Tafsir Singkat Ayat-Ayat Perang Tabuk

padang pasir yang luas di bawah terik matahari siang. Di tengah, sekelompok laki-laki berpakaian Arab kuno sedang bersiap untuk perjalanan jauh. Beberapa dari mereka memeriksa bekal dan perlengkapan sederhana, yang lain memimpin unta-unta yang berlutut. Wajah-wajah mereka menunjukkan kesungguhan dan keteguhan hati, meskipun keringat membasahi dahi. Di latar belakang, tampak gunung-gunung tandus dan langit biru keabu-abuan tanpa awan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan banyak ayat berkaitan dengan Perang Tabuk. Berikut penjelasan ringkasnya.


1. Ayat tentang rasa berat untuk berangkat berperang

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

Terjemahan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa ketika dikatakan kepadamu, ‘Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah,’ kamu merasa berat dan ingin tinggal di dunia? Apakah kamu puas dengan kehidupan dunia sebagai ganti kehidupan akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan akhirat) hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah: 38)

Penjelasan:
Ayat ini turun untuk mendorong kaum Muslimin ikut Perang Tabuk. Waktu itu kondisi sedang sulit: cuaca sangat panas, buah-buahan sedang ranum, dan orang-orang senang bernaung di tempat teduh. Allah menegur mereka yang malas dan lebih memilih kenyamanan dunia dibanding akhirat.


2. Ancaman bagi yang tidak mau berangkat

إِلَّا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيْئًا ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Terjemahan:
“Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menyiksamu dengan siksa yang pedih, dan Dia akan mengganti kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Taubah: 39)

Penjelasan:
Allah memperingatkan bahwa jika kaum Muslimin enggan berjihad, mereka akan mendapat siksa pedih di akhirat atau di dunia (misalnya ditahan hujan). Allah juga bisa mengganti mereka dengan kaum lain yang lebih taat. Penolakan mereka tidak akan merugikan Allah sedikit pun, karena Allah Mahakuasa.


3. Allah telah menolong Nabi tanpa bantuan mereka

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Terjemahan:
“Jika kamu tidak menolongnya (Nabi), sungguh Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah), yaitu saat ia salah satu dari dua orang ketika mereka berdua berada di dalam gua, ketika ia berkata kepada sahabatnya, ‘Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya dan membantunya dengan pasukan yang tidak terlihat olehmu, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan seruan Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 40)

Penjelasan:
Allah mengingatkan bahwa pertolongan kepada Nabi tidak bergantung pada mereka. Buktinya, saat hijrah dari Mekah, Nabi hanya ditemani Abu Bakar di gua Tsur, tanpa senjata dan pasukan, namun Allah menolong dengan pasukan malaikat. Maka jangan sombong.


4. Perintah berangkat dalam keadaan apa pun

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Terjemahan:
“Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah: 41)

Penjelasan:
Allah memerintahkan semua orang untuk ikut berjihad: muda atau tua, kaya atau miskin, kuat atau lemah, berkendara atau berjalan kaki, dalam keadaan semangat maupun terpaksa. Sebagian ulama berpendapat perintah ini tetap berlaku (tidak dihapus), sebagian lain menganggap telah dihapus dengan ayat yang memberi keringanan bagi yang lemah dan sakit.


5. Kritik terhadap orang yang mencari alasan karena perjalanan jauh

لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَاتَّبَعُوكَ وَلَٰكِنْ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ ۚ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنْفُسَهُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Terjemahan:
“Jika yang kamu serukan itu adalah keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak terlalu jauh, niscaya mereka mengikutimu. Tetapi jarak yang jauh terasa berat bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan nama Allah, ‘Sekiranya kami mampu, tentulah kami berangkat bersama kamu.’ Mereka membinasakan diri mereka sendiri, dan Allah mengetahui bahwa mereka benar-benar pendusta.” (QS. At-Taubah: 42)

Penjelasan:
Orang-orang munafik hanya mau berjihad jika mudah dan menguntungkan. Ketika sulit, mereka mencari alasan dan bersumpah palsu. Allah membongkar kedustaan mereka.


6. Teguran lembut kepada Nabi karena memberi izin

عَفَا اللَّهُ عَنْكَ لِمَ أَذِنْتَ لَهُمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَتَعْلَمَ الْكَاذِبِينَ

Terjemahan:
“Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak berangkat) sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar-benar jujur dan sebelum kamu mengetahui orang-orang yang dusta?” (QS. At-Taubah: 43)

Penjelasan:
Allah menegur Nabi dengan cara yang sangat halus. Seharusnya beliau tidak memberi izin kepada orang yang tidak punya uzur, sehingga dengan sendirinya akan ketahuan siapa yang jujur dan siapa yang pendusta.


