Tahun Delegasi: Ketika Seluruh Jazirah Menyatakan Ketundukan
Latar Belakang: Tahun ke-9 Hijriah sebagai Titik Balik
Setelah Rasulullah ﷺ berhasil menaklukkan Mekah, kemudian suku
Hawazin masuk Islam, dan beliau kembali dari Perang Tabuk dengan wibawa Islam
yang semakin kokoh, serta suku Tsaqif (penduduk Thaif) datang menyatakan
keislaman, maka mulai berdatanganlah utusan-utusan (delegasi) dari
berbagai penjuru ke Madinah. Dalam sebuah riwayat dari Amr bin Salamah
disebutkan: “Orang-orang Arab dahulu menanti-nanti penaklukan Mekah
sebagai pertanda kenabian Muhammad. Mereka berkata: ‘Biarkan dia dan kaumnya.
Jika dia menang atas mereka, maka dia adalah nabi yang benar.’ Ketika
penaklukan terjadi, setiap kaum segera berbondong-bondong masuk Islam.”
Para sejarawan sepakat bahwa puncak kedatangan delegasi
terjadi pada tahun ke-9 Hijriah. Ibnu Hisyam meriwayatkan dari Abu
Ubaidah: *“Tahun ke-9 Hijriah dinamakan Tahun Delegasi.”* Al-Hafizh
Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa jumlah
delegasi yang tercatat lebih dari enam puluh. Namun perlu diketahui, tidak
semua delegasi datang di tahun 9; ada yang sebelumnya dan sesudahnya, namun
secara umum tahun inilah yang terkenal sebagai Sanat al-Wufud.
Berikut adalah kisah beberapa delegasi terpenting yang sarat
dengan pelajaran dan hikmah.
Delegasi Bani Tamim: Ajarannya Kesopanan dalam Berbicara
Peristiwa yang Memicu Kedatangan Mereka
Sebab kedatangan delegasi Bani Tamim adalah karena mereka
pernah menyerbu (mengganggu) sebagian orang dari suku Khuza'ah (sekutu Muslim).
Rasulullah ﷺ
lalu mengirim Uyainah bin Hishn al-Fazari bersama lima puluh
orang (tidak ada dari Anshar atau Muhajirin) untuk menangani masalah ini.
Pasukan itu berhasil menawan sebelas laki-laki, sebelas wanita, dan tiga puluh
anak-anak dari Bani Tamim.
Maka para pemuka Bani Tamim datang ke Madinah untuk menebus
tawanan mereka. Mereka adalah: Athard bin Hajib bin Zurarah, Al-Aqra'
bin Habis, Az-Zibriqan bin Badr, Amr bin al-Ahtam, dan Qais bin 'Ashim (sahabat
mulia yang terkenal). Mereka masuk ke masjid pada saat Bilal mengumandangkan
azhan zuhur, sementara orang-orang menunggu Rasulullah ﷺ keluar. Namun karena
ketidaksabaran, mereka mulai memanggil-manggil dari balik kamar-kamar
istri-istri Nabi: “Keluarlah wahai Muhammad! Sungguh pujian kami adalah
perhiasan, dan celaan kami adalah aib.” Mereka terus mengulangi
panggilan yang kasar dan tidak sopan itu.
Teguran Langit: Ayat tentang Sopan Santun
Rasulullah ﷺ
keluar dalam keadaan marah dan bersabda: “ذَاكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ” (Itulah
Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung). Lalu Allah menurunkan ayat teguran
karena perbuatan mereka:
إِنَّ
الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ.
وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّىٰ تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ
وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang memanggil engkau
(Muhammad) dari belakang kamar, kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan sekiranya
mereka bersabar sampai engkau keluar menemui mereka, tentu itu lebih baik bagi
mereka. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.
Al-Hujurat: 4-5)
Adu Bakat: Debat Antara Penyair dan Khatib
Setelah Rasulullah ﷺ keluar, mereka berkata: “Wahai Muhammad,
kami datang untuk bermegah-megahan (membanggakan kelebihan kami). Maka
izinkanlah penyair dan khatib kami.” Beliau bersabda: “Aku izinkan khatib
kalian, silakan.” Berdirilah Athard bin Hajib dan berpidato
dengan panjang lebar. Setelah selesai, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Tsabit bin Qais
bin Syammas (yang dikenal sebagai khatibnya Rasulullah): “Berdirilah
dan jawablah pidato orang itu.” Maka Tsabit berdiri dan berpidato dengan lebih
baik.
Kemudian Az-Zibriqan bin Badr, penyair mereka,
bangkit dan membacakan syairnya. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Hassan bin Tsabit:
“Wahai Hassan, jawablah syairnya.” Maka Hassan membacakan syair yang antara
lain berbunyi:
“Sesungguhnya keturunan Fihr dan saudara-saudara mereka…
telah menetapkan sunnah bagi manusia untuk diikuti…” (hingga selesai).
Setelah Hassan selesai, Al-Aqra' bin Habis berkata:
“Demi ayahku, sungguh orang ini (Muhammad) memang diberi kemenangan. Khatibnya
lebih pandai dari khatib kami, penyairnya lebih hebat dari penyair kami, dan
suara mereka lebih lantang dari suara kami.” Lalu mereka masuk Islam, dan
Rasulullah ﷺ
memberi mereka hadiah yang baik.
Pelajaran: Antara Pujian dan Celaan
Ada kejadian menarik ketika Rasulullah ﷺ bertanya kepada Amr
bin al-Ahtam tentang Az-Zibriqan bin Badr. Amr berkata:
“Dia ditaati di kalangan bawahannya, kuat pendiriannya, dan melindungi apa yang
ada di belakangnya.” Mendengar itu, Az-Zibriqan berkata: “Dia tahu lebih banyak
tentang diriku dari yang dia katakan. Tidak ada yang menghalanginya berkata jujur
kecuali rasa iri.” Amr lalu membalas dengan keras: “Aku iri padamu? Demi Allah,
engkau itu rendah asal-usulmu, baru kaya, bodoh ayahmu, dan tidak berarti di
kaummu. Aku jujur pada penilaian pertamaku, dan apa yang aku katakan kemudian
juga benar. Aku ini: jika aku ridha, aku katakan yang terbaik yang aku tahu;
jika aku marah, aku katakan yang terburuk yang aku temukan.” Rasulullah ﷺ
bersabda: “إِنَّ
مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا” (Sesungguhnya sebagian dari
kepandaian berbicara itu dapat menjadi seperti sihir). (HR. Bukhari)
Delegasi Bani Abdul Qais: Dua Kali Kedatangan
Bani Abdul Qais (dari Bahrain) memiliki dua kali kunjungan
ke Madinah. Kunjungan pertama terjadi sebelum penaklukan
Mekah, sekitar tahun ke-5 Hijriah atau sebelumnya. Saat itu mereka berkata: “Di
antara kami dan engkau ada orang-orang kafir Mudhar (Quraisy).” Mereka
berjumlah tiga belas orang, dan di antara mereka ada Al-Asyaj (yang
dijuluki demikian). Nabi ﷺ
bersabda kepadanya: “إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ:
الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ” (Sesungguhnya dalam dirimu ada
dua sifat yang dicintai Allah dan Rasul-Nya: santun dan hati-hati). Dalam
kunjungan ini, mereka bertanya tentang iman dan minuman (khamr). Inilah yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Kunjungan kedua terjadi pada tahun delegasi
(tahun 9 H). Mereka datang dalam rombongan empat puluh orang. Dalam kunjungan
ini, Al-Jarud bin Amr—yang saat itu masih beragama Nasrani—ikut
serta. Ketibaannya di Madinah, Rasulullah ﷺ menawarkan Islam kepadanya. Al-Jarud
berkata: “Aku sebelumnya berada di atas suatu agama. Aku akan meninggalkan
agamaku untuk agamamu. Apakah engkau menjamin (pahala) agamaku yang dulu?”
Rasulullah ﷺ
bersabda: “نَعَمْ
أَنَا ضَامِنٌ أَنْ قَدْ هَدَاكَ اللَّهُ إِلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ” (Ya,
aku jamin bahwa Allah telah memberimu petunjuk kepada yang lebih baik darinya).
Maka Al-Jarud masuk Islam, dan para sahabatnya pun masuk Islam. Ia menjadi
muslim yang baik, teguh dalam agamanya, dan selamat dari gelombang murtad
setelah wafatnya Nabi.
Delegasi Bani Hanifah dan Musailamah si Pembohong
Bani Hanifah mengirim delegasi ke Madinah. Di antara mereka
ada Musailamah (yang kelak dikenal sebagai al-Kadzdzab —
si pembohong besar). Mereka singgah di rumah Ramlah binti al-Harits yang
biasa digunakan untuk menjamu delegasi. Musailamah berkata dalam hatinya: “Jika
Muhammad menyerahkan urusan (kekuasaan) setelahnya kepadaku, niscaya aku akan
mengikutinya.”
