Detik-Detik Terakhir Sang Kekasih: Dari Ranjang Sakit Menuju Ar-Rafiq Al-A'la

sudut ruangan sederhana dengan ranjang rendah dan dinding batu bata tanah liat. Seorang tokoh utama (Rasulullah) digambarkan berbaring miring dengan selimut putih, wajah tidak terlihat (dari sudut belakang). Di samping ranjang, seorang laki-laki paruh baya (Abu Bakar) berlutut dengan sikap hormat, tangan terangkat seolah menerima amanah. Di belakang Abu Bakar, seorang wanita (Aisyah) berdiri dengan ekspresi haru namun pasrah. Suasana khidmat, penuh kepercayaan, dan kesiapan meneruskan kepemimpinan. Cahaya lembut dari jendela kecil menciptakan nuansa teduh.

Perintah Salat: Abu Bakar Menjadi Imam

Ketika sakit Rasulullah semakin parah, beliau bersabda:

مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ

 “Suruhlah Abu Bakar agar salat mengimami manusia.”

Aisyah —yang sangat mencintai ayahnya dan khawatir orang akan sial karena melihat Abu Bakar menggantikan posisi Rasulullah—berkata: “Sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang lembut hatinya (mudah menangis). Jika ia berdiri di tempatmu, ia tidak akan mampu salat mengimami manusia.” Rasulullah mengulangi perintahnya, dan Aisyah mengulangi alasannya. Maka beliau bersabda:

إِنَّكُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ، مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ

 “Sungguh kalian seperti wanita-wanita (penggoda) Yusuf. Suruhlah Abu Bakar agar salat mengimami manusia.”

Seorang sahabat keluar untuk menyampaikan perintah itu, tetapi tidak menemukan Abu Bakar. Ia menemukan Umar dan berkata: “Berdirilah wahai Umar, salatlah mengimami manusia.” Ketika Umar bertakbir, Rasulullah mendengar suaranya dan bersabda:

يَأْبَى اللَّهُ ذَلِكَ وَالْمُؤْمِنُونَ (diulanginya)

 “Allah dan orang-orang mukmin menolak hal itu.”

Setelah itu, tidak ada yang salat mengimami kecuali Abu Bakar. Umar kemudian mencela sahabat yang memerintahkannya, dan sahabat itu berkata: “Demi Allah, Rasulullah tidak memerintahkanku. Tetapi ketika aku tidak menemukan Abu Bakar, aku melihat engkau lebih berhak di antara yang hadir untuk salat.”


Hari Kamis: Wasiat yang Tertunda

Pada hari Kamis menjelang wafatnya Rasulullah , beliau khawatir akan meninggal sebelum berwasiat tentang kepemimpinan. Beliau bersabda di hadapan para sahabat dan keluarganya:

ائْتُونِي أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا

 “Datangkanlah kepadaku, aku akan menuliskan untuk kalian sebuah kitab yang kalian tidak akan sesat setelahnya selama-lamanya.”

Sebagian sahabat —karena khawatir—berkata: “Rasulullah telah dihinggapi sakit keras. Bukankah Al-Qur'an sudah cukup bagi kita?” Mereka pun berselisih: ada yang mendukung untuk mendatangkan alat tulis, ada yang menolak. Ketika perselisihan semakin memanas, Rasulullah bersabda:

دَعُونِي، فَالَّذِي أَنَا فِيهِ خَيْرٌ مِمَّا تَدْعُونَنِي إِلَيْهِ

 “Tinggalkan aku. Keadaanku sekarang lebih baik daripada apa yang kalian ajak aku kepadanya.”

Beliau kemudian berwasiat tiga hal: “Keluarkan orang-orang musyrik dari Jazirah Arab, dan layanilah utusan-utusan (dari berbagai daerah) sebagaimana aku melayani mereka.” Wasiat ketiga tidak disebutkan secara jelas; ada yang mengatakan tentang Al-Qur'an, ada yang mengatakan tentang mengirim pasukan Usamah.

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda:

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أُرْسِلَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ وَابْنِهِ فَأَعْهَدَ أَنْ يَقُولَ الْقَائِلُونَ، أَوْ يَتَمَنَّى الْمُتَمَنُّونَ

 “Sungguh aku bermaksud mengutus seseorang kepada Abu Bakar dan putranya, lalu aku berwasiat agar tidak ada orang yang berkata-kata (sia-sia) atau berangan-angan (tentang kekhalifahan).”

Dalam riwayat Imam Ahmad: يَأْبَى اللَّهُ وَالْمُؤْمِنُونَ أَنْ يَخْتَلِفَ عَلَيْكَ يَا أَبَا بَكْرٍ

 “Allah dan orang-orang mukmin menolak terjadinya perselisihan atasmu, wahai Abu Bakar.”


Keluar ke Masjid: Salat Terakhir dan Khutbah Perpisahan

Pada hari Kamis itu juga, Rasulullah bertekad keluar menemui manusia untuk berwasiat dan berkhutbah. Beliau bersabda:

أَهْرِيقُوا عَلَيَّ مِنْ سَبْعِ قِرَبٍ لَمْ تُحْلَلْ أَوْكِيَتُهُنَّ، لَعَلِّي أَعْهَدُ لِلنَّاسِ

 “Tuangkanlah air kepadaku dari tujuh wadah kulit yang belum dibuka ikatannya, semoga aku dapat berwasiat kepada manusia.”

Aisyah berkata: “Kami mendudukkannya di sebuah bejana milik Hafshah, lalu kami menuangkan air ke atasnya hingga beliau memberi isyarat dengan tangannya: ‘Kalian telah melakukannya.’”

Rasulullah merasa agak segar. Beliau keluar menuju masjid dengan dituntun oleh dua orang. Saat itu, Abu Bakar sedang mengimami salat zuhur. Ketika Abu Bakar melihat beliau, ia ingin mundur, tetapi Rasulullah memberi isyarat agar ia tetap di tempatnya. Beliau lalu duduk di samping Abu Bakar. Abu Bakar tetap berdiri mengimami, sementara Rasulullah salat dalam keadaan duduk. Inilah salat terakhir yang beliau lakukan bersama kaum Muslimin.

Setelah salat, beliau naik mimbar. Khutbahnya dimulai dengan memuji Allah, kemudian memohonkan ampun untuk para syuhada Uhud. Lalu beliau bersabda:

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ، إِنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ تَزِيدُونَ، وَالْأَنْصَارُ عَلَى هَيْئَتِهَا لَا تَزِيدُ، وَإِنَّهُمْ عَيْبَتِي الَّتِي أَوَيْتُ إِلَيْهَا، فَأَكْرِمُوا كَرِيمَهُمْ، وَتَجَاوَزُوا عَنْ مُسِيئِهِمْ

 “Wahai kaum Muhajirin, sesungguhnya kalian bertambah (jumlahnya), sementara Anshar tetap pada keadaan mereka tidak bertambah. Sesungguhnya mereka adalah tempat kepercayaanku yang aku berlindung kepada mereka. Muliakanlah orang mulia di antara mereka, dan maafkanlah orang yang bersalah di antara mereka.”

Kemudian beliau bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ: إِنَّ عَبْدًا خَيَّرَهُ اللَّهُ بَيْنَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَ اللَّهِ، فَاخْتَارَ مَا عِنْدَ اللَّهِ

 “Wahai manusia, sesungguhnya seorang hamba diberi pilihan oleh Allah antara dunia dan apa yang di sisi Allah, lalu ia memilih apa yang di sisi Allah.”

Abu Bakar langsung memahami bahwa hamba itu adalah Rasulullah sendiri. Ia menangis dan berkata: “Kami akan menebusmu dengan jiwa, anak, dan harta kami.” Rasulullah bersabda: عَلَى رِسْلِكَ يَا أَبَا بَكْرٍ (Tenanglah wahai Abu Bakar). Kemudian beliau bersabda:

إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُو بَكْرٍ. وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا غَيْرَ رَبِّي لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ، وَلَكِنْ خُلَّةُ الْإِسْلَامِ وَمَوَدَّتُهُ. لَا يَبْقَى فِي الْمَسْجِدِ بَابٌ إِلَّا سُدَّ إِلَّا بَابُ أَبِي بَكْرٍ

 “Orang yang paling aman (paling besar jasa) kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku mengambil seorang kekasih dari umatku selain Tuhanku, pasti aku akan mengambil Abu Bakar. Akan tetapi (ikatan kita adalah) persaudaraan Islam dan kecintaannya. Tidak boleh tersisa di masjid sebuah pintu kecuali ditutup, kecuali pintu Abu Bakar.”

Beliau juga melarang menjadikan kuburan sebagai masjid, sebagaimana yang dilakukan umat-umat terdahulu:

لَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

 “Janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid, karena sungguh aku melarang kalian dari hal itu.”

