Tahun ke-9 Hijriah: Ekspedisi ke Thayy', Kemuliaan Hati, dan Perang Tabuk yang Berat
Tahun ke-9 Hijriah menjadi tahun yang penuh dengan ujian berat sekaligus kemuliaan. Di tahun ini, pasukan Islam menghadapi musuh terbesar Romawi dalam Perang Tabuk, di tengah panas terik, paceklik, dan perjalanan jauh. Namun, semangat juang para sahabat tidak pernah padam. Kisah dimulai dari sebuah ekspedisi kecil ke negeri Thayy'.
Ekspedisi ke Thayy': Ali dan Berhala 'Al-Fals'
Di bulan Rabiul Awal tahun ke-9 Hijriah, Rasulullah ﷺ
mengirim Ali bin Abi Thalib bersama lima puluh pasukan berkuda
untuk menghancurkan berhala 'Al-Fals milik suku Thayy'. Ali
berangkat, menghancurkan dan membakar berhala itu. Para penyembah berhala
melawan, tetapi Ali mengalahkan mereka, mengambil unta-unta dan kambing-kambing
mereka sebagai rampasan, serta menawan beberapa orang, termasuk seorang wanita
bernama Safanah binti Hatim ath-Tha'i —putri dari Hatim
ath-Tha'i yang sangat terkenal dengan kedermawanannya.
Safanah dan Kemuliaan Rasulullah
Sesampainya di Madinah, Safanah ditempatkan di sebuah
ruangan dekat pintu masjid, tempat para tawanan tinggal. Suatu hari, ketika
Rasulullah ﷺ
melewatinya, Safanah berdiri dan berkata:
“Wahai Rasulullah, ayahku telah tiada, dan pelindungku
(saudaraku) telah pergi. Maka berikanlah kemurahan kepadaku, semoga Allah
memberikan kemurahan kepadamu.”
Rasulullah ﷺ
bertanya: “Siapa pelindungmu?”
“Adiy bin Hatim,” jawabnya.
Rasulullah ﷺ
bersabda: “Orang yang lari dari Allah dan Rasul-Nya?” Kemudian
beliau berlalu.
Safanah mengulangi permohonannya keesokan harinya dan hari
berikutnya. Akhirnya, Rasulullah ﷺ memberinya kemurahan dan bersabda:
“لاَ
تَعْجَلِي بِالْخُرُوجِ حَتَّى تَجِدِي مِنْ قَوْمِكِ مَنْ يَكُونُ لَكِ ثِقَةً
حَتَّى يُبَلِّغَكِ إِلَى بَلاَدِكِ، ثُمَّ آذِنِينِي”
Artinya: “Janganlah engkau terburu-buru keluar sampai
engkau menemukan dari kaummu seseorang yang terpercaya yang bisa mengantarkanmu
ke negerimu. Kemudian beri tahulah aku.”
Ketika Safanah menemukan rombongan yang amanah, beliau
memberinya pakaian, kendaraan, dan bekal perjalanan. Safanah pun berterima
kasih dengan ucapan yang indah:
“Semoga tangan yang memberi ini selalu layak menerima
setelah kekayaan; semoga tangan yang memberi ini tidak pernah jatuh miskin
setelah kaya. Semoga Allah menempatkan kebaikanmu pada tempatnya, dan tidak
menjadikanmu butuh kepada orang yang hina, serta tidak mencabut nikmat dari
orang mulia kecuali Engkau jadikan aku sebagai sebab kembalinya nikmat itu
kepadanya.”
Safanah kemudian berangkat menemui saudaranya, Adiy
bin Hatim, yang melarikan diri ke Syam ketika mendengar pasukan Islam
datang. Safanah menegur Adiy dan menceritakan kebaikan yang ia terima dari
Rasulullah ﷺ.
Ia berkata: “Aku melihat engkau segera menemuinya. Jika ia benar-benar nabi,
maka orang yang lebih dahulu akan mendapat keutamaan. Jika ia hanya seorang
raja, maka engkau tetaplah engkau (yang terhormat).” Adiy pun mengikuti nasihat
saudaranya, pergi ke Madinah, dan masuk Islam—sebuah kisah yang akan kita
sampaikan nanti.
Perang Tabuk: Ujian Terberat Sepanjang Sejarah
🏜️ Latar Belakang dan
Persiapan
Pada bulan Rajab tahun ke-9 Hijriah, sampailah kabar kepada
Rasulullah ﷺ
bahwa bangsa Romawi (Bizantium) telah mengumpulkan pasukan besar untuk
menyerang Madinah. Rasulullah ﷺ
memiliki kebiasaan: jika mengetahui ada musuh yang berniat menyerang, beliau
lebih dahulu memerangi mereka sebelum diserang. Biasanya beliau merahasiakan
tujuan perang, tetapi kali ini beliau umumkan karena jarak yang jauh, kondisi
sulit, dan musuh yang besar. Tujuannya agar kaum Muslimin mempersiapkan diri
dengan sungguh-sungguh.
Perang Tabuk terjadi di saat paceklik, panas terik, dan
bertepatan dengan musim buah-buahan matang. Orang-orang lebih suka tinggal di
bawah naungan dan menikmati buah-buahan mereka.
Semangat Infak yang Luar Biasa
Rasulullah ﷺ
menganjurkan umatnya untuk berinfak dan mempersiapkan perlengkapan. Beliau
bersabda:
“مَنْ
جَهَّزَ جَيْشَ الْعُسْرَةِ فَلَهُ الْجَنَّةُ”
Artinya: “Barang siapa mempersiapkan (perlengkapan)
pasukan yang sulit (Tabuk), maka baginya surga.”
- Utsman
bin Affan menyumbangkan 300 ekor unta lengkap
dengan pelana dan perlengkapannya, serta 1.000 dinar.
Rasulullah ﷺ
membalik-balikkan dinar itu dan bersabda: “اللَّهُمَّ
ارْضَ عَنْ عُثْمَانَ فَإِنِّي عَنْهُ رَاضٍ” (Ya
Allah, ridhailah Utsman, karena aku ridha kepadanya). Beliau juga
bersabda: “مَا عَلَى عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ
الْيَوْمِ” (Tidak ada yang perlu dicela dari Utsman setelah
hari ini).
- Abu
Bakar ash-Shiddiq membawa seluruh hartanya yang berjumlah 4.000
dirham. Rasulullah ﷺ
bertanya: “Apakah engkau meninggalkan sesuatu untuk keluargamu?” Ia
menjawab: “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”
- Umar
bin al-Khaththab membawa separuh hartanya.
- Abdurrahman
bin Auf membawa 100 uqiyah (sekitar 4.000 dirham) emas.
- Abbas dan Thalhah membawa
harta yang banyak.
- Ashimbin
Adi membawa 100 wasaq (takaran) kurma.
- Seorang
sahabat Anshar membawa hanya satu sha' (3 kg) kurma,
namun dengan hati yang ikhlas.
Para wanita pun menyumbangkan perhiasan mereka. Kaum
Muslimin berlomba-lomba berkorban. Bahkan ada yang datang meminta kendaraan dan
bekal, tetapi Rasulullah ﷺ
tidak memiliki apa pun lagi untuk diberikan.
Kaum yang Menangis karena Tidak Mampu Berangkat
Tujuh orang sahabat datang kepada Rasulullah ﷺ
meminta kendaraan, tetapi beliau tidak memilikinya. Mereka pulang dengan air
mata bercucuran karena kesedihan tidak bisa ikut berjihad. Allah memuji mereka
dalam firman-Nya:
وَلَا
عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا
أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا
أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ
Artinya: “Dan tidak ada (dosa) pula bagi orang-orang yang
apabila mereka datang kepadamu (meminta) agar engkau memberi mereka kendaraan,
lalu engkau berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,’ lalu
mereka kembali dengan mata yang bercucuran air mata karena sedih, lantaran
mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan.” (QS.
At-Taubah: 92)
Keberangkatan Pasukan dan Pengganti di Madinah
Rasulullah ﷺ
keluar pada hari Kamis dengan pasukan yang sangat besar, lebih dari 30.000
orang, di antaranya 10.000 pasukan berkuda. Mereka berkemah
di Tsaniyyat al-Wada' (perbatasan Madinah). Abdullah
bin Ubay (pemimpin munafik) dan para pengikutnya memisahkan diri dan
berkemah di tempat yang lebih rendah, lalu tidak ikut berangkat.
Rasulullah ﷺ
menunjuk Muhammad bin Maslamah al-Anshari (atau Siba'
bin 'Arfathah al-Ghifari) sebagai pengganti di Madinah. Beliau juga
meninggalkan Ali bin Abi Thalib untuk menjaga keluarganya.
Orang-orang munafik mulai menyebarkan isu bahwa Rasulullah ﷺ meninggalkan Ali
karena bosan. Ali pun bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah engkau meninggalkanku
bersama para wanita dan anak-anak?”
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“أَمَا
تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ
لَا نَبِيَّ بَعْدِي”
Artinya: “Tidakkah engkau ridha bahwa kedudukanmu di
sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi
setelahku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
🗣️ Tipu Daya Orang
Munafik
Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya tidak ikut serta.
Sebagian mereka berkata: “Muhammad hendak memerangi Bani al-Ashfar (Romawi) di
saat panas terik dan perjalanan jauh? Apakah dia mengira perang melawan Romawi
itu mainan? Demi Allah, sepertinya aku melihat para sahabatnya diikat dengan
tali!” Mereka berusaha melemahkan semangat orang lain.
Sebagian lagi membuat alasan-alasan palsu seperti Al-Jadd
bin Qais. Rasulullah ﷺ
bertanya kepadanya: “Wahai Jadd, apakah engkau tahun ini akan ikut memerangi
Bani al-Ashfar?” Ia menjawab: “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku dan jangan goda
aku. Demi Allah, kaumku tahu bahwa tidak ada laki-laki yang lebih tergoda oleh
wanita selain aku. Aku khawatir jika melihat wanita-wanita Romawi, aku tidak
akan sabar.” Rasulullah ﷺ
pun berpaling darinya.
Allah menurunkan ayat tentang mereka:
وَقَالُوا
لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ
كَانُوا يَفْقَهُونَ
Artinya: “Mereka berkata, ‘Janganlah kamu berangkat
(perang) dalam panas terik ini.’ Katakanlah, ‘Api neraka Jahanam itu lebih
panas.’ Sekiranya mereka memahami.” (QS. At-Taubah: 81)
لَوْ
كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَاتَّبَعُوكَ وَلَٰكِنْ بَعُدَتْ
عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ
Artinya: “Seandainya (yang kamu serukan) itu keuntungan
yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak terlalu jauh, pastilah mereka
mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa jauh bagi mereka.” (QS.
At-Taubah: 42)
Membakar Rumah Pelaku Fitnah
Rasulullah ﷺ
mendengar bahwa beberapa orang munafik berkumpul di rumah Suwaitim (seorang
Yahudi) untuk melemahkan semangat kaum Muslimin. Beliau mengirim Thalhah
bin 'Ubaidullah bersama beberapa sahabat untuk membakar rumah itu.
Mereka pun membakarnya. Ada yang melompat dari atap rumah hingga patah kakinya,
dan yang lainnya melarikan diri.
Orang-Orang yang Meminta Izin dengan Alasan Palsu
Beberapa orang munafik datang kepada Rasulullah ﷺ
meminta izin untuk tidak ikut perang dengan alasan-alasan yang tidak benar.
Beliau mengizinkan mereka berdasarkan lahiriah mereka, tetapi Allah menegur
beliau:
عَفَا
اللَّهُ عَنْكَ لِمَ أَذِنْتَ لَهُمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِينَ صَدَقُوا
وَتَعْلَمَ الْكَاذِبِينَ
Artinya: “Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa engkau
memberi izin kepada mereka (untuk tidak berangkat) sebelum jelas bagimu
orang-orang yang benar dan (sehingga) engkau mengetahui orang-orang yang
dusta?” (QS. At-Taubah: 43)
Perjalanan yang Penuh Mukjizat
Pasukan Islam berangkat dalam keadaan sangat sulit. Karena
kekurangan kendaraan, dua atau tiga orang bergantian menaiki satu unta. Karena
kekurangan makanan, dua atau tiga orang berbagi satu butir kurma. Mereka
meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk menyembelih unta-unta mereka agar bisa makan dagingnya.
Beliau mengizinkan.
Namun Umar bin al-Khaththab datang dan
berkata: “Wahai Rasulullah, jika kita lakukan itu, maka kendaraan kita akan
berkurang. Tetapi kumpulkanlah sisa bekal mereka, dan berdoalah kepada Allah
agar memberkahinya.” Rasulullah ﷺ setuju.
Beliau membentangkan kulit, lalu mengumpulkan sisa bekal
hingga terkumpul sedikit. Beliau berdoa memohon berkah, lalu bersabda:
“Ambillah ke dalam wadah kalian.” Mereka mengambil hingga tidak ada satu wadah
pun di perkemahan yang tidak terisi penuh. Mereka makan sampai kenyang, dan
masih tersisa kelebihan.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، لَا يَلْقَى اللَّهَ
بِهَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فَيُحْجَبَ عَنِ الْجَنَّةِ”
Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan
aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan (kalimat)
itu dalam keadaan tidak ragu, lalu ia dihalangi dari surga.” (HR.
Muslim)
Keajaiban Air Hujan
Mereka juga kehabisan air hingga hampir putus leher. Abu
Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh Allah telah membiasakanmu berdoa
dengan kebaikan. Doakanlah kami.” Rasulullah ﷺ mengangkat tangannya ke langit, dan belum
lagi menurunkannya, langit pun menurunkan hujan. Mereka minum dan mengisi wadah
mereka. Ketika mereka melihat ke luar perkemahan, hujan itu tidak melampaui
batas perkemahan mereka. Seorang munafik berkata: “Ini hanya awan yang lewat
saja.”
Unta Rasulullah yang Hilang
Pada suatu saat, unta Rasulullah ﷺ hilang. Seorang munafik (disebutkan Zaid
bin Nushayb) berkata: “Muhammad mengaku sebagai nabi dan memberi tahu kabar
dari langit, tetapi dia tidak tahu di mana untanya?” Rasulullah ﷺ
bersabda:
“إِنِّي
وَاللَّهِ مَا أَعْلَمُ إِلَّا مَا عَلَّمَنِي اللَّهُ، وَقَدْ دَلَّنِي اللَّهُ
عَلَيْهَا، هِيَ فِي الْوَادِي، حَبَسَتْهَا شَجَرَةٌ بِزِمَامِهَا”
Artinya: “Demi Allah, aku tidak mengetahui kecuali apa
yang Allah ajarkan kepadaku. Sungguh Allah telah menunjukkan kepadaku di mana
unta itu. Ia berada di lembah, terhalang oleh sebatang pohon dengan tali
kekangnya.”
Mereka pergi dan menemukan unta itu persis seperti yang
dikabarkan. Ini menjadi bukti kenabian. Allah tidak memberitahu hal-hal ghaib
kecuali yang dikehendaki-Nya. Adapun Zaid bin Nushayb, ada yang mengatakan ia
bertobat, ada yang mengatakan ia tetap dalam kemunafikannya hingga mati.
Abu Khaytsamah: Seorang yang Tersadar
Abu Khaytsamah adalah salah seorang yang tidak
ikut berangkat tanpa alasan yang benar. Setelah Rasulullah ﷺ dan pasukan
berangkat, pada suatu hari yang panas, ia pulang ke rumahnya. Ia mendapati dua
istrinya telah menyiapkan dua tempat teduh di kebunnya, masing-masing
mendinginkan air dan menyiapkan makanan. Abu Khaytsamah melihat semua itu lalu
berkata:
“Rasulullah ﷺ berada di terik matahari, angin, dan panas, sementara Abu
Khaytsamah berada di tempat teduh yang sejuk, makanan siap, dan istri cantik,
tinggal di hartanya? Ini tidak adil. Demi Allah, aku tidak akan masuk ke tempat
teduh kalian berdua sampai aku menyusul Rasulullah ﷺ.”
Ia meminta kedua istrinya menyiapkan bekal, lalu menaiki
kendaraannya dan menyusul Rasulullah ﷺ di Tabuk. Ketika ia mendekati perkemahan, orang-orang berkata:
“Ada seorang pengendara di jalan yang datang.” Rasulullah ﷺ bersabda: “كُنْ أَبَا
خَيْثَمَةَ” (Jadilah engkau Abu Khaytsamah). Ternyata benar. Ia
memberi salam dan menceritakan kejadiannya, dan Rasulullah ﷺ mendoakannya dengan
kebaikan.
Abu Dzar: Berjalan Kaki di Tengah Padang Pasir
Ketika pasukan berangkat, setiap kali ada orang yang
tertinggal, para sahabat melaporkannya kepada Rasulullah ﷺ. Beliau
bersabda: “دَعُوهُ،
فَإِنْ يَكُنْ فِيهِ خَيْرٌ فَسَيُلْحِقُهُ اللَّهُ بِكُمْ، وَإِنْ يَكُنْ غَيْرَ
ذَلِكَ فَقَدْ أَرَاحَكُمُ اللَّهُ مِنْهُ” (Biarkanlah
dia. Jika ada kebaikan padanya, Allah akan mempertemukannya dengan kalian. Jika
tidak, maka Allah telah melepaskan kalian darinya).
Suatu hari, diberitahukan bahwa Abu Dzar tertinggal
karena untanya lambat. Rasulullah ﷺ mengucapkan sabda yang sama. Abu Dzar kemudian meninggalkan
untanya, memikul barang-barangnya di punggung, dan berjalan kaki menyusul.
Ketika pasukan berhenti di suatu tempat, mereka melihat sesosok laki-laki
berjalan di jalan. Rasulullah ﷺ
bersabda: “كُنْ
أَبَا ذَرٍّ” (Jadilah engkau Abu Dzar). Ternyata benar.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“يَرْحَمُ
اللَّهُ أَبَا ذَرٍّ، يَمْشِي وَحْدَهُ، وَيَمُوتُ وَحْدَهُ، وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ”
Artinya: “Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Ia berjalan
sendirian, mati sendirian, dan dibangkitkan sendirian.”
Prediksi ini terbukti. Di masa kekhalifahan Utsman, Abu Dzar
diasingkan ke ar-Rabadzah (sebuah tempat di padang pasir). Di
sanalah ia wafat sendirian. Hanya istrinya dan budaknya yang bersama. Ia
berwasiat agar jenazahnya diletakkan di pinggir jalan. Kemudian Abdullah
bin Mas'ud dan rombongan dari Kufah melewatinya. Ibnu Mas'ud bertanya,
“Apa ini?” Dijawab: “Jenazah Abu Dzar, sahabat Rasulullah.” Ibnu Mas'ud
menangis dan bersabda: “Rasulullah benar.” Lalu ia turun dan mengurus
pemakamannya.
Bersambung ke Peristiwa Selanjutnya
Demikianlah kisah persiapan dan perjalanan menuju Perang
Tabuk. Di episode berikutnya, kita akan melanjutkan tentang kedatangan pasukan
di Tabuk, perjanjian dengan penduduk setempat, serta kisah tiga sahabat yang
tertinggal (Ka'ab bin Malik, Murarah bin ar-Rabi', dan Hilal bin Umayyah) yang
penuh hikmah.
Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah
Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar
Posting Komentar