Haji Wada’ (1)

rombongan besar jamaah haji berjalan di padang pasir menuju Mekah. Di barisan depan, seorang tokoh utama dengan jubah putih digambarkan dari sudut belakang menunggang unta putih. Ratusan ribu orang mengikuti di belakangnya, sebagian menunggang unta, sebagian berjalan kaki. Beberapa dari mereka mengangkat tangan ke langit, mulut terbuka seolah melantunkan talbiyah. Langit senja berwarna jingga keemasan, menciptakan suasana yang magis dan penuh kekhusyukan. Di kejauhan, tampak kota Mekah dengan Ka'bah yang samar.

Ketika Jazirah Telah Bersatu dalam Tauhid

Setelah kemenangan demi kemenangan, satu per satu suku di Jazirah Arab datang berbondong-bondong menyatakan keislaman. Kini, tidak ada lagi yang menyekutukan Allah. Rukun Islam telah dijelaskan oleh Rasulullah , baik dengan perkataan maupun perbuatan. Hanya satu rukun yang belum beliau praktikkan secara sempurna di hadapan umat: ibadah haji.

Pada tahun ke-9 Hijriah, Abu Bakar ash-Shiddiq telah memimpin jamaah haji untuk mengajarkan manasik. Namun setahun kemudian, tiba saatnya Rasulullah sendiri yang akan memandu umat, membersihkan haji dari segala bid’ah yang tersisa, dan mengembalikannya kepada tuntunan Nabi Ibrahim as.

Beliau bersabda:

كُونُوا عَلَى مَشَاعِرِكُمْ، فَإِنَّكُمْ عَلَى إِرْثٍ مِنْ إِرْثِ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ

“Tetaplah kalian di tempat-tempat ibadah haji kalian, karena sesungguhnya kalian berada di atas warisan dari warisan bapak kalian, Ibrahim.” (HR. An-Nasa’i, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Dan ketika beliau melempar Jumrah Aqabah di haji ini, beliau bersabda:

لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ، فَإِنِّي لَا أَدْرِي لَعَلِّي لَا أَحُجُّ بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ

“Ambillah dariku manasik (ibadah haji) kalian, karena sungguh aku tidak tahu, barangkali aku tidak akan melaksanakan haji setelah hajiku yang ini.” (HR. Muslim)

Haji ini disebut Haji Wada’ (Haji Perpisahan), Haji Islam, dan Haji Balagh (Haji Penyampaian).


Seruan Haji: Berbondong-bondong Menuju Tanah Suci

Begitu masuk bulan Dzulqa’dah tahun ke-10 Hijriah, Rasulullah mengumumkan kepada seluruh penjuru untuk bersiap menunaikan haji. Mereka datang dari segala penjuru: dari kota dan pedalaman, dari lembah dan padang pasir, berjalan kaki dan menunggang unta. Di sekitar Madinah, ribuan kemah didirikan. Sebagian riwayat menyebut lebih dari seratus ribu orang berkumpul.


Keberangkatan: Talbiyah Menggema di Padang Pasir

Pada hari Sabtu, tanggal 25 Dzulqa’dah, setelah salat Zuhur di Madinah, Rasulullah berangkat. Beliau tiba di Dzu al-Hulaifah (miqat), mandi, memakai wewangian, melabur rambut, lalu bertalbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

“Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”

Beliau membawa hadyu (hewan kurban) dan berniat qiran (haji dan umrah sekaligus). Para sahabat pun berbeda niat sesuai petunjuk beliau.


Memasuki Mekah: Thawaf dan Sa’i

Pada hari Ahad, 4 Dzulhijjah, rombongan memasuki Mekah. Rasulullah thawaf dengan menaiki untanya, menyentuh Hajar Aswad dengan tongkat, dan memerintahkan idhthiba’ serta ramal pada tiga putaran pertama. Setelah thawaf, beliau salat di belakang Maqam Ibrahim, lalu sa’i antara Shafa dan Marwah.

Beliau memerintahkan para sahabat yang tidak membawa hadyu untuk bertahallul (mengubah niat haji menjadi umrah). Beliau sendiri tetap dalam ihram karena membawa hadyu.


Menuju Arafah: Persiapan Khutbah Agung

Pada hari Kamis, 8 Dzulhijjah (Hari Tarwiyah), beliau berangkat ke Mina, salat di sana hingga Subuh. Setelah matahari terbit, beliau menuju Arafah. Di Bathn Wadi ‘Urnah, beliau menyampaikan khutbah bersejarah. Jarir bin Abdullah al-Bajali mengeraskan suara, dan Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf menyampaikan dari beliau.


Khutbah Arafah

Berikut adalah teks lengkap khutbah Rasulullah pada hari Arafah, 9 Dzulhijjah tahun 10 Hijriah, yang diriwayatkan dalam berbagai sumber (Ibnu Hisyam, Muslim, dll.), beserta terjemahan kalimat demi kalimat:


Setelah memuji Allah dan mengucapkan syukur kepada-Nya, beliau bersabda:

أَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ، اسْمَعُوا قَوْلِي، فَإِنِّي لَا أَدْرِي لَعَلِّي لَا أَلْقَاكُمْ بَعْدَ عَامِي هَذَا بِهَذَا الْمَوْقِفِ أَبَدًا.

“Amma ba’du: Wahai manusia, dengarkanlah ucapanku, karena sungguh aku tidak tahu barangkali aku tidak akan bertemu dengan kalian setelah tahun ini di tempat ini selamanya.”

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ إِلَى أَنْ تَلْقَوْا رَبَّكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا.

“Wahai manusia, sesungguhnya darah-darah kalian dan harta-harta kalian haram atas kalian (saling menumpahkan dan merampas) hingga kalian bertemu Tuhan kalian, seperti haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, di negeri kalian ini.”

أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟ اللَّهُمَّ فَاشْهَدْ.

“Ketahuilah, apakah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah.”

فَمَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ أَمَانَةٌ، فَلْيُؤَدِّهَا إِلَى مَنِ ائْتَمَنَهُ عَلَيْهَا.

“Maka barang siapa yang memiliki amanat di sisinya, hendaklah ia menunaikannya kepada orang yang mempercayakannya.”

أَلَا إِنَّ كُلَّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَيَّ مَوْضُوعٌ، وَرِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ، وَإِنَّ أَوَّلَ رِبًا أَبْدَأُ بِهِ رِبَا عَمِّي الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ.

“Ketahuilah, sesungguhnya segala sesuatu dari urusan jahiliah terletak di bawah kedua telapak kakiku, dihapuskan. Dan riba jahiliah dihapuskan. Dan sungguh riba pertama yang aku hapus adalah riba pamanku, Abbas bin Abdul Muthalib.”

وَإِنَّ دِمَاءَ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعَةٌ، وَإِنَّ أَوَّلَ دَمٍ أَبْدَأُ بِهِ دَمُ ابْنِ رَبِيعَةَ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ.

“Dan sesungguhnya darah-darah (tuntutan balas) jahiliah dihapuskan. Dan sungguh darah pertama yang aku hapus adalah darah Ibnu Rabi’ah bin al-Harits bin Abdul Muthalib.”

وَإِنَّ مَآثِرَ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعَةٌ غَيْرَ السِّدَانَةِ وَالسِّقَايَةِ.

“Dan sesungguhnya kebanggaan-kebanggaan jahiliah dihapuskan, kecuali (tugas) pelayanan Ka’bah dan memberi minum jamaah haji.”

وَالْعَمْدُ قَوَدٌ، وَشِبْهُ الْعَمْدِ مَا قُتِلَ بِالْعَصَا وَالْحَجَرِ، فِيهِ مِائَةُ بَعِيرٍ، فَمَنْ زَادَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ.

“Dan (pembunuhan) sengaja adalah qishash (balasan setimpal). Dan (pembunuhan) semi-sengaja, yaitu yang dibunuh dengan tongkat atau batu, (diatnya) seratus unta. Maka barang siapa menambah (dari itu), maka ia termasuk ahli jahiliah.”

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَئِسَ أَنْ يُعْبَدَ فِي أَرْضِكُمْ هَذِهِ، وَلَكِنَّهُ رَضِيَ أَنْ يُطَاعَ فِيمَا سِوَى ذَلِكَ مِمَّا تَحْقِرُونَ مِنْ أَعْمَالِكُمْ.

“Wahai manusia, sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah di bumi kalian ini, tetapi ia rela untuk ditaati dalam hal-hal selain itu dari apa yang kalian anggap remeh dari amalan-amalan kalian.”

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ النَّسِيءَ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ، يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا، يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا، لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ.

“Wahai manusia, sesungguhnya an-Nasi’ (pengunduran bulan haram) adalah tambahan dalam kekafiran, dengannya orang-orang kafir disesatkan. Mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun lain, untuk menyesuaikan bilangan yang telah diharamkan Allah.”

وَإِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَإِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ وَوَاحِدٌ فَرْدٌ: ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ.

“Dan sesungguhnya zaman telah berputar seperti bentuknya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dan sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam Kitab Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya empat bulan haram: tiga berturut-turut (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram) dan satu sendiri (Rajab) yang terletak antara Jumada dan Sya’ban.”

أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟ اللَّهُمَّ فَاشْهَدْ.

“Ketahuilah, apakah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah.”

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا، وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ حَقًّا. لَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لَا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ غَيْرَكُمْ، وَلَا يَدْخُلْنَ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ بُيُوتَكُمْ إِلَّا بِإِذْنِكُمْ. فَإِنْ فَعَلْنَ فَإِنَّ اللَّهَ أَذِنَ لَكُمْ أَنْ تَعِظُوهُنَّ، وَتَهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ، وَتَضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ. فَإِنِ انْتَهَيْنَ وَأَطَعْنَكُمْ فَعَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ.

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian memiliki hak atas istri-istri kalian, dan mereka memiliki hak atas kalian. Hak kalian atas mereka adalah bahwa mereka tidak boleh memberi tempat di tempat tidur kalian kepada orang lain (berzina), dan tidak boleh memasukkan seseorang yang kalian benci ke dalam rumah kalian kecuali dengan izin kalian. Jika mereka melakukannya (melanggar), maka sesungguhnya Allah mengizinkan kalian untuk menasihati mereka, memisahkan tempat tidur mereka, dan memukul mereka dengan pukulan yang tidak menyakiti. Jika mereka berhenti dan menaati kalian, maka wajib atas kalian memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan cara yang baik.”

وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّهُنَّ عَوَانٍ عِنْدَكُمْ لَا يَمْلِكْنَ لِأَنْفُسِهِنَّ شَيْئًا، وَإِنَّكُمْ إِنَّمَا أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانَةِ اللَّهِ، وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ. فَاتَّقُوا اللَّهَ فِي النِّسَاءِ، وَاسْتَوْصُوا بِهِنَّ خَيْرًا.

“Dan berwasiatlah kalian kepada wanita dengan kebaikan. Karena sesungguhnya mereka adalah tawanan di sisi kalian, tidak memiliki apa pun untuk diri mereka sendiri. Dan sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah, dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Maka bertakwalah kepada Allah dalam urusan wanita, dan berwasiatlah kepada mereka dengan kebaikan.”

أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟ اللَّهُمَّ اشْهَدْ.

“Ketahuilah, apakah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah.”

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ، وَلَا يَحِلُّ لِامْرِئٍ مَالُ أَخِيهِ إِلَّا عَنْ طِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ. أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟ اللَّهُمَّ اشْهَدْ.

“Wahai manusia, sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Tidak halal bagi seorang laki-laki harta saudaranya kecuali dengan kerelaan hatinya. Ketahuilah, apakah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah.”

فَلَا تَرْجِعُنَّ بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ. فَإِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا: كِتَابَ اللَّهِ، وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ.

“Maka janganlah kalian kembali setelahku menjadi kafir, yang saling memenggal leher satu sama lain. Sungguh aku telah meninggalkan untuk kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh padanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya: Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.”

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، كُلُّكُمْ لِآدَمَ، وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ. إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ. لَيْسَ لِعَرَبِيٍّ فَضْلٌ عَلَى عَجَمِيٍّ إِلَّا بِالتَّقْوَى. أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟ اللَّهُمَّ اشْهَدْ.

“Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu, dan sesungguhnya bapak kalian satu. Kalian semua dari Adam, dan Adam dari tanah. Sungguh yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab kecuali dengan takwa. Ketahuilah, apakah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah.”

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللَّهَ قَدْ قَسَمَ لِكُلِّ وَارِثٍ نَصِيبَهُ مِنَ الْمِيرَاثِ، وَإِنَّهُ لَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ، وَلَا تَجُوزُ وَصِيَّةٌ فِي أَكْثَرَ مِنَ الثُّلُثِ.

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah membagi untuk setiap ahli waris bagiannya dari warisan. Dan sesungguhnya tidak boleh ada wasiat untuk ahli waris. Dan tidak boleh wasiat lebih dari sepertiga (harta).”

وَالْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ، وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ. وَمَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ، أَوْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا.

“Dan anak adalah milik pemilik ranjang (suami), dan bagi pezina adalah kerugian (dihukum rajam). Barang siapa mengaku-ngaku kepada selain ayahnya, atau memelihara (mengaku sebagai budak) selain tuannya, maka baginya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya tebusan atau fidyah.”

وَأَنْتُمْ تُسْأَلُونَ عَنِّي، فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُونَ؟

“Dan kalian akan ditanya tentang aku. Maka apa yang akan kalian katakan?”

قَالُوا: نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ، وَأَدَّيْتَ، وَنَصَحْتَ.

“Mereka menjawab: Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan, dan memberi nasihat.”

فَقَالَ بِأُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيَقْلِبُهَا عَلَى النَّاسِ: اللَّهُمَّ اشْهَدْ، اللَّهُمَّ اشْهَدْ، اللَّهُمَّ اشْهَدْ.

“Maka beliau mengangkat jari telunjuknya ke langit dan membalikkannya ke arah manusia seraya bersabda: Ya Allah, saksikanlah (tiga kali).”

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ.

“Dan semoga keselamatan serta rahmat Allah tercurah atas kalian.”


Setelah Khutbah: Wukuf dan Turunnya Ayat Kesempurnaan

Setelah khutbah, Bilal mengumandangkan azan dan iqamah. Rasulullah salat Zuhur dan Asar secara jama’ taqdim dengan satu azan dan dua iqamah, tanpa salat sunat di antaranya. Kemudian beliau menuju batu-batu di kaki Gunung Rahmah, berhenti, menghadap kiblat, dan terus berdoa hingga matahari terbenam. Beliau bersabda:

وَقَفْتُ هَاهُنَا، وَعَرَفَاتٌ كُلُّهَا مَوْقِفٌ

“Aku berhenti di sini, sedangkan seluruh Arafah adalah tempat wukuf.”

Di hari yang agung ini, turunlah firman Allah:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ، وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي، وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Umar bin al-Khaththab menangis mendengar ayat ini. Beliau berkata, “Tidak ada kesempurnaan setelahnya kecuali kekurangan.” Ia memahami bahwa ini pertanda dekatnya wafat Rasulullah .

Koreksi: Ayat ini bukan ayat terakhir yang turun. Ayat terakhir adalah QS. Al-Baqarah: 281.


Malam dan Siang di Muzdalifah, Mina, serta Akhir Haji

Setelah matahari terbenam, Rasulullah berangkat menuju Muzdalifah dengan tenang. Beliau salat Magrib dan Isya di sana dengan satu azan dan dua iqamah, tanpa salat sunat di antara keduanya. Beliau bermalam di Muzdalifah hingga Subuh, kemudian berdoa di Al-Masy’ar al-Haram. Sebelum matahari terbit, beliau berangkat ke Mina.

Di Mina, beliau melempar Jumrah Aqabah dengan tujuh batu kecil, bertakbir setiap kali melempar. Kemudian beliau menyembelih hadyu, bercukur, dan bertahallul. Setelah itu, beliau kembali ke Mekah untuk thawaf ifadhah (thawaf ziarah), lalu kembali ke Mina untuk bermalam selama hari-hari tasyriq.

Beliau mengajarkan cara melempar tiga jumrah (Ula, Wustha, Aqabah) pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Beliau memberi keringanan bagi yang ingin cepat (nafar awwal) pada tanggal 12 atau yang menunggu hingga tanggal 13.


Akhir Haji: Perpisahan yang Mengharukan

Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah, Rasulullah kembali ke Madinah. Haji ini menjadi haji terakhir beliau. Beberapa bulan kemudian, beliau wafat. Sepanjang perjalanan pulang, sabda beliau masih terngiang:

لَعَلِّي لَا أَلْقَاكُمْ بَعْدَ عَامِي هَذَا بِهَذَا الْمَوْقِفِ أَبَدًا

“Barangkali aku tidak akan bertemu dengan kalian setelah tahun ini di tempat ini selamanya.”


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perang Badar Kubra Bagian 4

Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ

Tahun ke-10 Hijriah: Dakwah Meluas ke Seluruh Jazirah