Perang Tabuk: Pelajaran dari Mereka yang Tertinggal
Empat Golongan yang Tidak Ikut Berperang
Dalam Perang Tabuk, mereka yang tidak ikut serta terbagi
menjadi empat golongan:
- Yang
diperintah dan tetap mendapat pahala – seperti Ali bin
Abi Thalib dan Muhammad bin Maslamah (karena
ditugaskan oleh Rasulullah di Madinah).
- Yang
dimaafkan (udzur) – yaitu orang-orang lemah, orang sakit, dan
mereka yang tidak memiliki kendaraan serta tidak menemukan Rasulullah ﷺ
memberi mereka bekal. Termasuk di dalamnya kelompok al-Bakka'in (orang-orang
yang menangis karena tidak bisa ikut).
- Orang
berdosa yang bertaubat – yaitu tiga orang yang tertinggal (Ka'ab
bin Malik, Hilal bin Umayyah, Murarah bin ar-Rabi'), serta Abu
Lubabah dan kelompoknya yang mengikat diri di tiang masjid hingga
Allah menerima taubat mereka.
- Orang
tercela yang buruk – yaitu kaum munafik, yang
lahiriah berbeda dengan batin mereka.
Kaum Munafik: Alasan Palsu di Balik Ketertinggalan
Kaum munafik datang kepada Rasulullah ﷺ setelah beliau
kembali dari Tabuk. Mereka mengemukakan berbagai alasan dan bersumpah palsu
untuk membenarkan ketidakhadiran mereka. Rasulullah ﷺ berpaling dari mereka dan menyerahkan
urusan mereka kepada Allah.
Tentang mereka, Allah menurunkan firman-Nya:
يَعْتَذِرُونَ
إِلَيْكُمْ إِذَا رَجَعْتُمْ إِلَيْهِمْ ۚ قُلْ لَا تَعْتَذِرُوا لَنْ نُؤْمِنَ
لَكُمْ قَدْ نَبَّأَنَا اللَّهُ مِنْ أَخْبَارِكُمْ ۚ وَسَيَرَى اللَّهُ
عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: “Mereka akan mengemukakan alasannya kepadamu
apabila kamu telah kembali kepada mereka. Katakanlah: ‘Janganlah kamu
mengemukakan alasan, kami tidak akan percaya kepadamu. Sungguh, Allah telah
memberitahukan kepada kami tentang beritamu. Dan Allah serta Rasul-Nya akan
melihat pekerjaanmu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui
yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan.’”
*(QS. At-Taubah: 94)*
Dan firman-Nya:
وَمِمَّنْ
حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ ۖ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ ۖ
مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ ۖ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ ۚ
سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَىٰ عَذَابٍ عَظِيمٍ
Artinya: “Dan di antara orang-orang Arab Badui di
sekitarmu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah.
Mereka keterlaluan dalam kekafiran. Kamu tidak mengetahui mereka; Kami yang
mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan
dikembalikan kepada azab yang besar.”
*(QS. At-Taubah: 101)*
Banyak ayat dalam Surah At-Taubah yang mengungkap tabir kaum
munafik dan tipu daya mereka.
Abu Lubabah dan Para Sahabatnya: Taubat dengan Mengikat
Diri
Abu Lubabah dan kelompoknya (ada tujuh atau sepuluh orang)
tertinggal karena rasa malas dan cenderung bermalas-malasan, bukan karena
keraguan atau kemunafikan. Mereka sangat menyesal. Sebagai ekspresi penyesalan
yang mendalam, mereka mengikat diri mereka pada tiang-tiang masjid Nabawi.
Rasulullah ﷺ
melewati mereka dan bertanya: “Siapa mereka?” Dijawab: “Abu Lubabah dan
sahabat-sahabatnya. Mereka tertinggal dari Anda, dan mereka bersumpah kepada
Allah tidak akan melepaskan ikatan mereka sampai Anda sendiri yang melepaskan
dan meridai mereka.”
Rasulullah ﷺ
bersabda: “وَأَنَا
أُقْسِمُ بِاللَّهِ لَا أُطْلِقُهُمْ وَلَا أَعْذُرُهُمْ حَتَّى يَكُونَ اللَّهُ
عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الَّذِي يُطْلِقُهُمْ، رَغِبُوا عَنِّي، وَتَخَلَّفُوا عَنِ
الْغَزْوِ مَعَ الْمُسْلِمِينَ”
Artinya: “Dan aku bersumpah demi Allah, aku tidak akan
melepaskan mereka dan tidak akan memaafkan mereka sampai Allah sendiri yang
melepaskan mereka. Mereka telah berpaling dariku dan tertinggal dari berperang
bersama kaum Muslimin.”
Ketika berita ini sampai kepada mereka, mereka berkata:
“Kami pun tidak akan melepaskan diri kami sampai Allah yang melepaskan kami.”
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
وَآخَرُونَ
اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا ۖ عَسَى
اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui
dosa-dosa mereka, mereka mencampurkan amal saleh dengan amal buruk.
Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.”
*(QS. At-Taubah: 102)*
Rasulullah ﷺ
segera mengutus seseorang untuk melepaskan mereka dan memaafkan mereka. Mereka
datang membawa harta mereka seraya berkata: “Wahai Rasulullah, inilah harta
kami. Sedekahkanlah untuk kami dan mohonkan ampun untuk kami.” Inilah kebiasaan
para sahabat: ketika Allah menerima taubat mereka dari suatu dosa, mereka
segera mengeluarkan harta sebagai wujud syukur.
Rasulullah ﷺ
bersabda: “Aku tidak diperintahkan untuk mengambil sesuatu dari hartamu.” Maka
Allah menurunkan ayat:
خُذْ
مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ
عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka,
dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk
mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka.
Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
*(QS. At-Taubah: 103)*
Rasulullah ﷺ
mengambil sepertiga harta mereka dan meninggalkan sisanya untuk mereka.
💔 Tiga Sahabat yang
Tertinggal: Ka'ab, Hilal, dan Murarah
Mereka adalah Ka'ab bin Malik, Hilal bin
Umayyah, dan Murarah bin ar-Rabi'. Mereka tidak berlebihan
dalam bertaubat seperti Abu Lubabah, sehingga taubat mereka ditangguhkan
selama lima puluh malam. Mereka inilah yang dimaksud dalam firman
Allah:
وَآخَرُونَ
مُرْجَوْنَ لِأَمْرِ اللَّهِ إِمَّا يُعَذِّبُهُمْ وَإِمَّا يَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۗ
وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Artinya: “Dan (ada pula) orang-orang lain yang
ditangguhkan (keputusan mereka) untuk perintah Allah; Allah akan mengazab
mereka atau menerima tobat mereka. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
*(QS. At-Taubah: 106)*
Berikut adalah ringkasan kisah Ka'ab bin Malik yang
diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Saya akan menyampaikannya dengan
bahasa yang mengalir.
Awal Mula: Ketika Semangat Mulai Melemah
Ka'ab berkata: “Aku tidak pernah tertinggal dari Rasulullah ﷺ
dalam peperangan kecuali Perang Tabuk. Aku juga tidak ikut Perang Badar, tetapi
tidak ada seorang pun yang mencela karena saat itu Rasulullah keluar untuk
menghadang kafilah Quraisy, bukan untuk berperang secara terencana.”
Perang Tabuk terjadi di musim panas yang sangat panas. Jarak
tempuh jauh, medan gersang, dan jumlah musuh besar. Kaum Muslimin yang ikut
sangat banyak sehingga tidak ada buku catatan yang mampu mencatat mereka semua
(belum ada sistem pendaftaran pasukan yang baku).
Rasulullah ﷺ
mulai mempersiapkan pasukan. Ka'ab pun berniat ikut. Setiap pagi ia berangkat
untuk mempersiapkan perlengkapannya, tetapi setiap kali ia kembali tanpa
menyelesaikan apa pun. Hari terus berlalu hingga akhirnya Rasulullah ﷺ
dan pasukan berangkat meninggalkan Madinah, sementara Ka'ab belum menyelesaikan
persiapannya sama sekali. Ia berkata dalam hati: “Aku akan menyiapkan diri
setelah satu atau dua hari, lalu menyusul mereka.” Namun ia terus menunda
hingga akhirnya rombongan sudah jauh.
Ia sangat menyesal. Setelah Rasulullah ﷺ pergi, Ka'ab berjalan
di antara orang-orang yang tertinggal. Ia hanya melihat dua jenis orang: orang
yang dicurigai sebagai munafik atau orang lemah yang dimaafkan
Allah.
Di Tabuk: Rasulullah Bertanya tentang Ka'ab
Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Tabuk, beliau bertanya: “مَا فَعَلَ
كَعْبٌ؟” (Apa yang dilakukan Ka'ab?)
Seorang laki-laki dari Bani Salamah berkata: “Wahai
Rasulullah, ia tertahan oleh dua jubahnya dan karena ia terlalu memerhatikan
penampilannya.” (Maksudnya ia sombong).
Mu'adz bin Jabal langsung menegur: “Sungguh
buruk apa yang engkau katakan. Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak
mengetahui darinya kecuali kebaikan.”
Ka'ab melanjutkan: “Ketika kabar bahwa Rasulullah ﷺ
akan segera tiba (kembali ke Madinah), sirnalah segala kebatilan dariku. Aku
sadar bahwa aku tidak akan selamat jika berdusta. Maka aku bertekad untuk
berkata jujur.”
Rasulullah ﷺ
kembali ke Madinah. Kebiasaan beliau: ketika pulang dari safar, beliau terlebih
dahulu ke masjid, salat dua rakaat, lalu duduk menemui orang-orang.
Para Mufti Alasan (Kaum Munafik) dan Ka'ab yang Jujur
Para sahabat yang tertinggal—sekitar delapan puluh orang
laki-laki—datang kepada Rasulullah ﷺ mengemukakan alasan dan bersumpah. Rasulullah ﷺ menerima penampilan
lahir mereka, membaiat mereka, dan memohonkan ampun, sedangkan urusan batin
mereka diserahkan kepada Allah.
Ka'ab datang. Setelah memberi salam, Rasulullah ﷺ
tersenyum dengan senyum orang yang marah. Beliau bersabda: “تَعَالَ” (Kemarilah).
Ka'ab duduk di hadapan beliau. Rasulullah ﷺ bertanya: “مَا خَلَّفَكَ،
أَلَمْ تَكُنْ قَدِ ابْتَعْتَ ظَهْرًا؟” (Apa yang menyebabkanmu
tertinggal? Bukankah engkau telah membeli kendaraan?)
Ka'ab menjawab dengan jujur: “Wahai Rasulullah, demi Allah,
jika aku ceritakan kepadamu hari ini kebohongan yang membuatmu ridha kepadaku,
pasti Allah akan segera memurkaikanmu kepadaku. Namun jika aku ceritakan yang
sebenarnya dan engkau marah karenanya, aku tetap berharap ampunan Allah. Demi
Allah, tidak ada alasan bagiku. Aku belum pernah sekuat dan sekaya saat ini
seperti ketika aku tertinggal darimu.”
Rasulullah ﷺ
bersabda: “أَمَّا
هَذَا فَقَدْ صَدَقَ، فَقُمْ حَتَّى يَقْضِيَ اللَّهُ فِيكَ”
Artinya: “Orang ini telah jujur. Berdirilah sampai Allah
memutuskan urusanmu.”
Ka'ab bertanya: “Apakah ada orang lain yang mengalami hal
yang sama?” Mereka menjawab: “Ya, dua orang. Mereka mengatakan seperti yang kau
katakan, dan kepada mereka juga dikatakan seperti yang dikatakan kepadamu.”
Ka'ab bertanya siapa mereka. Dijawab: Murarah bin ar-Rabi' dan Hilal
bin Umayyah.
Dikucilkan oleh Masyarakat
Rasulullah ﷺ
melarang seluruh kaum Muslimin berbicara kepada kami bertiga. Maka orang-orang
pun menjauhi kami. Bahkan wajah mereka berubah terhadap kami hingga bumi yang
aku kenal terasa asing. Kami menjalani ini selama lima puluh malam.
Dua sahabatku (Hilal dan Murarah) tinggal di rumah mereka
dan pasrah. Sedangkan aku yang paling muda dan paling kuat di antara mereka,
tetap keluar untuk salat berjamaah dan berjalan di pasar, tetapi tidak ada
seorang pun yang berbicara kepadaku. Aku mendatangi majelis Rasulullah ﷺ
setelah salat, memberi salam. Aku bertanya dalam hati: “Apakah beliau
menggerakkan bibirnya membalas salamku atau tidak?” Aku salat di dekatnya, dan
aku mengintip beliau. Jika aku menghadap ke salatku, beliau menghadap kepadaku;
jika aku menoleh ke arah beliau, beliau berpaling.
Menemui Sepupu yang Tercinta
Suatu hari, karena jemu dengan perlakuan manusia, Ka'ab
memanjat dinding kebun Abu Qatadah (sepupunya, orang yang
paling ia cintai). Ka'ab memberi salam, tetapi Abu Qatadah tidak menjawab
salamnya. Ka'ab berkata: “Wahai Abu Qatadah, demi Allah, bukankah engkau tahu
bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?” Abu Qatadah diam. Ka'ab mengulangi
pertanyaan itu hingga tiga kali. Abu Qatadah akhirnya menjawab: “Allah dan
Rasul-Nya lebih mengetahui.” Maka menangislah Ka'ab.
Godaan dari Raja Ghassan
Suatu hari, Ka'ab berjalan di pasar Madinah. Seorang petani
dari Nabath (penduduk Syam) yang datang menjual makanan bertanya: “Siapa yang
bisa menunjukkan kepadaku Ka'ab bin Malik?” Orang-orang menunjuk ke arahnya.
Petani itu memberikan surat dari raja Ghassan (penguasa daerah
Syam). Isi surat itu kira-kira: “Sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa
sahabatmu (Muhammad) telah mengucilkanmu. Allah tidak menjadikanmu di negeri
kehinaan dan kerugian. Mari bergabung dengan kami, niscaya kami akan
menghibumu.”
Ka'ab berkata: “Ini juga adalah cobaan.” Maka ia membawa
surat itu ke tungku perapian dan membakarnya.
Perintah Menjauhi Istri
Setelah empat puluh malam berlalu, datanglah utusan
Rasulullah ﷺ
kepada Ka'ab dengan pesan: “Rasulullah memerintahkanmu untuk menjauhi istrimu.”
Ka'ab bertanya: “Apakah aku harus menceraikannya atau apa?” Utusan menjawab:
“Jauhi dia saja, jangan mendekatinya.” Pesan yang sama juga disampaikan kepada
dua sahabat lainnya.
Ka'ab berkata kepada istrinya: “Pergilah kepada keluargamu,
tinggallah bersama mereka sampai Allah memutuskan perkara ini.”
Istri Hilal bin Umayyah datang kepada
Rasulullah ﷺ
dan berkata: “Wahai Rasulullah, Hilal adalah orang tua yang tidak berdaya dan
tidak memiliki pembantu. Apakah engkau keberatan jika aku melayaninya?”
Rasulullah ﷺ
bersabda: “لَا،
وَلَكِنْ لَا يَقْرَبْكِ” (Tidak, tetapi jangan sampai ia
mendekatimu). Ia berkata: “Demi Allah, ia tidak memiliki hasrat sedikit pun.
Demi Allah, ia terus menangis sejak peristiwa ini terjadi sampai hari ini.”
Kabar Gembira: Taubat Diterima
Ka'ab berkata: “Aku terus berada dalam keadaan seperti itu
selama sepuluh malam lagi (total lima puluh malam). Suatu ketika, aku sedang
duduk di atas atap rumah kami dalam keadaan jiwa terasa sesak, bumi terasa
sempit meskipun luas. Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang yang naik ke atas
bukit Sala' berteriak sekeras-kerasnya: 'Wahai Ka'ab,
berbahagialah!' Maka aku pun tersungkur sujud. Aku tahu bahwa
pertolongan telah datang.”
Rasulullah ﷺ
mengumumkan bahwa Allah telah menerima taubat kami setelah beliau selesai salat
Subuh. Orang-orang pun berlarian memberi kabar gembira. Seorang lelaki
menunggang kuda membawa kabar, dan seorang lainnya berlari ke atas bukit. Suara
laki-laki di bukit itu lebih cepat daripada kuda.
Ketika orang yang membawa kabar gembira itu datang, Ka'ab
melepaskan kedua pakaiannya dan memberikannya kepada orang itu sebagai hadiah.
Saat itu ia hanya memiliki dua pakaian itu. Ia meminjam dua pakaian lain, lalu
bergegas menuju Rasulullah ﷺ.
Orang-orang menyambutnya berkelompok demi kelompok,
mengucapkan selamat: “Selamat atas diterimanya taubatmu oleh Allah.” Ketika
masuk masjid, Rasulullah ﷺ
sedang duduk dikelilingi orang-orang. Thalhah bin Ubaidillah berdiri,
berlari kecil menghampiri Ka'ab, bersalaman, dan mengucapkan selamat. Ka'ab
berkata: “Demi Allah, tidak ada seorang Muhajirin pun yang berdiri menyambutku
selain Thalhah. Aku tidak akan melupakan itu untuk Thalhah.”
Setelah Ka'ab memberi salam, Rasulullah ﷺ—yang wajahnya
bersinar karena kegembiraan—bersabda: “أَبْشِرْ بِخَيْرِ يَوْمٍ مَرَّ عَلَيْكَ مُنْذُ
وَلَدَتْكَ أُمُّكَ”
Artinya: “Bergembiralah dengan hari terbaik yang pernah kau lalui sejak
ibumu melahirkanmu.”
Ka'ab berkata: “Wahai Rasulullah, sebagai bagian dari
taubatku, aku akan menyedekahkan seluruh hartaku kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Rasulullah ﷺ
bersabda: “أَمْسِكْ
عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ، فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ”
Artinya: “Tahanlah sebagian hartamu, itu lebih baik
bagimu.”
Ka'ab berkata: “Maka aku tahan bagianku di Khaibar.”
Kemudian ia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah
menyelamatkanku karena kejujuranku. Maka sebagai bagian dari taubatku, aku
tidak akan berbicara kecuali jujur sepanjang hidupku. Demi Allah, tidak ada
seorang Muslim pun yang Allah uji dengan kejujuran seperti yang Dia uji padaku
sejak aku sampaikan hal ini kepada Rasulullah ﷺ. Aku tidak pernah sengaja berdusta sejak
saat itu sampai hari ini, dan aku berharap Allah akan memeliharaku untuk sisa
hidupku.”
Allah menurunkan firman-Nya:
لَقَدْ
تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ
اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ
فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.
وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ
الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا
مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ
إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Artinya: “Sungguh, Allah telah menerima taubat Nabi,
orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar yang mengikuti beliau dalam masa
kesulitan (Perang Tabuk), setelah hati segolongan dari mereka hampir
menyimpang. Kemudian Dia menerima taubat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang kepada mereka. Dan (juga) terhadap tiga orang yang
ditangguhkan (taubat) mereka, hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka
padahal luas, dan jiwa mereka juga terasa sempit, dan mereka yakin tidak ada
tempat berlindung dari Allah kecuali hanya kepada-Nya. Kemudian Allah menerima
taubat mereka sehingga mereka benar-benar bertaubat. Sungguh, Allah Maha
Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
*(QS. At-Taubah: 117-118)*
Hikmah dari Kisah Tiga Sahabat
Kisah ini penuh dengan pelajaran berharga:
1. Kejujuran Lebih Berharga dari Keselamatan Duniawi
Ka'ab lebih memilih berkata jujur meskipun risikonya adalah
kemarahan Rasulullah ﷺ
dan pengucilan sosial. Ia lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia.
2. Konsekuensi Sosial bagi yang Meninggalkan
Kewajiban
Rasulullah ﷺ
memerintahkan pemboikotan sosial terhadap mereka yang sengaja meninggalkan
kewajiban tanpa uzur. Ini adalah bentuk pendidikan yang efektif.
3. Ketika Hati Sesak Hingga Bumi Terasa Sempit
Allah menggambarkan keadaan mereka: "hingga
ketika bumi terasa sempit bagi mereka padahal luas, dan jiwa mereka juga terasa
sempit". Ini adalah puncak tekanan psikologis yang hanya bisa diatasi
dengan pertolongan Allah.
4. Ujian Godaan dari Luar
Ketika dalam keadaan tertekan, Ka'ab menerima surat dari
Raja Ghassan yang menawarkan kedudukan dan kemuliaan. Ia tidak tergoda. Ia
justru membakar surat itu. Ini menunjukkan kekuatan iman yang kokoh.
5. Kegembiraan atas Taubat
Rasulullah ﷺ
berkata kepada Ka'ab: “Bergembiralah dengan hari terbaik yang pernah
kau lalui sejak ibumu melahirkanmu.” Ini menunjukkan betapa besar
nilai taubat di sisi Allah. Ka'ab pun memberikan dua pakaiannya sebagai hadiah
kepada pembawa kabar gembira. Para sahabat berdatangan mengucapkan selamat.
6. Thalhah bin Ubaidillah: Teladan Kesetiaan
Di tengah pengucilan total, Thalhah bin Ubaidillah berani
menyambut Ka'ab dengan hangat. Ka'ab tidak pernah melupakan kebaikan itu seumur
hidupnya.
Tabuk: Penutup Segala Peperangan
Dengan Perang Tabuk, sempurnalah kekuasaan Islam di seluruh
Jazirah Arab. Rasulullah ﷺ
mengamankan perbatasan utara dari ancaman Romawi. Suku-suku Arab berdatangan
dalam utusan-utusan, menyatakan ketundukan dan memeluk Islam. Perang Tabuk
menjadi ghazwah terakhir yang diikuti langsung oleh Rasulullah
ﷺ.
Allah berfirman:
هُوَ
الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى
الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Artinya: “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan agama yang benar, untuk dimenangkan-Nya terhadap seluruh agama, meskipun
orang-orang musyrik membencinya.”
*(QS. At-Taubah: 33)*
Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah
Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar
Posting Komentar