Biografi Umar Ibnu al Khattab r.a
Nasabnya
Beliau adalah Umar bin al-Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza
bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin 'Adi bin Ka'ab bin Lu'ay Abu
Hafsh al-Adawi, yang dijuluki sebagai Al-Faruq. Dikatakan bahwa yang
menjulukinya demikian adalah Ahli Kitab. Ibunya adalah Hantamah binti Hisyam
bin al-Mughirah, saudara perempuan dari Abu Jahl bin Hisyam.
Sifat Fisiknya
Beliau adalah seorang pria yang sangat tinggi, berkepala
botak, kidal (namun mampu menggunakan kedua tangannya dengan baik), memiliki
mata yang jernih, dan berkulit cokelat (adam). Ada pula yang mengatakan:
kulitnya putih sangat bersih yang kemerah-merahan, giginya putih berseri,
sering mewarnai janggutnya dengan warna kuning, dan menyisir rambutnya dengan
pacar (henna).
Beliau adalah orang yang sangat tawaduk karena Allah, hidup
dalam kesederhanaan, makan dengan sederhana, tegas dalam urusan Allah, menambal
pakaiannya dengan kulit, dan memikul sendiri kantung air di atas pundaknya
meskipun beliau memiliki wibawa yang besar. Beliau juga menunggangi keledai
tanpa pelana, dan menunggangi unta dengan tali kekang dari sabut pohon kurma.
Beliau jarang tertawa dan tidak suka bergurau dengan siapapun.
Ukiran pada cincinnya berbunyi: "Cukuplah kematian
sebagai pemberi nasihat bagimu, wahai Umar."
Istri-istri, Putra-putra, dan Putri-putrinya
Al-Waqidi, Ibnu al-Kalbi, dan lainnya berkata: Umar menikah
di masa Jahiliah dengan Zainab binti Madh'un, saudara perempuan Utsman bin
Madh'un, yang melahirkan baginya: Abdullah, Abdurrahman yang Besar, dan
Hafshah.
Beliau juga menikah dengan Malikah binti Jarul, yang
melahirkan baginya: Ubaidullah dan Zaid yang Kecil.
Al-Madaini berkata: Beliau menikah dengan Qaribah binti Abi
Umayyah al-Makhzumi, lalu menceraikannya pada masa gencatan senjata (Perjanjian
Hudaibiyah), kemudian ia dinikahi oleh Abdurrahman bin Abi Bakar.
Beliau juga menikah dengan Umm Hakim binti al-Harits bin
Hisyam setelah suaminya, Ikrimah bin Abi Jahl, terbunuh di Syam. Ia melahirkan
baginya seorang putri bernama Fathimah, kemudian beliau menceraikannya.
Al-Madaini berkata: Ada yang berpendapat beliau tidak menceraikannya.
Beliau juga menikah dengan Jamilah binti Ashim bin Tsabit
bin Abi al-Aqlah dari suku Aus.
Beliau juga menikah dengan Atikah binti Zaid bin Amru bin
Nufail, yang sebelumnya adalah istri Abdullah bin Abi Bakar. Setelah Umar
wafat, ia dinikahi oleh Az-Zubair bin al-Awwam. Dikatakan bahwa ia adalah ibu
dari putranya yang bernama Iyad, Wallahu a'lam.
Al-Madaini berkata: Beliau pernah meminang Umm Kulthum binti
Abi Bakar Ash-Shiddiq saat ia masih kecil melalui perantaraan Aisyah. Namun Umm
Kulthum berkata: "Aku tidak membutuhkannya (tidak ingin menikah
dengannya)." Aisyah bertanya: "Apakah engkau membenci Amirul
Mukminin?" Ia menjawab: "Ya, karena hidupnya sangat keras." Maka
Aisyah mengutus Amru bin al-Ash untuk membujuk Umar agar membatalkan niatnya
dan mengarahkannya kepada Umm Kulthum binti Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah
ﷺ
dari Fathimah. Umar pun meminangnya dari Ali, dan Ali menikahkannya. Umar
memberinya mahar empat puluh ribu, dan ia melahirkan baginya Zaid dan Ruqayyah.
Dikatakan pula beliau menikah dengan Lahiyah—seorang wanita
dari Yaman yang melahirkan baginya Abdurrahman yang Kecil (atau yang Menengah).
Al-Waqidi berkata bahwa ia adalah Ummu Walad (budak wanita yang melahirkan anak
tuannya) dan bukan istri. Mereka juga menyebutkan bahwa beliau memiliki Ummu
Walad bernama Fakihah yang melahirkan Zainab, yang menurut Al-Waqidi adalah
anak bungsunya.
Ibnu Katsir berkata: Total anak-anaknya berjumlah tiga belas
orang, yaitu: Zaid yang Besar, Zaid yang Kecil, Ashim, Abdullah, Abdurrahman
yang Besar, Abdurrahman yang Menengah (Abu Syahmah), Abdurrahman yang Kecil,
Ubaidullah, Iyad, Hafshah, Ruqayyah, Zainab, dan Fathimah. Sedangkan total
istri-istrinya yang dinikahi baik di masa Jahiliah maupun Islam, baik yang
diceraikan maupun yang ditinggal wafat, berjumlah tujuh orang.
Islamnya dan Hal-hal yang Pertama Kali Dilakukannya
Umar masuk Islam pada usia dua puluh tujuh tahun. Beliau
ikut serta dalam Perang Badar, Uhud, dan seluruh peperangan bersama Nabi ﷺ.
Beliau juga memimpin beberapa ekspedisi (sariyah).
Beliau adalah orang pertama yang dijuluki sebagai Amirul
Mukminin. Beliau juga orang pertama yang menetapkan penanggalan (Hijriah),
mengumpulkan orang-orang untuk salat Tarawih (secara berjamaah), orang pertama
yang berpatroli malam di Madinah ('as), membawa dan mendisiplinkan orang
dengan cemeti (durrah), menetapkan hukuman delapan puluh kali cambuk
bagi peminum khamar, melakukan banyak penaklukan wilayah, membangun kota-kota
besar, membentuk pasukan tentara, menetapkan pajak tanah (kharaj),
menyusun administrasi negara (diwan), memberikan tunjangan, mengangkat
para hakim, serta mengatur wilayah-wilayah seperti Sawad, Ahvaz, pegunungan,
Persia, dan lainnya.
Di Antara Keutamaannya
Imam Bukhari menyebutkan dalam bab "Manakib Umar bin
al-Khattab Abu Hafsh al-Qurasyi al-Adawi":
Umar Termasuk Penduduk Surga
- Diriwayatkan
dari Said bin al-Musayyib bahwa Abu Hurairah berkata: Saat kami berada di
sisi Rasulullah ﷺ,
beliau bersabda:
«بَيْنَا
أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُنِي فِي الْجَنَّةِ، فَإِذَا امْرَأَةٌ تَتَوَضَّأُ إِلَى
جَانِبِ قَصْرٍ، فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ؟ قَالُوا: لِعُمَرَ، فَذَكَرْتُ
غَيْرَتَهُ فَوَلَّيْتُ مُدْبِرًا»
"Saat aku tidur, aku bermimpi berada di surga.
Tiba-tiba ada seorang wanita yang sedang berwudu di samping sebuah istana. Aku
bertanya: 'Milik siapa istana ini?' Mereka menjawab: 'Milik Umar.' Aku teringat
akan sifat cemburunya, maka aku pun segera berbalik pergi."
Mendengar itu, Umar menangis dan berkata: "Apakah
kepadamu aku akan merasa cemburu, wahai Rasulullah?"
- Dari
Anas bin Malik, ia berkata: Nabi ﷺ mendaki gunung
Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Tiba-tiba gunung itu bergetar,
maka Nabi ﷺ
menghentakkan kakinya dan bersabda:
«اثْبُتْ
أُحُدُ، فَمَا عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدٌ»
"Diamlah wahai Uhud! Karena di atasmu tidak ada
siapa-siapa kecuali seorang Nabi, seorang Shiddiq (Abu Bakar), atau dua orang
syahid (Umar dan Utsman)."
- Dari
Anas, bahwa seseorang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hari
kiamat: "Kapan kiamat itu?" Beliau bertanya balik: "Apa
yang telah engkau persiapkan untuknya?" Orang itu menjawab:
"Tidak ada, selain aku mencintai Allah dan Rasul-Nya." Beliau
bersabda:
«أَنْتَ
مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»
"Engkau akan bersama dengan orang yang engkau
cintai."
Anas berkata: "Kami tidak pernah merasa sangat gembira
setelah masuk Islam melebihi kegembiraan kami saat mendengar sabda Nabi: Engkau
bersama orang yang engkau cintai." Anas berkata lagi: "Aku
mencintai Nabi ﷺ,
Abu Bakar, dan Umar, dan aku berharap akan bersama mereka karena kecintaanku
kepada mereka, meskipun amalanku tidak seperti amalan mereka."
- Dari
Abu Musa al-Asy'ari, ia berkata: Aku bersama Nabi ﷺ di salah satu
kebun di Madinah. Seseorang datang meminta izin untuk masuk, maka Nabi ﷺ
bersabda:
«افْتَحْ
لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ»
"Bukakan pintu untuknya dan beri kabar gembira
kepadanya dengan surga."
Aku pun membukanya, ternyata dia adalah Abu Bakar. Aku beri
tahu apa yang disabdakan Rasulullah ﷺ, lalu ia memuji Allah.
Kemudian datang lagi seseorang meminta izin, beliau
bersabda: "Bukakan untuknya dan beri kabar gembira kepadanya dengan
surga." Ternyata dia adalah Umar, aku beri tahu ia lalu ia memuji Allah.
Lalu datang lagi orang ketiga, beliau bersabda:
"Bukakan untuknya dan beri kabar gembira kepadanya dengan surga atas ujian
yang akan menimpanya." Ternyata dia adalah Utsman, ia pun memuji Allah dan
berkata: "Allah-lah tempat meminta pertolongan."
Keutamaan Ilmu Umar
- Dari
Az-Zuhri, ia berkata: Hamzah memberitahuku dari ayahnya bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
«بَيْنَا
أَنَا نَائِمٌ شَرِبْتُ - يَعْنِي اللَّبَنَ - حَتَّى أَنْظُرُ إِلَى الرِّيِّ
يَجْرِي فِي ظُفُرِي - أَوْ أَظْفَارِي - ثُمَّ نَاوَلْتُ عُمَرَ»
"Saat aku tidur, aku (bermimpi) meminum susu hingga aku
melihat kesegaran itu keluar dari kuku-kukuku, kemudian aku memberikannya
kepada Umar."
Para sahabat bertanya: "Apa takwilnya (maknanya) wahai
Rasulullah?" Beliau menjawab: "Ilmu."
Luasnya Penyebaran Islam di Masa Umar
- Dari
Abdullah bin Umar bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«رَأَيْتُ
فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَنْزَعُ بِدَلْوِ بَكْرَةٍ عَلَى قَلِيبٍ، فَجَاءَ أَبُو
بَكْرٍ فَنَزَعَ ذَنُوبًا أَوْ ذَنُوبَيْنِ نَزْعًا ضَعِيفًا وَاللَّهُ يَغْفِرُ
لَهُ، ثُمَّ جَاءَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَاسْتَحَالَتْ غَرْبًا، فَلَمْ أَرَ
عَبْقَرِيًّا يَفْرِي فَرِيَّهُ، حَتَّى رَوَى النَّاسُ وَضَرَبُوا بِعَطَنٍ»
"Aku bermimpi sedang menimba air dengan timba di sebuah
sumur. Datanglah Abu Bakar, ia menimba satu atau dua timba dengan tarikan yang
lemah—semoga Allah mengampuninya. Kemudian datanglah Umar bin al-Khattab, lalu
timba itu berubah menjadi timba yang sangat besar. Aku tidak pernah melihat
seorang pemimpin hebat yang mampu bekerja sehebat dia, hingga orang-orang
merasa puas minum dan membawa ternak mereka ke tempat peristirahatan (karena
limpahan airnya)."
Kemuliaan Islam dengan Masuk Islamnya Umar
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu,
ia berkata: "Kami senantiasa merasa mulia sejak Umar masuk Islam."
Kedekatan Umar dengan Rasulullah ﷺ dan Seringnya Beliau
Menyertainya
8 - Diriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah, ia mendengar Ibnu
Abbas berkata: Umar diletakkan di atas ranjangnya (jenazahnya), lalu
orang-orang mengerumuninya sembari mendoakan dan menyalatkannya sebelum
diangkat—dan aku ada di antara mereka—tiba-tiba aku dikejutkan oleh seorang
pria yang memegang pundakku, ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib. Ia
mendoakan rahmat untuk Umar dan berkata: "Tidak ada seorang pun yang lebih
aku sukai untuk menemui Allah dengan amalan yang serupa dengannya selain
engkau."
"Demi Allah, aku benar-benar menyangka bahwa Allah akan
menempatkanmu bersama kedua sahabatmu (Rasulullah dan Abu Bakar). Hal itu
karena aku sering mendengar Nabi ﷺ bersabda:
«ذَهَبْتُ
أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَدَخَلْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ»
"Aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar, dan aku masuk
bersama Abu Bakar dan Umar."
9 - Diriwayatkan dari Al-Miswar bin Makhramah, ia berkata:
Ketika Umar ditusuk, ia mulai merasa kesakitan. Maka Ibnu Abbas berkata
kepadanya—seolah-olah ingin menghiburnya—: "Wahai Amirul Mukminin, jika
memang demikian (ajal menjemput), engkau telah menemani Rasulullah ﷺ
dan engkau telah menemani beliau dengan baik, lalu engkau berpisah dengannya
dalam keadaan beliau rida kepadamu. Kemudian engkau menemani Abu Bakar dan
engkau menemani beliau dengan baik, lalu engkau berpisah dengannya dalam
keadaan beliau rida kepadamu. Kemudian engkau menemani sahabat-sahabat mereka
(kaum Muslimin) dan engkau menemani mereka dengan baik, dan jika engkau
berpisah dengan mereka, engkau akan berpisah dalam keadaan mereka rida
kepadamu."
Umar menjawab: "Adapun apa yang engkau sebutkan tentang
kebersamaan dengan Rasulullah ﷺ
dan keridaan beliau, maka itu hanyalah karunia dari Allah Ta'ala yang diberikan
kepadaku. Adapun apa yang engkau sebutkan tentang kebersamaan dengan Abu Bakar
dan keridaan beliau, maka itu pun hanyalah karunia dari Allah Jalla Dzikruhu
yang diberikan kepadaku. Sedangkan kegelisahan yang engkau lihat dariku ini,
adalah karena memikirkanmu dan para sahabatmu (urusan umat). Demi Allah,
seandainya aku memiliki emas sepenuh bumi, niscaya akan aku gunakan untuk
menebus diriku dari azab Allah 'Azza wa Jalla sebelum aku melihat-Nya."
10 - Diriwayatkan dari Abdullah bin Hisham, ia berkata:
"Kami pernah bersama Nabi ﷺ dan beliau sedang memegang tangan Umar bin al-Khattab."
Kesungguhan Umar dan Kedermawanannya dengan Harta
11 - Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: "Aku
tidak pernah melihat seorang pun setelah Rasulullah ﷺ wafat yang lebih sungguh-sungguh dan lebih
dermawan hingga ajalnya menjemput selain Umar bin al-Khattab."
Umar Adalah Pria yang Mendapat Ilham (Mulham)
12 - Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu,
ia berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda:
«لَقَدْ
كَانَ فِيمَا قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ نَاسٌ مُحَدَّثُونَ، فَإِنْ يَكُ فِي
أُمَّتِي أَحَدٌ فَإِنَّهُ عُمَرُ»
"Sungguh, pada umat-umat sebelum kalian terdapat
orang-orang yang diberikan ilham (oleh Allah). Jika ada salah seorang dari
umatku, maka dialah Umar."
Dalam riwayat lain:
«لَقَدْ
كَانَ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ رِجَالٌ يُكَلَّمُونَ مِنْ
غَيْرِ أَنْ يَكُونُوا أَنْبِيَاءَ، فَإِنْ يَكُنْ فِي أُمَّتِي مِنْهُمْ أَحَدٌ
فَعُمَرُ»
"Sungguh, pada orang-orang sebelum kalian dari Bani
Israil terdapat pria-pria yang diajak bicara (diberi ilham) padahal mereka
bukan nabi. Jika ada salah seorang dari umatku di antara mereka, maka dialah
Umar."
Kekuatan Iman dan Keyakinannya
13 - Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu,
ia berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda: Ketika seorang penggembala berada di tengah kambing-kambingnya,
seekor serigala datang dan menerkam seekor kambing. Penggembala itu mengejarnya
hingga berhasil menyelamatkannya. Lalu serigala itu menoleh kepadanya dan
berkata: "Siapa yang akan menjaganya pada hari binatang buas (ketika tidak
ada penjaga), saat tidak ada penggembala baginya selain aku?"
Orang-orang berkata: "Subhanallah (serigala bisa
bicara)!" Maka Nabi ﷺ
bersabda:
«فَإِنِّي
أُومِنُ بِهِ، وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ»
"Maka sesungguhnya aku mengimaninya, begitu juga Abu
Bakar dan Umar."
(Padahal saat itu Abu Bakar dan Umar tidak ada di sana).
14 - Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu
'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Ketika aku tidur, aku
bermimpi melihat orang-orang diperlihatkan kepadaku dalam keadaan mereka
memakai baju gamis. Di antara baju itu ada yang sampai ke dada, dan ada yang
kurang dari itu. Lalu diperlihatkan kepadaku Umar dalam keadaan ia memakai baju
gamis yang ia seret (karena panjangnya)."
Para sahabat bertanya: "Apa takwilnya wahai
Rasulullah?" Beliau menjawab: "Agama."
Wibawa Umar dan Larinya Setan dari Jalannya
15 - Diriwayatkan dari Muhammad bin Sa'ad bin Abi Waqqas,
dari ayahnya, ia berkata: Umar bin al-Khattab meminta izin untuk menemui
Rasulullah ﷺ,
sementara di sisi beliau ada beberapa wanita dari suku Quraisy yang sedang
berbicara dan meminta banyak hal kepada beliau dengan suara yang keras melebihi
suara beliau. Ketika Umar meminta izin, para wanita itu segera berdiri dan
bergegas bersembunyi di balik hijab. Rasulullah ﷺ mengizinkannya masuk, maka Umar masuk
dalam keadaan Rasulullah sedang tertawa. Umar berkata: "Semoga Allah
senantiasa membuat gigimu tertawa (selalu bahagia) wahai Rasulullah." Nabi
ﷺ
bersabda: "Aku heran dengan para wanita yang tadi di sisiku, ketika mereka
mendengar suaramu, mereka segera bersembunyi di balik hijab."
Umar berkata: "Engkau lebih berhak untuk mereka segani
wahai Rasulullah." Kemudian Umar berkata (kepada para wanita tersebut):
"Wahai para musuh bagi diri kalian sendiri, apakah kalian segan kepadaku
namun tidak segan kepada Rasulullah ﷺ?" Mereka menjawab: "Ya, karena engkau lebih keras dan
lebih kasar daripada Rasulullah ﷺ."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِيهًا
يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ
سَالِكًا فَجًّا قَطُّ إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ»
"Wahai putra al-Khattab, demi Zat yang jiwaku berada di
tangan-Nya, tidaklah setan menemuimu menempuh suatu jalan, kecuali ia akan
menempuh jalan lain selain jalanmu."
16 - Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha
bahwa Nabi ﷺ
bersabda:
«إِنَّ
الشَّيْطَانَ يَفْرَقُ مِنْ عُمَرَ»
"Sesungguhnya setan takut kepada Umar."
17 - Beliau ﷺ juga bersabda:
«أَرْحَمُ
أُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ ، وَأَشَدُّهَا فِي دِينِ اللَّهِ عُمَرُ»
"Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar, dan
yang paling tegas dalam menjalankan agama Allah adalah Umar."
Di Antara Ucapan dan Keadaannya
Umar berkata: "Tidak halal bagiku dari harta Allah
(baitul mal) kecuali dua pakaian; satu pakaian untuk musim dingin dan satu
pakaian untuk musim panas, serta nafkah keluargaku sebagaimana pria Quraisy
pada umumnya yang bukan paling kaya di antara mereka. Kemudian aku hanyalah
seorang pria biasa di antara kaum Muslimin."
Umar, jika mengangkat seorang gubernur, beliau menuliskan
surat perjanjian dan mempersaksikan hal itu kepada sekelompok kaum Muhajirin.
Beliau mensyaratkan kepada gubernur tersebut agar tidak menunggangi kuda
tunggangan yang mewah (birdhaun), tidak memakan roti dari tepung yang
sangat halus, tidak memakai pakaian yang tipis, dan tidak menutup pintunya bagi
orang-orang yang membutuhkan. Jika gubernur itu melanggar salah satu hal
tersebut, maka ia berhak menerima hukuman.
Pernah seseorang menceritakan sebuah hadis kepadanya lalu
berbohong dalam satu atau dua kata, maka Umar berkata: "Tahan yang ini,
tahan yang ini (jangan sebutkan)." Orang itu pun berkata: "Demi
Allah, semua yang kuceritakan kepadamu adalah benar, kecuali apa yang engkau
perintahkan untuk aku tahan."
Muawiyah bin Abi Sufyan berkata: "Adapun Abu Bakar, ia
tidak menginginkan dunia dan dunia pun tidak menginginkannya. Adapun Umar,
dunia menginginkannya namun ia tidak menginginkan dunia. Sedangkan kami, kami
berlumuran di dalamnya."
Umar pernah ditegur, dikatakan kepadanya: "Seandainya
engkau memakan makanan yang baik, niscaya itu akan membuatmu lebih kuat dalam
membela kebenaran?" Beliau menjawab: "Aku telah meninggalkan kedua
sahabatku (Rasulullah dan Abu Bakar) di atas sebuah jalan. Jika aku
meninggalkan jalan mereka, aku tidak akan bisa menyusul mereka di tempat
persinggahan nanti."
Saat menjadi khalifah, beliau pernah memakai jubah wol yang
ditambal dengan kulit. Beliau berkeliling di pasar-pasar dengan cemeti di
pundaknya untuk mendidik orang-orang. Jika beliau melewati biji kurma atau
sejenisnya, beliau memungutnya dan melemparkannya ke rumah orang-orang agar
mereka bisa memanfaatkannya.
