Penaklukan di Wilayah Syam

pasukan Muslim memasuki lembah Yarmuk abad ke-7 M. Tampak barisan penunggang kuda dan unta bergerak perlahan di antara bukit-bukit batu dan padang rumput kering. Para prajurit mengenakan pakaian Arab klasik sederhana dengan sorban khas Hijaz dan membawa panji-panji kecil. Cahaya matahari pagi menyinari lembah luas, suasana penuh keteguhan, disiplin, dan harapan

B - Penaklukan di Wilayah Syam

Tahap Pertama:

Upaya Ash-Shiddiq r.a. dalam penaklukan wilayah Syam merepresentasikan tahap pertama dari rencana penaklukan di garis depan bagian barat, yang meliputi wilayah Syam, Mesir, dan Afrika pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin. Berikut adalah perinciannya:

Motivasi Penaklukan:

Tahun ketiga belas Hijriah dimulai dengan tekad Ash-Shiddiq untuk mengumpulkan pasukan guna dikirim ke Syam, yaitu setelah kepulangannya dari ibadah haji. Hal ini dilakukan sesuai dengan firman Allah Ta'ala:

﴿يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ﴾

"Wahai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kalian itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan darimu, dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (At-Taubah: 123)

Dan firman Allah Ta'ala:

﴿قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ﴾

"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian." (At-Taubah: 29)

Serta mengikuti teladan Rasulullah yang pernah mengumpulkan kaum Muslimin untuk memerangi Syam pada tahun Tabuk, hingga beliau mencapainya dalam kondisi panas yang sangat terik dan penuh kesulitan sebelum akhirnya kembali pada tahun itu. Kemudian, sebelum wafatnya, beliau mengutus budaknya, Usamah bin Zaid, untuk memerangi perbatasan Syam.

Oleh karena itu, ketika Ash-Shiddiq telah selesai dengan urusan Jazirah Arab, beliau mengalihkan perhatiannya ke Irak dengan mengutus Khalid bin Walid. Kemudian, beliau ingin mengutus pasukan ke Syam sebagaimana telah mengutus ke Irak, sehingga mulailah beliau mengumpulkan para pemimpin dari berbagai penjuru Jazirah Arab.

Beliau sebelumnya telah menugaskan Amr bin al-Ash untuk mengurusi zakat kabilah Quda'ah, dengan didampingi oleh Al-Walid bin Uqbah. Maka beliau menulis surat kepadanya untuk mengajaknya berangkat ke Syam: "Sesungguhnya aku telah mengembalikanmu pada pekerjaan yang pernah ditugaskan oleh Rasulullah sekali waktu, dan yang pernah beliau sebutkan untukmu di waktu lain. Aku ingin membebaskanmu, wahai Abu Abdillah, untuk tugas yang lebih baik bagi kehidupanmu dan hari akhirmu daripada tugas saat ini, kecuali jika tugas yang engkau pegang sekarang lebih engkau sukai".

Lalu Amr bin al-Ash membalas surat tersebut: "Sesungguhnya aku adalah salah satu anak panah Islam, dan engkau adalah hamba Allah yang memanahnya dan yang mengumpulkannya. Maka lihatlah mana sasaran yang paling kuat dan paling menakutkan, lalu bidikkanlah aku ke sana".

Beliau juga menulis surat yang sama kepada Al-Walid bin Uqbah, dan mendapatkan jawaban serupa. Keduanya pun datang ke Madinah setelah menunjuk pengganti untuk pekerjaan mereka sebelumnya.

Pidato Ash-Shiddiq dalam Menganjurkan Jihad

Setelah terkumpul pasukan yang diinginkan oleh Ash-Shiddiq, beliau berdiri memberikan pidato di hadapan orang-orang, memuji Allah sebagaimana mestinya, kemudian menganjurkan orang-orang untuk berjihad. Beliau bersabda: "Ketahuilah bahwa setiap perkara itu memiliki kelengkapan, maka barang siapa yang memenuhinya, itu cukuplah baginya. Barang siapa yang beramal karena Allah, maka Allah akan mencukupinya. Hendaklah kalian bersungguh-sungguh dan bersikap pertengahan, karena sikap pertengahan itu lebih menyampaikan tujuan. Ketahuilah bahwa tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki iman, tidak ada pahala bagi orang yang tidak mengharap rida Allah, dan tidak ada amal bagi orang yang tidak memiliki niat. Ketahuilah bahwa di dalam kitab Allah terdapat pahala atas jihad di jalan Allah yang seharusnya diinginkan secara khusus oleh seorang Muslim; itulah perdagangan yang telah Allah tunjukkan, yang dapat menyelamatkanmu dari kehinaan dan menyambungkanmu dengan kemuliaan di dunia dan akhirat".

Pengiriman Khalid bin Said

Khalid bin Said bin al-Ash telah datang menemui Ash-Shiddiq dari Yaman. Ash-Shiddiq kemudian memberinya komando pasukan dan mengutusnya ke Tayma.

Ibnu Jarir berkata: Ketika Khalid bin Said sampai di Tayma, telah berkumpul untuk menghadapinya pasukan Romawi dalam jumlah besar yang terdiri dari orang-orang Arab Nasrani dari kabilah Bahra', Tanukh, Bani Kalb, Salih, Lakhm, Judzam, dan Ghassan. Khalid bin Said maju menghadapi mereka, dan ketika ia sudah mendekat, mereka pun berpencar menjauh darinya.

Kemudian banyak dari mereka yang masuk Islam. Khalid pun mengirim kabar kepada Ash-Shiddiq mengenai kemenangan tersebut, lalu Ash-Shiddiq memerintahkannya untuk terus maju dan tidak mundur. Beliau membantunya dengan mengirimkan Al-Walid bin Uqbah, Ikrimah bin Abi Jahl, dan sekelompok lainnya. Khalid kemudian bergerak menuju dekat Aelia (Baitul Maqdis) dan bertemu dengan seorang panglima Romawi bernama Bahan, lalu Khalid mengalahkannya. Bahan melarikan diri ke Damaskus, dan Khalid bin Said mengejarnya hingga sampai di Marj as-Saffar. Di sana, pasukan penjaga Bahan mengepung mereka dan menutup jalan. Bahan menyerang dari Damaskus sehingga Khalid bin Said melarikan diri hingga sampai ke Dhu al-Marwah. Pasukan Romawi berhasil menguasai pasukannya kecuali mereka yang melarikan diri dengan kuda. Namun Ikrimah bin Abi Jahl tetap bertahan, ia mundur sedikit dari Syam dan tetap menjadi pelindung bagi mereka yang melarikan diri kepadanya.

Ash-Shiddiq marah atas perbuatan Khalid dan memerintahkannya untuk tetap tinggal di Dhu al-Marwah sampai beliau memutuskan urusannya.

Penyerahan Panji dan Penamaan Para Pemimpin

Ash-Shiddiq mulai mengangkat para pemimpin serta menyerahkan panji-panji dan bendera perang:

  1. Beliau menyerahkan panji kepada Yazid bin Abi Sufyan bersama mayoritas orang, yang di antaranya terdapat Suhail bin Amr dan tokoh-tokoh Makkah lainnya. Beliau berjalan kaki bersamanya sambil memberi wasiat tentang apa yang harus ia lakukan dalam perang dan bagaimana memperlakukan kaum Muslimin bersamanya. Beliau menetapkan Damaskus sebagai tujuannya.
  2. Beliau mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarrah untuk memimpin pasukan lain, dan beliau berjalan kaki bersamanya untuk memberi wasiat, serta menetapkan wilayah Homs untuknya.
  3. Beliau mengutus Amr bin al-Ash bersama pasukan lain dan menempatkannya di Palestina.
  4. Shurahbil bin Hasana datang dari Irak dari sisi Khalid bin Walid, lalu beliau mengangkatnya sebagai pemimpin pasukan dan mengutusnya ke Syam dengan tujuan wilayah Yordania. Ketika ia melewati Khalid bin Said di Dhu al-Marwah, ia mengambil mayoritas pengikut Khalid yang melarikan diri bersamanya ke sana.
  1. Kemudian berkumpul di hadapan Ash-Shiddiq sekelompok orang, lalu beliau mengangkat Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai pemimpin mereka dan mengutusnya untuk menyusul saudaranya, Yazid bin Abi Sufyan. Ketika ia melewati Khalid bin Said, ia membawa sisa-sisa orang yang masih ada di Dhu al-Marwah menuju Syam.

Setelah itu, Ash-Shiddiq mengizinkan Khalid bin Said untuk masuk ke Madinah.

Rute Yazid bin Abi Sufyan melewati Tabuk, begitu pula Abu Ubaidah dan Shurahbil bin Hasana. Adapun Amr bin al-Ash keluar melalui jalur Al-Ma'rifah hingga berhenti di Ghamz al-Arabat. Sedangkan Abu Ubaidah berhenti di Al-Jabiyah.

Ash-Shiddiq terus membantu mereka dengan mengirimkan pasukan tambahan, dan memerintahkan setiap pasukan bantuan untuk bergabung dengan pemimpin yang mereka sukai.

Pertempuran-Pertempuran Pertama di Wilayah Syam:

Dikatakan bahwa perang pertama yang terjadi di Syam adalah menghadapi bangsa Romawi yang berkumpul di suatu tempat bernama Al-Araba di tanah Palestina. Yazid bin Abi Sufyan mengutus Abu Umamah dalam satu ekspedisi militer (sariyah), lalu ia membunuh mereka, mengambil harta rampasan, serta membunuh seorang perwira tinggi (patriark) mereka.

Dikatakan pula bahwa Abu Ubaidah, ketika melewati tanah Al-Balqa, memerangi mereka hingga mereka mengajak berdamai; dan itu adalah perdamaian pertama yang terjadi di Syam.

Pertempuran Yarmuk

Pertempuran Yarmuk terjadi pada tahun ke-13 Hijriah sebelum penaklukan Damaskus, sebagaimana disebutkan oleh Saif bin Umar dan diikuti oleh Abu Ja'far bin Jarir rahimahullah.

Adapun Al-Hafiz Ibnu Asakir rahimahullah menukil dari Yazid bin Abi Ubaidah, Al-Walid bin Muslim, Ibnu Lahi'ah, Al-Laits bin Sa'ad, dan Abu Ma'syar, bahwa pertempuran tersebut terjadi pada tahun ke-15 Hijriah setelah penaklukan Damaskus.

Muhammad bin Ishaq dan Khalifah bin Khayyat berkata: "Pertempuran Yarmuk terjadi pada hari Senin, lima hari berlalu dari bulan Rajab tahun ke-15 Hijriah."

Ibnu Asakir berkata: "Inilah yang terjaga (pendapat yang kuat). Adapun apa yang dikatakan oleh Saif bahwa itu terjadi sebelum penaklukan Damaskus pada tahun ke-13, maka pendapat itu tidak diikuti oleh yang lain."

Berkumpulnya Bangsa Romawi dan Persiapan Mereka untuk Pertempuran

Ibnu Katsir berkata: "Inilah penyebutan konteks menurut Saif dan selainnya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan lainnya."

Beliau berkata: Ketika pasukan Islam bergerak menuju Syam, hal itu mengejutkan bangsa Romawi dan mereka merasa sangat ketakutan. Mereka menulis surat kepada Heraklius untuk memberitahukan perihal tersebut. Dikatakan bahwa saat itu Heraklius berada di Homs dan sedang melaksanakan ibadah (ziarah) tahunan ke Baitul Maqdis.

Ketika berita itu sampai kepadanya, ia berkata kepada mereka: "Celakalah kalian! Sesungguhnya mereka adalah pemeluk agama baru. Tidak ada seorang pun yang mampu menghadapi mereka. Maka taatilah aku dan berdamailah dengan mereka dengan memberikan setengah dari pajak (kharaj) wilayah Syam, sehingga pegunungan Romawi tetap menjadi milik kalian. Jika kalian menolak, mereka akan mengambil Syam dari kalian dan akan mempersempit ruang gerak kalian di pegunungan Romawi."

