Puncak Kesempurnaan Manusiawi: Mengenal Sang Teladan Abadi

pemandangan abstrak-simbolis di padang pasir yang luas pada waktu fajar. Di tengah, sebuah timbangan kuno dari kayu dan kuningan tergantung dengan dua piringan yang seimbang sempurna. Di satu sisi, cahaya keemasan yang lembut; di sisi lain, bayangan tipis yang redup. Di sekeliling timbangan, bertebaran kata-kata atau simbol sederhana seperti hati, pedang tersarung (simbol keberanian), buku (simbol ilmu), dan setangkai daun zaitun (simbol perdamaian) — semua dalam harmoni. Latar belakang adalah langit biru keemasan dengan awan tipis. Tidak ada tokoh manusia. Suasana agung, penuh keseimbangan dan kebijaksanaan.

Segala puji bagi Allah. Dengan selesainya penulisan kisah hidup Rasulullah ﷺ yang harum semerbak ini, masih tersisa satu babak penting yang tak boleh terlewatkan: mengenal sifat-sifat beliau, baik lahiriah maupun batiniah. Dengan memahami itu, pembaca akan menyaksikan bahwa beliau adalah teladan sempurna dalam segala hal. Allah telah membentuknya dalam rupa yang paling indah, mempercantik lahir dan batinnya, serta mendidiknya dengan penuh perhatian—baik sebelum kenabian maupun sesudahnya. Kemudian curahan wahyu dan pancaran kenabian terus mengalir hingga ia menjadi contoh tertinggi dalam setiap aspek, sehingga ia layak menerima pujian Allah:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)


Manusia Sempurna di Tengah Para Manusia Mulia

Kita tidak mengingkari bahwa dalam sejarah umat manusia—khususnya para pilihan, yaitu para nabi dan rasul—telah lahir orang-orang utama yang memiliki akhlak dan agama, pemberi petunjuk dan pembaharu, ilmuwan dan bijakbestari, pembuat undang-undang dan ahli fikih, raja-raja dan khalifah yang memenuhi dunia dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi kezaliman. Juga ada orang-orang yang setia dan amanah, tidak khianat; pemimpin yang agung, politisi jenius, panglima yang pemberani, pahlawan yang tidak takut mati. Umat manusia tidak pernah kosong dari sosok-sosok seperti mereka di setiap zaman.

Namun, yang perlu kita perhatikan adalah: tidak ada satu pun manusia yang mengumpulkan seluruh sifat dan keistimewaan ini seperti yang terkumpul pada Nabi Muhammad ﷺ. Hampir tidak kita kenal seorang pun yang disempurnakan Allah dengan setiap kebajikan dan disucikan dari setiap kehinaan seperti yang kita kenal pada Rasulullah Muhammad ﷺ.


Keseimbangan Sempurna: Tidak Ada Sifat yang Mendominasi

Yang mengagumkan bukan hanya terkumpulnya sifat-sifat mulia dalam diri beliau, tetapi keseimbangan sempurna di antara semua sifat itu. Tidak ada satu sifat pun yang mendominasi sehingga hampir menghapus sifat lainnya. Tidak ada akhlak yang melampaui akhlak lain hingga menenggelamkan ciri-cirinya. Semuanya ditimbang dengan neraca adil yang tidak pernah keliru, dihitung dengan hitungan teliti yang tidak pernah sesat.

Dalam diri beliau terpadu:

  • Petunjuk dalam kebijaksanaan

  • Ilmu dalam pemahaman mendalam

  • Kasih sayang tanpa kelemahan

  • Keadilan tanpa kekerasan

  • Ketegasan dalam kelembutan

  • Kekerasan (dalam kebenaran) dalam rahmat

  • Marah karena Allah tanpa kezaliman dan kesewenang-wenangan

  • Dermawan tanpa berlebihan

  • Teliti tanpa bertele-tele

  • Lembut tanpa merugikan

  • Akal yang besar di dalam hati yang lapang

  • Serius tanpa gurauan berlebihan

  • Bercanda tanpa kebatilan

  • Kefasihan dalam retorika

  • Kata-kata yang ringkas namun sarat hikmah

  • Kejantanan dalam kemuliaan

  • Keperkasaan dalam kesucian

Tidak ada celah bagi orang yang adil untuk mencela akhlaknya atau menjelekkan perilakunya. Makna inilah yang tidak kita temukan pada manusia mana pun. Inilah rahasia keajaiban akhlak Nabi agung ini—manusia agung ini.


Keutamaan: Titik Tengah antara Dua Keburukan

Para bijakbestari mengatakan: Keutamaan (al-fadhilah) adalah titik tengah antara dua keburukan. Keberanian adalah titik tengah antara pengecut dan nekat. Kesederhanaan dalam membelanjakan harta adalah titik tengah antara kikir dan boros. Keadilan adalah titik tengah antara aniaya dan melampaui batas, serta antara mengurangi hak dan meremehkan. Kesucian adalah titik tengah antara melanggar kehormatan orang lain dan menahan diri dari kenikmatan yang halal. Kebijaksanaan adalah titik tengah antara berlebihan dalam menggunakan akal dan kelalaian.

Keutamaan adalah perkara yang disepakati oleh akal sehat, tidak berbeda karena perbedaan orang atau zaman. Keutamaan tidak bisa menjadi keburukan, dan tidak bisa menjadi keutamaan di satu sisi dan keburukan di sisi lain—kecuali bagi kaum sofis (seperti eksistensialis modern) yang menundukkan kebenaran dan keutamaan pada hawa nafsu mereka.

Manusia berbeda derajatnya sesuai dengan kadar keutamaan dan akhlak mulia yang mereka miliki. Keutamaan tidak khusus untuk kelompok tertentu atau bangsa tertentu, melainkan tersebar di antara manusia. Setiap orang mengambilnya sesuai fitrah, potensi, pendidikan, dan lingkungannya. Namun, keutamaan manusiawi ini terdapat dalam bentuk paling sempurna dan paling utuh pada diri para nabi dan rasul Allah. Allah memfitrahkan mereka dengan sifat-sifat terbaik dan budi pekerti paling luhur.


Perbandingan Antara Para Nabi: Hikmah di Balik Perbedaan

Meskipun demikian, sebagian sifat ini ada yang lebih sempurna pada seorang nabi dibandingkan nabi lainnya. Maka sifat-sifat yang mencapai puncak kesempurnaan ini menjadi semacam kekhususan bagi masing-masing nabi. Kelembutan dan toleransi pada Ibrahim dan Isa lebih menonjol dibandingkan pada Nuh dan Musa. Ketegasan dan pemberian hukuman pada Nuh dan Musa lebih besar daripada pada Ibrahim dan Isa—semoga salawat dan salam tercurah kepada mereka semua.

Demikian pula di kalangan orang-orang utama dari kalangan sahabat para nabi, terutama para sahabat junjungan kita Muhammad ﷺ. Ada yang dominan sifatnya: kelembutan, rahmat, dan kasih sayang pada Abu Bakar ash-Shiddiq. Ketegasan dan kekerasan dalam kebenaran (meskipun terhadap orang yang paling dicintai) pada Umar bin al-Khaththab. Rasa malu yang berlebihan (hingga mengorbankan hak sendiri) pada Utsman bin Affan. Keberanian, keterusterangan dalam kebenaran tanpa basa-basi (meskipun dalam urusan kekhalifahan) pada Ali bin Abi Thalib. Kelicikan (diplomasi) dan kemampuan merebut hati pada Muawiyah bin Abi Sufyan.

Bukan berarti mereka tidak memiliki sifat-sifat lainnya. Abu Bakar yang dominan lembut, ketika Rasulullah wafat dan sebagian Arab murtad, ia menjadi lebih berani dari keberanian itu sendiri, lebih tegas dari ketegasan dalam memerangi mereka—hingga ia berkata kepada Umar yang menentang perang melawan orang-orang yang enggan membayar zakat: “Apakah engkau di masa jahiliah seorang yang keras, tetapi di masa Islam menjadi lemah?”

Umar yang terkenal keras, jika ada seorang wanita menegurnya dan menasihatinya untuk bertakwa kepada Allah, ia akan merendah dan menangis hingga janggutnya basah—seperti kisahnya dengan Khaulah binti Tsa'labah dan wanita Badui yang memberi makan anak-anaknya yang kelaparan hingga tertidur.

Manusia memiliki tabiat, watak, dan fitrah yang berbeda-beda. Semuanya kembali kepada Allah. Mahasuci Dia, nama-nama-Nya suci, sifat-sifat-Nya penuh berkah, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, kebijaksanaan-Nya agung. Akal budi, setinggi apa pun, tidak mampu menangkap hakikat dan rahasia-Nya.


Teladan dari Perang Badar: Hikmah di Balik Dua Pendapat

Setelah Perang Badar, Rasulullah ﷺ bermusyawarah dengan para sahabat tentang para tawanan. Abu Bakar berpendapat agar mereka ditebus dengan tebusan, semoga Allah memberi petunjuk kepada mereka atau melahirkan dari keturunan mereka orang yang akan menolong agama Allah. Umar berpendapat agar mereka dibunuh dan tidak menerima tebusan.

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

“إِنَّ اللَّهَ لَيُلِينُ قُلُوبَ رِجَالٍ فِيهَا حَتَّى تَكُونَ أَلْيَنَ مِنَ اللَّبَنِ، وَإِنَّ اللَّهَ لَيُشَدِّدُ قُلُوبَ رِجَالٍ حَتَّى تَكُونَ أَشَدَّ مِنَ الْحِجَارَةِ. وَإِنَّ مَثَلَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ كَمَثَلِ إِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ: فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ. وَكَمَثَلِ عِيسَى إِذْ قَالَ: إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. وَإِنَّ مَثَلَكَ يَا عُمَرُ كَمَثَلِ نُوحٍ إِذْ قَالَ: رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا. وَكَمَثَلِ مُوسَى إِذْ قَالَ: رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَىٰ أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّىٰ يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ. أَنْتُمُ الْيَوْمَ عَالَةٌ، فَلَا يَفْلِتَنَّ أَحَدٌ إِلَّا بِفِدَاءٍ أَوْ ضَرْبَةِ عُنُقٍ”

Artinya: “Sesungguhnya Allah melunakkan hati sebagian manusia sehingga menjadi lebih lunak dari susu. Dan sesungguhnya Allah mengeraskan hati sebagian manusia sehingga menjadi lebih keras dari batu. Perumpamaanmu, wahai Abu Bakar, seperti Ibrahim ketika berkata: ‘Barang siapa mengikutiku, maka ia termasuk golonganku. Dan barang siapa mendurhakaiku, maka sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Dan seperti Isa ketika berkata: ‘Jika Engkau menyiksa mereka, maka mereka adalah hamba-hamba-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sungguh Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’ Perumpamaanmu, wahai Umar, seperti Nuh ketika berkata: ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di bumi.’ Dan seperti Musa ketika berkata: ‘Ya Tuhan kami, hancurkanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak akan beriman hingga mereka melihat siksa yang pedih.’ Kalian saat ini dalam keadaan lemah (butuh harta tebusan), maka jangan seorang pun dari mereka lolos kecuali dengan tebusan atau pukulan leher (dibunuh).”

Beliau memilih pendapat Abu Bakar saat itu. Inilah puncak keutamaan manusiawi yang mencapai puncaknya pada diri Nabi Muhammad ﷺ.


Doa di Thaif: Ketika Rahmat Mengalahkan Amarah

Mari kita bandingkan antara ucapan Nabi Nuh dan Musa (yang memohon kebinasaan bagi kaum kafir) dengan sikap Nabi Muhammad ﷺ di Thaif.

Rasulullah ﷺ pergi ke Thaif menyeru penduduknya kepada Islam, namun mereka menolak. Bahkan mereka menghasut anak-anak kecil dan orang-orang jahat untuk melempari beliau dengan batu. Zaid bin Haritsah (sahabat dan budak beliau) berusaha melindungi, tetapi apa daya ia seorang diri. Tubuh Rasulullah ﷺ terluka, kedua tumitnya berdarah. Darah mulia itu mengalir di tanah Thaif sebagai saksi salah satu bentuk perjuangan demi akidah. Mereka memaksanya masuk ke kebun milik dua orang (Utbah dan Syaibah bin Rabi'ah).

Setelah beristirahat sebentar, beliau berdoa dengan doa yang terkenal, dan mengakhirinya dengan:

“إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ عَلَيَّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي”
Artinya: “Jika tidak ada kemarahan-Mu kepadaku, maka aku tidak peduli.”

Luka, sakit, dan kesulitan semua menjadi ringan selama itu membawa ridha Allah dan selamat dari murka-Nya.

Beliau kembali dalam keadaan luka, patah hati, dan sedih. Di Qarn al-Tsa'lib (sebuah tempat), Malaikat Gunung datang dan berkata:

“Aku diutus oleh Allah kepadamu. Jika engkau mau, aku akan menjatuhkan dua gunung (yang mengapit Mekah) kepada mereka.”

Ini adalah kesempatan emas untuk membalas orang-orang yang menyakiti dan menumpahkan darahnya, hingga mereka binasa seperti orang-orang kafir terdahulu. Jika mereka binasa, masih tersisa orang lain yang akan menolong dakwah dan menegakkan Islam.

Tetapi apakah hal ini pantas bagi seorang manusia biasa, setinggi apa pun kesempurnaan akal dan akhlaknya? Namun, itu tidak pantas bagi akal Nabi Muhammad ﷺ, tidak pantas bagi akhlak beliau, dan tidak pantas bagi perkataan beliau—sosok yang keutamaan manusiawinya mencapai puncak kesempurnaan.

Malaikat Gunung menunggu jawaban. Rasulullah ﷺ tidak perlu berpikir panjang, karena ini sejalan dengan fitrah yang Allah ciptakan pada dirinya, akhlak yang melekat padanya, yang menjadikannya pemimpin seluruh anak Adam. Beliau bersabda:

“لَا، بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَاحِدًا لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا”
Artinya: “Tidak. Aku berharap Allah akan mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”

Malaikat Gunung tercengang mendengar jawaban itu, lalu berkata: “Engkau—sebagaimana Tuhanmu menamaimu—adalah ar-Ra'uf ar-Rahim (Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).” Benar, demi Allah, sungguh benar siapa yang menamainya demikian, dan siapa yang menyapanya dengan seruan mulia yang istimewa:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ


Kisah Nabi Musa: Perbedaan antara Manusia dan Nabi yang Sempurna

Nabi Musa masuk ke sebuah kota di Mesir, mendapati dua orang laki-laki berkelahi. Satu dari Bani Israel (pengikutnya), satu dari Qibthi (musuhnya). Orang Israel meminta tolong kepada Musa melawan orang Qibthi itu. Musa meninju orang Qibthi itu dengan tangannya, dan ia pun mati. Musa tidak bermaksud membunuhnya, hanya ingin memukulnya. Namun terkadang seseorang berniat sesuatu tetapi terjadi sebaliknya. Musa menyesali perbuatannya dan bertobat kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh, serta bertekad tidak akan mengulangi. Ia berjanji kepada Allah untuk tidak akan pernah membantu seorang pun yang melakukan kejahatan (kekafiran dan maksiat).

Meskipun pukulan yang mengakibatkan kematian itu bukanlah dosa, hanya keutamaan yang ditinggalkan (khilaf awla). Seharusnya ia lebih berhati-hati sebelum memukul, atau memisahkan mereka tanpa pukulan. Namun Musa menganggapnya sebagai dosa dan memohon ampun karena kedudukannya yang tinggi. Ada yang mengatakan peristiwa itu terjadi sebelum kenabian, termasuk dosa kecil yang tidak mustahil bagi para nabi. Ini yang tampak dari perkataan Musa sebagaimana diabadikan Allah:

فَفَرَرْتُ مِنْكُمْ لَمَّا خِفْتُكُمْ فَوَهَبَ لِي رَبِّي حُكْمًا وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُرْسَلِينَ
Artinya: “Maka aku lari dari kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku menganugerahkan kepadaku ilmu (kenabian) dan menjadikanku sebagai salah seorang rasul.” (QS. Asy-Syu'ara': 21)

Bagaimanapun, kejadian ini dan lainnya yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits shahih menunjukkan bahwa para nabi adalah manusia, dan kesempurnaan mutlak hanya milik Allah semata. Dan karena pengetahuan mereka yang mendalam tentang Allah dan kedekatan mereka kepada-Nya, mereka menganggap sesuatu yang tidak besar itu sebagai hal yang besar dalam diri mereka, menganggapnya sebagai dosa yang mereka minta ampun, padahal hakikatnya bukan dosa.


Sa'ad bin Ubaidah dan Permohonan Maaf untuk Suhail bin Amr

Adapun Nabi Muhammad ﷺ, ketika Umar bin al-Khaththab meminta izin untuk mencabut gigi seri Suhail bin Amr (salah satu tawanan Badar) hingga lidahnya terjulur, agar tidak lagi berpidato melawan Nabi dan dakwahnya. Apa jawaban beliau yang maha pengasih dan maha penyayang?

“لَا أُمَثِّلُ فَيُمَثِّلُ اللَّهُ بِي وَلَوْ كُنْتُ نَبِيًّا”
Artinya: “Jangan. Aku tidak akan melakukan mutilasi, nanti Allah akan memutilasi (membalas) aku, meskipun aku seorang nabi.”

Betapa luhurnya rahmat, betapa agungnya kemanusiaan! Bahkan beliau menyemangati Umar untuk memaafkannya dan tidak menyakitinya, seraya bersabda: “وَعَسَى أَنْ يَقُومَ مَقَامًا لَا تَذُمُّهُ” (Semoga ia akan berdiri di suatu posisi yang tidak tercela). Benarlah, Suhail kelak setelah perang Riddah (kemurtadan) berdiri dengan posisi terpuji, disanjung orang, dan diabadikan sejarah.


Umar bin al-Khaththab: Ketika Zahid Menangis, Rasulullah Tersenyum

Umar terkenal dengan kezuhudannya hingga menjadi perumpamaan. Ia selalu memakai pakaian bertambal, tidur di atas kerikil dan tanah, membuat batu bata sendiri, mengobati unta sedekah dengan ter sendiri, hidup sederhana dengan minyak dan roti kering. Ia mengharamkan dirinya makan mentega di tahun kemarau hingga perutnya keroncongan dan kulitnya berubah, namun ia tidak peduli.

Suatu hari, Umar yang zuhud ini menemui Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang berpisah dari para istrinya karena mereka merengek. Beliau berada di sebuah kamar kecil (masyrabah) yang dinaiki dengan tangga. Umar meminta izin melalui seorang budak bernama Rabah. Karena lambat, Umar berkata: “Aku kira Rasulullah ﷺ menyangka aku datang karena urusan Hafshah (putriku). Demi Allah, jika beliau memerintahku untuk memenggal lehernya, sungguh akan kupenggal!” Rabah memberi isyarat izin.

Umar masuk. Ia melihat Rasulullah ﷺ di atas tikar yang membekas di lambung beliau, di bawah kepalanya bantal kulit berisi serabut, di ruangan tergantung kulit-kulit mentah dan beberapa genggam gandum. Umar pun menangis.

Rasulullah ﷺ bertanya: “مَا يُبْكِيكَ يَا عُمَرُ؟” (Apa yang membuatmu menangis, wahai Umar?)

Umar menjawab, “Aku ingat Kisra dan Kaisar, apa yang mereka nikmati dari kesenangan dunia, dan aku lihat apa yang ada di ruangan ini.”

Perhatikan: Umar—sosok zuhud—menangis melihat kesederhanaan Rasulullah ﷺ. Andai yang menangis orang lain, mungkin biasa saja. Tapi karena ini Umar, inilah pelajaran berharga.

Lalu apa jawaban Rasulullah ﷺ? Apakah beliau ikut menangis? Atau diam dengan jengkel? Jika beliau melakukan itu, paling-paling beliau seorang jenius atau reformis. Namun beliau lebih dari itu: beliau adalah nabi dengan kesempurnaan kenabian yang mencapai puncak keutamaan manusiawi. Inilah jawaban kenabian yang sempurna:

“يَا عُمَرُ، أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ؟ أُولَٰئِكَ قَوْمٌ عُجِّلَتْ لَهُمْ طَيِّبَاتُهُمْ فِي حَيَاتِهِمُ الدُّنْيَا”
Artinya: “Wahai Umar, tidakkah engkau ridha bahwa bagi mereka (orang-orang kafir) adalah dunia, dan bagi kita akhirat? Mereka adalah kaum yang disegerakan kesenangan mereka di kehidupan dunia.”

Umar yang zuhud dan sederhana itu terdiam, takjub. Ia semakin yakin bahwa Muhammad benar-benar utusan Allah, setelah mendapat pelajaran tentang zuhud yang heroik—atau jika engkau mau, kepahlawanan dalam kezuhudan.


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Haji Wada' (2)

Menghitung Jejak Perjuangan: Berapa Kali Rasulullah ﷺ Berperang?

Detik-Detik Duka: Wafatnya Rasulullah dan Lahirnya Kepemimpinan Abu Bakar