Tahun Delegasi: Ketika Seluruh Jazirah Menyatakan Ketundukan

interior Masjid Nabawi yang sederhana di Madinah, dengan dinding dari batu bata tanah liat dan tiang-tiang kayu kurma. Atapnya terbuat dari pelepah kurma, cahaya matahari pagi masuk melalui celah-celah dinding. Di dalam masjid, terlihat beberapa kelompok laki-laki dewasa dari berbagai suku dengan pakaian Arab kuno yang beragam (ada yang berjubah putih, ada yang berselendang, ada yang memakai sorban khas Yaman), duduk bersila dalam lingkaran dengan sikap hormat. Di depan mereka, seorang tokoh utama dengan jubah putih digambarkan dari sudut belakang duduk di atas mimbar rendah, seolah sedang berbicara dengan bijaksana.

Latar Belakang: Tahun ke-9 Hijriah sebagai Titik Balik

Setelah Rasulullah berhasil menaklukkan Mekah, kemudian suku Hawazin masuk Islam, dan beliau kembali dari Perang Tabuk dengan wibawa Islam yang semakin kokoh, serta suku Tsaqif (penduduk Thaif) datang menyatakan keislaman, maka mulai berdatanganlah utusan-utusan (delegasi) dari berbagai penjuru ke Madinah. Dalam sebuah riwayat dari Amr bin Salamah disebutkan: “Orang-orang Arab dahulu menanti-nanti penaklukan Mekah sebagai pertanda kenabian Muhammad. Mereka berkata: ‘Biarkan dia dan kaumnya. Jika dia menang atas mereka, maka dia adalah nabi yang benar.’ Ketika penaklukan terjadi, setiap kaum segera berbondong-bondong masuk Islam.”

Para sejarawan sepakat bahwa puncak kedatangan delegasi terjadi pada tahun ke-9 Hijriah. Ibnu Hisyam meriwayatkan dari Abu Ubaidah: *“Tahun ke-9 Hijriah dinamakan Tahun Delegasi.”* Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa jumlah delegasi yang tercatat lebih dari enam puluh. Namun perlu diketahui, tidak semua delegasi datang di tahun 9; ada yang sebelumnya dan sesudahnya, namun secara umum tahun inilah yang terkenal sebagai Sanat al-Wufud.

Berikut adalah kisah beberapa delegasi terpenting yang sarat dengan pelajaran dan hikmah.


Delegasi Bani Tamim: Ajarannya Kesopanan dalam Berbicara

Peristiwa yang Memicu Kedatangan Mereka

Sebab kedatangan delegasi Bani Tamim adalah karena mereka pernah menyerbu (mengganggu) sebagian orang dari suku Khuza'ah (sekutu Muslim). Rasulullah lalu mengirim Uyainah bin Hishn al-Fazari bersama lima puluh orang (tidak ada dari Anshar atau Muhajirin) untuk menangani masalah ini. Pasukan itu berhasil menawan sebelas laki-laki, sebelas wanita, dan tiga puluh anak-anak dari Bani Tamim.

Maka para pemuka Bani Tamim datang ke Madinah untuk menebus tawanan mereka. Mereka adalah: Athard bin Hajib bin Zurarah, Al-Aqra' bin Habis, Az-Zibriqan bin Badr, Amr bin al-Ahtam, dan Qais bin 'Ashim (sahabat mulia yang terkenal). Mereka masuk ke masjid pada saat Bilal mengumandangkan azhan zuhur, sementara orang-orang menunggu Rasulullah keluar. Namun karena ketidaksabaran, mereka mulai memanggil-manggil dari balik kamar-kamar istri-istri Nabi: “Keluarlah wahai Muhammad! Sungguh pujian kami adalah perhiasan, dan celaan kami adalah aib.” Mereka terus mengulangi panggilan yang kasar dan tidak sopan itu.

Teguran Langit: Ayat tentang Sopan Santun

Rasulullah keluar dalam keadaan marah dan bersabda: ذَاكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (Itulah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung). Lalu Allah menurunkan ayat teguran karena perbuatan mereka:

إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ. وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّىٰ تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang memanggil engkau (Muhammad) dari belakang kamar, kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan sekiranya mereka bersabar sampai engkau keluar menemui mereka, tentu itu lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 4-5)

Adu Bakat: Debat Antara Penyair dan Khatib

Setelah Rasulullah keluar, mereka berkata: “Wahai Muhammad, kami datang untuk bermegah-megahan (membanggakan kelebihan kami). Maka izinkanlah penyair dan khatib kami.” Beliau bersabda: “Aku izinkan khatib kalian, silakan.” Berdirilah Athard bin Hajib dan berpidato dengan panjang lebar. Setelah selesai, Rasulullah bersabda kepada Tsabit bin Qais bin Syammas (yang dikenal sebagai khatibnya Rasulullah): “Berdirilah dan jawablah pidato orang itu.” Maka Tsabit berdiri dan berpidato dengan lebih baik.

Kemudian Az-Zibriqan bin Badr, penyair mereka, bangkit dan membacakan syairnya. Rasulullah bersabda kepada Hassan bin Tsabit: “Wahai Hassan, jawablah syairnya.” Maka Hassan membacakan syair yang antara lain berbunyi:

“Sesungguhnya keturunan Fihr dan saudara-saudara mereka… telah menetapkan sunnah bagi manusia untuk diikuti…” (hingga selesai).

Setelah Hassan selesai, Al-Aqra' bin Habis berkata: “Demi ayahku, sungguh orang ini (Muhammad) memang diberi kemenangan. Khatibnya lebih pandai dari khatib kami, penyairnya lebih hebat dari penyair kami, dan suara mereka lebih lantang dari suara kami.” Lalu mereka masuk Islam, dan Rasulullah memberi mereka hadiah yang baik.

Pelajaran: Antara Pujian dan Celaan

Ada kejadian menarik ketika Rasulullah bertanya kepada Amr bin al-Ahtam tentang Az-Zibriqan bin Badr. Amr berkata: “Dia ditaati di kalangan bawahannya, kuat pendiriannya, dan melindungi apa yang ada di belakangnya.” Mendengar itu, Az-Zibriqan berkata: “Dia tahu lebih banyak tentang diriku dari yang dia katakan. Tidak ada yang menghalanginya berkata jujur kecuali rasa iri.” Amr lalu membalas dengan keras: “Aku iri padamu? Demi Allah, engkau itu rendah asal-usulmu, baru kaya, bodoh ayahmu, dan tidak berarti di kaummu. Aku jujur pada penilaian pertamaku, dan apa yang aku katakan kemudian juga benar. Aku ini: jika aku ridha, aku katakan yang terbaik yang aku tahu; jika aku marah, aku katakan yang terburuk yang aku temukan.” Rasulullah bersabda: إِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا (Sesungguhnya sebagian dari kepandaian berbicara itu dapat menjadi seperti sihir). (HR. Bukhari)


Delegasi Bani Abdul Qais: Dua Kali Kedatangan

Bani Abdul Qais (dari Bahrain) memiliki dua kali kunjungan ke Madinah. Kunjungan pertama terjadi sebelum penaklukan Mekah, sekitar tahun ke-5 Hijriah atau sebelumnya. Saat itu mereka berkata: “Di antara kami dan engkau ada orang-orang kafir Mudhar (Quraisy).” Mereka berjumlah tiga belas orang, dan di antara mereka ada Al-Asyaj (yang dijuluki demikian). Nabi bersabda kepadanya: إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ: الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ (Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang dicintai Allah dan Rasul-Nya: santun dan hati-hati). Dalam kunjungan ini, mereka bertanya tentang iman dan minuman (khamr). Inilah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Kunjungan kedua terjadi pada tahun delegasi (tahun 9 H). Mereka datang dalam rombongan empat puluh orang. Dalam kunjungan ini, Al-Jarud bin Amr—yang saat itu masih beragama Nasrani—ikut serta. Ketibaannya di Madinah, Rasulullah menawarkan Islam kepadanya. Al-Jarud berkata: “Aku sebelumnya berada di atas suatu agama. Aku akan meninggalkan agamaku untuk agamamu. Apakah engkau menjamin (pahala) agamaku yang dulu?” Rasulullah bersabda: نَعَمْ أَنَا ضَامِنٌ أَنْ قَدْ هَدَاكَ اللَّهُ إِلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْهُ (Ya, aku jamin bahwa Allah telah memberimu petunjuk kepada yang lebih baik darinya). Maka Al-Jarud masuk Islam, dan para sahabatnya pun masuk Islam. Ia menjadi muslim yang baik, teguh dalam agamanya, dan selamat dari gelombang murtad setelah wafatnya Nabi.


Delegasi Bani Hanifah dan Musailamah si Pembohong

Bani Hanifah mengirim delegasi ke Madinah. Di antara mereka ada Musailamah (yang kelak dikenal sebagai al-Kadzdzab — si pembohong besar). Mereka singgah di rumah Ramlah binti al-Harits yang biasa digunakan untuk menjamu delegasi. Musailamah berkata dalam hatinya: “Jika Muhammad menyerahkan urusan (kekuasaan) setelahnya kepadaku, niscaya aku akan mengikutinya.”

Rasulullah datang menemui mereka bersama Tsabit bin Qais bin Syammas. Di tangan beliau ada sepotong pelepah kurma. Beliau berdiri di hadapan Musailamah dan bersabda: لَوْ سَأَلْتَنِي هَذِهِ الْقِطْعَةَ مَا أَعْطَيْتُكَهَا، وَلَنْ تَعْدُوَ أَمْرَ اللَّهِ فِيكَ، وَلَئِنْ أَدْبَرْتَ لَيَعْقِرَنَّكَ اللَّهُ، وَإِنِّي لَأَرَاكَ الَّذِي أُرِيتُ فِيهِ مَا رَأَيْتُ، وَهَذَا ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ يُجِيبُكَ عَنِّي (Sekiranya engkau meminta potongan pelepah ini kepadaku, aku tidak akan memberikannya. Dan engkau tidak akan melampaui ketentuan Allah tentang dirimu. Sungguh jika engkau berpaling (dari kebenaran), pasti Allah akan membinasakanmu. Sungguh aku melihat engkau sebagai orang yang telah diperlihatkan kepadaku dalam mimpiku. Dan ini Tsabit bin Qais akan menjawabmu untukku). Beliau pun berpaling.

Ibnu Abbas berkata: Aku bertanya tentang sabda Nabi “engkau yang aku lihat dalam mimpiku”. Abu Hurairah mengabarkan kepadaku bahwa Rasulullah bersabda: بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُ فِي يَدَيَّ سِوَارَيْنِ مِنْ ذَهَبٍ، فَأَهَمَّنِي شَأْنُهُمَا، فَأُوحِيَ إِلَيَّ فِي الْمَنَامِ أَنِ انْفُخْهُمَا، فَنَفَخْتُهُمَا فَذَهَبَا، فَأَوَّلْتُهُمَا كَذَّابَيْنِ يَخْرُجَانِ (Ketika aku tidur, aku melihat di kedua tanganku ada dua gelang emas. Aku merasa risau karenanya. Lalu diwahyukan kepadaku dalam mimpi untuk meniup keduanya. Maka aku meniupnya dan keduanya lenyap. Aku menafsirkannya sebagai dua pendusta yang akan muncul). (HR. Bukhari)

Dua pendusta itu adalah: Al-Aswad al-Ansi yang mengaku nabi di Yaman (ia terbunuh sehari sebelum wafatnya Nabi), dan Musailamah yang terbunuh di masa kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq.


Delegasi Nasrani Najran: Dialog, Tantangan Mubahalah, dan Perjanjian

Latar Belakang dan Kedatangan

Negeri Najran (di Yaman) adalah wilayah Kristen yang kuat. Rasulullah mengirim surat kepada mereka menyeru Islam, dengan opsi: masuk Islam, membayar jizyah, atau perang. Surat ini dikirim pada tahun ke-9 H, setelah turunnya ayat:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

Artinya: “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya, dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), yaitu orang-orang yang diberi kitab, hingga mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah: 29)

Maka pendeta-pendeta Najran memilih mengirim delegasi untuk berunding. Mereka datang dengan rombongan yang terdiri dari 60 orang (menurut satu riwayat 14 orang pemuka). Di antara mereka ada tiga tokoh utama: Al-Aqib (pemimpin dan penasihat mereka), As-Sayyid (pemimpin perjalanan dan urusan sosial), dan Abu al-Harits (uskup agung dan cendekiawan mereka).

Dialog yang Alot dan Turunnya Ayat tentang Isa

Mereka memasuki masjid Nabawi dengan pakaian kebesaran mereka: jubah dari kain hibarah, selendang yang dilapisi sutra, dan cincin emas. Mereka lalu menghadap ke arah timur (kiblat mereka) untuk salat. Rasulullah bersabda: “Biarkanlah mereka.” Kemudian mereka datang kepada beliau, namun beliau berpaling dan tidak berbicara. Utsman bin Affan berkata: “Itu karena pakaian kalian.” Maka mereka pergi, lalu keesokan harinya datang dengan pakaian sederhana seperti para rahib. Rasulullah menyambut mereka dan menyeru mereka kepada Islam. Mereka menolak dan berkata: “Kami sudah menjadi muslim sebelummu.” Nabi bersabda: يَمْنَعُكُمْ مِنَ الْإِسْلَامِ ثَلَاثٌ: عِبَادَتُكُمُ الصَّلِيبَ، وَأَكْلُكُمْ لَحْمَ الْخِنْزِيرِ، وَزَعْمُكُمْ أَنَّ لِلَّهِ وَلَدًا (Ada tiga hal yang menghalangi kalian dari (hakikat) Islam: penyembahan kalian kepada salib, makan babi, dan anggapan kalian bahwa Allah memiliki anak).

