Bani Nadhir: Ketika Pengkhianatan Berujung Pengusiran

suasana pengepungan damai di sekitar perkampungan Bani Nadhir. Latar belakang adalah benteng-benteng batu kokoh berarsitektur khas Arab dengan tembok tinggi dan menara pengawas di atas bukit. Di kaki bukit, terlihat sekelompok laki-laki dengan pakaian Arab kuno duduk dalam formasi melingkar dengan tenang, menggambarkan pasukan Muslim yang melakukan pengepungan tanpa pertempuran sengit. Beberapa pohon kurma berdiri di antara benteng dan padang pasir.

Di tengah dinamika Madinah yang terus berkembang, ada satu suku Yahudi yang memiliki kedudukan istimewa: Bani Nadhir. Mereka adalah sekutu yang pernah mengikat perjanjian damai dengan Rasulullah . Namun di balik senyuman manis dan janji-janji mereka, tersimpan niat busuk yang nyaris mengakhiri perjalanan dakwah Islam di masa awalnya.


Niat Licik di Balik Tawaran Bantuan

Peristiwa bermula dari sebuah kesalahan yang tidak disengaja. Amr bin Umayyah adh-Dhamri, salah seorang sahabat yang selamat dari peristiwa tragis di Bi’r Ma’unah, dalam perjalanan pulang ke Madinah bertemu dengan dua orang laki-laki dari Bani Amir. Karena masih membara dendam atas peristiwa pembantaian terhadap para sahabatnya, ia pun membunuh kedua orang itu. Ia tidak mengetahui bahwa kedua orang tersebut memiliki perjanjian keamanan dengan Rasulullah .

Ketika kabar itu sampai kepada Rasulullah , beliau bersabda:

لَقَدْ قَتَلْتَ رَجُلَيْنِ لَأَدِيَنَّهُمَا

Artinya: “Sungguh engkau telah membunuh dua orang, dan sungguh aku akan membayar diat (tebusan) mereka.”

Karena antara Bani Amir dan Bani Nadhir terikat perjanjian dan ikatan persekutuan, Rasulullah pun pergi ke perkampungan Bani Nadhir untuk meminta bantuan mereka dalam mengumpulkan diat. Beliau ditemani oleh para sahabat terdekat, di antaranya Abu Bakar, Umar, dan Ali.

Ketika rombongan tiba, Bani Nadhir menyambut dengan penuh keramahan. Mereka menunjukkan kesediaan untuk membantu. Namun di balik itu, mereka sedang menyusun rencana jahat.

Saat Rasulullah sedang duduk bersandar di dinding salah satu rumah mereka, para pemimpin Bani Nadhir berkumpul dan berbisik, “Kalian tidak akan pernah mendapatkan kesempatan seperti ini lagi. Siapa yang akan naik ke atas rumah ini lalu menjatuhkan batu besar ke kepalanya, sehingga kita terbebas darinya?”

Amr bin Jihasy, seorang yang celaka, segera menyanggupi. Ia bersiap untuk naik ke atap rumah dan menjatuhkan batu besar kepada Rasulullah .


Wahyu yang Menyelamatkan

Namun Allah tidak pernah membiarkan Rasul-Nya sendirian. Dari langit, turunlah wahyu yang memberitahukan rencana jahat mereka. Seketika itu juga, Rasulullah berdiri dan segera meninggalkan tempat tersebut, kembali menuju Madinah.

Para sahabat yang tadinya menunggu, mulai merasa cemas karena lama tidak melihat beliau. Mereka pun mencari dan akhirnya menemukan beliau telah tiba di Madinah. Rasulullah lalu menceritakan apa yang direncanakan oleh Bani Nadhir.

Hati para sahabat pun membara. Namun Rasulullah tetap mengambil langkah yang penuh kebijaksanaan. Beliau mengutus Muhammad bin Maslamah untuk menyampaikan ultimatum kepada Bani Nadhir:

Keluarlah dari Madinah dalam waktu sepuluh hari. Jika tidak, kalian akan menghadapi kehancuran.

Mendengar ultimatum ini, Bani Nadhir sadar bahwa Allah telah membongkar rencana jahat mereka. Namun mereka tidak segera pergi. Kebimbangan menyelimuti mereka, hingga datanglah utusan dari Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin kaum munafik, bersama para pengikutnya. Mereka berkata, “Tetaplah di tempat kalian dan bertahanlah! Kami tidak akan menyerahkan kalian. Jika kalian diperangi, kami akan berperang bersama kalian. Jika kalian diusir, kami akan ikut keluar.”

Janji-janji kosong ini membuat Bani Nadhir merasa kuat. Mereka pun mengirim pesan kepada Rasulullah : “Kami tidak akan keluar.” Dengan itu, mereka secara resmi mengkhianati perjanjian.

Allah berfirman mengungkap kebohongan orang-orang munafik:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Artinya: “Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara Ahli Kitab, ‘Sungguh jika kamu diusir, niscaya kami akan keluar bersama kamu; dan kami tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menentang) kamu; dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantumu.’ Allah menyaksikan bahwa mereka benar-benar pendusta.”
*(QS. Al-Hasyr: 11)*


Pengepungan yang Menghancurkan Benteng Kesombongan

Rasulullah segera memerintahkan persiapan untuk menghadapi mereka. Beliau menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai pengganti beliau di Madinah, lalu bergerak menuju perkampungan Bani Nadhir di bulan Rabi’ul Awal tahun ke-4 Hijriah.

Pengepungan berlangsung selama enam malam (menurut riwayat lain lima belas malam). Bani Nadhir bertahan di balik benteng-benteng kokoh mereka, melepaskan tembakan panah ke arah kaum Muslimin. Namun perlahan, kepungan semakin ketat.

Untuk melemahkan moral mereka, Rasulullah memerintahkan penebangan dan pembakaran sebagian pohon kurma milik Bani Nadhir. Ini adalah taktik perang yang diperbolehkan untuk mempercepat kemenangan dan mengurangi pertumpahan darah.

Melihat pohon-pohon kurma mereka terbakar, Bani Nadhir berteriak protes, “Wahai Muhammad! Bukankah engkau dulu melarang kerusakan dan mencela orang-orang yang melakukannya? Lalu mengapa engkau menebang dan membakar pohon kurma?”

Mereka lupa bahwa ini adalah strategi perang yang diizinkan Allah. Maka turunlah firman-Nya:

مَا قَطَعْتُمْ مِنْ لِينَةٍ أَوْ تَرَكْتُمُوهَا قَائِمَةً عَلَىٰ أُصُولِهَا فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيُخْزِيَ الْفَاسِقِينَ

Artinya: “Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik mereka) atau yang kamu biarkan tetap berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik.”
*(QS. Al-Hasyr: 5)*


Janji Palsu yang Sirna

Sementara itu, Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya yang telah berjanji akan membantu Bani Nadhir ternyata tidak pernah muncul. Mereka meninggalkan Bani Nadhir dalam kesulitan. Allah menggambarkan keadaan mereka dengan gambaran yang sangat jelas:

كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْ ۖ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ. فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ

Artinya: “(Bujukan mereka) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia, ‘Kafirlah!’ Maka ketika dia (manusia) telah kafir, dia (setan) berkata, ‘Sungguh, aku berlepas diri dari kamu. Sungguh, aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.’ Maka akibat keduanya adalah bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan bagi orang-orang zalim.”
*(QS. Al-Hasyr: 16-17)*

Ketakutan merambah ke dalam hati Bani Nadhir. Benteng-benteng mereka yang kokoh tidak lagi mampu melindungi. Mereka menyadari bahwa kelanjutan pertahanan hanya akan membawa kepada kehancuran total.


Pengusiran dengan Kemuliaan

Akhirnya, Bani Nadhir menyerah dan meminta agar mereka diusir dengan selamat. Rasulullah menerima permintaan mereka dengan syarat: mereka boleh membawa harta benda yang dapat diangkut oleh unta, kecuali senjata (al-halqah). Untuk setiap tiga orang, mereka diberi satu unta untuk membawa barang-barang mereka.

Dengan tangan mereka sendiri, mereka mulai membongkar rumah-rumah mereka, mengambil segala sesuatu yang mereka anggap berharga. Mereka lebih memilih menghancurkan sendiri rumah mereka daripada meninggalkannya untuk dimanfaatkan oleh kaum Muslimin.

Sebagian dari mereka pergi menuju Khaibar, seperti Huyay bin AkhthabSalam bin Abi al-Huqaiq, dan Kinânah bin ar-Rabi’. Sebagian lainnya menuju Adzri’at di perbatasan Syam (Suriah).

Mereka meninggalkan harta yang melimpah: kebun-kebun kurma, tanah pertanian, senjata, dan rumah-rumah. Semua ini menjadi fa’i (harta yang diperoleh tanpa peperangan) yang menjadi hak Rasulullah untuk membagikannya sesuai kehendak Allah.


Pembagian Fa’i yang Penuh Keadilan

Allah menegaskan aturan pembagian fa’i dalam surah Al-Hasyr:

مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya: “Apa saja harta rampasan (fa’i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) penduduk negeri-negeri, maka adalah untuk Allah, Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan, agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.”
*(QS. Al-Hasyr: 7)*

Rasulullah kemudian membagikan harta Bani Nadhir kepada para Muhajirin (kaum emigran) secara penuh, karena mereka sangat membutuhkan setelah meninggalkan seluruh harta mereka di Mekah. Tidak ada seorang pun dari kaum Anshar yang mendapat bagian, kecuali tiga orang yang memang sangat miskin: Abu DujanahSahl bin Hunaif, dan Al-Harits bin ash-Shimmah.

Dengan pembagian ini, Allah mengangkat kesulitan yang dialami para Muhajirin. Kini mereka tidak lagi bergantung pada bantuan saudara-saudara mereka dari kalangan Anshar.


Pujian untuk Anshar dan Pelajaran bagi Umat

Allah juga memuji kaum Anshar atas keikhlasan dan pengorbanan mereka:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka, dan tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan. Dan siapa yang menjaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
*(QS. Al-Hasyr: 9)*

Kemudian Allah menegaskan sikap yang harus dimiliki oleh setiap Muslim yang datang setelah mereka:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Dan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.’”
*(QS. Al-Hasyr: 10)*

Inilah pelajaran abadi bagi seluruh umat Islam: mencintai para sahabat, menjaga hati dari kedengkian, dan selalu mendoakan kebaikan bagi mereka yang telah mendahului kita dalam keimanan.


Hikmah di Balik Pengusiran Bani Nadhir

Dengan keluarnya Bani Nadhir dari Madinah, Allah mencabut duri kedua yang selama ini mengganggu ketenteraman kota. Jika rencana jahat mereka berhasil, bisa jadi dakwah Islam akan terhenti di masa awal yang sangat rapuh.

Beberapa pelajaran penting dapat kita petik:

  1. Allah senantiasa melindungi Rasul-Nya – Rencana jahat apapun tidak akan berhasil tanpa izin Allah.
  2. Janji orang munafik adalah tipuan – Mereka berjanji setia tetapi justru meninggalkan sekutunya saat kesulitan datang.
  3. Tegaknya keadilan – Rasulullah tetap membayar diat dua orang yang terbunuh meskipun kesalahan terjadi di luar kesengajaan.
  4. Prioritas kepada yang paling membutuhkan – Harta fa’i diberikan kepada Muhajirin yang tidak memiliki apa-apa, menunjukkan keadilan sosial dalam Islam.
  5. Kemuliaan Anshar – Sikap mengutamakan orang lain meskipun dalam kesulitan menjadi teladan tertinggi dalam persaudaraan.

Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Allah Membela Para Wanita Mukmin yang Hijrah

Umrah Perjanjian: Ketika Kerinduan Bertemu Keagungan

Surat-Surat Cinta untuk Dunia: Ketika Islam Menyapa Para Penguasa