Cahaya di Atas Segala Cahaya: Mengenal Penampilan Fisik Sang Nabi
Setelah mengenal akhlak agung dan keutamaan sempurna Rasulullah ﷺ, kini tiba saatnya kita menyaksikan keindahan lahiriah beliau. Sifat-sifat fisik beliau bukan sekadar keindahan biasa, melainkan cerminan dari kesempurnaan ciptaan Allah yang dipersiapkan untuk memikul amanah terbesar sepanjang masa. Dalam berbagai riwayat shahih dari sejumlah sahabat, kita dapat menyusun gambaran utuh tentang penampilan beliau yang memukau.
Warna Kulit dan Rambut: Putih Bercahaya dengan Semburat
Merah
Rasulullah ﷺ
memiliki warna kulit yang azhar (putih bersih dengan semburat
kemerahan). Beliau tidaklah terlalu pucat seperti kapur, juga tidak terlalu
gelap. Warna kulitnya segar, bercahaya, seperti sinar matahari yang terpantul
dari wajahnya.
Rambut beliau tidak lurus sempurna juga tidak keriting
kencang, tetapi bergelombang sedang (rajil). Panjang rambut
beliau sebahu atau sedikit di bawah telinga, terkadang mencapai pundak. Jenggot
beliau tebal (kats al-lihyah) hingga memenuhi dadanya.
👁️ Wajah dan Mata: Bulan
Purnama di Tengah Kegelapan
Wajah Rasulullah ﷺ bulat (mudawwar al-wajh), tidak lonjong.
Dahinya lebar (wasi' al-jabin). Matanya sangat hitam (ad'aj)
dengan bola mata yang lebar (anjai). Pada bagian putih matanya
terdapat sedikit kemerahan alami (asykal). Bulu matanya lebat
dan panjang (ahdab al-asyfar).
Alis beliau tipis namun melengkung panjang (azaj).
Hidung beliau sedikit mancung dengan lengkung lembut (aqna).
Gigi beliau renggang antara gigi seri (aflaj) sehingga ketika
berbicara, seolah cahaya keluar dari sela-sela gigi tersebut.
Para sahabat menggambarkan:
عَنِ
الْبَرَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: مَا رَأَيْتُ مِنْ ذِي لُمَّةٍ فِي
حُلَّةٍ حَمْرَاءَ أَحْسَنَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
Artinya: “Dari Al-Barra' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, ia
berkata: ‘Aku belum pernah melihat seorang laki-laki berambut panjang (lumah)
yang mengenakan pakaian merah yang lebih tampan daripada Rasulullah ﷺ.’”
وَعَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَحْسَنَ
مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَأَنَّ الشَّمْسَ
تَجْرِي فِي وَجْهِهِ، وَإِذَا ضَحِكَ يَتَلَأْلَأُ فِي الْجُدُرِ
Artinya: “Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia
berkata: ‘Aku belum pernah melihat sesuatu yang lebih indah daripada Rasulullah
ﷺ,
seolah-olah matahari berjalan di wajahnya. Dan ketika beliau tertawa, cahayanya
berkilauan di dinding-dinding.’”
وَعَنْ
جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، وَقِيلَ لَهُ: أَكَانَ وَجْهُهُ مِثْلَ السَّيْفِ؟ قَالَ:
لَا، بَلْ مِثْلَ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ، وَكَانَ مُسْتَدِيرًا
Artinya: “Dari Jabir bin Samurah, seseorang bertanya
kepadanya: ‘Apakah wajah beliau seperti pedang (lonjong)?’ Ia menjawab: ‘Tidak,
tetapi seperti matahari dan bulan (bulat dan bercahaya), dan wajah beliau
bulat.’”
وَقَالَتْ
أُمُّ مَعْبَدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فِي بَعْضِ مَا وَصَفَتْهُ بِهِ: أَجْمَلُ
النَّاسِ مِنْ بَعِيدٍ، وَأَحْلَاهُ وَأَحْسَنُهُ مِنْ قَرِيبٍ
Artinya: “Ummu Ma'bad radhiyallahu 'anha berkata dalam
sebagian uraiannya tentang beliau: ‘Beliau adalah orang yang paling tampan dari
jauh, dan paling manis serta paling indah dari dekat.’”
وَفِي
حَدِيثِ ابْنِ أَبِي هَالَةَ: يَتَلَأْلَأُ وَجْهُهُ تَلَأْلُؤَ الْقَمَرِ
لَيْلَةَ الْبَدْرِ
Artinya: “Dalam hadits Ibnu Abi Halah: ‘Wajahnya bersinar
bagaikan sinar bulan di malam purnama.’”
وَقَالَ
عَلِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي آخِرِ وَصْفِهِ لَهُ: مَنْ رَآهُ بَدِيهَةً
هَابَهُ، وَمَنْ خَالَطَهُ مَعْرِفَةً أَحَبَّهُ، يَقُولُ نَاعِتُهُ: لَمْ أَرَ
قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ مِثْلَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya: “Ali radhiyallahu 'anhu berkata di akhir
uraiannya tentang beliau: ‘Barang siapa melihatnya secara tiba-tiba, ia akan
merasa segan. Dan barang siapa bergaul dengannya dalam pengenalan, ia akan
mencintainya. Orang yang mendeskripsikannya berkata: “Aku belum pernah melihat
sebelum atau sesudahnya seperti beliau ﷺ.”’”
