Detik-Detik Terakhir Sang Kekasih: Dari Ranjang Sakit Menuju Ar-Rafiq Al-A'la
Perintah Salat: Abu Bakar Menjadi Imam
Ketika sakit Rasulullah ﷺ semakin parah, beliau bersabda:
“مُرُوا
أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ”
“Suruhlah Abu
Bakar agar salat mengimami manusia.”
Aisyah —yang sangat mencintai ayahnya dan khawatir orang
akan sial karena melihat Abu Bakar menggantikan posisi Rasulullah—berkata:
“Sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang lembut hatinya (mudah menangis). Jika
ia berdiri di tempatmu, ia tidak akan mampu salat mengimami manusia.”
Rasulullah ﷺ
mengulangi perintahnya, dan Aisyah mengulangi alasannya. Maka beliau bersabda:
“إِنَّكُنَّ
صَوَاحِبُ يُوسُفَ، مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ”
“Sungguh kalian
seperti wanita-wanita (penggoda) Yusuf. Suruhlah Abu Bakar agar salat mengimami
manusia.”
Seorang sahabat keluar untuk menyampaikan perintah itu,
tetapi tidak menemukan Abu Bakar. Ia menemukan Umar dan berkata: “Berdirilah
wahai Umar, salatlah mengimami manusia.” Ketika Umar bertakbir, Rasulullah ﷺ
mendengar suaranya dan bersabda:
“يَأْبَى
اللَّهُ ذَلِكَ وَالْمُؤْمِنُونَ” (diulanginya)
“Allah dan
orang-orang mukmin menolak hal itu.”
Setelah itu, tidak ada yang salat mengimami kecuali Abu
Bakar. Umar kemudian mencela sahabat yang memerintahkannya, dan sahabat itu
berkata: “Demi Allah, Rasulullah tidak memerintahkanku. Tetapi ketika aku tidak
menemukan Abu Bakar, aku melihat engkau lebih berhak di antara yang hadir untuk
salat.”
Hari Kamis: Wasiat yang Tertunda
Pada hari Kamis menjelang wafatnya Rasulullah ﷺ,
beliau khawatir akan meninggal sebelum berwasiat tentang kepemimpinan. Beliau
bersabda di hadapan para sahabat dan keluarganya:
“ائْتُونِي
أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا”
“Datangkanlah
kepadaku, aku akan menuliskan untuk kalian sebuah kitab yang kalian tidak akan
sesat setelahnya selama-lamanya.”
Sebagian sahabat —karena khawatir—berkata: “Rasulullah ﷺ
telah dihinggapi sakit keras. Bukankah Al-Qur'an sudah cukup bagi kita?” Mereka
pun berselisih: ada yang mendukung untuk mendatangkan alat tulis, ada yang
menolak. Ketika perselisihan semakin memanas, Rasulullah ﷺ bersabda:
“دَعُونِي،
فَالَّذِي أَنَا فِيهِ خَيْرٌ مِمَّا تَدْعُونَنِي إِلَيْهِ”
“Tinggalkan aku.
Keadaanku sekarang lebih baik daripada apa yang kalian ajak aku kepadanya.”
Beliau kemudian berwasiat tiga hal: “Keluarkan
orang-orang musyrik dari Jazirah Arab, dan layanilah utusan-utusan (dari
berbagai daerah) sebagaimana aku melayani mereka.” Wasiat ketiga tidak
disebutkan secara jelas; ada yang mengatakan tentang Al-Qur'an, ada yang
mengatakan tentang mengirim pasukan Usamah.
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
“لَقَدْ
هَمَمْتُ أَنْ أُرْسِلَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ وَابْنِهِ فَأَعْهَدَ أَنْ يَقُولَ
الْقَائِلُونَ، أَوْ يَتَمَنَّى الْمُتَمَنُّونَ”
“Sungguh aku
bermaksud mengutus seseorang kepada Abu Bakar dan putranya, lalu aku berwasiat
agar tidak ada orang yang berkata-kata (sia-sia) atau berangan-angan (tentang
kekhalifahan).”
Dalam riwayat Imam Ahmad: “يَأْبَى اللَّهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
أَنْ يَخْتَلِفَ عَلَيْكَ يَا أَبَا بَكْرٍ”
“Allah dan
orang-orang mukmin menolak terjadinya perselisihan atasmu, wahai Abu Bakar.”
Keluar ke Masjid: Salat Terakhir dan Khutbah Perpisahan
Pada hari Kamis itu juga, Rasulullah ﷺ bertekad keluar
menemui manusia untuk berwasiat dan berkhutbah. Beliau bersabda:
“أَهْرِيقُوا
عَلَيَّ مِنْ سَبْعِ قِرَبٍ لَمْ تُحْلَلْ أَوْكِيَتُهُنَّ، لَعَلِّي أَعْهَدُ
لِلنَّاسِ”
“Tuangkanlah air
kepadaku dari tujuh wadah kulit yang belum dibuka ikatannya, semoga aku dapat
berwasiat kepada manusia.”
Aisyah berkata: “Kami mendudukkannya di sebuah bejana milik
Hafshah, lalu kami menuangkan air ke atasnya hingga beliau memberi isyarat
dengan tangannya: ‘Kalian telah melakukannya.’”
Rasulullah ﷺ
merasa agak segar. Beliau keluar menuju masjid dengan dituntun oleh dua orang.
Saat itu, Abu Bakar sedang mengimami salat zuhur. Ketika Abu Bakar melihat
beliau, ia ingin mundur, tetapi Rasulullah ﷺ memberi isyarat agar ia tetap di
tempatnya. Beliau lalu duduk di samping Abu Bakar. Abu Bakar tetap berdiri
mengimami, sementara Rasulullah ﷺ salat dalam keadaan duduk. Inilah salat terakhir yang beliau
lakukan bersama kaum Muslimin.
Setelah salat, beliau naik mimbar. Khutbahnya dimulai dengan
memuji Allah, kemudian memohonkan ampun untuk para syuhada Uhud. Lalu beliau
bersabda:
“يَا
مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ، إِنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ تَزِيدُونَ، وَالْأَنْصَارُ
عَلَى هَيْئَتِهَا لَا تَزِيدُ، وَإِنَّهُمْ عَيْبَتِي الَّتِي أَوَيْتُ
إِلَيْهَا، فَأَكْرِمُوا كَرِيمَهُمْ، وَتَجَاوَزُوا عَنْ مُسِيئِهِمْ”
“Wahai kaum
Muhajirin, sesungguhnya kalian bertambah (jumlahnya), sementara Anshar tetap
pada keadaan mereka tidak bertambah. Sesungguhnya mereka adalah tempat
kepercayaanku yang aku berlindung kepada mereka. Muliakanlah orang mulia di
antara mereka, dan maafkanlah orang yang bersalah di antara mereka.”
Kemudian beliau bersabda:
“أَيُّهَا
النَّاسُ: إِنَّ عَبْدًا خَيَّرَهُ اللَّهُ بَيْنَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَ
اللَّهِ، فَاخْتَارَ مَا عِنْدَ اللَّهِ”
“Wahai manusia,
sesungguhnya seorang hamba diberi pilihan oleh Allah antara dunia dan apa yang
di sisi Allah, lalu ia memilih apa yang di sisi Allah.”
Abu Bakar langsung memahami bahwa hamba itu adalah
Rasulullah ﷺ
sendiri. Ia menangis dan berkata: “Kami akan menebusmu dengan jiwa, anak, dan
harta kami.” Rasulullah ﷺ
bersabda: “عَلَى
رِسْلِكَ يَا أَبَا بَكْرٍ” (Tenanglah wahai Abu Bakar).
Kemudian beliau bersabda:
“إِنَّ
أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُو بَكْرٍ. وَلَوْ كُنْتُ
مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا غَيْرَ رَبِّي لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ،
وَلَكِنْ خُلَّةُ الْإِسْلَامِ وَمَوَدَّتُهُ. لَا يَبْقَى فِي الْمَسْجِدِ بَابٌ
إِلَّا سُدَّ إِلَّا بَابُ أَبِي بَكْرٍ”
“Orang yang paling
aman (paling besar jasa) kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu
Bakar. Seandainya aku mengambil seorang kekasih dari umatku selain Tuhanku,
pasti aku akan mengambil Abu Bakar. Akan tetapi (ikatan kita adalah)
persaudaraan Islam dan kecintaannya. Tidak boleh tersisa di masjid sebuah pintu
kecuali ditutup, kecuali pintu Abu Bakar.”
Beliau juga melarang menjadikan kuburan sebagai masjid,
sebagaimana yang dilakukan umat-umat terdahulu:
“لَا
تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ”
“Janganlah kalian
menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid, karena sungguh aku melarang kalian
dari hal itu.”
