Kaum Hajar: Kisah Bangsa Arab dalam Catatan Kitab Suci

Lanskap padang pasir yang luas di Timur Tengah kuno, terbentang dari sungai Eufrat hingga ke arah Gunung Sinai. Di tengah padang pasir, terlihat perkemahan suku Badui yang tenang dengan kemah-kemah berbahan bulu domba berwarna coklat dan krem. Di kejauhan, ada bukit-bukit gersang dan langit senja berwarna jingga keemasan. Beberapa unta beristirahat di dekat kemah, dan seorang pria berjanggut dengan jubah putih panjang sedang duduk di atas pasir sambil membaca gulungan kitab kuno (Taurat) yang digulung sebagian.

Pembuka: Siapa Kaum Hajar itu?

Di timur sungai Yordan dan timur tanah Gilead, pernah hidup sebuah suku bangsa yang dalam kitab Taurat disebut dengan nama "Al-Haajiriyyun" (Kaum Hajar). Siapakah mereka?

Para ulama berbeda pendapat. Sebagian berpendapat bahwa mereka berasal dari bangsa Arab, atau dari keturunan "Bani Iram". Namun, satu hal yang menarik: penyebutan nama ini dikaitkan dengan keturunan Ismail. Hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah bangsa Arab, karena "Ismailiyyun" (keturunan Ismail) adalah orang-orang Arab, dan "Hajar" adalah nama ibu Ismail—nenek dari suku-suku yang diceritakan oleh Taurat.

Bahkan sebagian peneliti berpendapat bahwa yang dimaksud Taurat dengan "Kaum Hajar" adalah orang-orang Arab badui, yaitu penduduk padang pasir—mereka juga orang Arab.


Wilayah Persebaran: Dari Sungai Eufrat hingga Gunung Sinai

Wilayah kekuasaan Kaum Hajar terbentang luas. Dimulai dari Sungai Eufrat hingga Gunung Sinai. Ini adalah kawasan yang sangat luas, meliputi padang pasir Syam (Suriah, Yordania, Palestina) yang dihuni oleh banyak kabilah badui.

Yang menarik, wilayah ini juga merupakan wilayah pemukiman keturunan Ismail. Inilah sebabnya mengapa kadang-kadang Taurat sulit membedakan antara Kaum Hajar dan Kaum Ismailiyyun.

Di dalam Taurat, mereka disebutkan bersama dengan Yathur dan Nafish—dua nama yang merupakan keturunan Ismail. Juga disebutkan seorang laki-laki dari Kaum Hajar yang bernama Yaziz. Taurat mencatat bahwa Yaziz bertugas menggembalakan kambing domba milik Nabi Daud, di antara sejumlah orang yang dipercaya Daud untuk mengurus hartanya.


Pengaruh Taurat dalam Riwayat Nasab Arab

Setelah memaparkan hal di atas, kita sampai pada kesimpulan penting: ada pengaruh dari Taurat terhadap riwayat-riwayat para ahli nasab dan ahli sejarah dalam menetapkan silsilah bangsa Arab.

Siapa yang menjadi perantara masuknya pengaruh ini? Mereka adalah Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang Yahudi, atau orang-orang Muslim yang berasal dari Yahudi. Karenanya, kita temukan sanad (rantai periwayatan) dari kebanyakan riwayat ini berakhir pada tokoh-tokoh seperti Ka'ab al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih, serta orang-orang yang semisal dengan mereka.

Kadang-kadang sanadnya juga berakhir pada Ibnu Abbas melalui jalur Ibnu al-Kalbi, dari ayahnya, dari Abu Shalih.


Kritik terhadap Riwayat yang Lemah

Para ulama memiliki komentar tersendiri mengenai sanad-sanad semacam ini. Ibnu al-Kalbi terkenal sebagai periwayat yang banyak meriwayatkan masalah-masalah seperti ini. Dalam bab ini, tidak ada yang menandinginya kecuali Ibnu Ishaq.

Dari hasil penelitian mendalam tentang topik ini dan tentang kisah-kisah Israiliyat secara umum, penulis menemukan bahwa sebagian besar riwayat yang disampaikan para ahli sejarah dan ahli nasab ternyata jauh dari apa yang terdapat dalam Taurat. Riwayat-riwayat itu banyak yang diciptakan begitu saja, dibuat dengan kebodohan, dan dihiasi dengan kata-kata bahasa Ibrani atau yang mirip dengannya—kadang dengan cara yang menggelikan.

Hal ini menunjukkan satu dari dua kemungkinan:

  1. Keburukan niat pembuat berita tersebut, atau
  2. Kebodohannya

Dan juga menunjukkan kepolosan orang yang menukilnya, serta ketidakpeduliannya kecuali ingin menampakkan diri sebagai orang yang mengetahui banyak berita. Karenanya, ia hanya peduli mengumpulkan berita-berita dan menceritakannya kepada orang banyak. Boleh jadi ia sendiri pembuat berita-berita dan pencipta kisah-kisah tersebut.


Sebuah Hadits tentang Keturunan Nuh

At-Thabari dalam sejarahnya menyebutkan sebuah hadits yang sanadnya sampai kepada Rasulullah tentang anak-anak Nabi Nuh. Hadits tersebut menyebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

"سَامٌ أَبُو العَرَبِ، وَيَافِثُ أَبُو الرُّومِ، وَحَامٌ أَبُو الحَبَشِ"

"Sam adalah bapaknya orang Arab, Yafits adalah bapaknya orang Romawi (Eropa), dan Ham adalah bapaknya orang Habasyah (Etiopia)."

Hadits ini diriwayatkan dalam berbagai bentuk—ada yang didahulukan atau diakhirkan, ada yang ditambah beberapa lafal. Semua sanad dari berbagai bentuk riwayat ini bermuara pada satu sanad yang sama, yaitu:

Sa'id bin Abi 'Arubah, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Samurah bin Jundab, dari Rasulullah .


Peringatan tentang Hadits Nasab

Ada beberapa hadits lain yang diriwayatkan dalam masalah nasab 'Adnan yang berisi larangan untuk melampaui batas dalam membahas nasab. Hadits-hadits seperti ini—dan yang semisalnya—layak untuk dikaji secara tersendiri. Kita perlu meneliti rantai sanadnya, seberapa dekat atau jauhnya dari sabda Rasulullah . Hanya dengan kajian seperti itulah kita dapat membangun kesimpulan yang benar.


Muhammad bin Ishaq: Penyebar Israiliyat

Muhammad bin Ishaq bin Yasar—pengarang kitab Al-Maghazi dan As-Sirah (Sirah Nabawiyah)—adalah salah seorang yang mengambil riwayat dari Ahli Kitab dan meriwayatkan dari mereka. Ia menyebut mereka dengan sebutan "Ahlul 'Ilmi al-Awwal" (Ahli Pengetahuan yang Pertama).

Mereka tentu saja lebih mengetahui tentang Taurat dan Injil karena mereka asli Yahudi atau Nasrani. Karena itulah kita dapati para sejarawan dan ahli riwayat menukil kisah-kisah Taurat dan nasab-nasab Taurat dari Ibnu Ishaq. Maka ia adalah salah satu penyebar Israiliyat di kalangan umat Islam.

Namun perlu diketahui: kisah-kisah Israiliyat yang disebarkannya tidak semuanya murni dan jernih. Kadar kejernihannya bervariasi:

  • Ada yang keruh (tidak sesuai dengan Taurat)
  • Ada yang mendekati apa yang ada dalam Taurat
  • Ada yang sama persis dengan apa yang ada dalam Perjanjian Lama—ini yang jernih dan murni

Penyebab perbedaan ini adalah sumber-sumber yang digunakan Ibnu Ishaq. Di antaranya ada yang benar-benar berilmu dan memahami kitab-kitab Ahli Kitab. Namun ada juga sumber-sumber yang tidak memiliki ilmu, hanya berbicara kepadanya berdasarkan apa yang umum beredar di kalangan Ahli Kitab. Bahkan di antaranya ada yang menghalalkan kebohongan—entah karena mengaku berilmu atau sebab-sebab lainnya.


Hisyam bin Muhammad al-Kalbi

Hisyam bin Muhammad bin as-Sa'ib al-Kalbi juga termasuk orang yang mengambil riwayat dari Ahli Kitab dan memasukkan Israiliyat serta nasab-nasab Taurat ke tengah umat Islam.

Masih ada beberapa orang lain yang juga mengambil dari Ahli Kitab, namun penulis membatasi pada dua tokoh ini karena pengaruh mereka yang sangat besar terhadap orang-orang setelahnya dalam masalah Israiliyat dan nasab-nasab Taurat.


Perkataan yang Dinisbahkan kepada Ibnu Abbas

Adapun perkataan-perkataan yang dinisbahkan kepada Ibnu Abbas yang berkaitan dengan Taurat, maka harus dikaji dengan hati-hati, dikritisi secara mendalam, dan dicocokkan dengan apa yang terdapat dalam kitab-kitab Taurat dan kitab-kitab Yahudi lainnya. Juga harus dikritisi rantai sanad yang meriwayatkan perkataan tersebut dan menisbahkannya kepada beliau.

Hingga saat ini, belum ada peneliti yang mengarahkan perhatiannya pada masalah ini. Maka penulis berharap agar para ulama memperhatikan hal ini dan menyampaikan pendapat mereka—baik tentang perkataan yang dinisbahkan kepada Ibnu Abbas maupun kepada sahabat-sahabat lain dan tabi'in. Agar putusan kita dalam masalah-masalah seperti ini dapat bersandar pada kajian dan ilmu yang mendalam.


Syair yang Dinisbahkan kepada Nabi Adam

Di antara yang dinisbahkan kepada Ibnu Abbas adalah sebuah syair yang terkenal di kalangan masyarakat sekarang. Mereka mengatakan bahwa syair itu dinisbahkan kepada Nabi Adam, dan bahwa Adam menciptakannya setelah pembunuhan putranya (Habil).

Syair itu pasti palsu—diciptakan dan dinisbahkan kepada Adam, kemudian diucapkan atas nama Ibnu Abbas. Bahkan sebagian ulama menisbahkan syair itu kepada orang-orang lain.


Ka'ab al-Ahbar: Apakah Menulis Kitab?

Tentang Ka'ab al-Ahbar, tidak diketahui bahwa ia menulis atau membukukan sesuatu. Yang diketahui adalah bahwa ia biasa duduk di masjid, berbicara kepada orang-orang, dan kadang-kadang menggunakan Taurat yang dibacakannya kepada mereka, lalu menafsirkannya.

Namun, Al-Hamdani menyebutkan bahwa Ka'ab al-Ahbar pernah menulis kitab-kitab, dan penduduk Sha'dah mewarisi kitab-kitab tersebut serta meriwayatkan darinya.

Al-Hamdani berkata: "Orang-orang Sha'dah meriwayatkan secara marfu' kepada Ibrahim bin Abdul Malik al-Khunfuri. Ia berkata: Aku membaca kitab-kitab Ka'ab al-Ahbar. Ka'ab adalah seorang laki-laki dari Himyar, dari Dzu Ra'in. Ia pernah membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan (Al-Qur'an), dan ia luas pengetahuannya dalam ilmu."

Al-Hamdani juga berkata: "Yang benar adalah seperti yang kami sebutkan di awal kitab ini—apa yang diriwayatkan penduduk Sha'dah dari Ka'ab al-Ahbar tentang penciptaan Adam, tentang orang-orang setelahnya hingga Nuh, dan kisah banjir besar (Thufan)."

Al-Hamdani kemudian menukil beberapa bagian tentang penciptaanpara nabiNuh, dan banjir besar di jilid pertama kitabnya Al-Iklil, dan menyebutkan bahwa semua itu berasal dari Ka'ab al-Ahbar. Kemungkinan besar ia mengambilnya dari riwayat penduduk Sha'dah atas nama kitab-kitab Ibrahim bin Abdul Malik al-Khunfuri, yang dinukil dari kitab-kitab Ka'ab al-Ahbar.


Penutup: Pelajaran bagi Kita

Kisah tentang Kaum Hajar dan masuknya pengaruh Israiliyat ke dalam riwayat sejarah Arab mengajarkan kita satu hal penting: kita harus kritis dalam menerima riwayat sejarah, terutama yang berkaitan dengan nasab dan kisah-kisah umat terdahulu. Tidak semua yang dinisbahkan kepada sumber-sumber kuno (Taurat, Injil, atau bahkan hadits) dapat diterima begitu saja tanpa kajian sanad dan matan yang mendalam.

Wallahu a'lam.


Sumber Kisah

Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam" 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasulullah ﷺ: Hamba yang Bersyukur, Pemimpin yang Rendah Hati, dan Rahmat bagi Seluruh Alam

Rasulullah ﷺ: Pahlawan Sejati, Penepati Janji, dan Pribadi Pemaaf

Rasulullah ﷺ: Secercah Matahari Kedermawanan dan Lautan Zuhud