Kemudian beliau memerintahkan untuk segera mengirim pasukan Usamah:

أَيُّهَا النَّاسُ أَنْفِذُوا بَعْثَ أُسَامَةَ، فَلَعَمْرِي لَئِنْ قُلْتُمْ فِي إِمَارَتِهِ لَقَدْ قُلْتُمْ فِي إِمَارَةِ أَبِيهِ مِنْ قَبْلُ، وَإِنَّهُ لَخَلِيقٌ لِلْإِمَارَةِ، وَإِنْ كَانَ أَبُوهُ لَخَلِيقًا لَهَا

 “Wahai manusia, kirimkanlah pasukan Usamah. Demi umurku, jika kalian mencela kepemimpinannya, sungguh kalian telah mencela kepemimpinan ayahnya sebelumnya. Sesungguhnya ia layak untuk memimpin, dan sungguh ayahnya juga layak untuk itu.”

Puncak dari khutbah ini adalah pernyataan yang mengguncang jiwa. Rasulullah menawarkan diri untuk diqishash (dibalas) oleh siapa pun yang pernah dizalimi:

أَلَا فَمَنْ كُنْتُ جَلَدْتُ لَهُ ظَهْرًا فَهَذَا ظَهْرِي فَلْيَسْتَقِدْ. وَمَنْ كُنْتُ أَخَذْتُ لَهُ مَالًا فَهَذَا مَالِي فَلْيَأْخُذْ مِنْهُ. وَمَنْ كُنْتُ شَتَمْتُ لَهُ عِرْضًا فَهَذَا عِرْضِي فَلْيَسْتَقِدْ. وَلَا يَقُولَنَّ قَائِلٌ: أَخَافُ الشَّحْنَاءَ مِنْ قِبَلِ رَسُولِ اللَّهِ. أَلَا وَإِنَّ الشَّحْنَاءَ لَيْسَتْ مِنْ شَأْنِي وَلَا مِنْ خُلُقِي، وَإِنَّ أَحَبَّكُمْ إِلَيَّ مَنْ أَخَذَ حَقًّا إِنْ كَانَ لَهُ عَلَيَّ، أَوْ حَلَّلَنِي فَلَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَيْسَ لِأَحَدٍ عِنْدِي مَظْلِمَةٌ

 “Ketahuilah, barangsiapa yang pernah aku pukul punggungnya, ini punggungku, silakan membalas. Barangsiapa yang pernah aku ambil hartanya, ini hartaku, silakan mengambil. Barangsiapa yang pernah aku caci kehormatannya, ini kehormatanku, silakan membalas. Jangan sampai ada yang berkata: ‘Aku takut permusuhan dari Rasulullah.’ Ketahuilah, permusuhan bukanlah urusanku dan bukan akhlakku. Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah yang mengambil haknya jika ia memilikiku, atau yang memaafkanku sehingga aku bertemu Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun yang memiliki kezaliman dariku.”


Sakaratul Maut: “Ya Allah, Tolonglah Aku Menghadapi Sakaratul Maut”

Setelah khutbah itu, demam kembali menguasai Rasulullah dengan sangat keras. Abu Sa'id al-Khudri berkata: “Demi Allah, aku tidak sanggup meletakkan tanganku di atas tubuhmu karena panasnya demammu.” Rasulullah menjawab:

إِنَّا مَعَاشِرَ الْأَنْبِيَاءِ يُضَاعَفُ لَنَا الْبَلَاءُ، كَمَا يُضَاعَفُ لَنَا الْأَجْرُ

 “Sesungguhnya kami para nabi dilipatgandakan cobaan bagi kami, sebagaimana dilipatgandakan pahala bagi kami.”

Di tengah kesakitan itu, beliau berdoa:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى سَكَرَاتِ الْمَوْتِ

 “Ya Allah, tolonglah aku menghadapi sakaratul maut.”

Setiap kali siuman dari pingsannya, beliau mengucapkan:

اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى

 “Ya Allah, (kepada) Ar-Rafiq Al-A'la (Teman yang Tertinggi).”

Aisyah teringat sabda Rasulullah sebelumnya bahwa seorang nabi tidak akan meninggal sampai ia diberi pilihan antara dunia dan akhirat. Ketika mendengar beliau terus mengucapkan “Ar-Rafiq Al-A'la”, Aisyah pun tahu bahwa beliau telah memilih akhirat.


