Kaum Hajar: Kisah Bangsa Arab dalam Catatan Kitab Suci
Pembuka: Siapa Kaum Hajar itu?
Di timur sungai Yordan dan timur tanah Gilead, pernah hidup
sebuah suku bangsa yang dalam kitab Taurat disebut dengan nama "Al-Haajiriyyun" (Kaum
Hajar). Siapakah mereka?
Para ulama berbeda pendapat. Sebagian berpendapat bahwa
mereka berasal dari bangsa Arab, atau dari keturunan "Bani Iram".
Namun, satu hal yang menarik: penyebutan nama ini dikaitkan dengan keturunan
Ismail. Hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah bangsa Arab, karena
"Ismailiyyun" (keturunan Ismail) adalah orang-orang Arab, dan
"Hajar" adalah nama ibu Ismail—nenek dari suku-suku yang diceritakan
oleh Taurat.
Bahkan sebagian peneliti berpendapat bahwa yang dimaksud
Taurat dengan "Kaum Hajar" adalah orang-orang Arab badui, yaitu
penduduk padang pasir—mereka juga orang Arab.
Wilayah Persebaran: Dari Sungai Eufrat hingga Gunung
Sinai
Wilayah kekuasaan Kaum Hajar terbentang luas. Dimulai
dari Sungai Eufrat hingga Gunung Sinai. Ini adalah
kawasan yang sangat luas, meliputi padang pasir Syam (Suriah, Yordania,
Palestina) yang dihuni oleh banyak kabilah badui.
Yang menarik, wilayah ini juga merupakan wilayah pemukiman
keturunan Ismail. Inilah sebabnya mengapa kadang-kadang Taurat sulit membedakan
antara Kaum Hajar dan Kaum Ismailiyyun.
Di dalam Taurat, mereka disebutkan bersama dengan Yathur dan Nafish—dua
nama yang merupakan keturunan Ismail. Juga disebutkan seorang laki-laki dari
Kaum Hajar yang bernama Yaziz. Taurat mencatat bahwa Yaziz bertugas
menggembalakan kambing domba milik Nabi Daud, di antara sejumlah orang yang
dipercaya Daud untuk mengurus hartanya.
Pengaruh Taurat dalam Riwayat Nasab Arab
Setelah memaparkan hal di atas, kita sampai pada kesimpulan
penting: ada pengaruh dari Taurat terhadap riwayat-riwayat para ahli nasab dan
ahli sejarah dalam menetapkan silsilah bangsa Arab.
Siapa yang menjadi perantara masuknya pengaruh ini? Mereka
adalah Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Sebagian besar dari
mereka adalah orang-orang Yahudi, atau orang-orang Muslim yang berasal dari
Yahudi. Karenanya, kita temukan sanad (rantai periwayatan) dari kebanyakan
riwayat ini berakhir pada tokoh-tokoh seperti Ka'ab al-Ahbar dan Wahb
bin Munabbih, serta orang-orang yang semisal dengan mereka.
Kadang-kadang sanadnya juga berakhir pada Ibnu Abbas melalui
jalur Ibnu al-Kalbi, dari ayahnya, dari Abu Shalih.
Kritik terhadap Riwayat yang Lemah
Para ulama memiliki komentar tersendiri mengenai sanad-sanad
semacam ini. Ibnu al-Kalbi terkenal sebagai periwayat yang
banyak meriwayatkan masalah-masalah seperti ini. Dalam bab ini, tidak ada yang
menandinginya kecuali Ibnu Ishaq.
Dari hasil penelitian mendalam tentang topik ini dan tentang
kisah-kisah Israiliyat secara umum, penulis menemukan bahwa sebagian
besar riwayat yang disampaikan para ahli sejarah dan ahli nasab ternyata jauh
dari apa yang terdapat dalam Taurat. Riwayat-riwayat itu banyak yang diciptakan
begitu saja, dibuat dengan kebodohan, dan dihiasi dengan kata-kata bahasa
Ibrani atau yang mirip dengannya—kadang dengan cara yang menggelikan.
Hal ini menunjukkan satu dari dua kemungkinan:
- Keburukan
niat pembuat berita tersebut, atau
- Kebodohannya
Dan juga menunjukkan kepolosan orang yang
menukilnya, serta ketidakpeduliannya kecuali ingin menampakkan diri sebagai
orang yang mengetahui banyak berita. Karenanya, ia hanya peduli mengumpulkan
berita-berita dan menceritakannya kepada orang banyak. Boleh jadi ia sendiri
pembuat berita-berita dan pencipta kisah-kisah tersebut.
Sebuah Hadits tentang Keturunan Nuh
At-Thabari dalam sejarahnya menyebutkan sebuah hadits yang
sanadnya sampai kepada Rasulullah ﷺ tentang anak-anak Nabi Nuh. Hadits tersebut menyebutkan bahwa
Rasulullah bersabda:
"سَامٌ أَبُو العَرَبِ، وَيَافِثُ أَبُو الرُّومِ، وَحَامٌ أَبُو
الحَبَشِ"
"Sam adalah bapaknya orang Arab, Yafits adalah
bapaknya orang Romawi (Eropa), dan Ham adalah bapaknya orang Habasyah
(Etiopia)."
Hadits ini diriwayatkan dalam berbagai bentuk—ada yang
didahulukan atau diakhirkan, ada yang ditambah beberapa lafal. Semua sanad dari
berbagai bentuk riwayat ini bermuara pada satu sanad yang sama, yaitu:
Sa'id bin Abi 'Arubah, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari
Samurah bin Jundab, dari Rasulullah ﷺ.
Peringatan tentang Hadits Nasab
Ada beberapa hadits lain yang diriwayatkan dalam masalah
nasab 'Adnan yang berisi larangan untuk melampaui batas dalam
membahas nasab. Hadits-hadits seperti ini—dan yang semisalnya—layak untuk
dikaji secara tersendiri. Kita perlu meneliti rantai sanadnya, seberapa dekat
atau jauhnya dari sabda Rasulullah ﷺ. Hanya dengan kajian seperti itulah kita dapat membangun
kesimpulan yang benar.
Muhammad bin Ishaq: Penyebar Israiliyat
Muhammad bin Ishaq bin Yasar—pengarang kitab
Al-Maghazi dan As-Sirah (Sirah Nabawiyah)—adalah salah seorang yang mengambil
riwayat dari Ahli Kitab dan meriwayatkan dari mereka. Ia menyebut mereka dengan
sebutan "Ahlul 'Ilmi al-Awwal" (Ahli Pengetahuan yang Pertama).
Mereka tentu saja lebih mengetahui tentang Taurat dan Injil
karena mereka asli Yahudi atau Nasrani. Karena itulah kita dapati para
sejarawan dan ahli riwayat menukil kisah-kisah Taurat dan nasab-nasab Taurat
dari Ibnu Ishaq. Maka ia adalah salah satu penyebar
Israiliyat di kalangan umat Islam.
Namun perlu diketahui: kisah-kisah Israiliyat yang
disebarkannya tidak semuanya murni dan jernih. Kadar kejernihannya bervariasi:
- Ada
yang keruh (tidak sesuai dengan Taurat)
- Ada
yang mendekati apa yang ada dalam Taurat
- Ada
yang sama persis dengan apa yang ada dalam Perjanjian
Lama—ini yang jernih dan murni
Penyebab perbedaan ini adalah sumber-sumber yang
digunakan Ibnu Ishaq. Di antaranya ada yang benar-benar berilmu dan memahami
kitab-kitab Ahli Kitab. Namun ada juga sumber-sumber yang tidak
memiliki ilmu, hanya berbicara kepadanya berdasarkan apa yang umum beredar
di kalangan Ahli Kitab. Bahkan di antaranya ada yang menghalalkan
kebohongan—entah karena mengaku berilmu atau sebab-sebab lainnya.
Hisyam bin Muhammad al-Kalbi
Hisyam bin Muhammad bin as-Sa'ib al-Kalbi juga
termasuk orang yang mengambil riwayat dari Ahli Kitab dan memasukkan Israiliyat
serta nasab-nasab Taurat ke tengah umat Islam.
Masih ada beberapa orang lain yang juga mengambil dari Ahli
Kitab, namun penulis membatasi pada dua tokoh ini karena pengaruh mereka yang
sangat besar terhadap orang-orang setelahnya dalam masalah Israiliyat dan
nasab-nasab Taurat.
