Penaklukan di Wilayah Syam
B - Penaklukan di Wilayah Syam
Tahap Pertama:
Upaya Ash-Shiddiq r.a. dalam penaklukan wilayah Syam
merepresentasikan tahap pertama dari rencana penaklukan di garis depan bagian
barat, yang meliputi wilayah Syam, Mesir, dan Afrika pada masa pemerintahan
Khulafaur Rasyidin. Berikut adalah perinciannya:
Motivasi Penaklukan:
Tahun ketiga belas Hijriah dimulai dengan tekad Ash-Shiddiq
untuk mengumpulkan pasukan guna dikirim ke Syam, yaitu setelah kepulangannya
dari ibadah haji. Hal ini dilakukan sesuai dengan firman Allah Ta'ala:
﴿يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُم
مِّنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ
الْمُتَّقِينَ﴾
"Wahai orang-orang yang beriman, perangilah
orang-orang kafir yang di sekitar kalian itu, dan hendaklah mereka menemui
kekerasan darimu, dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang
bertakwa." (At-Taubah: 123)
Dan firman Allah Ta'ala:
﴿قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ
الْآخِرِ﴾
"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada
Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian." (At-Taubah: 29)
Serta mengikuti teladan Rasulullah ﷺ yang pernah mengumpulkan kaum Muslimin
untuk memerangi Syam pada tahun Tabuk, hingga beliau mencapainya dalam kondisi
panas yang sangat terik dan penuh kesulitan sebelum akhirnya kembali pada tahun
itu. Kemudian, sebelum wafatnya, beliau mengutus budaknya, Usamah bin Zaid,
untuk memerangi perbatasan Syam.
Oleh karena itu, ketika Ash-Shiddiq telah selesai dengan
urusan Jazirah Arab, beliau mengalihkan perhatiannya ke Irak dengan mengutus
Khalid bin Walid. Kemudian, beliau ingin mengutus pasukan ke Syam sebagaimana
telah mengutus ke Irak, sehingga mulailah beliau mengumpulkan para pemimpin
dari berbagai penjuru Jazirah Arab.
Beliau sebelumnya telah menugaskan Amr bin al-Ash untuk
mengurusi zakat kabilah Quda'ah, dengan didampingi oleh Al-Walid bin Uqbah.
Maka beliau menulis surat kepadanya untuk mengajaknya berangkat ke Syam:
"Sesungguhnya aku telah mengembalikanmu pada pekerjaan yang pernah
ditugaskan oleh Rasulullah ﷺ
sekali waktu, dan yang pernah beliau sebutkan untukmu di waktu lain. Aku ingin
membebaskanmu, wahai Abu Abdillah, untuk tugas yang lebih baik bagi kehidupanmu
dan hari akhirmu daripada tugas saat ini, kecuali jika tugas yang engkau pegang
sekarang lebih engkau sukai".
Lalu Amr bin al-Ash membalas surat tersebut:
"Sesungguhnya aku adalah salah satu anak panah Islam, dan engkau adalah
hamba Allah yang memanahnya dan yang mengumpulkannya. Maka lihatlah mana
sasaran yang paling kuat dan paling menakutkan, lalu bidikkanlah aku ke
sana".
Beliau juga menulis surat yang sama kepada Al-Walid bin
Uqbah, dan mendapatkan jawaban serupa. Keduanya pun datang ke Madinah setelah
menunjuk pengganti untuk pekerjaan mereka sebelumnya.
Pidato Ash-Shiddiq dalam Menganjurkan Jihad
Setelah terkumpul pasukan yang diinginkan oleh Ash-Shiddiq,
beliau berdiri memberikan pidato di hadapan orang-orang, memuji Allah
sebagaimana mestinya, kemudian menganjurkan orang-orang untuk berjihad. Beliau
bersabda: "Ketahuilah bahwa setiap perkara itu memiliki kelengkapan, maka
barang siapa yang memenuhinya, itu cukuplah baginya. Barang siapa yang beramal
karena Allah, maka Allah akan mencukupinya. Hendaklah kalian bersungguh-sungguh
dan bersikap pertengahan, karena sikap pertengahan itu lebih menyampaikan
tujuan. Ketahuilah bahwa tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki iman,
tidak ada pahala bagi orang yang tidak mengharap rida Allah, dan tidak ada amal
bagi orang yang tidak memiliki niat. Ketahuilah bahwa di dalam kitab Allah
terdapat pahala atas jihad di jalan Allah yang seharusnya diinginkan secara
khusus oleh seorang Muslim; itulah perdagangan yang telah Allah tunjukkan, yang
dapat menyelamatkanmu dari kehinaan dan menyambungkanmu dengan kemuliaan di
dunia dan akhirat".
Pengiriman Khalid bin Said
Khalid bin Said bin al-Ash telah datang menemui Ash-Shiddiq
dari Yaman. Ash-Shiddiq kemudian memberinya komando pasukan dan mengutusnya ke
Tayma.
Ibnu Jarir berkata: Ketika Khalid bin Said sampai di Tayma,
telah berkumpul untuk menghadapinya pasukan Romawi dalam jumlah besar yang
terdiri dari orang-orang Arab Nasrani dari kabilah Bahra', Tanukh, Bani Kalb,
Salih, Lakhm, Judzam, dan Ghassan. Khalid bin Said maju menghadapi mereka, dan
ketika ia sudah mendekat, mereka pun berpencar menjauh darinya.
Kemudian banyak dari mereka yang masuk Islam. Khalid pun
mengirim kabar kepada Ash-Shiddiq mengenai kemenangan tersebut, lalu
Ash-Shiddiq memerintahkannya untuk terus maju dan tidak mundur. Beliau
membantunya dengan mengirimkan Al-Walid bin Uqbah, Ikrimah bin Abi Jahl, dan
sekelompok lainnya. Khalid kemudian bergerak menuju dekat Aelia (Baitul Maqdis)
dan bertemu dengan seorang panglima Romawi bernama Bahan, lalu Khalid
mengalahkannya. Bahan melarikan diri ke Damaskus, dan Khalid bin Said
mengejarnya hingga sampai di Marj as-Saffar. Di sana, pasukan penjaga Bahan
mengepung mereka dan menutup jalan. Bahan menyerang dari Damaskus sehingga
Khalid bin Said melarikan diri hingga sampai ke Dhu al-Marwah. Pasukan Romawi
berhasil menguasai pasukannya kecuali mereka yang melarikan diri dengan kuda.
Namun Ikrimah bin Abi Jahl tetap bertahan, ia mundur sedikit dari Syam dan
tetap menjadi pelindung bagi mereka yang melarikan diri kepadanya.
Ash-Shiddiq marah atas perbuatan Khalid dan memerintahkannya
untuk tetap tinggal di Dhu al-Marwah sampai beliau memutuskan urusannya.
Penyerahan Panji dan Penamaan Para Pemimpin
Ash-Shiddiq mulai mengangkat para pemimpin serta menyerahkan
panji-panji dan bendera perang:
- Beliau
menyerahkan panji kepada Yazid bin Abi Sufyan bersama mayoritas
orang, yang di antaranya terdapat Suhail bin Amr dan tokoh-tokoh Makkah
lainnya. Beliau berjalan kaki bersamanya sambil memberi wasiat tentang apa
yang harus ia lakukan dalam perang dan bagaimana memperlakukan kaum
Muslimin bersamanya. Beliau menetapkan Damaskus sebagai tujuannya.
- Beliau
mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarrah untuk memimpin pasukan lain, dan
beliau berjalan kaki bersamanya untuk memberi wasiat, serta menetapkan
wilayah Homs untuknya.
- Beliau
mengutus Amr bin al-Ash bersama pasukan lain dan menempatkannya di
Palestina.
- Shurahbil
bin Hasana datang dari Irak dari sisi Khalid bin Walid, lalu beliau
mengangkatnya sebagai pemimpin pasukan dan mengutusnya ke Syam dengan
tujuan wilayah Yordania. Ketika ia melewati Khalid bin Said di Dhu
al-Marwah, ia mengambil mayoritas pengikut Khalid yang melarikan diri
bersamanya ke sana.
- Kemudian
berkumpul di hadapan Ash-Shiddiq sekelompok orang, lalu beliau mengangkat Muawiyah
bin Abi Sufyan sebagai pemimpin mereka dan mengutusnya untuk menyusul
saudaranya, Yazid bin Abi Sufyan. Ketika ia melewati Khalid bin Said, ia
membawa sisa-sisa orang yang masih ada di Dhu al-Marwah menuju Syam.
Setelah itu, Ash-Shiddiq mengizinkan Khalid bin Said untuk
masuk ke Madinah.
Rute Yazid bin Abi Sufyan melewati Tabuk, begitu pula Abu
Ubaidah dan Shurahbil bin Hasana. Adapun Amr bin al-Ash keluar melalui jalur
Al-Ma'rifah hingga berhenti di Ghamz al-Arabat. Sedangkan Abu Ubaidah berhenti
di Al-Jabiyah.
Ash-Shiddiq terus membantu mereka dengan mengirimkan pasukan
tambahan, dan memerintahkan setiap pasukan bantuan untuk bergabung dengan
pemimpin yang mereka sukai.
Pertempuran-Pertempuran Pertama di Wilayah Syam:
Dikatakan bahwa perang pertama yang terjadi di Syam adalah
menghadapi bangsa Romawi yang berkumpul di suatu tempat bernama Al-Araba di
tanah Palestina. Yazid bin Abi Sufyan mengutus Abu Umamah dalam satu ekspedisi
militer (sariyah), lalu ia membunuh mereka, mengambil harta rampasan,
serta membunuh seorang perwira tinggi (patriark) mereka.
Dikatakan pula bahwa Abu Ubaidah, ketika melewati tanah
Al-Balqa, memerangi mereka hingga mereka mengajak berdamai; dan itu adalah
perdamaian pertama yang terjadi di Syam.
Pertempuran Yarmuk
Pertempuran Yarmuk terjadi pada tahun ke-13 Hijriah sebelum
penaklukan Damaskus, sebagaimana disebutkan oleh Saif bin Umar dan diikuti oleh
Abu Ja'far bin Jarir rahimahullah.
Adapun Al-Hafiz Ibnu Asakir rahimahullah menukil dari
Yazid bin Abi Ubaidah, Al-Walid bin Muslim, Ibnu Lahi'ah, Al-Laits bin Sa'ad,
dan Abu Ma'syar, bahwa pertempuran tersebut terjadi pada tahun ke-15 Hijriah
setelah penaklukan Damaskus.
Muhammad bin Ishaq dan Khalifah bin Khayyat berkata:
"Pertempuran Yarmuk terjadi pada hari Senin, lima hari berlalu dari bulan
Rajab tahun ke-15 Hijriah."
Ibnu Asakir berkata: "Inilah yang terjaga (pendapat
yang kuat). Adapun apa yang dikatakan oleh Saif bahwa itu terjadi sebelum
penaklukan Damaskus pada tahun ke-13, maka pendapat itu tidak diikuti oleh yang
lain."
Berkumpulnya Bangsa Romawi dan Persiapan Mereka untuk
Pertempuran
Ibnu Katsir berkata: "Inilah penyebutan konteks menurut
Saif dan selainnya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan
lainnya."
Beliau berkata: Ketika pasukan Islam bergerak menuju Syam,
hal itu mengejutkan bangsa Romawi dan mereka merasa sangat ketakutan. Mereka
menulis surat kepada Heraklius untuk memberitahukan perihal tersebut. Dikatakan
bahwa saat itu Heraklius berada di Homs dan sedang melaksanakan ibadah (ziarah)
tahunan ke Baitul Maqdis.
Ketika berita itu sampai kepadanya, ia berkata kepada
mereka: "Celakalah kalian! Sesungguhnya mereka adalah pemeluk agama baru.
Tidak ada seorang pun yang mampu menghadapi mereka. Maka taatilah aku dan
berdamailah dengan mereka dengan memberikan setengah dari pajak (kharaj)
wilayah Syam, sehingga pegunungan Romawi tetap menjadi milik kalian. Jika
kalian menolak, mereka akan mengambil Syam dari kalian dan akan mempersempit
ruang gerak kalian di pegunungan Romawi."
Namun mereka mendengus (marah) seperti ringkikan keledai
liar, sebagaimana kebiasaan mereka. Saat itulah Heraklius berangkat ke Homs dan
memerintahkan keluarnya pasukan Romawi bersama para panglima. Untuk menghadapi
setiap panglima Muslim, dikirimkan satu pasukan yang sangat besar.
Heraklius mengutus saudaranya, Tadhariq, dengan 90.000
pasukan tempur untuk menghadapi Amr bin al-Ash. Ia mengutus Jurjah bin Tudzara
menuju Yazid bin Abi Sufyan, lalu ia berkemah di hadapannya dengan 50.000 atau
60.000 pasukan. Ia mengutus Ad-Diraqis untuk menghadapi Shurahbil bin Hasana.
Ia juga mengutus Al-Faiqar—ada yang menyebutnya Al-Qaiqalan bin Nastus, seorang
kasim kepercayaan Heraklius—bersama 60.000 pasukan untuk menghadapi Abu Ubaidah
bin al-Jarrah.
Bangsa Romawi berkata: "Demi Allah, kami akan membuat
Abu Bakar terlalu sibuk untuk mengirimkan pasukan kudanya ke tanah kami."
Seluruh pasukan Muslim saat itu berjumlah 21.000 orang,
selain pasukan yang bersama Ikrimah bin Abi Jahl—yang berjumlah 6.000 orang dan
berjaga di perbatasan Syam untuk membantu pasukan utama. Para panglima kemudian
menulis surat kepada Abu Bakar untuk memberitahukan perkara besar yang terjadi
ini. Abu Bakar membalas surat mereka: "Berkumpullah kalian dan jadilah
satu pasukan, lalu hadapilah pasukan kaum musyrik. Kalian adalah
penolong-penolong Allah, dan Allah pasti menolong siapa yang menolong-Nya,
serta menghinakan siapa yang kufur kepada-Nya. Pasukan seperti kalian tidak
akan dikalahkan karena jumlah yang sedikit, tetapi waspadalah terhadap
dosa-dosa. Hendaklah setiap orang dari kalian memimpin para sahabatnya."
Ketika Heraklius mengetahui perintah Ash-Shiddiq kepada para
panglimanya untuk berkumpul, ia juga memerintahkan para panglimanya untuk
berkumpul dan menempatkan pasukan di tempat yang luas lapangannya namun sempit
jalan keluarnya. Ia menunjuk saudaranya, Tadhariq, sebagai pemimpin umum,
Jurjah di bagian depan, Bahan dan Ad-Diraqis di kedua sayap pasukan, serta
Al-Faiqar sebagai penanggung jawab peperangan.
Saif berkata: Pasukan Romawi bergerak hingga mereka berhenti
di Al-Waqusah dekat Yarmuk, dan lembah di sana menjadi seperti parit bagi
mereka.
Perjalanan Khalid dari Irak ke Syam
Para sahabat mengirim surat kepada Ash-Shiddiq untuk meminta
bantuan dan memberitahu beliau tentang berkumpulnya pasukan Romawi di Yarmuk.
Maka pada saat itu, Ash-Shiddiq menulis surat kepada Khalid bin Walid agar
menunjuk wakil di Irak dan segera berangkat membawa pasukannya menuju Syam.
Jika ia telah sampai kepada mereka, maka ia menjadi panglima atas mereka semua.
Khalid pun menunjuk Al-Muthanna bin Harithah sebagai wakil di Irak, lalu ia
segera berangkat dengan 9.500 pasukan. Pemandu jalannya adalah Rafi' bin
'Amirah Ath-Tha'i.
Rafi' membawanya melalui as-Samawa hingga sampai ke Qaraqir.
Ia menempuh jalur yang belum pernah dilalui oleh siapa pun sebelumnya. Ia
membelah gurun dan padang pasir yang tandus, menyeberangi lembah-lembah,
mendaki gunung-gunung, dan berjalan melalui jalur yang tidak biasa. Rafi' terus
memandu mereka di tengah padang pasir yang sangat gersang.
Dalam perjalanan itu, mereka membuat unta-unta kehausan
terlebih dahulu lalu memberinya minum sebanyak-banyaknya hingga perut unta
penuh dengan air. Kemudian mereka memotong bibir unta dan menyumbatnya agar
unta tidak memamah biak. Unta-unta itu dibawa serta, dan ketika mereka
kehabisan air, mereka menyembelih unta tersebut dan meminum air yang ada di
dalam perutnya. Ada yang mengatakan bahwa mereka memberikan air itu untuk kuda
dan mereka meminum air yang dibawa unta serta memakan dagingnya.
Maka sampailah mereka—segala puji dan karunia bagi Allah—di
wilayah Suwa dalam waktu lima hari. Khalid muncul di hadapan bangsa Romawi dari
arah Palmyra (Tadmur). Ia mengadakan perdamaian dengan penduduk Tadmur dan
Arakah. Ketika melewati Adzra', ia menaklukkannya dan memperoleh harta rampasan
yang sangat banyak milik kabilah Ghassan.
Khalid keluar dari arah timur Damaskus, lalu berjalan hingga
sampai di Qanat Busra. Penguasanya mengadakan perdamaian dan menyerahkan kota
itu kepadanya. Maka Busra menjadi kota pertama yang ditaklukkan di wilayah
Syam.
Khalid mengirimkan seperlima dari harta rampasan yang
diperoleh dari kabilah Ghassan bersama Bilal bin al-Harits al-Muzani kepada
Ash-Shiddiq.
Salah seorang Muslim berkata mengenai perjalanan mereka
bersama Khalid:
لِلّٰهِ
عَيْنَا رَافِعٍ أَنَّىٰ اهْتَدَىٰ *** فَوَّزَ مِنْ قَرَاقِرٍ إِلَىٰ سُوَىٰ
خِمْسًا
إِذَا مَا سَارَهُ الْجَيْشُ بَكَىٰ *** مَا سَارَهَا قَبْلَكَ إِنْسِيٌّ يَرَىٰ
"Betapa hebatnya penglihatan Rafi', bagaimana ia
bisa menemukan jalan, ia menyeberangi padang pasir dari Qaraqir ke Suwa."
"Perjalanan lima hari yang jika dilakukan oleh
pasukan biasa niscaya akan menangis, tidak pernah ada manusia sebelummu yang
pernah melihat (menempuh) jalur tersebut."
Ada seorang Arab yang berkata kepadanya dalam perjalanan
ini: "Jika engkau sampai di pohon fulan (pohon tertentu) pada waktu pagi,
maka engkau dan orang-orang bersamamu akan selamat. Namun jika engkau tidak
mencapainya, maka engkau dan orang-orang bersamamu akan binasa." Maka
Khalid bersama pasukannya berjalan cepat dan melakukan perjalanan malam yang
luar biasa hingga sampai di sana pada waktu pagi. Khalid berkata di waktu pagi
tersebut:
«عِنْدَ
الصَّبَاحِ يَحْمَدُ الْقَوْمُ السُّرَىٰ»
"Pada waktu pagi, kaum (musafir) akan memuji
perjalanan malam."
Beliau menjadikannya sebuah peribahasa, dan beliaulah orang
pertama yang mengucapkannya.
Berkumpulnya Jajaran Pasukan Islam dan Persiapan Pertempuran
Kini bangsa Romawi telah berkumpul bersama para panglima
mereka di Al-Waqusah. Para sahabat kemudian berpindah dari tempat asal mereka
dan berhenti di dekat posisi Romawi, di satu-satunya jalan yang harus dilalui.
Amr bin al-Ash berkata: "Bergembiralah wahai manusia, demi Allah, bangsa
Romawi telah terkepung, dan jarang sekali pihak yang terkepung membawa
kebaikan."
Dikatakan bahwa ketika para sahabat berkumpul untuk
bermusyawarah mengenai cara perjalanan menuju Romawi, para pemimpin duduk untuk
urusan tersebut. Lalu Abu Sufyan datang dan berkata: "Aku tidak menyangka
akan diberi umur panjang hingga aku menjumpai suatu kaum yang berkumpul untuk
perang, sementara aku tidak hadir bersama mereka".
Kemudian ia menyarankan agar pasukan dibagi menjadi tiga
bagian: sepertiga berjalan di depan dan berhenti menghadapi Romawi, sepertiga
lagi membawa perbekalan dan keluarga, dan Khalid tertinggal bersama sepertiga
terakhir. Sehingga ketika perbekalan sampai ke bagian pertama, Khalid berjalan
mengikuti mereka dan mereka berhenti di suatu tempat di mana padang pasir
berada di belakang mereka agar bantuan dan pasokan dapat sampai kepada mereka. Mereka
pun melaksanakan saran tersebut, dan itu adalah pendapat yang sangat baik.
Bahan datang membawa bantuan untuk Romawi bersama para
pendeta, diakon, dan rahib yang menyemangati dan menghasut mereka untuk
berperang demi membela agama Nasrani. Pasukan Romawi menjadi lengkap sebanyak
dua ratus empat puluh ribu orang: delapan puluh ribu orang terikat rantai besi
dan tali, delapan puluh ribu pasukan berkuda, dan delapan puluh ribu pasukan
pejalan kaki.
Ketika mereka telah berhadapan dengan musuh pada awal bulan
Jumadil Akhir, Khalid bin Walid berdiri berpidato di hadapan orang-orang. Ia
memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu berkata: "Sesungguhnya ini adalah
salah satu hari di antara hari-hari Allah. Tidak selayaknya di dalamnya ada
rasa bangga maupun kezaliman. Ikhlaskanlah jihad kalian dan tujukanlah amal
kalian kepada Allah. Sesungguhnya hari ini menentukan hari-hari sesudahnya.
Jika kita memukul mereka mundur hari ini ke parit mereka, maka kalian akan
terus memukul mereka mundur. Namun jika mereka mengalahkan kita, kita tidak
akan pernah beruntung setelahnya".
Mobilisasi Militer
Pasukan Romawi keluar dalam formasi yang belum pernah
terlihat sebelumnya, dan Khalid keluar dalam formasi yang belum pernah disusun
oleh bangsa Arab sebelumnya. Ia keluar dengan tiga puluh enam kardus
(batalyon), setiap batalyon terdiri dari seribu orang. Ia menempatkan Abu
Ubaidah di jantung pertahanan (tengah), Amr bin Al-Aas di sayap kanan bersama
Syurahbil bin Hasanah, dan Yazid bin Abu Sufyan di sayap kiri.
Ia mengangkat seorang pemimpin untuk setiap batalyon. Qubath
bin Asyam memimpin pasukan perintis (thala'i'), Abdullah bin Mas'ud
memimpin urusan harta rampasan, dan hakim pada saat itu adalah Abu Darda. Yang
bertugas memberikan nasihat dan mendorong mereka untuk berperang adalah Abu
Sufyan bin Harb, sedangkan pembaca Al-Qur'an yang berkeliling di antara
orang-orang membacakan surat Al-Anfal dan ayat-ayat jihad adalah Al-Miqdad bin
Al-Aswad.
Ketika pasukan Romawi datang dengan kesombongan dan
kebanggaannya, memenuhi daratan tersebut baik yang landai maupun yang sulit
seolah-olah mereka adalah awan hitam, mereka berteriak dengan suara keras
sementara para rahib mereka membacakan Injil dan menyemangati mereka untuk
berperang. Khalid memacu kudanya menuju Abu Ubaidah dan berkata kepadanya:
"Sesungguhnya aku ingin menyarankan suatu hal". Abu Ubaidah menjawab:
"Katakanlah apa yang diperintahkan Allah, aku akan mendengar dan
menaatimu".
Khalid berkata kepadanya: "Kaum ini pasti akan
melakukan serangan besar yang tidak bisa mereka hindari. Aku khawatir pada
sayap kanan dan sayap kiri. Aku berpendapat untuk membagi pasukan berkuda
menjadi dua bagian dan menempatkannya di belakang sayap kanan dan sayap kiri.
Jika mereka menyerang, pasukan berkuda ini akan menjadi pelindung bagi mereka,
lalu kita datangi mereka dari belakang".
Abu Ubaidah menjawab: "Sungguh baik apa yang engkau
lihat (pendapatmu)". Maka Khalid berada di salah satu kelompok berkuda di
belakang sayap kanan, dan ia menempatkan Qais bin Hubairah di kelompok berkuda
lainnya. Ia memerintahkan Abu Ubaidah untuk mundur dari pusat pasukan ke
belakang seluruh pasukan, agar jika ada orang yang melarikan diri melihatnya,
dia akan merasa malu dan kembali berperang. Abu Ubaidah menempatkan Sa'id bin
Zaid—salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga—di posisinya di pusat
pasukan.
Khalid memacu kudanya menuju para wanita di belakang pasukan
yang membawa belati dan tongkat, lalu berkata kepada mereka: "Siapa pun
yang kalian lihat melarikan diri, maka bunuhlah dia". Kemudian ia kembali
ke posisinya—semoga Allah meridainya.
Mobilisasi Iman
Ketika kedua pasukan saling melihat dan para pendekar saling
bertanding, Abu Ubaidah menasihati kaum Muslimin, seraya berkata: "Wahai
hamba-hamba Allah, tolonglah Allah niscaya Dia akan menolong kalian dan
meneguhkan kedudukan kalian, karena janji Allah adalah benar. Wahai segenap
kaum Muslimin, bersabarlah, karena kesabaran adalah penyelamat dari kekufuran,
keridaan bagi Tuhan, dan penghapus aib. Janganlah kalian meninggalkan barisan
kalian, jangan melangkah satu langkah pun ke arah mereka, jangan memulai peperangan,
siapkanlah tombak-ombak, berlindunglah di balik perisai, dan tetaplah diam
kecuali berzikir kepada Allah dalam hati kalian, sampai aku memerintahkan
kalian, insya Allah Ta'ala".
Mu'adz bin Jabal keluar di hadapan orang-orang dan mulai
mengingatkan mereka seraya berkata: "Wahai ahli Al-Qur'an, para penjaga
Kitabullah, penolong petunjuk, dan kekasih kebenaran. Sesungguhnya rahmat Allah
tidak akan diraih dan surga-Nya tidak akan dimasuki hanya dengan angan-angan.
Allah tidak memberikan ampunan dan rahmat yang luas kecuali kepada orang yang
jujur lagi membenarkan. Tidakkah kalian mendengar firman Allah:
﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ
مِن قَبْلِهِمْ﴾ [النور: ٥٥]
Artinya: "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di
antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan
menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang
sebelum mereka berkuasa." (QS. An-Nur: 55)
"Maka malulah kalian kepada Tuhan kalian jika Dia
melihat kalian melarikan diri dari musuh kalian, padahal kalian berada dalam
genggaman-Nya, dan tidak ada tempat berlindung bagi kalian selain Dia, serta
tidak ada kemuliaan tanpa-Nya".
Amr bin Al-Aas berkata: "Wahai kaum Muslimin, tundukkan
pandangan, berlututlah, dan siapkan tombak. Jika mereka menyerang kalian,
tunggulah sampai mereka berada di ujung tombak, lalu seranglah mereka dengan
serangan singa. Demi Dzat yang rida terhadap kejujuran dan memberinya pahala,
serta benci terhadap kebohongan dan menghukumnya, serta membalas kebaikan
dengan kebaikan, sungguh aku telah mendengar bahwa kaum Muslimin akan
menaklukkannya kota demi kota dan istana demi istana. Maka janganlah kalian
gentar oleh kerumunan dan jumlah mereka. Jika kalian menghadapi mereka dengan
keteguhan, niscaya mereka akan berhamburan seperti anak burung puyuh".
Abu Sufyan berkata: "Wahai segenap kaum Muslimin,
kalian hari ini berada di negeri asing, jauh dari keluarga, jauh dari Khalifah
kaum Mukminin dan bala bantuan Muslimin. Demi Allah, kalian sedang berhadapan
dengan musuh yang banyak jumlahnya dan sangat keras dendamnya kepada kalian.
Kalian telah melukai mereka dalam diri mereka, anak-anak, istri-istri, harta,
dan tempat tinggal mereka. Demi Allah, tidak ada yang dapat menyelamatkan
kalian dari kaum ini, dan tidak ada yang dapat menyampaikan kalian pada keridaan
Allah esok hari kecuali kejujuran dalam pertempuran dan kesabaran di
tempat-tempat yang dibenci. Maka pertahankanlah diri kalian dengan pedang
kalian dan saling tolong-menolonglah, dan jadikanlah itu sebagai benteng".
Kemudian ia pergi menuju para wanita dan memberikan pesan kepada mereka.
Abu Hurairah juga menasihati orang-orang seraya berkata:
"Bersegeralah menuju bidadari yang bermata jeli dan bertetanggalah dengan
Tuhan kalian di surga yang penuh kenikmatan. Tidak ada tempat di mana kalian
lebih dicintai oleh Tuhan kalian daripada posisi seperti ini. Ingatlah,
sesungguhnya bagi orang-orang yang bersabar ada keutamaan bagi mereka".
Saif bin Umar berkata dengan sanad dari guru-gurunya: Dalam
kumpulan pasukan itu terdapat seribu orang sahabat, seratus di antaranya adalah
ahli Badr.
Abu Sufyan berdiri di depan setiap batalyon dan berkata:
"Allah, Allah! Sesungguhnya kalian adalah pembela Arab dan penolong Islam,
sedangkan mereka adalah pembela Romawi dan penolong kesyirikan. Ya Allah,
sesungguhnya ini adalah salah satu hari di antara hari-hari-Mu. Ya Allah,
turunkanlah pertolongan-Mu kepada hamba-hamba-Mu".
Seorang pria dari kalangan Nasrani Arab berkata kepada
Khalid bin Walid: "Betapa banyaknya orang Romawi dan betapa sedikitnya
kaum Muslimin!" Khalid menjawab: "Celaka engkau, apakah engkau
menakut-nakutiku dengan Romawi? Sesungguhnya pasukan menjadi banyak karena
kemenangan dan menjadi sedikit karena kekalahan, bukan karena jumlah prajurit. Demi
Allah, aku benar-benar berharap kuda pirangku (al-Asyqar) sembuh dari
lukanya dan jumlah mereka (Romawi) dilipatgandakan". Saat itu kudanya
sedang luka dan sakit akibat perjalanannya dari Irak.