7. Orang-orang beriman tidak minta izin untuk tinggal

لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ. إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ

Terjemahan:
“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak) berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang meminta izin kepadamu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, sehingga mereka dalam keraguannya itu bimbang.” (QS. At-Taubah: 44-45)

Penjelasan:
Orang beriman sejati tidak akan minta izin untuk meninggalkan jihad. Yang minta izin hanyalah orang munafik yang hatinya penuh keraguan.


8. Andai mereka sungguh ingin berangkat, pasti sudah siap

وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَٰكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ

Terjemahan:
“Dan sekiranya mereka benar-benar hendak berangkat, pasti mereka menyiapkan persiapan untuk itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Dia melemahkan semangat mereka, dan dikatakan (kepada mereka), ‘Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.’” (QS. At-Taubah: 46)

Penjelasan:
Allah mengetahui bahwa kehadiran orang munafik justru akan merusak pasukan. Maka Allah menghalangi mereka dengan melemahkan semangat mereka.


9. Jika mereka ikut, hanya akan merusak

لَوْ خَرَجُوا فِيكُمْ مَا زَادُوكُمْ إِلَّا خَبَالًا وَلَأَوْضَعُوا خِلَالَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

Terjemahan:
“Sekiranya mereka keluar bersama kamu, niscaya mereka tidak akan menambah kecuali kerusakan belaka, dan pasti mereka akan bergegas (menebar) fitnah di antara kamu, dan di antara kamu ada orang-orang yang mau mendengarkan mereka. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.” (QS. At-Taubah: 47)

Penjelasan:
Kehadiran orang munafik hanya akan menambah kekacauan dan fitnah. Mereka akan cepat menyebarkan keburukan, dan ada sebagian Muslim yang mudah terpengaruh oleh bisikan mereka.


10. Mereka sudah lama berusaha memicu fitnah

لَقَدِ ابْتَغَوُا الْفِتْنَةَ مِنْ قَبْلُ وَقَلَّبُوا لَكَ الْأُمُورَ حَتَّىٰ جَاءَ الْحَقُّ وَظَهَرَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَارِهُونَ

Terjemahan:
“Sungguh mereka telah berusaha menimbulkan fitnah sebelum itu, dan mereka telah mengatur berbagai macam tipu daya untukmu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah) dan tampaklah agama Allah (menang), padahal mereka benci.” (QS. At-Taubah: 48)

Penjelasan:
Orang munafik sudah lama merencanakan kejahatan, seperti yang dilakukan Abdullah bin Ubay di Perang Uhud. Namun Allah menggagalkan rencana mereka dan menjadikan Islam menang.


11. Orang yang minta izin karena takut godaan wanita

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ

Terjemahan:
“Dan di antara mereka ada yang berkata, ‘Berilah izin kepadaku (untuk tidak berangkat) dan janganlah engkau memasukkanku ke dalam fitnah.’ Ketahuilah, mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sungguh, neraka Jahanam benar-benar meliputi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)

Penjelasan:
Ayat ini turun tentang Al-Jadd bin Qais yang berkata, “Aku takut melihat wanita Bani Ashfar (Romawi) akan memfitnahku.” Allah menegaskan bahwa ia justru sudah jatuh ke dalam fitnah kemunafikan.


12. Sakit hati orang munafik saat Nabi mendapat kebaikan

إِنْ تُصِبْكَ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ ۖ وَإِنْ تُصِبْكَ مُصِيبَةٌ يَقُولُوا قَدْ أَخَذْنَا أَمْرَنَا مِنْ قَبْلُ وَيَتَوَلَّوْا وَهُمْ فَرِحُونَ

Terjemahan:
“Jika engkau mendapat kebaikan, mereka bersedih hati. Tetapi jika engkau ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Sungguh kami telah sejak awal berhati-hati,’ dan mereka berpaling dengan gembira.” (QS. At-Taubah: 50)

Penjelasan:
Orang munafik selalu bersedih ketika Nabi dan Muslimin mendapat kemenangan atau harta rampasan, dan bergembira ketika mereka tertimpa musibah.


13. Jawaban Nabi: semua sudah ditetapkan Allah

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Terjemahan:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami. Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal.’” (QS. At-Taubah: 51)

Penjelasan:
Nabi diperintahkan menjawab bahwa apa pun yang terjadi (baik atau buruk) adalah ketetapan Allah. Seorang mukmin harus bertawakal kepada-Nya.


14. Dua kemungkinan baik bagi kami, satu kemungkinan buruk bagi kalian

قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلَّا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ ۖ وَنَحْنُ نَتَرَبَّصُ بِكُمْ أَنْ يُصِيبَكُمُ اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ أَوْ بِأَيْدِينَا ۖ فَتَرَبَّصُوا إِنَّا مَعَكُمْ مُتَرَبِّصُونَ

Terjemahan:
“Katakanlah, ‘Apakah yang kamu tunggu-tunggu untuk kami, selain salah satu dari dua kebaikan (menang atau mati syahid)? Sedangkan kami menunggu-nunggu untukmu bahwa Allah akan menimpakan azab kepadamu dari sisi-Nya atau dengan tangan kami. Maka tunggulah, sesungguhnya kami pun menunggu bersamamu.’” (QS. At-Taubah: 52)

Penjelasan:
Kami Muslimin menanti kebaikan (kemenangan atau syahid), sedangkan kalian orang kafir menanti azab dari Allah atau kekalahan di tangan kami.


15. Infak mereka tidak diterima karena kekafiran

قُلْ أَنْفِقُوا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا لَنْ يُتَقَبَّلَ مِنْكُمْ ۖ إِنَّكُمْ كُنْتُمْ قَوْمًا فَاسِقِينَ

Terjemahan:
“Katakanlah, ‘Infakkanlah hartamu baik dengan sukarela maupun terpaksa, namun tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik.’” (QS. At-Taubah: 53)

Penjelasan:
Ayat ini turun tentang Al-Jadd bin Qais yang menawarkan harta sebagai sumbangan. Allah memberitahu bahwa infak orang kafir tidak diterima karena mereka tidak beriman.


16. Orang yang tinggal di belakang bergembira

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

Terjemahan:
“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut) bergembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka enggan berjihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah, dan mereka berkata, ‘Janganlah kamu berangkat (perang) dalam panas ini.’ Katakanlah, ‘Api neraka Jahanam lebih sangat panas.’ Sekiranya mereka memahami.” (QS. At-Taubah: 81)

Penjelasan:
Orang munafik justru senang tidak ikut berperang dan melarang orang lain berangkat karena panas. Allah menjawab bahwa neraka Jahanam jauh lebih panas.


17. Mereka tertawa sebentar, menangis lama

فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Terjemahan:
“Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai balasan atas apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. At-Taubah: 82)

Penjelasan:
Kesenangan dunia mereka hanya sebentar, kelak di akhirat mereka akan menangis lama.


18. Larangan Nabi menyolati jenazah munafik

وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

Terjemahan:
“Dan janganlah engkau selamanya menyolati jenazah seorang pun di antara mereka yang mati, dan janganlah engkau berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. At-Taubah: 84)

Penjelasan:
Ayat ini turun terkait shalat jenazah Abdullah bin Ubay bin Salul, dan menjadi larangan umum bagi orang yang diketahui munafik.


19. Orang-orang badui yang mengada-ada alasan

وَجَاءَ الْمُعَذِّرُونَ مِنَ الْأَعْرَابِ لِيُؤْذَنَ لَهُمْ وَقَعَدَ الَّذِينَ كَذَبُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ سَيُصِيبُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Terjemahan:
“Dan datanglah (kepada Nabi) orang-orang badui yang mengemukukan alasan (palsu) agar diberi izin (tidak berangkat), dan duduklah orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya. Kelak akan menimpa orang-orang kafir di antara mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 90)

Penjelasan:
Ada dua kelompok: kelompok yang membuat alasan palsu (mereka buruk), dan kelompok yang tanpa alasan terang-terangan (lebih buruk). Keduanya akan mendapat azab.


20. Uzur yang dibenarkan: lemah, sakit, tidak punya biaya

لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Terjemahan:
“Tidak ada dosa atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan, jika mereka tetap ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada alasan untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 91)

Penjelasan:
Orang yang benar-benar memiliki uzur (lemah, sakit, miskin) tidak berdosa tidak ikut berperang.


21. Orang-orang yang menangis karena tidak punya kendaraan

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

Terjemahan:
“Dan tidak (pula) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu agar kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,’ lalu mereka kembali sambil mencucurkan air mata karena sedih, sebab mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan.” (QS. At-Taubah: 92)

Penjelasan:
Inilah tujuh orang miskin yang sangat ingin ikut berperang tetapi tidak punya kendaraan. Mereka pulang menangis. Mereka disebut Al-Bakka'un (orang-orang yang banyak menangis).


22. Hadits: Orang yang terhalang uzur tetap mendapat pahala

إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا مَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا وَلَا سِرْتُمْ مَسِيرًا إِلَّا وَهُمْ مَعَكُمْ – قَالُوا: وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ؟ – قَالَ: نَعَمْ، حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ

Terjemahan:
Rasulullah bersabda (saat kembali dari Tabuk): “Sesungguhnya di Madinah ada orang-orang yang setiap kali kalian melewati lembah dan menempuh perjalanan, mereka tetap bersama kalian.” Para sahabat bertanya: “Padahal mereka di Madinah?” Beliau menjawab: “Ya. Mereka terhalang oleh uzur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasan:
Orang yang benar-benar punya uzur tetapi hatinya ingin berjihad, tetap mendapat pahala seperti orang yang ikut berperang.


23. Siapa yang pantas disalahkan: orang kaya yang minta izin

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ وَهُمْ أَغْنِيَاءُ ۚ رَضُوا بِأَنْ يَكُونُوا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Terjemahan:
“Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah terhadap orang-orang yang meminta izin kepadamu padahal mereka kaya. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tinggal di belakang (perempuan dan anak-anak). Allah telah mengunci hati mereka, sehingga mereka tidak mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. At-Taubah: 93)

Penjelasan:
Orang yang pantas dicela adalah mereka yang berkecukupan tetapi minta izin untuk tidak berjihad.


24. Orang badui yang paling keras kekufuran

الْأَعْرَابُ أَشَدُّ كُفْرًا وَنِفَاقًا وَأَجْدَرُ أَلَّا يَعْلَمُوا حُدُودَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Terjemahan:
“Orang-orang badui itu lebih parah kekufuran dan kemunafikannya, dan lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 97)

Penjelasan:
Karena kehidupan mereka yang keras dan jauh dari ilmu, orang badui cenderung lebih kuat kekafirannya.


25. Sebagian badui yang baik

وَمِنَ الْأَعْرَابِ مَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبَاتٍ عِنْدَ اللَّهِ وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِ ۚ أَلَا إِنَّهَا قُرْبَةٌ لَهُمْ ۚ سَيُدْخِلُهُمُ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Terjemahan:
“Dan di antara orang-orang badui ada yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta menjadikan apa yang mereka infakkan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan untuk mendapatkan doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya itu adalah sarana pendekatan diri bagi mereka. Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 99)

Penjelasan:
Meskipun mayoritas badui keras, ada juga yang beriman tulus dan menginfakkan harta demi mendekatkan diri kepada Allah, serta mengharap doa Rasulullah.


26. Kaum munafik di kota dan pedesaan

وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ ۖ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ ۖ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ ۖ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ ۚ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَىٰ عَذَابٍ عَظِيمٍ

Terjemahan:
“Dan di antara orang-orang badui di sekitarmu ada yang munafik, dan (juga) di antara penduduk Madinah (ada yang) terus-menerus dalam kemunafikan. Engkau (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami yang mengetahui mereka. Nanti Kami akan menyiksa mereka dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (QS. At-Taubah: 101)

Penjelasan:
Allah memberitahu bahwa ada orang munafik di sekitar Madinah dan di kota sendiri. Mereka akan mendapat siksaan dua kali (di dunia dan di kubur, atau lainnya), lalu siksaan besar di neraka.


27. Orang yang mengakui dosanya (Abu Lubabah dan kawan-kawan)

وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Terjemahan:
“Dan ada pula orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurkan amal saleh dengan amal buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 102)

Penjelasan:
Ini tentang Abu Lubabah dan beberapa sahabatnya yang tidak ikut perang tanpa uzur, lalu mereka menyesal dan mengikat diri di tiang masjid sampai Rasulullah menerima tobat mereka.