Perkataan yang Dinisbahkan kepada Ibnu Abbas
Adapun perkataan-perkataan yang dinisbahkan kepada Ibnu
Abbas yang berkaitan dengan Taurat, maka harus dikaji dengan hati-hati,
dikritisi secara mendalam, dan dicocokkan dengan apa yang terdapat dalam
kitab-kitab Taurat dan kitab-kitab Yahudi lainnya. Juga harus dikritisi rantai
sanad yang meriwayatkan perkataan tersebut dan menisbahkannya kepada beliau.
Hingga saat ini, belum ada peneliti yang
mengarahkan perhatiannya pada masalah ini. Maka penulis berharap agar para
ulama memperhatikan hal ini dan menyampaikan pendapat mereka—baik tentang
perkataan yang dinisbahkan kepada Ibnu Abbas maupun kepada sahabat-sahabat lain
dan tabi'in. Agar putusan kita dalam masalah-masalah seperti ini dapat
bersandar pada kajian dan ilmu yang mendalam.
Syair yang Dinisbahkan kepada Nabi Adam
Di antara yang dinisbahkan kepada Ibnu Abbas adalah sebuah
syair yang terkenal di kalangan masyarakat sekarang. Mereka mengatakan bahwa
syair itu dinisbahkan kepada Nabi Adam, dan bahwa Adam
menciptakannya setelah pembunuhan putranya (Habil).
Syair itu pasti palsu—diciptakan dan dinisbahkan
kepada Adam, kemudian diucapkan atas nama Ibnu Abbas. Bahkan sebagian ulama
menisbahkan syair itu kepada orang-orang lain.
Ka'ab al-Ahbar: Apakah Menulis Kitab?
Tentang Ka'ab al-Ahbar, tidak diketahui bahwa ia
menulis atau membukukan sesuatu. Yang diketahui adalah bahwa ia biasa duduk di
masjid, berbicara kepada orang-orang, dan kadang-kadang menggunakan Taurat yang
dibacakannya kepada mereka, lalu menafsirkannya.
Namun, Al-Hamdani menyebutkan bahwa Ka'ab
al-Ahbar pernah menulis kitab-kitab, dan penduduk Sha'dah mewarisi
kitab-kitab tersebut serta meriwayatkan darinya.
Al-Hamdani berkata: "Orang-orang Sha'dah
meriwayatkan secara marfu' kepada Ibrahim bin Abdul Malik al-Khunfuri. Ia
berkata: Aku membaca kitab-kitab Ka'ab al-Ahbar. Ka'ab adalah seorang laki-laki
dari Himyar, dari Dzu Ra'in. Ia pernah membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan
(Al-Qur'an), dan ia luas pengetahuannya dalam ilmu."
Al-Hamdani juga berkata: "Yang benar adalah
seperti yang kami sebutkan di awal kitab ini—apa yang diriwayatkan penduduk
Sha'dah dari Ka'ab al-Ahbar tentang penciptaan Adam, tentang orang-orang
setelahnya hingga Nuh, dan kisah banjir besar (Thufan)."
Al-Hamdani kemudian menukil beberapa bagian tentang penciptaan, para
nabi, Nuh, dan banjir besar di jilid pertama
kitabnya Al-Iklil, dan menyebutkan bahwa semua itu berasal dari
Ka'ab al-Ahbar. Kemungkinan besar ia mengambilnya dari riwayat penduduk Sha'dah
atas nama kitab-kitab Ibrahim bin Abdul Malik al-Khunfuri, yang dinukil dari
kitab-kitab Ka'ab al-Ahbar.
Penutup: Pelajaran bagi Kita
Kisah tentang Kaum Hajar dan masuknya pengaruh Israiliyat ke
dalam riwayat sejarah Arab mengajarkan kita satu hal penting: kita
harus kritis dalam menerima riwayat sejarah, terutama yang berkaitan dengan
nasab dan kisah-kisah umat terdahulu. Tidak semua yang dinisbahkan kepada
sumber-sumber kuno (Taurat, Injil, atau bahkan hadits) dapat diterima begitu
saja tanpa kajian sanad dan matan yang mendalam.
Wallahu a'lam.
Sumber Kisah
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar