Pengangkatan Abu Bakar Sebagai Khalifah
Khutbah Rasulullah ﷺ Lima Hari Sebelum Wafat
Rasulullah ﷺ
menyampaikan sebuah khutbah yang agung pada hari Kamis, lima hari sebelum
beliau wafat. Dalam khutbah tersebut, beliau menjelaskan keutamaan Abu Bakar
Ash-Shiddiq di atas seluruh sahabat lainnya, selain perintah beliau agar Abu
Bakar menjadi imam shalat bagi seluruh sahabat. Khutbah ini kemungkinan
merupakan pengganti dari apa yang ingin beliau tuliskan dalam sebuah surat. Beliau
mandi sebelum menyampaikan khutbah mulia ini, lalu keluar untuk mengimami
orang-orang shalat kemudian berkhutbah.
Hal pertama yang beliau sampaikan setelah memuji Allah
adalah menyebutkan tentang para syuhada Uhud, beliau memohonkan ampunan serta
mendoakan mereka.
Kemudian beliau bersabda:
«يا
معشر المهاجرين إنكم أصبحتم تزيدون، والأنصار على هيئتها لا تزيد وإنهم عيبتي التي
أويت إليها، فأكرموا كريمهم وتجاوزوا عن مسيئهم»
"Wahai sekalian kaum Muhajirin, jumlah kalian terus
bertambah, sedangkan kaum Ansar jumlahnya tetap dan tidak bertambah. Mereka
adalah tempat tinggalku yang aman (orang-orang kepercayaan). Maka muliakanlah
orang yang baik di antara mereka dan maafkanlah orang yang berbuat salah di
antara mereka."
Lalu beliau bersabda:
«أيها
الناس إن عبدا من عباد الله قد خيره الله بين الدنيا وبين ما عند الله فاختار ما
عند الله»
"Wahai manusia, sesungguhnya seorang hamba di antara
hamba-hamba Allah telah diberi pilihan oleh Allah antara dunia dan apa yang ada
di sisi-Nya, maka hamba itu memilih apa yang ada di sisi Allah."
Mendengar itu, Abu Bakar رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ memahami maksudnya di
antara orang banyak, lalu ia menangis dan berkata: "Bahkan kami menebusmu
dengan jiwa, anak-anak, dan harta kami". Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tenanglah wahai Abu Bakar".
Beliau melanjutkan:
«انظروا
إلى هذه الأبواب الشارعة في المسجد فسدوها إلا ما كان من بيت أبي بكر فإني لا أعلم
أحدا عندي أفضل في الصحبة»
"Lihatlah pintu-pintu yang terbuka menuju masjid
ini, tutup semuanya kecuali pintu rumah Abu Bakar, karena aku tidak mengetahui
seorang pun yang lebih utama persahabatannya di sisiku daripada dia."
Rasulullah ﷺ
juga bersabda:
«إن من
أمن الناس علي في صحبته وماله أبوبكر ، لو كنت متخذا خليلا غير ربي لاتخذت أبابكر
خليلا، ولكن خلة الإسلام ومودته، لا يبقى في المسجد باب إلا سد إلا باب أبي بكر»
"Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku
dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh
mengambil seorang kekasih (khalil) selain Tuhanku, niscaya aku akan menjadikan
Abu Bakar sebagai kekasihku. Namun, yang ada adalah persaudaraan dan kasih
sayang Islam. Tidak boleh ada satu pun pintu yang tersisa di masjid kecuali
harus ditutup, kecuali pintu Abu Bakar."
Khutbah ini adalah majelis terakhir Rasulullah ﷺ
duduk bersama orang-orang hingga beliau wafat.
Perintah Beliau Agar Abu Bakar Menjadi Imam Shalat
Ketika sakit Rasulullah ﷺ semakin berat, Bilal memanggil untuk
shalat. Beliau bersabda: "Perintahkan seseorang untuk mengimami
orang-orang". Saat itu Abu Bakar sedang tidak ada, maka Abdullah bin
Zam'ah meminta Umar bin Khattab untuk maju. Ketika Umar bertakbir, Rasulullah ﷺ
mendengar suaranya yang lantang dan bertanya: "Di mana Abu Bakar? Allah
dan kaum muslimin menolak hal itu (selain Abu Bakar)". Beliau mengulangi
pernyataan tersebut dengan nada marah:
«لا،
لا، لا، يصلي للناس ابن أبي قحافة»
"Tidak, tidak, tidak. Yang harus mengimami
orang-orang adalah putra Abu Quhafah (Abu Bakar)."
Aisyah رَضِيَ
اللَّهُ عَنْها sempat mencoba memberi masukan: "Wahai Rasulullah,
sesungguhnya Abu Bakar adalah pria yang lembut dan mudah menangis. Jika ia
berdiri menggantikan posisimu, ia tidak akan sanggup mengimami orang-orang
karena tangisannya". Namun Rasulullah ﷺ tetap menegaskan:
«إنكن
صواحب يوسف مروا أبا بكر فليصل بالناس»
"Sesungguhnya kalian seperti para wanita di zaman
Yusuf. Perintahkan Abu Bakar agar mengimami orang-orang!"
