Asal-Usul Pemberian Nama pada Bangsa Arab: Antara Keanehan dan Kearifan
Mengapa Orang Arab Memberi Nama "Anjing", "Babi", dan "Batu" untuk Anak Mereka?
Pernahkah Anda mendengar nama-nama seperti Kalb (anjing), Khanzir (babi), Hajar (batu),
atau Qird (kera)? Rasanya aneh, bukan, jika seseorang
menyandang nama binatang buas atau benda mati?
Namun tahukah Anda bahwa di kalangan bangsa Arab kuno,
nama-nama seperti ini justru lumrah dan memiliki makna
mendalam? Mereka tidak melakukannya tanpa alasan. Ada filosofi, strategi,
dan kepercayaan yang melatarbelakangi pilihan-pilihan nama yang terasa
"ganjil" di telinga kita.
Mari kita menyelami lautan tradisi penamaan Arab kuno,
sebagaimana diabadikan oleh para ulama besar seperti Ibnu Duraid
al-Azdi dalam kitabnya Al-Isytiqaq (Kajian Etimologi
Nama), juga Al-Jahiz dan lainnya.
Polemik di Balik Nama-Nama "Binasatang"
Ibnu Duraid membuka kitabnya dengan sebuah
pengamatan menarik. Ia menulis bahwa bangsa Arab yang ummi (tidak
mengenal baca tulis) memiliki cara-cara tersendiri dalam
menamai anak-anak, budak, dan harta benda mereka. Belakangan, muncul
orang-orang—entah karena kebodohan atau pura-pura
tidak tahu—yang menganggap aneh dan mempertanyakan kebiasaan ini. Mereka
mengejek Arab karena menamai anak mereka dengan sebutan seperti: Kalb,
Kulaib, Akkalb (anak anjing), Khānzir (babi), Qird (kera),
dan nama-nama serupa lainnya.
Mereka melontarkan kritikan dari sudut yang tidak
seharusnya, dan mencela dari arah yang tidak pantas dicela. Maka Ibnu
Duraid pun tergerak untuk menulis kitab ini. Ia ingin membela bahasa Arab
dan tradisi penamaannya yang kaya makna. Ia ingin menjelaskan bahwa setiap
nama memiliki akar dan alasan, tidak ada yang muncul tanpa dasar.
Delapan Kelompok Nama Berdasarkan Filosofi dan Harapan
Ibnu Duraid kemudian merinci mazhab (cara) bangsa
Arab dalam menamai anak-anak mereka. Ia membaginya menjadi delapan kategori
besar:
1. Nama yang Mencerminkan Optimisme Melawan Musuh
Mereka memberi nama anak-anak mereka dengan sifat-sifat
yang mereka harapkan dapat mengalahkan lawan. Contohnya:
- Ghālib (yang
menang)
- Ghullāb (sering
menang)
- Zālim (yang
perkasa, tegas)
- 'Ārim (yang
menghalang)
- Manāzil (yang
tak terkalahkan, seperti benteng)
- Muqātil (pejuang)
- Ma'ārik (medan
pertempuran)
- Tsābit (yang
kokoh, teguh)
2. Nama yang Berhubungan dengan Waktu dan Gerak Malam
- Musahhir (yang
berjaga malam)
- Mūraqq (yang
kurang tidur karena waspada)
- Mushabbih (yang
memasuki waktu pagi)
- Munabbih (yang
membangunkan)
- Thāriq (yang
datang di malam hari)
3. Nama yang Mengandung Harapan Baik untuk Sang Anak
Mereka menamai dengan nama-nama yang menjanjikan kebaikan
dan keberuntungan:
- Nāyil (yang
mendapat)
- Wā'il (yang
kembali selamat)
- Nājī (yang
selamat)
- Mudrik (yang
mencapai)
- Darāk (pengejar)
- Sālim (yang
selamat, sehat)
- Salīm (yang
murni)
- Mālik (pemilik,
penguasa)
- 'Āmir (yang
makmur)
- Sa'd (keberuntungan)
- Sa'īd (yang
berbahagia)
- Musa'dah (yang
diberi kemudahan)
- As'ad (paling
beruntung)
4. Nama yang Diambil dari Binatang Buas untuk
Menakut-nakuti Musuh
Mereka menamai dengan nama-nama singa, serigala,
macan agar membuat gentar musuh:
- Asad (singa)
- Laits (singa)
- Firās (macan)
- Dzi'b (serigala)
- Sayyid (tuan,
pemimpin—juga nama untuk serigala atau singa)
- 'Amalis (singa
yang kuat)
- Dhighām (singa)
5. Nama yang Diambil dari Pohon Berduri (Simbol
Ketangguhan)
Mereka memilih nama pohon yang keras, berduri, dan
kasar sebagai simbol kekuatan dan ketahanan:
- Thalhah (pohon
talh, berduri)
- Samurah (pohon
samur, berduri)
- Salamah (pohon
salam)
- Qatādah (pohon
qatad, sangat berduri)
- Harāsah (pohon
keras lainnya)
6. Nama yang Diambil dari Batu dan Tanah Keras (Simbol
Kekokohan)
Mereka menamai dengan nama batuan dan tanah yang keras,
kasar jika dipegang dan diinjak:
- Hajar (batu)
- Hujair (batu
kecil)
- Shakhr (batu
besar)
- Fahr (batu
yang dipakai untuk memukul)
- Jandal (batu
besar)
- Jurwal (kerikil)
- Hazn (tanah
kasar)
- Hazm (tanah
tinggi yang keras)
Kisah Unik: Penamaan Berdasarkan Pertemuan Pertama Saat
Istri Melahirkan
Ada tradisi yang paling menarik: seorang laki-laki
keluar rumah saat istrinya mulai merasakan sakit mau melahirkan (contractions).
Lalu ia memberi nama anak yang akan lahir berdasarkan benda atau
makhluk pertama yang ia temui di jalan.
Ibnu Duraid menceritakan beberapa kisah lucu dari tradisi
ini:
Kisah Wā'il bin Qāsith
- Suatu
kali, istrinya sedang mengandung dan akan melahirkan. Wā'il
keluar rumah untuk mencari sesuatu yang akan dijadikan nama. Tiba-tiba ia
melihat seekor unta muda (bikr). Ia pulang, dan ternyata
istrinya telah melahirkan seorang anak laki-laki. Maka dinamailah anak
itu Bikr.
- Lain
kali, istrinya hamil lagi. Wā'il keluar dan melihat seekor kijang
betina ('Anz). Ia pulang, istrinya melahirkan anak laki-laki,
dinamai 'Anz.
- Kemudian
ia keluar lagi dan melihat sesuatu yang belum jelas rupanya dari
kejauhan (syakhīsh). Ia pulang dan menamai anaknya Syakhīsh.
- Pada
kesempatan lain, ia keluar namun tidak melihat apa pun yang
berarti. Maka dinamailah anaknya Taghlib (yang
mendominasi/mengalahkan—karena ia merasa "dikalahkan" oleh
keadaan).
Kisah Tamīm bin Murr
Tamim bin Murr (bapak leluhur suku Bani Tamim) juga
melakukan hal serupa. Istrinya bernama Salmā binti Ka'b sedang
mengandung. Tamim keluar, lalu tiba-tiba sebuah lembah (wādī) menerjang
dirinya tanpa ia sadari. Ia berseru: "Malam dan banjir (layl
was-sail)!" Ia pulang, istrinya telah melahirkan. Tamim
berkata: "Aku persembahkan anak ini untuk tuhanku." Maka
dinamailah ia Zaid Manāt.
Lain kali, ia keluar lagi saat istrinya mengandung. Ia
mendengar seekor burung (mukā') berkicau di atas semak (
'ausajah ) yang setengah kering, setengah hijau. Tamim
bersyair: "Sungguh jika engkau telah memberi (atstsartī) dan
berjalan malam (asraytī), maka engkau telah menolak (ajhadti) dan membuat bumi
tandus (akdayti)." Setelah istrinya melahirkan, ia menamai anak
itu Al-Hārith (penggali/penanam—karena ada kaitannya dengan
tanah kering).
Sungguh cara penamaan yang penuh kejutan dan kreativitas!
Penjelasan dari Orang Badui: "Anak untuk Musuh,
Budak untuk Diri Sendiri"
Abu al-Duqaisy al-A'rābi ditanya: "Mengapa
kalian memberi anak-anak kalian nama-nama yang buruk seperti 'anjing' dan
'serigala', namun kalian memberi budak-budak kalian nama-nama yang paling baik
seperti 'Marzūq' (yang diberi rezeki) dan 'Rabbāh' (yang beruntung)?"
Badui itu menjawab dengan tegas dan bijak:
"Kami memberi nama anak-anak kami (dengan nama-nama
buruk) untuk menghadapi musuh-musuh kami. Sedangkan budak-budak kami kami beri
nama baik untuk diri kami sendiri."
Artinya, nama buruk diharapkan menyebabkan ketakutan
di hati musuh (karena anak-anak itu akan menjadi pejuang tangguh).
Sementara budak dengan nama baik diharapkan membawa keberuntungan bagi
majikan.
Penjelasan Al-Jahiz: Nama Binatang Bukan Penghinaan, Tapi
Simbol Karakter
Al-Jahiz, cendekiawan besar Arab, juga menyinggung
masalah ini. Ia berkata:
"Orang Arab menamai (anak-anak mereka) dengan 'Kalb'
(anjing), 'Himār' (keledai), 'Hajar' (batu), 'Ju‘l' (kumbang), 'Hanzhalah'
(buah pahit), dan 'Qird' (kera)—semata-mata karena tafa'ul (mengambil
pertanda baik)."
Ia lalu menjelaskan makna tersirat di balik nama-nama ini:
- Jika
seorang ayah mendengar seseorang berkata "Hajar" (batu) atau
melihat batu, ia menamai anaknya dengan itu—mengharapkan keteguhan,
kekerasan (dalam arti ketahanan), dan kekokohan.
- Jika
mendengar atau melihat Dzi'b (serigala), ia mengharapkan kecerdikan,
kelicikan dalam berusaha, dan kemampuan mencari nafkah.
- Jika
melihat Himār (keledai), ia mengharapkan umur panjang,
ketabahan, kekuatan fisik, dan daya tahan.
- Jika
melihat Kalb (anjing), ia mengharapkan kewaspadaan,
penjagaan, suara keras (kewibawaan), dan kemampuan mencari rezeki.
Jadi, nama-nama binatang itu bukan penghinaan—melainkan harapan
yang mendalam agar anak memiliki karakter positif yang diasosiasikan
dengan hewan tersebut.
Nama-Nama yang Mengandung "Penghambaan" kepada
Berhala
Selain nama binatang dan benda alam, orang Arab Jahiliyah
juga menamai anak-anak mereka dengan nama yang menunjukkan penghambaan
kepada berhala-berhala mereka, seperti:
- 'Abdu
al-'Uzzā (hamba al-Uzza)
- 'Abdu
Wadd (hamba Wadd)
- 'Abdu
Manāt (hamba Manāt)
- 'Abdu
al-Lāt (hamba al-Lata)
- 'Abdu
Qusay (hamba Qusay—sejenis berhala)
Kebiasaan ini kemudian dilarang dalam Islam,
karena Islam mengajarkan bahwa penghambaan hanya untuk Allah semata. Maka
nama-nama seperti 'Abdullah (hamba Allah), 'Abdurrahman (hamba
Yang Maha Pengasih), dan nama-nama yang mengandung asmaul husna lainnya menjadi
pengganti.
Pengaruh Darah Ibu: "Dua pertiga anak tergantung
pada paman dari ibu"
Meskipun dalam Islam dan tradisi Arab pada umumnya nasab
diambil dari pihak ayah, namun darah ibu tetap memiliki kedudukan
yang sangat penting, bahkan kadang terasa lebih berpengaruh daripada darah
ayah.
Ibnu Sa'd meriwayatkan sebuah peribahasa Irak
populer yang terdengar kasar namun bermakna dalam:
"Tsulutsâ al-walad 'alā al-khāl" — "Dua
pertiga anak itu tergantung pada paman dari ibu (saudara laki-laki
ibunya)."
Maksudnya, karakter dan nasib seorang anak lebih
banyak dipengaruhi oleh keluarga ibunya (terutama kakak/adik laki-laki
ibu—sang paman) daripada keluarga ayahnya. Ini menunjukkan betapa bangsa
Arab—meskipun patrilineal—sangat menghormati aspek keibuan.
Kutipan ini, meskipun berbentuk peribahasa rakyat, telah
mengakar kuat dan mencerminkan naz'ah 'irq al-khāl (kecenderungan
mengutamakan garis keturunan paman dari ibu) di kalangan masyarakat Arab
tradisional.
Ilmu modern, tentu saja, telah membuktikan bahwa darah
kedua orang tua berpengaruh sama besar secara genetik terhadap anak. Namun
dari sudut pandang budaya dan sosial, apresiasi terhadap peran ibu dan
keluarganya ini adalah kearifan lokal yang patut dicatat.
Percampuran Ras dan Nama: Antara Arab dan Non-Arab
Penulis juga mencatat bahwa perkawinan campur antara
Arab dan non-Arab (terutama budak putih) sudah terjadi sejak zaman
Jahiliyah. Ribuan orang asing (Persia, Romawi, Habasyah) telah tinggal di
Jazirah Arab, berasimilasi, dan meninggalkan jejak dalam darah penduduk
setempat. Hal ini paling terlihat pada wajah dan bentuk fisik
penduduk pesisir yang lebih beragam dibanding penduduk pedalaman (najd
dan pegunungan).
Tetapi dalam soal nama, bangsa Arab tetap
mempertahankan pola mereka: nama dirujukkan kepada bapak, atau kadang kepada
ibu. Nama-nama suku pun kebanyakan berjenis kelamin laki-laki, dan sebagian
kecil berjenis perempuan (yang menunjukkan bahwa ada suku yang dinisbahkan
kepada seorang ibu—ummahāt qabā'il).
Penutup: Nama Bukan Sekadar Label
Dari uraian panjang ini, kita belajar bahwa bagi bangsa Arab
kuno, nama bukan sekadar tanda pengenal, melainkan:
- Doa
dan harapan (agar anak menjadi pemenang, selamat, beruntung)
- Benteng
psikologis (agar musuh takut)
- Simbol
karakter (agar anak memiliki sifat-sifat hewan atau benda yang
dikagumi)
- Kenangan
akan momen pertama (saat kelahiran)
- Pengakuan
atas pengaruh ibu (peran keluarga ibu tidak pernah diabaikan)
Islam kemudian meluruskan sebagian praktik
yang bertentangan dengan tauhid (penamaan dengan nama berhala), namun tetap
menghargai tradisi penamaan yang baik dan bermakna. Bahkan Islam mendorong
pemberian nama yang baik, karena nama akan dipanggil di dunia dan akhirat.
Sumber :
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar