Gerakan Murtad dan Penumpasannya
Khotbah Ash-Shiddiq Setelah Pembaiatan dan Pemakaman
Rasulullah ﷺ
Saif bin Umar al-Tamimi meriwayatkan dari Ashim bin Adi, ia
berkata: Penyeru Abu Bakar mengumumkan pada hari setelah wafatnya Rasulullah ﷺ
agar menyempurnakan pengiriman pasukan Usamah. Ia berseru, "Hendaknya
tidak ada seorang pun dari pasukan Usamah yang tersisa di Madinah, kecuali
harus keluar menuju markas mereka di al-Jurf." Kemudian Abu Bakar berdiri
di hadapan orang-orang, memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu berkata:
"Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku hanyalah
manusia seperti kalian. Aku tidak tahu, mungkin kalian akan membebaniku dengan
apa yang dahulu mampu dipikul oleh Rasulullah ﷺ. Sesungguhnya Allah telah memilih Muhammad
atas seluruh alam dan menjaganya dari segala kekurangan. Aku hanyalah seorang
pengikut dan bukan pembuat bid'ah. Jika aku bertindak lurus, maka ikutilah aku;
namun jika aku menyimpang, maka luruskanlah aku. Sesungguhnya Rasulullah ﷺ
wafat dalam keadaan tidak ada seorang pun dari umat ini yang menuntutnya atas
suatu kezaliman, baik itu satu pukulan cambuk atau yang lebih ringan dari itu.
Ketahuilah, sesungguhnya aku memiliki setan yang terkadang
merasukiku. Jika ia mendatangiku, maka jauhilah aku agar aku tidak memengaruhi
rambut dan kulit kalian (menyakiti kalian). Sesungguhnya kalian menjalani pagi
dan sore dalam ajal yang waktunya disembunyikan dari kalian. Jika kalian mampu
agar ajal itu tidak berlalu kecuali kalian dalam amal saleh, maka lakukanlah;
dan kalian tidak akan mampu melakukannya kecuali dengan pertolongan Allah.
Berlombalah kalian dalam kelonggaran ajal sebelum ajal tersebut menyerahkan
kalian kepada terputusnya amal. Sesungguhnya ada suatu kaum yang melupakan ajal
mereka dan menjadikan amal mereka untuk kepentingan setelah mereka, maka
janganlah kalian menjadi seperti mereka. Bersungguh-sungguhlah,
bersungguh-sungguhlah! Selamatkan diri kalian, selamatkan diri kalian! Karena
di belakang kalian ada pengejar yang sangat cepat, yaitu ajal yang masanya
sangat singkat. Waspadalah terhadap kematian, ambillah pelajaran dari
ayah-ayah, anak-anak, dan saudara-saudara kalian. Janganlah kalian merasa iri
kepada yang hidup kecuali atas apa yang kalian irikan kepada mereka yang telah
mati."
Pelaksanaan Pengiriman Pasukan Usamah
Rasulullah ﷺ
sebelumnya telah memerintahkan Usamah untuk berjalan menuju perbatasan Balqa’
di Syam, tempat terbunuhnya Zaid bin Haritsah, Ja’far, dan Ibnu Rawahah.
Pasukan tersebut keluar menuju al-Jurf dan berkemah di sana. Di antara mereka
terdapat Umar bin Khattab, dan dikatakan juga Abu Bakar Ash-Shiddiq, namun
Rasulullah ﷺ
mengecualikan Abu Bakar agar mengimami shalat.
Ketika sakit Rasulullah ﷺ semakin berat, mereka tertahan di sana.
Setelah Rasulullah ﷺ
wafat, masalah menjadi besar, keadaan menjadi genting, kemunafikan muncul di
Madinah, dan orang-orang Arab di sekitar Madinah ada yang murtad. Sebagian
lainnya menolak membayar zakat kepada Ash-Shiddiq. Tidak ada lagi pelaksanaan
shalat Jumat kecuali di Mekah, Madinah, dan Juwatha di Bahrain yang merupakan
desa pertama yang mengadakan Jumat setelah masyarakat kembali kepada kebenaran.
Ketika peristiwa ini terjadi, banyak orang menyarankan
kepada Ash-Shiddiq agar tidak mengirim pasukan Usamah karena sangat dibutuhkan
untuk urusan yang lebih mendesak. Salah satu yang menyarankan hal itu adalah
Umar bin Khattab. Namun, Ash-Shiddiq menolak dengan keras dan berkata:
"Demi Allah, aku tidak akan melepas ikatan yang telah diikat oleh
Rasulullah ﷺ,
meskipun burung-burung menyambar kami, binatang buas mengelilingi Madinah, dan
meskipun anjing-anjing menyeret kaki ibu-ibu kaum mukminin (istri nabi), aku
akan tetap mengirim pasukan Usamah."
Diriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar bertekad bulat mengirim
pasukan Usamah, sebagian kaum Anshar berkata kepada Umar: "Katakan padanya
agar menunjuk pemimpin selain Usamah untuk kami." Ketika Umar menyampaikan
hal itu, Abu Bakar memegang janggut Umar dan berkata: "Semoga ibumu
kehilanganmu wahai putra al-Khattab! Apakah aku harus mengganti pemimpin yang
telah ditunjuk oleh Rasulullah ﷺ?"
Abu Bakar kemudian pergi sendiri ke al-Jurf untuk meninjau
pasukan, memerintahkan mereka berangkat, dan ia berjalan kaki sementara Usamah
naik kendaraan. Usamah berkata: "Wahai Khalifah Rasulullah, engkau yang
naik atau aku yang turun." Abu Bakar menjawab: "Demi Allah, engkau
jangan turun dan aku tidak akan naik." Kemudian Ash-Shiddiq meminta izin
kepada Usamah agar meninggalkan Umar bin Khattab bersamanya (karena Umar
terdaftar dalam pasukan tersebut), dan Usamah mengizinkannya.
Keberangkatan pasukan ini menjadi maslahat yang sangat
besar. Tidaklah mereka melewati perkampungan Arab melainkan kampung tersebut
merasa ketakutan dan berkata: "Orang-orang ini tidak akan keluar kecuali
karena mereka memiliki kekuatan yang besar." Mereka pergi selama empat
puluh hari (ada yang menyebut tujuh puluh hari) kemudian kembali dengan selamat
dan membawa ghanimah (harta rampasan).
Tindakan Ash-Shiddiq dalam Memerangi Ahli Murtad dan Penolak Zakat
Aisyah berkata: "Ketika Rasulullah ﷺ wafat, bangsa Arab
murtad secara keseluruhan dan kemunafikan muncul. Demi Allah, sungguh telah
turun kepada ayahku suatu beban yang jika turun kepada gunung-gunung yang kokoh
niscaya akan menghancurkannya. Para sahabat Muhammad ﷺ menjadi seperti kambing yang kehujanan di
malam yang dingin di tanah yang penuh binatang buas. Demi Allah, tidaklah
mereka berselisih dalam satu poin pun melainkan ayahku menyelesaikannya demi
kepentingan Islam."
Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa sebagian besar penduduk Mekah
sempat berniat kembali murtad saat Rasulullah ﷺ wafat. Namun Suhail bin Amru berdiri
berpidato memuji Allah, lalu menyebut wafatnya Rasulullah ﷺ dan berkata:
"Sesungguhnya hal itu tidak menambah Islam kecuali kekuatan. Barangsiapa
yang membuat keraguan kepada kami, maka akan kami penggal lehernya." Maka
orang-orang pun mengurungkan niatnya.
Sementara itu, Bani Hanifah dan banyak orang di Yamamah
memihak Musailamah al-Kaddzab. Bani Asad, Thayyi’, dan banyak orang berkumpul
di sekitar Thulaihah al-Asadi yang mengaku sebagai nabi. Karena pasukan Usamah
telah berangkat, jumlah tentara di sisi Ash-Shiddiq menipis. Banyak orang Baduy
mengincar Madinah dan mencoba menyerang pos-pos penjagaan yang dipimpin oleh
Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Sa'ad bin Abi
Waqqash, Abdurrahman bin Auf, dan Abdullah bin Mas'ud.
Utusan-utusan Arab mulai mendatangi Madinah; mereka mengakui
kewajiban shalat namun menolak membayar zakat. Sebagian berhujah dengan ayat:
﴿خُذْ
مِنْ أَمْوالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِها وَصَلِّ عَلَيْهِمْ
إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ﴾
"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan
zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka."
[At-Taubah: 103].
Mereka berkata: "Kami tidak akan menyerahkan zakat kami
kecuali kepada orang yang doanya menjadi ketenteraman bagi kami." Sebagian
mereka bersyair:
أطعنا
رسول الله إذ كان بيننا ... فواعجبا ما بال ملك أبي بكر
Kami menaati Rasulullah selagi beliau di tengah-tengah
kami... betapa mengherankan, ada apa dengan kekuasaan Abu Bakar?
Para sahabat berdiskusi dengan Ash-Shiddiq agar membiarkan
mereka dan tidak memerangi mereka karena menolak zakat, serta membujuk mereka
hingga iman menetap di hati mereka. Namun Ash-Shiddiq menolak hal itu. Umar bin
Khattab bertanya kepada Abu Bakar: "Atas dasar apa engkau memerangi
manusia? Padahal Rasulullah ﷺ
telah bersabda:
«أمرت
أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ، فإذا قالوها
عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحقها»
"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai
mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan
Allah. Jika mereka telah mengucapkannya, maka darah dan harta mereka terjaga
dariku, kecuali dengan haknya."
