Arab Aribah dan Arab Musta'ribah: Memahami Istilah Klasik yang Salah Kaprah
Pengantar
Siapa yang tidak kenal istilah "Arab
Aribah" (Arab asli) dan "Arab Musta'ribah" (Arab
yang meng-Arabkan diri)? Sebagian besar dari kita mungkin langsung berpikir:
Arab Aribah adalah keturunan Qahthan (Yaman), sedangkan Arab
Musta'ribah adalah keturunan 'Adnan (Arab Utara) yang belajar
bahasa Arab dari suku Jurhum.
Tapi benarkah demikian? Mari kita telusuri makna sebenarnya
dari kedua istilah ini berdasarkan sumber-sumber klasik.
Asal-usul Istilah: Lebih Tua dari Islam?
Menurut riwayat para ahli bahasa dan ahli sejarah, istilah
"Arab Aribah" dan "Arab Musta'ribah" adalah istilah kuno yang
konon sudah ada sejak zaman Jahiliyah. Namun, jika kita kaji dengan saksama,
kita akan keluar dengan keyakinan yang berbeda.
Faktanya, orang-orang Jahiliyah tidak menggunakan
kedua istilah ini dengan makna seperti yang dipahami oleh orang-orang Islam
(setelah masa kodifikasi). Lalu, apa sebenarnya maksud mereka?
Ternyata, orang Jahiliyah menggunakan kedua istilah itu
untuk membedakan:
- "Arab
Aribah" → suku-suku yang tinggal dekat dengan pusat
peradaban
- "Arab
Musta'ribah" → suku-suku yang tinggal jauh di
pedalaman padang pasir?
Bukan begitu. Justru sebaliknya: Istilah "Musta'ribah" disematkan
kepada suku-suku yang bermukim di:
- Negeri
Syam (sekitar kekaisaran Romawi Timur)
- Perbatasan
Irak (dari tepi sungai Eufrat hingga padang pasir Syam)
Jadi cakupannya meliputi suku-suku yang tinggal di kedua
ujung Bulan Sabit Subur (Al-Hilal Al-Khashib)—yakni wilayah perbatasan
antara dua imperium besar: Romawi di barat dan Persia di timur.
Suku-suku yang termasuk "Musta'ribah" antara
lain: Ghassan, Iyad, dan Tanukh.
Suku "Musta'ribah" Lebih Suka Hidup di
Pinggiran Kota
Menariknya, sebagian besar suku Musta'ribah ini lebih
memilih tinggal di pinggiran kota—tempat yang dekat dengan padang
pasir dan gurun. Mereka dikenal sebagai "Al-Hadhir" (penduduk
kota/desa). Di hampir setiap kota di negeri Syam, terdapat kelompok "Hadhir" yang
dihuni oleh orang-orang Arab dari Tanukh dan lainnya.
Ini menunjukkan bahwa "Musta'ribah" di
sini lebih mengacu pada lokasi geografis dan pola hidup (perbatasan,
semi-perkotaan), bukan pada silsilah keturunan seperti yang kita kenal
sekarang.
Dialog Khalid bin Walid dan 'Adi bin 'Adi: Petunjuk
Penting
Dalam Tarikh Ath-Thabari, terdapat sebuah cerita
menarik yang melibatkan Khalid bin Al-Walid dan 'Adi
bin 'Adi bin Zaid Al-'Ibadi. Kisah ini memberikan petunjuk tentang makna
"Arab Aribah" dan "Musta'ribah" di masa awal Islam.
Beginilah kira-kira percakapan mereka:
Khalid bin Al-Walid berkata:
"Celaka kalian, siapakah kalian? Apakah kalian orang
Arab? Lalu apa yang kalian benci dari orang Arab? Ataukah kalian orang 'Ajam
(non-Arab)? Lalu apa yang kalian benci dari keadilan dan kelurusan?"
'Adi bin 'Adi menjawab:
"Bahkan kami adalah (sebagian) Arab Aribah dan
(sebagian lagi) Arab Musta'ribah."
Khalid bertanya lagi:
"Seandainya kalian seperti yang kalian katakan,
niscaya kalian tidak akan memusuhi kami dan membenci urusan kami."
'Adi menjawab:
"Cukuplah sebagai bukti atas apa yang kami katakan
bahwa kami tidak memiliki bahasa selain bahasa Arab."
Tafsir Dialog Ini
Percakapan di atas terjadi dalam konteks konflik dan
ketegangan antara pasukan Muslim (dipimpin Khalid) dan penduduk Hirah
(perbatasan Persia) yang dipimpin oleh 'Adi bin 'Adi—yang saat itu
bersikap memusuhi Muslim dan mendukung Persia.
Khalid menegur mereka: "Kalian bersikap memusuhi kami
dan membela orang 'Ajam (Persia), padahal kalian sendiri Arab? Apa motif
kalian?"
'Adi menjawab dengan kalimat yang agak mengelak: "Kami
adalah campuran: Aribah dan Musta'ribah."
Khalid kemudian seolah berkata: "Kalau memang kalian
Arab (Aribah), seharusnya kalian membela sesama Arab. Tapi kalian malah membela
Persia."
Perhatikan hal penting:
- 'Adi
bin 'Adi—menurut ahli nasab—berasal dari Bani Tamim (suku
'Adnani). Ayahnya, 'Adi bin Zaid, adalah seorang penyair dan tokoh Kristen
dari Hirah. Dia sendiri bukanlah orang yang "belajar Arab"
(Musta'ribah) dalam arti 'Adnani. Dia Arab tulen.
- Khalid
bin Al-Walid juga berasal dari suku Makhzum (Quraisy,
'Adnani). Jadi kedua belah pihak adalah sama-sama 'Adnani!
- Maka
yang dimaksud "Arab Aribah" di sini bukan
berarti Qahthani, dan "Arab Musta'ribah" juga bukan
berarti 'Adnani. Keduanya sama-sama 'Adnani, tapi dibedakan
berdasarkan hubungan dengan peradaban asing?
Makna Sebenarnya: "Musta'ribah" Adalah Mereka
yang "Ber-Arab" Kemudian
Dari dialog dan penjelasan penulis, kita bisa menarik
kesimpulan:
"Arab Musta'ribah" adalah orang-orang
yang pada awalnya bukan Arab, lalu mereka "berta'arub"
(meng-Arabkan diri)—tinggal bersama orang Arab, membaur, dan akhirnya berbahasa
Arab seperti orang Arab lainnya. Mereka mungkin:
- Dari
bangsa Nabath (Aram)
- Dari Bani
Iram (kaum 'Ad kuno? Atau penduduk asli)
- Kelompok-kelompok
lain yang kemudian masuk ke dalam lingkungan Arab
Lambat laun mereka dianggap sebagai bagian dari
bangsa Arab karena kesamaan bahasa, meskipun asal-usul mereka berbeda.
Sementara "Arab Aribah" adalah orang
Arab asli (baik Qahthani maupun 'Adnani) yang sejak awal berbahasa
Arab.
Namun anehnya, dalam daftar "Musta'ribah" kuno
disebutkan Ghassan—padahal Ghassan adalah suku Qahthani (Arab
selatan) yang hijrah ke utara. Ini menegaskan bahwa istilah Musta'ribah
di masa Jahiliyah dan awal Islam tidak identik dengan 'Adnani, melainkan
lebih kepada geografis: suku-suku yang bermukim di perbatasan
kekaisaran Romawi dan Persia.
Kapan Istilah Ini Berubah Makna?
Penulis teks (Jawad 'Ali) dengan tegas menyatakan:
"Pengkhususan Arab Aribah untuk suku-suku yang
menisbahkan diri ke Yaman, dan Arab Musta'ribah untuk suku-suku yang
menisbahkan nasab ke 'Adnan—itu terjadi di masa Bani Umayyah dan
sesudahnya."
Dengan kata lain, ahli nasab di era Islam akhir yang
mengubah definisi kedua istilah tersebut menjadi berbasis silsilah
Qahthan vs 'Adnan—sesuai dengan kebutuhan politik dan fanatisme kesukuan
saat itu.
Padahal, akar sejarahnya tidak demikian.
Kesimpulan
Dari kajian di atas, kita belajar bahwa:
- Istilah "Arab
Aribah" dan "Arab Musta'ribah" sebenarnya sudah
ada sejak pra-Islam, tetapi maknanya berbeda total dengan
pemahaman populer saat ini.
- Makna
aslinya: Musta'ribah adalah suku-suku yang berada di
perbatasan imperium (Syam dan Irak), yang mungkin saja asalnya non-Arab
lalu meng-Arabkan diri—atau suku Arab yang hidup di perbatasan dan
bercampur dengan bangsa lain. Sedangkan Aribah adalah
orang Arab "asli" yang tinggal di pedalaman.
- Ghassan—yang
secara nasab adalah Qahthani—dimasukkan ke dalam Musta'ribah dalam
catatan kuno, membuktikan bahwa pemilahan ini tidak berdasarkan
Qahthan vs 'Adnan.
- Perubahan
makna terjadi di masa Bani Umayyah, ketika fanatisme
Qahthani-'Adnani mencapai puncaknya. Para ahli nasab kemudian
"memaksakan" Aribah = Qahthani, Musta'ribah = 'Adnani.
- Dialog
antara Khalid bin Walid dan 'Adi bin 'Adi memperlihatkan bahwa pada masa
awal Islam, kedua istilah itu digunakan dalam konteks politik (kecaman
atas sikap memusuhi Muslim), bukan dalam konteks silsilah suku.
Refleksi
Ini adalah contoh lain bagaimana identitas
"bangsa" atau "suku" sering kali dibentuk dan diubah sesuai
kebutuhan politik, dan kemudian dianggap sebagai fakta yang
"turun-temurun" tanpa pernah dipertanyakan.
Sekarang, ketika seseorang mengatakan "kami Arab
Aribah" atau "kami Arab Musta'ribah", tanyakan: Maksudnya
yang mana? Yang versi Jahiliyah, versi awal Islam, atau versi buatan Umayyah?
Sejarah tidak pernah sederhana. Dan identitas—terutama
identitas kolektif—adalah konstruksi yang terus bergerak.
Wallahu a'lam.
Sumber Kisah
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar