Ketika Tsaqif Datang: Kisah Pengorbanan 'Urwah dan Keislaman yang Penuh Syarat

rombongan utusan suku Tsaqif berjalan memasuki kota Madinah di sore hari. Latar belakang adalah tembok kota Madinah dari batu bata tanah liat dengan pepohonan kurma. Di jalan utama, enam orang laki-laki berpakaian Arab kuno berjalan dengan tertib, dipimpin oleh seorang laki-laki yang lebih tua (Abd Yalil) dan seorang pemuda di antara mereka (Utsman bin Abi al-'Ash). Wajah mereka menunjukkan harapan dan kegugupan yang tenang. Di kejauhan, terlihat Masjid Nabawi dengan atap sederhana. Beberapa penduduk Madinah berdiri di pinggir jalan menyambut dengan sikap ramah.

'Urwah bin Mas'ud: Pahlawan yang Gugur di Jalan Dakwah

Setelah Rasulullah kembali dari Perang Tabuk, beliau tinggal di Madinah. Pada bulan Ramadhan, datanglah seorang tokoh terhormat dari suku Tsaqif (penduduk Tha'if) yang bernama 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi. Ia menemui Rasulullah sebelum beliau sampai di Madinah, lalu masuk Islam.

'Urwah kemudian meminta izin kepada Rasulullah untuk kembali ke kaumnya, mengajak mereka masuk Islam. Rasulullah memperingatkan: إِنَّهُمْ قَاتِلُوكَ (Sesungguhnya mereka akan memerangimu).

'Urwah—yang sangat dicintai dan ditaati kaumnya—menjawab dengan penuh keyakinan: “Wahai Rasulullah, aku lebih mereka cintai daripada anak-anak gadis mereka (yang sangat mereka sayangi).”

Namun ketika ia kembali ke Tha'if dan menyeru mereka dari atas loteng rumahnya, mereka justru memanahnya dari segala penjuru. Sebuah anak panah mengenai tubuhnya, dan ia pun gugur sebagai syahid.

Saat sekarat, ada yang bertanya kepadanya: “Apa pendapatmu tentang agamamu (Islam) sekarang?” Ia menjawab: “Itu adalah kemuliaan yang Allah karuniakan kepadaku, dan kesyahidan yang Allah hadiahkan kepadaku. Tidak ada pada diriku kecuali apa yang ada pada para syuhada yang terbunuh bersama Rasulullah sebelum beliau meninggalkan kalian. Maka kuburkanlah aku bersama mereka.”

Mereka pun menguburkannya. Rasulullah bersabda tentang dirinya:

إِنَّ مَثَلَهُ فِي قَوْمِهِ كَمَثَلِ صَاحِبِ يَاسِينَ فِي قَوْمِهِ

Artinya: “Perumpamaannya di tengah kaumnya seperti perumpamaan pemilik Yasin (Habib an-Najjar) di tengah kaumnya.”


Utusan Tsaqif Menuju Madinah

Setelah membunuh 'Urwah, suku Tsaqif bertahan beberapa bulan. Kemudian mereka bermusyawarah dan menyadari bahwa mereka tidak mampu melawan suku-suku Arab di sekitarnya yang telah masuk Islam dan berbaiat kepada Rasulullah . Akhirnya mereka sepakat mengirim utusan kepada Rasulullah .

Mereka mengirim Abd Yalil bersama lima orang pemuka mereka, di antaranya Utsman bin Abi al-'Ash (yang termuda). Ketika mereka tiba di Madinah, mereka bertemu dengan Al-Mughirah bin Syu'bah (yang berasal dari Tsaqif tetapi telah masuk Islam lebih dulu). Al-Mughirah segera berlari menuju Rasulullah untuk menyampaikan kabar gembira kedatangan mereka.

Di tengah jalan, ia bertemu dengan Abu Bakar ash-Shiddiq. Abu Bakar memintanya untuk tidak mendahuluinya menyampaikan kabar tersebut. Abu Bakar pun masuk menemui Rasulullah dan memberitahukan kedatangan utusan Tsaqif.

Al-Mughirah kemudian mengajari mereka cara memberi salam kepada Rasulullah . Namun ketika mereka menghadap beliau, mereka tetap mengucapkan salam dengan cara jahiliah. Rasulullah memasang sebuah tenda untuk mereka di Masjid Nabawi agar lebih mudah berinteraksi dan belajar adab Islam.

Khalid bin Sa'id bin al-'Ash menjadi perantara antara mereka dan Rasulullah , dan dialah yang menuliskan perjanjian mereka.


Negosiasi yang Panjang: Tiga Syarat yang Ditolak

Suku Tsaqif mengajukan beberapa persyaratan kepada Rasulullah :

  1. Mereka meminta agar berhala mereka (al-Lat) dibiarkan selama tiga tahun. Rasulullah menolak. Mereka meminta satu tahun, tetap ditolak. Mereka meminta satu bulan setelah kedatangan mereka untuk membujuk orang-orang bodoh di antara mereka, tetapi Rasulullah tetap menolak untuk membiarkan berhala itu sama sekali.

Inilah sikap para nabi: mereka tidak pernah mengendurkan prinsip tauhid walau seujung rambut.

  1. Mereka meminta agar tidak diwajibkan salat, dan agar mereka tidak perlu menghancurkan berhala dengan tangan mereka sendiri.

Rasulullah menjawab tegas: أَمَّا كَسْرُ أَصْنَامِكُمْ بِأَيْدِيكُمْ فَسَنُعْفِيكُمْ مِنْ ذَلِكَ، وَأَمَّا الصَّلَاةُ فَلَا خَيْرَ فِي دِينٍ لَا صَلَاةَ فِيهِ

Artinya: “Adapun penghancuran berhala kalian dengan tangan kalian, kami akan membebaskan kalian dari itu. Namun adapun salat, tidak ada kebaikan dalam agama yang tidak ada salat di dalamnya.”

  1. Mereka meminta agar tidak diwajibkan berjihad (tidak dipanggil untuk berperang), tidak dikenakan zakat, dan tidak diangkat pemimpin dari luar mereka.

Rasulullah mengabulkan permintaan ini. Beliau bersabda: سَيَتَصَدَّقُونَ، وَيُجَاهِدُونَ إِذَا أَسْلَمُوا
Artinya: “Mereka nanti akan bersedekah (membayar zakat) dan berjihad jika mereka sudah masuk Islam.” (HR. Ahmad)

Maksudnya, setelah hati mereka lapang dengan Islam, mereka sendiri akan menerima kewajiban jihad dan zakat. Dan itulah yang terjadi.

Mereka juga bertanya tentang zina, riba, dan khamar. Rasulullah mengharamkan semuanya.


Momen Menyentuh: Mereka Berpuasa dan Belajar Al-Qur'an

Setelah mereka masuk Islam, mereka berpuasa bersama Rasulullah selama sisa bulan Ramadhan. Setiap malam, Rasulullah mendatangi mereka, memberikan nasihat, dan mengajarkan agama sambil berdiri.

Suatu malam beliau datang terlambat. Mereka bertanya alasannya. Beliau menjawab: طَرَأَ عَلَيَّ حِزْبِي فَكَرِهْتُ أَنْ أَجِيءَ حَتَّى أُتِمَّهُ

Artinya: “Tiba-tiba ada giliran bacaanku (hizb) yang harus kuselesaikan, maka aku tidak ingin datang sebelum menyelesaikannya.”

Para sahabat kemudian ditanya: “Bagaimana kalian membagi bacaan Al-Qur'an?” Mereka menjawab: “Tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, dan satu hizb dari al-Mufashshal.”


Pemimpin Muda dari Tsaqif

Atas saran Abu Bakar, Rasulullah menunjuk Utsman bin Abi al-'Ash (yang termuda di antara utusan) sebagai pemimpin mereka. Utsman dikenal sangat bersemangat mempelajari Al-Qur'an dan gemar berinfak di jalan Allah.

Rasulullah mewasiatkan kepadanya:

مَنْ أَمَّ قَوْمًا فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيهِمُ الضَّعِيفَ وَالْكَبِيرَ وَذَا الْحَاجَةِ، فَإِذَا صَلَّى وَاحِدُكُمْ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ

Artinya: “Barang siapa menjadi imam bagi suatu kaum, hendaklah ia meringankan (salatnya), karena di antara mereka ada yang lemah, tua, dan mempunyai keperluan. Jika seseorang salat sendirian, salatlah sekehendaknya.” (HR. Ahmad dan Muslim)

Dalam riwayat Ibnu Majah, Rasulullah juga menganjurkan Utsman untuk membaca surat Iqra' bismi rabbika (Al-'Alaq) dan surat-surat sejenisnya dalam salat. Ini adalah kebijaksanaan yang mendalam: karena mereka adalah kaum yang awalnya ingin dibebaskan dari salat, maka salat harus diringankan agar mereka tidak bosan.


Penghancuran Berhala al-Lat

Ketika utusan Tsaqif kembali ke negeri mereka, Rasulullah mengirim Abu Sufyan bin Harb dan Al-Mughirah bin Syu'bah untuk menghancurkan berhala al-Lat.

Al-Mughirah yang bertugas menghancurkannya hingga ke pondasinya. Kaumnya semula khawatir ia akan celaka seperti keyakinan tahayul mereka. Namun setelah ia selesai menghancurkannya dan selamat, mereka yakin bahwa berhala itu hanyalah batu yang tidak memberi manfaat maupun mudarat.

Demikianlah Allah menyucikan bumi Tsaqif dari berhala-berhala dan memberi mereka taufik untuk menyembah Allah semata.


Strategi Bijak Para Utusan

Menurut riwayat Musa bin 'Uqbah, para utusan Tsaqif tidak berani terus terang kepada kaum mereka tentang keislaman mereka dan syarat-syarat yang telah mereka sepakati dengan Rasulullah . Mereka hanya berkata: “Muhammad ingin mengharamkan riba, zina, dan khamar.”

Kaum mereka marah dan bersiap untuk berperang. Namun satu atau dua hari kemudian, Allah menanamkan rasa takut dalam hati mereka. Mereka berkata: “Kembalilah kalian kepadanya. Buatlah perjanjian dengan syarat-syarat itu.” Maka para utusan berkata: “Kami telah melakukannya, dan kami dapati dia sebagai manusia yang paling bertakwa, paling menepati janji, paling penyayang, dan paling jujur. Sungguh kami telah diberkahi dalam perjalanan kami dan dalam apa yang kami sepakati. Maka terimalah ketetapan itu dan terimalah afiat dari Allah.”

Kaum mereka bertanya: “Mengapa kalian menyembunyikan hal ini dari kami?” Mereka menjawab: “Kami ingin Allah mencabut dari hati kalian kesombongan setan.” Maka mereka pun masuk Islam dan menjadi baik keislaman mereka.


Diyat untuk 'Urwah dan Saudaranya

Ketika Al-Mughirah menghancurkan al-Lat dan mengambil harta serta perhiasannya, Rasulullah memerintahkan agar sebagian dari harta itu digunakan untuk membayar diat (tebusan) 'Urwah bin Mas'ud dan saudaranya Al-Aswad bin Mas'ud (ayah dari sahabat Qarib bin al-Aswad). Al-Aswad meninggal dalam keadaan musyrik, tetapi Rasulullah tetap memberikannya sebagai bentuk perbaikan hati dan penghormatan kepada putranya, Qarib.


Isi Surat Rasulullah kepada Mereka

Rasulullah menulis surat untuk penduduk Tha'if yang berbunyi:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ رَسُولِ اللَّهِ إِلَى الْمُؤْمِنِينَ: إِنَّ عِضَاهَ وَجٍّ وَصَيْدَهُ لَا يُعْضَدُ، مَنْ وَجَدَ يَفْعَلُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَإِنَّهُ يُجْلَدُ وَتُنْزَعُ ثِيَابُهُ، وَإِنْ تَعَدَّ ذَلِكَ فَإِنَّهُ يُؤْخَذُ فَيُبَلَّغُ بِهِ النَّبِيَّ مُحَمَّدًا، وَإِنَّ هَذَا أَمْرُ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ.

Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, Nabi dan Rasulullah, kepada orang-orang yang beriman. Sesungguhnya pohon-pohon berduri di daerah Wajj dan buruan di sana tidak boleh ditebang/diburu. Barang siapa melakukan sesuatu dari hal itu, maka ia akan dicambuk dan diambil pakaiannya. Jika ia mengulangi, maka ia akan ditangkap dan dihadapkan kepada Nabi Muhammad. Dan inilah perintah Nabi Muhammad.”

Surat ini ditulis oleh Khalid bin Sa'id bin al-'Ash atas perintah Rasulullah . Abu 'Ubaid dalam kitab Al-Amwal menambahkan bahwa surat itu juga disaksikan oleh Ali dan kedua putranya Hasan dan Husain.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: إِنَّ صَيْدَ وَجٍّ وَعِضَاهَهُ حَرَمٌ مُحَرَّمٌ لِلَّهِ (Sesungguhnya buruan dan pohon-pohon di Wajj adalah tanah haram yang diharamkan oleh Allah). Para ulama berbeda pendapat tentang status hadits ini, namun yang jelas surat ini menunjukkan perhatian Rasulullah terhadap lingkungan dan hak milik.


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setelah Fathu Makkah: Ketakutan Anshar, Kisah Bani Judzaimah, dan Penghancuran Berhala

Perang Hunain: Pelajaran dari Kemenangan yang Hampir Sirna

Ketika Kemenangan Bertemu Kedermawanan: Kisah Delegasi Hawazin dan Pembagian Rampasan Hunain