Perang Tabuk: Pelajaran dari Mereka yang Tertinggal

interior Masjid Nabawi yang sederhana dengan tiang-tiang kayu (sariyah). Beberapa laki-laki dewasa berpakaian Arab kuno terlihat mengikatkan diri mereka pada tiang-tiang tersebut dengan tali, kepala tertunduk, ekspresi penyesalan dan harap. Cahaya matahari lembut masuk dari jendela-jendela kecil, menciptakan suasana teduh dan kontemplatif. Tidak ada senjata, tidak ada kekerasan. Di latar belakang, samar-samar terlihat beberapa sosok lain duduk dengan tenang. Fokus pada nuansa taubat, kerendahan hati, dan pengharapan akan ampunan.

Empat Golongan yang Tidak Ikut Berperang

Dalam Perang Tabuk, mereka yang tidak ikut serta terbagi menjadi empat golongan:

  1. Yang diperintah dan tetap mendapat pahala – seperti Ali bin Abi Thalib dan Muhammad bin Maslamah (karena ditugaskan oleh Rasulullah di Madinah).
  2. Yang dimaafkan (udzur) – yaitu orang-orang lemah, orang sakit, dan mereka yang tidak memiliki kendaraan serta tidak menemukan Rasulullah memberi mereka bekal. Termasuk di dalamnya kelompok al-Bakka'in (orang-orang yang menangis karena tidak bisa ikut).
  3. Orang berdosa yang bertaubat – yaitu tiga orang yang tertinggal (Ka'ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, Murarah bin ar-Rabi'), serta Abu Lubabah dan kelompoknya yang mengikat diri di tiang masjid hingga Allah menerima taubat mereka.
  4. Orang tercela yang buruk – yaitu kaum munafik, yang lahiriah berbeda dengan batin mereka.

Kaum Munafik: Alasan Palsu di Balik Ketertinggalan

Kaum munafik datang kepada Rasulullah setelah beliau kembali dari Tabuk. Mereka mengemukakan berbagai alasan dan bersumpah palsu untuk membenarkan ketidakhadiran mereka. Rasulullah berpaling dari mereka dan menyerahkan urusan mereka kepada Allah.

Tentang mereka, Allah menurunkan firman-Nya:

يَعْتَذِرُونَ إِلَيْكُمْ إِذَا رَجَعْتُمْ إِلَيْهِمْ ۚ قُلْ لَا تَعْتَذِرُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكُمْ قَدْ نَبَّأَنَا اللَّهُ مِنْ أَخْبَارِكُمْ ۚ وَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: “Mereka akan mengemukakan alasannya kepadamu apabila kamu telah kembali kepada mereka. Katakanlah: ‘Janganlah kamu mengemukakan alasan, kami tidak akan percaya kepadamu. Sungguh, Allah telah memberitahukan kepada kami tentang beritamu. Dan Allah serta Rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’”
*(QS. At-Taubah: 94)*

Dan firman-Nya:

وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ مُنَافِقُونَ ۖ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ ۖ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لَا تَعْلَمُهُمْ ۖ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ ۚ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَىٰ عَذَابٍ عَظِيمٍ

Artinya: “Dan di antara orang-orang Arab Badui di sekitarmu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kekafiran. Kamu tidak mengetahui mereka; Kami yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.”
*(QS. At-Taubah: 101)*

Banyak ayat dalam Surah At-Taubah yang mengungkap tabir kaum munafik dan tipu daya mereka.


Abu Lubabah dan Para Sahabatnya: Taubat dengan Mengikat Diri

Abu Lubabah dan kelompoknya (ada tujuh atau sepuluh orang) tertinggal karena rasa malas dan cenderung bermalas-malasan, bukan karena keraguan atau kemunafikan. Mereka sangat menyesal. Sebagai ekspresi penyesalan yang mendalam, mereka mengikat diri mereka pada tiang-tiang masjid Nabawi.

Rasulullah melewati mereka dan bertanya: “Siapa mereka?” Dijawab: “Abu Lubabah dan sahabat-sahabatnya. Mereka tertinggal dari Anda, dan mereka bersumpah kepada Allah tidak akan melepaskan ikatan mereka sampai Anda sendiri yang melepaskan dan meridai mereka.”

Rasulullah bersabda: وَأَنَا أُقْسِمُ بِاللَّهِ لَا أُطْلِقُهُمْ وَلَا أَعْذُرُهُمْ حَتَّى يَكُونَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الَّذِي يُطْلِقُهُمْ، رَغِبُوا عَنِّي، وَتَخَلَّفُوا عَنِ الْغَزْوِ مَعَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya: “Dan aku bersumpah demi Allah, aku tidak akan melepaskan mereka dan tidak akan memaafkan mereka sampai Allah sendiri yang melepaskan mereka. Mereka telah berpaling dariku dan tertinggal dari berperang bersama kaum Muslimin.”

Ketika berita ini sampai kepada mereka, mereka berkata: “Kami pun tidak akan melepaskan diri kami sampai Allah yang melepaskan kami.”

Maka Allah menurunkan firman-Nya:

وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا ۖ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurkan amal saleh dengan amal buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
*(QS. At-Taubah: 102)*

Rasulullah segera mengutus seseorang untuk melepaskan mereka dan memaafkan mereka. Mereka datang membawa harta mereka seraya berkata: “Wahai Rasulullah, inilah harta kami. Sedekahkanlah untuk kami dan mohonkan ampun untuk kami.” Inilah kebiasaan para sahabat: ketika Allah menerima taubat mereka dari suatu dosa, mereka segera mengeluarkan harta sebagai wujud syukur.

Rasulullah bersabda: “Aku tidak diperintahkan untuk mengambil sesuatu dari hartamu.” Maka Allah menurunkan ayat:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
*(QS. At-Taubah: 103)*

Rasulullah mengambil sepertiga harta mereka dan meninggalkan sisanya untuk mereka.


💔 Tiga Sahabat yang Tertinggal: Ka'ab, Hilal, dan Murarah

Mereka adalah Ka'ab bin MalikHilal bin Umayyah, dan Murarah bin ar-Rabi'. Mereka tidak berlebihan dalam bertaubat seperti Abu Lubabah, sehingga taubat mereka ditangguhkan selama lima puluh malam. Mereka inilah yang dimaksud dalam firman Allah:

وَآخَرُونَ مُرْجَوْنَ لِأَمْرِ اللَّهِ إِمَّا يُعَذِّبُهُمْ وَإِمَّا يَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Dan (ada pula) orang-orang lain yang ditangguhkan (keputusan mereka) untuk perintah Allah; Allah akan mengazab mereka atau menerima tobat mereka. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
*(QS. At-Taubah: 106)*

Berikut adalah ringkasan kisah Ka'ab bin Malik yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Saya akan menyampaikannya dengan bahasa yang mengalir.


Awal Mula: Ketika Semangat Mulai Melemah

Ka'ab berkata: “Aku tidak pernah tertinggal dari Rasulullah dalam peperangan kecuali Perang Tabuk. Aku juga tidak ikut Perang Badar, tetapi tidak ada seorang pun yang mencela karena saat itu Rasulullah keluar untuk menghadang kafilah Quraisy, bukan untuk berperang secara terencana.”

Perang Tabuk terjadi di musim panas yang sangat panas. Jarak tempuh jauh, medan gersang, dan jumlah musuh besar. Kaum Muslimin yang ikut sangat banyak sehingga tidak ada buku catatan yang mampu mencatat mereka semua (belum ada sistem pendaftaran pasukan yang baku).

Rasulullah mulai mempersiapkan pasukan. Ka'ab pun berniat ikut. Setiap pagi ia berangkat untuk mempersiapkan perlengkapannya, tetapi setiap kali ia kembali tanpa menyelesaikan apa pun. Hari terus berlalu hingga akhirnya Rasulullah dan pasukan berangkat meninggalkan Madinah, sementara Ka'ab belum menyelesaikan persiapannya sama sekali. Ia berkata dalam hati: “Aku akan menyiapkan diri setelah satu atau dua hari, lalu menyusul mereka.” Namun ia terus menunda hingga akhirnya rombongan sudah jauh.

Ia sangat menyesal. Setelah Rasulullah pergi, Ka'ab berjalan di antara orang-orang yang tertinggal. Ia hanya melihat dua jenis orang: orang yang dicurigai sebagai munafik atau orang lemah yang dimaafkan Allah.


Di Tabuk: Rasulullah Bertanya tentang Ka'ab

Ketika Rasulullah tiba di Tabuk, beliau bertanya: مَا فَعَلَ كَعْبٌ؟ (Apa yang dilakukan Ka'ab?)

Seorang laki-laki dari Bani Salamah berkata: “Wahai Rasulullah, ia tertahan oleh dua jubahnya dan karena ia terlalu memerhatikan penampilannya.” (Maksudnya ia sombong).

Mu'adz bin Jabal langsung menegur: “Sungguh buruk apa yang engkau katakan. Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui darinya kecuali kebaikan.”

Ka'ab melanjutkan: “Ketika kabar bahwa Rasulullah akan segera tiba (kembali ke Madinah), sirnalah segala kebatilan dariku. Aku sadar bahwa aku tidak akan selamat jika berdusta. Maka aku bertekad untuk berkata jujur.”

Rasulullah kembali ke Madinah. Kebiasaan beliau: ketika pulang dari safar, beliau terlebih dahulu ke masjid, salat dua rakaat, lalu duduk menemui orang-orang.


Para Mufti Alasan (Kaum Munafik) dan Ka'ab yang Jujur

Para sahabat yang tertinggal—sekitar delapan puluh orang laki-laki—datang kepada Rasulullah mengemukakan alasan dan bersumpah. Rasulullah menerima penampilan lahir mereka, membaiat mereka, dan memohonkan ampun, sedangkan urusan batin mereka diserahkan kepada Allah.

Ka'ab datang. Setelah memberi salam, Rasulullah tersenyum dengan senyum orang yang marah. Beliau bersabda: تَعَالَ (Kemarilah).

Ka'ab duduk di hadapan beliau. Rasulullah bertanya: مَا خَلَّفَكَ، أَلَمْ تَكُنْ قَدِ ابْتَعْتَ ظَهْرًا؟ (Apa yang menyebabkanmu tertinggal? Bukankah engkau telah membeli kendaraan?)

Ka'ab menjawab dengan jujur: “Wahai Rasulullah, demi Allah, jika aku ceritakan kepadamu hari ini kebohongan yang membuatmu ridha kepadaku, pasti Allah akan segera memurkaikanmu kepadaku. Namun jika aku ceritakan yang sebenarnya dan engkau marah karenanya, aku tetap berharap ampunan Allah. Demi Allah, tidak ada alasan bagiku. Aku belum pernah sekuat dan sekaya saat ini seperti ketika aku tertinggal darimu.”

Rasulullah bersabda: أَمَّا هَذَا فَقَدْ صَدَقَ، فَقُمْ حَتَّى يَقْضِيَ اللَّهُ فِيكَ

Artinya: “Orang ini telah jujur. Berdirilah sampai Allah memutuskan urusanmu.”

Ka'ab bertanya: “Apakah ada orang lain yang mengalami hal yang sama?” Mereka menjawab: “Ya, dua orang. Mereka mengatakan seperti yang kau katakan, dan kepada mereka juga dikatakan seperti yang dikatakan kepadamu.” Ka'ab bertanya siapa mereka. Dijawab: Murarah bin ar-Rabi' dan Hilal bin Umayyah.


Dikucilkan oleh Masyarakat

Rasulullah melarang seluruh kaum Muslimin berbicara kepada kami bertiga. Maka orang-orang pun menjauhi kami. Bahkan wajah mereka berubah terhadap kami hingga bumi yang aku kenal terasa asing. Kami menjalani ini selama lima puluh malam.

Dua sahabatku (Hilal dan Murarah) tinggal di rumah mereka dan pasrah. Sedangkan aku yang paling muda dan paling kuat di antara mereka, tetap keluar untuk salat berjamaah dan berjalan di pasar, tetapi tidak ada seorang pun yang berbicara kepadaku. Aku mendatangi majelis Rasulullah setelah salat, memberi salam. Aku bertanya dalam hati: “Apakah beliau menggerakkan bibirnya membalas salamku atau tidak?” Aku salat di dekatnya, dan aku mengintip beliau. Jika aku menghadap ke salatku, beliau menghadap kepadaku; jika aku menoleh ke arah beliau, beliau berpaling.


Menemui Sepupu yang Tercinta

Suatu hari, karena jemu dengan perlakuan manusia, Ka'ab memanjat dinding kebun Abu Qatadah (sepupunya, orang yang paling ia cintai). Ka'ab memberi salam, tetapi Abu Qatadah tidak menjawab salamnya. Ka'ab berkata: “Wahai Abu Qatadah, demi Allah, bukankah engkau tahu bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?” Abu Qatadah diam. Ka'ab mengulangi pertanyaan itu hingga tiga kali. Abu Qatadah akhirnya menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Maka menangislah Ka'ab.


Godaan dari Raja Ghassan

Suatu hari, Ka'ab berjalan di pasar Madinah. Seorang petani dari Nabath (penduduk Syam) yang datang menjual makanan bertanya: “Siapa yang bisa menunjukkan kepadaku Ka'ab bin Malik?” Orang-orang menunjuk ke arahnya. Petani itu memberikan surat dari raja Ghassan (penguasa daerah Syam). Isi surat itu kira-kira: “Sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa sahabatmu (Muhammad) telah mengucilkanmu. Allah tidak menjadikanmu di negeri kehinaan dan kerugian. Mari bergabung dengan kami, niscaya kami akan menghibumu.”

Ka'ab berkata: “Ini juga adalah cobaan.” Maka ia membawa surat itu ke tungku perapian dan membakarnya.


Perintah Menjauhi Istri

Setelah empat puluh malam berlalu, datanglah utusan Rasulullah kepada Ka'ab dengan pesan: “Rasulullah memerintahkanmu untuk menjauhi istrimu.” Ka'ab bertanya: “Apakah aku harus menceraikannya atau apa?” Utusan menjawab: “Jauhi dia saja, jangan mendekatinya.” Pesan yang sama juga disampaikan kepada dua sahabat lainnya.

Ka'ab berkata kepada istrinya: “Pergilah kepada keluargamu, tinggallah bersama mereka sampai Allah memutuskan perkara ini.”

Istri Hilal bin Umayyah datang kepada Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah, Hilal adalah orang tua yang tidak berdaya dan tidak memiliki pembantu. Apakah engkau keberatan jika aku melayaninya?” Rasulullah bersabda: لَا، وَلَكِنْ لَا يَقْرَبْكِ (Tidak, tetapi jangan sampai ia mendekatimu). Ia berkata: “Demi Allah, ia tidak memiliki hasrat sedikit pun. Demi Allah, ia terus menangis sejak peristiwa ini terjadi sampai hari ini.”


Kabar Gembira: Taubat Diterima

Ka'ab berkata: “Aku terus berada dalam keadaan seperti itu selama sepuluh malam lagi (total lima puluh malam). Suatu ketika, aku sedang duduk di atas atap rumah kami dalam keadaan jiwa terasa sesak, bumi terasa sempit meskipun luas. Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang yang naik ke atas bukit Sala' berteriak sekeras-kerasnya: 'Wahai Ka'ab, berbahagialah!' Maka aku pun tersungkur sujud. Aku tahu bahwa pertolongan telah datang.”

Rasulullah mengumumkan bahwa Allah telah menerima taubat kami setelah beliau selesai salat Subuh. Orang-orang pun berlarian memberi kabar gembira. Seorang lelaki menunggang kuda membawa kabar, dan seorang lainnya berlari ke atas bukit. Suara laki-laki di bukit itu lebih cepat daripada kuda.

Ketika orang yang membawa kabar gembira itu datang, Ka'ab melepaskan kedua pakaiannya dan memberikannya kepada orang itu sebagai hadiah. Saat itu ia hanya memiliki dua pakaian itu. Ia meminjam dua pakaian lain, lalu bergegas menuju Rasulullah .

Orang-orang menyambutnya berkelompok demi kelompok, mengucapkan selamat: “Selamat atas diterimanya taubatmu oleh Allah.” Ketika masuk masjid, Rasulullah sedang duduk dikelilingi orang-orang. Thalhah bin Ubaidillah berdiri, berlari kecil menghampiri Ka'ab, bersalaman, dan mengucapkan selamat. Ka'ab berkata: “Demi Allah, tidak ada seorang Muhajirin pun yang berdiri menyambutku selain Thalhah. Aku tidak akan melupakan itu untuk Thalhah.”

Setelah Ka'ab memberi salam, Rasulullah —yang wajahnya bersinar karena kegembiraan—bersabda: أَبْشِرْ بِخَيْرِ يَوْمٍ مَرَّ عَلَيْكَ مُنْذُ وَلَدَتْكَ أُمُّكَ
Artinya: “Bergembiralah dengan hari terbaik yang pernah kau lalui sejak ibumu melahirkanmu.”