Maka Abu Bakar pun mengimami shalat selama masa sakit
Rasulullah ﷺ.
Suatu hari, Rasulullah ﷺ
merasa badannya agak ringan, beliau keluar dengan dipapah oleh dua orang (salah
satunya Al-Abbas) untuk shalat Dzuhur. Saat Abu Bakar melihat beliau, ia hendak
mundur, namun beliau memberi isyarat agar ia tetap di tempatnya. Rasulullah ﷺ
kemudian duduk di samping Abu Bakar; Abu Bakar shalat mengikuti gerakan Nabi ﷺ
dalam posisi berdiri, sementara Nabi ﷺ shalat dalam posisi duduk.
Pada hari Senin pagi saat kaum muslimin sedang merapatkan
barisan shalat, Nabi ﷺ
menyingkap tirai kamarnya dan melihat ke arah mereka sambil tersenyum. Para
sahabat hampir saja kehilangan konsentrasi karena sangat gembira melihat beliau.
Beliau memberi isyarat agar mereka menyelesaikan shalatnya, lalu menutup
kembali tirai tersebut. Beliau wafat pada hari itu juga.
Secara keseluruhan, Abu Bakar mengimami para sahabat
sebanyak 19 kali shalat (ada yang berpendapat 17 atau 20) sebelum wafatnya Nabi
ﷺ.
Hal ini merupakan bukti paling jelas bahwa Nabi ﷺ mendahulukan Abu Bakar sebagai imam dalam
ibadah yang paling utama, yaitu shalat.
Syaikh Abu Hasan Al-Asy'ari menyatakan bahwa didahulukannya
Abu Bakar adalah perkara yang sudah diketahui secara pasti dalam agama. Hal ini
sesuai dengan sabda Nabi ﷺ:
«يؤم
القوم اقرؤهم لكتاب الله، فإن كانوا في القراءة سواء فأعلمهم بالسنة...»
"Yang paling berhak mengimami suatu kaum adalah yang
paling baik bacaan Al-Qur'annya. Jika dalam bacaan mereka sama, maka yang
paling alim (paham) tentang Sunnah..."
Dan semua kriteria ini terkumpul pada diri Abu Bakar
Ash-Shiddiq.
Keraguan dan Bantahannya
Terdapat riwayat dari Ibnu Abbas bahwa pada hari Kamis
sebelum wafat, Nabi ﷺ
meminta diambilkan alat tulis untuk menuliskan wasiat agar umat tidak tersesat.
Namun terjadi perselisihan pendapat di antara orang-orang yang hadir, sehingga
beliau tidak jadi menuliskannya.
Beberapa kelompok (seperti Syiah) salah memahami hadits ini
dan mengklaim bahwa beliau ingin menuliskan sesuatu yang mendukung pendapat
mereka. Namun, hadits shahih lainnya menjelaskan apa yang sebenarnya ingin
beliau tuliskan. Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«لقد
هممت أن أرسل إلى أبي بكر وابنه، فأعهد أن يقول القائلون أو يتمنى متمنون، فقال:
يأبى الله والمؤمنون إلا أن يكون أبي»
"Aku sempat berkeinginan untuk memanggil Abu Bakar
dan putranya agar aku bisa memberikan wasiat, supaya orang-orang tidak saling
mengklaim atau berharap (jabatan). Namun kemudian beliau bersabda: Allah dan
kaum mukminin menolak kecuali Abu Bakar."
Dalam hadits lain, seorang wanita datang kepada Rasulullah ﷺ
lalu beliau memerintahkannya untuk kembali lagi nanti. Wanita itu bertanya:
"Bagaimana jika aku datang dan tidak menemuimu?" —seolah-olah ia
mengisyaratkan tentang kematian. Beliau menjawab:
«إن لم
تجديني فأتي أبا بكر»
"Jika engkau tidak menemuiku, maka datanglah kepada
Abu Bakar."
Zhahir-nya (tampaknya), wallahu a'lam, wanita itu menanyakan
hal tersebut saat beliau sedang sakit yang membawa pada wafatnya.
Wafatnya Rasulullah ﷺ dan Dampaknya bagi Orang-orang Beriman
Diriwayatkan dari Yazid bin Babnus, ia bercerita: "Aku
dan seorang kawanku pergi menemui Aisyah." Aisyah bercerita tentang
masa-masa sakit Nabi ﷺ.
Suatu hari beliau lewat di depan pintu rumahnya dan bertanya: "Wahai
Aisyah, ada apa denganmu?" Aisyah menjawab: "Kepalaku sakit
sekali." Nabi ﷺ
bersabda: "Bahkan aku yang merasa sakit kepala." Tak lama kemudian,
beliau dibawa dalam keadaan dipapah dengan kain, lalu beliau meminta izin
kepada istri-istrinya yang lain untuk dirawat di rumah Aisyah.
Aisyah melanjutkan: "Ketika kepalanya berada di
pundakku, tiba-tiba kepalanya miring ke arahku. Aku merasakan setetes cairan
dingin dari mulutnya jatuh ke leherku, sehingga merinding kulitku. Aku mengira
beliau pingsan, lalu aku menutupinya dengan kain."
Lalu Umar bin Khattab dan Al-Mughirah bin Syu'bah datang dan
masuk. Umar melihat beliau dan berkata: "Betapa berat pingsannya
Rasulullah ﷺ."
Namun ketika mereka di pintu, Al-Mughirah berkata: "Wahai Umar, Rasulullah
ﷺ
telah wafat." Umar membantah dengan keras: "Engkau bohong! Engkau
terkena fitnah. Rasulullah ﷺ
tidak akan mati sampai Allah membinasakan orang-orang munafik."
Kemudian Abu Bakar datang. Ia melihat Nabi ﷺ, lalu berkata:
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, Rasulullah telah wafat." Ia
mencium kening beliau dan berkata: "Duhai Nabiku, duhai sahabat pilihanku,
duhai kekasihku." Abu Bakar kemudian keluar ke masjid sementara Umar masih
berpidato meyakinkan orang-orang bahwa Nabi tidak wafat.
Abu Bakar pun berbicara, ia memuji Allah lalu membacakan
ayat:
﴿إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ﴾
"Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka
akan mati pula." (QS. Az-Zumar: 30)
Dan ayat:
﴿وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ
الرُّسُلُ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن
يَنقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ
الشَّاكِرِينَ﴾
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul,
sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat
atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke
belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun,
dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."
(QS. Ali Imran: 144)
Lalu Abu Bakar berkata: "Barangsiapa yang menyembah
Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan mati. Barangsiapa yang menyembah
Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat."
Mendengar itu, Umar gemetar dan berkata: "Apakah ayat
itu ada dalam Kitabullah? Aku tidak menyadarinya." Kemudian Umar berkata:
"Wahai manusia, inilah Abu Bakar, orang tua kaum muslimin, maka baiatlah
dia!" Maka orang-orang pun membaiatnya.
Catatan Penting:
Mengenai berita tentang "hilangnya khatam (tanda
kenabian)" di antara pundak beliau sebagai tanda wafatnya, riwayat ini
dianggap lemah (dhaif) dan aneh karena menyelisihi riwayat-riwayat yang shahih.
Banyak cerita-cerita tentang wafatnya Nabi yang dibawakan oleh para tukang
cerita adalah palsu, dan hadits-hadits shahih sudah cukup bagi kita.
Hal-hal Penting Setelah Wafatnya Nabi dan Sebelum Pemakamannya
Peristiwa yang paling agung dan penuh berkah bagi Islam
adalah baiat kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika Nabi ﷺ wafat di waktu Dhuha,
para sahabat sempat berselisih. Abu Bakar yang saat itu sedang berada di
rumahnya di pinggiran Madinah segera datang setelah dikabari oleh Salim bin
Ubaid. Abu Bakar berhasil meredam perdebatan, menjelaskan kebenaran, dan
seluruh orang kembali merujuk kepadanya.
Masalah Penting:
Muncul keraguan di kalangan sebagian kaum Ansar. Terlintas
di benak sebagian mereka untuk mengangkat pemimpin dari kalangan Ansar, atau
usulan agar ada satu pemimpin dari kaum Muhajirin dan satu pemimpin dari kaum
Ansar. Hal ini berlangsung hingga Abu Bakar ash-Shiddiq menjelaskan kepada
mereka bahwa kepemimpinan (Khilafah) harus berasal dari suku Quraisy. Mereka
pun akhirnya sepakat dan membaiatnya.
Kisah Saqifah Bani Sa'idah dan Penjelasan Umar yang Shahih:
Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas mengabarkan dari
Abdurrahman bin Auf yang baru kembali ke tempat tinggalnya. Ibnu Abbas
menceritakan bahwa saat itu di Mina pada akhir haji terakhir yang dilakukan
Umar bin Khattab, Abdurrahman bin Auf berkata: "Ada seseorang menemui Umar
bin Khattab dan berkata: 'Si fulan berkata jika Umar mati, aku akan membaiat si
fulan'".
Umar berkata: "Sore ini aku akan berdiri di depan
orang-orang untuk memperingatkan mereka yang ingin merampas urusan kepemimpinan
ini". Abdurrahman bin Auf menyarankan agar Umar menundanya hingga tiba di
Madinah, karena di musim haji banyak orang awam yang mungkin tidak memahami
perkataannya dengan benar. Umar setuju dan akan berbicara saat tiba di Madinah.
Setelah tiba di Madinah pada akhir bulan Dzulhijjah di hari
Jumat, Umar naik ke mimbar, memuji Allah, lalu berkata: "Aku akan
menyampaikan sesuatu yang sudah ditakdirkan untuk kukatakan. Siapa yang
memahaminya, sampaikanlah kepada yang lain. Siapa yang tidak paham, aku tidak
menghalalkan dia berdusta atasku".
Umar kemudian mengingatkan tentang ayat rajam:
«إنَّ
اللهَ بَعَثَ مُحَمَّدًا بِالحَقِّ، وَأَنْزَلَ عَلَيْهِ الكِتَابَ، فَكَانَ
فِيْمَا أَنْزَلَ عَلَيْهِ آيَةُ الرَّجْمِ فَقَرَأْنَاهَا وَوَعَيْنَاهَا،
وَرَجَمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَرَجَمْنَا بَعْدَهُ»
"Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad dengan
kebenaran dan menurunkan Al-Kitab kepadanya. Di antara yang diturunkan adalah
ayat rajam. Kami telah membacanya dan memahaminya. Rasulullah ﷺ telah melaksanakan
hukum rajam, dan kami pun melaksanakannya setelah beliau."
Beliau juga menyampaikan pesan Rasulullah ﷺ:
«لَا
تُطْرُونِي كَمَا أُطْرِيَ عِيسَى بْنُ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُ اللهِ
فَقُولُوا: عَبْدُاللهِ وَرَسُولُهُ»
"Janganlah kalian memujiku secara berlebihan
sebagaimana kaum Nasrani memuji Isa bin Maryam secara berlebihan. Sesungguhnya
aku hanyalah hamba Allah, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya."
Umar melanjutkan pembicaraan mengenai baiat Abu Bakar. Beliau
menceritakan bahwa setelah Rasulullah ﷺ wafat, kaum Ansar berkumpul di Saqifah
Bani Sa'idah, sementara Ali, Zubair, dan pengikutnya berada di rumah Fatimah. Kaum
Muhajirin berkumpul menemui Abu Bakar. Umar mengajak Abu Bakar menemui
saudara-saudara dari kaum Ansar.
Di Saqifah, seorang juru bicara Ansar berpidato:
"Kami adalah penolong Allah (Ansarullah) dan pasukan
Islam, sedangkan kalian wahai kaum Muhajirin adalah kelompok Nabi kami..."
Umar ingin berbicara namun Abu Bakar menahannya. Abu Bakar
memuji kebaikan kaum Ansar namun menegaskan:
"Bangsa Arab tidak akan mengakui urusan kepemimpinan
ini kecuali bagi suku Quraisy, karena mereka adalah keturunan dan tempat
tinggal Arab yang paling utama."
Abu Bakar menawarkan dua orang, Umar atau Abu Ubaidah bin
Jarrah, untuk dibaiat. Namun Umar menolak dan berkata bahwa ia lebih suka
lehernya dipenggal daripada memimpin kaum yang di dalamnya ada Abu Bakar.
Salah seorang Ansar (Al-Hubab bin Mundzir) berkata:
«أَنَا
جُذَيْلُهَا المُحَكَّكُ، وَعُذَيْقُهَا المُرَجَّبُ، مِنَّا أَمِيرٌ، وَمِنْكُمْ
أَمِيرٌ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ»
"Aku adalah orang yang punya banyak pengalaman (dalam
urusan ini). Dari kami seorang pemimpin dan dari kalian (Quraisy) seorang
pemimpin, wahai kaum Quraisy."
Suasana menjadi riuh. Umar segera meminta Abu Bakar
menjulurkan tangannya, lalu Umar membaiatnya, diikuti oleh Muhajirin dan
kemudian kaum Ansar. Umar menegaskan bahwa tidak ada perkara yang lebih kuat
daripada membaiat Abu Bakar demi menghindari perpecahan.
Dalam riwayat lain dari Ibnu Mas'ud, ketika kaum Ansar
meminta ada pemimpin dari kedua pihak, Umar mengingatkan:
"Bukankah kalian tahu bahwa Rasulullah ﷺ
telah memerintahkan Abu Bakar untuk mengimami orang-orang (salat)? Siapa di
antara kalian yang merasa lebih utama untuk mendahului Abu Bakar?"
Kaum Ansar menjawab: "Kami berlindung kepada Allah dari
mendahului Abu Bakar".
Pengakuan Sa'ad bin Ubadah Terhadap Kebenaran Perkataan ash-Shiddiq di Hari Saqifah:
Abu Bakar mengingatkan Sa'ad bin Ubadah tentang sabda
Rasulullah ﷺ:
«قُرَيْشٌ
وُلَاةُ هَذَا الأَمْرِ فَبَرُّ النَّاسِ تَبَعٌ لِبَرِّهِمْ وَفَاجِرُهُمْ تَبَعٌ
لِفَاجِرِهِمْ»
"Quraisy adalah pemegang urusan (kepemimpinan) ini.
Orang baik mengikuti orang baik dari mereka, dan orang jahat mengikuti orang
jahat dari mereka."
Sa'ad pun menjawab: "Engkau benar, kami adalah menteri
(pembantu) dan kalian adalah pemimpin".
Abu Bakar menerima kepemimpinan tersebut karena khawatir
akan terjadi fitnah atau kemurtadan jika ia menolaknya. Kejadian ini terjadi
pada hari Senin, dan keesokan harinya pada Selasa pagi, seluruh orang berkumpul
di masjid untuk menyelesaikan proses baiat sebelum jenazah Rasulullah ﷺ
diurus.
Baiat Ash-Shiddiq di Masjid
Al-Bukhari berkata: Ibrahim bin Musa memberitahu kami, dari
Hisyam, dari Ma'mar, dari az-Zuhri, bahwa Anas bin Malik memberitahu bahwa ia
mendengar khutbah terakhir Umar saat duduk di mimbar, yaitu sehari setelah
wafatnya Rasulullah ﷺ.
Umar membaca tasyahud sementara Abu Bakar diam tidak berbicara. Umar berkata:
"Aku tadinya berharap Rasulullah ﷺ tetap hidup sampai beliau mengurus urusan
kita (menjadi yang terakhir wafat di antara kita). Namun jika Muhammad telah
wafat, sesungguhnya Allah telah memberikan cahaya di tengah-tengah kalian yang
dengannya kalian bisa mendapat petunjuk sebagaimana Allah memberi petunjuk
kepada Muhammad. Sesungguhnya Abu Bakar adalah sahabat Rasulullah ﷺ
dan orang kedua dari dua orang (di dalam gua), dan dialah Muslim yang paling
utama untuk mengurus urusan kalian. Maka berdirilah dan baiatlah dia!"
Sebelum itu, sebagian dari mereka telah membaiatnya di
Saqifah Bani Sa'idah, sedangkan baiat untuk umum dilakukan di atas mimbar.
Az-Zuhri meriwayatkan dari Anas bin Malik: Aku mendengar Umar berkata kepada
Abu Bakar saat itu: "Naiklah ke mimbar!" Umar terus memintanya hingga
Abu Bakar naik ke mimbar, lalu masyarakat umum membaiatnya.
Khutbah Abu Bakar
Muhammad bin Ishaq berkata: Az-Zuhri menceritakan kepadaku,
Anas bin Malik berkata: Setelah Abu Bakar dibaiat di Saqifah, keesokan harinya
Abu Bakar duduk di atas mimbar. Orang-orang pun melakukan baiat umum setelah
baiat di Saqifah. Kemudian Abu Bakar berbicara, ia memuji Allah dan
menyanjung-Nya dengan pujian yang layak bagi-Nya.
Kemudian ia berkata:
« أَمَّا
بَعْدُ، أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنِّي قَدْ وُلِّيتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ
بِخَيْرِكُمْ فَإِنْ أَحْسَنْتُ فَأَعِينُونِي، وَإِنْ أَسَأْتُ فَقَوِّمُونِي ،
الصِّدْقُ أَمَانَةٌ، وَالْكَذِبُ خِيَانَةٌ، وَالضَّعِيفُ فِيكُمْ قَوِيٌّ
عِنْدِي حَتَّى أُرِيحَ عَلَيْهِ حَقَّهُ إِنْ شَاءَ اللهُ، وَالْقَوِيُّ فِيكُمْ
ضَعِيفٌ عِنْدِي حَتَّى آخُذَ مِنْهُ الْحَقَّ إِنْ شَاءَ اللهُ، لَا يَدَعُ
قَوْمٌ الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ اللهِ إِلَّا ضَرَبَهُمُ اللهُ بِالذُّلِّ، وَلَا
تَشِيعُ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ إِلَّا عَمَّهُمُ اللهُ بِالْبَلَاءِ،
أَطِيعُونِي مَا أَطَعْتُ اللهَ وَرَسُولَهُ، فَإِذَا عَصَيْتُ اللهَ وَرَسُولَهُ،
فَلَا طَاعَةَ لِي عَلَيْكُمْ قُومُوا إِلَى صَلَاتِكُمْ يَرْحَمُكُمُ اللهُ
»
"Amma ba'du. Wahai manusia, sesungguhnya aku telah
diangkat untuk memimpin kalian, padahal aku bukanlah yang terbaik di antara
kalian. Jika aku berbuat baik, maka bantulah aku, dan jika aku berbuat salah,
maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, sedangkan kebohongan adalah
pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian adalah kuat di mataku sampai
aku berikan haknya kepadanya, insya Allah. Sedangkan orang yang kuat di antara
kalian adalah lemah di mataku sampai aku mengambil hak (yang ia rampas) darinya,
insya Allah. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali
Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Dan tidaklah kekejian tersebar
pada suatu kaum kecuali Allah akan meratakan bala (bencana) kepada mereka.
Taatilah aku selama aku menaati Allah dan Rasul-Nya, namun jika aku mendurhakai
Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajiban taat bagimu kepadaku. Berdirilah
menuju shalat kalian, semoga Allah merahmati kalian."
Sanad kisah ini shahih. Adapun perkataan beliau "aku
telah diangkat memimpin kalian padahal aku bukan yang terbaik" merupakan
bentuk kerendahan hati dan ketawaduan, karena para sahabat telah sepakat bahwa
beliau adalah yang paling utama dan terbaik di antara mereka.
Baiat Zubair dan Ali radhiyallahu 'anhuma
Al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Said
al-Khudri, ia berkata: Ketika Rasulullah ﷺ wafat, orang-orang berkumpul di rumah
Sa'ad bin Ubadah, di antaranya ada Abu Bakar dan Umar. Juru bicara kaum Anshar
berdiri dan berkata: "Bukankah kalian tahu bahwa Rasulullah berasal dari
kaum Muhajirin, maka penggantinya (khalifah) juga harus dari kaum Muhajirin?
Dan kami adalah para penolong (Anshar) Rasulullah, maka kami juga akan menjadi
penolong bagi penggantinya sebagaimana kami dulu menolong beliau."
Umar bin Khattab berdiri dan berkata: "Benar apa yang
kalian katakan. Jika kalian berkata selain ini, tentu kami tidak akan membaiat
kalian." Lalu Umar memegang tangan Abu Bakar dan berkata: "Ini adalah
pemimpin kalian, maka baiatlah dia!" Umar membaiatnya, diikuti oleh kaum
Muhajirin dan Anshar.
Lalu Abu Bakar naik ke mimbar, ia melihat ke wajah
orang-orang namun tidak melihat Zubair. Ia memanggil Zubair, lalu Zubair
datang. Abu Bakar berkata: "Wahai putra bibi Rasulullah dan penolong
setianya (Hawari), apakah engkau ingin memecah belah kekuatan kaum
Muslimin?" Zubair menjawab: "Tidak ada celaan bagimu wahai Khalifah
Rasulullah." Lalu ia berdiri dan membaiatnya.
Kemudian Abu Bakar melihat ke wajah orang-orang namun tidak
melihat Ali. Ia memanggil Ali bin Abi Thalib, lalu Ali datang. Abu Bakar
berkata: "Wahai putra paman Rasulullah dan menantunya, apakah engkau ingin
memecah belah kekuatan kaum Muslimin?" Ali menjawab: "Tidak ada
celaan bagimu wahai Khalifah Rasulullah." Lalu ia membaiatnya.
Faedah yang Mulia
Dalam berita ini terdapat faedah besar, yaitu bahwa Ali bin
Abi Thalib ikut membaiat, baik pada hari pertama atau hari kedua setelah
wafatnya Rasulullah. Ini adalah hal yang benar, karena Ali bin Abi Thalib tidak
pernah meninggalkan Abu Bakar sewaktu-waktu pun, dan tidak pernah terputus
dalam melaksanakan shalat di belakangnya. Ia bahkan keluar bersama Abu Bakar ke
Dzi al-Qashah ketika Abu Bakar menghunus pedangnya untuk memerangi kaum murtad.
Namun, ketika Fatimah radhiyallahu 'anha merasa kecewa
kepada Abu Bakar karena menyangka bahwa ia berhak atas warisan Rasulullah ﷺ
—sementara ia belum mengetahui apa yang dikabarkan Abu Bakar bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
« لاَ
نُورَثُ مَا تَرَكْنَا فَهُوَ صَدَقَةٌ »
"Kami (para Nabi) tidak diwarisi, apa yang kami
tinggalkan adalah sedekah."
Berdasarkan nash (dalil) yang tegas ini, Abu Bakar tidak
memberikan warisan tersebut kepada Fatimah, istri-istri Nabi lainnya, maupun
paman beliau. Fatimah sempat meminta agar Ali mengurus sedekah tanah di Khaibar
dan Fadak, namun Abu Bakar tidak mengabulkannya karena ia merasa berkewajiban
menjalankan segala sesuatu sebagaimana yang dilakukan Rasulullah ﷺ
semasa hidup. Abu Bakar adalah orang yang jujur, berbakti, mendapat petunjuk,
dan pengikut kebenaran.
Karena Fatimah adalah manusia biasa yang tidak maksum (tidak
lepas dari salah), ia merasa kecewa dan tidak berbicara dengan Abu Bakar sampai
ia wafat. Ali pun perlu menjaga perasaan istrinya tersebut. Maka ketika Fatimah
wafat enam bulan setelah wafatnya ayah beliau, Ali merasa perlu untuk
memperbarui (mengukuhkan kembali) baiatnya kepada Abu Bakar radhiyallahu 'anhu,
disamping baiat yang sudah ia lakukan sebelumnya sebelum pemakaman Rasulullah ﷺ.
Hal ini diperkuat oleh perkataan Musa bin Uqbah bahwa Abu
Bakar berkhutbah dan meminta maaf kepada orang-orang dengan berkata: "Aku
tidak pernah ambisi pada kekuasaan, baik siang maupun malam, dan tidak pernah
memintanya secara rahasia maupun terang-terangan." Kaum Muhajirin menerima
perkataannya. Ali dan Zubair pun berkata: "Kami tidak marah kecuali karena
kami tidak dilibatkan dalam musyawarah di awal, padahal kami berpendapat bahwa
Abu Bakar adalah orang yang paling berhak atas jabatan ini. Dialah sahabat di
dalam gua, kami mengenal kemuliaan dan kedudukannya, dan Rasulullah ﷺ
telah memerintahkannya untuk mengimami orang-orang shalat saat beliau masih
hidup."
Sanad kisah ini baik, segala puji bagi Allah.
Kesepakatan Para Sahabat dalam Memilih dan Membaiat Ash-Shiddiq Sebagai Khalifah Tanpa Nash
Siapa pun yang merenungkan apa yang telah kami sebutkan,
akan tampak jelas baginya kesepakatan para sahabat—baik dari kalangan Muhajirin
maupun Anshar—untuk mendahulukan Abu Bakar. Hal ini menjadi bukti kebenaran
sabda Rasulullah ﷺ:
«يأبى
الله والمؤمنون إلا أبا بكر» "Allah dan kaum mukminin tidak
menghendaki kecuali Abu Bakar."
Tampak jelas pula bahwa Rasulullah ﷺ tidak menetapkan jabatan khalifah secara
tertulis (nash) kepada individu tertentu, tidak kepada Abu Bakar sebagaimana
diklaim oleh sebagian Ahlussunnah, dan tidak pula kepada Ali sebagaimana
dikatakan oleh golongan Rafidhah. Namun, beliau memberikan isyarat yang sangat
kuat kepada Ash-Shiddiq yang dapat dipahami oleh setiap orang yang berakal.
Dalil-dalil Bahwa Rasulullah ﷺ Tidak Menentukan
Pengganti Secara Khusus
- Tercatat
dalam Shahihain dari hadis Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari
Ibnu Umar: Bahwa ketika Umar bin Khattab ditikam, orang-orang bertanya
kepadanya, "Tidakkah engkau menunjuk pengganti (khalifah), wahai
Amirul Mukminin?". Umar menjawab:
إن
أستخلف فقد استخلف من هو خير مني - يعني أبا بكر - وإن أترك فقد ترك من هو خير مني
– يعني رسول الله "Jika aku menunjuk pengganti, maka
sungguh orang yang lebih baik dariku (yaitu Abu Bakar) telah melakukannya.
Namun jika aku meninggalkan (tanpa menunjuk), maka sungguh orang yang lebih
baik dariku (yaitu Rasulullah ﷺ)
telah melakukannya." Ibnu Umar berkata: "Maka aku tahu ketika beliau
menyebut Rasulullah ﷺ,
bahwa beliau tidak akan menunjuk pengganti.".
- Sufyan
Ats-Tsauri meriwayatkan dari Al-Aswad bin Qais, dari Amru bin Sufyan, ia
berkata: Ketika Ali menang atas orang-orang pada hari Perang Jamal, ia
berkata: "Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah ﷺ tidak
menjanjikan (mewasiatkan) apa pun kepada kami mengenai kepemimpinan ini,
hingga kami berpendapat untuk menunjuk Abu Bakar sebagai khalifah. Ia pun
melaksanakan tugasnya dan tetap istiqomah hingga wafat. Kemudian Abu Bakar
berpendapat untuk menunjuk Umar sebagai penggantinya, dan ia pun
melaksanakan tugasnya dengan istiqomah hingga wafat...".
- Al-Hafizh
Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Abu Wail berkata: Dikatakan kepada Ali bin
Abi Thalib, "Tidakkah engkau menunjuk pengganti bagi kami?". Ali
menjawab:
ما
استخلف رسول الله ﷺ فأستخلف، ولكن إن يرد الله بالناس خيرا فسيجمعهم بعدي على
خيرهم كما جمعهم بعد نبيهم على خيرهم "Rasulullah ﷺ tidak menunjuk pengganti, maka aku pun
tidak. Namun, jika Allah menghendaki kebaikan bagi manusia, maka Dia akan
mengumpulkan mereka setelahku pada orang yang terbaik di antara mereka,
sebagaimana Dia mengumpulkan mereka pada orang terbaik setelah Nabi mereka.".
- Riwayat
Al-Bukhari dari Ibnu Abbas: Bahwa Abbas dan Ali keluar dari sisi
Rasulullah ﷺ,
lalu seseorang bertanya, "Bagaimana keadaan Rasulullah pagi
ini?". Ali menjawab, "Alhamdulillah, beliau sudah membaik."
Namun Al-Abbas berkata, "Demi Allah, dalam tiga hari lagi engkau akan
menjadi rakyat (yang dipimpin). Aku mengenali tanda kematian pada wajah
Bani Hasyim. Mari kita temui Rasulullah untuk bertanya, siapakah yang akan
memegang urusan (kepemimpinan) ini?". Abbas melanjutkan, "Jika
urusan itu ada pada kita, maka kita mengetahuinya. Jika pada selain kita,
maka kita meminta beliau berwasiat kepada orang tersebut agar menjaga
kita.". Namun Ali menjawab:
إني لا
أسأله ذلك، والله إن منعناها لا يعطيناها الناس بعده أبدا "Sesungguhnya aku
tidak akan menanyakannya. Demi Allah, jika beliau melarang kita dari urusan itu
(saat ini), maka orang-orang tidak akan pernah memberikannya kepada kita
selamanya setelah beliau wafat.". Ibnu Katsir berkata: "Ini terjadi
pada hari Senin, hari wafatnya beliau. Hal ini menunjukkan bahwa beliau wafat
tanpa meninggalkan wasiat tertentu mengenai kepemimpinan.".
- Dalam
Shahihain, Ali bin Abi Thalib berkhotbah: "Barangsiapa yang
mengklaim bahwa kami memiliki sesuatu (catatan rahasia) yang kami baca
selain Kitabullah dan lembaran ini—yaitu lembaran yang tergantung di
sarung pedangnya yang berisi tentang aturan umur unta (zakat) dan masalah
denda luka-luka—maka ia telah berdusta.".
Bantahan Terhadap Golongan Rafidhah
Hadis yang tetap (tsabit) dalam Shahihain dan kitab
lainnya dari Ali ini merupakan bantahan bagi golongan Rafidhah atas klaim
mereka bahwa Rasulullah ﷺ
mewasiatkan kepemimpinan kepadanya. Jika urusannya seperti yang mereka klaim,
tentu tidak akan ada sahabat yang menolaknya, karena mereka adalah orang-orang
yang paling taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Selain itu, jika memang Ali memiliki nash (teks penunjukan),
mengapa ia tidak menggunakannya sebagai hujah di depan para sahabat?. Jika ia
tidak mampu melaksanakannya padahal ada nash, berarti ia lemah (dan orang lemah
tidak cocok memimpin). Jika ia mampu tapi tidak melakukannya, berarti ia
khianat. Jika ia tidak tahu ada nash, berarti ia bodoh. Dan Ali terjaga dari
semua sifat buruk tersebut.
Bantahan Terhadap Kaum Sufi Ekstrem (Thariqiyyah) dan
Tukang Cerita
Hadis Ali di atas juga membantah klaim kaum Thariqiyyah dan
tukang cerita bodoh yang mengklaim Nabi ﷺ mewasiatkan banyak hal panjang lebar
kepada Ali dengan bahasa yang buruk dan makna yang konyol.
Apa yang Terjadi pada Fatimah dan Suaminya, Ali, Terkait
Warisan Nabi ﷺ
Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah bahwa Fatimah dan Abbas
mendatangi Abu Bakar untuk meminta warisan mereka dari Rasulullah ﷺ,
berupa tanah di Fadak dan bagian dari Khaibar. Abu Bakar berkata kepada mereka:
Aku mendengar Rasulullah ﷺ
bersabda:
«لا
تورث، ما تركنا صدقة، إنما يأكل آل محمد من هذا المال» "Kami (para
Nabi) tidak diwarisi. Apa yang kami tinggalkan adalah sedekah. Keluarga
Muhammad hanyalah makan dari harta ini."
Abu Bakar berkata: "Demi Allah, aku tidak akan
meninggalkan satu urusan pun yang aku lihat Rasulullah ﷺ melakukannya, kecuali
aku pun akan melakukannya.". Fatimah kemudian tidak berbicara kepada Abu
Bakar hingga ia wafat.
Upaya Abu Bakar Mencari Ridha Fatimah Sebelum Wafatnya
Al-Baihaqi meriwayatkan dari Asy-Sya'bi: Ketika Fatimah
sakit, Abu Bakar datang menjenguk dan meminta izin masuk. Ali berkata,
"Wahai Fatimah, ini Abu Bakar meminta izin menemuimu." Fatimah
bertanya, "Apakah engkau setuju aku mengizinkannya?" Ali menjawab,
"Ya." Maka Abu Bakar masuk dan berusaha menyenangkannya (meminta
kerelaannya) dengan berkata: "Demi Allah, tidaklah aku meninggalkan rumah,
harta, keluarga, dan kabilah melainkan demi mencari ridha Allah, ridha
Rasul-Nya, dan ridha kalian wahai Ahlul Bait." Abu Bakar terus berbicara
hingga Fatimah ridha (rela).
Pembaruan Baiat Ali kepada Abu Bakar Setelah Wafatnya
Fatimah
Diriwayatkan dari berbagai jalan bahwa Ali kembali membaiat
Abu Bakar setelah wafatnya Fatimah. Baiat ini adalah baiat penguat bagi
perdamaian yang terjadi di antara keduanya. Ali tidak pernah menjauhi Abu Bakar
selama enam bulan tersebut, bahkan ia selalu salat di belakangnya dan hadir
dalam musyawarah.
Mengenai kemarahan Fatimah kepada Abu Bakar, hal itu karena
Abu Bakar menjalankan sabda Nabi ﷺ tentang warisan. Fatimah adalah orang yang tunduk pada nash
syariat, namun hal itu (hadis tentang Nabi tidak diwarisi) belum diketahuinya
sebelum ia meminta warisan, sebagaimana istri-istri Nabi pun tidak
mengetahuinya sampai Aisyah memberitahu mereka. Tidak boleh disangka bahwa
Fatimah menuduh Abu Bakar berbohong, karena hadis tersebut juga diriwayatkan
oleh Umar, Utsman, Ali, Abbas, dan banyak sahabat lainnya. Seandainya hanya Abu
Bakar sendiri yang meriwayatkannya, maka seluruh penduduk bumi wajib menerima
riwayatnya.
Sumber Kisah:
Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar
Posting Komentar