Rasulullah ﷺ
datang menemui mereka bersama Tsabit bin Qais bin Syammas. Di
tangan beliau ada sepotong pelepah kurma. Beliau berdiri di hadapan Musailamah
dan bersabda: “لَوْ
سَأَلْتَنِي هَذِهِ الْقِطْعَةَ مَا أَعْطَيْتُكَهَا، وَلَنْ تَعْدُوَ أَمْرَ
اللَّهِ فِيكَ، وَلَئِنْ أَدْبَرْتَ لَيَعْقِرَنَّكَ اللَّهُ، وَإِنِّي لَأَرَاكَ
الَّذِي أُرِيتُ فِيهِ مَا رَأَيْتُ، وَهَذَا ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ يُجِيبُكَ
عَنِّي” (Sekiranya engkau meminta potongan pelepah ini
kepadaku, aku tidak akan memberikannya. Dan engkau tidak akan melampaui
ketentuan Allah tentang dirimu. Sungguh jika engkau berpaling (dari kebenaran),
pasti Allah akan membinasakanmu. Sungguh aku melihat engkau sebagai orang yang
telah diperlihatkan kepadaku dalam mimpiku. Dan ini Tsabit bin Qais akan
menjawabmu untukku). Beliau pun berpaling.
Ibnu Abbas berkata: Aku bertanya tentang sabda Nabi “engkau
yang aku lihat dalam mimpiku”. Abu Hurairah mengabarkan kepadaku bahwa
Rasulullah ﷺ
bersabda: “بَيْنَا
أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُ فِي يَدَيَّ سِوَارَيْنِ مِنْ ذَهَبٍ، فَأَهَمَّنِي
شَأْنُهُمَا، فَأُوحِيَ إِلَيَّ فِي الْمَنَامِ أَنِ انْفُخْهُمَا،
فَنَفَخْتُهُمَا فَذَهَبَا، فَأَوَّلْتُهُمَا كَذَّابَيْنِ يَخْرُجَانِ” (Ketika
aku tidur, aku melihat di kedua tanganku ada dua gelang emas. Aku merasa risau
karenanya. Lalu diwahyukan kepadaku dalam mimpi untuk meniup keduanya. Maka aku
meniupnya dan keduanya lenyap. Aku menafsirkannya sebagai dua pendusta yang
akan muncul). (HR. Bukhari)
Dua pendusta itu adalah: Al-Aswad al-Ansi yang
mengaku nabi di Yaman (ia terbunuh sehari sebelum wafatnya Nabi), dan Musailamah yang
terbunuh di masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq.
Delegasi Nasrani Najran: Dialog, Tantangan Mubahalah, dan
Perjanjian
Latar Belakang dan Kedatangan
Negeri Najran (di Yaman) adalah wilayah
Kristen yang kuat. Rasulullah ﷺ
mengirim surat kepada mereka menyeru Islam, dengan opsi: masuk Islam, membayar
jizyah, atau perang. Surat ini dikirim pada tahun ke-9 H, setelah turunnya
ayat:
قَاتِلُوا
الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا
يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ
مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ
صَاغِرُونَ
Artinya: “Perangilah orang-orang yang tidak beriman
kepada Allah dan hari akhir, yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan
Allah dan Rasul-Nya, dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah),
yaitu orang-orang yang diberi kitab, hingga mereka membayar jizyah dengan patuh
sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah: 29)
Maka pendeta-pendeta Najran memilih mengirim delegasi untuk
berunding. Mereka datang dengan rombongan yang terdiri dari 60 orang (menurut
satu riwayat 14 orang pemuka). Di antara mereka ada tiga tokoh utama: Al-Aqib (pemimpin
dan penasihat mereka), As-Sayyid (pemimpin perjalanan dan
urusan sosial), dan Abu al-Harits (uskup agung dan cendekiawan
mereka).
Dialog yang Alot dan Turunnya Ayat tentang Isa
Mereka memasuki masjid Nabawi dengan pakaian kebesaran
mereka: jubah dari kain hibarah, selendang yang dilapisi sutra, dan
cincin emas. Mereka lalu menghadap ke arah timur (kiblat mereka) untuk salat.
Rasulullah ﷺ
bersabda: “Biarkanlah mereka.” Kemudian mereka datang kepada beliau, namun
beliau berpaling dan tidak berbicara. Utsman bin Affan berkata:
“Itu karena pakaian kalian.” Maka mereka pergi, lalu keesokan harinya datang
dengan pakaian sederhana seperti para rahib. Rasulullah ﷺ menyambut mereka dan
menyeru mereka kepada Islam. Mereka menolak dan berkata: “Kami sudah menjadi
muslim sebelummu.” Nabi ﷺ
bersabda: “يَمْنَعُكُمْ
مِنَ الْإِسْلَامِ ثَلَاثٌ: عِبَادَتُكُمُ الصَّلِيبَ، وَأَكْلُكُمْ لَحْمَ
الْخِنْزِيرِ، وَزَعْمُكُمْ أَنَّ لِلَّهِ وَلَدًا” (Ada tiga
hal yang menghalangi kalian dari (hakikat) Islam: penyembahan kalian kepada
salib, makan babi, dan anggapan kalian bahwa Allah memiliki anak).
Perdebatan semakin memanas. Mereka berkata: “Mengapa engkau
mencela tuan kami (Isa) dan mengatakannya sebagai hamba Allah?” Rasulullah ﷺ
menjawab: “أَجَلْ،
إِنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ
الْبَتُولِ” (Benar, dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya, serta
kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam yang suci). Mereka marah: “Pernahkah
engkau melihat seorang manusia lahir tanpa ayah? Jika engkau benar, tunjukkan
kepada kami yang seperti itu.” Maka Allah menurunkan ayat:
إِنَّ
مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ
قَالَ لَهُ: كُنْ فَيَكُونُ. الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُنْ مِنَ
الْمُمْتَرِينَ
Artinya: “Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah
adalah seperti Adam. Allah menciptakannya dari tanah, kemudian berfirman
kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka jadilah dia. (Itulah) kebenaran dari Tuhanmu, maka
janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Ali Imran:
59-60)
Tantangan Mubahalah (Sumpah Laknat)
Karena mereka tetap membantah, Allah memerintahkan Nabi
untuk mengajak mereka mubahalah (saling melaknat). Firman-Nya:
فَمَنْ
حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ: تَعَالَوْا نَدْعُ
أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا
وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ
Artinya: “Barang siapa yang membantahmu tentang (Isa)
setelah engkau memperoleh ilmu, maka katakanlah: ‘Marilah kita panggil
anak-anak kami dan anak-anak kalian, istri-istri kami dan istri-istri kalian,
diri kami dan diri kalian, kemudian kita bermubahalah, lalu kita jadikan laknat
Allah bagi orang-orang yang dusta.’” (QS. Ali Imran: 61)
Rasulullah ﷺ
keluar untuk melaksanakan mubahalah. Beliau membawa Ali, Fatimah,
Hasan, dan Husain (anak-anak dan istri beliau). Beliau bersabda kepada
mereka: “Jika aku berdoa, ucapkanlah amin.” Melihat keluarga suci Rasulullah ﷺ,
para pendeta Najran gemetar. Mereka tahu bahwa jika seorang nabi benar-benar
bermubahalah dengan suatu kaum, maka kaum itu akan binasa. Mereka pun mundur
dan berkata: “Wahai Abu al-Qasim, kami tidak akan bermubahalah denganmu.
Tetapkanlah atas kami apa yang engkau sukai.”
Perjanjian Damai
Rasulullah ﷺ
kemudian mengadakan perjanjian damai dengan mereka. Isinya: Mereka membayar
jizyah berupa 2000 helai pakaian (hullah) – 1000 di bulan
Rajab dan 1000 di bulan Shafar. Juga memberi pinjaman 30 baju besi, 30 tombak,
30 unta, dan 30 kuda jika terjadi pemberontakan di Yaman. Mereka dijamin
keamanan atas jiwa, agama, dan harta mereka. Mereka juga dilarang mempraktikkan
riba.
Beliau menulis surat perjanjian yang antara lain
berbunyi: “Untuk Najran dan wilayah sekitarnya, perlindungan Allah dan
jaminan keamanan dari Muhammad, Nabi dan Rasul Allah, atas jiwa mereka, agama
mereka, tanah mereka, harta mereka, yang hadir maupun yang tidak hadir,
gereja-gereja mereka… Tidak akan diubah seorang uskup dari keuskupannya,
seorang rahib dari rahibiyahnya, dan seorang penjaga tempat suci dari
penjagaannya.”
Tidak lama setelah kembali, Al-Aqib dan As-Sayyid masuk
Islam. Mereka tinggal di rumah Abu Ayyub al-Anshari. Penduduk
Najran tetap berpegang pada perjanjian hingga Nabi ﷺ wafat. Pada masa Umar bin
al-Khaththab, karena mereka melanggar larangan riba, Umar mengusir mereka
dari Najran dan memberi mereka tempat di Irak dan Syam.
Pengiriman Abu Ubaidah bin al-Jarrah: Amin Umat Ini
Ketika delegasi Najran hendak kembali, mereka berkata kepada
Rasulullah ﷺ:
“Utuslah bersama kami seorang laki-laki yang amanah untuk menerima pembayaran
dari kami.” Rasulullah ﷺ
bersabda: “لَأَبْعَثَنَّ
مَعَكُمْ رَجُلًا أَمِينًا حَقَّ أَمِينٍ” (Sungguh
aku akan mengutus bersama kalian seorang laki-laki yang benar-benar amanah).
Para sahabat pun saling pandang, berharap dipilih. Rasulullah ﷺ bersabda: “قُمْ يَا أَبَا
عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ” (Berdirilah wahai Abu Ubaidah
bin al-Jarrah). Ketika ia berdiri, beliau bersabda: “هَذَا أَمِينُ
هَذِهِ الْأُمَّةِ” (Ini adalah orang kepercayaan
umat ini).
Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah
Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar
Posting Komentar