Fathu Makkah (Bagian 5)
Fathu Makkah: Keagungan Maaf di Puncak Kemenangan
Setelah penaklukan Mekah, dunia menyaksikan sebuah tontonan
yang langka: seorang pemimpin yang berkuasa penuh atas musuh-musuhnya, namun
memilih untuk memaafkan. Inilah puncak akhlak agung yang diajarkan Islam.
Indahnya Maaf saat Berkuasa
Alangkah indahnya maaf di saat mampu membalas. Alangkah
agungnya jiwa-jiwa yang meninggalkan dendam dan balas dendam, bahkan
meninggalkan pembalasan kejahatan dengan kejahatan serupa. Mereka memilih untuk
memaafkan dan melupakan.
Dan kepada siapa Rasulullah ﷺ memaafkan? Kepada orang-orang yang telah
lama menyiksa beliau dan para sahabat, yang berkali-kali berniat membunuhnya,
yang mengusir beliau dan pengikutnya dari kampung halaman, harta, dan keluarga.
Bahkan setelah hijrah ke Madinah, mereka tidak pernah berhenti memerangi dan
memusuhi beliau.
Puncak yang bisa diharapkan dari jiwa manusia yang terzalimi
lalu menang adalah membalas tanpa berlebihan dalam menumpahkan darah. Tetapi
beliau adalah seorang nabi. Dan kenabian memiliki karakteristik khas: menahan
hawa nafsu, mengalahkan ego, memberi maaf, dan lapang dada.
Bukankah di antara sifat-sifat beliau yang disebutkan dalam
Taurat adalah: tidak kasar, tidak keras hati, tidak berteriak-teriak di
pasar, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi memaafkan dan
mengampuni?
Dengan maafnya Rasulullah ﷺ kepada penduduk Mekah, beliau telah
memberikan teladan bagi seluruh dunia dan generasi yang akan datang tentang
kebaikan, kasih sayang, keadilan, ketepatan janji, dan keluhuran jiwa—sesuatu
yang tidak pernah dikenal dunia dan tidak akan pernah dikenal dalam sejarah
panjangnya.
Coba lihat sekilas apa yang dilakukan oleh pihak yang menang
terhadap pihak yang kalah dalam dua perang dunia di abad ini—abad yang mereka
sebut sebagai abad peradaban. Maka engkau akan tahu dengan yakin perbedaan
antara kenabian dan selain kenabian, antara Islam dan selain Islam.
Keislaman Abu Quhafah: Menghormati Orang Tua
Setelah Fathu Makkah, Abu Bakar ash-Shiddiq datang
membawa ayahnya, Abu Quhafah, yang sudah buta matanya. Beliau
menuntunnya menghadap Rasulullah ﷺ.
Ketika Rasulullah ﷺ melihatnya, beliau bersabda: “هَلَّا تَرَكْتَ الشَّيْخَ فِي
بَيْتِهِ حَتَّى أَكُونَ أَنَا آتِيَهُ؟”
Artinya: “Tidakkah engkau tinggalkan orang tua itu di rumahnya sehingga aku
sendiri yang mendatanginya?”
Abu Bakar menjawab: “Wahai Rasulullah, beliau lebih berhak
untuk berjalan menemuimu daripada engkau yang berjalan menemuinya.”
Rasulullah ﷺ
lalu mendudukkan Abu Quhafah di hadapannya, mengusap dadanya, dan
bersabda: “أَسْلِمْ” (Masuk
Islamlah). Maka Abu Quhafah pun masuk Islam.
Rasulullah ﷺ
memberi selamat kepada Abu Bakar atas masuk Islamnya ayahnya. Rambut kepala Abu
Quhafah telah memutih semua. Rasulullah ﷺ bersabda: “غَيِّرُوا مِنْ
شَعَرِهِ، وَلَا تَقْرَبُوهُ سَوَادًا”
Artinya: “Ubahlah (warnai) rambutnya, dan jangan kalian gunakan warna
hitam.”
Keislaman Al-Harits bin Hisyam dan 'Attab bin Usaid
Suatu hari, Al-Harits bin Hisyam, 'Attab
bin Usaid, dan Abu Sufyan bin Harb sedang duduk-duduk di
halaman Ka'bah. Saat itu Bilal sedang mengumandangkan adzan di
atas Ka'bah.
'Attab berkata: “Semoga Allah memuliakan (saudaraku) Usaid
sehingga dia tidak mendengar suara ini (adzan yang mengganggunya).” Ia
mengucapkan itu dengan perasaan kesal.
Al-Harits bin Hisyam berkata: “Demi Allah, seandainya aku
tahu bahwa Muhammad itu benar, pasti aku akan mengikutinya.”
Abu Sufyan (yang telah masuk Islam) berkata dalam hatinya:
“Aku tidak akan mengatakan apa-apa. Jika aku berbicara, pasti kerikil-kerikil
ini akan menyampaikan ucapanku kepada Muhammad.”
Tiba-tiba Rasulullah ﷺ muncul di hadapan mereka dan
bersabda: “قَدْ
عَلِمْتُ الَّذِي قُلْتُمْ” (Aku telah mengetahui apa yang
kalian ucapkan). Kemudian beliau menyebutkan satu per satu ucapan mereka.
Maka Al-Harits dan 'Attab langsung berkata: “Kami bersaksi
bahwa engkau adalah utusan Allah. Tidak ada seorang pun yang bersama kami yang
bisa memberitahumu. Pasti Allah yang memberitahumu!” Keduanya pun masuk Islam.
Fudhalah bin 'Umair: Niat Buruk Berubah Menjadi Cinta
Fudhalah bin 'Umair adalah salah satu orang yang
sempat terbesit niat dalam hatinya untuk membunuh Rasulullah ﷺ saat beliau sedang
thawaf di Ka'bah pada tahun penaklukan Mekah. Fudhalah mendekat.
Namun Rasulullah ﷺ menegurnya: “أَفُضَالَةُ؟” (Wahai
Fudhalah?)
Fudhalah menjawab dengan gemetar: “Ya, Fudhalah, wahai
Rasulullah.”
Beliau bertanya: “مَاذَا كُنْتَ تُحَدِّثُ بِهِ نَفْسَكَ؟” (Apa
yang sedang engkau bisikkan dalam hatimu?)
Fudhalah mengelak: “Tidak ada. Aku sedang mengingat Allah.”
Rasulullah ﷺ
tersenyum, lalu bersabda: “اسْتَغْفِرِ اللَّهَ” (Mohonlah
ampun kepada Allah). Kemudian beliau meletakkan tangannya di dada Fudhalah.
Seketika itu juga, hati Fudhalah menjadi tenang.
Fudhalah kemudian berkata: “Demi Allah, beliau belum
mengangkat tangannya dari dadaku sehingga tidak ada makhluk Allah yang lebih
aku cintai melebihi beliau.”
Fudhalah pulang ke keluarganya. Di jalan, ia melewati
seorang wanita yang biasa ia temui untuk berbincang (masalah cinta). Wanita itu
berkata: “Kemarilah, mari kita berbincang (seperti dulu).”
Fudhalah menjawab: “Tidak.” Kemudian ia melantunkan syair:
“Dia (wanita itu) berkata: ‘Kemarilah, mari kita
berbincang.’ Aku menjawab: ‘Tidak…
Allah dan Islam melarangmu (melarangku).’
Seandainya engkau melihat Muhammad dan pasukannya…
Saat penaklukan, ketika berhala-berhala dihancurkan…
Pasti engkau melihat agama Allah menjadi terang benderang…
Sedangkan kemusyrikan ditutupi kegelapan.”
Pelajaran dari Kisah Ini
Sungguh, Islam mengubah perilaku orang yang memeluknya.
Islam membimbingnya kepada nilai-nilai akhlak yang mulia, mengubah cara
pandangnya terhadap kehidupan, hingga ia menjadi manusia yang berbeda—dalam
aqidah, perilaku, dan akhlaknya.
Kisah Fudhalah adalah bukti nyata: niat jahat membunuh
berubah menjadi cinta yang tulus, hanya karena sentuhan tangan Rasulullah ﷺ
dan hidayah Allah. Inilah keajaiban maaf dan kasih sayang.
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar
Posting Komentar