Badan dan Postur: Tegap, Berisi, dan Perkasa
Rasulullah ﷺ
memiliki tubuh yang tegap (dham al-lahmi) tidak lembek. Perut
dan dadanya rata (sawa' al-bathn wa ash-shadr). Dadanya bidang (wasi'
ash-shadr). Lebar kedua bahu (azhim al-mankibain). Besar
tulang-tulangnya (dham al-'izham). Besar lengan atas dan bawah ('abil
al-'adudain wa adh-dhira'ain), juga besar bagian tubuh bawah (al-asafil). Telapak
tangan dan telapak kaki lebar (rahb al-kafain wa al-qadamain). Jari-jari
panjang dan ramping (sa'il al-athraf). Bagian tubuh yang
terbuka (leher, lengan) sangat cerah (anwar al-mutajarrid). Rambut
tipis yang memanjang dari dada ke perut (daiq al-masrabah).
Perawakan beliau sedang (rib'ah al-qadd),
tidak terlalu tinggi menjulang dan tidak terlalu pendek. Namun, jika berjalan
bersama orang yang bertubuh tinggi, beliau tetap terlihat lebih tinggi. Leher
beliau paling indah (ahsan an-nas 'unuqan), tidak terlalu
gemuk dan tidak terlalu kurus. Jika berjalan, beliau melangkah dengan
mantap (tatakaffa'u) seolah turun dari tempat yang tinggi. Jika
menoleh, beliau menoleh seluruh tubuhnya (idza iltafata
iltafata ma'an) sebagai tanda kesempurnaan perhatian.
Kebersihan dan Keharuman Tubuh: Lebih Wangi dari Minyak
Kesturi
Allah menganugerahi Rasulullah ﷺ tubuh yang senantiasa bersih, keringat
yang harum, serta terbebas dari segala kotoran dan bau tidak sedap. Ditambah
dengan kesungguhan beliau menjaga kebersihan sesuai tuntunan syariat, sering
memakai wewangian, dan menjauhi makanan berbau tidak sedap.
عَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: مَا شَمِمْتُ عَنْبَرًا قَطُّ،
وَلَا مِسْكًا، وَلَا شَيْئًا أَطْيَبَ مِنْ رِيحِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَا مَسِسْتُ شَيْئًا قَطُّ دِيبَاجًا وَلَا حَرِيرًا
أَلْيَنَ مَسًّا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya: “Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia
berkata: ‘Aku belum pernah mencium minyak ambar, minyak kesturi, atau sesuatu
yang lebih harum daripada aroma Rasulullah ﷺ. Dan aku belum pernah menyentuh sutra atau
kain brokat yang lebih lembut daripada sentuhan kulit Rasulullah ﷺ.’” (HR.
Muslim)
عَنْ
جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَسَحَ خَدَّهُ، قَالَ: فَوَجَدْتُ لِيَدِهِ بَرْدًا وَرِيحًا
كَأَنَّمَا أَخْرَجَهَا مِنْ جُونَةِ عَطَّارٍ
Artinya: “Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhu:
‘Bahwa Nabi ﷺ
mengusap pipinya, lalu ia berkata: “Aku merasakan pada tanganku kesejukan dan
keharuman, seolah-olah beliau mengeluarkan tangannya dari tempat wewangian
seorang penjual minyak wangi.”’”
Aroma beliau begitu khas, baik sedang memakai wewangian
maupun tidak. Barang siapa berjabat tangan dengan beliau, akan mencium
keharuman itu sepanjang hari. Ketika beliau meletakkan tangannya di kepala
seorang anak, anak itu dikenali di antara teman-temannya karena wanginya. Jika
beliau melewati suatu jalan, orang-orang tahu bahwa beliau lewat karena aroma
harum yang ditinggalkan.
Dalam riwayat shahih Muslim, ketika beliau tidur di rumah
Anas, beliau berkeringat. Induk semang (Ummu Sulaim) datang membawa sebuah
botol kecil lalu mengumpulkan keringat beliau. Rasulullah ﷺ bertanya, “Apa yang
engkau lakukan?” Ia menjawab, “Kami jadikan untuk wewangian kami, dan itu
adalah wewangian yang paling harum.” Dalam riwayat lain: “Wahai Rasulullah,
kami mengharapkan berkahnya untuk anak-anak kami.” Beliau bersabda: “أَصَبْتِ” (Engkau
benar).
Kesempurnaan Fisik: Penopang Kepemimpinan dan Jihad
Semua sifat fisik ini—kulit bercahaya, postur tegap,
kekuatan otot, dan keharuman alami—bukan sekadar keindahan estetika. Ini adalah
bagian dari persiapan Allah untuk seorang pemimpin umat manusia. Rasulullah ﷺ
diutus dengan agama penutup untuk seluruh umat di muka bumi. Allah mewajibkan
jihad untuk melindungi akidah dan menyebarkan agama ini. Sudah sepatutnya
beliau dipersiapkan secara maksimal untuk jihad: memiliki tubuh yang kokoh,
siap memimpin, berani, dan gagah.
Dalam diri beliau, Allah mengumpulkan kepahlawanan
jasmani dan rohani secara sempurna. Orang yang melihatnya dari jauh
akan segan, tetapi orang yang mengenalnya secara dekat akan jatuh cinta. Maka
pantaslah seorang perawi berkata: “Aku belum pernah melihat sebelum dan
sesudahnya seperti beliau.”
Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah
Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar
Posting Komentar