Perang Tha'if: Ketika Ketekunan Berjumpa dengan Kasih Sayang
Latar Belakang: Pelarian ke Benteng yang Kokoh
Setelah kekalahan telak dalam Perang Hunain, Malik
bin 'Auf—pemimpin pasukan musyrik—melarikan diri bersama sisa-sisa
pasukannya yang tercerai-berai menuju Tha'if. Tha'if bukanlah kota
biasa. Ia adalah kota yang berbenteng kokoh, memiliki pintu-pintu yang dapat
ditutup rapat sebagaimana kebanyakan kota Arab pada masa itu. Penduduknya
sangat berpengalaman dalam perang pengepungan. Mereka juga memiliki kekayaan
melimpah yang menjadikan benteng-benteng mereka sulit ditembus.
Rasulullah ﷺ
memerintahkan para sahabat untuk bersiap berangkat menuju Tha'if. Beliau
memimpin pasukan yang cukup besar di bulan Syawal tahun ke-8 Hijriah.
Pasukan Islam tiba di dekat benteng-benteng Tha'if dan mendirikan perkemahan di
sana.
Pengepungan yang Melelahkan
Penduduk Tha'if tidak tinggal diam. Dari atas benteng
mereka, mereka melepaskan tembakan panah ke arah kaum Muslimin. Beberapa
sahabat terluka. Rasulullah ﷺ
kemudian memindahkan perkemahan ke tempat yang lebih aman—lokasi yang kelak
menjadi tempat berdirinya Masjid Tha'if setelah suku Tsaqif
masuk Islam.
Di antara istri-istri beliau yang ikut serta dalam ekspedisi
ini adalah Ummu Salamah dan Zainab binti Jahsy.
Dua buah kemah (qubbah) didirikan untuk mereka. Rasulullah ﷺ salat di antara kedua
kemah tersebut bersama para sahabat.
Pengepungan berlangsung selama lebih dari dua puluh
malam (ada yang mengatakan tujuh belas malam). Selama masa itu, panah
terus melayang antara kedua belah pihak.
Janji Kemerdekaan bagi Para Budak
Di tengah pengepungan, Rasulullah ﷺ menunjukkan strategi yang cerdas sekaligus
penuh belas kasih. Beliau memerintahkan agar diserukan kepada penduduk Tha'if:
“مَنْ
خَرَجَ إِلَيْنَا مِنَ الْعَبِيدِ فَهُوَ حُرٌّ”
Artinya: “Barang siapa di antara para budak yang keluar
menemui kami, maka ia merdeka.”
Seruan ini membuahkan hasil. Sejumlah budak memanjat dinding
benteng dan melarikan diri. Di antara mereka adalah:
- Abu
Bakrah (Nufai' bin Masruh al-Habasyi) – mantan budak al-Harits
bin Kaldah, kemudian diangkat menjadi anak angkat sehingga dinisbatkan
kepada al-Harits.
- Al-Munba'its, Yahnis, Wardan,
dan sekitar 23 orang lainnya.
Mereka semua masuk Islam, dan Rasulullah ﷺ memerdekakan mereka.
Setiap orang diserahkan kepada seorang Muslim untuk dinafkahi dan ditanggung
keperluannya.
Ketika penduduk Tha'if akhirnya masuk Islam di kemudian
hari, mereka meminta agar budak-budak mereka dikembalikan. Rasulullah ﷺ
bersabda:
“لَا،
أُولَئِكَ عُتَقَاءُ اللَّهِ”
Artinya: “Tidak. Mereka adalah orang-orang yang
dimerdekakan oleh Allah.”
Upaya Penghancuran Benteng: Manjanik dan Dabbabah
Rasulullah ﷺ
kemudian memerintahkan pelemparan batu besar menggunakan manjanīq (ketapel
raksasa). Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ adalah orang pertama yang menggunakan
manjanik dalam peperangan Islam. Awal penggunaannya adalah dalam pengepungan
Tha'if. Ada yang mengatakan bahwa Salman al-Farisi lah yang
mengusulkan dan membuatnya dengan tangannya sendiri.
Kaum Muslimin juga berusaha menggunakan dabbabah (kendaraan
lapis baja) untuk mendekati dinding benteng dan melubanginya. Beberapa sahabat
masuk ke dalam dabbabah dan merangkak maju ke dinding benteng.
Namun penduduk Tha'if sangat terampil dalam perang. Mereka
memanaskan potongan-potongan besi hingga membara, lalu melemparkannya ke atas
dabbabah. Dabbabah itu terbakar, dan prajurit Muslim yang berada di dalamnya
terpaksa keluar karena takut terbakar. Dari atas benteng, pasukan Tha'if
melepaskan panah hingga beberapa sahabat gugur.
Demikianlah, upaya yang sungguh-sungguh dan inovatif ini
belum membuahkan hasil. Namun peristiwa ini menunjukkan betapa Rasulullah ﷺ
dan para sahabat sangat siap menerima dan menggunakan segala bentuk
persenjataan yang memungkinkan dalam peperangan.
Memotong Kebun Anggur: Tekanan Psikologis
Tha'if terkenal dengan kebun-kebun anggur dan tanaman
pertaniannya. Semua itu adalah kekayaan besar bagi penduduknya. Rasulullah ﷺ
memerintahkan para sahabat untuk memotong tanaman-tanaman itu. Tujuannya bukan
semata-mata merusak, tetapi sebagai tekanan psikologis agar mereka menyerah.
Kaum Muslimin mulai memotong dan membakar pohon-pohon
anggur. Melihat keseriusan kaum Muslimin, penduduk Tha'if mengirim utusan
kepada Rasulullah ﷺ
melalui Abu Sufyan bin Harb dan Al-Mughirah bin
Syu'bah. Mereka berkata: “Jika engkau mau, ambillah (kebun-kebun
itu) untuk dirimu sendiri; atau biarkanlah (dengan alasan) karena Allah dan
hubungan kekerabatan.”
Rasulullah ﷺ
yang sangat penyayang dan lembut hati pun meninggalkan kebun-kebun itu untuk
mereka.
Nasihat Nufl bin Mu'awiyah ad-Daili: “Rubah dalam Lubang”
Ketika pengepungan berkepanjangan, Rasulullah ﷺ
meminta pendapat Nufl bin Mu'awiyah ad-Daili:
“مَا
رَأْيُكَ فِي الْمُقَامِ عَلَيْهِمْ؟”
Artinya: “Bagaimana pendapatmu tentang terus mengepung
mereka?”
Nufl menjawab dengan perumpamaan yang terkenal: “Wahai
Rasulullah, (mereka) seperti rubah dalam lubang. Jika engkau terus berdiri di
lubang itu, engkau akan menangkapnya. Tetapi jika engkau tinggalkan, ia tidak
akan membahayakanmu.”
Mimpi Rasulullah dan Keputusan Mundur
Suatu malam, Rasulullah ﷺ bermimpi. Beliau menceritakan mimpi itu
kepada sahabatnya, Abu Bakar ash-Shiddiq:
“إِنِّي
رَأَيْتُ كَأَنِّي أُهْدِيَتْ لِي قَعْبَةٌ مَمْلُوَّةٌ زُبْدًا، فَنَقَرَهَا
دِيكٌ فَهَرَاقَ مَا فِيهَا”
Artinya: “Aku bermimpi seolah-olah aku diberi hadiah
sebuah mangkuk penuh berisi mentega. Kemudian seekor ayam jantan mematuknya
sehingga isinya tumpah.”
Abu Bakar menafsirkan: “Aku tidak mengira bahwa
engkau akan mencapai apa yang engkau inginkan dari mereka pada hari ini.”
Rasulullah ﷺ
bersabda: “Aku pun tidak melihat (bahwa kita akan mencapainya).”
Ketika Umar bin al-Khaththab mendengar
bahwa Rasulullah ﷺ
belum diizinkan untuk menaklukkan Tsaqif secara paksa, ia datang
bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah engkau belum diizinkan (untuk
menaklukkan) mereka?” Beliau menjawab: “لَا” (Belum).
Umar bertanya lagi: “Maka apakah aku menyerukan untuk berangkat?” Beliau
bersabda: “بَلَى” (Ya).
Maka Umar pun menyerukan keberangkatan.
Rasulullah ﷺ
kembali dari Tha'if tanpa berhasil menaklukkannya. Seandainya
beliau terus mengepung, pasti mereka akan terdesak dan terpaksa menyerah. Namun
hikmah Allah menghendaki agar penaklukan ditunda saat itu, sehingga mereka
tidak dimusnahkan atau ditawan. Rasulullah ﷺ—sebagaimana kebiasaannya—sangat menjaga
agar tidak berlebihan dalam membunuh dan menumpahkan darah. Beliau juga sangat
menginginkan hidayah bagi mereka.
Doa untuk Hidayah, Bukan Kutukan
Ketika pasukan Islam dalam perjalanan pulang dari Tha'if,
seseorang berkata: “Wahai Rasulullah, panah-panah Tsaqif telah melukai
kita. Doakanlah keburukan atas mereka!”
Namun Rasulullah ﷺ yang penuh kasih justru berdoa:
“اللَّهُمَّ
اهْدِ ثَقِيفًا وَاكْفِنَا مُؤْنَتَهُمْ”
Artinya: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada Tsaqif, dan
cukupkanlah kami dari (keburukan) mereka.”
Kenangan Pahit di Masa Lalu
Bayangkanlah. Sebelum hijrah—sekitar sepuluh tahun
sebelumnya—Rasulullah ﷺ
pernah pergi ke Tha'if untuk berdakwah. Beliau meminta perlindungan dan
dukungan agar dapat menyampaikan risalah Tuhannya. Namun penduduk Tha'if justru
menolak dan mendustakannya. Mereka bahkan menghasut anak-anak kecil dan
orang-orang bodoh untuk melempari beliau dengan batu hingga kedua tumitnya
berlumuran darah.
Rasulullah ﷺ
kembali dengan hati sedih. Beliau baru tersadar ketika tiba di Qarn
al-Tsa'alib. Malaikat Jibril datang dan berkata: “Sesungguhnya
Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan bagaimana mereka menolakmu.
Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung untukmu, agar engkau
memerintahkannya sesuai kehendakmu terhadap mereka.”
Malaikat penjaga gunung pun memanggil dan berkata: “Aku
adalah utusan Tuhanmu. Aku diutus kepadamu agar engkau memerintahkanku terhadap
mereka sesuai kehendakmu. Jika engkau mau, aku akan menjatuhkan kedua gunung
(yang mengapit Tha'if) kepada mereka.”
Namun Rasul ﷺ yang pengasih dan penyayang menjawab:
“أَرْجُو
أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ لَا يُشْرِكُ
بِهِ شَيْئًا”
Artinya: “Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari
keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah tanpa mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu pun.”
Demikianlah, Rasulullah ﷺ bersabar terhadap mereka selama
sekitar sepuluh tahun setelah peristiwa itu. Beliau menunda
penaklukan mereka, dan akhirnya Allah mengabulkan doanya. Pada tahun
berikutnya, di bulan Ramadhan, penduduk Tha'if datang dalam keadaan Islam.
Hikmah di Balik Perang Tha'if
Perang Tha'if mengajarkan banyak pelajaran berharga:
- Kasih
sayang mendahului dendam – Rasulullah ﷺ tidak mengutuk
Tha'if meskipun mereka pernah menyakitinya dan kini melawan. Beliau justru
mendoakan hidayah untuk mereka.
- Kebijaksanaan
dalam strategi – Penggunaan manjanik, dabbabah, pemotongan kebun,
serta janji kemerdekaan bagi budak adalah bentuk strategi perang yang
manusiawi.
- Kemenangan
tidak selalu harus dengan kekerasan – Tha'if tidak ditaklukkan
secara paksa saat itu, tetapi kemudian datang berbondong-bondong masuk
Islam dengan sukarela.
- Doa
orang yang terzalimi – Doa Rasulullah ﷺ untuk hidayah
Tha'if terbukti dikabulkan, meskipun butuh waktu setahun kemudian.
- Kesabaran
dalam dakwah – Rasulullah ﷺ menunggu sepuluh
tahun sejak peristiwa pelemparan batu hingga akhirnya penduduk Tha'if
masuk Islam.
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah

Komentar
Posting Komentar