Abu Bakar menjawab: "Demi Allah, seandainya mereka
menolak menyerahkan seekor anak kambing (dalam riwayat lain: tali pengikat
unta) yang dahulu mereka serahkan kepada Rasulullah ﷺ, niscaya aku akan memerangi mereka karena
penolakan tersebut. Sesungguhnya zakat adalah hak harta. Demi Allah, aku
benar-benar akan memerangi orang yang membedakan antara shalat dan zakat."
Umar berkata: "Maka tidak lain aku melihat Allah telah melapangkan dada
Abu Bakar untuk berperang, sehingga aku tahu bahwa itu adalah kebenaran."
Penulis berkata: Allah Ta'ala telah berfirman:
﴿فَإِن
تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَعَاتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ﴾
"Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat serta
menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka." [At-Taubah: 5].
Dan telah tetap dalam Shahihain:
«بني
الإسلام على خمس؛ شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ، وإقام الصلاة،
وإيتاء الزكاة، وحج البيت، وصوم رمضان»
"Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa
tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat,
menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan.".
Ketika terjadi peristiwa murtad, Abu Bakar berdiri berpidato
di hadapan orang-orang, ia memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu berkata:
"Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk maka mencukupi, dan
memberi maka mengkayakan. Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad ﷺ
saat ilmu sedang hilang, Islam sedang terasing dan terusir... Maka Allah
mempersatukan mereka melalui Muhammad. Allah menolong mereka melalui
orang-orang yang mengikuti mereka, dan menolong mereka atas orang-orang selain
mereka, hingga Allah mewafatkan Nabi-Nya, lalu setan menunggangi mereka
kembali. Allah berfirman:
﴿وَمَا
مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِيْن مَّاتَ
أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ
فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا﴾
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul,
sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika ia wafat
atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke
belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah
sedikitpun." [Ali Imran: 144].
Sesungguhnya orang-orang Arab di sekitar kalian telah
menolak menyerahkan kambing dan unta mereka. Demi Allah, aku tidak akan
membiarkan untuk berperang atas urusan Allah sampai Allah menepati janji-Nya
kepada kita.... Allah berfirman:
﴿وَعَدَ
اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ﴾
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang
beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia
sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi." [An-Nur:
55].
Mengenai firman Allah Ta'ala:
﴿يَأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ
بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ﴾
"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara
kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum
yang Allah mencintai mereka." [Al-Maidah: 54].
Hasan, Qatadah, dan lainnya berkata: "Yang dimaksud
dengan ayat tersebut adalah Abu Bakar dan sahabat-sahabatnya dalam memerangi
orang-orang murtad dan penolak zakat.".
Penyebaran Kemurtadan
Muhammad bin Ishaq berkata: Bangsa Arab murtad saat wafatnya
Rasulullah ﷺ
kecuali penduduk dua masjid, yaitu Mekah dan Madinah. Suku Asad dan Ghathafan
murtad di bawah pimpinan Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi sang dukun. Suku
Kindah dan sekitarnya murtad di bawah pimpinan al-Asy'ats bin Qais al-Kindi.
Suku Madzhij dan sekitarnya murtad di bawah pimpinan al-Aswad bin Ka'ab al-Ansi
sang dukun. Suku Rabi'ah murtad bersama al-Ma'rur bin al-Nu'man. Bani Hanifah
tetap dalam kesesatannya bersama Musailamah bin Habib al-Kaddzab. Suku Sulaim
murtad bersama al-Fuja'ah. Dan Bani Tamim murtad bersama Sajah sang dukun
wanita.
Al-Qasim bin Muhammad menceritakan: Suku Asad, Ghathafan,
dan Thayyi' berkumpul mendukung Thulaihah al-Asadi. Mereka mengirim utusan ke
Madinah dan menetap di rumah-rumah tokoh masyarakat, namun tidak ada yang
menerima mereka kecuali Al-Abbas. Para utusan itu membawa mereka menghadap Abu
Bakar dengan usulan agar mereka tetap mendirikan shalat tetapi tidak menunaikan
zakat. Namun, Allah meneguhkan Abu Bakar di atas kebenaran, lalu beliau
berkata: "Seandainya mereka menolak memberikan tali pengikat unta kepadaku,
niscaya aku akan memerangi mereka.". Beliau menolak usulan itu sehingga
para utusan kembali ke kaumnya dan melaporkan sedikitnya jumlah penduduk
Madinah, yang memicu ambisi mereka untuk menyerang.
Abu Bakar kemudian menempatkan penjaga di jalur-jalur masuk
Madinah dan mewajibkan penduduk untuk selalu berada di masjid. Beliau berkata:
"Sesungguhnya bumi ini telah ingkar, dan utusan mereka telah melihat
sedikitnya jumlah kalian. Kalian tidak tahu apakah mereka akan menyerang malam
atau siang hari...". Hanya selang tiga hari, mereka benar-benar melakukan
serangan mendadak ke Madinah. Abu Bakar bersama jamaah masjid keluar menghadapi
mereka dengan menunggangi unta-unta penyiram tanaman. Musuh akhirnya terpukul
mundur dan umat Islam mengejar mereka hingga mencapai Dzi Hussy, di mana
kemenangan berhasil diraih.
Serangan Ash-Shiddiq terhadap Kaum Murtad di Sekitar Madinah
Pada bulan Jumadil Akhir tahun 11 Hijriah, Ash-Shiddiq
bersama penduduk Madinah dan para komandan penjaga jalur masuk kota berangkat
menuju kaum Arab Baduy di sekitar Madinah yang telah menyerang mereka. Ketika
beliau berhadapan dengan musuh dari Bani Abs, Bani Murrah, Dzubyan, dan
pendukung mereka dari Bani Kinanah, musuh menggunakan siasat licik. Mereka
meniup kantong-kantong kulit hingga menggembung dan menggelindingkannya dari
puncak gunung. Suara yang dihasilkan membuat unta-unta kaum Muslimin terkejut
dan lari berpencaran hingga malam hari, lalu kembali ke Madinah.
Melihat kejadian itu, musuh mengira umat Islam telah lemah
sehingga mereka memanggil bantuan dari kabilah lain. Namun, Abu Bakar
menghabiskan malamnya dengan mengatur barisan pasukan, lalu keluar di akhir
malam. Beliau menempatkan An-Nu'man bin Muqarrin di sayap kanan, Abdullah bin
Muqarrin di sayap kiri, dan Suwaid bin Muqarrin di barisan belakang. Saat fajar
tiba, mereka sudah berhadapan dengan musuh tanpa terdengar suara sedikit pun,
lalu segera menyerang dengan pedang. Sebelum matahari terbit, musuh telah
melarikan diri dan kalah. Abu Bakar mengejar mereka hingga sampai ke Dzi
al-Qashah. Ini adalah kemenangan pertama yang menghinakan kaum musyrik dan
menguatkan kaum Muslimin. Peristiwa ini menjadi bantuan besar bagi kemenangan
Islam, karena kaum Muslimin di setiap kabilah menjadi mulia dan kaum kafir
menjadi hina. Abu Bakar kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan dan harta
rampasan perang.
Setelah kembali ke Madinah, dalam satu malam beliau menerima
zakat dari Adi bin Hatim, Shafwan, dan Az-Zibriqan bin Badr. Zakat-zakat
tersebut tiba di awal, tengah, dan akhir malam, masing-masing dibawa oleh
pembawa kabar gembira dari para komandan penjaga jalur kota. Hal ini terjadi
tepat enam puluh hari setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.
Kembalinya Pasukan Usamah dan Keberangkatan Ash-Shiddiq Sekali Lagi
Beberapa malam setelah peristiwa tersebut, Usamah bin Zaid
tiba. Abu Bakar menunjuknya sebagai wakil di Madinah dan memerintahkan
pasukannya untuk beristirahat. Kemudian Abu Bakar kembali berangkat bersama
pasukan yang bersamanya dalam pertempuran sebelumnya. Kaum Muslimin berkata
kepadanya: "Alangkah baiknya jika engkau kembali ke Madinah dan mengirim
orang lain saja." Beliau menjawab: "Demi Allah, aku tidak akan
melakukannya, aku akan menolong kalian dengan diriku sendiri.".
Beliau berangkat bersama pasukan menuju Al-Abraq di wilayah
Dzubyan. Di sana terjadi pertempuran melawan Bani Abs, Dzubyan, dan sebagian
Bani Kinanah hingga Allah mengalahkan kaum musyrik. Abu Bakar menetap di
Al-Abraq selama beberapa hari dan menyatakan bahwa wilayah tersebut kini
terlindungi untuk kuda-kuda kaum Muslimin. Mengenai hari di Al-Abraq ini, Ziyad
bin Hanzhalah menggubah syair:
ويوم
بالأبارق قد شهدنا ... على ذبيان يلتهب التهابا
أتيناهم
بداهية نسوف ... مع الصديق إذ ترك العتاب
Dan hari di Al-Abariq telah kami saksikan, atas suku
Dzubyan (perang) yang berkobar-kobar.
Kami mendatangi mereka dengan bencana yang menyapu
bersih, bersama Ash-Shiddiq saat beliau telah meninggalkan teguran (memulai
tindakan tegas).
Keberangkatan Ash-Shiddiq ke Dzi al-Qashah dan Penunjukan Para Komandan untuk Memerangi Kaum Murtad
Setelah pasukan Usamah pulih dan beristirahat, Ash-Shiddiq
memimpin pasukan Islam dengan pedang terhunus dari Madinah menuju Dzi
al-Qashah. Ali bin Abi Thalib menuntun unta tunggangan Ash-Shiddiq. Para
sahabat, termasuk Ali, mendesak beliau agar kembali ke Madinah dan menyerahkan
kepemimpinan perang kepada para pemberani lainnya. Beliau pun menyetujui hal
itu dan menyerahkan bendera komando kepada sebelas pimpinan pasukan, yaitu:
- Khalid
bin al-Walid: diperintahkan menghadapi Thulaihah bin Khuwailid,
kemudian menuju Malik bin Nuwairah di al-Buthah.
- Ikrimah
bin Abi Jahl: diperintahkan menghadapi Musailamah al-Kaddzab dan Bani
Hanifah.
- Syurahbil
bin Hasanah: dikirim untuk menyusul Ikrimah menghadapi Musailamah
al-Kaddzab.
- Al-Muhajir
bin Abi Umayyah: diperintahkan menghadapi pasukan Al-Ansi dan membantu
penduduk Yaman melawan Qais bin Maksyuh.
- Khalid
bin Sa'id bin al-Ash: menuju pinggiran Syam.
- Amru
bin al-Ash: menuju kabilah Qudha'ah, Wadi'ah, dan al-Harits di barat
laut Madinah.
- Hudzaifah
bin Mihshan al-Ghalfani: diperintahkan menghadapi penduduk Daba di
Oman.
- Arfajah
bin Hartsamah: diperintahkan menuju Mahrah di arah Hadramaut.
- Tharifah
bin Hajiz as-Sulami: diperintahkan menghadapi Bani Sulaim dan Hawazin.
- Suwaid
bin Muqarrin: diperintahkan menuju Tihamah Yaman.
- Al-Ala
bin al-Hadhrami: diperintahkan menuju Bahrain.
Maklumat yang Ditujukan kepada Kaum Murtad
Ash-Shiddiq menulis surat keputusan untuk setiap panglima
secara khusus, dan setiap panglima berangkat bersama pasukannya dari Dzi
al-Qashah. Ash-Shiddiq sendiri kembali ke Madinah, setelah sebelumnya menulis
sebuah surat umum kepada kaum murtad, dan inilah naskahnya:
"Bismillahirrahmanirrahim. Dari Abu Bakar, Khalifah
Rasulullah ﷺ,
kepada siapa pun yang sampai kepadanya suratku ini, baik kalangan umum maupun
khusus, baik yang tetap dalam keislamannya maupun yang kembali (murtad)
darinya. Salam sejahtera bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk dan tidak
kembali kepada kesesatan dan hawa nafsu setelah mendapatkan hidayah.
Sesungguhnya aku memuji Allah di hadapan kalian, yang tidak ada Tuhan selain
Dia. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu
bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Kami mengakui apa
yang ia bawa, dan kami mengafirkan siapa saja yang menolaknya serta kami
memeranginya.
Adapun setelah itu, sesungguhnya Allah telah mengutus
Muhammad dengan membawa kebenaran dari sisi-Nya kepada makhluk-Nya sebagai
pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, serta penyeru kepada Allah dengan
izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi, untuk memberi peringatan kepada
orang-orang yang hidup dan agar tetap ketetapan (azab) terhadap orang-orang
kafir. Maka Allah memberi petunjuk dengan kebenaran kepada siapa saja yang
memenuhi seruannya, dan Rasulullah ﷺ memukul siapa saja yang berpaling darinya hingga masuk ke dalam
Islam, baik secara sukarela maupun terpaksa. Kemudian Allah mewafatkan
Rasul-Nya setelah ia melaksanakan perintah Allah, menasihati umatnya, dan
menunaikan kewajibannya. Allah telah menjelaskan hal itu kepadanya dan kepada
penganut Islam di dalam Kitab yang Ia turunkan:
﴿فَأَقِمْ
وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ
النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴾
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
(Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut
fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus;
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." [Ar-Rum: 30].
Dan Allah berfirman:
﴿وَمَا
جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِيْنِ مِتَّ فَهُمُ
الْخَالِدُونَ﴾
"Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia
pun sebelum kamu. Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?"
[Al-Anbiya: 34].
Dan Allah berfirman kepada orang-orang mukmin:
﴿وَمَا
مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِيْنِ مَّاتَ
أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ
فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ﴾
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul,
sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat
atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke
belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun,
dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." [Ali
Imran: 144].
Maka barangsiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya
Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah
itu Hidup dan tidak akan mati, tidak mengantuk dan tidak pula tidur, senantiasa
menjaga urusan-Nya, dan membalas musuh-Nya. Sesungguhnya aku berwasiat kepada
kalian agar bertakwa kepada Allah, serta memperhatikan keberuntungan dan bagian
kalian di sisi Allah serta apa yang dibawa oleh Nabi kalian, agar kalian
mengikuti petunjuknya dan berpegang teguh pada agama Allah. Karena setiap orang
yang tidak diberi petunjuk oleh Allah adalah sesat, dan setiap orang yang tidak
ditolong oleh Allah adalah orang yang merugi (dihinakan). Barangsiapa yang
diberi petunjuk selain dari Allah, maka ia adalah orang sesat. Allah Ta'ala
berfirman:
﴿مَن
يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا
مُرْشِدًا﴾
"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka
dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu
tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk
kepadanya." [Al-Kahfi: 17].
Dan tidak akan diterima amal darinya di dunia hingga ia
mengakuinya, dan tidak akan diterima tebusan maupun keadilan darinya di
akhirat. Telah sampai berita kepadaku tentang kembalinya sebagian dari kalian
dari agamanya setelah sebelumnya mengakui Islam dan mengamalkannya, karena
tertipu oleh setan dan bodoh terhadap urusan Allah. Allah Ta'ala berfirman:
﴿وَإِذْ
قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ
مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ، وَذُرِّيَّتَهُ
وَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا﴾
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para
malaikat: 'Sujudlah kamu kepada Adam', maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia
adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu
mengambil dia dan keturunan-keturunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku,
sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah)
bagi orang-orang yang zalim." [Al-Kahfi: 50].
Dan Allah berfirman:
﴿إِنَّ
الشَّيْطَانَ لكم عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُوا حِزْبَهُ
لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ﴾
"Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka
anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak
golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala."
[Fathir: 6].
Dan sesungguhnya aku mengirimkan kepada kalian (fulan) dalam
pasukan Muhajirin, Anshar, dan Tabi'in yang mengikuti mereka dengan baik. Aku
telah memerintahkannya untuk tidak menerima apa pun dari siapa pun kecuali
keimanan kepada Allah, dan tidak memeranginya hingga ia menyerunya kepada Allah
'Azza wa Jalla. Jika ia menyambut, mengakui, dan beramal saleh, maka hal itu
diterima darinya dan ia akan dibantu. Namun jika ia menolak, maka ia akan
diperangi hingga tunduk pada perintah Allah. Kemudian ia (panglima) tidak akan
membiarkan siapa pun yang ia kuasai, bahkan akan membakar mereka dengan api,
membunuh mereka dengan berbagai cara pembunuhan, dan menawan kaum wanita serta
anak cucu mereka. Tidak ada yang diterima dari siapa pun kecuali Islam.
Barangsiapa yang mengikutinya maka itu baik baginya, dan barangsiapa yang
meninggalkannya maka ia tidak akan mampu melemahkan Allah. Aku telah
memerintahkan utusanku untuk membacakan suratku ini di setiap perkumpulan
kalian, dan penandanya adalah azan. Jika kaum Muslimin mengumandangkan azan,
maka berhentilah (dari menyerang) mereka. Jika mereka tidak azan, maka
seranglah mereka dengan segera. Jika mereka azan, maka tanyakanlah kewajiban
mereka. Jika mereka menolak..."
Keluarnya Al-Aswad al-Ansi di Yaman pada Masa Rasulullah ﷺ
Al-Aswad al-Ansi—yang nama aslinya adalah Abbahalah bin
Ka'ab bin Ghauts—muncul dari sebuah daerah yang disebut Kahf Khabban pada
hari-hari terakhir kehidupan Nabi ﷺ. Ia membawa tujuh ratus pejuang dan menulis surat kepada para
gubernur (perwakilan) Nabi ﷺ
yang isinya: "Wahai orang-orang yang mendatangi kami, serahkanlah kepada
kami apa yang telah kalian ambil dari tanah kami, dan kumpulkanlah apa yang
telah kalian pungut, karena kami lebih berhak atasnya, sedangkan kalian
tetaplah pada urusan kalian.".
