Nasab Arab: Bukan Hanya Darah, Tapi Juga Perjanjian!
Mengapa Nasab Itu Penting?
Pernahkah Anda berpikir, mengapa orang Arab begitu menjaga
silsilah keturunannya? Apakah benar nasab itu semata-mata soal hubungan darah?
Penulis kitab ini—seorang sejarawan besar—memberikan pandangan
yang mengejutkan: Nasab, menurut pengertian yang paling mendekati
kebenaran, bukanlah apa yang biasa kita pahami selama ini!
Lalu, apa sebenarnya nasab itu?
Nasab Adalah "Kiasan" untuk Perjanjian Aliansi
Menurut penulis, nasab yang dimaksud dalam tradisi Arab
sebenarnya adalah kiasan untuk "h al - jim" (perjanjian
aliansi) yang mengikat sejumlah suku. Suku-suku ini bersatu karena:
- Kepentingan
mereka sudah menjadi satu
- Manfaat
dan mudarat mereka saling terkait
- Mereka
sepakat untuk mengikat janji setia di antara mereka
Yang lemah bergabung dengan yang kuat. Yang sedikit merapat
kepada yang banyak. Dari gabungan ini, lahirlah kekuatan dan kesatuan.
Dengan cara inilah suku-suku yang bersekutu menjaga kepentingan dan hak-hak
mereka.
Abu Ubaid al-Bakri menjelaskan:
"Ketika suku-suku melihat apa yang terjadi di antara
mereka—perpecahan, persaingan memperebutkan air dan padang rumput, orang-orang
mencari penghidupan di tempat yang luas, dan yang kuat menguasai yang
lemah—maka yang lemah pun bergabung dengan yang kuat, yang sedikit bersekutu
dengan yang banyak..."
Aliansi: Kebutuhan Hidup di Padang Pasir
Keterpaksaan telah mendorong suku-suku di
Jazirah Arab untuk membentuk aliansi—sama seperti negara-negara modern
membentuk pakta pertahanan—demi:
- Menjaga
keamanan
- Mempertahankan
kepentingan bersama
Jika aliansi ini berlangsung lama dan ikatan yang menyatukan
suku-suku tersebut tetap kuat, maka lambat laun ikatan ini akan berubah
menjadi nasab. Seluruh anggota aliansi pun mulai merasa bahwa mereka
berasal dari satu keluarga yang bersambung nasabnya dari satu
bapak.
Sebaliknya, bisa juga aliansi itu rusak, atau sebagian suku
memisahkan diri lalu bergabung dengan aliansi lain. Maka di Jazirah Arab kita
temukan aliansi-aliansi baru terbentuk, dan aliansi-aliansi lama bubar atau
melemah.
Mengapa Suku Lemah Membutuhkan Aliansi?
Klan-klan kecil atau suku-suku lemah tidak akan
mampu mempertahankan diri tanpa sekutu yang kuat—yang akan menguatkan
mereka jika diserang suku lain, atau jika ingin menuntut balas darah.
Sebagian besar suku masuk ke dalam aliansi semacam ini.
Hanya sedikit suku yang sangat kuat dan besar yang bisa menyombongkan diri
karena tidak bergantung pada sekutu; mereka mempertahankan diri dan
menuntut hak dengan pedang mereka sendiri.
Dalam sebuah aliansi, biasanya suku-suku yang bersekutu
tinggal di wilayah yang sama. Suku yang lemah bisa menetap di
wilayah sekutunya yang kuat. Dan tentu saja, kekuasaan berada di tangan
suku-suku besar.
Tradisi yang Juga Ditemukan pada Bangsa Lain
Aliansi semacam ini tidak hanya dikenal di kalangan Arab.
Bangsa-bangsa Semit lainnya—seperti bangsa Ibrani—juga mengenalnya.
Dan sama seperti pada bangsa Arab, aliansi ini sering berakhir menjadi nasab,
di mana pihak-pihak yang bersekutu merasa bahwa mereka berasal dari satu
keluarga dengan satu silsilah.
Dalam bahasa Arab, aliansi disebut "tahaluf".
Adapun di kalangan bangsa Yaman (Arab Selatan), disebut "takal
lu'" .
Pandangan Goldziher: Akar Nasab Adalah Kepentingan
Seorang orientalis terkemuka, Ignác Goldziher,
berpendapat bahwa untuk memahami nasab Arab, kita harus memahami
aliansi dan prosesnya. Menurutnya:
Aliansi yang menyatukan sejumlah kabilah (buthun), klan
('asya'ir), dan suku (qaba'il) inilah yang membentuk suku-suku besar dan
nasab-nasab. Sebaliknya, hancurnya aliansi menyebabkan hancurnya nasab dan
terbentuknya nasab-nasab baru.
Lebih jauh, Goldziher menegaskan bahwa pendorong terbentuknya
aliansi ini bukanlah perasaan internal adanya hubungan kekerabatan atau
kesadaran nasionalisme. Bukan pula karena rasa setiakawan sedarah.
Motifnya jauh lebih pragmatis: kepentingan spesifik klan,
seperti:
- Perlindungan
- Menuntut
balas darah
- Menjamin
penghidupan
Maka, kita dapati Ka'b bergabung
dengan Bani Mâzin (yang lebih kuat darinya). Khuza'ah bergabung
dengan Bani Mudlij. Bani 'Amir bersekutu
dengan Iyad. Dan masih banyak contoh lain.
Aliansi Rapuh: Bergantung pada Kepentingan
Karena kepentingan spesifik adalah faktor
aktif dalam membentuk aliansi, maka lamanya aliansi sangat
tergantung pada bertahannya kepentingan tersebut. Aliansi sering
diikat untuk melaksanakan syarat-syarat tertentu yang disepakati. Ketika syarat
itu terlaksana—atau salah satu pihak lalai melaksanakannya—aliansi pun bubar.
Inilah salah satu kelemahan terbesar dalam sejarah
Arab sebelum Islam. Pikiran suku-suku, ketika mengikat aliansi, tidak
pernah melampaui kepentingan klan atau suku mereka sendiri. Aliansi hanya
dibentuk untuk urusan-urusan lokal yang menyangkut suku-suku tertentu. Tidak
ada aliansi besar yang diarahkan untuk mempertahankan seluruh Jazirah
Arab atau melawan musuh bersama bangsa Arab.
Dan kita tidak bisa menuntut lebih dari sistem yang dibangun
di atas 'ashabiyah (fanatisme kesukuan) dan kesadaran
yang sempit. Tanah air sebuah suku hanya seluas tanah yang mereka diami.
Jika mereka pindah ke tanah baru, maka tanah barulah yang menjadi tanah air
yang akan mereka bela mati-matian.
Sifat individualistis dan egois kesukuan inilah yang menjadi
tujuan politik para pemimpin suku—dan sekaligus hambatan terbesar bagi
terbentuknya pemerintahan sipil yang besar di Jazirah Arab. Inilah ciri
paling menonjol dari kehidupan politik sebelum Islam.
Bukti Nyata: Kasus Suku Anmar
Sekarang, mari kita lihat contoh nyata yang menjadi bukti
kuat bagi teori ini: perbedaan pendapat para ahli nasab tentang suku
Anmar.
Ada yang mengatakan bahwa Anmar adalah keturunan Nizar (salah
satu bapak suku 'Adnani). Mereka menganggap Anmar sebagai saudara kandung
Rabi'ah, Mudhar, dan Iyad—salah satu dari empat putra Nizar.
Menurut mereka, keturunan Anmar masuk ke Yaman (bergabung dengan suku-suku
Yaman), lalu dinisbahkan kepada Yaman. Itulah sebabnya terjadi perbedaan.
Sementara itu, pihak Yaman bersikeras bahwa
Anmar adalah dari mereka. Mereka mengatakan Anmar adalah salah satu
dari sepuluh putra Saba' (bapak leluhur Yaman). Maka, Anmar
adalah saudara dari:
- Lakhm
- Judzam
- 'Amilah
- Ghassan
- Himyar
- Al-Azd
- Madzhij
- Kinanah
- Al-Asy'ariyyun
Mereka juga mengklaim bahwa Bijâlah dan Khats'am adalah
keturunan Anmar. Mereka mendasarkan klaim ini pada sebuah hadits yang
dinisbahkan kepada Rasulullah.
Lalu, pihak 'Adnani pun juga mendasarkan pendapat mereka
pada hadits lain yang juga dinisbahkan kepada Rasulullah!
Apa Kesimpulan dari Kasus Anmar?
Penulis tidak peduli apakah Anmar itu dari Yaman atau dari
Nizar. Yang menjadi titik penting adalah:
Aliansi-lah yang sangat berpengaruh dalam melahirkan
nasab.
Andai suku Anmar tidak masuk ke Yaman dan
tidak tinggal di antara suku-suku Yaman, niscaya nasab mereka tidak akan pernah
masuk ke dalam silsilah Yaman.
Andai suku Anmar tidak masuk ke dalam suku-suku
'Adnani dan tidak bersekutu dengan mereka, niscaya para ahli nasab
tidak akan menganggap mereka sebagai bagian dari Nizar, dan tidak akan
menjadikan Anmar sebagai putra keempat Nizar.
Percampuran Anmar di Yaman dan di Nizar, serta
ketidakjelasan identitas mereka di antara dua kubu inilah yang menyebabkan para
ahli nasab kebingungan menentukan nasab mereka!
Faktor Lain: Perang, Migrasi, dan Politik
Seringkali, peperangan memaksa suku-suku yang kalah untuk
tunduk kepada kekuasaan suku-suku yang menang. Bisa saja mereka bersekutu dan
masuk ke dalam wilayah kekuasaan suku pemenang. Jika berlangsung lama, ikatan
aliansi dan ketetanggaan ini bisa berubah menjadi nasab.
Selain itu, pertempuran antar suku kadang menyebabkan migrasi suku-suku
yang bertikai ke wilayah baru. Mereka lalu tinggal di antara suku lain,
mengikat perjanjian, dan bertetangga. Jika berlangsung lama, itu pun
menjadi nasab.
Contohnya:
- Migrasi
suku-suku 'Adnani ke Yaman karena saling bertempur, yang menyebabkan nasab
mereka masuk ke dalam silsilah Yaman.
- Migrasi
suku-suku Yaman ke utara dan bercampur dengan suku-suku 'Adnani, yang
menyebabkan nasab mereka masuk ke dalam silsilah suku-suku tersebut.
Dalam kitab-kitab nasab dan sejarah, Anda akan
menemukan banyak sekali contoh percampuran nasab antara
suku-suku yang dikenal sebagai 'Adnani dan Qahthani.
Anda juga telah melihat bagaimana politik pada
masa awal Islam dan masa Umayyah membentuk dan mengatur ulang nasab. Anda juga
melihat:
- Sebagian
ahli nasab menisbahkan suatu suku kepada bapak Qahthani, sementara yang
lain menisbahkan kepada bapak 'Adnani
- Bagaimana
ahli nasab dari suku itu sendiri memiliki pendapat yang berbeda
- Bagaimana
sebagian ahli nasab mengembalikan nasab Tsaqif ke Tsamud karena
kebencian mereka terhadap Al-Hajjaj (yang berasal dari
Tsaqif)
- Perbedaan
dalam menggambar pohon-pohon silsilah
Catatan Penting: Tiga Suku yang Berbeda
Ibnu Hazm—ulama besar Andalusia—mengembalikan semua
suku Arab kepada satu bapak, kecuali tiga suku: Tanukh, Al-'Atiq,
dan Ghassan. Menurutnya, setiap suku dari ketiganya adalah kumpulan
dari beberapa kabilah (buthun).
Ahli nasab lainnya menyebutkan bahwa Tanukh adalah
nama untuk sepuluh suku yang berkumpul dan menetap di Bahrain,
lalu mereka dinamakan Tanukh.
Tentang Ghassan, disebutkan bahwa ia terdiri
dari beberapa kabilah dari suku Al-Azd. Mereka menetap di sebuah
mata air yang bernama Ghassan, maka dinamakanlah mereka dengan nama
itu.
Maka, Tanukh dan Al-Azd pada dasarnya adalah aliansi,
namun kemudian—di kalangan banyak sejarawan—ia menjadi nasab yang
dipertahankan.
Penutup: Antara Leluhur Sejati dan Leluhur "Hasil
Aliansi"
Di antara bapak-bapak leluhur suku dan keluarga yang disebut
para ahli nasab, ada yang benar-benar bapak leluhur sejati—mereka
hidup dan mati, terkenal karena peperangan dan kepribadian mereka yang kuat.
Mereka memberikan kedudukan tinggi bagi suku mereka dan suku-suku yang
bersekutu atau tunduk kepada mereka. Kebanggaan ini membuat suku-suku itu
menisbahkan diri kepada mereka hingga terukirlah dalam bentuk nasab.
Akan tetapi, tidak sedikit pula "bapak leluhur"
yang sebenarnya hanyalah simbol dari sebuah aliansi lama yang
lama-kelamaan menjelma menjadi "darah" dalam ingatan kolektif suku.
Maka, ketika membaca silsilah-silsilah panjang yang tersusun
rapi dalam kitab-kitab nasab, ingatlah: tidak semuanya adalah hubungan
darah. Sebagian besarnya adalah hubungan perjanjian dan kepentingan yang
dibekukan menjadi tradisi.
Sumber Kisah
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar