Perang Hunain: Pelajaran dari Kemenangan yang Hampir Sirna
Kekhawatiran Hawazin dan Persiapan Perang
Ketika Allah membukakan kemenangan atas Mekah kepada
Rasulullah ﷺ
dan kaum mukminin, dan Quraisy pun tunduk, maka ketakutanlah suku Hawazin dan
Tsaqif. Mereka berkata, “Sekarang Muhammad telah selesai memerangi kita, maka
seranglah dia sebelum dia menyerang kita.”
Mereka sepakat untuk memerangi Rasulullah. Mereka
mengangkat Malik bin ‘Auf an-Nashri sebagai pemimpin.
Bergabunglah pasukan dari Hawazin, Tsaqif, Nashr, Jusyam, Sa’d bin Bakr (kaum
dari ibu susuan Rasulullah, Halimah as-Sa’diyah), dan beberapa orang dari Bani
Hilal. Namun, dari Hawazin sendiri, suku Ka’ab dan Kilab tidak ikut.
Turut serta dalam pasukan itu Duraid bin ash-Shimmah,
seorang panglima tua yang dikenal sangat pemberani dan pandai dalam peperangan.
Namun usianya sudah lanjut sehingga hanya bisa memberi nasihat.
Malik bin ‘Auf berpendapat agar mereka membawa serta wanita,
anak-anak, dan harta benda ke medan perang. Tujuannya agar para prajurit tidak
mundur. Ketika Duraid mengetahui hal itu, ia bertanya, “Mengapa demikian?”
Malik menjawab, “Aku ingin menjadikan keluarga dan harta di belakang setiap
prajurit, sehingga mereka akan berjuang melindunginya.”
Duraid berkata, “Celaka engkau, wahai penggembala domba!
Apakah barang-barang itu dapat mengembalikan orang yang kalah? Jika kemenangan
untukmu, maka yang membantumu hanyalah lelaki dengan pedang dan tombaknya. Jika
kekalahan untukmu, maka engkau akan dipermalukan dengan keluarga dan hartamu!”
Namun Malik tidak menghiraukan nasihatnya.
Rasulullah Bersiap Menghadapi Musuh
Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui persiapan musuh, beliau berangkat menghadapi mereka
pada tanggal 5 Syawal tahun ke-8 Hijriah (ada yang mengatakan
tanggal 6). Beliau membawa 12.000 pasukan, terdiri dari 10.000
pasukan Fathu Makkah ditambah 2.000 dari kalangan Arab badui, para thulaqa’ (orang-orang
Mekah yang baru dibebaskan), dan kaum mu’allafah (yang dilunakkan hatinya).
Mereka membawa serta wanita-wanita yang mengharapkan harta rampasan.
Delapan puluh orang musyrik masih ikut dalam barisan, di
antaranya Shafwan bin Umayyah dan Suhail bin ‘Amr.
Rasulullah ﷺ
menunjuk ‘Attab bin Usaid—yang saat itu baru berusia 20
tahun—sebagai penguasa Mekah.
Meminjam Perlengkapan Perang dari Orang Musyrik
Disebutkan kepada Rasulullah ﷺ bahwa Shafwan bin Umayyah memiliki baju
besi dan senjata. Maka beliau mengirim utusan kepadanya—saat itu Shafwan masih
musyrik—dan bersabda:
“يَا
أَبَا أُمَيَّةَ أَعِرْنَا سِلَاحَكَ نَلْقَ بِهِ عَدُوَّنَا غَدًا”
Artinya: “Wahai Abu Umayyah, pinjamkanlah senjata kalian
untuk kami gunakan memerangi musuh kita besok.”
Shafwan bertanya, “Apakah dengan paksa, wahai Muhammad?”
Beliau menjawab, “بَلْ عَارِيَةٌ مَضْمُونَةٌ” (Bukan,
tetapi pinjaman yang dijamin). Maka Shafwan meminjamkan 100 baju besi lengkap
dengan perlengkapannya. Rasulullah ﷺ juga meminta agar mereka mengantarkan sendiri, dan Shafwan
melakukannya. Setelah perang usai, beberapa baju besi hilang. Rasulullah ﷺ
menawarkan untuk menggantinya, tetapi Shafwan menolak seraya berkata, “Aku
sekarang lebih ingin (pahalanya) dalam Islam.”
Perjalanan Menuju Hunain dan Pelajaran dari Pohon “Dzatu
Anwath”
Dalam perjalanan menuju Hunain, rombongan melewati sebuah
pohon besar bernama Dzat Anwath. Pohon itu adalah tempat
orang-orang kafir menggantungkan senjata mereka, menyembelih kurban, dan
beri’tikaf di sana setiap tahun.
Beberapa orang yang baru masuk Islam berkata, “Wahai
Rasulullah, jadikanlah untuk kami Dzat Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzat
Anwath!”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda dengan tegas:
“اللَّهُ
أَكْبَرُ!! قُلْتُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى
لِمُوسَى: اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ، قَالَ: إِنَّكُمْ قَوْمٌ
تَجْهَلُونَ. إِنَّهَا السُّنَنُ، لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ”
Artinya: “Allah Maha Besar! Kalian telah berkata—demi Zat
yang jiwaku berada di tangan-Nya—sebagaimana perkataan kaum Musa kepada Musa:
‘Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.’ Musa
menjawab: ‘Sungguh kalian adalah kaum yang bodoh.’ Itulah jalan-jalan
(kesesatan) umat terdahulu. Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang
sebelum kalian.”
Pertempuran: Kejutan dan Kekacauan Awal
Malik bin ‘Auf telah tiba lebih dulu di lembah Hunain.
Pasukan Hawazin dan Tsaqif mempersiapkan penyergapan di celah-celah dan tepian
lembah. Mereka menyusun barisan dan mengintai.
Pada waktu fajar menyingsing, Rasulullah ﷺ dan pasukannya
memasuki lembah. Tiba-tiba, pasukan Hawazin dan Tsaqif menyerbu mereka dengan
kekuatan penuh. Mereka yang bersembunyi di celah-celah lembah keluar,
menghujani pasukan Muslim dengan panah. Serangan mendadak itu membuat pasukan
Muslim kocar-kacir.
Mereka menarik tali kekang kuda dan unta mereka, mundur
tanpa menoleh ke belakang. Bahkan, sebagian yang melarikan diri sampai ke
Mekah. Para pasukan Muslim yang tadinya merasa kuat dengan jumlah 12.000 orang,
berkata, “Kami tidak akan dikalahkan hari ini karena jumlah yang sedikit.”
Namun ternyata, jumlah besar tidak menjamin kemenangan.
Keteguhan Rasulullah di Tengah Bahaya
Rasulullah ﷺ
melihat pasukan yang besar itu kocar-kacir. Beliau menyadari bahwa banyak yang
melarikan diri. Namun beliau tidak bergeming. Beliau memacu baghal putihnya ke
arah musuh. Abbas bin Abdul Muthalib memegang tali kekang
baghal tersebut untuk menahannya agar tidak terlalu cepat. Abu Sufyan
bin al-Harits (sepupu Rasulullah) memegang sanggurdi dan melindungi
beliau.
Rasulullah ﷺ
berseru dengan lantang:
“أَنَا
النَّبِيُّ لَا كَذِبْ، أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ”
Artinya: “Aku adalah Nabi, tidak berdusta. Aku putra
Abdul Muthalib.”
Dan beliau berdoa pada hari itu:
“اللَّهُمَّ
أَنْزِلْ نَصْرَكَ، اللَّهُمَّ إِنَّكَ إِنْ تَشَأْ لَا تُعْبَدُ فِي الْأَرْضِ
بَعْدَ الْيَوْمِ”
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah pertolongan-Mu. Ya Allah,
sungguh jika Engkau kehendaki, Engkau tidak akan disembah di muka bumi setelah
hari ini.”
Panggilan Abbas dan Kembalinya Semangat
Yang tetap bertahan bersama Rasulullah ﷺ hanya segelintir
orang dari kaum Muhajirin dan Bani Hasyim, di antaranya: Abu Bakar,
Umar, Ali bin Abi Thalib, Rabi’ah bin al-Harits, Al-Fadhl dan Qutsam
(putra-putra Abbas), Usamah bin Zaid, dan Aiman bin Ummi Aiman. Namun
jumlah mereka sangat kecil menghadapi lautan musuh.
Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan pamannya, Abbas—yang bertubuh besar
dan bersuara lantang—untuk berseru:
“يَا
مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، يَا أَصْحَابَ الشَّجَرَةِ، يَا أَصْحَابَ سُورَةِ
الْبَقَرَةِ”
Artinya: “Wahai kaum Anshar! Wahai sahabat-sahabat yang
berbaiat di bawah pohon! Wahai sahabat-sahabat Surah Al-Baqarah!”
Seruan yang penuh kenangan itu membangkitkan kembali iman
dan keberanian yang sempat sirna. Mereka yang melarikan diri sadar kembali.
Mereka menjawab, “Labbaik, labbaik!” (Kami datang memenuhi panggilanmu). Orang
yang tidak bisa mengendalikan untanya segera turun, mengambil pedang dan
tombak, lalu menuju ke arah suara. Segera berkumpullah di sekitar Rasulullah ﷺ
pasukan yang besar.
