Tahun Delegasi: Kisah Para Utusan yang Datang Menghadap Rasulullah ﷺ
Setelah Fathu Makkah dan Perang Tabuk, wibawa Islam semakin kokoh. Seluruh Jazirah Arab mulai berbondong-bondong mengirim utusan ke Madinah. Tahun ke-9 Hijriah pun dikenal sebagai Sanat al-Wufūd (Tahun Para Delegasi). Berikut adalah kisah beberapa delegasi yang paling terkenal dan penuh hikmah.
Delegasi Thayyi' dan Keislaman 'Adi bin Hatim
Kisah Latar: Saffanah, Saudari 'Adi, yang Dimuliakan
Sebelumnya, Rasulullah ﷺ pernah membebaskan Saffanah,
saudari 'Adi bin Hatim, saat ia menjadi tawanan perang dari suku
Thayyi'. Kemudian Saffanah pergi ke Syam menemui 'Adi yang melarikan diri
bersama keluarganya ketika mendengar pasukan Muslim datang. Saffanah menasihati
saudaranya: “Pergilah menghadap Muhammad dan masuk Islamlah.”
'Adi Masuk ke Masjid Nabawi
'Adi pun pergi ke Madinah. Ia masuk ke Masjid Nabawi dan
memberi salam kepada Rasulullah ﷺ. Beliau bertanya: “مَنِ الرَّجُلُ؟” (Siapa
laki-laki itu?) 'Adi menjawab, “'Adi bin Hatim.” Rasulullah ﷺ bersabda: “يَا عَدِيُّ،
أَسْلِمْ تَسْلَمْ” (Wahai 'Adi, masuk Islamlah
niscaya engkau selamat) – tiga kali.
'Adi berkata, “Aku masih memegang agamaku (Nasrani).”
Rasulullah ﷺ
bersabda: “أَنَا
أَعْلَمُ بِدِينِكَ مِنْكَ!! أَلَسْتَ رَكُوسِيًّا، وَأَنْتَ تَأْكُلُ مُرْبَاعَ
قَوْمِكَ؟” (Aku lebih tahu agamamu daripada dirimu sendiri!
Bukankah engkau penganut Rakusiyah [agama antara Nasrani dan
Sabi'ah], dan engkau memakan seperempat rampasan perang kaummu?) 'Adi mengakui:
“Benar.” Beliau bersabda: “Itu tidak halal dalam agamamu.” 'Adi pun mengakui
kebenarannya.
Tiga Ramalan Kenabian yang Membuat 'Adi Terkesima
'Adi melihat sendiri kerendahan hati Rasulullah ﷺ
dan pergaulan beliau dengan orang banyak. Ia yakin bahwa ini bukanlah sikap
seorang raja, melainkan seorang nabi. Rasulullah ﷺ lalu bersabda:
“لَعَلَّكَ
يَا عَدِيُّ إِنَّمَا يَمْنَعُكَ مِنْ دُخُولِ هَذَا الدِّينِ مَا تَرَى مِنْ
حَاجَتِهِمْ، فَوَاللَّهِ لَيُوشِكَنَّ الْمَالُ أَنْ يَفِيضَ فِيهِمْ حَتَّى لَا
يُوجَدَ مَنْ يَأْخُذُهُ، وَلَعَلَّكَ إِنَّمَا يَمْنَعُكَ مِنْ دُخُولِكَ فِيهِ
مَا تَرَى مِنْ كَثْرَةِ عَدُوِّهِمْ وَقِلَّةِ عَدَدِهِمْ، فَوَاللَّهِ
لَيُوشِكَنَّ أَنْ تَسْمَعَ بِالْمَرْأَةِ تَخْرُجُ مِنَ الْقَادِسِيَّةِ عَلَى
بَعِيرِهَا حَتَّى تَزُورَ هَذَا الْبَيْتَ، وَلَعَلَّكَ إِنَّمَا يَمْنَعُكَ مِنْ
دُخُولِكَ فِيهِ أَنَّكَ تَرَى أَنَّ الْمُلْكَ وَالسُّلْطَانَ فِي غَيْرِهِمْ،
وَايْمُ اللَّهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ تَسْمَعَ بِالْقُصُورِ الْبِيضِ مِنْ أَرْضِ
بَابِلَ قَدْ فُتِحَتْ عَلَيْهِمْ”
Artinya: “Wahai 'Adi, mungkin yang menghalangimu masuk
Islam adalah apa yang engkau lihat dari kebutuhan mereka (kaum Muslimin yang
miskin). Demi Allah, sungguh hampir saja harta melimpah di tengah-tengah mereka
hingga tidak ada orang yang mau menerimanya. Dan mungkin yang menghalangimu
adalah apa yang engkau lihat dari banyaknya musuh mereka dan sedikitnya jumlah
mereka. Demi Allah, sungguh hampir saja engkau mendengar seorang wanita
berangkat dari Qadisiyyah (Irak) dengan menaiki untanya untuk berziarah ke
Baitullah (Ka'bah) dalam keadaan aman. Dan mungkin yang menghalangimu adalah
engkau melihat bahwa kekuasaan dan kerajaan berada di tangan selain mereka.
Demi Allah, sungguh hampir saja engkau mendengar istana-istana putih di tanah
Babil (Persia) ditaklukkan oleh mereka.”
'Adi bin Hatim pun masuk Islam dan menjadi muslim yang baik.
Ia ikut serta dalam penaklukan Persia. Ia kemudian menyaksikan sendiri dua dari
tiga ramalan itu terjadi: wanita bepergian sendirian dari Irak ke Mekah dengan
aman, dan istana-istana Persia jatuh ke tangan Muslim. Ia selalu berkata, “Demi
Allah, pasti ramalan ketiga akan terjadi pula.”
Zaid al-Khail: Dari 'Zaid Kuda' Menjadi 'Zaid Kebaikan'
Kedatangan Sang Pemuka Suku Thayyi'
Delegasi suku Thayyi' juga datang kepada Rasulullah ﷺ.
Di antara mereka ada Zaid al-Khail (yang berarti “Zaid Kuda”),
pemuka mereka yang terkenal. Beliau menawarkan Islam kepada mereka, dan mereka
pun masuk Islam dengan baik.
Rasulullah ﷺ
memberi hadiah kepada setiap orang lima uqqiyah perak, dan
memberi Zaid dua belas uqqiyah lebih. Beliau bersabda:
“مَا
ذُكِرَ لِي رَجُلٌ مِنَ الْعَرَبِ بِفَضْلٍ ثُمَّ جَاءَنِي إِلَّا رَأَيْتُهُ
دُونَ مَا يُقَالُ فِيهِ إِلَّا زَيْدَ الْخَيْلِ، فَإِنَّهُ لَمْ يَبْلُغِ
الَّذِي فِيهِ”
Artinya: “Tidaklah disebutkan kepadaku keutamaan seorang
laki-laki dari Arab kemudian ia datang kepadaku, melainkan aku dapati ia kurang
dari apa yang dikatakan tentangnya, kecuali Zaid al-Khail. Sesungguhnya ia
tidak mencapai (puncak) keutamaan yang sesungguhnya ada padanya.”
Kemudian beliau menamainya Zaid al-Khair (Zaid
Kebaikan). Beliau memberinya sebidang tanah dan menulis surat untuknya. Namun
dalam perjalanan pulang, Zaid meninggal. Istrinya membakar semua surat yang ada
padanya, termasuk surat pemberian Rasulullah ﷺ.
Delegasi Bani 'Amir: Niat Jahat yang Berakhir Binasa
Tawaran yang Ditolak dan Konspirasi Pembunuhan
Delegasi Bani 'Amir datang kepada Rasulullah ﷺ.
Di antara mereka ada 'Amir bin ath-Thufail dan Arbad
bin Qais. 'Amir berkata: “Wahai Muhammad, apa yang akan engkau berikan
kepadaku jika aku masuk Islam?” Rasulullah ﷺ menjawab: “لَكَ مَا
لِلْمُسْلِمِينَ وَعَلَيْكَ مَا عَلَيْهِمْ” (Bagimu apa
yang kaum Muslimin dapatkan dan bagimu kewajiban seperti kewajiban mereka).
'Amir bertanya lagi: “Apakah engkau akan menyerahkan urusan (kekuasaan)
setelahmu kepadaku?” Rasulullah ﷺ bersabda: “لَيْسَ ذَلِكَ لَكَ وَلَا لِقَوْمِكَ، وَلَكِنْ
لَكَ أَعِنَّةُ الْخَيْلِ” (Tidak, itu bukan untukmu dan
bukan untuk kaummu. Tetapi bagimu kendali kuda-kuda perang). 'Amir berkata,
“Kalau begitu, aku akan memenuhinya (Mekah) dengan pasukan berkuda dan pasukan
berjalan.” Rasulullah ﷺ
berdoa: “اللَّهُمَّ
اكْفِنِي عَامِرَ بْنَ الطُّفَيْلِ” (Ya Allah, cukupkanlah aku dari
kejahatan 'Amir bin ath-Thufail).
Mereka berdua telah bersepakat untuk membunuh Rasulullah ﷺ,
tetapi Allah melindungi beliau. Ketika mereka kembali, 'Amir singgah di rumah
seorang wanita dari Bani Salul. Ia terkena penyakit guddah (benjolan
di leher seperti yang biasa menyerang unta). Ia berkata, “Penyakit seperti
penyakit unta? Mati di rumah wanita Saluli?” Ia lalu naik ke atas kudanya,
mengambil tombaknya, dan terus memacu kudanya hingga jatuh dan mati.
Adapun Arbad, ketika sampai di kampungnya, ia berkata: “Demi
Allah, dia mengajak kita menyembah sesuatu yang aku ingin saat ini ada di
hadapanku sehingga aku bisa memanahnya sampai mati.” Tidak lama kemudian, ia
keluar dengan seekor untanya untuk dijual, lalu Allah mengirimkan petir yang
menyambar dirinya dan untanya, membakar keduanya.
Tentang 'Amir dan Arbad inilah Allah menurunkan ayat:
اللَّهُ
يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ أُنْثَىٰ وَمَا تَغِيضُ الْأَرْحَامُ وَمَا تَزْدَادُ
ۖ وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِمِقْدَارٍ ... وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ
Artinya: “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap
perempuan, apa yang kurang sempurna dan apa yang bertambah dalam rahim. Dan
segala sesuatu di sisi-Nya ada ukurannya ... Dan Dia Maha Kuat siksa-Nya.” (QS.
Ar-Ra'd: 8-13)
Utusan Raja-Raja Himyar dan Surat Rasulullah ﷺ
Pada bulan Ramadhan tahun ke-9 Hijriah, setelah Rasulullah ﷺ
kembali dari Tabuk, datanglah Malik bin Murarah ar-Rahawi sebagai
utusan raja-raja Himyar (Yaman) yang menyatakan masuk Islam.
Rasulullah ﷺ
memerintahkan Bilal untuk memuliakannya.
Beliau menulis surat kepada raja-raja Himyar, antara lain
kepada Al-Harits bin 'Abdi Kilal, Nu'aim bin 'Abdi Kilal,
dan An-Nu'man (Qail Dzu Ra'īn, Ma'āfir, dan Hamdan). Isinya
antara lain:
“Bismillāhirrahmānirrahīm. Dari Muhammad, Rasulullah,
Nabi, kepada Al-Harits bin 'Abdi Kilal... Amma ba'du: Sungguh aku memuji kepada
kalian Allah yang tiada tuhan selain Dia. Utusan kalian telah tiba di Madinah
sepulang kami dari negeri Romawi, menyampaikan apa yang kalian utus,
mengabarkan keadaan kalian, memberitahukan keislaman kalian, pembunuhan kalian
terhadap orang-orang musyrik, dan bahwa Allah telah memberi petunjuk kepada
kalian. Maka perbaikilah diri kalian, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dirikanlah
salat, tunaikanlah zakat, dan berikanlah seperlima rampasan perang untuk Allah,
Rasul, dan bagian beliau...”
Surat ini juga menjelaskan ketentuan zakat pertanian, unta,
sapi, dan kambing.
Delegasi Yaman: Hati yang Lembut dan Penuh Kearifan
Orang Yaman Lebih Menerima Kabar Gembira
Delegasi Yaman datang pada tahun ke-9 Hijriah. Ketika itu
delegasi Bani Tamim sedang berada di hadapan Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda
kepada Bani Tamim: “أَبْشِرُوا يَا بَنِي تَمِيمٍ” (Bergembiralah
wahai Bani Tamim). Mereka berkata, “Engkau telah memberi kabar gembira, maka
berilah kami (hadiah).” Wajah Rasulullah ﷺ berubah. Kemudian datanglah orang-orang
Yaman, dan beliau bersabda:
“اقْبَلُوا
الْبُشْرَى يَا أَهْلَ الْيَمَنِ إِذْ لَمْ يَقْبَلْهَا بَنُو تَمِيمٍ”
Artinya: “Terimalah kabar gembira ini wahai penduduk
Yaman, karena Bani Tamim tidak mau menerimanya.”
Mereka berkata, “Kami telah menerimanya, wahai Rasulullah.
Kami datang untuk mendalami agama dan bertanya kepadamu tentang awal mula
segala sesuatu.” Beliau menjawab: “كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ قَبْلَهُ،
وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ، ثُمَّ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ،
وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ” (Allah itu ada dan tidak ada
sesuatu pun sebelum-Nya. Arasy-Nya di atas air. Kemudian Dia menciptakan langit
dan bumi, dan menuliskan segala sesuatu di dalam adz-Dzikr [Lauh
Mahfuzh]).
Pujian Rasulullah untuk Penduduk Yaman
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“أَتَاكُمْ
أَهْلُ الْيَمَنِ، هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً، وَأَلْيَنُ قُلُوبًا. الْإِيمَانُ
يَمَانٍ، وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَةٌ، وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ فِي أَصْحَابِ
الْإِبِلِ، وَالسَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ فِي أَهْلِ الْغَنَمِ”
Artinya: “Telah datang kepada kalian penduduk Yaman.
Mereka paling lembut perasaannya dan paling lunak hatinya. Iman itu Yaman,
hikmah itu Yaman, kesombongan dan keangkuhan ada pada pemilik unta, sedangkan
ketenangan dan kewibawaan ada pada pemilik kambing.” (HR. Bukhari)
Delegasi Wail bin Hujr: Doa Khusus untuk Keturunannya
Wail bin Hujr bin Rabi'ah, salah seorang raja di
Yaman, datang menghadap. Rasulullah ﷺ telah memberi kabar kepada para sahabat: “يَأْتِيكُمْ
بَقِيَّةُ أَبْنَاءِ الْمُلُوكِ” (Akan datang kepada kalian
sisa-sisa keturunan raja-raja). Ketika Wail masuk, beliau menyambutnya,
mendudukkannya dekat dengan beliau, menghamparkan selendangnya untuknya, dan
berdoa:
“اللَّهُمَّ
بَارِكْ فِي وَائِلٍ وَوَلَدِهِ، وَوَلَدِ وَلَدِهِ”
Artinya: “Ya Allah, berkahilah Wail, anak-anaknya, dan
cucu-cucunya.”
Beliau juga mengangkatnya sebagai pemimpin atas para aqyāl (pembantu
raja) di Hadhramaut.
Delegasi Al-Azd: Lima Belas Sifat yang Mengagumkan
Delegasi suku Azd dari Yaman datang.
Rasulullah ﷺ
mengagumi penampilan dan sikap mereka. Beliau bertanya, “Siapa kalian?” Mereka
menjawab, “Kami orang-orang beriman.” Beliau bertanya lebih lanjut tentang
hakikat keimanan mereka. Mereka menyebutkan lima belas sifat: lima
yang diperintahkan para utusan untuk diimani, lima yang diperintahkan untuk
diamalkan, dan lima yang mereka warisi dari masa jahiliah.
Lima yang diimani: iman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kebangkitan
setelah mati.
Lima yang diamalkan: mengucapkan Lā
ilāha illallāh, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan
berhaji ke Baitullah.
Lima warisan jahiliah: bersyukur di waktu
lapang, sabar di waktu sulit, rela terhadap ketetapan yang pahit, jujur di
medan pertemuan (perang), dan tidak bergembira atas musibah yang menimpa musuh.
Mendengar itu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“حُكَمَاءُ
عُلَمَاءُ، كَادُوا مِنْ فِقْهِهِمْ أَنْ يَكُونُوا أَنْبِيَاءَ”
Artinya: “Mereka adalah orang-orang bijak dan pandai.
Hampir-hampir karena kefakihan mereka, mereka menjadi nabi.”
Delegasi Al-Asy'ats bin Qais: Menanggalkan Pakaian
Kebanggaan
Al-Asy'ats bin Qais datang dengan delapan puluh
penunggang kuda dari bangsawan Kindah. Mereka telah menyisir rambut mereka,
memakai celak, dan mengenakan jubah hibarah yang dilapisi
sutra. Ketika mereka masuk ke masjid, Rasulullah ﷺ bertanya: “أَلَمْ
تُسْلِمُوا؟” (Bukankah kalian telah masuk Islam?) Mereka menjawab,
“Benar.” Beliau bertanya: “فَمَا بَالُ هَذَا الْحَرِيرِ فِي أَعْنَاقِكُمْ؟” (Lalu
mengapa ada sutra di leher kalian?) Maka mereka menyobek sutra itu dan
membuangnya. Mereka masuk Islam.
Setelah Nabi ﷺ wafat, Al-Asy'ats sempat murtad bersama kaum Kindah, kemudian
ia ditawan dan dibawa kepada Abu Bakar. Ia menyesal, kembali ke Islam, dan Abu
Bakar menikahkannya dengan saudarinya, Ummu Farwah. Ia kemudian
menjadi baik dan ikut serta dalam penaklukan Islam.
Delegasi Ad-Dariyyin: Tamim Ad-Dari dan Saudaranya
Delegasi Ad-Dariyyin (dari kabilah Lakhmi,
nasab kepada Ad-Dār) datang sepulang Rasulullah ﷺ dari Tabuk. Mereka sepuluh orang,
termasuk Tamim ad-Dari dan saudaranya Nu'aim.
Mereka dulunya Nasrani, lalu masuk Islam dan menetap di Madinah hingga wafatnya
Rasulullah ﷺ.
Nabi ﷺ
memberikan sebidang tanah di Syam kepada Tamim. Setelah Abu Bakar menjadi
khalifah, beliau tetap memberikannya.
Delegasi Taghlib: Perjanjian dengan Nasrani
Delegasi suku Taghlib datang, berjumlah
enam belas orang—sebagian Muslim, sebagian Nasrani. Mereka membawa salib emas.
Mereka singgah di rumah Ramlah binti al-Harits (yang
disediakan untuk delegasi). Rasulullah ﷺ mengadakan perjanjian damai dengan
orang-orang Nasrani dari mereka: mereka tetap boleh menjalankan agama mereka
dengan syarat tidak membaptis anak-anak mereka ke dalam agama Nasrani.
Beliau juga memberikan hadiah kepada orang-orang Muslim di antara mereka.
Penutup: Islam Mencakup Seluruh Jazirah
Dengan semua delegasi yang datang silih berganti, Allah
meninggikan agama-Nya di atas segala agama. Seluruh Jazirah Arab, dari
perbatasan Syam hingga Hadhramaut, tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya. Hanya
sebagian kecil suku Arab yang belum masuk Islam, dan mereka segera menyusul
pada tahun ke-10 Hijriah. Inilah bukti kebenaran firman Allah:
إِذَا
جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ . وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ
اللَّهِ أَفْوَاجًا
Artinya: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan
kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara
berbondong-bondong...” (QS. An-Nashr: 1-2)
Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah
Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar
Posting Komentar