Tahun Ke-8 Hijriah: Tiga Bintang Quraisy Menyinari Islam

 

tiga orang laki-laki berpakaian Arab kuno bertemu di tengah padang pasir yang luas. Dua orang berjalan dari satu arah, satu orang dari arah lain, mereka berhenti dan berdiri saling berhadapan dengan sikap hormat dan gembira. Salah satu dari mereka mengangkat tangan memberi salam. Latar belakang adalah gurun dengan bukit-bukit pasir keemasan dan langit biru cerah dengan awan tipis. Di kejauhan, tampak kota Madinah dengan menara sederhana di ufuk.

Di awal tahun kedelapan Hijriah, langit Madinah kembali disapa oleh kabar gembira yang mengguncangkan jagat Quraisy. Tiga orang pemuka Mekah, yang sebelumnya menjadi lawan tangguh Islam, kini datang menyerahkan diri. Mereka adalah Amr bin al-AshKhalid bin al-Walid, dan Utsman bin Thalhah. Kehadiran mereka bagaikan tiga bintang yang bersinar, menerangi jalan dakwah dengan pengorbanan dan kehebatan yang tak tertandingi.


Amr bin al-Ash: Dari Pelarian Menuju Hidayah

Hijrah ke Habasyah dan Pertemuan yang Mengejutkan

Amr bin al-Ash bukanlah sosok yang asing bagi dakwah Islam. Ia adalah seorang diplomat ulung, cerdas, dan memiliki pengaruh besar di kalangan Quraisy. Setelah Perang Ahzab (menurut riwayat Ibnu Ishaq) atau setelah Perjanjian Hudaibiyah (menurut riwayat al-Baihaqi), ia memilih meninggalkan Mekah dan hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Hatinya gelisah melihat kemenangan demi kemenangan yang diraih kaum Muslimin.

Di Habasyah, secara kebetulan ia bertemu dengan Amr bin Umayyah adh-Dhamri, seorang utusan Rasulullah yang tengah menyampaikan surat kepada Raja Najasyi. Amr bin al-Ash sempat berniat jahat terhadap utusan tersebut, tetapi Raja Najasyi menegurnya dan melindungi sang utusan.

Namun Allah memiliki rencana lain. Di negeri asing itu, Amr mulai merenung. Ia melihat sendiri keagungan Islam yang bahkan dihormati oleh seorang raja Nasrani. Akhirnya, ia memeluk Islam di Habasyah dan menetap di sana hingga awal tahun ke-8 Hijriah, sebelum akhirnya datang ke Madinah menyatakan keislamannya secara terbuka.


Khalid bin al-Walid: Pedang Allah yang Tak Terelakkan

Dari Penentang Keras Menuju Kekaguman

Jika Amr adalah diplomat ulung, maka Khalid bin al-Walid adalah panglima perang yang ditakuti. Ia termasuk orang yang paling sengit memusuhi Rasulullah dan kaum Muslimin. Namun ada keanehan yang selalu ia rasakan: setiap kali ia memimpin pasukan melawan Rasulullah , ia selalu mengalami kekalahan atau kegagalan.

Di Perang Uhud, ia memimpin pasukan berkuda Quraisy yang berhasil mengubah kemenangan Muslim menjadi kekalahan. Namun setelah itu, tak ada lagi kemenangan yang ia raih. Di Perang Khandaq, ia gagal menembus pertahanan Muslim. Dalam perjalanan menuju Hudaibiyah, ia sempat memimpin pasukan berkuda Quraisy yang menghadang Rasulullah di Asfaan. Saat itu, ia melihat kaum Muslimin melaksanakan salat dalam keadaan waspada (salat khauf), dan Khalid bergumam dalam hati:

“Orang ini benar-benar dalam perlindungan (Allah)!”

Mimpi yang Membuka Pintu Hidayah

Ketika peristiwa Umrah al-Qadha tiba, Khalid memilih bersembunyi bersama orang-orang Quraisy lainnya yang tidak tega melihat kaum Muslimin memasuki Mekah dengan penuh kemenangan. Ia tidak ikut menyambut atau menyaksikan. Namun keislamannya telah menjadi buah bibir di kalangan sahabat.

Al-Walid bin al-Walid, saudara kandung Khalid yang telah lebih dulu masuk Islam, bertanya kepada Rasulullah tentang Khalid. Rasulullah bersabda:

أَيْنَ خَالِدٌ؟
Artinya: “Di mana Khalid?”

Al-Walid menjawab, “Allah akan mendatangkannya (dengan hidayah).” Maka Rasulullah bersabda:

مِثْلُهُ جَهِلَ الْإِسْلَامَ؟ وَلَوْ كَانَ جَعَلَ نَكَايَتَهُ وَجِدَّهُ مَعَ الْمُسْلِمِينَ كَانَ خَيْرًا لَهُ، وَلَقَدَّمْنَاهُ عَلَى غَيْرِهِ

Artinya: “Mengapa orang seperti dia masih belum mengenal Islam? Seandainya ia mengerahkan keberanian dan kesungguhannya bersama kaum Muslimin, tentu itu lebih baik baginya, dan sungguh kami akan mendahulukannya daripada yang lain.”

Al-Walid segera menulis surat kepada Khalid yang isinya kurang lebih:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku tidak melihat sesuatu yang lebih menakjubkan daripada lenyapnya pemikiranmu tentang Islam, padahal akalmu adalah akal yang cerdas! Siapa yang masih mengabaikan Islam seperti ini? Rasulullah telah menanyakan kabarmu dan berkata: ‘Di mana Khalid?’ Lalu aku menjawab: ‘Allah akan mendatangkannya.’ Beliau bersabda: ‘Mengapa orang seperti dia masih belum mengenal Islam? Seandainya ia mengerahkan keberanian dan kesungguhannya bersama kaum Muslimin, tentu itu lebih baik baginya, dan sungguh kami akan mendahulukannya daripada yang lain.’ Maka kejarlah, wahai saudaraku, kesempatan-kesempatan baik yang telah terlewatkan.”

Surat itu sampai di tangan Khalid. Ia terenyuh. Rasulullah menanyakannya. Beliau menghargainya. Beliau bahkan berharap keberaniannya digunakan untuk Islam. Ditambah lagi, Khalid bermimpi: ia melihat dirinya berada di negeri yang sempit dan kering kerontang, lalu ia keluar menuju negeri yang luas dan hijau.

Mimpi itu kemudian ditafsirkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq—ketika Khalid sudah masuk Islam—bahwa negeri sempit dan tandus adalah dunia kekafiran yang akan lenyap, sedangkan negeri luas dan hijau adalah dunia Islam yang subur dan penuh rahmat.


Perjalanan Menuju Madinah: Tiga Sahabat Bertemu di Jalan

Khalid pun bulat tekad. Ia menemui Shafwan bin Umayyah dan Ikrimah bin Abu Jahal—dua tokuh Quraisy yang masih keras kepala—mengajak mereka masuk Islam. Keduanya menolak. Kemudian ia menemui Utsman bin Thalhah, seorang pemimpin Bani Abi Thalhah, penjaga kunci Ka’bah. Utsman justru dengan cepat menyambut ajakan itu.

Khalid dan Utsman pun berangkat menuju Madinah. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seseorang yang juga sedang menuju ke arah yang sama. Ternyata itu adalah Amr bin al-Ash, yang baru saja kembali dari Habasyah setelah memeluk Islam.

Amr bertanya, “Ke mana engkau, wahai Abu Sulaiman (panggilan Khalid)?”

Khalid menjawab, “Demi Allah, jalan ini telah jelas terbentang. Sungguh, beliau (Muhammad) adalah seorang nabi. Aku pergi, demi Allah, untuk masuk Islam. Sampai kapan lagi aku menunda?”

Tiga orang yang dulu menjadi musuh terbesar Islam itu kini berjalan bersama menuju cahaya. Perjalanan mereka penuh dengan kegembiraan dan harapan baru.


Menghadap Rasulullah: Senyuman dan Pengampunan

Kabar kedatangan mereka telah sampai lebih dulu ke Madinah. Rasulullah sangat gembira. Al-Walid bin al-Walid, saudara Khalid, segera menemui rombongan dan berkata kepada Khalid, “Cepatlah! Rasulullah sangat gembira dengan kedatanganmu dan beliau sedang menunggumu.”

Mereka pun bergegas. Begitu tiba di hadapan Rasulullah , mereka melihat wajah beliau berseri-seri dengan senyuman yang menyejukkan. Khalid segera memberi salam dan mengucapkan syahadat. Rasulullah menyambutnya dengan wajah yang berseri, lalu bersabda:

تَعَالَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَاكَ، كُنْتُ أَرَى لَكَ عَقْلًا رَجَوْتُ أَلَّا يُسْلِمَكَ إِلَّا إِلَى خَيْرٍ

Artinya: “Mendekatlah, segala puji bagi Allah yang telah memberimu petunjuk. Aku selalu melihat kecerdasan padamu, dan aku berharap kecerdasan itu tidak akan menuntunmu kecuali kepada kebaikan.”

Khalid kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh aku pernah berada di pihak yang melawanmu, memusuhi kebenaran. Doakanlah agar Allah mengampuniku.”

Rasulullah menjawab dengan sabda yang agung:

الْإِسْلَامُ يَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهُ

Artinya: “Islam itu menghapus segala dosa yang terjadi sebelumnya.”

Kemudian Utsman bin Thalhah maju dan berbaiat. Disusul oleh Amr bin al-Ash.

Amr bin al-Ash sendiri mengisahkan momen tersebut:

“Demi Allah, begitu aku duduk di hadapannya, aku merasa malu untuk mengangkat pandangan mataku karena rasa hormat kepadanya. Aku pun berbaiat kepadanya agar beliau memohonkan ampunan atas dosa-dosaku yang lalu. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Islam menghapus dosa-dosa sebelumnya, dan hijrah menghapus dosa-dosa sebelumnya.’ Demi Allah, sejak kami masuk Islam, Rasulullah tidak pernah membedakan aku dan Khalid bin al-Walid dengan siapa pun di antara para sahabatnya dalam urusan apa pun. Sungguh, aku memiliki kedudukan di sisi Abu Bakar, dan aku juga memiliki kedudukan di sisi Umar—walaupun Umar terkesan sering mencela Khalid.”

Kedatangan mereka dan keislaman mereka terjadi pada awal bulan Shafar tahun ke-8 Hijriah.


Utsman bin Thalhah: Penjaga Kunci Ka’bah yang Memeluk Islam

Di antara tiga tokoh besar itu, Utsman bin Thalhah bin Abi Thalhah memiliki posisi yang istimewa. Ia adalah pemimpin Bani Abi Thalhah, suku yang secara turun-temurun memegang kunci Ka’bah. Sebelum Islam datang, keluarganya adalah penjaga pintu Ka’bah yang paling dihormati.

Kisah keislamannya tidak banyak diceritakan secara panjang dalam teks ini, namun disebutkan bahwa ia adalah orang yang paling cepat menyambut ajakan Khalid untuk masuk Islam. Kehadirannya di Madinah menjadi simbol bahwa kunci Ka’bah—yang selama ini dipegang oleh keluarga musyrik—kini telah berada di tangan seorang Muslim.


Hikmah di Balik Tiga Keislaman Besar

Keislaman tiga tokoh ini bukan sekadar peristiwa biasa. Ada hikmah besar yang tergambar di dalamnya:

  1. Allah Memilih Siapa yang Dikehendaki – Tidak ada yang dapat menghalangi hidayah jika Allah telah menghendakinya, sekalipun orang tersebut adalah musuh yang paling keras sekalipun.
  2. Kecerdasan dan Keberanian yang Terarah – Khalid bin al-Walid dan Amr bin al-Ash adalah dua orang yang memiliki kecerdasan luar biasa. Ketika hidayah datang, kecerdasan itu digunakan untuk membela Islam, bukan melawannya.
  3. Islam Menghapus Dosa Masa Lalu – Ini adalah kabar gembira bagi siapa pun yang masuk Islam. Masa lalu yang kelam dihapuskan oleh cahaya keimanan.
  4. Rasulullah Menerima dengan Hati Terbuka – Beliau tidak pernah mengungkit masa lalu, tidak pernah mencela, tidak pula mempermalukan. Beliau menyambut mereka dengan senyuman dan pengampunan.
  5. Pengakuan atas Potensi – Rasulullah melihat kecerdasan Khalid dan berharap kecerdasan itu akan membawanya pada kebaikan. Ini menunjukkan pentingnya mengenali potensi seseorang dan mendorongnya ke arah yang benar.

Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Perjanjian Dikhianati: Sikap Tegas Rasulullah Menghadapi Yahudi

Ketika Perjanjian Dikhianati: Kisah Bani Qainuqa’ dan Kejatuhan Ka’ab bin al-Asyraf

Bani Nadhir: Ketika Pengkhianatan Berujung Pengusiran