Sekarang Panaslah Pertempuran!
Pertempuran berkobar dengan dahsyat. Rasulullah ﷺ
bersabda:
“الْآنَ
حَمِيَ الْوَطِيسُ”
Artinya: “Sekarang panaslah kawah (pertempuran)!”
Allah mengirimkan bala bantuan berupa pasukan malaikat yang
tidak terlihat. Kaum Muslimin mengejar pasukan Hawazin dan Tsaqif yang
kocar-kacir. Tidak lama kemudian, musuh pun hancur. Para tawanan diikat, harta
rampasan, anak-anak, dan wanita mereka dikumpulkan.
Diantara yang gugur dari pihak musuh adalah Duraid
bin ash-Shimmah (panglima tua). Dan diantara yang bertempur dengan
gagah perkasa pada hari itu adalah Ali bin Abi Thalib dan Khalid
bin al-Walid (yang terluka parah), serta Abu Qatadah yang
dijuluki oleh Abu Bakar sebagai “singa dari singa-singa Allah”.
Dengan keteguhan Rasulullah ﷺ, kemenangan datang setelah kekalahan.
Seandainya beliau tidak teguh, para pahlawan tidak akan berkumpul kembali.
Peristiwa ini juga menjadi sebab masuk Islamnya banyak penduduk Mekah yang
masih musyrik, karena mereka menyaksikan pertolongan Allah kepada Nabi-Nya.
Ayat yang Turun Mengenai Perang Hunain
Allah menurunkan firman-Nya:
لَقَدْ
نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ
أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ
الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ . ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ
سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ
تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ .
ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ
غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Sungguh, Allah telah menolong kamu dalam banyak
peperangan, dan (juga) pada Perang Hunain, ketika kamu merasa bangga dengan
jumlahmu yang besar, tetapi jumlah itu sama sekali tidak berguna bagimu. Bumi
yang luas terasa sempit bagimu, kemudian kamu mundur ke belakang. Kemudian
Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, dan
Dia menurunkan bala tentara (malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia
menyiksa orang-orang kafir. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.
Kemudian setelah itu Allah menerima tobat dari orang yang Dia kehendaki. Dan
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 25-27)
Cemoohan Sebagian Orang Lemah Iman
Ketika pasukan Muslim mundur, beberapa orang Arab badui yang
kasar dan orang-orang yang baru masuk Islam melontarkan komentar sinis.
Kaldah bin al-Hanbal (saudara seibu Shafwan bin
Umayyah) berkata, “Bukankah sihir Muhammad telah gagal hari ini?” Shafwan—yang
saat itu masih diberi tenggang waktu oleh Rasulullah ﷺ untuk memilih—menjawab, “Diam! Semoga
Allah menutup mulutmu. Demi Allah, aku lebih suka dipimpin oleh seorang Quraisy
daripada dipimpin oleh seorang Hawazin!”
Seorang laki-laki Quraisy berkata kepada Shafwan,
“Bergembiralah dengan kekalahan Muhammad dan para sahabatnya. Demi Allah,
mereka tidak akan pernah pulih!” Shafwan menghardiknya, “Kamu memberiku kabar
gembira dengan kemenangan orang-orang badui?!”
Ikrimah bin Abu Jahl berkata kepada orang itu,
“Urusan itu bukan di tanganmu. Urusan itu di tangan Allah. Tidak ada sesuatu
pun dari Muhammad yang dapat mengubahnya. Jika hari ini kemenangan berpihak
kepada mereka (musuh), maka akhirnya akan tetap untuknya (Muhammad).”
Suhail bin ‘Amr berkata, “Demi Allah, sungguh
perkataanmu ini berbeda dengan (sikapmu) dulu.” Ikrimah menjawab, “Wahai Abu
Yazid, sungguh dulu kita berada dalam kesesatan. Akal kita hilang. Kita
menyembah batu yang tidak memberi mudarat dan tidak memberi manfaat.”
Abu Sufyan bin Harb berkata, “Kekalahan mereka
tidak akan berhenti sampai di laut.” Namun Allah mengingkari semua angan-angan
itu. Akhirnya kemenangan tetap untuk Rasulullah ﷺ dan kaum mukminin.
🌸 Sikap Kemanusiaan
Rasulullah
Rasulullah ﷺ
melewati seorang perempuan yang terbunuh—dibunuh oleh Khalid bin al-Walid.
Orang-orang berdiri mengelilingi mayat itu, heran dengan bentuk tubuhnya.
Rasulullah ﷺ
mendekat, lalu bersabda:
“مَا
كَانَتْ هَذِهِ لِتُقَاتِلَ”
Artinya: “Perempuan ini tidak layak untuk diperangi.”
Beliau bersabda kepada salah seorang sahabat: “الْحَقْ
خَالِدًا فَقُلْ لَهُ: لَا يَقْتُلَنَّ وَلِيدًا وَلَا امْرَأَةً وَلَا عَسِيفًا” (Temui
Khalid, katakan kepadanya: “Janganlah dia membunuh anak kecil, perempuan, dan
pekerja/buruh.”)
Pelajaran Berharga dari Perang Hunain
Perang Hunain menjadi pelajaran besar bagi umat Islam. Di
dalam pasukan saat itu bercampur antara kaum musyrik, Arab badui, dan para
mu’allafah. Mereka tidak berperang dengan akidah dan keikhlasan, tetapi dengan
tujuan harta rampasan atau fanatisme kesukuan.
Allah juga mengajarkan bahwa kemenangan tidak ditentukan
oleh jumlah dan persenjataan. Merasa bangga dengan jumlah banyak bukanlah
akhlak Islam. Mereka yang sombong dengan jumlah mereka justru mengalami
kekalahan. Hal ini mengajarkan kaum Muslimin agar selalu dekat dengan Allah,
bertawakal kepada-Nya, tidak dilalaikan oleh jumlah dan perlengkapan, serta
tetap mempersiapkan kekuatan sebagaimana diperintahkan Allah dalam
firman-Nya: “Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka apa yang kalian
mampu berupa kekuatan dan pasukan berkuda…”
Allah berfirman:
وَمَا
النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
Artinya: “Dan tidak ada kemenangan itu kecuali dari sisi
Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali ‘Imran: 126)
وَمَا
النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya: “Dan tidak ada kemenangan itu kecuali dari sisi
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.
Al-Anfal: 10)
Ghanimah Hunain
Rasulullah ﷺ
memerintahkan agar tawanan (wanita dan anak-anak) serta harta rampasan (unta,
kambing, dan perak) dikumpulkan. Jumlahnya sekitar 24.000 ekor unta,
lebih dari 40.000 ekor kambing, dan 4.000 uqiyah perak (sekitar
160 kg perak). Beliau memerintahkan agar semua dibawa ke Al-Ji’ranah untuk
dibagi nanti, dan menunjuk Mas’ud bin ‘Amr al-Ghifari sebagai
penjaga ghanimah.
Ekspedisi ke Authas
Ketika Hawazin dan Tsaqif kalah, sebagian pasukan yang
dipimpin Malik bin ‘Auf melarikan diri ke Thaif dan bertahan
di sana. Sebagian lainnya berkemah di tempat bernama Authas.
Sebagian lagi (Bani Ghairah dari Tsaqif) menuju ke Nakhlah.
Rasulullah ﷺ
mengirim sebuah pasukan ekspedisi ke Authas di bawah komando Abu ‘Amir
al-Asy’ari. Terjadilah pertempuran. Abu ‘Amir bertempur dengan gagah berani
hingga dikatakan ia membunuh sembilan orang musuh. Namun kemudian ia terkena
panah di lututnya dan tidak dapat melanjutkan. Ia menunjuk keponakannya, Abu
Musa al-Asy’ari, sebagai pengganti. Abu Musa berhasil membunuh pembunuh
pamannya. Abu ‘Amir kemudian meninggal karena lukanya. Sebelum wafat, ia
berpesan agar Abu Musa menyampaikan salam kepada Rasulullah ﷺ dan memohonkan ampun
untuknya.
Tawanan Authas dan Ayat yang Turun
Pada peristiwa Authas, kaum Muslimin mendapatkan tawanan
wanita yang memiliki suami dari kalangan musyrik. Sebagian sahabat merasa ragu
dan tidak mau menggauli mereka. Maka turunlah firman Allah:
وَالْمُحْصَنَاتُ
مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۖ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
Artinya: “Dan (diharamkan juga) wanita-wanita yang
bersuami, kecuali yang menjadi tawanan kalian (dengan seizin suaminya setelah
perang). Itulah ketetapan Allah atas kalian.” (QS. An-Nisa’: 24)
Ayat ini membolehkan menggauli tawanan wanita musyrik yang
masih memiliki suami, karena perang telah memisahkan mereka. Sebagian ulama
berpendapat bahwa mereka telah masuk Islam atau beragama Kristen/Yahudi,
sementara pendapat mayoritas mengatakan bahwa ayat ini khusus untuk kasus
Authas.
Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah
Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar
Posting Komentar