Tabuk: Pelajaran dari Negeri Tsamud, Perjanjian Damai, dan Pengkhianatan di Balik Masjid

Di depan gerbang kota (Tsaniyyat al-Wada'), rombongan pasukan yang kembali disambut oleh kerumunan wanita dan anak-anak. Beberapa wanita mengenakan pakaian sopan dengan kerudung, anak-anak kecil berlari riang menyambut para prajurit. Para prajurit menunggang unta dan kuda dengan wajah lelah namun bahagia. Seorang tokoh utama dengan jubah putih digambarkan dari sudut belakang di atas unta, tangan sedikit terangkat memberi isyarat salam. Suasana penuh kegembiraan, syukur, dan kehangatan persaudaraan.

Melewati Negeri Tsamud: Pelajaran bagi Orang-Orang yang Berakal

Dalam perjalanan menuju Tabuk, pasukan Muslim melewati daerah Al-Hijr —bekas perkampungan kaum Tsamud, kaum yang mendustakan Nabi Shaleh dan dibinasakan Allah. Ketika melihat tempat itu, Rasulullah bersabda kepada para sahabat:

لاَ تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ إِلاَّ أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَهُمْ

Artinya: “Janganlah kalian memasuki tempat-tempat tinggal orang-orang yang menzalimi diri sendiri, kecuali dalam keadaan menangis (merenungkan azab), agar kalian tidak ditimpa seperti apa yang menimpa mereka.”

Beliau kemudian menutupi kepalanya dengan kain dan mempercepat langkah unta hingga melewati lembah itu.

Dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Umar, disebutkan bahwa pasukan mengambil air dari sumur-sumur yang biasa digunakan kaum Tsamud. Mereka membuat adonan tepung dan memasak daging. Rasulullah memerintahkan mereka untuk menuangkan masakan itu dan memberikan adonan tepung kepada unta. Beliau membawa mereka hingga ke sumur yang biasa diminumi unta Nabi Shaleh, dan melarang mereka mendekati reruntuhan kaum yang diazab.

Ini menunjukkan betapa perhatiannya Rasulullah untuk selalu mengingatkan umatnya akan tanda-tanda kekuasaan Allah dan pelajaran dari masa lalu.


Romawi Mundur: Tabuk Tanpa Pertempuran

Ketika pasukan Islam tiba di Tabuk, mereka tidak menemukan seorang pun dari pasukan Romawi. Ternyata, ketika berita tentang pergerakan pasukan Muslim—yang lebih memilih mati syahid daripada hidup—sampai kepada Kaisar Romawi, mereka memilih mundur ke dalam benteng-benteng mereka di Syam. Rasulullah tidak melihat perlunya mengejar mereka masuk ke negeri mereka. Beliau berdiam di perbatasan, menunjukkan kekuatan, dan bersiap menghadapi siapa pun yang ingin melawan.


Utusan dari Ailah, Jarba, dan Adzruh: Perjanjian Damai di Perbatasan

Rasulullah tinggal di Tabuk selama beberapa belas hari. Tujuannya bukan hanya untuk menunjukkan bahwa kekuasaan Allah tidak perlu takut kepada siapa pun, tetapi juga untuk mengamankan perbatasan utara dengan mengadakan perjanjian dengan penduduk sekitar.

Yuhannah bin Ru'bah —penguasa Ailah (kota di tepi Laut Merah, dekat Teluk Aqabah)—datang menemui Rasulullah , mengadakan perjanjian damai, dan membayar jizyah. Rasulullah memberinya jaminan keamanan dan menuliskan surat perjanjian.

Penduduk Jarba dan Adzruh juga datang, mengadakan perjanjian serupa, membayar jizyah, dan diberi jaminan keamanan.

Penguasa Ailah juga menghadiahkan Rasulullah seekor baghal putih (keledai), dan memberinya selembar burdah (kain bergaris), serta menuliskan untuknya hak atas wilayah laut mereka.


Isi Surat Rasulullah kepada Yuhannah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ: هَذِهِ أَمَنَةٌ مِنَ اللَّهِ وَمُحَمَّدٍ النَّبِيِّ رَسُولِ اللَّهِ لِيُحَنَّةَ بْنِ رُؤْبَةَ وَأَهْلِ أَيْلَةَ، سُفُنِهِمْ وَسَيَّارَتِهِمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ، لَهُمْ ذِمَّةُ اللَّهِ، وَذِمَّةُ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ، وَمَنْ كَانَ مَعَهُمْ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ وَأَهْلِ الْيَمَنِ وَأَهْلِ الْبَحْرِ، فَمَنْ أَحْدَثَ مِنْهُمْ حَدَثًا، فَإِنَّهُ لَا يَحُولُ مَالُهُ دُونَ نَفْسِهِ، وَإِنَّهُ طَيِّبٌ لِمَنْ أَخَذَهُ مِنَ النَّاسِ، وَإِنَّهُ لَا يَحِلُّ أَنْ يُمْنَعُوا مَاءً يُرِيدُونَهُ وَلَا طَرِيقًا يُرِيدُونَهُ مِنْ بَرٍّ أَوْ بَحْرٍ

Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah jaminan keamanan dari Allah dan Muhammad, Nabi dan Utusan Allah, untuk Yuhannah bin Ru'bah dan penduduk Ailah, untuk kapal-kapal dan kendaraan mereka di darat dan laut. Mereka mendapatkan perlindungan Allah dan perlindungan Muhammad sang Nabi. Demikian pula siapa yang bersama mereka dari penduduk Syam, Yaman, dan penduduk pesisir. Barang siapa di antara mereka yang melakukan pelanggaran, maka hartanya tidak akan melindungi dirinya (dia akan dihukum), dan harta itu halal bagi siapa yang mengambilnya (sebagai rampasan). Tidak halal bagi siapa pun menghalangi mereka dari air yang mereka inginkan, atau dari jalan yang mereka inginkan, baik di darat maupun di laut.”

Rasulullah memberikan burdah (kain) beliau sebagai tambahan jaminan keamanan bagi mereka.


Surat untuk Penduduk Jarba dan Adzruh

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ: مِنْ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ رَسُولِ اللَّهِ لِأَهْلِ جَرْبَا وَأَذْرُحَ: إِنَّهُمْ آمِنُونَ بِأَمَانِ اللَّهِ وَأَمَانِ مُحَمَّدٍ، وَإِنَّ عَلَيْهِمْ مِائَةَ دِينَارٍ فِي كُلِّ رَجَبٍ، وَمِائَةَ أُوقِيَّةٍ طَيِّبَةٍ. وَإِنَّ اللَّهَ عَلَيْهِمْ كَفِيلٌ بِالنُّصْحِ وَالْإِحْسَانِ إِلَى الْمُسْلِمِينَ، وَمَنْ لَجَأَ إِلَيْهِمْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, Nabi dan Utusan Allah, untuk penduduk Jarba dan Adzruh: Sesungguhnya mereka aman dengan jaminan keamanan Allah dan jaminan keamanan Muhammad. Dan sesungguhnya kewajiban mereka adalah seratus dinar setiap bulan Rajab, dan seratus uqiyah (sekitar 4 kg) minyak wangi. Dan Allah adalah penjamin bagi mereka untuk bersikap tulus dan berbuat baik kepada kaum Muslimin, serta kepada siapa pun yang berlindung kepada mereka dari kalangan Muslim.”

Dengan perjanjian-perjanjian ini, Rasulullah mengamankan perbatasan utara dari serangan Romawi melalui jalur tersebut.


Khalid bin al-Walid dan Ukaidir Dumah

Hanya satu penguasa yang masih dikhawatirkan: Ukaidir bin Abdul Malik al-Kindi, penguasa Dumah al-Jandal (sebuah wilayah antara Madinah dan Damaskus). Rasulullah khawatir ia akan membantu pasukan Romawi jika mereka datang dari arahnya.

Maka beliau mengirim Khalid bin al-Walid bersama 500 pasukan berkuda. Beliau memberi tahu Khalid bahwa ia akan menemukan Ukaidir sedang berburu sapi liar. Khalid pun berangkat. Benar saja, di malam hari ia mendapati Ukaidir bersama saudarunya Hassan dan beberapa keluarganya sedang berburu. Mereka tidak memberikan perlawanan berarti. Hassan terbunuh, dan Ukaidir ditawan.

Ukaidir mengenakan jubah sutra bertabur emas (qaba' min dibaj mukhawsy bi adz-dzahab). Khalid melepas jubah itu dan mengirimkannya kepada Rasulullah sebelum ia sendiri datang. Para sahabat saling menyentuh jubah itu dan takjub. Rasulullah bersabda:

أَتَعْجَبُونَ مِنْ هَذَا؟ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَمَنَادِيلُ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ فِي الْجَنَّةِ أَحْسَنُ مِنْ هَذَا

Artinya: “Apakah kalian takjub dengan ini? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh sapu tangan Sa’ad bin Mu’adz di surga lebih indah dari ini.”

Kemudian Khalid datang membawa Ukaidir. Rasulullah membiarkannya tetap hidup, memberinya jaminan keamanan, dan mengadakan perjanjian jizyah. Setelah itu ia dibebaskan. Terdapat perbedaan pendapat apakah Ukaidir masuk Islam atau tidak. Pendapat yang kuat adalah ia tidak masuk Islam, atau masuk Islam lalu murtad. Wallahu a'lam.