Anas berkata: "Di antara kedua pundak Umar terdapat
empat tambalan, dan kain sarungnya ditambal dengan kulit. Beliau berkhotbah di
atas mimbar dengan memakai sarung yang memiliki dua belas tambalan."
Beliau menghabiskan enam belas dinar dalam perjalanan hajinya, lalu berkata
kepada putranya: "Kita telah berlebih-lebihan."
Beliau tidak berteduh dengan sesuatu pun (tenda), melainkan
beliau hanya menyampirkan kainnya di atas pohon dan berteduh di bawahnya.
Beliau tidak memiliki kemah maupun paviliun.
Ketika beliau datang ke Syam untuk pembebasan Baitul Maqdis,
beliau menunggangi unta yang berwarna abu-abu, kepalanya yang botak terpapar
sinar matahari. Beliau tidak memakai kopiah maupun sorban. Kedua kakinya
terjuntai di antara dua sisi pelana tanpa sanggurdi. Alas duduknya adalah
karung wol, yang juga menjadi alas tidurnya jika beliau singgah. Ketika tiba,
beliau berkata: "Panggilkan pemimpin desa ini kepadaku." Mereka
memanggilnya, lalu Umar berkata: "Cucilah kemejaku, jahitlah, dan pinjamkan
aku sebuah kemeja (untuk sementara)." Maka dibawakanlah kemeja dari bahan
rami (kattan). Beliau bertanya: "Apa ini?" Dijawab:
"Kattan." Beliau bertanya: "Apa itu kattan?" Setelah
dijelaskan, beliau melepas kemejanya untuk dicuci dan dijahit, lalu beliau
memakainya kembali.
Pemimpin desa itu berkata kepadanya: "Engkau adalah
raja bangsa Arab, dan negeri ini tidak cocok jika menunggangi unta." Maka
dibawakanlah seekor kuda tunggangan (birdhaun), lalu diletakkan di
atasnya kain beludru tanpa pelana kayu. Ketika kuda itu mulai berjalan dengan
gaya berjingkrak (hamlaj), Umar berkata kepada orang di sekitarnya:
"Hentikan! Aku tidak menyangka orang-orang menunggangi setan. Berikan
untaku!" Lalu beliau turun dan kembali menunggangi untanya.
Dari Anas, ia berkata: Aku bersama Umar, lalu beliau
memasuki sebuah kebun untuk suatu keperluan. Aku mendengarnya berkata—sementara
antara aku dan beliau terhalang tembok kebun—: "Umar bin al-Khattab,
Amirul Mukminin... Bakh bakh (ungkapan kekaguman sekaligus peringatan)!
Demi Allah, engkau benar-benar harus bertakwa kepada Allah wahai putra
al-Khattab, atau Dia benar-benar akan mengazabmu."
Dikatakan bahwa beliau pernah memikul kantung air di atas
pundaknya. Ketika hal itu ditanyakan, beliau menjawab: "Diriku mulai
merasa bangga (ujub), maka aku ingin menghinakannya."
Beliau menyalati orang-orang pada salat Isya, kemudian masuk
ke rumahnya dan terus melakukan salat hingga fajar.
Pada Tahun Abu (Tahun Ramadah/kelaparan), beliau tidak
memakan apa pun kecuali roti dan minyak zaitun hingga kulitnya menghitam.
Beliau berkata: "Betapa buruknya aku sebagai pemimpin jika aku kenyang
sementara rakyatku kelaparan."
Di wajahnya terdapat dua garis hitam bekas air mata karena
sering menangis. Jika mendengar suatu ayat dari Al-Qur'an, beliau bisa pingsan
hingga harus dipapah ke rumahnya. Orang-orang menjenguknya selama beberapa hari
seolah beliau sakit, padahal tidak ada penyakit padanya kecuali rasa takut
(kepada Allah).
Talhah bin Ubaidillah berkata: "Umar keluar pada suatu
malam yang gelap gulita, lalu memasuki sebuah rumah. Keesokan harinya, aku
pergi ke rumah tersebut dan ternyata di dalamnya ada seorang wanita tua yang
buta lagi lumpuh. Aku bertanya kepadanya: 'Apa urusan pria yang mendatangimu
semalam?' Wanita itu menjawab: 'Dia rutin mendatangiku sejak sekian lama untuk
membawakan apa yang kubutuhkan dan membersihkan kotoran dariku.' Aku pun
berkata pada diriku sendiri: 'Celakalah engkau wahai Talhah, apakah engkau mencari-cari
kesalahan Umar?!'"
Aslam, mantan budak Umar, berkata: "Sekelompok pedagang
datang ke Madinah dan mereka singgah di mushalla (tempat terbuka). Umar berkata
kepada Abdurrahman bin Auf: 'Maukah engkau menjaga mereka bersama denganku
malam ini?' Ia menjawab: 'Ya.' Maka keduanya berjaga sembari melakukan salat.
Tiba-tiba Umar mendengar tangisan seorang bayi, beliau menuju ke arah ibunya
dan berkata: 'Bertakwalah kepada Allah dan berbuat baiklah kepada bayimu.'
Kemudian beliau kembali ke tempatnya. Tak lama, beliau mendengar tangisan itu
lagi, maka beliau kembali mendatangi ibunya dan berkata seperti yang pertama,
kemudian beliau kembali ke tempatnya, pada akhir malam, beliau mendengar lagi
tangisan bayi tersebut, maka beliau mendatangi ibunya dan berkata:
"Celakalah engkau, sesungguhnya engkau adalah ibu yang buruk! Mengapa aku
melihat anakmu tidak tenang sejak tadi malam karena menangis?!"
Ibu itu menjawab: "Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku
sedang menyibukkannya agar ia mau disapih, namun ia menolak." Umar
bertanya: "Mengapa?" Ia menjawab: "Karena Umar tidak memberikan
tunjangan kecuali bagi anak yang sudah disapih." Umar bertanya:
"Berapa usia anakmu ini?" Ia menjawab: "Sekian bulan." Umar
berkata: "Celakalah engkau, janganlah terburu-buru menyapihnya."
Setelah melaksanakan salat Subuh dalam keadaan bacaannya
tidak terdengar jelas oleh orang-orang karena tangisannya, beliau berkata:
"Celakalah Umar! Berapa banyak anak-anak kaum Muslimin yang telah ia
bunuh?" Kemudian beliau memerintahkan penyerunya untuk mengumumkan:
"Janganlah kalian terburu-buru menyapih bayi kalian, karena sesungguhnya
kami menetapkan tunjangan bagi setiap bayi yang lahir dalam Islam." Beliau
pun menuliskan keputusan tersebut ke berbagai wilayah.
Membantu Wanita yang Melahirkan
Aslam bercerita: Suatu malam aku keluar bersama Umar ke
pinggiran kota Madinah. Tampak oleh kami sebuah kemah rambut, lalu kami menuju
ke sana. Ternyata ada seorang wanita yang sedang merintih karena hendak
melahirkan dan ia menangis. Umar bertanya tentang keadaannya, ia menjawab:
"Aku adalah seorang wanita Arab dan aku tidak memiliki sesuatu pun (untuk
membantu persalinan)."
Umar pun menangis dan segera berlari pulang ke rumahnya.
Beliau berkata kepada istrinya, Umm Kulthum binti Ali bin Abi Thalib:
"Apakah engkau mau mendapatkan pahala yang Allah giring kepadamu?"
Lalu beliau menceritakan kabarnya. Umm Kulthum menjawab: "Ya." Maka
Umar memikul tepung dan lemak di punggungnya, sementara Umm Kulthum membawa
peralatan persalinan.
Sesampainya di sana, Umm Kulthum masuk menemui wanita itu,
sementara Umar duduk berbincang dengan suaminya—yang tidak mengenali beliau.
Ketika wanita itu melahirkan seorang anak laki-laki, Umm Kulthum berseru:
"Wahai Amirul Mukminin, beri kabar gembira kepada kawanmu ini dengan
kelahiran seorang anak laki-laki." Mendengar ucapan itu, si suami merasa
sungkan dan mulai meminta maaf kepada Umar, namun Umar berkata: "Tidak
apa-apa." Kemudian beliau memberi mereka nafkah dan apa yang mereka
butuhkan, lalu pergi.
Kisah di Harrah Waqim (Ibu dan Anak yang Kelaparan)
Aslam berkata: Aku keluar pada suatu malam bersama Umar
menuju Harrah Waqim hingga sampai di Sharar. Tiba-tiba terlihat ada api, beliau
berkata: "Wahai Aslam, di sana ada rombongan yang tertahan oleh malam dan
dingin, ayo kita ke sana."
Kami mendatangi mereka dan ternyata ada seorang wanita
bersama anak-anaknya. Ada sebuah panci yang diletakkan di atas api, sementara
anak-anaknya merintih. Umar berkata: "Assalamu'alaikum wahai para pemilik
cahaya." Wanita itu menjawab: "Wa'alaikumussalam." Umar
bertanya: "Boleh aku mendekat?" Ia menjawab: "Mendekatlah atau
tinggalkan."
Umar bertanya: "Apa yang terjadi dengan kalian?"
Ia menjawab: "Malam dan dingin menghambat perjalanan kami." Umar
bertanya: "Mengapa anak-anak ini merintih?" Ia menjawab: "Karena
lapar." Umar bertanya: "Apa yang ada di dalam panci itu?" Ia
menjawab: "Air, aku gunakan untuk menenangkan mereka agar mereka tertidur.
Allah yang akan menjadi hakim antara kami dan Umar."
Umar menangis, lalu berlari menuju gudang tepung. Beliau
mengeluarkan sekarung tepung dan sekantong lemak, lalu berkata: "Wahai
Aslam, naikkan ini ke punggungku." Aku berkata: "Biarlah aku yang
memikulnya untukmu." Beliau menjawab: "Apakah engkau akan memikul
dosaku pada hari kiamat nanti?"
Maka beliau memikulnya sendiri hingga kami sampai kepada
wanita itu. Beliau meletakkan karung tersebut, mengeluarkan tepung dan
memasukkannya ke panci, lalu menambahkan lemak. Beliau mulai meniup api di
bawah panci hingga asap menyelinap di antara janggutnya. Setelah matang, beliau
meminta wadah, menyendoknya, dan meletakkannya di hadapan anak-anak itu seraya
berkata: "Makanlah." Mereka makan hingga kenyang—sementara si wanita
terus mendoakan beliau tanpa mengenalnya. Beliau tetap berada di sana hingga
anak-anak itu tertidur, lalu memberi mereka nafkah dan pergi. Beliau menoleh
kepadaku dan berkata: "Wahai Aslam, rasa laparlah yang membuat mereka
terjaga dan menangis."
Wafatnya Umar (radhiyallahu 'anhu)
Ringkasnya, setelah Umar selesai menunaikan ibadah haji pada
tahun 23 Hijriah dan singgah di Al-Abthah, beliau berdoa kepada Allah 'Azza wa
Jalla. Beliau mengadu bahwa usianya telah tua, kekuatannya telah melemah,
rakyatnya telah tersebar luas, dan beliau takut akan kelalaian. Beliau memohon
agar Allah mewafatkannya dan menganugerahinya mati syahid di kota Nabi ﷺ.
Telah tetap dalam kitab Shahih bahwa beliau sering
berdoa:
«اللَّهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ، وَمَوْتًا فِي بَلَدِ رَسُولِكَ»
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu mati syahid di jalan-Mu, dan
kematian di negeri Rasul-Mu."
Allah mengabulkan doa ini. Beliau ditikam oleh Abu Lu'lu'ah
al-Majusi saat sedang berdiri mengimami salat Subuh pada hari Rabu, empat hari
sebelum berakhirnya bulan Dzulhijjah tahun 23 Hijriah. Beliau ditikam dengan
belati bermata dua sebanyak tiga kali (ada yang menyebut enam kali), salah
satunya di bawah pusar yang memutuskan selaput perut.
Beliau terjatuh, lalu meminta Abdurrahman bin Auf untuk
menggantikannya mengimami salat. Budak itu melarikan diri sambil menikam siapa
saja yang dilewatinya hingga melukai tiga belas orang (tujuh di antaranya
wafat). Ketika ia menyadari akan tertangkap, ia bunuh diri.
Umar dibawa ke rumahnya dalam keadaan darah mengalir. Ketika
sadar, hal pertama yang beliau tanyakan adalah tentang salat, lalu beliau
bertanya siapa yang telah menikamnya. Ketika diberitahu bahwa pelakunya adalah
budak Al-Mughirah bin Syu'bah, beliau berkata: "Segala puji bagi Allah
yang tidak menjadikan kematianku di tangan orang yang mengaku beriman dan tidak
pernah bersujud kepada Allah satu kali pun."
Wasiat dan Pemakaman
Umar mewasiatkan agar urusan khilafah diserahkan kepada
musyawarah (syura) enam orang yang diredai Rasulullah ﷺ saat wafat, yaitu:
Utsman, Ali, Talhah, Az-Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa'ad bin Abi Waqqas. Beliau
tidak menyertakan Said bin Zaid karena ia berasal dari kabilahnya, demi
menghindari nepotisme.
Beliau wafat tiga hari setelah kejadian tersebut dan
dimakamkan pada hari Ahad, awal bulan Muharram tahun 24 Hijriah. Beliau
dimakamkan di kamar Nabi ﷺ,
di samping Abu Bakar Ash-Shiddiq, atas izin Aisyah radhiyallahu 'anha. Masa
kekhalifahan beliau berlangsung selama 10 tahun, 6 bulan, dan 4 hari.
Riwayat Al-Bukhari tentang Wafatnya Umar
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Amr bin Maimun: Saat Umar
ditikam, aku berdiri tepat di belakang beliau (hanya terhalang Ibnu Abbas).
Umar biasanya memerintahkan untuk meluruskan shaf sebelum bertakbir. Baru saja
beliau bertakbir, aku mendengar beliau berteriak: "Anjing itu telah
membunuhku—atau menerkamku!"
Setelah salat selesai dengan imam Abdurrahman bin Auf, Umar
bertanya: "Wahai Ibnu Abbas, lihatlah siapa yang membunuhku." Ibnu
Abbas kembali dan berkata: "Budak Al-Mughirah." Umar bertanya:
"Si pengrajin itu?" Ia menjawab: "Ya." Umar berkata:
"Semoga Allah membinasakannya, aku telah memerintahkan kebaikan
padanya."
Orang-orang mulai menjenguk beliau. Seorang pemuda datang
dan berkata: "Berbahagialah wahai Amirul Mukminin dengan kabar gembira
dari Allah; engkau adalah sahabat Rasulullah, engkau telah lama masuk Islam,
engkau memimpin dengan adil, dan kemudian engkau mendapatkan kesyahidan." Umar
menjawab: "Aku berharap semua itu impas (cukup), tidak menjadi beban
bagiku dan tidak pula menjadi pahala bagiku."
Beliau berpesan kepada putranya, Abdullah bin Umar:
"Lihatlah berapa utangku." Setelah dihitung, jumlahnya sekitar 86.000
dirham. Beliau memerintahkan agar utang tersebut dilunasi dari hartanya dan keluarga
Umar, maka lunasilah (utang itu) dari harta mereka. Jika tidak mencukupi, maka
mintalah kepada Bani Adi bin Ka’ab. Jika harta mereka pun tidak mencukupi, maka
mintalah kepada kaum Quraisy dan jangan melampaui mereka kepada yang lainnya.
Maka tunaikanlah utang ini atasku. Pergilah kepada Aisyah Ummul Mukminin dan
katakanlah:
'Umar menyampaikan salam kepadamu' —dan janganlah engkau
katakan 'Amirul Mukminin', karena hari ini aku bukan lagi pemimpin bagi kaum
mukminin— dan katakanlah: 'Umar bin Khattab meminta izin untuk dimakamkan
bersama kedua sahabatnya'."
Maka (Abdullah bin Umar) mengucapkan salam dan meminta izin,
kemudian masuk menemui Aisyah. Ia mendapatinya sedang duduk menangis. Abdullah
berkata: "Umar bin Khattab menyampaikan salam kepadamu dan meminta izin
untuk dimakamkan bersama kedua sahabatnya."
Aisyah berkata: "Tadinya aku menginginkan tempat itu
untuk diriku sendiri, namun hari ini aku akan mendahulukannya (Umar) daripada
diriku sendiri."
Ketika Abdullah kembali, orang-orang berkata: "Ini
Abdullah bin Umar telah datang." Umar berkata: "Angkatlah aku."
Maka seorang laki-laki menyandarkan Umar kepadanya. Umar bertanya: "Kabar
apa yang engkau bawa?"
Abdullah menjawab: "Kabar yang engkau sukai wahai
Amirul Mukminin, beliau telah memberi izin." Umar berkata:
"Alhamdulillah, tidak ada sesuatu yang lebih penting bagiku selain hal
itu. Jika aku telah wafat, maka usunglah aku, kemudian sampaikanlah salam dan
katakanlah: 'Umar bin Khattab meminta izin'. Jika ia mengizinkanku, maka
masukkanlah aku. Namun jika ia menolakku, maka kembalikanlah aku ke pemakaman
kaum Muslimin."
Kemudian datanglah Ummul Mukminin Hafshah bersama para
wanita yang berjalan bersamanya. Ketika kami melihatnya, kami berdiri. Hafshah
masuk menemui Umar dan menangis di sisinya sesaat. Kemudian para lelaki meminta
izin, maka Hafshah masuk ke bagian dalam rumah untuk mereka, dan kami mendengar
tangisannya dari dalam.
Orang-orang berkata: "Berilah wasiat wahai Amirul
Mukminin, tunjuklah pengganti (Khalifah)." Umar berkata: "Aku tidak
mendapati orang yang lebih berhak atas urusan (khilafah) ini selain mereka
—kelompok atau rombongan ini— yang mana Rasulullah ﷺ wafat dalam keadaan ridha kepada
mereka." Kemudian Umar menyebutkan nama Ali, Uthman, Az-Zubair, Thalhah,
Sa'ad, dan Abdurrahman. Umar berkata: "Hendaklah Abdullah bin Umar menjadi
saksi bagi kalian, namun ia tidak memiliki hak sedikit pun atas urusan ini
(sebagai bentuk penghiburan baginya). Jika kepemimpinan jatuh kepada Sa'ad,
maka dialah orangnya. Jika tidak, maka siapapun yang terpilih di antara kalian
sebagai pemimpin, hendaklah ia meminta bantuan kepada Sa'ad, karena
sesungguhnya aku tidak mencopotnya (dari jabatan sebelumnya) karena kelemahan
ataupun pengkhianatan."
Umar berkata: "Aku berwasiat kepada Khalifah setelahku
agar memperhatikan kaum Muhajirin yang pertama, agar ia mengenali hak-hak
mereka dan menjaga kehormatan mereka. Aku juga berwasiat kepadanya agar berbuat
baik kepada kaum Ansar, yaitu mereka yang telah menempati negeri ini dan
beriman sebelum kedatangan kaum Muhajirin, agar ia menerima orang yang berbuat
baik dari kalangan mereka dan memaafkan orang yang berbuat salah dari kalangan
mereka. Aku berwasiat kepadanya agar berbuat baik kepada penduduk kota-kota
(Amsar), karena mereka adalah pembela Islam, pengumpul harta (zakat/pajak), dan
yang membuat musuh marah, serta hendaknya tidak diambil dari mereka kecuali
kelebihan harta mereka atas dasar keridaan mereka. Aku juga berwasiat kepadanya
agar berbuat baik kepada orang-orang Arab Badui (A’rab), karena mereka adalah
asal-usul bangsa Arab dan materi Islam, agar diambil dari kelebihan harta
mereka dan dikembalikan kepada fakir miskin mereka. Aku juga berwasiat
kepadanya demi jaminan (dzimmah) Allah dan jaminan Rasul-Nya, agar dipenuhi
janji mereka, diperangi siapapun yang berada di belakang mereka (yang
mengganggu mereka), dan janganlah mereka dibebani melampaui kemampuan
mereka."
Tatkala Umar wafat, kami membawanya keluar dan kami berjalan
kaki. Abdullah bin Umar kemudian menyampaikan salam dan berkata: "Umar bin
Khattab meminta izin." Aisyah menjawab: "Masukkanlah ia." Maka
Umar pun dimasukkan dan dimakamkan di sana bersama kedua sahabatnya.
Usia Beliau Saat Wafat
Terdapat perbedaan pendapat mengenai berapa usia beliau saat
wafat —semoga Allah meridainya— dalam beberapa pendapat yang jumlahnya mencapai
sepuluh pendapat. Berikut disebutkan sembilan di antaranya, dimulai dengan
pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir dalam kitab sejarahnya:
Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Zaid bin
Akhzam, telah menceritakan kepada kami Abu Qutaibah, dari Jarir bin Hazim, dari
Ayyub, dari Nafi', dari Ibnu Umar, ia berkata:
"عُمَرُ
بْنُ الْخَطَّابِ وَهُوَ ابْنُ خَمْسٍ وَخَمْسِينَ سَنَةً"
"Umar bin Khattab terbunuh saat ia berusia lima
puluh lima tahun."
Hal ini juga diriwayatkan melalui jalur Ad-Darawardi dari
Ubaidullah bin Umar, dari Nafi', dari Ibnu Umar. Juga melalui jalur Abdurrazzaq
dari Ibnu Juraij dari Az-Zuhri.
Kemudian disebutkan pendapat lain dari Hisyam al-Kalbi,
bahwa beliau wafat dalam usia lima puluh tiga tahun. Diriwayatkan pula dari
Amir asy-Sya'bi bahwa beliau wafat dalam usia enam puluh tiga tahun. Ibnu
Katsir berkata: "Pendapat inilah yang masyhur (terkenal)."
Disebutkan pula pendapat Al-Madaini: Bahwa beliau wafat saat
berusia lima puluh tujuh tahun. Al-Waqidi berkata: "Hadits ini (usia 63)
tidak dikenal di kalangan kami di Madinah. Pendapat yang paling kuat menurut
kami adalah beliau wafat dalam usia enam puluh tahun."
Aku (penulis) berkata: Pendapat Al-Madaini sesuai dengan apa
yang disebutkan oleh penulis bahwa usia beliau adalah dua puluh tujuh tahun
saat masuk Islam, dan itu terjadi pada tahun keenam kenabian (27 + 7 + 23 = 57).
Sumber Kisah:

Komentar
Posting Komentar