Perang Tha'if: Ketika Ketekunan Berjumpa dengan Kasih Sayang

perkemahan pasukan Muslim di padang pasir di kaki bukit, dengan benteng Tha'if yang kokoh di latar belakang. Di depan benteng, tidak ada pertempuran, hanya sunyi. Beberapa tenda sederhana berdiri di perkemahan, dengan asap tipis dari api unggun. Beberapa laki-laki duduk bersila di atas tikar, ada yang membaca, ada yang beristirahat. Seekor unta beristirahat di dekat tenda. Langit sore berwarna ungu dan jingga, menciptakan suasana teduh dan tenang.

Latar Belakang: Pelarian ke Benteng yang Kokoh

Setelah kekalahan telak dalam Perang Hunain, Malik bin 'Auf—pemimpin pasukan musyrik—melarikan diri bersama sisa-sisa pasukannya yang tercerai-berai menuju Tha'if. Tha'if bukanlah kota biasa. Ia adalah kota yang berbenteng kokoh, memiliki pintu-pintu yang dapat ditutup rapat sebagaimana kebanyakan kota Arab pada masa itu. Penduduknya sangat berpengalaman dalam perang pengepungan. Mereka juga memiliki kekayaan melimpah yang menjadikan benteng-benteng mereka sulit ditembus.

Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk bersiap berangkat menuju Tha'if. Beliau memimpin pasukan yang cukup besar di bulan Syawal tahun ke-8 Hijriah. Pasukan Islam tiba di dekat benteng-benteng Tha'if dan mendirikan perkemahan di sana.


Pengepungan yang Melelahkan

Penduduk Tha'if tidak tinggal diam. Dari atas benteng mereka, mereka melepaskan tembakan panah ke arah kaum Muslimin. Beberapa sahabat terluka. Rasulullah kemudian memindahkan perkemahan ke tempat yang lebih aman—lokasi yang kelak menjadi tempat berdirinya Masjid Tha'if setelah suku Tsaqif masuk Islam.

Di antara istri-istri beliau yang ikut serta dalam ekspedisi ini adalah Ummu Salamah dan Zainab binti Jahsy. Dua buah kemah (qubbah) didirikan untuk mereka. Rasulullah salat di antara kedua kemah tersebut bersama para sahabat.

Pengepungan berlangsung selama lebih dari dua puluh malam (ada yang mengatakan tujuh belas malam). Selama masa itu, panah terus melayang antara kedua belah pihak.


Janji Kemerdekaan bagi Para Budak

Di tengah pengepungan, Rasulullah menunjukkan strategi yang cerdas sekaligus penuh belas kasih. Beliau memerintahkan agar diserukan kepada penduduk Tha'if:

مَنْ خَرَجَ إِلَيْنَا مِنَ الْعَبِيدِ فَهُوَ حُرٌّ

Artinya: “Barang siapa di antara para budak yang keluar menemui kami, maka ia merdeka.”

Seruan ini membuahkan hasil. Sejumlah budak memanjat dinding benteng dan melarikan diri. Di antara mereka adalah:

  • Abu Bakrah (Nufai' bin Masruh al-Habasyi) – mantan budak al-Harits bin Kaldah, kemudian diangkat menjadi anak angkat sehingga dinisbatkan kepada al-Harits.
  • Al-Munba'itsYahnisWardan, dan sekitar 23 orang lainnya.

Mereka semua masuk Islam, dan Rasulullah memerdekakan mereka. Setiap orang diserahkan kepada seorang Muslim untuk dinafkahi dan ditanggung keperluannya.

Ketika penduduk Tha'if akhirnya masuk Islam di kemudian hari, mereka meminta agar budak-budak mereka dikembalikan. Rasulullah bersabda:

لَا، أُولَئِكَ عُتَقَاءُ اللَّهِ

Artinya: “Tidak. Mereka adalah orang-orang yang dimerdekakan oleh Allah.”


Upaya Penghancuran Benteng: Manjanik dan Dabbabah

Rasulullah kemudian memerintahkan pelemparan batu besar menggunakan manjanīq (ketapel raksasa). Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa Rasulullah adalah orang pertama yang menggunakan manjanik dalam peperangan Islam. Awal penggunaannya adalah dalam pengepungan Tha'if. Ada yang mengatakan bahwa Salman al-Farisi lah yang mengusulkan dan membuatnya dengan tangannya sendiri.

Kaum Muslimin juga berusaha menggunakan dabbabah (kendaraan lapis baja) untuk mendekati dinding benteng dan melubanginya. Beberapa sahabat masuk ke dalam dabbabah dan merangkak maju ke dinding benteng.

Namun penduduk Tha'if sangat terampil dalam perang. Mereka memanaskan potongan-potongan besi hingga membara, lalu melemparkannya ke atas dabbabah. Dabbabah itu terbakar, dan prajurit Muslim yang berada di dalamnya terpaksa keluar karena takut terbakar. Dari atas benteng, pasukan Tha'if melepaskan panah hingga beberapa sahabat gugur.

Demikianlah, upaya yang sungguh-sungguh dan inovatif ini belum membuahkan hasil. Namun peristiwa ini menunjukkan betapa Rasulullah dan para sahabat sangat siap menerima dan menggunakan segala bentuk persenjataan yang memungkinkan dalam peperangan.


Memotong Kebun Anggur: Tekanan Psikologis

Tha'if terkenal dengan kebun-kebun anggur dan tanaman pertaniannya. Semua itu adalah kekayaan besar bagi penduduknya. Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk memotong tanaman-tanaman itu. Tujuannya bukan semata-mata merusak, tetapi sebagai tekanan psikologis agar mereka menyerah.

Kaum Muslimin mulai memotong dan membakar pohon-pohon anggur. Melihat keseriusan kaum Muslimin, penduduk Tha'if mengirim utusan kepada Rasulullah melalui Abu Sufyan bin Harb dan Al-Mughirah bin Syu'bah. Mereka berkata: “Jika engkau mau, ambillah (kebun-kebun itu) untuk dirimu sendiri; atau biarkanlah (dengan alasan) karena Allah dan hubungan kekerabatan.”

Rasulullah yang sangat penyayang dan lembut hati pun meninggalkan kebun-kebun itu untuk mereka.


Nasihat Nufl bin Mu'awiyah ad-Daili: “Rubah dalam Lubang”

Ketika pengepungan berkepanjangan, Rasulullah meminta pendapat Nufl bin Mu'awiyah ad-Daili:

مَا رَأْيُكَ فِي الْمُقَامِ عَلَيْهِمْ؟

Artinya: “Bagaimana pendapatmu tentang terus mengepung mereka?”

Nufl menjawab dengan perumpamaan yang terkenal: “Wahai Rasulullah, (mereka) seperti rubah dalam lubang. Jika engkau terus berdiri di lubang itu, engkau akan menangkapnya. Tetapi jika engkau tinggalkan, ia tidak akan membahayakanmu.”


Mimpi Rasulullah dan Keputusan Mundur

Suatu malam, Rasulullah bermimpi. Beliau menceritakan mimpi itu kepada sahabatnya, Abu Bakar ash-Shiddiq:

إِنِّي رَأَيْتُ كَأَنِّي أُهْدِيَتْ لِي قَعْبَةٌ مَمْلُوَّةٌ زُبْدًا، فَنَقَرَهَا دِيكٌ فَهَرَاقَ مَا فِيهَا

Artinya: “Aku bermimpi seolah-olah aku diberi hadiah sebuah mangkuk penuh berisi mentega. Kemudian seekor ayam jantan mematuknya sehingga isinya tumpah.”

Abu Bakar menafsirkan: “Aku tidak mengira bahwa engkau akan mencapai apa yang engkau inginkan dari mereka pada hari ini.”

Rasulullah bersabda: “Aku pun tidak melihat (bahwa kita akan mencapainya).”

Ketika Umar bin al-Khaththab mendengar bahwa Rasulullah belum diizinkan untuk menaklukkan Tsaqif secara paksa, ia datang bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah engkau belum diizinkan (untuk menaklukkan) mereka?” Beliau menjawab: لَا (Belum). Umar bertanya lagi: “Maka apakah aku menyerukan untuk berangkat?” Beliau bersabda: بَلَى (Ya). Maka Umar pun menyerukan keberangkatan.

Rasulullah kembali dari Tha'if tanpa berhasil menaklukkannya. Seandainya beliau terus mengepung, pasti mereka akan terdesak dan terpaksa menyerah. Namun hikmah Allah menghendaki agar penaklukan ditunda saat itu, sehingga mereka tidak dimusnahkan atau ditawan. Rasulullah —sebagaimana kebiasaannya—sangat menjaga agar tidak berlebihan dalam membunuh dan menumpahkan darah. Beliau juga sangat menginginkan hidayah bagi mereka.


Doa untuk Hidayah, Bukan Kutukan

Ketika pasukan Islam dalam perjalanan pulang dari Tha'if, seseorang berkata: “Wahai Rasulullah, panah-panah Tsaqif telah melukai kita. Doakanlah keburukan atas mereka!”

Namun Rasulullah yang penuh kasih justru berdoa:

اللَّهُمَّ اهْدِ ثَقِيفًا وَاكْفِنَا مُؤْنَتَهُمْ

Artinya: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada Tsaqif, dan cukupkanlah kami dari (keburukan) mereka.”


Kenangan Pahit di Masa Lalu

Bayangkanlah. Sebelum hijrah—sekitar sepuluh tahun sebelumnya—Rasulullah pernah pergi ke Tha'if untuk berdakwah. Beliau meminta perlindungan dan dukungan agar dapat menyampaikan risalah Tuhannya. Namun penduduk Tha'if justru menolak dan mendustakannya. Mereka bahkan menghasut anak-anak kecil dan orang-orang bodoh untuk melempari beliau dengan batu hingga kedua tumitnya berlumuran darah.

Rasulullah kembali dengan hati sedih. Beliau baru tersadar ketika tiba di Qarn al-Tsa'alib. Malaikat Jibril datang dan berkata: “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan bagaimana mereka menolakmu. Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung untukmu, agar engkau memerintahkannya sesuai kehendakmu terhadap mereka.”

Malaikat penjaga gunung pun memanggil dan berkata: “Aku adalah utusan Tuhanmu. Aku diutus kepadamu agar engkau memerintahkanku terhadap mereka sesuai kehendakmu. Jika engkau mau, aku akan menjatuhkan kedua gunung (yang mengapit Tha'if) kepada mereka.”

Namun Rasul yang pengasih dan penyayang menjawab:

أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Artinya: “Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”

Demikianlah, Rasulullah bersabar terhadap mereka selama sekitar sepuluh tahun setelah peristiwa itu. Beliau menunda penaklukan mereka, dan akhirnya Allah mengabulkan doanya. Pada tahun berikutnya, di bulan Ramadhan, penduduk Tha'if datang dalam keadaan Islam.


Hikmah di Balik Perang Tha'if

Perang Tha'if mengajarkan banyak pelajaran berharga:

  1. Kasih sayang mendahului dendam – Rasulullah tidak mengutuk Tha'if meskipun mereka pernah menyakitinya dan kini melawan. Beliau justru mendoakan hidayah untuk mereka.
  2. Kebijaksanaan dalam strategi – Penggunaan manjanik, dabbabah, pemotongan kebun, serta janji kemerdekaan bagi budak adalah bentuk strategi perang yang manusiawi.
  3. Kemenangan tidak selalu harus dengan kekerasan – Tha'if tidak ditaklukkan secara paksa saat itu, tetapi kemudian datang berbondong-bondong masuk Islam dengan sukarela.
  4. Doa orang yang terzalimi – Doa Rasulullah untuk hidayah Tha'if terbukti dikabulkan, meskipun butuh waktu setahun kemudian.
  5. Kesabaran dalam dakwah – Rasulullah menunggu sepuluh tahun sejak peristiwa pelemparan batu hingga akhirnya penduduk Tha'if masuk Islam.

Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setelah Fathu Makkah: Ketakutan Anshar, Kisah Bani Judzaimah, dan Penghancuran Berhala

Perang Hunain: Pelajaran dari Kemenangan yang Hampir Sirna

Fathu Makkah: Khutbah Agung, Baiat Massal, dan Perdebatan Para Ulama