Kemudian beliau memerintahkan untuk segera mengirim pasukan
Usamah:
“أَيُّهَا
النَّاسُ أَنْفِذُوا بَعْثَ أُسَامَةَ، فَلَعَمْرِي لَئِنْ قُلْتُمْ فِي
إِمَارَتِهِ لَقَدْ قُلْتُمْ فِي إِمَارَةِ أَبِيهِ مِنْ قَبْلُ، وَإِنَّهُ
لَخَلِيقٌ لِلْإِمَارَةِ، وَإِنْ كَانَ أَبُوهُ لَخَلِيقًا لَهَا”
“Wahai manusia,
kirimkanlah pasukan Usamah. Demi umurku, jika kalian mencela kepemimpinannya,
sungguh kalian telah mencela kepemimpinan ayahnya sebelumnya. Sesungguhnya ia
layak untuk memimpin, dan sungguh ayahnya juga layak untuk itu.”
Puncak dari khutbah ini adalah pernyataan yang mengguncang
jiwa. Rasulullah ﷺ
menawarkan diri untuk diqishash (dibalas) oleh siapa pun yang pernah dizalimi:
“أَلَا
فَمَنْ كُنْتُ جَلَدْتُ لَهُ ظَهْرًا فَهَذَا ظَهْرِي فَلْيَسْتَقِدْ. وَمَنْ
كُنْتُ أَخَذْتُ لَهُ مَالًا فَهَذَا مَالِي فَلْيَأْخُذْ مِنْهُ. وَمَنْ كُنْتُ
شَتَمْتُ لَهُ عِرْضًا فَهَذَا عِرْضِي فَلْيَسْتَقِدْ. وَلَا يَقُولَنَّ قَائِلٌ:
أَخَافُ الشَّحْنَاءَ مِنْ قِبَلِ رَسُولِ اللَّهِ. أَلَا وَإِنَّ الشَّحْنَاءَ
لَيْسَتْ مِنْ شَأْنِي وَلَا مِنْ خُلُقِي، وَإِنَّ أَحَبَّكُمْ إِلَيَّ مَنْ
أَخَذَ حَقًّا إِنْ كَانَ لَهُ عَلَيَّ، أَوْ حَلَّلَنِي فَلَقِيَ اللَّهَ عَزَّ
وَجَلَّ وَلَيْسَ لِأَحَدٍ عِنْدِي مَظْلِمَةٌ”
“Ketahuilah,
barangsiapa yang pernah aku pukul punggungnya, ini punggungku, silakan
membalas. Barangsiapa yang pernah aku ambil hartanya, ini hartaku, silakan
mengambil. Barangsiapa yang pernah aku caci kehormatannya, ini kehormatanku,
silakan membalas. Jangan sampai ada yang berkata: ‘Aku takut permusuhan dari
Rasulullah.’ Ketahuilah, permusuhan bukanlah urusanku dan bukan akhlakku.
Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah yang
mengambil haknya jika ia memilikiku, atau yang memaafkanku sehingga aku bertemu
Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun yang memiliki kezaliman dariku.”
Sakaratul Maut: “Ya Allah, Tolonglah Aku Menghadapi
Sakaratul Maut”
Setelah khutbah itu, demam kembali menguasai Rasulullah ﷺ
dengan sangat keras. Abu Sa'id al-Khudri berkata: “Demi Allah,
aku tidak sanggup meletakkan tanganku di atas tubuhmu karena panasnya demammu.”
Rasulullah ﷺ
menjawab:
“إِنَّا
مَعَاشِرَ الْأَنْبِيَاءِ يُضَاعَفُ لَنَا الْبَلَاءُ، كَمَا يُضَاعَفُ لَنَا
الْأَجْرُ”
“Sesungguhnya kami
para nabi dilipatgandakan cobaan bagi kami, sebagaimana dilipatgandakan pahala
bagi kami.”
Di tengah kesakitan itu, beliau berdoa:
“اللَّهُمَّ
أَعِنِّي عَلَى سَكَرَاتِ الْمَوْتِ”
“Ya Allah,
tolonglah aku menghadapi sakaratul maut.”
Setiap kali siuman dari pingsannya, beliau mengucapkan:
“اللَّهُمَّ
الرَّفِيقَ الْأَعْلَى”
“Ya Allah,
(kepada) Ar-Rafiq Al-A'la (Teman yang Tertinggi).”
Aisyah teringat sabda Rasulullah ﷺ sebelumnya bahwa seorang nabi tidak akan
meninggal sampai ia diberi pilihan antara dunia dan akhirat. Ketika mendengar
beliau terus mengucapkan “Ar-Rafiq Al-A'la”, Aisyah pun tahu bahwa beliau telah
memilih akhirat.
Pagi Senin: Sekilas Pandang dari Balik Pintu
Pada pagi Senin, ketika Abu Bakar sedang mengimami salat
Subuh, Rasulullah ﷺ
membuka tirai kamarnya. Beliau berdiri memandangi para sahabat yang sedang
khusyuk salat. Wajahnya berseri-seri, beliau tersenyum melihat kebersamaan
mereka di atas satu imam.
Abu Bakar mengira Rasulullah ﷺ akan keluar, ia pun mundur. Para sahabat
hampir terbuai kegembiraan mereka. Namun Rasulullah ﷺ memberi isyarat dengan tangannya: “Sempurnakan
salat kalian.” Kemudian beliau masuk kembali dan menutup tirai. Itulah
kali terakhir para sahabat melihat beliau.
Mereka bergembira, mengira beliau telah sembuh. Abu Bakar
pun pergi ke rumah istrinya yang lain di daerah As-Sanh, karena
mengira Rasulullah ﷺ
telah pulih.
Detik-Detik Terakhir: Siwak dan “Ar-Rafiq Al-A'la”
Sakaratul maut semakin menghimpit. Usamah bin Zaid masuk
menemui Rasulullah ﷺ,
namun beliau sudah tidak mampu berbicara. Beliau mengangkat tangannya ke langit
lalu meletakkannya di atas Usamah —Usamah mengerti bahwa beliau sedang
mendoakannya.
Aisyah memangku Rasulullah ﷺ di dadanya. Abdurrahman bin Abi
Bakr masuk dengan membawa siwak (ranting untuk
membersihkan gigi). Rasulullah ﷺ menatap siwak itu. Aisyah berkata: “Aku ambilkan untukmu?”
Beliau mengangguk. Aisyah mengambilnya, melunakkannya dengan menggigitnya, lalu
memberikannya kepada Rasulullah ﷺ. Beliau pun bersiwak sebaik-baiknya.
Sepanjang waktu itu, beliau terus mengucapkan:
“اللَّهُمَّ
الرَّفِيقَ الْأَعْلَى”
“Ya Allah,
(kepada) Teman yang Tertinggi.”
Aisyah berkata: “Ketika aku mendengarnya
mengucapkan itu, aku tahu bahwa beliau sedang memilih (untuk meninggal).”
Wasiat terakhir yang keluar dari
lisannya—meskipun suaranya sudah terputus-putus—adalah:
“لَا
يَبْقَى بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ دِينَانِ”
“Jangan sampai
tersisa di Jazirah Arab dua agama (selain Islam).”
Dan sabdanya:
“الصَّلَاةَ
وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ”
“(Jagalah) salat
dan (perlakukanlah dengan baik) budak-budak yang kalian miliki.”
Beliau terus mengulang-ulang wasiat itu hingga dadanya
bergetar dan lisannya tidak lagi mampu mengucapkannya.
☀️ Wafatnya Sang Kekasih
Ketika matahari mulai meninggi, Ruh yang paling suci
di dunia ini pun meninggalkan jasadnya. Ia kembali kepada Penciptanya
dalam keadaan diridhai dan meridhai. Manusia paling mulia di sisi Allah pergi
dari dunia sebagaimana ia datang: tidak meninggalkan harta, tidak
meninggalkan dinar, tidak meninggalkan dirham, dan tidak meninggalkan keturunan
selain Fathimah. Yang ia tinggalkan hanyalah petunjuk,
keimanan, syariat yang abadi, dan warisan ruhani yang agung, serta sebuah
umat yang menjadi umat terbaik dan umat pertengahan.
Peristiwa wafatnya terjadi pada hari Senin,
dengan perbedaan pendapat tentang tanggal: ada yang mengatakan 1
Rabi'ul Awal, ada yang mengatakan 2 Rabi'ul Awal, dan ada yang
mengatakan 12 Rabi'ul Awal tahun ke-11 Hijriah. Pendapat
pertama (1 Rabi'ul Awal) adalah yang paling kuat, diikuti oleh pendapat kedua.
Adapun pendapat ketiga (12 Rabi'ul Awal) meskipun dipilih oleh Ibnu Ishaq,
al-Waqidi, dan Ibnu Sa'd, namun memiliki kelemahan.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Sungguh,
dengan kepergiannya, bumi kehilangan cahayanya, tetapi petunjuknya akan terus
bersinar hingga akhir zaman.
Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah
Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar
Posting Komentar