Perdebatan semakin memanas. Mereka berkata: “Mengapa engkau mencela tuan kami (Isa) dan mengatakannya sebagai hamba Allah?” Rasulullah menjawab: أَجَلْ، إِنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ الْبَتُولِ (Benar, dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya, serta kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam yang suci). Mereka marah: “Pernahkah engkau melihat seorang manusia lahir tanpa ayah? Jika engkau benar, tunjukkan kepada kami yang seperti itu.” Maka Allah menurunkan ayat:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ: كُنْ فَيَكُونُ. الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُنْ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Artinya: “Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam. Allah menciptakannya dari tanah, kemudian berfirman kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka jadilah dia. (Itulah) kebenaran dari Tuhanmu, maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Ali Imran: 59-60)

Tantangan Mubahalah (Sumpah Laknat)

Karena mereka tetap membantah, Allah memerintahkan Nabi untuk mengajak mereka mubahalah (saling melaknat). Firman-Nya:

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ: تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

Artinya: “Barang siapa yang membantahmu tentang (Isa) setelah engkau memperoleh ilmu, maka katakanlah: ‘Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, istri-istri kami dan istri-istri kalian, diri kami dan diri kalian, kemudian kita bermubahalah, lalu kita jadikan laknat Allah bagi orang-orang yang dusta.’” (QS. Ali Imran: 61)

Rasulullah keluar untuk melaksanakan mubahalah. Beliau membawa Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain (anak-anak dan istri beliau). Beliau bersabda kepada mereka: “Jika aku berdoa, ucapkanlah amin.” Melihat keluarga suci Rasulullah , para pendeta Najran gemetar. Mereka tahu bahwa jika seorang nabi benar-benar bermubahalah dengan suatu kaum, maka kaum itu akan binasa. Mereka pun mundur dan berkata: “Wahai Abu al-Qasim, kami tidak akan bermubahalah denganmu. Tetapkanlah atas kami apa yang engkau sukai.”

Perjanjian Damai

Rasulullah kemudian mengadakan perjanjian damai dengan mereka. Isinya: Mereka membayar jizyah berupa 2000 helai pakaian (hullah) – 1000 di bulan Rajab dan 1000 di bulan Shafar. Juga memberi pinjaman 30 baju besi, 30 tombak, 30 unta, dan 30 kuda jika terjadi pemberontakan di Yaman. Mereka dijamin keamanan atas jiwa, agama, dan harta mereka. Mereka juga dilarang mempraktikkan riba.

Beliau menulis surat perjanjian yang antara lain berbunyi: “Untuk Najran dan wilayah sekitarnya, perlindungan Allah dan jaminan keamanan dari Muhammad, Nabi dan Rasul Allah, atas jiwa mereka, agama mereka, tanah mereka, harta mereka, yang hadir maupun yang tidak hadir, gereja-gereja mereka… Tidak akan diubah seorang uskup dari keuskupannya, seorang rahib dari rahibiyahnya, dan seorang penjaga tempat suci dari penjagaannya.”

Tidak lama setelah kembali, Al-Aqib dan As-Sayyid masuk Islam. Mereka tinggal di rumah Abu Ayyub al-Anshari. Penduduk Najran tetap berpegang pada perjanjian hingga Nabi wafat. Pada masa Umar bin al-Khaththab, karena mereka melanggar larangan riba, Umar mengusir mereka dari Najran dan memberi mereka tempat di Irak dan Syam.


Pengiriman Abu Ubaidah bin al-Jarrah: Amin Umat Ini

Ketika delegasi Najran hendak kembali, mereka berkata kepada Rasulullah : “Utuslah bersama kami seorang laki-laki yang amanah untuk menerima pembayaran dari kami.” Rasulullah bersabda: لَأَبْعَثَنَّ مَعَكُمْ رَجُلًا أَمِينًا حَقَّ أَمِينٍ (Sungguh aku akan mengutus bersama kalian seorang laki-laki yang benar-benar amanah). Para sahabat pun saling pandang, berharap dipilih. Rasulullah bersabda: قُمْ يَا أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ (Berdirilah wahai Abu Ubaidah bin al-Jarrah). Ketika ia berdiri, beliau bersabda: هَذَا أَمِينُ هَذِهِ الْأُمَّةِ (Ini adalah orang kepercayaan umat ini).


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perang Tabuk: Pelajaran dari Mereka yang Tertinggal

Tabuk: Pelajaran dari Negeri Tsamud, Perjanjian Damai, dan Pengkhianatan di Balik Masjid

Ketika Tsaqif Datang: Kisah Pengorbanan 'Urwah dan Keislaman yang Penuh Syarat