Tahun Delegasi: Kisah Para Utusan yang Datang Menghadap Rasulullah ﷺ

halaman terbuka di Madinah dengan latar belakang pepohonan kurma dan rumah-rumah tanah liat. Di tengah, sekelompok laki-laki berpakaian khas Yaman (dengan sorban dan selendang bercorak) berdiri dengan wajah berseri-seri, tangan terangkat seolah menyambut kabar gembira. Di depan mereka, seorang tokoh utama berjubah putih digambarkan dari sudut belakang, sedikit menoleh ke samping seolah sedang berbicara. Sebagian dari mereka memegang dada dengan sikap hormat. Langit biru cerah dengan awan tipis. Suasana penuh kegembiraan, ketulusan, dan kerendahan hati.

Setelah Fathu Makkah dan Perang Tabuk, wibawa Islam semakin kokoh. Seluruh Jazirah Arab mulai berbondong-bondong mengirim utusan ke Madinah. Tahun ke-9 Hijriah pun dikenal sebagai Sanat al-Wufūd (Tahun Para Delegasi). Berikut adalah kisah beberapa delegasi yang paling terkenal dan penuh hikmah.


Delegasi Thayyi' dan Keislaman 'Adi bin Hatim

Kisah Latar: Saffanah, Saudari 'Adi, yang Dimuliakan

Sebelumnya, Rasulullah pernah membebaskan Saffanah, saudari 'Adi bin Hatim, saat ia menjadi tawanan perang dari suku Thayyi'. Kemudian Saffanah pergi ke Syam menemui 'Adi yang melarikan diri bersama keluarganya ketika mendengar pasukan Muslim datang. Saffanah menasihati saudaranya: “Pergilah menghadap Muhammad dan masuk Islamlah.”

'Adi Masuk ke Masjid Nabawi

'Adi pun pergi ke Madinah. Ia masuk ke Masjid Nabawi dan memberi salam kepada Rasulullah . Beliau bertanya: مَنِ الرَّجُلُ؟ (Siapa laki-laki itu?) 'Adi menjawab, “'Adi bin Hatim.” Rasulullah bersabda: يَا عَدِيُّ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ (Wahai 'Adi, masuk Islamlah niscaya engkau selamat) – tiga kali.

'Adi berkata, “Aku masih memegang agamaku (Nasrani).” Rasulullah bersabda: أَنَا أَعْلَمُ بِدِينِكَ مِنْكَ!! أَلَسْتَ رَكُوسِيًّا، وَأَنْتَ تَأْكُلُ مُرْبَاعَ قَوْمِكَ؟ (Aku lebih tahu agamamu daripada dirimu sendiri! Bukankah engkau penganut Rakusiyah [agama antara Nasrani dan Sabi'ah], dan engkau memakan seperempat rampasan perang kaummu?) 'Adi mengakui: “Benar.” Beliau bersabda: “Itu tidak halal dalam agamamu.” 'Adi pun mengakui kebenarannya.

Tiga Ramalan Kenabian yang Membuat 'Adi Terkesima

'Adi melihat sendiri kerendahan hati Rasulullah dan pergaulan beliau dengan orang banyak. Ia yakin bahwa ini bukanlah sikap seorang raja, melainkan seorang nabi. Rasulullah lalu bersabda:

لَعَلَّكَ يَا عَدِيُّ إِنَّمَا يَمْنَعُكَ مِنْ دُخُولِ هَذَا الدِّينِ مَا تَرَى مِنْ حَاجَتِهِمْ، فَوَاللَّهِ لَيُوشِكَنَّ الْمَالُ أَنْ يَفِيضَ فِيهِمْ حَتَّى لَا يُوجَدَ مَنْ يَأْخُذُهُ، وَلَعَلَّكَ إِنَّمَا يَمْنَعُكَ مِنْ دُخُولِكَ فِيهِ مَا تَرَى مِنْ كَثْرَةِ عَدُوِّهِمْ وَقِلَّةِ عَدَدِهِمْ، فَوَاللَّهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ تَسْمَعَ بِالْمَرْأَةِ تَخْرُجُ مِنَ الْقَادِسِيَّةِ عَلَى بَعِيرِهَا حَتَّى تَزُورَ هَذَا الْبَيْتَ، وَلَعَلَّكَ إِنَّمَا يَمْنَعُكَ مِنْ دُخُولِكَ فِيهِ أَنَّكَ تَرَى أَنَّ الْمُلْكَ وَالسُّلْطَانَ فِي غَيْرِهِمْ، وَايْمُ اللَّهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ تَسْمَعَ بِالْقُصُورِ الْبِيضِ مِنْ أَرْضِ بَابِلَ قَدْ فُتِحَتْ عَلَيْهِمْ

Artinya: “Wahai 'Adi, mungkin yang menghalangimu masuk Islam adalah apa yang engkau lihat dari kebutuhan mereka (kaum Muslimin yang miskin). Demi Allah, sungguh hampir saja harta melimpah di tengah-tengah mereka hingga tidak ada orang yang mau menerimanya. Dan mungkin yang menghalangimu adalah apa yang engkau lihat dari banyaknya musuh mereka dan sedikitnya jumlah mereka. Demi Allah, sungguh hampir saja engkau mendengar seorang wanita berangkat dari Qadisiyyah (Irak) dengan menaiki untanya untuk berziarah ke Baitullah (Ka'bah) dalam keadaan aman. Dan mungkin yang menghalangimu adalah engkau melihat bahwa kekuasaan dan kerajaan berada di tangan selain mereka. Demi Allah, sungguh hampir saja engkau mendengar istana-istana putih di tanah Babil (Persia) ditaklukkan oleh mereka.”

'Adi bin Hatim pun masuk Islam dan menjadi muslim yang baik. Ia ikut serta dalam penaklukan Persia. Ia kemudian menyaksikan sendiri dua dari tiga ramalan itu terjadi: wanita bepergian sendirian dari Irak ke Mekah dengan aman, dan istana-istana Persia jatuh ke tangan Muslim. Ia selalu berkata, “Demi Allah, pasti ramalan ketiga akan terjadi pula.”


Zaid al-Khail: Dari 'Zaid Kuda' Menjadi 'Zaid Kebaikan'

Kedatangan Sang Pemuka Suku Thayyi'

Delegasi suku Thayyi' juga datang kepada Rasulullah . Di antara mereka ada Zaid al-Khail (yang berarti “Zaid Kuda”), pemuka mereka yang terkenal. Beliau menawarkan Islam kepada mereka, dan mereka pun masuk Islam dengan baik.

Rasulullah memberi hadiah kepada setiap orang lima uqqiyah perak, dan memberi Zaid dua belas uqqiyah lebih. Beliau bersabda:

مَا ذُكِرَ لِي رَجُلٌ مِنَ الْعَرَبِ بِفَضْلٍ ثُمَّ جَاءَنِي إِلَّا رَأَيْتُهُ دُونَ مَا يُقَالُ فِيهِ إِلَّا زَيْدَ الْخَيْلِ، فَإِنَّهُ لَمْ يَبْلُغِ الَّذِي فِيهِ

Artinya: “Tidaklah disebutkan kepadaku keutamaan seorang laki-laki dari Arab kemudian ia datang kepadaku, melainkan aku dapati ia kurang dari apa yang dikatakan tentangnya, kecuali Zaid al-Khail. Sesungguhnya ia tidak mencapai (puncak) keutamaan yang sesungguhnya ada padanya.”

Kemudian beliau menamainya Zaid al-Khair (Zaid Kebaikan). Beliau memberinya sebidang tanah dan menulis surat untuknya. Namun dalam perjalanan pulang, Zaid meninggal. Istrinya membakar semua surat yang ada padanya, termasuk surat pemberian Rasulullah .


Delegasi Bani 'Amir: Niat Jahat yang Berakhir Binasa

Tawaran yang Ditolak dan Konspirasi Pembunuhan

Delegasi Bani 'Amir datang kepada Rasulullah . Di antara mereka ada 'Amir bin ath-Thufail dan Arbad bin Qais. 'Amir berkata: “Wahai Muhammad, apa yang akan engkau berikan kepadaku jika aku masuk Islam?” Rasulullah menjawab: لَكَ مَا لِلْمُسْلِمِينَ وَعَلَيْكَ مَا عَلَيْهِمْ (Bagimu apa yang kaum Muslimin dapatkan dan bagimu kewajiban seperti kewajiban mereka). 'Amir bertanya lagi: “Apakah engkau akan menyerahkan urusan (kekuasaan) setelahmu kepadaku?” Rasulullah bersabda: لَيْسَ ذَلِكَ لَكَ وَلَا لِقَوْمِكَ، وَلَكِنْ لَكَ أَعِنَّةُ الْخَيْلِ (Tidak, itu bukan untukmu dan bukan untuk kaummu. Tetapi bagimu kendali kuda-kuda perang). 'Amir berkata, “Kalau begitu, aku akan memenuhinya (Mekah) dengan pasukan berkuda dan pasukan berjalan.” Rasulullah berdoa: اللَّهُمَّ اكْفِنِي عَامِرَ بْنَ الطُّفَيْلِ (Ya Allah, cukupkanlah aku dari kejahatan 'Amir bin ath-Thufail).

Mereka berdua telah bersepakat untuk membunuh Rasulullah , tetapi Allah melindungi beliau. Ketika mereka kembali, 'Amir singgah di rumah seorang wanita dari Bani Salul. Ia terkena penyakit guddah (benjolan di leher seperti yang biasa menyerang unta). Ia berkata, “Penyakit seperti penyakit unta? Mati di rumah wanita Saluli?” Ia lalu naik ke atas kudanya, mengambil tombaknya, dan terus memacu kudanya hingga jatuh dan mati.

Adapun Arbad, ketika sampai di kampungnya, ia berkata: “Demi Allah, dia mengajak kita menyembah sesuatu yang aku ingin saat ini ada di hadapanku sehingga aku bisa memanahnya sampai mati.” Tidak lama kemudian, ia keluar dengan seekor untanya untuk dijual, lalu Allah mengirimkan petir yang menyambar dirinya dan untanya, membakar keduanya.

Tentang 'Amir dan Arbad inilah Allah menurunkan ayat:

اللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ أُنْثَىٰ وَمَا تَغِيضُ الْأَرْحَامُ وَمَا تَزْدَادُ ۖ وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِمِقْدَارٍ ... وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ

Artinya: “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, apa yang kurang sempurna dan apa yang bertambah dalam rahim. Dan segala sesuatu di sisi-Nya ada ukurannya ... Dan Dia Maha Kuat siksa-Nya.” (QS. Ar-Ra'd: 8-13)


Utusan Raja-Raja Himyar dan Surat Rasulullah

Pada bulan Ramadhan tahun ke-9 Hijriah, setelah Rasulullah kembali dari Tabuk, datanglah Malik bin Murarah ar-Rahawi sebagai utusan raja-raja Himyar (Yaman) yang menyatakan masuk Islam. Rasulullah memerintahkan Bilal untuk memuliakannya.

Beliau menulis surat kepada raja-raja Himyar, antara lain kepada Al-Harits bin 'Abdi KilalNu'aim bin 'Abdi Kilal, dan An-Nu'man (Qail Dzu Ra'īn, Ma'āfir, dan Hamdan). Isinya antara lain:

“Bismillāhirrahmānirrahīm. Dari Muhammad, Rasulullah, Nabi, kepada Al-Harits bin 'Abdi Kilal... Amma ba'du: Sungguh aku memuji kepada kalian Allah yang tiada tuhan selain Dia. Utusan kalian telah tiba di Madinah sepulang kami dari negeri Romawi, menyampaikan apa yang kalian utus, mengabarkan keadaan kalian, memberitahukan keislaman kalian, pembunuhan kalian terhadap orang-orang musyrik, dan bahwa Allah telah memberi petunjuk kepada kalian. Maka perbaikilah diri kalian, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berikanlah seperlima rampasan perang untuk Allah, Rasul, dan bagian beliau...”

Surat ini juga menjelaskan ketentuan zakat pertanian, unta, sapi, dan kambing.


Delegasi Yaman: Hati yang Lembut dan Penuh Kearifan

Orang Yaman Lebih Menerima Kabar Gembira

Delegasi Yaman datang pada tahun ke-9 Hijriah. Ketika itu delegasi Bani Tamim sedang berada di hadapan Rasulullah . Beliau bersabda kepada Bani Tamim: أَبْشِرُوا يَا بَنِي تَمِيمٍ (Bergembiralah wahai Bani Tamim). Mereka berkata, “Engkau telah memberi kabar gembira, maka berilah kami (hadiah).” Wajah Rasulullah berubah. Kemudian datanglah orang-orang Yaman, dan beliau bersabda:

اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا أَهْلَ الْيَمَنِ إِذْ لَمْ يَقْبَلْهَا بَنُو تَمِيمٍ

Artinya: “Terimalah kabar gembira ini wahai penduduk Yaman, karena Bani Tamim tidak mau menerimanya.”

Mereka berkata, “Kami telah menerimanya, wahai Rasulullah. Kami datang untuk mendalami agama dan bertanya kepadamu tentang awal mula segala sesuatu.” Beliau menjawab: كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ قَبْلَهُ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ، ثُمَّ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ (Allah itu ada dan tidak ada sesuatu pun sebelum-Nya. Arasy-Nya di atas air. Kemudian Dia menciptakan langit dan bumi, dan menuliskan segala sesuatu di dalam adz-Dzikr [Lauh Mahfuzh]).

Pujian Rasulullah untuk Penduduk Yaman

Rasulullah bersabda:

أَتَاكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ، هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً، وَأَلْيَنُ قُلُوبًا. الْإِيمَانُ يَمَانٍ، وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَةٌ، وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي أَصْحَابِ الْإِبِلِ، وَالسَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ

Artinya: “Telah datang kepada kalian penduduk Yaman. Mereka paling lembut perasaannya dan paling lunak hatinya. Iman itu Yaman, hikmah itu Yaman, kesombongan dan keangkuhan ada pada pemilik unta, sedangkan ketenangan dan kewibawaan ada pada pemilik kambing.” (HR. Bukhari)


Delegasi Wail bin Hujr: Doa Khusus untuk Keturunannya

Wail bin Hujr bin Rabi'ah, salah seorang raja di Yaman, datang menghadap. Rasulullah telah memberi kabar kepada para sahabat: يَأْتِيكُمْ بَقِيَّةُ أَبْنَاءِ الْمُلُوكِ (Akan datang kepada kalian sisa-sisa keturunan raja-raja). Ketika Wail masuk, beliau menyambutnya, mendudukkannya dekat dengan beliau, menghamparkan selendangnya untuknya, dan berdoa:

اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي وَائِلٍ وَوَلَدِهِ، وَوَلَدِ وَلَدِهِ

Artinya: “Ya Allah, berkahilah Wail, anak-anaknya, dan cucu-cucunya.”

Beliau juga mengangkatnya sebagai pemimpin atas para aqyāl (pembantu raja) di Hadhramaut.


Delegasi Al-Azd: Lima Belas Sifat yang Mengagumkan

Delegasi suku Azd dari Yaman datang. Rasulullah mengagumi penampilan dan sikap mereka. Beliau bertanya, “Siapa kalian?” Mereka menjawab, “Kami orang-orang beriman.” Beliau bertanya lebih lanjut tentang hakikat keimanan mereka. Mereka menyebutkan lima belas sifat: lima yang diperintahkan para utusan untuk diimani, lima yang diperintahkan untuk diamalkan, dan lima yang mereka warisi dari masa jahiliah.

Lima yang diimani: iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kebangkitan setelah mati.

Lima yang diamalkan: mengucapkan Lā ilāha illallāh, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.

Lima warisan jahiliah: bersyukur di waktu lapang, sabar di waktu sulit, rela terhadap ketetapan yang pahit, jujur di medan pertemuan (perang), dan tidak bergembira atas musibah yang menimpa musuh.

Mendengar itu, Rasulullah bersabda:

حُكَمَاءُ عُلَمَاءُ، كَادُوا مِنْ فِقْهِهِمْ أَنْ يَكُونُوا أَنْبِيَاءَ

Artinya: “Mereka adalah orang-orang bijak dan pandai. Hampir-hampir karena kefakihan mereka, mereka menjadi nabi.”


Delegasi Al-Asy'ats bin Qais: Menanggalkan Pakaian Kebanggaan

Al-Asy'ats bin Qais datang dengan delapan puluh penunggang kuda dari bangsawan Kindah. Mereka telah menyisir rambut mereka, memakai celak, dan mengenakan jubah hibarah yang dilapisi sutra. Ketika mereka masuk ke masjid, Rasulullah bertanya: أَلَمْ تُسْلِمُوا؟ (Bukankah kalian telah masuk Islam?) Mereka menjawab, “Benar.” Beliau bertanya: فَمَا بَالُ هَذَا الْحَرِيرِ فِي أَعْنَاقِكُمْ؟ (Lalu mengapa ada sutra di leher kalian?) Maka mereka menyobek sutra itu dan membuangnya. Mereka masuk Islam.

Setelah Nabi wafat, Al-Asy'ats sempat murtad bersama kaum Kindah, kemudian ia ditawan dan dibawa kepada Abu Bakar. Ia menyesal, kembali ke Islam, dan Abu Bakar menikahkannya dengan saudarinya, Ummu Farwah. Ia kemudian menjadi baik dan ikut serta dalam penaklukan Islam.


Delegasi Ad-Dariyyin: Tamim Ad-Dari dan Saudaranya

Delegasi Ad-Dariyyin (dari kabilah Lakhmi, nasab kepada Ad-Dār) datang sepulang Rasulullah dari Tabuk. Mereka sepuluh orang, termasuk Tamim ad-Dari dan saudaranya Nu'aim. Mereka dulunya Nasrani, lalu masuk Islam dan menetap di Madinah hingga wafatnya Rasulullah . Nabi memberikan sebidang tanah di Syam kepada Tamim. Setelah Abu Bakar menjadi khalifah, beliau tetap memberikannya.


Delegasi Taghlib: Perjanjian dengan Nasrani

Delegasi suku Taghlib datang, berjumlah enam belas orang—sebagian Muslim, sebagian Nasrani. Mereka membawa salib emas. Mereka singgah di rumah Ramlah binti al-Harits (yang disediakan untuk delegasi). Rasulullah mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang Nasrani dari mereka: mereka tetap boleh menjalankan agama mereka dengan syarat tidak membaptis anak-anak mereka ke dalam agama Nasrani. Beliau juga memberikan hadiah kepada orang-orang Muslim di antara mereka.


Penutup: Islam Mencakup Seluruh Jazirah

Dengan semua delegasi yang datang silih berganti, Allah meninggikan agama-Nya di atas segala agama. Seluruh Jazirah Arab, dari perbatasan Syam hingga Hadhramaut, tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya. Hanya sebagian kecil suku Arab yang belum masuk Islam, dan mereka segera menyusul pada tahun ke-10 Hijriah. Inilah bukti kebenaran firman Allah:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ . وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا

Artinya: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong...” (QS. An-Nashr: 1-2)


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perang Tabuk: Pelajaran dari Mereka yang Tertinggal

Tafsir Singkat Ayat-Ayat Perang Tabuk

Ketika Tsaqif Datang: Kisah Pengorbanan 'Urwah dan Keislaman yang Penuh Syarat