru:

يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، أَلَسْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَمَرَ أَبَا بَكْرٍ أَنْ يَؤُمَّ النَّاسَ؟ فَأَيُّكُمْ تَطِيبُ نَفْسُهُ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَبَا بَكْرٍ؟

Artinya: “Wahai sekalian Anshar, bukankah kalian mengetahui bahwa Rasulullah telah memerintahkan Abu Bakar untuk mengimami manusia? Maka siapa di antara kalian yang rela hatinya untuk maju mendahului Abu Bakar?”

Kemudian kaum Muhajirin maju membaiat, disusul oleh kaum Anshar. Dengan demikian, Allah menyelamatkan kaum Muslimin dari perpecahan dan mempersatukan mereka di atas pemimpin terbaik mereka, Abu Bakar.


Baiat Umum di Masjid Nabawi

Keesokan harinya, Abu Bakar bersama Umar dan para sahabat pergi ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan baiat umum. Abu Bakar naik ke mimbar. Umar berdiri di hadapannya dan berkhutbah setelah memuji Allah:

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّي كُنْتُ قُلْتُ لَكُمْ بِالْأَمْسِ مَقَالَةً مَا كَانَتْ وَلَا وَجَدْتُهَا فِي كِتَابِ اللَّهِ، وَلَا كَانَتْ عَهْدًا عَهِدَهَا إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ، وَلَكِنِّي كُنْتُ أَرْجُو أَنْ يَعِيشَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى يُدَبِّرَنَا... فَإِنْ يَكُ مُحَمَّدٌ قَدْ مَاتَ، فَإِنَّ اللَّهَ جَعَلَ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ نُورًا تَهْتَدُونَ بِهِ، فَاعْتَصِمُوا بِهِ تَهْتَدُوا، وَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ صَاحِبُ رَسُولِ اللَّهِ، ثَانِي اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ، فَإِنَّهُ أَوْلَى الْمُسْلِمِينَ بِأُمُورِكُمْ، فَقُومُوا إِلَيْهِ فَبَايِعُوهُ

Artinya: “Wahai manusia! Aku telah mengatakan kepadamu kemarin suatu perkataan yang tidak aku temukan dalam kitab Allah, dan bukan merupakan wasiat Rasulullah kepadaku. Aku hanya berharap Rasulullah masih hidup hingga memimpin kita... Jika Muhammad telah mati, maka sungguh Allah telah menjadikan di tengah-tengah kalian cahaya yang kalian dapatkan petunjuk dengannya. Maka berpegang teguhlah kalian kepadanya, niscaya kalian mendapat petunjuk. Sesungguhnya Abu Bakar adalah sahabat Rasulullah, orang kedua dari dua orang ketika mereka berada di gua. Dia adalah orang yang paling berhak di antara kaum Muslimin untuk mengurus urusan kalian. Maka bangkitlah kepadanya dan baiatlah dia.”

Maka semua orang pun berdiri dan membaiat Abu Bakar dengan baiat umum.


Ali dan Az-Zubair: Akhirnya Membaiat

Abu Bakar memandang wajah-wajah orang yang hadir. Ia tidak melihat Az-Zubair bin al-Awwam. Ia memanggilnya. Ketika Az-Zubair datang, Abu Bakar berkata: “Putra dari bibi Rasulullah dan hawari (penolong setia) beliau, apakah engkau hendak memecah belah umat Islam?” Az-Zubair menjawab: “Tidak ada celaan lagi, wahai khalifah Rasulullah.” Lalu ia berdiri dan membaiat.

Kemudian Abu Bakar tidak melihat Ali bin Abi Thalib. Ia memanggilnya. Ali datang, dan Abu Bakar berkata: “Putra paman Rasulullah dan menantunya (suami putri beliau), apakah engkau hendak memecah belah umat Islam?” Ali menjawab: “Tidak ada celaan lagi, wahai khalifah Rasulullah.” Lalu ia berdiri dan membaiat.

Inilah kebenaran tentang baiat Ali kepada Abu Bakar. Baiat terjadi pada hari kedua. Adapun yang mengatakan bahwa baiatnya terjadi setelah enam bulan, maka itu adalah pembaruan baiat dan penguatan ikatan. Inilah yang pantas kita yakini tentang Abu al-Hasan dan al-Husain, pemuda Islam, Ali bin Abi Thalib.


Khutbah Abu Bakar: Prinsip Kepemimpinan yang Agung

Setelah menjadi khalifah, Abu Bakar berkhutbah dengan khutbah yang menjadi salah satu tanda kebijaksanaan dan ketegasan. Ia merangkum pokok-pokok pemerintahan dalam Islam. Beliau bersabda setelah memuji Allah:

أَيُّهَا النَّاسُ: فَإِنِّي قَدْ وُلِّيتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِخَيْرِكُمْ، فَإِنْ أَحْسَنْتُ فَأَعِينُونِي، وَإِنْ أَسَأْتُ فَقَوِّمُونِي؛ الصِّدْقُ أَمَانَةٌ، وَالْكَذِبُ خِيَانَةٌ، وَالضَّعِيفُ فِيكُمْ قَوِيٌّ عِنْدِي حَتَّى أُرِيحَ عَلَيْهِ حَقَّهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، وَالْقَوِيُّ فِيكُمْ ضَعِيفٌ عِنْدِي حَتَّى آخُذَ الْحَقَّ مِنْهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ. لَا يَدَعُ قَوْمٌ الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا ضَرَبَهُمُ اللَّهُ بِالذُّلِّ. وَلَا تَشِيعُ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ إِلَّا عَمَّهُمُ الْبَلَاءُ. أَطِيعُونِي مَا أَطَعْتُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، فَإِنْ عَصَيْتُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَلَا طَاعَةَ لِي عَلَيْكُمْ، قُومُوا إِلَى صَلَاتِكُمْ يَرْحَمُكُمُ اللَّهُ

Artinya: “Wahai manusia! Aku telah diangkat menjadi pemimpin kalian, padahal aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik, maka bantulah aku. Jika aku berbuat salah, maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, dan dusta adalah khianat. Orang yang lemah di antara kalian adalah kuat di sisiku hingga aku berikan haknya dengan tenang, insya Allah. Orang yang kuat di antara kalian adalah lemah di sisiku hingga aku ambil hak darinya, insya Allah. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah, melainkan Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Dan tidaklah perbuatan keji menyebar di suatu kaum, melainkan bala akan menimpa mereka secara menyeluruh. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajiban taat kepadaku. Tegakkanlah salat kalian, semoga Allah merahmati kalian.”


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghitung Jejak Perjuangan: Berapa Kali Rasulullah ﷺ Berperang?

Para Utusan ke Yaman: Mendidik, Mengadili, dan Mengelola Zakat

Haji Wada’ (1)