Kemudian ia berkendara menuju Najran dan berhasil
menguasainya sepuluh malam setelah kemunculannya. Selanjutnya, ia menuju
Sana'a. Syahr bin Badzam keluar menghadapinya, lalu keduanya berperang; Al-Aswad
berhasil mengalahkannya dan membunuhnya. Ia juga menghancurkan pasukan Syahr
yang terdiri dari kaum Abna' (keturunan Persia di Yaman) dan menduduki
kota Sana'a dalam waktu dua puluh lima malam sejak kemunculannya.
Akibatnya, Muadz bin Jabal melarikan diri dari sana dan
bertemu dengan Abu Musa al-Asy'ari, lalu keduanya pergi ke Hadramaut. Para
perwakilan Rasulullah ﷺ
lainnya memihak kepada At-Thahir bin Abi Halah, sementara Amr bin Hazm dan
Khalid bin Said bin al-Ash kembali ke Madinah. Seluruh Yaman pun jatuh ke
tangan Al-Aswad al-Ansi, dan pengaruh jahatnya menyebar luas seperti percikan
api. Pasukannya saat menghadapi Syahr berjumlah tujuh ratus kavaleri. Ia
memperkuat kekuasaannya, dan banyak penduduk Yaman yang murtad, sementara umat
Islam yang tetap tinggal di sana terpaksa melakukan taqiyah
(menyembunyikan identitas demi keselamatan).
Al-Aswad menunjuk Amr bin Ma'di Karib sebagai wakilnya untuk
suku Madzhij, menyerahkan urusan tentara kepada Qais bin Abd Yaghuts, dan
menyerahkan urusan kaum Abna' kepada Fairuz ad-Dailami dan Dadzawaih. Ia
juga menikahi istri Syahr bin Badzam yang bernama Azad, sepupu Fairuz
ad-Dailami. Azad adalah wanita yang cantik jelita, namun ia tetap beriman
kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad ﷺ, serta termasuk wanita yang shalihah.
Menghadapi dan Membunuh Al-Aswad al-Ansi
Saif bin Umar at-Tamimi berkata: Ketika kabar tentang
Al-Aswad al-Ansi sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau mengutus seorang pria bernama
Wabar bin Yuhannis ad-Dailami. Beliau memerintahkan umat Islam di sana untuk
memerangi dan melawan Al-Aswad. Muadz bin Jabal melaksanakan perintah ini
dengan sebaik-baiknya.
Pertemuan pun terjadi dengan Qais bin Abd Yaghuts, panglima
tentara Al-Aswad, yang ternyata sedang dimarahi dan diremehkan oleh Al-Aswad. Begitu
juga dengan Fairuz ad-Dailami dan Dadzawaih yang posisinya sedang melemah di
mata Al-Aswad. Ketika Wabar menyampaikan perintah Nabi kepada Qais bin Maksyuh
(Qais bin Abd Yaghuts), ia menyambutnya dengan sangat gembira dan setuju untuk
menghabisi Al-Aswad. Umat Islam pun sepakat dan berjanji untuk melakukan hal
tersebut.
Namun, "setan" (pemberi kabar gaib) Al-Aswad
membocorkan rencana itu kepadanya. Al-Aswad memanggil Qais dan
menginterogasinya. Qais bersumpah bahwa kabar itu bohong demi menyelamatkan
diri. Qais kemudian menemui Fairuz dan Dadzawaih untuk memperingatkan mereka
bahwa mereka semua dalam bahaya. Pada saat yang sama, datang surat-surat dari
para pemimpin Yaman lainnya yang menyatakan kesetiaan dan bantuan untuk melawan
Al-Aswad setelah mereka menerima perintah dari Rasulullah ﷺ.
Qais menemui Azad (istri Al-Aswad) dan bertanya apakah ia
mau membantu menyingkirkannya. Azad menjawab: "Ya, demi Allah, tidak ada
orang yang lebih aku benci darinya. Ia tidak menunaikan hak Allah dan tidak
menghormati kehormatan apa pun. Jika kalian sudah bertekad, beri tahu aku, aku
akan tunjukkan caranya.".
Suatu hari, Al-Aswad yang curiga hampir membunuh Qais dan
Fairuz, namun mereka berhasil meyakinkannya dengan kata-kata manis sehingga ia
mengurungkan niatnya. Fairuz kemudian mendengar Al-Aswad berkata kepada
seseorang bahwa ia akan membunuh Fairuz dan kawan-kawannya keesokan harinya. Fairuz
segera memberitahu teman-temannya, dan mereka sepakat untuk bertindak malam itu
juga.
Azad memberitahu bahwa seluruh rumah dijaga ketat kecuali
satu bagian tembok yang membelakangi jalan. Ia menyarankan mereka untuk
melubangi tembok tersebut di malam hari. Ketika malam tiba, Fairuz masuk
terlebih dahulu dan menemukan Al-Aswad dalam keadaan mabuk berat dan mendengkur
di atas ranjang sutra.
Saat Fairuz mendekat, Al-Aswad terbangun dan bertanya:
"Ada apa denganku dan denganmu, wahai Fairuz?". Karena takut rencana
ini gagal dan membahayakan Azad, Fairuz segera menerjangnya seperti unta,
memiting lehernya, dan mematahkan tengkuknya hingga ia tewas. Teman-teman
Fairuz kemudian masuk untuk memastikan kematiannya dengan memotong kepalanya. Saat
Al-Aswad meronta dan mengeluarkan suara keras seperti lenguhan sapi, para
penjaga datang bertanya, namun Azad menjawab: "Nabi sedang menerima
wahyu," sehingga mereka pun pergi.
Pengumuman Kematian Al-Aswad
Pagi harinya, Qais bin Maksyuh naik ke atas tembok benteng
dan menyerukan syiar Islam serta mengumandangkan azan. Ia bersaksi bahwa
Muhammad adalah utusan Allah dan Abbahalah (Al-Aswad) adalah seorang pendusta. Ketika
ia melemparkan kepala Al-Aswad ke arah kerumunan, para pengikut Al-Aswad
melarikan diri dan dikejar oleh penduduk. Islam pun kembali berjaya di Yaman.
Allah memperlihatkan kabar kemenangan ini kepada Rasulullah ﷺ
pada malam kejadian itu juga. Beliau bersabda:
قُتِلَ
الْعَنْسِيُّ الْبَارِحَةَ قَتَلَهُ رَجُلٌ مُبَارَكٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتٍ
مُبَارَكِينَ
"Al-Ansi telah dibunuh tadi malam. Ia dibunuh oleh
seorang laki-laki yang diberkahi dari keluarga yang diberkahi."
Ketika ditanya siapa orang itu, beliau menjawab: فَيْرُوزُ،
فَازَ فَيْرُوزُ ("Fairuz, Fairuz telah
menang/beruntung.").
Kabar kematian Al-Aswad sampai ke Madinah kepada Abu Bakar
ash-Siddiq pada akhir bulan Rabiul Awal tahun 11 Hijriah, setelah keberangkatan
pasukan Usamah bin Zaid. Ini merupakan kemenangan (fathu) pertama yang sampai
kepada Abu Bakar saat beliau berada di Madinah.
Murtadnya Penduduk Yaman Setelah Wafatnya Rasulullah ﷺ
Ketika Al-Aswad Al-Ansi muncul di Yaman, ia menyesatkan
banyak orang yang lemah akal dan agamanya hingga banyak atau sebagian besar
dari mereka murtad dari Islam. Ia kemudian dibunuh oleh tiga orang pemimpin:
Qais bin Maksyuh, Fairuz Ad-Dailami, dan Dadzawayh. Namun, ketika berita
wafatnya Rasulullah ﷺ
sampai kepada mereka, sebagian penduduk Yaman semakin bingung dan ragu.
Qais bin Maksyuh berambisi untuk menjadi penguasa di Yaman,
sehingga ia murtad dari Islam dan diikuti oleh orang-orang awam di sana. Abu
Bakar Ash-Shiddiq kemudian menulis surat kepada para pemimpin dan tokoh Yaman
agar membantu Fairuz dan keturunan Persia (Al-Abna) melawan Qais bin Maksyuh
hingga bala bantuan tiba.
Qais berusaha membunuh dua pemimpin lainnya, namun ia hanya
berhasil membunuh Dadzawayh. Fairuz Ad-Dailami berhasil menyelamatkan diri
karena ketika ia sedang dalam perjalanan memenuhi undangan Qais, ia mendengar
seorang wanita berkata kepada temannya: "Demi Allah, orang ini juga akan
dibunuh seperti temannya". Fairuz pun berbalik arah dan berlindung di
tempat paman-pamannya dari suku Khaulan.
Terjadi peperangan sengit antara pasukan Fairuz dan Qais,
yang akhirnya dimenangkan oleh Fairuz. Qais bin Maksyuh dan Amr bin Ma'di Karib
berhasil ditawan. Keduanya dikirim kepada Abu Bakar dalam keadaan terbelenggu.
Abu Bakar menegur mereka dengan keras, namun setelah mereka meminta maaf, Abu
Bakar menerima pengakuan lahiriah mereka dan membebaskan mereka kembali ke
kaumnya.
Sumber Kisah:
Tartib Wa Tahdzib Kitab al Bidayah Wa al Nihayah

Komentar
Posting Komentar