Pagi Senin: Sekilas Pandang dari Balik Pintu

Pada pagi Senin, ketika Abu Bakar sedang mengimami salat Subuh, Rasulullah membuka tirai kamarnya. Beliau berdiri memandangi para sahabat yang sedang khusyuk salat. Wajahnya berseri-seri, beliau tersenyum melihat kebersamaan mereka di atas satu imam.

Abu Bakar mengira Rasulullah akan keluar, ia pun mundur. Para sahabat hampir terbuai kegembiraan mereka. Namun Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya: “Sempurnakan salat kalian.” Kemudian beliau masuk kembali dan menutup tirai. Itulah kali terakhir para sahabat melihat beliau.

Mereka bergembira, mengira beliau telah sembuh. Abu Bakar pun pergi ke rumah istrinya yang lain di daerah As-Sanh, karena mengira Rasulullah telah pulih.


Detik-Detik Terakhir: Siwak dan “Ar-Rafiq Al-A'la”

Sakaratul maut semakin menghimpit. Usamah bin Zaid masuk menemui Rasulullah , namun beliau sudah tidak mampu berbicara. Beliau mengangkat tangannya ke langit lalu meletakkannya di atas Usamah —Usamah mengerti bahwa beliau sedang mendoakannya.

Aisyah memangku Rasulullah di dadanya. Abdurrahman bin Abi Bakr masuk dengan membawa siwak (ranting untuk membersihkan gigi). Rasulullah menatap siwak itu. Aisyah berkata: “Aku ambilkan untukmu?” Beliau mengangguk. Aisyah mengambilnya, melunakkannya dengan menggigitnya, lalu memberikannya kepada Rasulullah . Beliau pun bersiwak sebaik-baiknya.

Sepanjang waktu itu, beliau terus mengucapkan:

اللَّهُمَّ الرَّفِيقَ الْأَعْلَى

 “Ya Allah, (kepada) Teman yang Tertinggi.”

Aisyah berkata: “Ketika aku mendengarnya mengucapkan itu, aku tahu bahwa beliau sedang memilih (untuk meninggal).”

Wasiat terakhir yang keluar dari lisannya—meskipun suaranya sudah terputus-putus—adalah:

لَا يَبْقَى بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ دِينَانِ

 “Jangan sampai tersisa di Jazirah Arab dua agama (selain Islam).”

Dan sabdanya:

الصَّلَاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

 “(Jagalah) salat dan (perlakukanlah dengan baik) budak-budak yang kalian miliki.”

Beliau terus mengulang-ulang wasiat itu hingga dadanya bergetar dan lisannya tidak lagi mampu mengucapkannya.


☀️ Wafatnya Sang Kekasih

Ketika matahari mulai meninggi, Ruh yang paling suci di dunia ini pun meninggalkan jasadnya. Ia kembali kepada Penciptanya dalam keadaan diridhai dan meridhai. Manusia paling mulia di sisi Allah pergi dari dunia sebagaimana ia datang: tidak meninggalkan harta, tidak meninggalkan dinar, tidak meninggalkan dirham, dan tidak meninggalkan keturunan selain Fathimah. Yang ia tinggalkan hanyalah petunjuk, keimanan, syariat yang abadi, dan warisan ruhani yang agung, serta sebuah umat yang menjadi umat terbaik dan umat pertengahan.

Peristiwa wafatnya terjadi pada hari Senin, dengan perbedaan pendapat tentang tanggal: ada yang mengatakan 1 Rabi'ul Awal, ada yang mengatakan 2 Rabi'ul Awal, dan ada yang mengatakan 12 Rabi'ul Awal tahun ke-11 Hijriah. Pendapat pertama (1 Rabi'ul Awal) adalah yang paling kuat, diikuti oleh pendapat kedua. Adapun pendapat ketiga (12 Rabi'ul Awal) meskipun dipilih oleh Ibnu Ishaq, al-Waqidi, dan Ibnu Sa'd, namun memiliki kelemahan.

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Sungguh, dengan kepergiannya, bumi kehilangan cahayanya, tetapi petunjuknya akan terus bersinar hingga akhir zaman.


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Para Utusan ke Yaman: Mendidik, Mengadili, dan Mengelola Zakat

Perang Badar Kubra Bagian 4

Menghitung Jejak Perjuangan: Berapa Kali Rasulullah ﷺ Berperang?