Tahun ke-10 Hijriah: Dakwah Meluas ke Seluruh Jazirah
Pendahuluan: Fajar Penyebaran Islam
Tahun kesepuluh Hijriah menjadi saksi betapa Islam telah
kokoh berdiri. Fathu Makkah telah membuka pintu bagi masuknya manusia ke dalam
agama Allah secara berbondong-bondong. Kini, giliran suku-suku di pelosok
Jazirah Arab yang mendapatkan sentuhan dakwah. Rasulullah ﷺ mengirim para
sahabatnya ke berbagai penjuru, bukan untuk memerangi, tetapi untuk menyeru
kepada kebenaran.
Ekspedisi Khalid bin al-Walid ke Bani al-Harits bin Ka'ab
Pada bulan Rabiul Akhir atau Jumadil
Awal tahun ke-10 Hijriah, Rasulullah ﷺ mengutus Khalid bin al-Walid menuju Bani
al-Harits bin Ka'ab di daerah Najran. Beliau memerintahkan
Khalid untuk menyeru mereka masuk Islam. Jika mereka menerima, maka hendaklah
ia menerimanya. Jika mereka menolak, maka hendaklah ia memerangi mereka.
Khalid berangkat hingga tiba di tempat mereka. Ia menyeru
mereka kepada Islam, dan mereka pun masuk Islam. Khalid tinggal di
tengah-tengah mereka, mengajarkan Al-Qur'an, sunnah Nabi, dan hukum-hukum
Islam. Kemudian ia mengirim surat kepada Rasulullah ﷺ memberitahukan kabar mereka. Rasulullah ﷺ
membalas suratnya, memerintahkan agar Khalid menyampaikan kabar gembira dan
peringatan kepada mereka, lalu kembali bersama utusan mereka.
Khalid pun kembali membawa utusan Bani al-Harits, di
antaranya Qais bin al-Hushain. Rasulullah ﷺ bertanya kepada mereka: “Dengan
cara apa kalian biasa mengalahkan orang yang memerangi kalian di masa
jahiliah?” Mereka menjawab, “Kami biasa bersatu dan tidak
bercerai-berai, dan kami tidak memulai kezaliman kepada siapa pun.” Beliau
bersabda: “صَدَقْتُمْ” (Kalian
benar). Kemudian beliau mengangkat Qais bin al-Hushain sebagai
pemimpin mereka, dan mereka kembali ke kampung halaman pada bulan Syawal atau
awal Dzulqa'dah.
Pengiriman Amr bin Hazm: Guru untuk Bani al-Harits
Setelah utusan mereka pulang, Rasulullah ﷺ mengirim Amr
bin Hazm kepada mereka untuk memperdalam pemahaman agama,
mengajarkan sunnah dan syariat Islam, serta mengambil sedekah (zakat) dari
mereka. Beliau menulis surat perintah yang panjang berisi petunjuk tentang cara
memerintah, mendidik, mengajar, dan mendisiplinkan. Di akhir surat, beliau
menjelaskan tentang harta rampasan perang (ghanimah) yaitu
seperlima (khumus), dan menjelaskan kadar zakat untuk tanaman, unta, sapi, dan
kambing.
Surat ini diriwayatkan secara lengkap oleh Imam
Muhammad bin Ishaq dalam kitab sirahnya, Imam an-Nasa'i dalam
Sunannya, dan Imam al-Baihaqi dalam Sunan-nya.
Ekspedisi Ali bin Abi Thalib ke Bani Madz-hij
Pada bulan Ramadhan tahun yang sama,
Rasulullah ﷺ
mengirim Ali bin Abi Thalib bersama sepasukan tentara
menuju Bani Madz-hij (sebuah suku besar di Yaman). Beliau
sendiri yang mengikatkan sorban di kepala Ali, lalu bersabda:
“سِرْ
حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ، فَادْعُهُمْ إِلَى قَوْلِ: لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ، فَإِنْ قَالُوا: نَعَمْ، فَمُرْهُمْ بِالصَّلَاةِ، وَلَا تَبْغِ غَيْرَ
ذَلِكَ، وَلَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِمَّا
طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ، وَلَا تُقَاتِلْهُمْ حَتَّى يُقَاتِلُوكَ”
Artinya: “Berjalanlah hingga singgah di wilayah mereka.
Serulah mereka kepada kalimat ‘Laa ilaaha illallah’. Jika mereka
mengucapkannya, maka perintahkan mereka untuk mendirikan salat. Jangan engkau
mencari selain itu. Sungguh, jika Allah memberi petunjuk kepada satu orang
melalui dirimu, itu lebih baik bagimu daripada apa pun yang disinari matahari.
Dan janganlah engkau perangi mereka sampai mereka memerangimu.”
Ketika Ali sampai di tempat mereka, ia bertemu dengan
kumpulan pasukan musuh. Ia menyeru mereka masuk Islam, tetapi mereka menolak
dan melepaskan anak panah ke arah kaum Muslimin. Maka Ali merapikan barisan
sahabatnya dan memerintahkan mereka untuk berperang. Mereka bertempur hingga
berhasil mengalahkan musuh. Ali kemudian menghentikan pengejaran sebentar, lalu
menyusul mereka kembali dan menyeru mereka kepada Islam. Kali ini mereka
menerima, dan para pemimpin mereka berbaiat seraya berkata: “Kami akan mengikuti
apa yang dilakukan oleh saudara-saudara kami yang lain. Maka ambillah hak Allah
(zakat) dari kami.” Ali pun melakukannya.
Kedatangan Wafd Bajilah: Jarir bin Abdullah al-Bajali
Pada bulan Ramadhan tahun ke-10 Hijriah, Jarir
bin Abdullah al-Bajali datang kepada Rasulullah ﷺ bersama seratus lima
puluh orang dari kaumnya. Sebelum kedatangan mereka, Rasulullah ﷺ
pernah bersabda:
“يَطْلُعُ
عَلَيْكُمْ مِنْ هَذَا الْفَجِّ مِنْ خَيْرِ ذِي يَمَنٍ، عَلَى وَجْهِهِ مَسْحَةُ
مَلَكٍ”
Artinya: “Akan muncul kepada kalian dari celah gunung
ini, dari kebaikan negeri Yaman, seorang yang pada wajahnya ada tanda
kebangsawanan (malaikat).”
Maka muncullah Jarir di atas kendaraannya
bersama kaumnya. Mereka masuk Islam dan berbaiat. Diriwayatkan bahwa Rasulullah
ﷺ
menghamparkan selimut untuk Jarir, kemudian bersabda kepada para sahabatnya:
“إِذَا
أَتَاكُمْ كَرِيمُ قَوْمٍ فَأَكْرِمُوهُ”
Artinya: “Jika datang kepada kalian pemuka suatu kaum,
maka muliakanlah dia.”
Dalam Shahihain, Jarir sendiri meriwayatkan: “Aku
berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk menegakkan salat, menunaikan zakat, dan memberi nasihat
kepada setiap muslim.”
Wafd Ahmas: Penghancuran Berhala Dzul Khalashah
Kemudian datanglah Qais bin 'Uzrah al-Ahmasi bersama
dua ratus lima puluh orang dari suku Ahmas (saudara dari
Bajilah). Rasulullah ﷺ
bertanya kepada mereka: “Siapa kalian?” Mereka menjawab: “Kami adalah Ahmas
(pemberani) milik Allah.” (Pada masa jahiliah, mereka dikenal dengan sebutan
itu). Rasulullah ﷺ
bersabda: “وَأَنْتُمُ
الْيَوْمَ لِلَّهِ” (Dan kalian hari ini adalah
milik Allah). Beliau memerintahkan Bilal: “Berikanlah kepada rombongan Bajilah,
dan mulailah dengan suku Ahmas.” Bilal pun melakukannya.
Setelah Jarir masuk Islam, Rasulullah ﷺ bersabda
kepadanya: “أَلَا
تُرِيحُنِي مِنْ ذِي الْخَلَصَةِ؟”
Artinya: “Tidakkah engkau membebaskanku dari (berhala) Dzul Khalashah?”
Dzul Khalashah adalah sebuah rumah ibadah (berhala) di Yaman
milik suku Khats'am yang mereka jadikan tandingan Ka'bah. Jarir pun berangkat
bersama seratus lima puluh orang dari suku Ahmas — mereka adalah pasukan
berkuda. Jarir mengeluh kepada Rasulullah ﷺ bahwa ia tidak kuat menunggang kuda. Maka
Rasulullah ﷺ
menepuk dadanya dan berdoa:
“اللَّهُمَّ
ثَبِّتْهُ، وَاجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا”
Artinya: “Ya Allah, teguhkanlah dia (di atas kuda), dan
jadikanlah dia pemberi petunjuk serta orang yang mendapat petunjuk.”
Setelah itu, Jarir tidak pernah jatuh lagi dari kudanya. Ia
pergi bersama pasukannya hingga tiba di tempat berhala itu, lalu menghancurkannya
dan membakarnya. Ia mengirim utusan kepada Rasulullah ﷺ menyampaikan kabar
gembira tersebut. Rasulullah ﷺ
pun memberkati kuda-kuda dan pasukan Ahmas sebanyak lima kali (HR. Bukhari dan
Muslim).
Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah
Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar
Posting Komentar