Ka'ab berkata: “Wahai Rasulullah, sebagai bagian dari taubatku, aku akan menyedekahkan seluruh hartaku kepada Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah bersabda: أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ، فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ

Artinya: “Tahanlah sebagian hartamu, itu lebih baik bagimu.”

Ka'ab berkata: “Maka aku tahan bagianku di Khaibar.”

Kemudian ia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah menyelamatkanku karena kejujuranku. Maka sebagai bagian dari taubatku, aku tidak akan berbicara kecuali jujur sepanjang hidupku. Demi Allah, tidak ada seorang Muslim pun yang Allah uji dengan kejujuran seperti yang Dia uji padaku sejak aku sampaikan hal ini kepada Rasulullah . Aku tidak pernah sengaja berdusta sejak saat itu sampai hari ini, dan aku berharap Allah akan memeliharaku untuk sisa hidupku.”

Allah menurunkan firman-Nya:

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ. وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Artinya: “Sungguh, Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar yang mengikuti beliau dalam masa kesulitan (Perang Tabuk), setelah hati segolongan dari mereka hampir menyimpang. Kemudian Dia menerima taubat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. Dan (juga) terhadap tiga orang yang ditangguhkan (taubat) mereka, hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka padahal luas, dan jiwa mereka juga terasa sempit, dan mereka yakin tidak ada tempat berlindung dari Allah kecuali hanya kepada-Nya. Kemudian Allah menerima taubat mereka sehingga mereka benar-benar bertaubat. Sungguh, Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
*(QS. At-Taubah: 117-118)*


Hikmah dari Kisah Tiga Sahabat

Kisah ini penuh dengan pelajaran berharga:

1. Kejujuran Lebih Berharga dari Keselamatan Duniawi

Ka'ab lebih memilih berkata jujur meskipun risikonya adalah kemarahan Rasulullah dan pengucilan sosial. Ia lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia.

2. Konsekuensi Sosial bagi yang Meninggalkan Kewajiban

Rasulullah memerintahkan pemboikotan sosial terhadap mereka yang sengaja meninggalkan kewajiban tanpa uzur. Ini adalah bentuk pendidikan yang efektif.

3. Ketika Hati Sesak Hingga Bumi Terasa Sempit

Allah menggambarkan keadaan mereka: "hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka padahal luas, dan jiwa mereka juga terasa sempit". Ini adalah puncak tekanan psikologis yang hanya bisa diatasi dengan pertolongan Allah.

4. Ujian Godaan dari Luar

Ketika dalam keadaan tertekan, Ka'ab menerima surat dari Raja Ghassan yang menawarkan kedudukan dan kemuliaan. Ia tidak tergoda. Ia justru membakar surat itu. Ini menunjukkan kekuatan iman yang kokoh.

5. Kegembiraan atas Taubat

Rasulullah berkata kepada Ka'ab: “Bergembiralah dengan hari terbaik yang pernah kau lalui sejak ibumu melahirkanmu.” Ini menunjukkan betapa besar nilai taubat di sisi Allah. Ka'ab pun memberikan dua pakaiannya sebagai hadiah kepada pembawa kabar gembira. Para sahabat berdatangan mengucapkan selamat.

6. Thalhah bin Ubaidillah: Teladan Kesetiaan

Di tengah pengucilan total, Thalhah bin Ubaidillah berani menyambut Ka'ab dengan hangat. Ka'ab tidak pernah melupakan kebaikan itu seumur hidupnya.


Tabuk: Penutup Segala Peperangan

Dengan Perang Tabuk, sempurnalah kekuasaan Islam di seluruh Jazirah Arab. Rasulullah mengamankan perbatasan utara dari ancaman Romawi. Suku-suku Arab berdatangan dalam utusan-utusan, menyatakan ketundukan dan memeluk Islam. Perang Tabuk menjadi ghazwah terakhir yang diikuti langsung oleh Rasulullah . Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Artinya: “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, untuk dimenangkan-Nya terhadap seluruh agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya.”
*(QS. At-Taubah: 33)*


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perang Hunain: Pelajaran dari Kemenangan yang Hampir Sirna

Setelah Fathu Makkah: Ketakutan Anshar, Kisah Bani Judzaimah, dan Penghancuran Berhala

Perang Tha'if: Ketika Ketekunan Berjumpa dengan Kasih Sayang