Namun mereka mendengus (marah) seperti ringkikan keledai liar, sebagaimana kebiasaan mereka. Saat itulah Heraklius berangkat ke Homs dan memerintahkan keluarnya pasukan Romawi bersama para panglima. Untuk menghadapi setiap panglima Muslim, dikirimkan satu pasukan yang sangat besar.

Heraklius mengutus saudaranya, Tadhariq, dengan 90.000 pasukan tempur untuk menghadapi Amr bin al-Ash. Ia mengutus Jurjah bin Tudzara menuju Yazid bin Abi Sufyan, lalu ia berkemah di hadapannya dengan 50.000 atau 60.000 pasukan. Ia mengutus Ad-Diraqis untuk menghadapi Shurahbil bin Hasana. Ia juga mengutus Al-Faiqar—ada yang menyebutnya Al-Qaiqalan bin Nastus, seorang kasim kepercayaan Heraklius—bersama 60.000 pasukan untuk menghadapi Abu Ubaidah bin al-Jarrah.

Bangsa Romawi berkata: "Demi Allah, kami akan membuat Abu Bakar terlalu sibuk untuk mengirimkan pasukan kudanya ke tanah kami."

Seluruh pasukan Muslim saat itu berjumlah 21.000 orang, selain pasukan yang bersama Ikrimah bin Abi Jahl—yang berjumlah 6.000 orang dan berjaga di perbatasan Syam untuk membantu pasukan utama. Para panglima kemudian menulis surat kepada Abu Bakar untuk memberitahukan perkara besar yang terjadi ini. Abu Bakar membalas surat mereka: "Berkumpullah kalian dan jadilah satu pasukan, lalu hadapilah pasukan kaum musyrik. Kalian adalah penolong-penolong Allah, dan Allah pasti menolong siapa yang menolong-Nya, serta menghinakan siapa yang kufur kepada-Nya. Pasukan seperti kalian tidak akan dikalahkan karena jumlah yang sedikit, tetapi waspadalah terhadap dosa-dosa. Hendaklah setiap orang dari kalian memimpin para sahabatnya."

Ketika Heraklius mengetahui perintah Ash-Shiddiq kepada para panglimanya untuk berkumpul, ia juga memerintahkan para panglimanya untuk berkumpul dan menempatkan pasukan di tempat yang luas lapangannya namun sempit jalan keluarnya. Ia menunjuk saudaranya, Tadhariq, sebagai pemimpin umum, Jurjah di bagian depan, Bahan dan Ad-Diraqis di kedua sayap pasukan, serta Al-Faiqar sebagai penanggung jawab peperangan.

Saif berkata: Pasukan Romawi bergerak hingga mereka berhenti di Al-Waqusah dekat Yarmuk, dan lembah di sana menjadi seperti parit bagi mereka.

Perjalanan Khalid dari Irak ke Syam

Para sahabat mengirim surat kepada Ash-Shiddiq untuk meminta bantuan dan memberitahu beliau tentang berkumpulnya pasukan Romawi di Yarmuk. Maka pada saat itu, Ash-Shiddiq menulis surat kepada Khalid bin Walid agar menunjuk wakil di Irak dan segera berangkat membawa pasukannya menuju Syam. Jika ia telah sampai kepada mereka, maka ia menjadi panglima atas mereka semua. Khalid pun menunjuk Al-Muthanna bin Harithah sebagai wakil di Irak, lalu ia segera berangkat dengan 9.500 pasukan. Pemandu jalannya adalah Rafi' bin 'Amirah Ath-Tha'i.

Rafi' membawanya melalui as-Samawa hingga sampai ke Qaraqir. Ia menempuh jalur yang belum pernah dilalui oleh siapa pun sebelumnya. Ia membelah gurun dan padang pasir yang tandus, menyeberangi lembah-lembah, mendaki gunung-gunung, dan berjalan melalui jalur yang tidak biasa. Rafi' terus memandu mereka di tengah padang pasir yang sangat gersang.

Dalam perjalanan itu, mereka membuat unta-unta kehausan terlebih dahulu lalu memberinya minum sebanyak-banyaknya hingga perut unta penuh dengan air. Kemudian mereka memotong bibir unta dan menyumbatnya agar unta tidak memamah biak. Unta-unta itu dibawa serta, dan ketika mereka kehabisan air, mereka menyembelih unta tersebut dan meminum air yang ada di dalam perutnya. Ada yang mengatakan bahwa mereka memberikan air itu untuk kuda dan mereka meminum air yang dibawa unta serta memakan dagingnya.

Maka sampailah mereka—segala puji dan karunia bagi Allah—di wilayah Suwa dalam waktu lima hari. Khalid muncul di hadapan bangsa Romawi dari arah Palmyra (Tadmur). Ia mengadakan perdamaian dengan penduduk Tadmur dan Arakah. Ketika melewati Adzra', ia menaklukkannya dan memperoleh harta rampasan yang sangat banyak milik kabilah Ghassan.

Khalid keluar dari arah timur Damaskus, lalu berjalan hingga sampai di Qanat Busra. Penguasanya mengadakan perdamaian dan menyerahkan kota itu kepadanya. Maka Busra menjadi kota pertama yang ditaklukkan di wilayah Syam.

Khalid mengirimkan seperlima dari harta rampasan yang diperoleh dari kabilah Ghassan bersama Bilal bin al-Harits al-Muzani kepada Ash-Shiddiq.

Salah seorang Muslim berkata mengenai perjalanan mereka bersama Khalid:

لِلّٰهِ عَيْنَا رَافِعٍ أَنَّىٰ اهْتَدَىٰ *** فَوَّزَ مِنْ قَرَاقِرٍ إِلَىٰ سُوَىٰ

خِمْسًا إِذَا مَا سَارَهُ الْجَيْشُ بَكَىٰ *** مَا سَارَهَا قَبْلَكَ إِنْسِيٌّ يَرَىٰ

"Betapa hebatnya penglihatan Rafi', bagaimana ia bisa menemukan jalan, ia menyeberangi padang pasir dari Qaraqir ke Suwa."

"Perjalanan lima hari yang jika dilakukan oleh pasukan biasa niscaya akan menangis, tidak pernah ada manusia sebelummu yang pernah melihat (menempuh) jalur tersebut."

Ada seorang Arab yang berkata kepadanya dalam perjalanan ini: "Jika engkau sampai di pohon fulan (pohon tertentu) pada waktu pagi, maka engkau dan orang-orang bersamamu akan selamat. Namun jika engkau tidak mencapainya, maka engkau dan orang-orang bersamamu akan binasa." Maka Khalid bersama pasukannya berjalan cepat dan melakukan perjalanan malam yang luar biasa hingga sampai di sana pada waktu pagi. Khalid berkata di waktu pagi tersebut:

«عِنْدَ الصَّبَاحِ يَحْمَدُ الْقَوْمُ السُّرَىٰ»

"Pada waktu pagi, kaum (musafir) akan memuji perjalanan malam."

Beliau menjadikannya sebuah peribahasa, dan beliaulah orang pertama yang mengucapkannya.

Berkumpulnya Jajaran Pasukan Islam dan Persiapan Pertempuran

Kini bangsa Romawi telah berkumpul bersama para panglima mereka di Al-Waqusah. Para sahabat kemudian berpindah dari tempat asal mereka dan berhenti di dekat posisi Romawi, di satu-satunya jalan yang harus dilalui. Amr bin al-Ash berkata: "Bergembiralah wahai manusia, demi Allah, bangsa Romawi telah terkepung, dan jarang sekali pihak yang terkepung membawa kebaikan."

Dikatakan bahwa ketika para sahabat berkumpul untuk bermusyawarah mengenai cara perjalanan menuju Romawi, para pemimpin duduk untuk urusan tersebut. Lalu Abu Sufyan datang dan berkata: "Aku tidak menyangka akan diberi umur panjang hingga aku menjumpai suatu kaum yang berkumpul untuk perang, sementara aku tidak hadir bersama mereka".

Kemudian ia menyarankan agar pasukan dibagi menjadi tiga bagian: sepertiga berjalan di depan dan berhenti menghadapi Romawi, sepertiga lagi membawa perbekalan dan keluarga, dan Khalid tertinggal bersama sepertiga terakhir. Sehingga ketika perbekalan sampai ke bagian pertama, Khalid berjalan mengikuti mereka dan mereka berhenti di suatu tempat di mana padang pasir berada di belakang mereka agar bantuan dan pasokan dapat sampai kepada mereka. Mereka pun melaksanakan saran tersebut, dan itu adalah pendapat yang sangat baik.

Bahan datang membawa bantuan untuk Romawi bersama para pendeta, diakon, dan rahib yang menyemangati dan menghasut mereka untuk berperang demi membela agama Nasrani. Pasukan Romawi menjadi lengkap sebanyak dua ratus empat puluh ribu orang: delapan puluh ribu orang terikat rantai besi dan tali, delapan puluh ribu pasukan berkuda, dan delapan puluh ribu pasukan pejalan kaki.

Ketika mereka telah berhadapan dengan musuh pada awal bulan Jumadil Akhir, Khalid bin Walid berdiri berpidato di hadapan orang-orang. Ia memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu berkata: "Sesungguhnya ini adalah salah satu hari di antara hari-hari Allah. Tidak selayaknya di dalamnya ada rasa bangga maupun kezaliman. Ikhlaskanlah jihad kalian dan tujukanlah amal kalian kepada Allah. Sesungguhnya hari ini menentukan hari-hari sesudahnya. Jika kita memukul mereka mundur hari ini ke parit mereka, maka kalian akan terus memukul mereka mundur. Namun jika mereka mengalahkan kita, kita tidak akan pernah beruntung setelahnya".


Mobilisasi Militer

Pasukan Romawi keluar dalam formasi yang belum pernah terlihat sebelumnya, dan Khalid keluar dalam formasi yang belum pernah disusun oleh bangsa Arab sebelumnya. Ia keluar dengan tiga puluh enam kardus (batalyon), setiap batalyon terdiri dari seribu orang. Ia menempatkan Abu Ubaidah di jantung pertahanan (tengah), Amr bin Al-Aas di sayap kanan bersama Syurahbil bin Hasanah, dan Yazid bin Abu Sufyan di sayap kiri.

Ia mengangkat seorang pemimpin untuk setiap batalyon. Qubath bin Asyam memimpin pasukan perintis (thala'i'), Abdullah bin Mas'ud memimpin urusan harta rampasan, dan hakim pada saat itu adalah Abu Darda. Yang bertugas memberikan nasihat dan mendorong mereka untuk berperang adalah Abu Sufyan bin Harb, sedangkan pembaca Al-Qur'an yang berkeliling di antara orang-orang membacakan surat Al-Anfal dan ayat-ayat jihad adalah Al-Miqdad bin Al-Aswad.

Ketika pasukan Romawi datang dengan kesombongan dan kebanggaannya, memenuhi daratan tersebut baik yang landai maupun yang sulit seolah-olah mereka adalah awan hitam, mereka berteriak dengan suara keras sementara para rahib mereka membacakan Injil dan menyemangati mereka untuk berperang. Khalid memacu kudanya menuju Abu Ubaidah dan berkata kepadanya: "Sesungguhnya aku ingin menyarankan suatu hal". Abu Ubaidah menjawab: "Katakanlah apa yang diperintahkan Allah, aku akan mendengar dan menaatimu".

Khalid berkata kepadanya: "Kaum ini pasti akan melakukan serangan besar yang tidak bisa mereka hindari. Aku khawatir pada sayap kanan dan sayap kiri. Aku berpendapat untuk membagi pasukan berkuda menjadi dua bagian dan menempatkannya di belakang sayap kanan dan sayap kiri. Jika mereka menyerang, pasukan berkuda ini akan menjadi pelindung bagi mereka, lalu kita datangi mereka dari belakang".

Abu Ubaidah menjawab: "Sungguh baik apa yang engkau lihat (pendapatmu)". Maka Khalid berada di salah satu kelompok berkuda di belakang sayap kanan, dan ia menempatkan Qais bin Hubairah di kelompok berkuda lainnya. Ia memerintahkan Abu Ubaidah untuk mundur dari pusat pasukan ke belakang seluruh pasukan, agar jika ada orang yang melarikan diri melihatnya, dia akan merasa malu dan kembali berperang. Abu Ubaidah menempatkan Sa'id bin Zaid—salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga—di posisinya di pusat pasukan.

Khalid memacu kudanya menuju para wanita di belakang pasukan yang membawa belati dan tongkat, lalu berkata kepada mereka: "Siapa pun yang kalian lihat melarikan diri, maka bunuhlah dia". Kemudian ia kembali ke posisinya—semoga Allah meridainya.


Mobilisasi Iman

Ketika kedua pasukan saling melihat dan para pendekar saling bertanding, Abu Ubaidah menasihati kaum Muslimin, seraya berkata: "Wahai hamba-hamba Allah, tolonglah Allah niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian, karena janji Allah adalah benar. Wahai segenap kaum Muslimin, bersabarlah, karena kesabaran adalah penyelamat dari kekufuran, keridaan bagi Tuhan, dan penghapus aib. Janganlah kalian meninggalkan barisan kalian, jangan melangkah satu langkah pun ke arah mereka, jangan memulai peperangan, siapkanlah tombak-ombak, berlindunglah di balik perisai, dan tetaplah diam kecuali berzikir kepada Allah dalam hati kalian, sampai aku memerintahkan kalian, insya Allah Ta'ala".

Mu'adz bin Jabal keluar di hadapan orang-orang dan mulai mengingatkan mereka seraya berkata: "Wahai ahli Al-Qur'an, para penjaga Kitabullah, penolong petunjuk, dan kekasih kebenaran. Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan diraih dan surga-Nya tidak akan dimasuki hanya dengan angan-angan. Allah tidak memberikan ampunan dan rahmat yang luas kecuali kepada orang yang jujur lagi membenarkan. Tidakkah kalian mendengar firman Allah:

﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ﴾ [النور: ٥٥]

Artinya: "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa." (QS. An-Nur: 55)

"Maka malulah kalian kepada Tuhan kalian jika Dia melihat kalian melarikan diri dari musuh kalian, padahal kalian berada dalam genggaman-Nya, dan tidak ada tempat berlindung bagi kalian selain Dia, serta tidak ada kemuliaan tanpa-Nya".

Amr bin Al-Aas berkata: "Wahai kaum Muslimin, tundukkan pandangan, berlututlah, dan siapkan tombak. Jika mereka menyerang kalian, tunggulah sampai mereka berada di ujung tombak, lalu seranglah mereka dengan serangan singa. Demi Dzat yang rida terhadap kejujuran dan memberinya pahala, serta benci terhadap kebohongan dan menghukumnya, serta membalas kebaikan dengan kebaikan, sungguh aku telah mendengar bahwa kaum Muslimin akan menaklukkannya kota demi kota dan istana demi istana. Maka janganlah kalian gentar oleh kerumunan dan jumlah mereka. Jika kalian menghadapi mereka dengan keteguhan, niscaya mereka akan berhamburan seperti anak burung puyuh".

Abu Sufyan berkata: "Wahai segenap kaum Muslimin, kalian hari ini berada di negeri asing, jauh dari keluarga, jauh dari Khalifah kaum Mukminin dan bala bantuan Muslimin. Demi Allah, kalian sedang berhadapan dengan musuh yang banyak jumlahnya dan sangat keras dendamnya kepada kalian. Kalian telah melukai mereka dalam diri mereka, anak-anak, istri-istri, harta, dan tempat tinggal mereka. Demi Allah, tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari kaum ini, dan tidak ada yang dapat menyampaikan kalian pada keridaan Allah esok hari kecuali kejujuran dalam pertempuran dan kesabaran di tempat-tempat yang dibenci. Maka pertahankanlah diri kalian dengan pedang kalian dan saling tolong-menolonglah, dan jadikanlah itu sebagai benteng". Kemudian ia pergi menuju para wanita dan memberikan pesan kepada mereka.

Abu Hurairah juga menasihati orang-orang seraya berkata: "Bersegeralah menuju bidadari yang bermata jeli dan bertetanggalah dengan Tuhan kalian di surga yang penuh kenikmatan. Tidak ada tempat di mana kalian lebih dicintai oleh Tuhan kalian daripada posisi seperti ini. Ingatlah, sesungguhnya bagi orang-orang yang bersabar ada keutamaan bagi mereka".

Saif bin Umar berkata dengan sanad dari guru-gurunya: Dalam kumpulan pasukan itu terdapat seribu orang sahabat, seratus di antaranya adalah ahli Badr.

Abu Sufyan berdiri di depan setiap batalyon dan berkata: "Allah, Allah! Sesungguhnya kalian adalah pembela Arab dan penolong Islam, sedangkan mereka adalah pembela Romawi dan penolong kesyirikan. Ya Allah, sesungguhnya ini adalah salah satu hari di antara hari-hari-Mu. Ya Allah, turunkanlah pertolongan-Mu kepada hamba-hamba-Mu".

Seorang pria dari kalangan Nasrani Arab berkata kepada Khalid bin Walid: "Betapa banyaknya orang Romawi dan betapa sedikitnya kaum Muslimin!" Khalid menjawab: "Celaka engkau, apakah engkau menakut-nakutiku dengan Romawi? Sesungguhnya pasukan menjadi banyak karena kemenangan dan menjadi sedikit karena kekalahan, bukan karena jumlah prajurit. Demi Allah, aku benar-benar berharap kuda pirangku (al-Asyqar) sembuh dari lukanya dan jumlah mereka (Romawi) dilipatgandakan". Saat itu kudanya sedang luka dan sakit akibat perjalanannya dari Irak.


Negosiasi Sebelum Pertempuran

Ketika kedua belah pihak sudah saling mendekat, Abu Ubaidah dan Yazid bin Abu Sufyan maju menuju pasukan Romawi, didampingi oleh Dhirar bin Al-Azwar, Al-Harits bin Hisyam, dan Abu Jandal bin Suhail. Mereka berseru: "Kami ingin bertemu pemimpin kalian untuk berkumpul dengannya". Maka mereka diizinkan masuk menemui Tadzariq, yang saat itu sedang duduk di tenda sutra.

Para sahabat berkata: "Kami tidak menghalalkan masuk ke dalamnya." Maka pemimpin itu memerintahkan untuk menghamparkan permadani dari sutra, namun mereka berkata: "Kami juga tidak akan duduk di atas ini". Akhirnya ia duduk bersama mereka di mana pun mereka mau, dan mereka bernegosiasi mengenai perdamaian. Para sahabat kembali setelah mengajak mereka kepada Allah 'Azza wa Jalla, namun hal itu tidak terlaksana.

Walid bin Muslim menyebutkan bahwa Bahan meminta Khalid untuk menemuinya di antara dua barisan pasukan untuk membicarakan kepentingan mereka. Bahan berkata: "Sesungguhnya kami telah mengetahui bahwa tidak ada yang mengeluarkan kalian dari negeri kalian kecuali kesulitan dan kelaparan..." "Kemarilah, aku akan memberikan kepada setiap orang dari kalian sepuluh dinar, pakaian, dan makanan, lalu kalian kembali ke negeri kalian. Dan jika tahun depan tiba, kami akan mengirimkan hal yang sama kepada kalian".

Khalid menjawab: "Sesungguhnya bukan apa yang engkau sebutkan yang mengeluarkan kami dari negeri kami. Akan tetapi, kami adalah kaum yang gemar meminum darah, dan telah sampai berita kepada kami bahwa tidak ada darah yang lebih lezat daripada darah orang Romawi, maka karena itulah kami datang". Para pengikut Bahan berkata: "Demi Allah, ini adalah hal yang belum pernah kami dengar diceritakan tentang orang Arab".


Dimulainya Pertempuran

Ketika persiapan telah sempurna dan negosiasi tidak membuahkan hasil, Khalid maju menuju Ikrimah bin Abi Jahl dan Al-Qa'qa' bin Amr—keduanya berada di sayap jantung pertahanan—untuk memulai pertempuran. Mereka segera maju sambil melantunkan bait-bait penyemangat dan mengajak duel satu lawan satu. Para pahlawan pun turun ke medan laga, mereka saling menyerang, dan perang pun berkobar dengan hebatnya.

Sementara itu, Khalid berada bersama satu batalyon dari para pelindung yang pemberani di barisan depan. Para pahlawan dari kedua belah pihak saling menyerang di hadapannya, sementara ia mengamati dan mengirimkan perintah kepada setiap kelompok sahabatnya mengenai tindakan yang harus mereka lakukan, serta mengatur urusan perang dengan pengaturan yang paling sempurna.


Masuk Islamnya Salah Satu Pemimpin Romawi di Medan Pertempuran

Jurjah, salah satu panglima besar Romawi, keluar dari barisan dan memanggil Khalid bin Walid. Khalid pun mendatanginya hingga leher kuda mereka saling bersilangan. Jurjah berkata: "Wahai Khalid, kabarkanlah kepadaku dan jujurlah padaku, jangan membohongiku karena orang yang merdeka tidak akan berbohong. Jangan pula menipuku karena orang yang mulia tidak akan menipu orang yang memohon perlindungan demi Allah. Apakah Allah menurunkan sebilah pedang dari langit kepada Nabi kalian, lalu ia memberikannya kepadamu sehingga tidaklah engkau menghunuskannya kepada seseorang melainkan engkau akan mengalahkannya?"

Khalid menjawab: "Tidak". Jurjah bertanya lagi: "Lalu mengapa engkau dijuluki Pedang Allah (Saifullah)?"

Khalid menjelaskan: "Sesungguhnya Allah mengutus Nabi-Nya kepada kami, beliau menyeru kami namun kami menjauh dan menjauh darinya semua. Kemudian sebagian dari kami membenarkannya dan mengikutinya, sedangkan sebagian lagi mendustakannya dan menjauhinya. Aku termasuk orang yang mendustakannya dan menjauhinya. Kemudian Allah memegang hati dan ubun-ubun kami sehingga Dia memberi kami hidayah melalui beliau dan kami membaiatnya. Lalu beliau bersabda kepadaku:

«أَنْتَ سَيْفٌ مِنْ سُيُوفِ اللَّهِ سَلَّهُ اللَّهُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ»

Artinya: "Engkau adalah sebilah pedang di antara pedang-pedang Allah yang Allah hunuskan kepada orang-orang musyrik."

Beliau juga mendoakan kemenangan bagiku. Karena itulah aku dijuluki Pedang Allah, dan aku adalah salah satu orang Muslim yang paling keras terhadap orang-orang musyrik".

Jurjah bertanya: "Wahai Khalid, kepada apa kalian menyeru?" Khalid menjawab: "Kepada kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya, serta mengakui apa yang beliau bawa dari sisi Allah 'Azza wa Jalla".

Jurjah bertanya: "Bagaimana bagi mereka yang tidak memenuhi seruan kalian?" Khalid menjawab: "Maka membayar jizyah dan kami melindungi mereka". Jurjah bertanya lagi: "Jika mereka tidak memberikannya?" Khalid menjawab: "Kami umumkan perang kepadanya lalu kami memeranginya".

Jurjah bertanya: "Bagaimana kedudukan orang yang memenuhi seruan kalian dan masuk ke dalam urusan ini hari ini?" Khalid menjawab: "Kedudukan kita adalah satu dalam apa yang Allah wajibkan atas kita, baik yang mulia maupun yang rendah, yang awal maupun yang akhir".

Jurjah bertanya: "Apakah orang yang masuk Islam hari ini akan mendapatkan pahala yang sama seperti kalian?" Khalid menjawab: "Ya, bahkan lebih utama". Jurjah bertanya: "Bagaimana bisa ia menyamai kalian padahal kalian telah mendahuluinya?" Khalid menjelaskan bahwa mereka menerima Islam saat Nabi masih hidup dan menyaksikan mukjizat, sedangkan orang yang masuk Islam sekarang melakukannya tanpa melihat keajaiban tersebut secara langsung, maka jika ia masuk dengan niat yang benar, ia bisa lebih utama.

Mendengar hal itu, Jurjah membalikkan perisainya dan condong memihak kepada Khalid. Ia berkata: "Ajarkanlah aku Islam." Khalid membawanya ke tendanya, menuangkan air untuknya agar ia mandi, kemudian shalat dua rakaat bersamanya. Orang-orang Romawi menyerang seiring berbeloknya Jurjah ke arah Khalid karena mereka mengira itu adalah bagian dari serangannya. Serangan itu sempat menggeser posisi kaum Muslimin kecuali mereka yang bertahan kuat seperti Ikrimah bin Abi Jahl dan Al-Harits bin Hisyam.


Potret Pengorbanan dan Kepahlawanan

Di antara mereka yang hadir di Yarmouk adalah Az-Zubair bin Al-Awwam—salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga—dan ia adalah sahabat yang paling utama di sana. Sekelompok pahlawan mendatanginya dan berkata: "Tidakkah engkau menyerang, agar kami menyerang bersamamu?" Ia berkata: "Sesungguhnya kalian tidak akan sanggup bertahan." Mereka menjawab: "Tentu kami sanggup". Maka ia menyerang dan mereka pun ikut menyerang. Namun ketika berhadapan dengan barisan musuh, mereka tertahan sementara Az-Zubair terus maju menembus barisan Romawi hingga tembus ke sisi lain dan kembali lagi ke rekan-rekannya. Ia melakukan hal itu dua kali dan pada hari itu ia mendapatkan dua luka di bahunya.

Mu'adz bin Jabal setiap kali mendengar suara para pendeta dan rahib, ia berdoa:

«اللَّهُمَّ زَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ، وَأَرْعِبْ قُلُوبَهُمْ، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا السَّكِينَةَ، وَأَلْزِمْنَا كَلِمَةَ التَّقْوَى، وَحَبِّبْ إِلَيْنَا اللِّقَاءَ، وَرَضِّنَا بِالْقَضَاءِ»

Artinya: "Ya Allah, goyahkanlah kaki mereka, masukkanlah rasa takut ke dalam hati mereka, turunkanlah ketenangan kepada kami, tetapkanlah pada kami kalimat takwa, cintakanlah kami untuk bertemu dengan-Mu, dan jadikanlah kami rida terhadap ketetapan-Mu."

Pasukan Romawi menyerang sayap kanan Muslimin yang terdiri dari kabilah Azd, Madzhij, Hadramaut, dan Khulan. Mereka sempat terdesak ke arah jantung pertahanan, bahkan sebagian orang melarikan diri ke kamp. Namun, barisan Muslimin yang kokoh tetap bertempur di bawah panji-panji mereka. Para wanita menyambut mereka yang melarikan diri dengan memukuli mereka menggunakan kayu dan batu, sehingga orang-orang kembali ke posisi tempur mereka.

Ikrimah bin Abi Jahl berseru: "Aku telah memerangi Rasulullah di berbagai tempat, apakah hari ini aku akan lari dari kalian?" Kemudian ia berseru: "Siapa yang mau membaiatku untuk mati?" Maka pamannya, Al-Harits bin Hisyam, dan Dhirar bin Al-Azwar membaiatnya bersama empat ratus pemuka dan penunggang kuda Muslimin. Mereka bertempur di depan tenda Khalid hingga semuanya terluka parah, dan banyak di antara mereka yang gugur, termasuk Dhirar bin Al-Azwar—semoga Allah meridaianya.

Diriwayatkan ketika mereka terbaring karena luka-luka dan meminta air, dibawakanlah seteguk air kepada salah satu dari mereka. Namun ia melihat temannya lalu berkata: "Berikan kepadanya." Ketika diberikan kepada temannya, teman itu melihat yang lain dan berkata: "Berikan kepadanya." Mereka terus saling mendahulukan satu sama lain hingga semuanya wafat tanpa sempat meminum air tersebut—semoga Allah meridai mereka semua.

Dikatakan bahwa orang pertama yang gugur syahid dari kaum Muslimin pada hari itu adalah seorang pria yang mendatangi Abu Ubaidah dan berkata: "Sesungguhnya aku telah bersiap untuk urusanku (mati syahid), apakah engkau memiliki pesan untuk Rasulullah ?" Abu Ubaidah menjawab: "Ya, sampaikan salamku kepadanya dan katakan:

«يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا»

Artinya: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami telah mendapati apa yang dijanjikan Tuhan kami kepada kami adalah benar."

Pria itu maju bertempur hingga ia gugur—semoga Allah merahmatinya.

Khalid bersama pasukan berkudanya menyerang sayap musuh yang menyerang sayap kanan Muslimin, dan berhasil mendesak mereka ke arah jantung pertahanan. Khalid berkata: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak tersisa pada mereka kesabaran dan ketabahan selain apa yang kalian lihat, dan aku berharap Allah memberikan pundak-pundak mereka (kemenangan) kepada kalian." Kemudian ia bersama seratus penunggang kuda menyerang sekitar seratus ribu pasukan musuh hingga kumpulan mereka kocar-kacir.


Bagaimana Pertempuran Berakhir?

Khalid berkuda bersama Jurjah sementara pasukan Romawi berada di antara kaum Muslimin. Orang-orang saling berseru dan kembali menyerang hingga Khalid memimpin kaum Muslimin maju sampai mereka saling beradu pedang. Khalid dan Jurjah terus bertempur sejak matahari naik hingga condong untuk terbenam. Kaum Muslimin melaksanakan shalat Zhuhur dan Ashar dengan isyarat (ima') karena tidak memungkinkan ruku' dan sujud. Jurjah gugur—semoga Allah merahmatinya—dan ia tidak pernah bersujud kepada Allah kecuali dua rakaat yang dilakukannya bersama Khalid.

Khalid menerjang jantung pertahanan Romawi hingga berada di tengah-tengah pasukan berkuda mereka, sehingga pasukan berkuda mereka melarikan diri ke padang pasir. Kemudian Khalid menuju pasukan pejalan kaki Romawi dan memisahkan mereka hingga mereka hancur seperti tembok yang runtuh. Khalid mengejar mereka hingga ke parit pertahanan mereka. Di kegelapan malam, pasukan Romawi sampai ke jurang Al-Waqusah. Karena mereka saling dirantai satu sama lain, jika satu orang jatuh, maka yang lain ikut jatuh bersamanya. Ibnu Jarir menyebutkan bahwa seratus dua puluh ribu orang tewas di jurang tersebut, di luar mereka yang tewas dalam pertempuran.

Para wanita Muslimah turut bertempur pada hari itu dan membunuh banyak orang Romawi. Mereka juga memukuli orang-orang Muslim yang melarikan diri sambil berseru: "Kalian pergi dan meninggalkan kami untuk orang-orang kasar ini?" Jika para wanita menghalangi mereka, tidak ada seorang pun yang sanggup menahan diri melainkan kembali lagi ke medan pertempuran.

Para bangsawan Romawi menutupi kepala mereka dengan jubah dan berkata: "Jika kalian tidak mampu menolong agama Nasrani, maka matilah di atas agama mereka". Kaum Muslimin pun mendatangi dan membunuh mereka semua.

Disebutkan bahwa pada hari itu tiga ribu orang Muslim gugur syahid, di antaranya adalah Ikrimah dan putranya Amr, Salamah bin Hisyam, Amr bin Sa'id, dan Aban bin Sa'id. Khalid bin Sa'id juga tertahan lukanya dan tidak diketahui ke mana ia pergi, begitu juga Hisyam bin Al-Aas dan Amr bin Al-Thufail.

Pada hari itu Yazid bin Abu Sufyan bertahan dan bertempur dengan sengit. Ayahnya mendatanginya dan berkata: "Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, karena tidak ada seorang Muslim pun di lembah ini kecuali ia wajib berperang. Terlebih lagi engkau dan orang-orang sepertimu yang memimpin kaum Muslimin!" Ia menjawab: "Akan aku laksanakan insya Allah".

Said bin Al-Musayyib meriwayatkan dari ayahnya bahwa suasana menjadi tenang pada hari Yarmouk, lalu terdengar suara yang memenuhi kamp militer berseru: "Wahai pertolongan Allah mendekatlah, teguhlah wahai segenap kaum Muslimin!" Ternyata itu adalah suara Abu Sufyan di bawah panji putranya, Yazid. Kaum Muslimin mengakhirkan shalat Isya hingga kemenangan telah mantap diraih.


Kedatangan Kurir dengan Berita Wafatnya Ash-Shiddiq

Ketika mereka berada di tengah berkecamuknya perang, datanglah kurir dari arah Hijaz menemui Khalid bin Walid. Khalid bertanya: "Apa kabarnya?" Kurir itu membisikkan kepadanya: "Sesungguhnya Ash-Shiddiq (Abu Bakr) telah wafat dan Umar telah diangkat sebagai Khalifah, serta telah menunjuk Abu Ubaidah bin Al-Jarrah untuk memimpin pasukan".

Khalid merahasiakan berita itu dan tidak menampakkannya kepada orang-orang agar tidak terjadi kelemahan dalam kondisi tersebut. Khalid berkata dengan suara yang didengar orang-orang: "Engkau telah berbuat baik," lalu ia mengambil surat itu dan meletakkannya di tempat anak panahnya. Ia pun menyibukkan diri dengan mengatur peperangan. Baru setelah kaum Muslimin merasa sedih atas wafatnya Abu Bakr, Khalid memberitahukannya, namun Allah menggantikan mereka dengan Al-Faruq (Umar).


Rahasia Kekalahan Romawi dan Pertanyaan Heraklius Mengenainya

Walid bin Muslim meriwayatkan bahwa ketika kaum Muslimin turun di wilayah Yordania, seorang pemimpin Romawi mengirim mata-mata untuk mencari tahu tentang kaum Muslimin. Mata-mata itu kembali dan berkata: "Aku datang dari sisi laki-laki yang bertubuh kurus namun menunggangi kuda-kuda yang tangkas. Di malam hari mereka adalah rahib, dan di siang hari mereka adalah penunggang kuda yang ulung. Mereka menyiapkan anak panah dan meruncingkan tombak. Jika engkau berbicara kepada temanmu, ia tidak akan memahamimu karena kerasnya suara mereka dengan Al-Qur'an dan zikir". Pemimpin itu berkata kepada rekan-rekannya: "Telah datang kepada kalian kaum yang kalian tidak akan sanggup menghadapinya".

Diriwayatkan pula bahwa musuh tidak pernah mampu bertahan melawan sahabat Rasulullah bahkan sekejap pun. Heraklius—saat berada di Antiokhia—bertanya kepada pasukannya yang kalah: "Celaka kalian! Kabarkan padaku tentang kaum yang memerangi kalian, bukankah mereka manusia seperti kalian?" Mereka menjawab: "Benar." Heraklius bertanya: "Apakah kalian lebih banyak atau mereka?" Mereka menjawab: "Bahkan kami jauh lebih banyak berkali-kali lipat".

Heraklius bertanya: "Lalu mengapa kalian kalah?" Seorang tetua di antara pembesar mereka menjawab: "Karena mereka shalat di malam hari, berpuasa di siang hari, menepati janji, memerintahkan kebajikan, melarang kemungkaran, dan bersikap adil di antara sesama mereka. Sedangkan kami meminum khamar, berzina, melakukan yang haram, melanggar janji, merampas, menzalimi, menyuruh pada kemurkaan Allah, melarang dari apa yang diridai Allah, dan berbuat kerusakan di muka bumi". Heraklius berkata: "Engkau telah berkata jujur padaku".


Sumber Kisah:

Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasab Arab: Antara Harga Diri, Politik, dan Catatan Sejarah

Qahthani dan 'Adnani: Konflik Identitas yang Lahir di Masa Islam

Gerakan Murtad dan Penumpasannya