Duka dan Fitnah di Akhir Kenabian: Wafatnya Ibrāhīm & Kemunculan Dua Pendusta

Pemakaman Baqi’ di Madinah pada sore hari. Terlihat beberapa batu nisan sederhana dan tanah berwarna cokelat. Di kejauhan, tampak siluet sekelompok orang berdiri dengan sikap hormat di sekitar sebuah pusara kecil. Langit berwarna jingga keemasan dengan awan tipis. Tidak ada wajah yang terlihat jelas, hanya suasana hening dan penuh penghormatan. Seekor burung terbang rendah di atas pemakaman.

Ibrāhīm bin Muhammad: Buah Hati yang Dirindukan

Di bulan Rabi’ul Awal tahun ke-10 Hijriah (ada pula yang mengatakan Ramadhan atau Dzulhijjah), sebuah kabar duka menyelimuti rumah tangga kecil Rasulullah Ibrāhīm, putra beliau dari Māriyah al-Qibtiyyah, menghembuskan napas terakhir. Usianya baru enam belas bulan (ada yang mengatakan lebih). Dulu, kelahirannya disambut dengan suka cita yang begitu besar. Kini, kepergiannya meninggalkan luka yang dalam.

Rasulullah , sebagai seorang ayah dengan fitrah kemanusiaan yang sempurna, tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ketika Ibrāhīm sedang sakaratul maut, beliau mendekatinya. Air mata berlinang dari kedua mata beliau. Melihat itu, Abdurrahman bin ‘Auf bertanya dengan penuh hormat namun heran: “Apakah engkau pun menangis, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab dengan lembut:

يَا ابْنَ عَوْفٍ، إِنَّهَا رَحْمَةٌ

Artinya: “Wahai Ibnu ‘Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat (kasih sayang).”

Kemudian beliau melanjutkan dengan kalimat yang mengharukan:

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يُرْضِي رَبَّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

Artinya: “Sesungguhnya mata menangis, hati bersedih, dan kami tidak akan mengatakan kecuali apa yang diridhai Tuhan kami. Dan sungguh, karena kepergianmu wahai Ibrāhīm, kami benar-benar bersedih.” (HR. Bukhari)

Beliau juga bersabda:

لَوْلَا أَنَّهُ أَمْرٌ حَقٌّ، وَوَعْدٌ صِدْقٌ، وَإِنَّ آخِرَنَا سَيَلْحَقُ بِأَوَّلِنَا، لَحَزِنَّا عَلَيْكَ حُزْنًا أَشَدَّ مِنْ هَذَا

Artinya: “Sekiranya bukan karena (kematian) adalah suatu kepastian yang benar, dan janji yang benar, serta karena sesungguhnya orang yang terakhir di antara kita akan menyusul orang yang pertama (mati), sungguh kami akan bersedih atasmu dengan kesedihan yang lebih berat dari ini.”

Ibrāhīm kemudian dimandikan, dikafani, dan disalati oleh Rasulullah bersama para sahabat. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Baqi’, di samping makam orang saleh terdahulu, Utsman bin Mazh’ūn (sahabat yang wafat lebih awal).


Gerhana Matahari dan Pelajaran Agung

Pada hari wafatnya Ibrāhīm, terjadilah gerhana matahari. Melihat peristiwa langka itu, sebagian orang berkata, “Matahari menjadi gelap karena wafatnya Ibrāhīm!”

Rasulullah segera meluruskan kesalahpahaman ini. Beliau bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُومُوا فَصَلُّوا وَادْعُوا اللَّهَ

Artinya: “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena kelahirannya. Akan tetapi, keduanya adalah dua tanda di antara tanda-tanda (kekuasaan) Allah. Maka apabila kalian melihatnya (gerhana), berdirilah, salatlah, dan berdoalah kepada Allah.” (HR. Bukhari)

Sungguh, orang yang jujur dan adil akan berdiri dengan penuh kagum di depan pernyataan bijak ini. Seandainya beliau bukan seorang nabi yang benar, melainkan seorang yang haus kekuasaan atau sekadar pengaku nabi palsu, tentu beliau akan memanfaatkan keyakinan orang-orang itu—atau setidaknya diam saja. Namun para pembohong dan dukun, sejak zaman Musailamah hingga hari ini, selalu memanfaatkan kebodohan dan kenaifan manusia dalam hal-hal seperti ini. Beliau tidak demikian, karena beliau tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu. Sungguh, keteguhan seorang rasul dalam menyampaikan kebenaran, bahkan di saat duka paling mendalam sekalipun, adalah bukti kenabian yang sejati. Tidak heran jika para orientalis yang meneliti sirah beliau, ketika sampai pada kisah ini, mereka berdiri dengan penuh horman dan takjub.


Musailamah al-Kadzdzab: Nabi Palsu dari Yamamah

Telah kita ketahui sebelumnya bahwa Musailamah bin Habīb (dari Bani Hanīfah) pernah datang bersama utusan kaumnya ke Madinah. Saat itu ia menawarkan kepada Rasulullah agar ia diakui sebagai mitra atau pengganti beliau. Rasulullah menolak dengan tegas.

Pada akhir tahun ke-10 Hijriah, Musailamah mengirim surat kepada Rasulullah yang berisi:

مِنْ مُسَيْلِمَةَ رَسُولِ اللَّهِ إِلَى مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ. سَلَامٌ عَلَيْكَ. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي قَدْ أُشْرِكْتُ فِي الْأَمْرِ مَعَكَ، فَإِنَّ لَنَا نِصْفَ الْأَرْضِ، وَلِقُرَيْشٍ نِصْفَهَا، وَلَكِنَّ قُرَيْشًا قَوْمٌ يَعْتَدُونَ

Artinya: “Dari Musailamah, utusan Allah, kepada Muhammad, utusan Allah. Salam bagimu. Amma ba’du: sungguh aku telah diikutsertakan dalam urusan (kenabian) bersamamu. Maka sesungguhnya bagi kami setengah bumi, dan bagi Quraisy setengahnya. Akan tetapi Quraisy adalah kaum yang melampaui batas.”

Musailamah mengirim surat itu dengan dua orang utusan. Rasulullah bertanya kepada mereka: “Apakah kalian berdua juga mengatakan seperti apa yang ia katakan?” Mereka menjawab: “Ya.” Maka beliau bersabda:

أَمَا وَاللَّهِ لَوْلَا أَنَّ الرُّسُلَ لَا تُقْتَلُ لَضَرَبْتُ أَعْنَاقَكُمَا

Artinya: “Demi Allah, sekiranya bukan karena para utusan tidak boleh dibunuh, niscaya aku akan memenggal leher kalian berdua.”

Kemudian beliau menulis surat balasan:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ إِلَى مُسَيْلِمَةَ الْكَذَّابِ، سَلَامٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَىٰ، أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Musailamah yang pendusta. Keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du: sesungguhnya bumi ini milik Allah, diwariskan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

Musailamah terus memanfaatkan fanatisme kesukuan Bani Hanīfah. Ia melakukan berbagai tipu daya dan kedustaan, bahkan mengarang-ngar kata-kata aneh yang menggelikan—yang ia klaim sebagai Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya. Fitnahnya baru benar-benar berakhir ketika ia terbunuh pada masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddīq dalam Perang Yamamah.


Al-Aswad al-‘Ansi: Nabi Palsu dari Yaman

Di Yaman, muncul pula seorang nabi palsu bernama Al-Aswad al-‘Ansi (dari kabilah ‘Ans). Ia mengaku sebagai nabi, memanfaatkan ilmu sihir dan tipu muslihat. Pada saat itu, Bādzān (gubernur Yaman yang telah masuk Islam) adalah gubernur yang diangkat oleh Rasulullah . Ketika Bādzān wafat, Al-Aswad menikahi istrinya, lalu mengusir Al-Muhājir bin Abi Umayyah al-Makhzūmi (utusan Rasulullah untuk urusan sedekah) dari Shan’ā’.

Rasulullah mengirim surat kepada istri Bādzān (yang telah dinikahi Al-Aswad) serta kepada para pekerjanya untuk menghabisi Al-Aswad. Dengan bantuan Fīrūz ad-Dailamī dan Marbāzānah (bekas istri Bādzān), mereka berhasil membunuhnya. Al-Aswad diberi minum khamr hingga mabuk, lalu Fīrūz masuk dan memenggal kepalanya.

Kabar gembira tentang terbunuhnya Al-Aswad tiba di Madinah tepat pada pagi hari setelah pemakaman Rasulullah  (awal kekhalifahan Abu Bakar). Dengan demikian, dua fitrah besar dari dua nabi palsu pun sirna.


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perang Badar Kubra Bagian 4

Para Utusan ke Yaman: Mendidik, Mengadili, dan Mengelola Zakat

Menghitung Jejak Perjuangan: Berapa Kali Rasulullah ﷺ Berperang?