Negosiasi Sebelum Pertempuran
Ketika kedua belah pihak sudah saling mendekat, Abu Ubaidah
dan Yazid bin Abu Sufyan maju menuju pasukan Romawi, didampingi oleh Dhirar bin
Al-Azwar, Al-Harits bin Hisyam, dan Abu Jandal bin Suhail. Mereka berseru:
"Kami ingin bertemu pemimpin kalian untuk berkumpul dengannya". Maka
mereka diizinkan masuk menemui Tadzariq, yang saat itu sedang duduk di tenda
sutra.
Para sahabat berkata: "Kami tidak menghalalkan masuk ke
dalamnya." Maka pemimpin itu memerintahkan untuk menghamparkan permadani
dari sutra, namun mereka berkata: "Kami juga tidak akan duduk di atas
ini". Akhirnya ia duduk bersama mereka di mana pun mereka mau, dan mereka
bernegosiasi mengenai perdamaian. Para sahabat kembali setelah mengajak mereka
kepada Allah 'Azza wa Jalla, namun hal itu tidak terlaksana.
Walid bin Muslim menyebutkan bahwa Bahan meminta Khalid
untuk menemuinya di antara dua barisan pasukan untuk membicarakan kepentingan
mereka. Bahan berkata: "Sesungguhnya kami telah mengetahui bahwa tidak ada
yang mengeluarkan kalian dari negeri kalian kecuali kesulitan dan
kelaparan..." "Kemarilah, aku akan memberikan kepada setiap orang
dari kalian sepuluh dinar, pakaian, dan makanan, lalu kalian kembali ke negeri
kalian. Dan jika tahun depan tiba, kami akan mengirimkan hal yang sama kepada
kalian".
Khalid menjawab: "Sesungguhnya bukan apa yang engkau
sebutkan yang mengeluarkan kami dari negeri kami. Akan tetapi, kami adalah kaum
yang gemar meminum darah, dan telah sampai berita kepada kami bahwa tidak ada
darah yang lebih lezat daripada darah orang Romawi, maka karena itulah kami
datang". Para pengikut Bahan berkata: "Demi Allah, ini adalah hal
yang belum pernah kami dengar diceritakan tentang orang Arab".
Dimulainya Pertempuran
Ketika persiapan telah sempurna dan negosiasi tidak
membuahkan hasil, Khalid maju menuju Ikrimah bin Abi Jahl dan Al-Qa'qa' bin
Amr—keduanya berada di sayap jantung pertahanan—untuk memulai pertempuran.
Mereka segera maju sambil melantunkan bait-bait penyemangat dan mengajak duel
satu lawan satu. Para pahlawan pun turun ke medan laga, mereka saling
menyerang, dan perang pun berkobar dengan hebatnya.
Sementara itu, Khalid berada bersama satu batalyon dari para
pelindung yang pemberani di barisan depan. Para pahlawan dari kedua belah pihak
saling menyerang di hadapannya, sementara ia mengamati dan mengirimkan perintah
kepada setiap kelompok sahabatnya mengenai tindakan yang harus mereka lakukan,
serta mengatur urusan perang dengan pengaturan yang paling sempurna.
Masuk Islamnya Salah Satu Pemimpin Romawi di Medan
Pertempuran
Jurjah, salah satu panglima besar Romawi, keluar dari
barisan dan memanggil Khalid bin Walid. Khalid pun mendatanginya hingga leher
kuda mereka saling bersilangan. Jurjah berkata: "Wahai Khalid, kabarkanlah
kepadaku dan jujurlah padaku, jangan membohongiku karena orang yang merdeka
tidak akan berbohong. Jangan pula menipuku karena orang yang mulia tidak akan
menipu orang yang memohon perlindungan demi Allah. Apakah Allah menurunkan
sebilah pedang dari langit kepada Nabi kalian, lalu ia memberikannya kepadamu
sehingga tidaklah engkau menghunuskannya kepada seseorang melainkan engkau akan
mengalahkannya?"
Khalid menjawab: "Tidak". Jurjah bertanya lagi:
"Lalu mengapa engkau dijuluki Pedang Allah (Saifullah)?"
Khalid menjelaskan: "Sesungguhnya Allah mengutus
Nabi-Nya kepada kami, beliau menyeru kami namun kami menjauh dan menjauh
darinya semua. Kemudian sebagian dari kami membenarkannya dan mengikutinya,
sedangkan sebagian lagi mendustakannya dan menjauhinya. Aku termasuk orang yang
mendustakannya dan menjauhinya. Kemudian Allah memegang hati dan ubun-ubun kami
sehingga Dia memberi kami hidayah melalui beliau dan kami membaiatnya. Lalu
beliau bersabda kepadaku:
«أَنْتَ
سَيْفٌ مِنْ سُيُوفِ اللَّهِ سَلَّهُ اللَّهُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ»
Artinya: "Engkau adalah sebilah pedang di antara
pedang-pedang Allah yang Allah hunuskan kepada orang-orang musyrik."
Beliau juga mendoakan kemenangan bagiku. Karena itulah aku
dijuluki Pedang Allah, dan aku adalah salah satu orang Muslim yang paling keras
terhadap orang-orang musyrik".
Jurjah bertanya: "Wahai Khalid, kepada apa kalian
menyeru?" Khalid menjawab: "Kepada kesaksian bahwa tidak ada tuhan
selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya, serta mengakui apa
yang beliau bawa dari sisi Allah 'Azza wa Jalla".
Jurjah bertanya: "Bagaimana bagi mereka yang tidak
memenuhi seruan kalian?" Khalid menjawab: "Maka membayar jizyah dan
kami melindungi mereka". Jurjah bertanya lagi: "Jika mereka tidak
memberikannya?" Khalid menjawab: "Kami umumkan perang kepadanya lalu
kami memeranginya".
Jurjah bertanya: "Bagaimana kedudukan orang yang
memenuhi seruan kalian dan masuk ke dalam urusan ini hari ini?" Khalid
menjawab: "Kedudukan kita adalah satu dalam apa yang Allah wajibkan atas
kita, baik yang mulia maupun yang rendah, yang awal maupun yang akhir".
Jurjah bertanya: "Apakah orang yang masuk Islam hari
ini akan mendapatkan pahala yang sama seperti kalian?" Khalid menjawab:
"Ya, bahkan lebih utama". Jurjah bertanya: "Bagaimana bisa ia
menyamai kalian padahal kalian telah mendahuluinya?" Khalid menjelaskan
bahwa mereka menerima Islam saat Nabi masih hidup dan menyaksikan mukjizat,
sedangkan orang yang masuk Islam sekarang melakukannya tanpa melihat keajaiban
tersebut secara langsung, maka jika ia masuk dengan niat yang benar, ia bisa
lebih utama.
Mendengar hal itu, Jurjah membalikkan perisainya dan condong
memihak kepada Khalid. Ia berkata: "Ajarkanlah aku Islam." Khalid
membawanya ke tendanya, menuangkan air untuknya agar ia mandi, kemudian shalat
dua rakaat bersamanya. Orang-orang Romawi menyerang seiring berbeloknya Jurjah
ke arah Khalid karena mereka mengira itu adalah bagian dari serangannya. Serangan
itu sempat menggeser posisi kaum Muslimin kecuali mereka yang bertahan kuat
seperti Ikrimah bin Abi Jahl dan Al-Harits bin Hisyam.
Potret Pengorbanan dan Kepahlawanan
Di antara mereka yang hadir di Yarmouk adalah Az-Zubair bin
Al-Awwam—salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga—dan ia adalah
sahabat yang paling utama di sana. Sekelompok pahlawan mendatanginya dan
berkata: "Tidakkah engkau menyerang, agar kami menyerang bersamamu?" Ia
berkata: "Sesungguhnya kalian tidak akan sanggup bertahan." Mereka
menjawab: "Tentu kami sanggup". Maka ia menyerang dan mereka pun ikut
menyerang. Namun ketika berhadapan dengan barisan musuh, mereka tertahan
sementara Az-Zubair terus maju menembus barisan Romawi hingga tembus ke sisi
lain dan kembali lagi ke rekan-rekannya. Ia melakukan hal itu dua kali dan pada
hari itu ia mendapatkan dua luka di bahunya.
Mu'adz bin Jabal setiap kali mendengar suara para pendeta
dan rahib, ia berdoa:
«اللَّهُمَّ
زَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَأَرْعِبْ قُلُوبَهُمْ، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا
السَّكِينَةَ، وَأَلْزِمْنَا كَلِمَةَ التَّقْوَى، وَحَبِّبْ إِلَيْنَا
اللِّقَاءَ، وَرَضِّنَا بِالْقَضَاءِ»
Artinya: "Ya Allah, goyahkanlah kaki mereka,
masukkanlah rasa takut ke dalam hati mereka, turunkanlah ketenangan kepada
kami, tetapkanlah pada kami kalimat takwa, cintakanlah kami untuk bertemu
dengan-Mu, dan jadikanlah kami rida terhadap ketetapan-Mu."
Pasukan Romawi menyerang sayap kanan Muslimin yang terdiri
dari kabilah Azd, Madzhij, Hadramaut, dan Khulan. Mereka sempat terdesak ke
arah jantung pertahanan, bahkan sebagian orang melarikan diri ke kamp. Namun,
barisan Muslimin yang kokoh tetap bertempur di bawah panji-panji mereka. Para
wanita menyambut mereka yang melarikan diri dengan memukuli mereka menggunakan
kayu dan batu, sehingga orang-orang kembali ke posisi tempur mereka.
Ikrimah bin Abi Jahl berseru: "Aku telah memerangi
Rasulullah ﷺ
di berbagai tempat, apakah hari ini aku akan lari dari kalian?" Kemudian
ia berseru: "Siapa yang mau membaiatku untuk mati?" Maka pamannya,
Al-Harits bin Hisyam, dan Dhirar bin Al-Azwar membaiatnya bersama empat ratus
pemuka dan penunggang kuda Muslimin. Mereka bertempur di depan tenda Khalid
hingga semuanya terluka parah, dan banyak di antara mereka yang gugur, termasuk
Dhirar bin Al-Azwar—semoga Allah meridaianya.
Diriwayatkan ketika mereka terbaring karena luka-luka dan
meminta air, dibawakanlah seteguk air kepada salah satu dari mereka. Namun ia
melihat temannya lalu berkata: "Berikan kepadanya." Ketika diberikan
kepada temannya, teman itu melihat yang lain dan berkata: "Berikan
kepadanya." Mereka terus saling mendahulukan satu sama lain hingga
semuanya wafat tanpa sempat meminum air tersebut—semoga Allah meridai mereka
semua.
Dikatakan bahwa orang pertama yang gugur syahid dari kaum
Muslimin pada hari itu adalah seorang pria yang mendatangi Abu Ubaidah dan
berkata: "Sesungguhnya aku telah bersiap untuk urusanku (mati syahid),
apakah engkau memiliki pesan untuk Rasulullah ﷺ?" Abu Ubaidah menjawab: "Ya,
sampaikan salamku kepadanya dan katakan:
«يَا
رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا»
Artinya: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami telah
mendapati apa yang dijanjikan Tuhan kami kepada kami adalah benar."
Pria itu maju bertempur hingga ia gugur—semoga Allah
merahmatinya.
Khalid bersama pasukan berkudanya menyerang sayap musuh yang
menyerang sayap kanan Muslimin, dan berhasil mendesak mereka ke arah jantung
pertahanan. Khalid berkata: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya,
tidak tersisa pada mereka kesabaran dan ketabahan selain apa yang kalian lihat,
dan aku berharap Allah memberikan pundak-pundak mereka (kemenangan) kepada
kalian." Kemudian ia bersama seratus penunggang kuda menyerang sekitar
seratus ribu pasukan musuh hingga kumpulan mereka kocar-kacir.
Bagaimana Pertempuran Berakhir?
Khalid berkuda bersama Jurjah sementara pasukan Romawi
berada di antara kaum Muslimin. Orang-orang saling berseru dan kembali
menyerang hingga Khalid memimpin kaum Muslimin maju sampai mereka saling beradu
pedang. Khalid dan Jurjah terus bertempur sejak matahari naik hingga condong
untuk terbenam. Kaum Muslimin melaksanakan shalat Zhuhur dan Ashar dengan
isyarat (ima') karena tidak memungkinkan ruku' dan sujud. Jurjah
gugur—semoga Allah merahmatinya—dan ia tidak pernah bersujud kepada Allah
kecuali dua rakaat yang dilakukannya bersama Khalid.
Khalid menerjang jantung pertahanan Romawi hingga berada di
tengah-tengah pasukan berkuda mereka, sehingga pasukan berkuda mereka melarikan
diri ke padang pasir. Kemudian Khalid menuju pasukan pejalan kaki Romawi dan
memisahkan mereka hingga mereka hancur seperti tembok yang runtuh. Khalid
mengejar mereka hingga ke parit pertahanan mereka. Di kegelapan malam, pasukan
Romawi sampai ke jurang Al-Waqusah. Karena mereka saling dirantai satu sama
lain, jika satu orang jatuh, maka yang lain ikut jatuh bersamanya. Ibnu Jarir
menyebutkan bahwa seratus dua puluh ribu orang tewas di jurang tersebut, di
luar mereka yang tewas dalam pertempuran.
Para wanita Muslimah turut bertempur pada hari itu dan
membunuh banyak orang Romawi. Mereka juga memukuli orang-orang Muslim yang
melarikan diri sambil berseru: "Kalian pergi dan meninggalkan kami untuk
orang-orang kasar ini?" Jika para wanita menghalangi mereka, tidak ada
seorang pun yang sanggup menahan diri melainkan kembali lagi ke medan
pertempuran.
Para bangsawan Romawi menutupi kepala mereka dengan jubah
dan berkata: "Jika kalian tidak mampu menolong agama Nasrani, maka matilah
di atas agama mereka". Kaum Muslimin pun mendatangi dan membunuh mereka
semua.
Disebutkan bahwa pada hari itu tiga ribu orang Muslim gugur
syahid, di antaranya adalah Ikrimah dan putranya Amr, Salamah bin Hisyam, Amr
bin Sa'id, dan Aban bin Sa'id. Khalid bin Sa'id juga tertahan lukanya dan tidak
diketahui ke mana ia pergi, begitu juga Hisyam bin Al-Aas dan Amr bin
Al-Thufail.
Pada hari itu Yazid bin Abu Sufyan bertahan dan bertempur
dengan sengit. Ayahnya mendatanginya dan berkata: "Wahai anakku,
bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, karena tidak ada seorang Muslim pun
di lembah ini kecuali ia wajib berperang. Terlebih lagi engkau dan orang-orang
sepertimu yang memimpin kaum Muslimin!" Ia menjawab: "Akan aku
laksanakan insya Allah".
Said bin Al-Musayyib meriwayatkan dari ayahnya bahwa suasana
menjadi tenang pada hari Yarmouk, lalu terdengar suara yang memenuhi kamp
militer berseru: "Wahai pertolongan Allah mendekatlah, teguhlah wahai
segenap kaum Muslimin!" Ternyata itu adalah suara Abu Sufyan di bawah
panji putranya, Yazid. Kaum Muslimin mengakhirkan shalat Isya hingga kemenangan
telah mantap diraih.
Kedatangan Kurir dengan Berita Wafatnya Ash-Shiddiq
Ketika mereka berada di tengah berkecamuknya perang,
datanglah kurir dari arah Hijaz menemui Khalid bin Walid. Khalid bertanya:
"Apa kabarnya?" Kurir itu membisikkan kepadanya: "Sesungguhnya
Ash-Shiddiq (Abu Bakr) telah wafat dan Umar telah diangkat sebagai Khalifah,
serta telah menunjuk Abu Ubaidah bin Al-Jarrah untuk memimpin pasukan".
Khalid merahasiakan berita itu dan tidak menampakkannya
kepada orang-orang agar tidak terjadi kelemahan dalam kondisi tersebut. Khalid
berkata dengan suara yang didengar orang-orang: "Engkau telah berbuat
baik," lalu ia mengambil surat itu dan meletakkannya di tempat anak
panahnya. Ia pun menyibukkan diri dengan mengatur peperangan. Baru setelah kaum
Muslimin merasa sedih atas wafatnya Abu Bakr, Khalid memberitahukannya, namun
Allah menggantikan mereka dengan Al-Faruq (Umar).
Rahasia Kekalahan Romawi dan Pertanyaan Heraklius Mengenainya
Walid bin Muslim meriwayatkan bahwa ketika kaum Muslimin
turun di wilayah Yordania, seorang pemimpin Romawi mengirim mata-mata untuk
mencari tahu tentang kaum Muslimin. Mata-mata itu kembali dan berkata:
"Aku datang dari sisi laki-laki yang bertubuh kurus namun menunggangi
kuda-kuda yang tangkas. Di malam hari mereka adalah rahib, dan di siang hari
mereka adalah penunggang kuda yang ulung. Mereka menyiapkan anak panah dan
meruncingkan tombak. Jika engkau berbicara kepada temanmu, ia tidak akan
memahamimu karena kerasnya suara mereka dengan Al-Qur'an dan zikir". Pemimpin
itu berkata kepada rekan-rekannya: "Telah datang kepada kalian kaum yang
kalian tidak akan sanggup menghadapinya".
Diriwayatkan pula bahwa musuh tidak pernah mampu bertahan
melawan sahabat Rasulullah ﷺ
bahkan sekejap pun. Heraklius—saat berada di Antiokhia—bertanya kepada
pasukannya yang kalah: "Celaka kalian! Kabarkan padaku tentang kaum yang
memerangi kalian, bukankah mereka manusia seperti kalian?" Mereka
menjawab: "Benar." Heraklius bertanya: "Apakah kalian lebih
banyak atau mereka?" Mereka menjawab: "Bahkan kami jauh lebih banyak
berkali-kali lipat".
Heraklius bertanya: "Lalu mengapa kalian kalah?" Seorang
tetua di antara pembesar mereka menjawab: "Karena mereka shalat di malam
hari, berpuasa di siang hari, menepati janji, memerintahkan kebajikan, melarang
kemungkaran, dan bersikap adil di antara sesama mereka. Sedangkan kami meminum
khamar, berzina, melakukan yang haram, melanggar janji, merampas, menzalimi,
menyuruh pada kemurkaan Allah, melarang dari apa yang diridai Allah, dan
berbuat kerusakan di muka bumi". Heraklius berkata: "Engkau telah
berkata jujur padaku".
Sumber Kisah:
Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar
Posting Komentar