Arab Aribah dan Arab Musta'ribah: Memahami Istilah Klasik yang Salah Kaprah

Lukisan pemandangan di perbatasan antara padang pasir Arab dan wilayah peradaban Romawi Timur (Bizantium), sekitar abad ke-6 hingga ke-7 M. Di latar depan, dua orang pria Arab berjubah putih dan sorban sedang berdiri berdialog di tengah padang pasir yang berbatu. Satu pria (menggambarkan Khalid bin Walid) menunjuk ke arah kejauhan dengan tegas namun tenang, sementara pria lainnya (menggambarkan 'Adi bin 'Adi) menyilangkan tangan sambil mendengarkan. Di latar belakang, di satu sisi tampak perkemahan Arab sederhana dengan unta dan khemah; di sisi lain terlihat gerbang kota Romawi kuno dengan tiang-tiang batu dan bangunan megah di kejauhan. Langit senja berwarna jingga keemasan dengan awan tipis.

Pengantar

Siapa yang tidak kenal istilah "Arab Aribah" (Arab asli) dan "Arab Musta'ribah" (Arab yang meng-Arabkan diri)? Sebagian besar dari kita mungkin langsung berpikir: Arab Aribah adalah keturunan Qahthan (Yaman), sedangkan Arab Musta'ribah adalah keturunan 'Adnan (Arab Utara) yang belajar bahasa Arab dari suku Jurhum.

Tapi benarkah demikian? Mari kita telusuri makna sebenarnya dari kedua istilah ini berdasarkan sumber-sumber klasik.


Asal-usul Istilah: Lebih Tua dari Islam?

Menurut riwayat para ahli bahasa dan ahli sejarah, istilah "Arab Aribah" dan "Arab Musta'ribah" adalah istilah kuno yang konon sudah ada sejak zaman Jahiliyah. Namun, jika kita kaji dengan saksama, kita akan keluar dengan keyakinan yang berbeda.

Faktanya, orang-orang Jahiliyah tidak menggunakan kedua istilah ini dengan makna seperti yang dipahami oleh orang-orang Islam (setelah masa kodifikasi). Lalu, apa sebenarnya maksud mereka?

Ternyata, orang Jahiliyah menggunakan kedua istilah itu untuk membedakan:

  • "Arab Aribah" → suku-suku yang tinggal dekat dengan pusat peradaban
  • "Arab Musta'ribah" → suku-suku yang tinggal jauh di pedalaman padang pasir?

Bukan begitu. Justru sebaliknya: Istilah "Musta'ribah" disematkan kepada suku-suku yang bermukim di:

  • Negeri Syam (sekitar kekaisaran Romawi Timur)
  • Perbatasan Irak (dari tepi sungai Eufrat hingga padang pasir Syam)

Jadi cakupannya meliputi suku-suku yang tinggal di kedua ujung Bulan Sabit Subur (Al-Hilal Al-Khashib)—yakni wilayah perbatasan antara dua imperium besar: Romawi di barat dan Persia di timur.

Suku-suku yang termasuk "Musta'ribah" antara lain: Ghassan, Iyad, dan Tanukh.


Suku "Musta'ribah" Lebih Suka Hidup di Pinggiran Kota

Menariknya, sebagian besar suku Musta'ribah ini lebih memilih tinggal di pinggiran kota—tempat yang dekat dengan padang pasir dan gurun. Mereka dikenal sebagai "Al-Hadhir" (penduduk kota/desa). Di hampir setiap kota di negeri Syam, terdapat kelompok "Hadhir" yang dihuni oleh orang-orang Arab dari Tanukh dan lainnya.

Ini menunjukkan bahwa "Musta'ribah" di sini lebih mengacu pada lokasi geografis dan pola hidup (perbatasan, semi-perkotaan), bukan pada silsilah keturunan seperti yang kita kenal sekarang.


Dialog Khalid bin Walid dan 'Adi bin 'Adi: Petunjuk Penting

Dalam Tarikh Ath-Thabari, terdapat sebuah cerita menarik yang melibatkan Khalid bin Al-Walid dan 'Adi bin 'Adi bin Zaid Al-'Ibadi. Kisah ini memberikan petunjuk tentang makna "Arab Aribah" dan "Musta'ribah" di masa awal Islam.

Beginilah kira-kira percakapan mereka:

Khalid bin Al-Walid berkata:

"Celaka kalian, siapakah kalian? Apakah kalian orang Arab? Lalu apa yang kalian benci dari orang Arab? Ataukah kalian orang 'Ajam (non-Arab)? Lalu apa yang kalian benci dari keadilan dan kelurusan?"

'Adi bin 'Adi menjawab:

"Bahkan kami adalah (sebagian) Arab Aribah dan (sebagian lagi) Arab Musta'ribah."

Khalid bertanya lagi:

"Seandainya kalian seperti yang kalian katakan, niscaya kalian tidak akan memusuhi kami dan membenci urusan kami."

'Adi menjawab:

"Cukuplah sebagai bukti atas apa yang kami katakan bahwa kami tidak memiliki bahasa selain bahasa Arab."


Tafsir Dialog Ini

Percakapan di atas terjadi dalam konteks konflik dan ketegangan antara pasukan Muslim (dipimpin Khalid) dan penduduk Hirah (perbatasan Persia) yang dipimpin oleh 'Adi bin 'Adi—yang saat itu bersikap memusuhi Muslim dan mendukung Persia.

Khalid menegur mereka: "Kalian bersikap memusuhi kami dan membela orang 'Ajam (Persia), padahal kalian sendiri Arab? Apa motif kalian?"

'Adi menjawab dengan kalimat yang agak mengelak: "Kami adalah campuran: Aribah dan Musta'ribah."

Khalid kemudian seolah berkata: "Kalau memang kalian Arab (Aribah), seharusnya kalian membela sesama Arab. Tapi kalian malah membela Persia."

Perhatikan hal penting:

  1. 'Adi bin 'Adi—menurut ahli nasab—berasal dari Bani Tamim (suku 'Adnani). Ayahnya, 'Adi bin Zaid, adalah seorang penyair dan tokoh Kristen dari Hirah. Dia sendiri bukanlah orang yang "belajar Arab" (Musta'ribah) dalam arti 'Adnani. Dia Arab tulen.
  2. Khalid bin Al-Walid juga berasal dari suku Makhzum (Quraisy, 'Adnani). Jadi kedua belah pihak adalah sama-sama 'Adnani!
  3. Maka yang dimaksud "Arab Aribah" di sini bukan berarti Qahthani, dan "Arab Musta'ribah" juga bukan berarti 'Adnani. Keduanya sama-sama 'Adnani, tapi dibedakan berdasarkan hubungan dengan peradaban asing?

Makna Sebenarnya: "Musta'ribah" Adalah Mereka yang "Ber-Arab" Kemudian

Dari dialog dan penjelasan penulis, kita bisa menarik kesimpulan:

"Arab Musta'ribah" adalah orang-orang yang pada awalnya bukan Arab, lalu mereka "berta'arub" (meng-Arabkan diri)—tinggal bersama orang Arab, membaur, dan akhirnya berbahasa Arab seperti orang Arab lainnya. Mereka mungkin:

  • Dari bangsa Nabath (Aram)
  • Dari Bani Iram (kaum 'Ad kuno? Atau penduduk asli)
  • Kelompok-kelompok lain yang kemudian masuk ke dalam lingkungan Arab

Lambat laun mereka dianggap sebagai bagian dari bangsa Arab karena kesamaan bahasa, meskipun asal-usul mereka berbeda.

Sementara "Arab Aribah" adalah orang Arab asli (baik Qahthani maupun 'Adnani) yang sejak awal berbahasa Arab.

Namun anehnya, dalam daftar "Musta'ribah" kuno disebutkan Ghassan—padahal Ghassan adalah suku Qahthani (Arab selatan) yang hijrah ke utara. Ini menegaskan bahwa istilah Musta'ribah di masa Jahiliyah dan awal Islam tidak identik dengan 'Adnani, melainkan lebih kepada geografis: suku-suku yang bermukim di perbatasan kekaisaran Romawi dan Persia.


Kapan Istilah Ini Berubah Makna?

Penulis teks (Jawad 'Ali) dengan tegas menyatakan:

"Pengkhususan Arab Aribah untuk suku-suku yang menisbahkan diri ke Yaman, dan Arab Musta'ribah untuk suku-suku yang menisbahkan nasab ke 'Adnan—itu terjadi di masa Bani Umayyah dan sesudahnya."

Dengan kata lain, ahli nasab di era Islam akhir yang mengubah definisi kedua istilah tersebut menjadi berbasis silsilah Qahthan vs 'Adnan—sesuai dengan kebutuhan politik dan fanatisme kesukuan saat itu.

Padahal, akar sejarahnya tidak demikian.


Kesimpulan

Dari kajian di atas, kita belajar bahwa:

  1. Istilah "Arab Aribah" dan "Arab Musta'ribah" sebenarnya sudah ada sejak pra-Islam, tetapi maknanya berbeda total dengan pemahaman populer saat ini.
  2. Makna aslinya: Musta'ribah adalah suku-suku yang berada di perbatasan imperium (Syam dan Irak), yang mungkin saja asalnya non-Arab lalu meng-Arabkan diri—atau suku Arab yang hidup di perbatasan dan bercampur dengan bangsa lain. Sedangkan Aribah adalah orang Arab "asli" yang tinggal di pedalaman.
  3. Ghassan—yang secara nasab adalah Qahthani—dimasukkan ke dalam Musta'ribah dalam catatan kuno, membuktikan bahwa pemilahan ini tidak berdasarkan Qahthan vs 'Adnan.
  4. Perubahan makna terjadi di masa Bani Umayyah, ketika fanatisme Qahthani-'Adnani mencapai puncaknya. Para ahli nasab kemudian "memaksakan" Aribah = Qahthani, Musta'ribah = 'Adnani.
  5. Dialog antara Khalid bin Walid dan 'Adi bin 'Adi memperlihatkan bahwa pada masa awal Islam, kedua istilah itu digunakan dalam konteks politik (kecaman atas sikap memusuhi Muslim), bukan dalam konteks silsilah suku.

Refleksi

Ini adalah contoh lain bagaimana identitas "bangsa" atau "suku" sering kali dibentuk dan diubah sesuai kebutuhan politik, dan kemudian dianggap sebagai fakta yang "turun-temurun" tanpa pernah dipertanyakan.

Sekarang, ketika seseorang mengatakan "kami Arab Aribah" atau "kami Arab Musta'ribah", tanyakan: Maksudnya yang mana? Yang versi Jahiliyah, versi awal Islam, atau versi buatan Umayyah?

Sejarah tidak pernah sederhana. Dan identitas—terutama identitas kolektif—adalah konstruksi yang terus bergerak.

Wallahu a'lam.


Sumber Kisah

Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasab Arab: Antara Harga Diri, Politik, dan Catatan Sejarah

Kaum Hajar: Kisah Bangsa Arab dalam Catatan Kitab Suci

Pengangkatan Abu Bakar Sebagai Khalifah