Detik-Detik Terakhir: Memandikan, Mengafani, dan Memakamkan Sang Kekasih Allah

padang pasir di pinggiran Madinah dengan bukit-bukit pasir keemasan di latar belakang. Di depan, sekelompok laki-laki dengan pakaian Arab kuno menunggang kuda dan berjalan kaki, siap berangkat. Seorang laki-laki paruh baya (Abu Bakar) dengan jubah putih dan sorban berjalan kaki di samping seorang pemuda yang menunggang kuda (Usamah). Keduanya saling berpandangan dengan sikap hormat dan penuh makna. Beberapa anggota pasukan lain di belakang mereka juga berjalan kaki atau menunggang kuda.

Setelah baiat umum selesai, kaum Muslimin segera berkonsentrasi untuk mempersiapkan jenazah Rasulullah . Dalam setiap langkah, mereka menjadikan Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai rujukan ketika ada hal-hal yang masih samar—mulai dari memandikan, mengafani, hingga menguburkan.


Memandikan Jenazah dengan Penuh Adab dan Kerinduan

Hadir dalam prosesi memandikan jenazah dari kalangan keluarga Bani Hasyim: Abbas bin Abdul Muthalib, Ali bin Abi Thalib, Al-Fadhl dan Qutsam (keduanya putra Abbas), Usamah bin Zaid, serta Shalih (mantan budak Rasulullah). Bergabung pula setelah meminta izin Aus bin Khauli al-Anshari.

Jenazah Rasulullah disandarkan ke dada Ali, dan pakaian beliau masih melekat (kemeja). Ali sendiri yang memandikannya, dibantu oleh Abbas dan kedua putranya. Usamah dan Shalih bertugas menuangkan air.

Yang menakjubkan, Ali tidak melihat pada jenazah Nabi apa yang biasa terlihat pada jenazah orang mati. Maka ia terus mengucapkan:

بِأَبِي وَأُمِّي مَا أَطْيَبَكَ حَيًّا وَمَيِّتًا!!

Artinya: “Demi ayah dan ibuku, betapa harum dirimu, baik ketika hidup maupun setelah wafat!”

Jenazah dimandikan dengan air dan daun bidara (sidr). Setelah selesai, mereka mengafani beliau dengan tiga lembar kain putih katun dari Yaman. Mereka tidak menjadikan Burud Hirah (kain bergaris) sebagai bagian dari kain kafan, berbeda dengan klaim sebagian penulis sirah modern. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud.


Shalat Jenazah: Masing-Masing Sendiri, Tanpa Imam

Setelah dikafani, jenazah diletakkan di atas tempat tidurnya di kamar Aisyah. Manusia kemudian masuk secara bergiliran (رسلاً) untuk melaksanakan salat jenazah secara sendiri-sendiri (fardu), tidak berjamaah dengan satu imam. Setelah laki-laki selesai, giliran perempuan, lalu anak-anak.

Inilah cara salat jenazah atas Rasulullah yang berbeda dengan kebiasaan salat jenazah biasa.


Di Mana Rasulullah Dimakamkan? Keputusan Abu Bakar Memadamkan Perbedaan

Setelah salat, muncullah perbedaan pendapat: di mana Rasulullah dimakamkan? Apakah di dalam masjidnya? Di pemakaman Baqi' bersama para sahabatnya? Atau di rumahnya?

Abu Bakar ash-Shiddiq segera memadamkan perselisihan itu dengan menyampaikan hadis yang ia dengar langsung dari Rasulullah :

مَا قُبِضَ نَبِيٌّ إِلَّا وَدُفِنَ حَيْثُ قُبِضَ

Artinya: “Tidaklah seorang nabi dicabut nyawanya melainkan ia dimakamkan di tempat di mana ia wafat.”

Maka bulatlah keputusan: Rasulullah dimakamkan di kamar Aisyah, tepat di tempat beliau wafat.


Menggali Kubur: Gaya Lahad ala Madinah

Pada masa itu, ada dua cara menggali kubur: Dharh (galian lurus ke dalam tanah) untuk penduduk Mekah, dan Lahad (galian miring ke samping) untuk penduduk Madinah. Abu Ubaidah bin al-Jarrah ahli dalam dharh, sedangkan Abu Thalhah al-Anshari ahli dalam lahad.

Abbas mengirim dua utusan. Utusan untuk Abu Ubaidah tidak menemukannya. Utusan untuk Abu Thalhah menemukannya dan membawanya. Maka Rasulullah dimakamkan dengan gaya lahad sesuai tradisi Madinah.

Yang turun ke liang lahat untuk meletakkan jenazah adalah: Abbas, Ali, Qutsam, Al-Fadhl, Syuqran (mantan budak Rasulullah), dan juga Aus bin KhauliSyuqran mengambil sehelai kain beludru (qatifah) yang biasa dipakai Rasulullah, lalu menghamparkannya di dasar kubur seraya berkata: “Demi Allah, tidak akan ada seorang pun yang memakai kain ini setelah engkau.”

Di tengah isak tangis, air mata, dan hati yang hancur karena ditinggalkan kekasih yang terbujur di liang lahat, mereka menuangkan tanah di atas makam mulia itu, lalu memercikkan air di atasnya. Semua itu terjadi pada malam Rabu, dua hari setelah wafatnya Rasulullah .


Tiga Bulan Sabit: Kuburan Tiga Sahabat Mulia

Ketika Abu Bakar wafat, ia dimakamkan di sisi sahabatnya, Rasulullah . Saat itu, ada satu tempat kosong di kamar Aisyah yang memang ia sediakan untuk dirinya sendiri. Namun ketika Umar bin al-Khaththab wafat (setelah ditikam), ia berwasiat agar meminta izin kepada Aisyah untuk dimakamkan di samping kedua sahabatnya. Aisyah pun mengizinkan dan mendahulukan Umar daripada dirinya sendiri.

Maka terkabulkan mimpinya: Aisyah pernah bermimpi tiga buah bulan jatuh di pangkuannya. Tiga bulan itu adalah tiga pemimpin yang memenuhi dunia dengan iman, petunjuk, keadilan, rahmat, cahaya, dan sinar. Mereka meletakkan fondasi yang kokoh bagi peradaban Islam yang unik, yang tidak ada bandingannya.


Perlindungan Kubur dari Peribadatan yang Menyimpang

Pada awalnya, ketiga kubur tersebut tidak berada di dalam masjid. Namun pada masa kekhalifahan Al-Walid bin Abdul Malik, gubernurnya di Madinah, Umar bin Abdul Aziz, diperintahkan untuk memperluas masjid dari segala sisi. Mereka terpaksa memasukkan kamar Aisyah ke dalam area masjid. Namun mereka sangat berhati-hati: membangun tembok tinggi di sekeliling kubur agar tidak terlihat dan tidak dijadikan kiblat salat oleh orang awam. Mereka juga membangun dua dinding dari kedua sudut utara kamar yang dipertemukan membentuk segitiga di sisi utara, sehingga orang yang salat tidak bisa menghadap langsung ke kubur.

Ini dilakukan karena peringatan keras Rasulullah di akhir hayatnya, yang sering diulang-ulang:

لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Artinya: “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim: اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ

Artinya: “Mereka menjadikan kubur para nabi dan orang saleh mereka sebagai masjid.”


Keteguhan Abu Bakar: Mengirim Pasukan Usamah di Tengah Duka

Belum genap kaum Muslimin selesai menguburkan Rasulullah , perintah pertama yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar adalah mengirimkan pasukan Usamah—sebagaimana wasiat Rasulullah sebelum wafat. Abu Bakar menolak mendengarkan mereka yang berpendapat agar pasukan tidak keluar di saat yang sulit ini, atau yang mengusulkan untuk mengganti pemimpin dengan yang lebih tua. Bahkan ketika Usamah sendiri meminta agar ia tetap berada di sisi khalifah (karena usianya masih muda), Abu Bakar tetap bersikeras.

Pasukan dipersiapkan di Al-Jurf. Usamah tetap sebagai panglima. Abu Bakar keluar berjalan kaki mengantarkan pasukan, sementara Usamah menunggang kuda. Usamah berkata: “Wahai khalifah Rasulullah, demi Allah, engkau harus menaiki kendaraan atau aku akan turun!” Abu Bakar menjawab: “Aku tidak akan turun dan engkau tidak perlu turun! Tidak ada salahnya kakiku berdebu sesaat di jalan Allah.”

Kemudian Abu Bakar berkata kepada Usamah: “Jika engkau berkenan, pinjamkan aku Umar (untuk membantu urusan di Madinah).” Usamah pun mengizinkan.

Ketika orang-orang yang semula keberatan dengan penunjukan Usamah (karena usianya) melihat keteguhan khalifah, mereka pun diam dan lapang hati.


Kemenangan Pasukan Usamah

Usamah berangkat hingga mencapai Al-Balqa' (perbatasan Syam). Ia melakukan serangan, membalas dendam untuk kaum Muslimin dan untuk ayahnya (Zaid bin Haritsah yang gugur di Mu'tah). Kemudian ia kembali ke Madinah dengan pasukannya dalam keadaan menang dan mendapat pertolongan—setelah memuaskan hati Tuhannya, Rasul-Nya, dan khalifahnya.


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Para Raja Ma'in yang Terlupakan: Perdebatan Panjang Para Ahli

Kafilah yang Selamat: Kisah Perdagangan, Perang, dan Doa di Kerajaan Ma'in

Perang Siffin dan Nahrawan