Kembali ke Madinah: Musyawarah yang Bijaksana

Setelah beberapa hari di Tabuk, Rasulullah bermusyawarah dengan para sahabat: apakah akan meneruskan perjalanan ke Syam? Umar bin al-Khaththab berkata: “Jika engkau diperintahkan untuk berjalan, maka berjalanlah.”

Rasulullah bersabda: لَوْ كُنْتُ أُمِرْتُ بِالسَّيْرِ لَمَا اسْتَشَرْتُ (Jika aku diperintahkan untuk berjalan, niscaya aku tidak akan bermusyawarah).

Umar pun berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh Romawi memiliki pasukan yang banyak, sementara tidak ada seorang Muslim pun di Syam. Kita telah dekat, dan kedekatan kita telah menakuti mereka. Sebaiknya tahun ini kita kembali, dan lihatlah nanti atau Allah akan menentukan urusan lain.”

Rasulullah memandang baik pendapat Umar dan mengikutinya. Pasukan pun kembali ke Madinah dalam keadaan bersyukur. Keputusan ini bijaksana, karena saat itu Jazirah Arab belum sepenuhnya tunduk. Setelah Tabuk, suku Tsaqif dan lainnya masuk Islam, sehingga seluruh Jazirah menjadi satu kesatuan. Barulah setelah itu, pintu jihad ke luar Jazirah terbuka, yang kemudian dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin.


Wafatnya Dzul Bijadain di Perjalanan Pulang

Dalam perjalanan pulang, seorang sahabat bernama Abdullah Dzul Bijadain (pemilik dua kain bergaris) meninggal dunia. Para sahabat menggali kubur untuknya. Rasulullah turun ke dalam liang lahat, sementara Abu Bakar dan Umar menurunkannya perlahan. Abdullah berkata: “Dekatkanlah kepadaku saudaramu (Rasulullah).” Mereka mendekatkan. Ketika Rasulullah membaringkannya, beliau berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي قَدْ أَمْسَيْتُ رَاضِيًا عَنْهُ فَارْضَ عَنْهُ

Artinya: “Ya Allah, sungguh aku telah menjadi ridha kepadanya, maka ridhailah engkau kepadanya.”


Tipu Daya Para Munafik di Jalan Pulang

Ketika melewati jalan yang menanjak (aqabah), sekelompok 12 orang munafik berniat mencelakakan Rasulullah dengan menghalangi dan menjatuhkan untanya dari tempat tinggi. Hudzaifah bin al-Yaman memegang tali kekang unta, dan Ammar bin Yasir menggiring unta dari belakang. Tiba-tiba mereka melihat orang-orang bertopeng menghadang. Hudzaifah segera membangunkan Rasulullah . Beliau berteriak, dan mereka pun melarikan diri.

Rasulullah bertanya: “Apakah kalian mengenal mereka?” Mereka menjawab: “Tidak, mereka bertopeng.” Beliau bersabda: “Mereka adalah orang-orang munafik sampai hari kiamat. Tahukah kalian apa yang mereka inginkan?” Kami menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Mereka ingin menjatuhkan Rasulullah dari tempat tinggi ini!” Kami bertanya: “Tidakkah engkau mengirim utusan ke kabilah-kabilah mereka agar setiap kabilah menghadapkan kepala orang jahat mereka?” Beliau bersabda:

لَا، أَكْرَهُ أَنْ يَتَحَدَّثَ الْعَرَبُ أَنَّ مُحَمَّدًا قَاتَلَ بِقَوْمِهِ حَتَّى إِذَا أَظْهَرَهُ اللَّهُ بِهِمْ أَقْبَلَ عَلَيْهِمْ يَقْتُلُهُمْ

Artinya: “Tidak, aku benci jika orang-orang Arab nanti berbicara bahwa Muhammad memerangi dengan kaumnya, dan ketika Allah memenangkannya bersama mereka, ia malah berbalik membunuh mereka.”

Beliau kemudian mendoakan keburukan atas mereka. Ammar bin Yasir memukul wajah unta-unta mereka untuk menyingkirkan mereka dari jalan Rasulullah hingga beliau bersabda: “Cukup, cukup.” Merekalah yang dimaksud Allah dalam firman-Nya:

وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا

Artinya: “Dan mereka berniat melakukan apa yang tidak mereka capai.” (QS. At-Taubah: 74)


Masjid Dhirar: Ibadah di Balik Pengkhianatan

Latar Belakang

Abu 'Amir ar-Rahib (sang rahib) adalah seorang yang sejak awal memusuhi Rasulullah . Ia dijuluki rahib karena kesalehannya di masa jahiliah, tetapi ketika Islam datang, ia menolak. Rasulullah bersabda: “Jangan kalian sebut dia rahib, tetapi sebutlah dia al-fasiq (orang fasik).” Doa Rasulullah semoga ia mati dalam keadaan terbuang dan terusir pun terkabul. Abu 'Amir adalah orang yang menghasut Quraisy dalam Perang Uhud dan menggali lubang-lubang di medan perang untuk menjebak kaum Muslimin.

Setelah melihat kekalahan demi kekalahan, ia lari ke Romawi menemui Kaisar Heraklius, meminta bantuan dan berjanji akan kembali dengan pasukan. Ia menulis surat kepada orang-orang munafik di Madinah, menyuruh mereka membangun benteng atau tempat yang bisa digunakan sebagai markas untuk menyambut pasukannya nanti.

Pembangunan Masjid

Maka 12 orang munafik (diantaranya: Khidzam bin KhalidTsalabah bin HathibMu'attib bin QusyairNabtal bin al-HaritsMujamma' bin Jariyah – yang menjadi imam mereka) membangun sebuah masjid di dekat masjid Quba'. Mereka menyebutnya Masjid Dhirar (masjid yang menimbulkan bahaya dan perpecahan). Ketika mereka selesai, mereka datang kepada Rasulullah saat beliau bersiap menuju Tabuk, memohon agar beliau mau salat di masjid mereka sebagai pengakuan dan pengesahan. Mereka beralasan bahwa masjid itu dibangun untuk orang-orang yang sakit, yang membutuhkan di malam hujan dan dingin.

Allah melindungi Rasulullah dari salat di sana. Beliau bersabda: أَنَا عَلَى جَنَاحِ سَفَرٍ، وَلَكِنْ إِذَا رَجَعْنَا – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – أَتَيْنَاكُمْ فَصَلَّيْنَا لَكُمْ فِيهِ (Aku sedang dalam perjalanan, tetapi jika kita kembali, insya Allah, kita akan datang dan salat untuk kalian di dalamnya).

Penghancuran

Ketika Rasulullah kembali dari Tabuk, dan tinggal sehari atau setengah hari perjalanan dari Madinah, Jibril turun memberitahukan tentang Masjid Dhirar dan niat busuk di baliknya. Rasulullah memanggil Malik bin ad-Dukhsyum dan Ma'n bin 'Adi (atau saudaranya 'Ashim) dan bersabda:

انْطَلِقَا إِلَى هَذَا الْمَسْجِدِ الظَّالِمِ أَهْلُهُ فَاهْدِمَاهُ وَحَرِّقَاهُ

Artinya: “Pergilah berdua ke masjid yang pemiliknya zalim ini, lalu robohkan dan bakarlah.”

Mereka pun pergi, membakar dan merobohkan masjid itu. Maka turunlah firman Allah:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ . لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

Artinya: “Dan orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bahaya, kekafiran, perpecahan di antara orang-orang mukmin, dan sebagai tempat persiapan bagi orang-orang yang sebelumnya memerangi Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersumpah, ‘Kami tidak menginginkan selain kebaikan.’ Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka benar-benar pendusta. Janganlah engkau berdiri di dalamnya (salat) selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih layak engkau berdiri di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah mencintai orang-orang yang bersuci.” (QS. At-Taubah: 107-108)


Pelajaran untuk Sepanjang Zaman

Kisah Masjid Dhirar bukan hanya sejarah. Ia adalah peringatan bagi setiap generasi bahwa musuh Islam sering kali menggunakan kedok agama, pendidikan, sosial, dan kemanusiaan untuk melemahkan akidah umat. Mereka mendirikan tempat ibadah, sekolah, forum budaya, bahkan rumah sakit dengan nama pelayanan, tetapi tujuannya adalah menanamkan keraguan dan merusak nilai-nilai Islam. Semua itu lebih berbahaya daripada Masjid Dhirar yang telah dihancurkan Allah dan Rasul-Nya.


Kembali ke Madinah: Sambutan dan Penyesalan yang Tertinggal

Ketika Rasulullah dan pasukan tiba di Madinah, mereka disambut oleh para wanita, anak-anak, dan budak-budak dari Tsaniyyat al-Wada' dengan melantunkan syair kegembiraan. Mereka menyambut Rasulullah yang mulia, para sahabat yang penuh berkah, dan pasukan yang menang.

Tidak semua orang yang tertinggal dari Perang Tabuk adalah munafik. Ada yang benar-benar memiliki uzur, dan ada yang tidak memiliki uzur tetapi tidak ikut karena malas. Di antara mereka, tiga orang sahabat yang jujur (Ka'ab bin Malik, Murarah bin ar-Rabi', dan Hilal bin Umayyah) akan diuji dengan ujian berat dan akhirnya diterima tobat mereka. Namun kisah mereka akan kita sambung di lain kesempatan.


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perang Hunain: Pelajaran dari Kemenangan yang Hampir Sirna

Perang Tha'if: Ketika Ketekunan Berjumpa dengan Kasih Sayang

Setelah Fathu Makkah: Ketakutan Anshar, Kisah Bani Judzaimah, dan Penghancuran Berhala