Biografi Umar Ibnu al Khattab r.a

Ilustrasi sinematik realistis suasana Madinah abad ke-7 pada malam hari. Seorang laki-laki berjubah wol penuh tambalan, menggambarkan Umar bin Khattab, berjalan sambil memikul karung gandum di pundaknya. Di depannya tampak seorang ibu dan anak-anak duduk di dekat api unggun dengan panci sederhana. Latar menampilkan rumah-rumah tanah liat, lentera bercahaya hangat, dan langit malam penuh bintang, menghadirkan nuansa kepedulian sosial dan kepemimpinan Islam klasik yang humanis.

Nasabnya

Beliau adalah Umar bin al-Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin 'Adi bin Ka'ab bin Lu'ay Abu Hafsh al-Adawi, yang dijuluki sebagai Al-Faruq. Dikatakan bahwa yang menjulukinya demikian adalah Ahli Kitab. Ibunya adalah Hantamah binti Hisyam bin al-Mughirah, saudara perempuan dari Abu Jahl bin Hisyam.

Sifat Fisiknya

Beliau adalah seorang pria yang sangat tinggi, berkepala botak, kidal (namun mampu menggunakan kedua tangannya dengan baik), memiliki mata yang jernih, dan berkulit cokelat (adam). Ada pula yang mengatakan: kulitnya putih sangat bersih yang kemerah-merahan, giginya putih berseri, sering mewarnai janggutnya dengan warna kuning, dan menyisir rambutnya dengan pacar (henna).

Beliau adalah orang yang sangat tawaduk karena Allah, hidup dalam kesederhanaan, makan dengan sederhana, tegas dalam urusan Allah, menambal pakaiannya dengan kulit, dan memikul sendiri kantung air di atas pundaknya meskipun beliau memiliki wibawa yang besar. Beliau juga menunggangi keledai tanpa pelana, dan menunggangi unta dengan tali kekang dari sabut pohon kurma. Beliau jarang tertawa dan tidak suka bergurau dengan siapapun.

Ukiran pada cincinnya berbunyi: "Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat bagimu, wahai Umar."

Istri-istri, Putra-putra, dan Putri-putrinya

Al-Waqidi, Ibnu al-Kalbi, dan lainnya berkata: Umar menikah di masa Jahiliah dengan Zainab binti Madh'un, saudara perempuan Utsman bin Madh'un, yang melahirkan baginya: Abdullah, Abdurrahman yang Besar, dan Hafshah.

Beliau juga menikah dengan Malikah binti Jarul, yang melahirkan baginya: Ubaidullah dan Zaid yang Kecil.

Al-Madaini berkata: Beliau menikah dengan Qaribah binti Abi Umayyah al-Makhzumi, lalu menceraikannya pada masa gencatan senjata (Perjanjian Hudaibiyah), kemudian ia dinikahi oleh Abdurrahman bin Abi Bakar.

Beliau juga menikah dengan Umm Hakim binti al-Harits bin Hisyam setelah suaminya, Ikrimah bin Abi Jahl, terbunuh di Syam. Ia melahirkan baginya seorang putri bernama Fathimah, kemudian beliau menceraikannya. Al-Madaini berkata: Ada yang berpendapat beliau tidak menceraikannya.

Beliau juga menikah dengan Jamilah binti Ashim bin Tsabit bin Abi al-Aqlah dari suku Aus.

Beliau juga menikah dengan Atikah binti Zaid bin Amru bin Nufail, yang sebelumnya adalah istri Abdullah bin Abi Bakar. Setelah Umar wafat, ia dinikahi oleh Az-Zubair bin al-Awwam. Dikatakan bahwa ia adalah ibu dari putranya yang bernama Iyad, Wallahu a'lam.

Al-Madaini berkata: Beliau pernah meminang Umm Kulthum binti Abi Bakar Ash-Shiddiq saat ia masih kecil melalui perantaraan Aisyah. Namun Umm Kulthum berkata: "Aku tidak membutuhkannya (tidak ingin menikah dengannya)." Aisyah bertanya: "Apakah engkau membenci Amirul Mukminin?" Ia menjawab: "Ya, karena hidupnya sangat keras." Maka Aisyah mengutus Amru bin al-Ash untuk membujuk Umar agar membatalkan niatnya dan mengarahkannya kepada Umm Kulthum binti Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah dari Fathimah. Umar pun meminangnya dari Ali, dan Ali menikahkannya. Umar memberinya mahar empat puluh ribu, dan ia melahirkan baginya Zaid dan Ruqayyah.

Dikatakan pula beliau menikah dengan Lahiyah—seorang wanita dari Yaman yang melahirkan baginya Abdurrahman yang Kecil (atau yang Menengah). Al-Waqidi berkata bahwa ia adalah Ummu Walad (budak wanita yang melahirkan anak tuannya) dan bukan istri. Mereka juga menyebutkan bahwa beliau memiliki Ummu Walad bernama Fakihah yang melahirkan Zainab, yang menurut Al-Waqidi adalah anak bungsunya.

Ibnu Katsir berkata: Total anak-anaknya berjumlah tiga belas orang, yaitu: Zaid yang Besar, Zaid yang Kecil, Ashim, Abdullah, Abdurrahman yang Besar, Abdurrahman yang Menengah (Abu Syahmah), Abdurrahman yang Kecil, Ubaidullah, Iyad, Hafshah, Ruqayyah, Zainab, dan Fathimah. Sedangkan total istri-istrinya yang dinikahi baik di masa Jahiliah maupun Islam, baik yang diceraikan maupun yang ditinggal wafat, berjumlah tujuh orang.

Islamnya dan Hal-hal yang Pertama Kali Dilakukannya

Umar masuk Islam pada usia dua puluh tujuh tahun. Beliau ikut serta dalam Perang Badar, Uhud, dan seluruh peperangan bersama Nabi . Beliau juga memimpin beberapa ekspedisi (sariyah).

Beliau adalah orang pertama yang dijuluki sebagai Amirul Mukminin. Beliau juga orang pertama yang menetapkan penanggalan (Hijriah), mengumpulkan orang-orang untuk salat Tarawih (secara berjamaah), orang pertama yang berpatroli malam di Madinah ('as), membawa dan mendisiplinkan orang dengan cemeti (durrah), menetapkan hukuman delapan puluh kali cambuk bagi peminum khamar, melakukan banyak penaklukan wilayah, membangun kota-kota besar, membentuk pasukan tentara, menetapkan pajak tanah (kharaj), menyusun administrasi negara (diwan), memberikan tunjangan, mengangkat para hakim, serta mengatur wilayah-wilayah seperti Sawad, Ahvaz, pegunungan, Persia, dan lainnya.

Di Antara Keutamaannya

Imam Bukhari menyebutkan dalam bab "Manakib Umar bin al-Khattab Abu Hafsh al-Qurasyi al-Adawi":

Umar Termasuk Penduduk Surga

  1. Diriwayatkan dari Said bin al-Musayyib bahwa Abu Hurairah berkata: Saat kami berada di sisi Rasulullah , beliau bersabda:

«بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُنِي فِي الْجَنَّةِ، فَإِذَا امْرَأَةٌ تَتَوَضَّأُ إِلَى جَانِبِ قَصْرٍ، فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ؟ قَالُوا: لِعُمَرَ، فَذَكَرْتُ غَيْرَتَهُ فَوَلَّيْتُ مُدْبِرًا»

"Saat aku tidur, aku bermimpi berada di surga. Tiba-tiba ada seorang wanita yang sedang berwudu di samping sebuah istana. Aku bertanya: 'Milik siapa istana ini?' Mereka menjawab: 'Milik Umar.' Aku teringat akan sifat cemburunya, maka aku pun segera berbalik pergi."

Mendengar itu, Umar menangis dan berkata: "Apakah kepadamu aku akan merasa cemburu, wahai Rasulullah?"

  1. Dari Anas bin Malik, ia berkata: Nabi mendaki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Tiba-tiba gunung itu bergetar, maka Nabi menghentakkan kakinya dan bersabda:

«اثْبُتْ أُحُدُ، فَمَا عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدٌ»

"Diamlah wahai Uhud! Karena di atasmu tidak ada siapa-siapa kecuali seorang Nabi, seorang Shiddiq (Abu Bakar), atau dua orang syahid (Umar dan Utsman)."

  1. Dari Anas, bahwa seseorang bertanya kepada Nabi tentang hari kiamat: "Kapan kiamat itu?" Beliau bertanya balik: "Apa yang telah engkau persiapkan untuknya?" Orang itu menjawab: "Tidak ada, selain aku mencintai Allah dan Rasul-Nya." Beliau bersabda:

«أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»

"Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai."

Anas berkata: "Kami tidak pernah merasa sangat gembira setelah masuk Islam melebihi kegembiraan kami saat mendengar sabda Nabi: Engkau bersama orang yang engkau cintai." Anas berkata lagi: "Aku mencintai Nabi , Abu Bakar, dan Umar, dan aku berharap akan bersama mereka karena kecintaanku kepada mereka, meskipun amalanku tidak seperti amalan mereka."

  1. Dari Abu Musa al-Asy'ari, ia berkata: Aku bersama Nabi di salah satu kebun di Madinah. Seseorang datang meminta izin untuk masuk, maka Nabi bersabda:

«افْتَحْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ»

"Bukakan pintu untuknya dan beri kabar gembira kepadanya dengan surga."

Aku pun membukanya, ternyata dia adalah Abu Bakar. Aku beri tahu apa yang disabdakan Rasulullah , lalu ia memuji Allah.

Kemudian datang lagi seseorang meminta izin, beliau bersabda: "Bukakan untuknya dan beri kabar gembira kepadanya dengan surga." Ternyata dia adalah Umar, aku beri tahu ia lalu ia memuji Allah.

Lalu datang lagi orang ketiga, beliau bersabda: "Bukakan untuknya dan beri kabar gembira kepadanya dengan surga atas ujian yang akan menimpanya." Ternyata dia adalah Utsman, ia pun memuji Allah dan berkata: "Allah-lah tempat meminta pertolongan."

Keutamaan Ilmu Umar

  1. Dari Az-Zuhri, ia berkata: Hamzah memberitahuku dari ayahnya bahwa Rasulullah bersabda:

«بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ شَرِبْتُ - يَعْنِي اللَّبَنَ - حَتَّى أَنْظُرُ إِلَى الرِّيِّ يَجْرِي فِي ظُفُرِي - أَوْ أَظْفَارِي - ثُمَّ نَاوَلْتُ عُمَرَ»

"Saat aku tidur, aku (bermimpi) meminum susu hingga aku melihat kesegaran itu keluar dari kuku-kukuku, kemudian aku memberikannya kepada Umar."

Para sahabat bertanya: "Apa takwilnya (maknanya) wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Ilmu."

Luasnya Penyebaran Islam di Masa Umar

  1. Dari Abdullah bin Umar bahwa Nabi bersabda:

«رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَنْزَعُ بِدَلْوِ بَكْرَةٍ عَلَى قَلِيبٍ، فَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ فَنَزَعَ ذَنُوبًا أَوْ ذَنُوبَيْنِ نَزْعًا ضَعِيفًا وَاللَّهُ يَغْفِرُ لَهُ، ثُمَّ جَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَاسْتَحَالَتْ غَرْبًا، فَلَمْ أَرَ عَبْقَرِيًّا يَفْرِي فَرِيَّهُ، حَتَّى رَوَى النَّاسُ وَضَرَبُوا بِعَطَنٍ»

"Aku bermimpi sedang menimba air dengan timba di sebuah sumur. Datanglah Abu Bakar, ia menimba satu atau dua timba dengan tarikan yang lemah—semoga Allah mengampuninya. Kemudian datanglah Umar bin al-Khattab, lalu timba itu berubah menjadi timba yang sangat besar. Aku tidak pernah melihat seorang pemimpin hebat yang mampu bekerja sehebat dia, hingga orang-orang merasa puas minum dan membawa ternak mereka ke tempat peristirahatan (karena limpahan airnya)."


Kemuliaan Islam dengan Masuk Islamnya Umar

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Kami senantiasa merasa mulia sejak Umar masuk Islam."

Kedekatan Umar dengan Rasulullah dan Seringnya Beliau Menyertainya

8 - Diriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah, ia mendengar Ibnu Abbas berkata: Umar diletakkan di atas ranjangnya (jenazahnya), lalu orang-orang mengerumuninya sembari mendoakan dan menyalatkannya sebelum diangkat—dan aku ada di antara mereka—tiba-tiba aku dikejutkan oleh seorang pria yang memegang pundakku, ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib. Ia mendoakan rahmat untuk Umar dan berkata: "Tidak ada seorang pun yang lebih aku sukai untuk menemui Allah dengan amalan yang serupa dengannya selain engkau."

"Demi Allah, aku benar-benar menyangka bahwa Allah akan menempatkanmu bersama kedua sahabatmu (Rasulullah dan Abu Bakar). Hal itu karena aku sering mendengar Nabi bersabda:

«ذَهَبْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَدَخَلْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ»

"Aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar, dan aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar."

9 - Diriwayatkan dari Al-Miswar bin Makhramah, ia berkata: Ketika Umar ditusuk, ia mulai merasa kesakitan. Maka Ibnu Abbas berkata kepadanya—seolah-olah ingin menghiburnya—: "Wahai Amirul Mukminin, jika memang demikian (ajal menjemput), engkau telah menemani Rasulullah dan engkau telah menemani beliau dengan baik, lalu engkau berpisah dengannya dalam keadaan beliau rida kepadamu. Kemudian engkau menemani Abu Bakar dan engkau menemani beliau dengan baik, lalu engkau berpisah dengannya dalam keadaan beliau rida kepadamu. Kemudian engkau menemani sahabat-sahabat mereka (kaum Muslimin) dan engkau menemani mereka dengan baik, dan jika engkau berpisah dengan mereka, engkau akan berpisah dalam keadaan mereka rida kepadamu."

Umar menjawab: "Adapun apa yang engkau sebutkan tentang kebersamaan dengan Rasulullah dan keridaan beliau, maka itu hanyalah karunia dari Allah Ta'ala yang diberikan kepadaku. Adapun apa yang engkau sebutkan tentang kebersamaan dengan Abu Bakar dan keridaan beliau, maka itu pun hanyalah karunia dari Allah Jalla Dzikruhu yang diberikan kepadaku. Sedangkan kegelisahan yang engkau lihat dariku ini, adalah karena memikirkanmu dan para sahabatmu (urusan umat). Demi Allah, seandainya aku memiliki emas sepenuh bumi, niscaya akan aku gunakan untuk menebus diriku dari azab Allah 'Azza wa Jalla sebelum aku melihat-Nya."

10 - Diriwayatkan dari Abdullah bin Hisham, ia berkata: "Kami pernah bersama Nabi dan beliau sedang memegang tangan Umar bin al-Khattab."

Kesungguhan Umar dan Kedermawanannya dengan Harta

11 - Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: "Aku tidak pernah melihat seorang pun setelah Rasulullah wafat yang lebih sungguh-sungguh dan lebih dermawan hingga ajalnya menjemput selain Umar bin al-Khattab."

Umar Adalah Pria yang Mendapat Ilham (Mulham)

12 - Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«لَقَدْ كَانَ فِيمَا قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ نَاسٌ مُحَدَّثُونَ، فَإِنْ يَكُ فِي أُمَّتِي أَحَدٌ فَإِنَّهُ عُمَرُ»

"Sungguh, pada umat-umat sebelum kalian terdapat orang-orang yang diberikan ilham (oleh Allah). Jika ada salah seorang dari umatku, maka dialah Umar."

Dalam riwayat lain:

«لَقَدْ كَانَ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ رِجَالٌ يُكَلَّمُونَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونُوا أَنْبِيَاءَ، فَإِنْ يَكُنْ فِي أُمَّتِي مِنْهُمْ أَحَدٌ فَعُمَرُ»

"Sungguh, pada orang-orang sebelum kalian dari Bani Israil terdapat pria-pria yang diajak bicara (diberi ilham) padahal mereka bukan nabi. Jika ada salah seorang dari umatku di antara mereka, maka dialah Umar."

Kekuatan Iman dan Keyakinannya

13 - Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: Ketika seorang penggembala berada di tengah kambing-kambingnya, seekor serigala datang dan menerkam seekor kambing. Penggembala itu mengejarnya hingga berhasil menyelamatkannya. Lalu serigala itu menoleh kepadanya dan berkata: "Siapa yang akan menjaganya pada hari binatang buas (ketika tidak ada penjaga), saat tidak ada penggembala baginya selain aku?"

Orang-orang berkata: "Subhanallah (serigala bisa bicara)!" Maka Nabi bersabda:

«فَإِنِّي أُومِنُ بِهِ، وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ»

"Maka sesungguhnya aku mengimaninya, begitu juga Abu Bakar dan Umar."

(Padahal saat itu Abu Bakar dan Umar tidak ada di sana).

14 - Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: "Ketika aku tidur, aku bermimpi melihat orang-orang diperlihatkan kepadaku dalam keadaan mereka memakai baju gamis. Di antara baju itu ada yang sampai ke dada, dan ada yang kurang dari itu. Lalu diperlihatkan kepadaku Umar dalam keadaan ia memakai baju gamis yang ia seret (karena panjangnya)."

Para sahabat bertanya: "Apa takwilnya wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Agama."

Wibawa Umar dan Larinya Setan dari Jalannya

15 - Diriwayatkan dari Muhammad bin Sa'ad bin Abi Waqqas, dari ayahnya, ia berkata: Umar bin al-Khattab meminta izin untuk menemui Rasulullah , sementara di sisi beliau ada beberapa wanita dari suku Quraisy yang sedang berbicara dan meminta banyak hal kepada beliau dengan suara yang keras melebihi suara beliau. Ketika Umar meminta izin, para wanita itu segera berdiri dan bergegas bersembunyi di balik hijab. Rasulullah mengizinkannya masuk, maka Umar masuk dalam keadaan Rasulullah sedang tertawa. Umar berkata: "Semoga Allah senantiasa membuat gigimu tertawa (selalu bahagia) wahai Rasulullah." Nabi bersabda: "Aku heran dengan para wanita yang tadi di sisiku, ketika mereka mendengar suaramu, mereka segera bersembunyi di balik hijab."

Umar berkata: "Engkau lebih berhak untuk mereka segani wahai Rasulullah." Kemudian Umar berkata (kepada para wanita tersebut): "Wahai para musuh bagi diri kalian sendiri, apakah kalian segan kepadaku namun tidak segan kepada Rasulullah ?" Mereka menjawab: "Ya, karena engkau lebih keras dan lebih kasar daripada Rasulullah ."

Maka Rasulullah bersabda:

«إِيهًا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا قَطُّ إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ»

"Wahai putra al-Khattab, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah setan menemuimu menempuh suatu jalan, kecuali ia akan menempuh jalan lain selain jalanmu."

16 - Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Nabi bersabda:

«إِنَّ الشَّيْطَانَ يَفْرَقُ مِنْ عُمَرَ»

"Sesungguhnya setan takut kepada Umar."

17 - Beliau juga bersabda:

«أَرْحَمُ أُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ ، وَأَشَدُّهَا فِي دِينِ اللَّهِ عُمَرُ»

"Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar, dan yang paling tegas dalam menjalankan agama Allah adalah Umar."

Di Antara Ucapan dan Keadaannya

Umar berkata: "Tidak halal bagiku dari harta Allah (baitul mal) kecuali dua pakaian; satu pakaian untuk musim dingin dan satu pakaian untuk musim panas, serta nafkah keluargaku sebagaimana pria Quraisy pada umumnya yang bukan paling kaya di antara mereka. Kemudian aku hanyalah seorang pria biasa di antara kaum Muslimin."

Umar, jika mengangkat seorang gubernur, beliau menuliskan surat perjanjian dan mempersaksikan hal itu kepada sekelompok kaum Muhajirin. Beliau mensyaratkan kepada gubernur tersebut agar tidak menunggangi kuda tunggangan yang mewah (birdhaun), tidak memakan roti dari tepung yang sangat halus, tidak memakai pakaian yang tipis, dan tidak menutup pintunya bagi orang-orang yang membutuhkan. Jika gubernur itu melanggar salah satu hal tersebut, maka ia berhak menerima hukuman.

Pernah seseorang menceritakan sebuah hadis kepadanya lalu berbohong dalam satu atau dua kata, maka Umar berkata: "Tahan yang ini, tahan yang ini (jangan sebutkan)." Orang itu pun berkata: "Demi Allah, semua yang kuceritakan kepadamu adalah benar, kecuali apa yang engkau perintahkan untuk aku tahan."

Muawiyah bin Abi Sufyan berkata: "Adapun Abu Bakar, ia tidak menginginkan dunia dan dunia pun tidak menginginkannya. Adapun Umar, dunia menginginkannya namun ia tidak menginginkan dunia. Sedangkan kami, kami berlumuran di dalamnya."

Umar pernah ditegur, dikatakan kepadanya: "Seandainya engkau memakan makanan yang baik, niscaya itu akan membuatmu lebih kuat dalam membela kebenaran?" Beliau menjawab: "Aku telah meninggalkan kedua sahabatku (Rasulullah dan Abu Bakar) di atas sebuah jalan. Jika aku meninggalkan jalan mereka, aku tidak akan bisa menyusul mereka di tempat persinggahan nanti."

Saat menjadi khalifah, beliau pernah memakai jubah wol yang ditambal dengan kulit. Beliau berkeliling di pasar-pasar dengan cemeti di pundaknya untuk mendidik orang-orang. Jika beliau melewati biji kurma atau sejenisnya, beliau memungutnya dan melemparkannya ke rumah orang-orang agar mereka bisa memanfaatkannya.

Anas berkata: "Di antara kedua pundak Umar terdapat empat tambalan, dan kain sarungnya ditambal dengan kulit. Beliau berkhotbah di atas mimbar dengan memakai sarung yang memiliki dua belas tambalan." Beliau menghabiskan enam belas dinar dalam perjalanan hajinya, lalu berkata kepada putranya: "Kita telah berlebih-lebihan."

Beliau tidak berteduh dengan sesuatu pun (tenda), melainkan beliau hanya menyampirkan kainnya di atas pohon dan berteduh di bawahnya. Beliau tidak memiliki kemah maupun paviliun.

Ketika beliau datang ke Syam untuk pembebasan Baitul Maqdis, beliau menunggangi unta yang berwarna abu-abu, kepalanya yang botak terpapar sinar matahari. Beliau tidak memakai kopiah maupun sorban. Kedua kakinya terjuntai di antara dua sisi pelana tanpa sanggurdi. Alas duduknya adalah karung wol, yang juga menjadi alas tidurnya jika beliau singgah. Ketika tiba, beliau berkata: "Panggilkan pemimpin desa ini kepadaku." Mereka memanggilnya, lalu Umar berkata: "Cucilah kemejaku, jahitlah, dan pinjamkan aku sebuah kemeja (untuk sementara)." Maka dibawakanlah kemeja dari bahan rami (kattan). Beliau bertanya: "Apa ini?" Dijawab: "Kattan." Beliau bertanya: "Apa itu kattan?" Setelah dijelaskan, beliau melepas kemejanya untuk dicuci dan dijahit, lalu beliau memakainya kembali.

Pemimpin desa itu berkata kepadanya: "Engkau adalah raja bangsa Arab, dan negeri ini tidak cocok jika menunggangi unta." Maka dibawakanlah seekor kuda tunggangan (birdhaun), lalu diletakkan di atasnya kain beludru tanpa pelana kayu. Ketika kuda itu mulai berjalan dengan gaya berjingkrak (hamlaj), Umar berkata kepada orang di sekitarnya: "Hentikan! Aku tidak menyangka orang-orang menunggangi setan. Berikan untaku!" Lalu beliau turun dan kembali menunggangi untanya.

Dari Anas, ia berkata: Aku bersama Umar, lalu beliau memasuki sebuah kebun untuk suatu keperluan. Aku mendengarnya berkata—sementara antara aku dan beliau terhalang tembok kebun—: "Umar bin al-Khattab, Amirul Mukminin... Bakh bakh (ungkapan kekaguman sekaligus peringatan)! Demi Allah, engkau benar-benar harus bertakwa kepada Allah wahai putra al-Khattab, atau Dia benar-benar akan mengazabmu."

Dikatakan bahwa beliau pernah memikul kantung air di atas pundaknya. Ketika hal itu ditanyakan, beliau menjawab: "Diriku mulai merasa bangga (ujub), maka aku ingin menghinakannya."

Beliau menyalati orang-orang pada salat Isya, kemudian masuk ke rumahnya dan terus melakukan salat hingga fajar.

Pada Tahun Abu (Tahun Ramadah/kelaparan), beliau tidak memakan apa pun kecuali roti dan minyak zaitun hingga kulitnya menghitam. Beliau berkata: "Betapa buruknya aku sebagai pemimpin jika aku kenyang sementara rakyatku kelaparan."

Di wajahnya terdapat dua garis hitam bekas air mata karena sering menangis. Jika mendengar suatu ayat dari Al-Qur'an, beliau bisa pingsan hingga harus dipapah ke rumahnya. Orang-orang menjenguknya selama beberapa hari seolah beliau sakit, padahal tidak ada penyakit padanya kecuali rasa takut (kepada Allah).

Talhah bin Ubaidillah berkata: "Umar keluar pada suatu malam yang gelap gulita, lalu memasuki sebuah rumah. Keesokan harinya, aku pergi ke rumah tersebut dan ternyata di dalamnya ada seorang wanita tua yang buta lagi lumpuh. Aku bertanya kepadanya: 'Apa urusan pria yang mendatangimu semalam?' Wanita itu menjawab: 'Dia rutin mendatangiku sejak sekian lama untuk membawakan apa yang kubutuhkan dan membersihkan kotoran dariku.' Aku pun berkata pada diriku sendiri: 'Celakalah engkau wahai Talhah, apakah engkau mencari-cari kesalahan Umar?!'"

Aslam, mantan budak Umar, berkata: "Sekelompok pedagang datang ke Madinah dan mereka singgah di mushalla (tempat terbuka). Umar berkata kepada Abdurrahman bin Auf: 'Maukah engkau menjaga mereka bersama denganku malam ini?' Ia menjawab: 'Ya.' Maka keduanya berjaga sembari melakukan salat. Tiba-tiba Umar mendengar tangisan seorang bayi, beliau menuju ke arah ibunya dan berkata: 'Bertakwalah kepada Allah dan berbuat baiklah kepada bayimu.' Kemudian beliau kembali ke tempatnya. Tak lama, beliau mendengar tangisan itu lagi, maka beliau kembali mendatangi ibunya dan berkata seperti yang pertama, kemudian beliau kembali ke tempatnya, pada akhir malam, beliau mendengar lagi tangisan bayi tersebut, maka beliau mendatangi ibunya dan berkata: "Celakalah engkau, sesungguhnya engkau adalah ibu yang buruk! Mengapa aku melihat anakmu tidak tenang sejak tadi malam karena menangis?!"

Ibu itu menjawab: "Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku sedang menyibukkannya agar ia mau disapih, namun ia menolak." Umar bertanya: "Mengapa?" Ia menjawab: "Karena Umar tidak memberikan tunjangan kecuali bagi anak yang sudah disapih." Umar bertanya: "Berapa usia anakmu ini?" Ia menjawab: "Sekian bulan." Umar berkata: "Celakalah engkau, janganlah terburu-buru menyapihnya."

Setelah melaksanakan salat Subuh dalam keadaan bacaannya tidak terdengar jelas oleh orang-orang karena tangisannya, beliau berkata: "Celakalah Umar! Berapa banyak anak-anak kaum Muslimin yang telah ia bunuh?" Kemudian beliau memerintahkan penyerunya untuk mengumumkan: "Janganlah kalian terburu-buru menyapih bayi kalian, karena sesungguhnya kami menetapkan tunjangan bagi setiap bayi yang lahir dalam Islam." Beliau pun menuliskan keputusan tersebut ke berbagai wilayah.

Membantu Wanita yang Melahirkan

Aslam bercerita: Suatu malam aku keluar bersama Umar ke pinggiran kota Madinah. Tampak oleh kami sebuah kemah rambut, lalu kami menuju ke sana. Ternyata ada seorang wanita yang sedang merintih karena hendak melahirkan dan ia menangis. Umar bertanya tentang keadaannya, ia menjawab: "Aku adalah seorang wanita Arab dan aku tidak memiliki sesuatu pun (untuk membantu persalinan)."

Umar pun menangis dan segera berlari pulang ke rumahnya. Beliau berkata kepada istrinya, Umm Kulthum binti Ali bin Abi Thalib: "Apakah engkau mau mendapatkan pahala yang Allah giring kepadamu?" Lalu beliau menceritakan kabarnya. Umm Kulthum menjawab: "Ya." Maka Umar memikul tepung dan lemak di punggungnya, sementara Umm Kulthum membawa peralatan persalinan.

Sesampainya di sana, Umm Kulthum masuk menemui wanita itu, sementara Umar duduk berbincang dengan suaminya—yang tidak mengenali beliau. Ketika wanita itu melahirkan seorang anak laki-laki, Umm Kulthum berseru: "Wahai Amirul Mukminin, beri kabar gembira kepada kawanmu ini dengan kelahiran seorang anak laki-laki." Mendengar ucapan itu, si suami merasa sungkan dan mulai meminta maaf kepada Umar, namun Umar berkata: "Tidak apa-apa." Kemudian beliau memberi mereka nafkah dan apa yang mereka butuhkan, lalu pergi.

Kisah di Harrah Waqim (Ibu dan Anak yang Kelaparan)

Aslam berkata: Aku keluar pada suatu malam bersama Umar menuju Harrah Waqim hingga sampai di Sharar. Tiba-tiba terlihat ada api, beliau berkata: "Wahai Aslam, di sana ada rombongan yang tertahan oleh malam dan dingin, ayo kita ke sana."

Kami mendatangi mereka dan ternyata ada seorang wanita bersama anak-anaknya. Ada sebuah panci yang diletakkan di atas api, sementara anak-anaknya merintih. Umar berkata: "Assalamu'alaikum wahai para pemilik cahaya." Wanita itu menjawab: "Wa'alaikumussalam." Umar bertanya: "Boleh aku mendekat?" Ia menjawab: "Mendekatlah atau tinggalkan."

Umar bertanya: "Apa yang terjadi dengan kalian?" Ia menjawab: "Malam dan dingin menghambat perjalanan kami." Umar bertanya: "Mengapa anak-anak ini merintih?" Ia menjawab: "Karena lapar." Umar bertanya: "Apa yang ada di dalam panci itu?" Ia menjawab: "Air, aku gunakan untuk menenangkan mereka agar mereka tertidur. Allah yang akan menjadi hakim antara kami dan Umar."

Umar menangis, lalu berlari menuju gudang tepung. Beliau mengeluarkan sekarung tepung dan sekantong lemak, lalu berkata: "Wahai Aslam, naikkan ini ke punggungku." Aku berkata: "Biarlah aku yang memikulnya untukmu." Beliau menjawab: "Apakah engkau akan memikul dosaku pada hari kiamat nanti?"

Maka beliau memikulnya sendiri hingga kami sampai kepada wanita itu. Beliau meletakkan karung tersebut, mengeluarkan tepung dan memasukkannya ke panci, lalu menambahkan lemak. Beliau mulai meniup api di bawah panci hingga asap menyelinap di antara janggutnya. Setelah matang, beliau meminta wadah, menyendoknya, dan meletakkannya di hadapan anak-anak itu seraya berkata: "Makanlah." Mereka makan hingga kenyang—sementara si wanita terus mendoakan beliau tanpa mengenalnya. Beliau tetap berada di sana hingga anak-anak itu tertidur, lalu memberi mereka nafkah dan pergi. Beliau menoleh kepadaku dan berkata: "Wahai Aslam, rasa laparlah yang membuat mereka terjaga dan menangis."

Wafatnya Umar (radhiyallahu 'anhu)

Ringkasnya, setelah Umar selesai menunaikan ibadah haji pada tahun 23 Hijriah dan singgah di Al-Abthah, beliau berdoa kepada Allah 'Azza wa Jalla. Beliau mengadu bahwa usianya telah tua, kekuatannya telah melemah, rakyatnya telah tersebar luas, dan beliau takut akan kelalaian. Beliau memohon agar Allah mewafatkannya dan menganugerahinya mati syahid di kota Nabi .

Telah tetap dalam kitab Shahih bahwa beliau sering berdoa:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ، وَمَوْتًا فِي بَلَدِ رَسُولِكَ» "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu mati syahid di jalan-Mu, dan kematian di negeri Rasul-Mu."

Allah mengabulkan doa ini. Beliau ditikam oleh Abu Lu'lu'ah al-Majusi saat sedang berdiri mengimami salat Subuh pada hari Rabu, empat hari sebelum berakhirnya bulan Dzulhijjah tahun 23 Hijriah. Beliau ditikam dengan belati bermata dua sebanyak tiga kali (ada yang menyebut enam kali), salah satunya di bawah pusar yang memutuskan selaput perut.

Beliau terjatuh, lalu meminta Abdurrahman bin Auf untuk menggantikannya mengimami salat. Budak itu melarikan diri sambil menikam siapa saja yang dilewatinya hingga melukai tiga belas orang (tujuh di antaranya wafat). Ketika ia menyadari akan tertangkap, ia bunuh diri.

Umar dibawa ke rumahnya dalam keadaan darah mengalir. Ketika sadar, hal pertama yang beliau tanyakan adalah tentang salat, lalu beliau bertanya siapa yang telah menikamnya. Ketika diberitahu bahwa pelakunya adalah budak Al-Mughirah bin Syu'bah, beliau berkata: "Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan orang yang mengaku beriman dan tidak pernah bersujud kepada Allah satu kali pun."

Wasiat dan Pemakaman

Umar mewasiatkan agar urusan khilafah diserahkan kepada musyawarah (syura) enam orang yang diredai Rasulullah saat wafat, yaitu: Utsman, Ali, Talhah, Az-Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa'ad bin Abi Waqqas. Beliau tidak menyertakan Said bin Zaid karena ia berasal dari kabilahnya, demi menghindari nepotisme.

Beliau wafat tiga hari setelah kejadian tersebut dan dimakamkan pada hari Ahad, awal bulan Muharram tahun 24 Hijriah. Beliau dimakamkan di kamar Nabi , di samping Abu Bakar Ash-Shiddiq, atas izin Aisyah radhiyallahu 'anha. Masa kekhalifahan beliau berlangsung selama 10 tahun, 6 bulan, dan 4 hari.

Riwayat Al-Bukhari tentang Wafatnya Umar

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Amr bin Maimun: Saat Umar ditikam, aku berdiri tepat di belakang beliau (hanya terhalang Ibnu Abbas). Umar biasanya memerintahkan untuk meluruskan shaf sebelum bertakbir. Baru saja beliau bertakbir, aku mendengar beliau berteriak: "Anjing itu telah membunuhku—atau menerkamku!"

Setelah salat selesai dengan imam Abdurrahman bin Auf, Umar bertanya: "Wahai Ibnu Abbas, lihatlah siapa yang membunuhku." Ibnu Abbas kembali dan berkata: "Budak Al-Mughirah." Umar bertanya: "Si pengrajin itu?" Ia menjawab: "Ya." Umar berkata: "Semoga Allah membinasakannya, aku telah memerintahkan kebaikan padanya."

Orang-orang mulai menjenguk beliau. Seorang pemuda datang dan berkata: "Berbahagialah wahai Amirul Mukminin dengan kabar gembira dari Allah; engkau adalah sahabat Rasulullah, engkau telah lama masuk Islam, engkau memimpin dengan adil, dan kemudian engkau mendapatkan kesyahidan." Umar menjawab: "Aku berharap semua itu impas (cukup), tidak menjadi beban bagiku dan tidak pula menjadi pahala bagiku."

Beliau berpesan kepada putranya, Abdullah bin Umar: "Lihatlah berapa utangku." Setelah dihitung, jumlahnya sekitar 86.000 dirham. Beliau memerintahkan agar utang tersebut dilunasi dari hartanya dan keluarga Umar, maka lunasilah (utang itu) dari harta mereka. Jika tidak mencukupi, maka mintalah kepada Bani Adi bin Ka’ab. Jika harta mereka pun tidak mencukupi, maka mintalah kepada kaum Quraisy dan jangan melampaui mereka kepada yang lainnya. Maka tunaikanlah utang ini atasku. Pergilah kepada Aisyah Ummul Mukminin dan katakanlah:

'Umar menyampaikan salam kepadamu' —dan janganlah engkau katakan 'Amirul Mukminin', karena hari ini aku bukan lagi pemimpin bagi kaum mukminin— dan katakanlah: 'Umar bin Khattab meminta izin untuk dimakamkan bersama kedua sahabatnya'."

Maka (Abdullah bin Umar) mengucapkan salam dan meminta izin, kemudian masuk menemui Aisyah. Ia mendapatinya sedang duduk menangis. Abdullah berkata: "Umar bin Khattab menyampaikan salam kepadamu dan meminta izin untuk dimakamkan bersama kedua sahabatnya."

Aisyah berkata: "Tadinya aku menginginkan tempat itu untuk diriku sendiri, namun hari ini aku akan mendahulukannya (Umar) daripada diriku sendiri."

Ketika Abdullah kembali, orang-orang berkata: "Ini Abdullah bin Umar telah datang." Umar berkata: "Angkatlah aku." Maka seorang laki-laki menyandarkan Umar kepadanya. Umar bertanya: "Kabar apa yang engkau bawa?"

Abdullah menjawab: "Kabar yang engkau sukai wahai Amirul Mukminin, beliau telah memberi izin." Umar berkata: "Alhamdulillah, tidak ada sesuatu yang lebih penting bagiku selain hal itu. Jika aku telah wafat, maka usunglah aku, kemudian sampaikanlah salam dan katakanlah: 'Umar bin Khattab meminta izin'. Jika ia mengizinkanku, maka masukkanlah aku. Namun jika ia menolakku, maka kembalikanlah aku ke pemakaman kaum Muslimin."

Kemudian datanglah Ummul Mukminin Hafshah bersama para wanita yang berjalan bersamanya. Ketika kami melihatnya, kami berdiri. Hafshah masuk menemui Umar dan menangis di sisinya sesaat. Kemudian para lelaki meminta izin, maka Hafshah masuk ke bagian dalam rumah untuk mereka, dan kami mendengar tangisannya dari dalam.

Orang-orang berkata: "Berilah wasiat wahai Amirul Mukminin, tunjuklah pengganti (Khalifah)." Umar berkata: "Aku tidak mendapati orang yang lebih berhak atas urusan (khilafah) ini selain mereka —kelompok atau rombongan ini— yang mana Rasulullah wafat dalam keadaan ridha kepada mereka." Kemudian Umar menyebutkan nama Ali, Uthman, Az-Zubair, Thalhah, Sa'ad, dan Abdurrahman. Umar berkata: "Hendaklah Abdullah bin Umar menjadi saksi bagi kalian, namun ia tidak memiliki hak sedikit pun atas urusan ini (sebagai bentuk penghiburan baginya). Jika kepemimpinan jatuh kepada Sa'ad, maka dialah orangnya. Jika tidak, maka siapapun yang terpilih di antara kalian sebagai pemimpin, hendaklah ia meminta bantuan kepada Sa'ad, karena sesungguhnya aku tidak mencopotnya (dari jabatan sebelumnya) karena kelemahan ataupun pengkhianatan."

Umar berkata: "Aku berwasiat kepada Khalifah setelahku agar memperhatikan kaum Muhajirin yang pertama, agar ia mengenali hak-hak mereka dan menjaga kehormatan mereka. Aku juga berwasiat kepadanya agar berbuat baik kepada kaum Ansar, yaitu mereka yang telah menempati negeri ini dan beriman sebelum kedatangan kaum Muhajirin, agar ia menerima orang yang berbuat baik dari kalangan mereka dan memaafkan orang yang berbuat salah dari kalangan mereka. Aku berwasiat kepadanya agar berbuat baik kepada penduduk kota-kota (Amsar), karena mereka adalah pembela Islam, pengumpul harta (zakat/pajak), dan yang membuat musuh marah, serta hendaknya tidak diambil dari mereka kecuali kelebihan harta mereka atas dasar keridaan mereka. Aku juga berwasiat kepadanya agar berbuat baik kepada orang-orang Arab Badui (A’rab), karena mereka adalah asal-usul bangsa Arab dan materi Islam, agar diambil dari kelebihan harta mereka dan dikembalikan kepada fakir miskin mereka. Aku juga berwasiat kepadanya demi jaminan (dzimmah) Allah dan jaminan Rasul-Nya, agar dipenuhi janji mereka, diperangi siapapun yang berada di belakang mereka (yang mengganggu mereka), dan janganlah mereka dibebani melampaui kemampuan mereka."

Tatkala Umar wafat, kami membawanya keluar dan kami berjalan kaki. Abdullah bin Umar kemudian menyampaikan salam dan berkata: "Umar bin Khattab meminta izin." Aisyah menjawab: "Masukkanlah ia." Maka Umar pun dimasukkan dan dimakamkan di sana bersama kedua sahabatnya.

Usia Beliau Saat Wafat

Terdapat perbedaan pendapat mengenai berapa usia beliau saat wafat —semoga Allah meridainya— dalam beberapa pendapat yang jumlahnya mencapai sepuluh pendapat. Berikut disebutkan sembilan di antaranya, dimulai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir dalam kitab sejarahnya:

Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Akhzam, telah menceritakan kepada kami Abu Qutaibah, dari Jarir bin Hazim, dari Ayyub, dari Nafi', dari Ibnu Umar, ia berkata:

"عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَهُوَ ابْنُ خَمْسٍ وَخَمْسِينَ سَنَةً"

"Umar bin Khattab terbunuh saat ia berusia lima puluh lima tahun."

Hal ini juga diriwayatkan melalui jalur Ad-Darawardi dari Ubaidullah bin Umar, dari Nafi', dari Ibnu Umar. Juga melalui jalur Abdurrazzaq dari Ibnu Juraij dari Az-Zuhri.

Kemudian disebutkan pendapat lain dari Hisyam al-Kalbi, bahwa beliau wafat dalam usia lima puluh tiga tahun. Diriwayatkan pula dari Amir asy-Sya'bi bahwa beliau wafat dalam usia enam puluh tiga tahun. Ibnu Katsir berkata: "Pendapat inilah yang masyhur (terkenal)."

Disebutkan pula pendapat Al-Madaini: Bahwa beliau wafat saat berusia lima puluh tujuh tahun. Al-Waqidi berkata: "Hadits ini (usia 63) tidak dikenal di kalangan kami di Madinah. Pendapat yang paling kuat menurut kami adalah beliau wafat dalam usia enam puluh tahun."

Aku (penulis) berkata: Pendapat Al-Madaini sesuai dengan apa yang disebutkan oleh penulis bahwa usia beliau adalah dua puluh tujuh tahun saat masuk Islam, dan itu terjadi pada tahun keenam kenabian (27 + 7 + 23 = 57).


Sumber Kisah:

Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alexander Agung dan Mimpi Menguasai Arab: Ekspedisi yang Gagal karena Kematian

Pengangkatan Utsman ibnu Affan Sebagai Khalifah

Bani Nadhir: Ketika Pengkhianatan Berujung Pengusiran