Mu'tah: Ketika 3.000 Melawan 200.000

keberangkatan pasukan Muslim menuju Perang Mu’tah. Latar belakang adalah kota Madinah kuno dengan tembok tanah liat dan pepohonan kurma di kejauhan. Di tengah padang pasir yang luas, tampak barisan panjang laki-laki dengan pakaian Arab kuno berjalan dengan tertib dan penuh semangat. Beberapa dari mereka membawa bendera sederhana yang berkibar tertiup angin. Di pinggir jalan, sekelompok kecil orang tua dan wanita berdiri dengan tangan terangkat seolah berdoa, melepas kepergian para pejuang

Utusan yang Gugur, Darah yang Menuntut Keadilan

Di bulan Jumadil Awal tahun ke-8 Hijriah (629 Masehi), Rasulullah mengutus Al-Harits bin Umair al-Azdi menyampaikan surat dakwah kepada penguasa Busra di negeri Syam. Namun nasib tragis menimpa sang utusan. Ia dicegat dan dibunuh oleh seorang pemimpin Romawi bernama Syurahbil bin Amr al-Ghassani. Peristiwa ini bukan sekadar pembunuhan biasa—dalam tradisi Arab, membunuh seorang utusan adalah penghinaan yang tak terampuni, pertanda perang.

Rasulullah pun mempersiapkan pasukan untuk membalas dendam dan menegakkan kehormatan Islam. Beliau mengumpulkan tiga ribu pasukan dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Tidak ada persiapan besar-besaran karena ini adalah ekspedisi kilat, namun semangat para sahabat membara.


Perpisahan yang Mengharukan

Ketika pasukan siap berangkat, kaum Muslimin berkumpul melepas mereka dengan doa:

"Semoga Allah menyertaimu, melindungimu, dan mengembalikanmu kepada kami dalam keadaan selamat."

Rasulullah sendiri ikut berjalan mengantarkan pasukan, memberikan wasiat yang sarat makna:

اغْزُوا بِاسْمِ اللَّهِ، قَاتِلُوا عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ بِالشَّامِ، وَسَتَجِدُونَ فِيهَا رِجَالًا فِي الصَّوَامِعِ مُعْتَزِلِينَ فَلَا تَتَعَرَّضُوا لَهُمْ، وَلَا تَقْتُلُوا امْرَأَةً وَلَا صَغِيرًا وَلَا شَيْخًا فَانِيًا، وَلَا تَقْطَعُوا شَجَرًا، وَلَا تَهْدِمُوا بِنَاءً...”

Artinya: “Berperanglah dengan nama Allah. Perangilah musuh Allah dan musuh kalian di Syam. Kalian akan menemukan di sana orang-orang yang mengasingkan diri di biara-biara, jangan ganggu mereka. Jangan bunuh wanita, anak-anak, dan orang tua yang lemah. Jangan tebang pohon, dan jangan hancurkan bangunan...”

Pasukan pun berangkat di bawah komando yang telah ditentukan Rasulullah dengan sabda beliau:

إِنْ يُصَبْ زَيْدٌ فَجَعْفَرُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، وَإِنْ يُصَبْ جَعْفَرٌ فَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ

Artinya: “Jika Zaid gugur, maka (pemimpinnya) Ja’far bin Abi Thalib. Jika Ja’far gugur, maka Abdullah bin Rawahah.”

Tiga panglima, tiga bintang, satu demi satu akan menggantikan jika gugur. Ini adalah strategi kepemimpinan yang luar biasa.


Menghadapi Badai Romawi

Pasukan Islam berjalan terus hingga mencapai Ma’an di perbatasan Syam. Di sanalah kabar mengejutkan datang: Kaisar Heraklius telah turun bersama seratus ribu tentara Romawi di Mab (suatu tempat di Syam). Belum cukup, seratus ribu lagi dari suku-suku Arab Nasrani seperti Lakhmi, Judzam, al-Qain, Bahra', dan Bali bergabung. Total dua ratus ribu tentara yang siap menghadapi tiga ribu Muslim.

Para pemimpin pasukan Islam terdiam. Mereka bermusyawarah. Sebagian mengusulkan untuk menulis surat kepada Rasulullah meminta tambahan pasukan atau perintah baru. Namun Abdullah bin Rawahah berdiri dengan penuh keyakinan:

“Wahai kaumku, demi Allah, apa yang kalian benci (yaitu menghadapi pasukan besar) itulah yang kalian cari sejak dulu: mati syahid. Kita tidak pernah menang karena jumlah, kekuatan, atau banyaknya pasukan. Kita hanya menang karena agama yang Allah muliakan untuk kita. Majulah! Karena hanya ada dua kebaikan di depan kita: kemenangan atau syahadah.”

Ucapan ini membakar semangat pasukan. Mereka pun maju hingga bertemu dengan pasukan Romawi di sebuah desa bernama Muarib (dekat wilayah Mu'tah). Kaum Muslimin kemudian mundur sedikit ke desa Mu'tah dan bertahan di sana.


Pertempuran: Gugurnya Para Panglima

Ketika dua pasukan bertemu, pertempuran sengit tak terelakkan. Tiga ribu Muslim melawan dua ratus ribu Romawi. Namun iman mengubah angka menjadi semangat.

Zaid bin Haritsah: Sang Kekasih yang Gugur Pertama

Zaid bin Haritsah memegang bendera dan maju ke medan laga. Dengan gagah berani ia bertempur, menusuk dan menebas barisan musuh. Namun pasukan Romawi terlalu besar. Tombak dan pedang menghujam tubuhnya. Akhirnya Zaid gugur sebagai syahid. Ia adalah sahabat yang sangat dicintai Rasulullah , bahkan beliau pernah mengadopsinya sebelum Islam melarang hal itu.

Ja’far bin Abi Thalib: Pemilik Dua Sayap di Surga

Bendera lalu diambil oleh Ja’far bin Abi Thalib, paman Rasulullah dari pihak ayah. Ja’far turun dari kudanya yang kemerahan, lalu menombaknya agar tidak dipakai mundur. Ia maju dengan bendera di tangan kanannya sambil melantunkan syair:

“Sungguh indah surga dan dekatnya... Air minumnya segar dan sejuk
Wahai Romawi, siksaan kalian sudah dekat... Kalian kafir, jauh dari nasab mulia
Jika aku bertemu mereka, aku akan tebas mereka...”

Ja’far bertempur dengan luar biasa. Tangan kanannya yang memegang bendera dipotong musuh. Ia segera mengambil bendera dengan tangan kiri. Tangan kirinya pun dipotong. Maka ia mendekap bendera dengan kedua lengannya hingga dada. Seorang tentara Romawi maju dan memukulnya dengan pedang, membelah tubuhnya menjadi dua. Ja’far gugur dalam usia 33 tahun. Tubuhnya ditemukan dengan sembilan puluh tiga luka.

Rasulullah kelak menyatakan bahwa Allah mengganti kedua tangan Ja’far dengan dua sayap untuk terbang di surga ke mana pun ia mau. Abdullah bin Umar jika bertemu putra Ja’far, ia selalu berkata: "Assalamu’alaika ya Ibnadz Dzijanahain" (Selamat atasmu wahai anak pemilik dua sayap).

Abdullah bin Rawahah: Sang Penyair yang Menaklukkan Hati Sendiri

Bendera lalu diambil oleh Abdullah bin Rawahah. Ia mengendarai kudanya, namun hatinya sempat bergetar melihat besarnya musuh. Ia pun berpidato kepada dirinya sendiri:

“Aku bersumpah wahai jiwaku, engkau pasti akan turun... Turunlah atau engkau akan dipaksa
Mengapa aku melihatmu tidak menyukai surga?
Bukankah engkau hanya setetes air dalam wadah tua?”

Dan syairnya yang lain:

“Wahai jiwaku, jika engkau tidak terbunuh, engkau akan mati juga... Ini adalah kematian yang telah kau hadapi
Apa yang engkau impikan telah diberikan... Jika engkau melakukan seperti mereka, engkau akan mendapat petunjuk.”

Ia pun maju bertempur dengan gagah hingga akhirnya gugur sebagai syahid.


Khalid bin Al-Walid: Pedang Allah yang Menyelamatkan

Setelah tiga panglima gugur, bendera diambil oleh Tsabit bin Aqram. Ia lalu berkata kepada pasukan: “Wahai kaum Muslimin, pilihlah seorang pemimpin dari kalian.” Mereka berkata: “Engkaulah pemimpin kami.” Tsabit menjawab: “Aku tidak mampu.” Maka pasukan pun sepakat memilih Khalid bin Al-Walid.

Khalid mengambil bendera. Ia bertempur dengan kegagahan yang luar biasa. Dalam pertempuran itu, sembilan pedang patah di tangannya. Yang tersisa hanyalah sebilah pedang Yaman yang tegar.

Ketika malam tiba, Khalid menggunakan akal perangnya. Ia mengubah formasi pasukan: barisan depan dijadikan belakang, barisan kanan dijadikan kiri, dan sebaliknya. Ia juga mengatur barisan panjang di belakang pasukan seolah-olah bala bantuan baru datang.

Pagi harinya, pasukan Romawi melihat perubahan bendera dan formasi yang tidak biasa. Mereka mendengar gemerincing senjata dan teriakan takbir yang bergema. Mereka pun mengira bahwa pasukan Muslim telah mendapat bala bantuan besar. Ketakutan menyelimuti hati mereka.

Khalid terus melakukan taktik mundur yang teratur, kadang berhenti dan berpura-pura akan menyerang, kadang bergerak cepat. Selama beberapa hari, pasukan Romawi tidak berani mengejar karena takut terperangkap di padang terbuka. Akhirnya kedua pasukan berpisah dan pertempuran berhenti.

Catatan penting: Dari tiga ribu pasukan Muslim, hanya delapan (atau dua belas menurut riwayat lain) yang gugur. Sementara pasukan Romawi yang berjumlah dua ratus ribu tidak mampu menghancurkan pasukan Muslim.


Kabar Duka dari Mimbar Rasulullah

Di Madinah, Allah memberitahukan kepada Rasulullah apa yang terjadi. Beliau naik ke mimbar dan bersabda dengan air mata berlinang:

أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيبَ، ثُمَّ أَخَذَهَا جَعْفَرٌ فَأُصِيبَ، ثُمَّ أَخَذَهَا ابْنُ رَوَاحَةَ فَأُصِيبَ - وَعَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ - حَتَّى أَخَذَ الرَّايَةَ سَيْفٌ مِنْ سُيُوفِ اللَّهِ حَتَّى فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ

Artinya: “Bendera diambil oleh Zaid, lalu ia gugur. Kemudian diambil oleh Ja’far, lalu ia gugur. Kemudian diambil oleh Ibnu Rawahah, lalu ia gugur – sementara kedua mata beliau mencucurkan air mata – hingga bendera diambil oleh pedang di antara pedang-pedang Allah (Khalid), lalu Allah membukakan kemenangan bagi mereka.”

Sejak hari itu, Khalid bin Al-Walid dijuluki “Saifullah” (Pedang Allah). Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda:

“Sungguh, aku melihat mereka di surga dalam mimpi. Mereka berada di atas ranjang-ranjang emas. Aku melihat ranjang Abdullah bin Rawahah sedikit miring dibandingkan ranjang kedua sahabatnya. Aku bertanya: ‘Mengapa ini?’ Dijawab: ‘Mereka berdua (Zaid dan Ja’far) telah pergi tanpa keraguan, sementara Abdullah sempat ragu-ragu sebentar sebelum akhirnya maju.’”

Sungguh pelajaran berharga: keraguan sesaat dapat mempengaruhi derajat, meskipun pada akhirnya ia tetap syahid.


Kepulangan yang Kontroversial

Ketika pasukan tiba di Madinah, anak-anak kecil berlarian menyambut. Namun beberapa orang mulai melempari pasukan dengan tanah sambil berteriak: “Wahai pelarian! Kalian lari dari medan jihad?”

Rasulullah yang mengetahui situasi sebenarnya bersabda membela mereka:

لَيْسُوا بِالْفَرَّارِ، وَلَكِنَّهُمُ الْكَرَّارُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Artinya: “Mereka bukanlah pelarian, tetapi mereka adalah penyerang (yang mundur untuk kembali menyerang), insya Allah.”

Namun celaan itu begitu berat bagi sebagian sahabat yang sensitif. Salamah bin Hisyam misalnya, mengurung diri di rumahnya karena malu disebut pelarian. Istrinya bercerita kepada Ummu Salamah: “Ia tidak bisa keluar. Setiap kali keluar, orang-orang berteriak kepadanya: ‘Wahai pelari, kamu lari dari jalan Allah?’”

Inilah gambaran masyarakat yang sangat menjunjung tinggi keberanian dan menganggap aib besar bagi seorang Muslim untuk mundur dari medan jihad.


Rasulullah Menghibur Keluarga Ja’far

Ketika kabar syahidnya Ja’far sampai, Rasulullah segera mendatangi Asma binti ‘Umais, istri Ja’far. Beliau bersabda: “Panggilkan anak-anak Ja’far kepadaku.”

Asma membawa mereka. Rasulullah mencium dan menciumi mereka, sementara air mata beliau mengalir. Asma bertanya: “Apakah engkau mendapat kabar tentang Ja’far dan sahabat-sahabatnya?”

Beliau menjawab: “Ya, mereka gugur hari ini.” Asma pun menangis histeris. Rasulullah bersabda:

لَا تَغْفُلُوا عَنْ آلِ جَعْفَرٍ أَنْ تَصْنَعُوا لَهُمْ طَعَامًا، فَإِنَّهُمْ قَدْ شُغِلُوا بِأَمْرِ صَاحِبِهِمْ

Artinya: “Janganlah kalian lalai terhadap keluarga Ja’far. Buatkanlah makanan untuk mereka, karena mereka sedang sibuk dengan urusan (kematian) pemimpin mereka.”

Inilah asal usul sunnah membuatkan makanan untuk keluarga mayit, bukan seperti kebiasaan sebagian orang yang justru menerima kiriman makanan atau membuat acara besar.

Ketika pasukan hampir tiba di Madinah, anak-anak berlarian menyambut. Rasulullah yang datang bersama pasukan bersabda: “Ambillah anak-anak itu dan naikkan mereka (ke atas kendaraan). Berikan aku putra Ja’far.”

Mereka membawa Abdullah bin Ja’far. Rasulullah menaikkannya di depannya.

Tiga hari setelah itu, beliau mendatangi Asma lagi dan bersabda: “Janganlah kalian menangisi pamanku setelah hari ini. Panggilkan anak-anak saudaraku.”

Mereka pun dibawa. Rasulullah memanggil tukang cukur dan mencukur rambut mereka. Kemudian beliau bersabda: “Adapun Muhammad, ia mirip dengan pamanku Abu Thalib. Adapun Abdullah, ia mirip dengan penciptaanku dan akhlakku.”

Beliau lalu memegang tangan kanan Abdullah dan berdoa:

اللَّهُمَّ اخْلُفْ جَعْفَرًا فِي أَهْلِهِ، وَبَارِكْ لِعَبْدِ اللَّهِ فِي صَفْقَةِ يَمِينِهِ (ثلاثًا)

Artinya: “Ya Allah, gantikanlah Ja’far dalam keluarganya, dan berkahilah Abdullah dalam genggaman tangan kanannya.” (tiga kali)

Ketika Asma mengungkapkan kekhawatirannya atas masa depan anak-anak yatim itu, Rasulullah bersabda:

الْعَيْلَةَ تَخَافِينَ عَلَيْهِمْ؟ وَأَنَا وَلِيُّهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Artinya: “Kemiskinankah yang engkau takutkan atas mereka? Akulah penanggung jawab mereka di dunia dan akhirat.”


Larangan Meratap Berlebihan

Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan:

“Ketika Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah gugur, Rasulullah duduk dengan wajah yang tampak kesedihannya. Seorang laki-laki datang dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, istri-istri Ja’far – dan ia menyebut tangisan mereka.’ Rasulullah memerintahkan agar melarang mereka (meratap). Laki-laki itu pergi, lalu kembali dan berkata: ‘Demi Allah, mereka mengalahkan kami (tidak mau berhenti).’ Maka Rasulullah bersabda:”

فَاحْثُ فِي أَفْوَاهِهِنَّ مِنَ التُّرَابِ

Artinya: “Maka hamburkanlah tanah ke mulut mereka.”

Ini adalah bentuk larangan keras terhadap ratapan yang berlebihan, menjerit-jerit, dan merusak tubuh karena kesedihan.


Puisi Asma binti ‘Umais dan Kelanjutan Hidupnya

Asma binti ‘Umais meratapi suaminya Ja’far dengan syair yang menyentuh:

“Maka demi Allah, jiwaku takkan berhenti bersedih... atasmu, dan kulitku takkan berhenti kusam
Siapa yang pernah melihat laki-laki sepertimu?
Lebih berani, lebih membela, dan lebih sabar dalam peperangan.”

Setelah masa iddahnya selesai, Abu Bakar ash-Shiddiq melamarnya. Asma menerima dan Abu Bakar mengadakan walimah. Dalam acara itu, Ali bin Abi Thalib hadir. Setelah para tamu pulang, Ali meminta izin kepada Abu Bakar untuk berbicara dengan Asma dari balik tabir. Abu Bakar mengizinkan.

Ali mendekati tabir, tercium aroma wewangian Asma. Dengan nada bercanda, Ali melantunkan syair Asma:

“Maka demi Allah, jiwaku takkan berhenti bersedih atasmu...”

Asma menjawab sambil tersenyum: “Tinggalkan aku wahai Abu Hasan, sesungguhnya engkau adalah pria yang suka bercanda.”

Dari pernikahan dengan Abu Bakar, Asma melahirkan Muhammad bin Abi Bakar. Setelah Abu Bakar wafat, Asma kemudian dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib dan melahirkan anak-anak darinya.


Hikmah di Balik Perang Mu'tah

Perang Mu'tah adalah peristiwa monumental yang mengajarkan banyak hal:

  1. Keberanian sejati bukan karena jumlah – Tiga ribu Muslim yang dianggap kecil mampu bertahan melawan dua ratus ribu pasukan Romawi.
  2. Kepemimpinan yang berjenjang – Rasulullah menunjuk tiga komandan secara berurutan, menunjukkan persiapan yang matang.
  3. Syahid adalah kemenangan tertinggi – Abdullah bin Rawahah mengatakan bahwa yang mereka cari hanyalah dua kebaikan: menang atau syahid.
  4. Kecerdasan taktik lebih penting dari kekuatan fisik – Khalid bin Al-Walid dengan siasatnya menyelamatkan pasukan dari kehancuran.
  5. Menghormati keluarga syuhada – Rasulullah sendiri yang mengurus anak-anak Ja’far dan menjamin kehidupan mereka.
  6. Larangan ratapan berlebihan – Islam mengajarkan kesabaran, bukan histeria.
  7. Pengampunan dan kebersamaan – Para sahabat yang sempat dituduh “lari” tetap dimuliakan oleh Rasulullah .

Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bani Nadhir: Ketika Pengkhianatan Berujung Pengusiran

Ghazwah Banu Qurayza: Pengkhianatan dan Keadilan