28. Ambillah sedekah dari harta mereka

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Terjemahan:
“Ambillah sedekah (zakat) dari harta mereka untuk membersihkan dan menyucikan mereka, dan doakanlah mereka. Sungguh, doamu itu menjadi ketenteraman bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103)

Penjelasan:
Allah memerintahkan Nabi untuk mengambil sedekah (zakat) yang membersihkan harta dan jiwa. Sebagian ulama mengatakan ini untuk sedekah sunah sebagai tebusan dosa, sebagian lain mengatakan ini adalah zakat wajib.


29. Doa Nabi adalah ketenteraman

Penjelasan:
Rasulullah memiliki kebiasaan mendoakan orang yang memberi sedekah. Doa beliau menjadi ketenteraman hati bagi mereka. Para ulama berbeda pendapat apakah doa ini wajib atau sunah, dan khusus untuk zakat wajib atau sedekah sunah.


30. Allah menerima tobat dan sedekah

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Terjemahan:
“Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan menerima sedekah (zakat), dan bahwa Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang?” (QS. At-Taubah: 104)

Penjelasan:
Ayat ini memotivasi untuk bertobat dan bersedekah, karena Allah pasti menerima keduanya.


31. Perintah beramal saleh

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Terjemahan:
“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang beriman, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105)

Penjelasan:
Setelah bertobat, orang-orang diperintahkan untuk beramal saleh. Amal mereka akan dilihat Allah, Rasul, dan kaum beriman. Kelak di akhirat semua akan dibalas.


32. Tiga orang yang ditangguhkan (Ka'ab, Murarah, Hilal)

وَآخَرُونَ مُرْجَوْنَ لِأَمْرِ اللَّهِ إِمَّا يُعَذِّبُهُمْ وَإِمَّا يَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Terjemahan:
“Dan ada orang-orang lain yang ditangguhkan (putusannya) untuk (mendapat) perintah Allah; baik Allah akan menyiksa mereka, maupun menerima tobat mereka. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 106)

Penjelasan:
Inilah tiga orang (Ka'ab bin Malik, Murarah bin ar-Rabi', dan Hilal bin Umayyah) yang tertinggal dari Perang Tabuk tanpa uzur dan tanpa berbohong. Mereka jujur mengakui kesalahan. Allah menangguhkan keputusan mereka selama 50 hari, lalu menerima tobat mereka.


33. Allah menerima tobat Nabi, Muhajirin, dan Anshar

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Terjemahan:
“Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar yang mengikuti beliau dalam masa kesulitan (Perang Tabuk), setelah hati segolongan dari mereka hampir menyimpang. Kemudian Allah menerima tobat mereka. Sungguh, Allah Maha Penyantun, Maha Penyayang kepada mereka.” (QS. At-Taubah: 117)

Penjelasan:
Allah memuji para sahabat yang tetap setia dalam Perang Tabuk meskipun dalam kesulitan berat, dan menerima tobat mereka.


34. Khusus tobat tiga orang yang tertinggal

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Terjemahan:
“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga ketika bumi yang luas itu terasa sempit bagi mereka dan jiwa mereka pun terasa sempit (pula), serta mereka yakin bahwa tidak ada tempat berlindung dari Allah kecuali kepada-Nya, maka Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 118)

Penjelasan:
Inilah puncak ujian bagi Ka'ab, Murarah, dan Hilal. Setelah 50 hari dijauhi, mereka merasa bumi terasa sempit. Mereka akhirnya bertobat dengan tulus, dan Allah menerima tobat mereka.


35. Orang yang tidak pantas tinggal di belakang

مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

Terjemahan:
“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang badui di sekitar mereka, untuk tidak ikut serta (berperang) bersama Rasulullah dan lebih mencintai diri mereka daripada diri beliau. Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa rasa haus, lelah, dan lapar di jalan Allah, tidak pula melangkah di suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak pula mendapat sesuatu keuntungan dari musuh, melainkan setiap itu akan ditulis sebagai amal saleh bagi mereka. Sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 120)

Penjelasan:
Allah menegur orang yang lebih mencintai diri sendiri daripada Rasulullah. Setiap tetes keringat, setiap langkah, setiap rasa lapar dan haus di jalan Allah, sekecil apa pun, akan mendapat pahala besar. Allah tidak akan menyia-nyiakan amal kebaikan.


Sumber:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setelah Fathu Makkah: Ketakutan Anshar, Kisah Bani Judzaimah, dan Penghancuran Berhala

Perang Hunain: Pelajaran dari Kemenangan yang Hampir Sirna

Ketika Kemenangan Bertemu Kedermawanan: Kisah Delegasi Hawazin dan Pembagian Rampasan Hunain