Qahthani dan 'Adnani: Konflik Identitas yang Lahir di Masa Islam
Fakta Mengejutkan: Akar Konflik Bukan di Jahiliyah
Kita sering mendengar bahwa bangsa Arab sejak zaman kuno
terbagi menjadi dua kabilah besar: Qahthani (Yaman) dan 'Adnani (Arab
Utara). Tapi tahukah Anda? Ini hanyalah ilusi sejarah.
Penelitian modern mengungkapkan bahwa apa yang kita sebut
Qahthani dan 'Adnani sebenarnya hanyalah salah satu halaman dari
konflik politik yang terjadi di masa Islam. Para pemicu konflik
sengaja mengembalikannya ke masa lalu yang jauh, membuatkan sejarah
kuno untuknya, dan meriwayatkan syair-syair palsu—bahkan sampai menisbahkan
syair kepada Nabi Adam, Habil, Qabil, dan jin!
Konflik ini menjadi pemicu utama pencatatan
nasab Arab ke dalam buku. Persaingan dan pengelompokan suku pada masa itu
berdampak sangat besar terhadap pembukuan nasab—baik nasab suku-suku Islam
maupun nasab suku-suku Jahiliyah. Semua dicatat berdasarkan pandangan
yang sedang populer saat pencatatan, yaitu puncak fanatisme kesukuan di
awal Islam.
Maka, untuk memahami Qahthani dan 'Adnani, kita harus
memahami konflik keduanya di masa Islam—bukan di masa Jahiliyah.
Para Pencatat Nasab: Bukan Pihak yang Netral
Siapa yang mencatat dan membukukan nasab-nasab ini?
Mereka adalah orang-orang yang memiliki fanatisme—baik
kepada kubu Nizar (Arab Utara/'Adnani) atau kepada kubu Yaman (Qahthani).
Mereka sangat terpengaruh oleh kondisi politik saat itu. Karena itu, kita
menemukan dalam perkataan mereka kecenderungan memihak dan
sikap ekstrem.
Inilah sebabnya kita harus waspada saat
mempelajari konflik ini. Jangan langsung menganggap semua riwayat tentang
Qahthan dan 'Adnan sebagai fakta sejarah murni.
Istilah yang Populer: Qahthan vs Nizar, Bukan vs 'Adnan
Pada masa konflik ini, istilah yang sering digunakan adalah:
- "Mudhar" berhadapan
dengan "Al-Azd"
- "Al-Azd" berhadapan
dengan "Tamim"
- "Ahlul
Yaman" (Penduduk Yaman) atau "Al-Yamaniyyah"
Namun anehnya, kita jarang mendengar kata "'Adnan" berhadapan
dengan "Qahthan" dalam peperangan dan berita-berita
masa itu.
Dalam syair-syair, misalnya syair Al-Farazdaq,
ia menggunakan kata "Qahthan" berhadapan
dengan "Nizar", atau "Yaman" berhadapan
dengan "Nizar", atau "Al-Azd" berhadapan
dengan "Nizar". Al-Hakam bin 'Abdal menyebut "Qahthan" berhadapan
dengan "Ma'ad". Al-A'sya dalam syairnya
menyebut: "Dan dari Ma'ad, telah datang Ibnu 'Adnan"—ini
berhadapan dengan "Qahthan".
Jadi, istilah 'Adnan muncul tetapi tidak dominan.
Titik Api Konflik: Perang "Qays" dan
"Kalb" di Zaman Mu'awiyah
Pada masa Mu'awiyah, putranya Yazid,
dan Marwan bin Al-Hakam, suku Kalb mendapat posisi
tinggi karena Mu'awiyah menikahi Maysun binti Bahdal—seorang wanita
dari suku Kalb. Akibatnya, suku Kalb dan sekutunya menjadi dekat dengan para
khalifah—padahal para khalifah dari Quraisy, dan Quraisy berasal dari
kelompok Qays.
Situasi ini membuat marah suku Qays yang
terkenal sebagai musuh bebuyutan Kalb.
Pada masa itu, kata "Qays" identik
dengan "Ma'ad", "Mudhar", dan "Nizar".
Sedangkan "Kalb" identik dengan "Yaman".
Puncaknya adalah Perang Marj Rahith—antara
pendukung Marwan dan pendukung Ibnu Az-Zubair. Ini adalah perang antara Qays (pendukung
Ibnu Az-Zubair) dan Kalb (pendukung Marwan). Kemenangan Marwan
melahirkan dendam besar antara Qays beserta sekutunya melawan
Kalb beserta pendukungnya yang mengaku dari Yaman. Terjadilah perang
berkepanjangan yang memakan banyak korban dari kedua belah pihak.
Perang ini berperan penting dalam
mengelompokkan suku-suku menjadi kubu Qahthani dan 'Adnani.
Para Khalifah Justru Memperkeruh Keadaan
Sayangnya, para khalifah setelah Abdul Malik bin
Marwan ikut campur dalam konflik ini—terpengaruh oleh ikatan
darah mereka dengan ibu-ibu mereka. Seorang khalifah akan mendukung Qays
jika ibunya dari Qays; khalifah lain akan mendukung Kalb jika ibunya dari
Yaman.
Para gubernur dan pejabat pun mengikuti kebijakan ini.
Hasilnya: suku-suku terpecah menjadi dua kubu besar: Qays dan Yaman.
Kubu Yaman dipimpin oleh Azd 'Uman di Bashrah
dan Khurasan, berhadapan dengan Qays dan Tamim.
Terjadilah pertempuran berdarah antara
Yaman dan Qays yang melemahkan seluruh bangsa Arab—dan menjadi
salah satu faktor penyebab runtuhnya Dinasti Umayyah.
Para Penyair: Katalisator Kebencian
Para penyair menjadi pembawa obor konflik
ini. Mereka menuangkan bahan bakar yang melimpah ke dalam api
persaingan. Mereka menggubah puisi-puisi untuk memuji Qays atau memuji Yaman,
atau mencela Yaman atau mencela Qays—tergantung suku dan nasab sang penyair.
Nama-nama besar terlibat: Al-Akhtal, Al-Kumayt, Di'bil
Al-Khuza'i, Jarir bin 'Athiyyah At-Tamimi, Ishaq bin
Suwaid Al-'Adawi, dan lain-lain. Terjadilah saling puji, saling bangga,
saling cela, dan saling hina.
Apa yang dilakukan para penguasa? Alih-alih
memadamkan api fitnah dan membungkam para penyair, mereka justru ikut
berperang dan menyemangati para pejuang konflik! Kebijakan memecah belah ini
mengakibatkan:
- Terhentinya
penaklukan (futuhāt) Islam
- Bangsa-bangsa
asing (non-Arab) menjadi berani karena melihat kelemahan Arab
- Orang
Arab saling membunuh satu sama lain
Konflik ini tidak berhenti pada kebanggaan terhadap Qahthan,
'Adnan, hari-hari kemenangan, dan para pahlawan. Ia bahkan melangkah lebih
jauh: mengklaim hubungan darah dengan bangsa-bangsa asing.
Klaim Hubungan Darah dengan Bangsa Lain
Kubu 'Adnani (Nizariyyah): Bersaudara dengan Persia dan
Bani Israil
Kaum Nizariyyah (pengikut Nizar bin Ma'ad) berbangga
memiliki hubungan darah dengan bangsa Persia—dan menganggap Persia sebagai
saudara mereka. Mereka mengklaim bahwa Persia adalah keturunan Ishaq
bin Ibrahim. Dengan begitu, mereka membanggakan Ibrahim sebagai
kakek orang Arab dan Persia.
Jarir bin 'Athiyyah At-Tamimi menggubah syair:
"Bapak kita adalah Khalilullah (Ibrahim), jangan
kalian ingkari. Sungguh mulia Ibrahim sebagai kakek dan kebanggaan.
Putra-putra Ishaq adalah para singa ketika mereka mengenakan...
Jika mereka berbangga, mereka menyebut Al-Shahbahad (gelar raja Persia) di
antara mereka, dan Kisra, dan Al-Hurmuzan, dan Qaisar..."
Ishaq bin Suwaid Al-'Adawi berkata:
"Kami telah menguasai mereka sejak awal—Ishaq adalah
paman kami. Mereka adalah penolong kami di masa sulit..."
Mereka bahkan mengklaim bahwa bangsa Persia di masa lalu
biasa datang ke Baitul Haram mempersembahkan kurban besar
untuk mengagungkan Nabi Ibrahim.
Bahkan, mereka menyusun silsilah yang menghubungkan
raja-raja Persia dengan 'Adnan. Mereka mengklaim bahwa raja Persia
legendaris Manusyahr (Manūchehr) adalah keturunan Ishaq
bin Ibrahim! Mereka juga mengubah nama Ishaq menjadi "Wīzak" (dari
bahasa Ibrani Yitzhak), lalu menghubungkannya dengan silsilah Persia.
Kubu Qahthani: Bersaudara dengan Yunani, Turk, dan
Mendompleng Dzul Qarnain
Sebagai tandingan, kaum Qahthani mengatakan bahwa Yunani
(Yūnān) adalah saudara Qahthan—juga keturunan 'Abir bin Syalikh. Mereka
mengklaim bahwa Yunani keluar dari bumi Yaman bersama pengikutnya hingga ke
ujung barat, lalu menetap di sana, lidahnya menjadi 'ajam (asing), dan
terputuslah nasabnya.
Mereka juga mengklaim bahwa Iskandar Agung
(Alexander) berasal dari keturunan Tabābi'ah (raja-raja Yaman)!
Kaum 'Adnani tentu saja keberatan—masa saudara
Qahthan (Yunani) lebih hebat dari Persia? Seorang penyair 'Adnani, Abu
Al-'Abbas An-Nāsyī', berkata dengan nada mengejek:
"Mereka mencampurkan Yunani dengan Qahthan—sungguh
keliru! Demi umurku, sungguh engkau telah menjauhkan keduanya dengan sangat
jauh!"
Kaum Qahthani juga mencaplok bangsa Turk ke
dalam silsilah mereka. Mereka mengklaim bahwa sebagian besar ras
Turk—khususnya Tibet—berasal dari Himyar (kerajaan
Yaman kuno). Mereka mengatakan bahwa raja Himyar Syammar Yir'asy lah
yang membangun Samarkand dan menempatkan bangsa Tibet di sana.
Di'bil bin 'Ali Al-Khuza'i—seorang penyair
Qahthani—dalam syairnya yang terkenal membanggakan:
"Merekalah yang menulis kitab di pintu Marw dan
pintu China—merekalah para juru tulis.
Merekalah yang mengumpulkan pasukan di Samarkand—dan merekalah yang menanam
bangsa Tibet di sana."
Mereka juga mencaplok tokoh legendaris Persia, Dahhak
(Zahāk). Mereka menjadikannya dari suku Al-Azd (Yaman).
Dahhak adalah "Bīwarāsb" dalam cerita Persia—raja
yang berkuasa seribu tahun, seorang pahlawan mitos. Menariknya, kaum Qahthani
mengambil nama "Dahhak" dari kata "Yishak" (Ishaq)—sama
seperti kaum 'Adnani mengambil "Wīzak" dari Ishaq—karena makna
"Ishaq" dalam bahasa Ibrani adalah "yang tertawa"
(adh-Dhahāk). Jadi, kedua kubu sama-sama memanfaatkan nama Ishaq untuk
klaim kebanggaan mereka!
Para Hamba Sahaya (Mawali) Ikut Berperang
Bahkan para mawali (budak yang
dimerdekakan, keturunan non-Arab) ikut dalam konflik ini. Mereka fanatik
membela pihak yang memerdekakan mereka.
Abu Nuwas—penyair terkenal—adalah mawali dari Bani
Hakam bin Sa'd Al-'Asyirah (yang dari Yaman). Ia menulis syair yang
menghina seluruh suku Nizar, dan memuji Qahthan. Syairnya sangat menyakitkan
hati kaum Nizariyyah sehingga mereka mengadu ke Khalifah Ar-Rasyid (yang
dari Nizar). Khalifah pun memenjarakannya.
Syair Abu Nuwas antara lain:
"Kamilah pemilik (kota) Na'izh, dan kami memiliki
Shan'ā' dan minyak wangi di tempat-tempat peperangan.
Dahhak termasuk dari kami—yang disembah oleh Al-Khābil dan burung-burung di
sarangnya...
Hinalah Nizar, cambuklah kulit mereka, dan bukalah tabir aib-aib
mereka!"
Kaum Nizariyyah membalas dengan syair-syair serupa.
Klaim Nasab Mulia kepada Para Nabi
Karena konflik ini, setiap kubu berusaha mengklaim para nabi
sebagai milik mereka.
Klaim Qahthani
Merekalah yang mengklaim bahwa Qahthan adalah putra
Nabi Hud—menghubungkan silsilah mereka langsung dengan seorang nabi. Mereka
juga mengklaim Nabi Shalih sebagai orang Yaman asli, dari suku
Himyar—dan bahkan merendahkan suku Tsaqif (yang 'Adnani)
dengan mengatakan bahwa Tsaqif dahulu adalah pelayan Nabi Shalih!
Mereka juga mengklaim seorang nabi lain dari Himyar
bernama As'ad Tabi' Al-Kamil—dan mengklaim bahwa dialah Dzul
Qarnain yang disebut dalam Al-Qur'an!
Allah berfirman:
"أَهُمْ خَيْرٌ أَمْ قَوْمُ تُبَّعٍ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ
أَهْلَكْنَاهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ"
"Apakah mereka (orang-orang kafir Quraisy) yang
lebih baik ataukah kaum Tubba' dan orang-orang yang sebelum mereka? Kami telah
membinasakan mereka karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang
berdosa." (QS. Ad-Dukhan [44]: 37)
Mereka juga meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad melarang
mencaci Raja Tubba' karena ia telah beriman sebelum kedatangan Islam. Hadits
Nabi:
"لَا تَسُبُّوا تُبَّعًا فَإِنَّهُ كَانَ قَدْ أَسْلَمَ"
"Janganlah kalian mencela Tubba', karena
sesungguhnya ia telah masuk Islam." (HR. Ahmad dan Al-Hakim)
Kaum Qahthani juga mengklaim bahwa Dzul Qarnain (dalam
Surat Al-Kahfi) adalah salah satu raja Yaman. Mereka menyebut namanya Al-Hamīsa'
bin 'Amr atau Ash-Sha'ab bin Abdullah atau Tabi'
Al-Akbar—semuanya dari Yaman. Mereka mengatakan bahwa Dzul Qarnain beriman,
adil, menguasai seluruh bumi, dan mati di utara negeri Romawi di tempat yang
siangnya terasa malam karena matahari berada di ujung selatan.
Luar biasanya, mereka juga mengarang syair-syair yang
dinisbahkan kepada Dzul Qarnain—yang didalamnya ia memberitakan tentang
kedatangan Nabi Muhammad!
Al-Qur'an tentang Dzul Qarnain:
"وَيَسْأَلُونَكَ عَن ذِي الْقَرْنَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُم
مِّنْهُ ذِكْرًا"
"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang
Dzul Qarnain. Katakanlah: Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya." (QS.
Al-Kahfi [18]: 83)
"حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِن دُونِهِمَا
قَوْمًا لَّا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا"
"Hingga ketika ia sampai di antara dua gunung, ia
mendapati di hadapan kedua gunung itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti
pembicaraan." (QS. Al-Kahfi [18]: 93)
"قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ
مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَن تَجْعَلَ
بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا"
"Mereka berkata: 'Wahai Dzul Qarnain, sesungguhnya
Ya'juj dan Ma'juj itu berbuat kerusakan di bumi, maka bolehkah kami memberikan
suatu pembayaran kepadamu agar kamu membuatkan dinding antara kami dan
mereka?'" (QS. Al-Kahfi [18]: 94)
Ayat-ayat ini kemudian diklaim oleh kaum Qahthani sebagai
bukti bahwa raja mereka (Dzul Qarnain) adalah seorang nabi atau wali Allah.
Klaim 'Adnani
Sebaliknya, kaum 'Adnani berpegang pada fakta bahwa Rasulullah
sendiri dari keturunan Ismail, dan Ismail adalah putra Ibrahim. Mereka
mengklaim Ibrahim sebagai kakek khusus mereka, meskipun Al-Qur'an
menyebut Ibrahim sebagai bapak bagi seluruh Arab.
Allah berfirman:
"مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ
مِن قَبْلُ وَفِي هَٰذَا..."
"(Ikutilah) agama bapakmu Ibrahim. Dia (Allah) telah
menamai kamu orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam
(Al-Qur'an) ini..." (QS. Al-Hajj [22]: 78)
Ayat ini jelas menyebut "bapak kalian
Ibrahim" untuk seluruh umat Islam—bukan hanya 'Adnani. Namun
kelompok 'Adnani bersikukuh bahwa mereka yang paling berhak.
Mereka juga menolak klaim Qahthani bahwa Ismail
berbahasa Suryani dan belajar bahasa Arab dari suku Jurhum. Kaum
'Adnani mengatakan: "Mustahil jika Qahthan—yang konon lebih tua—tetap
berbahasa Suryani, sementara putranya Ya'rub tiba-tiba berbahasa Arab. Maka
sebenarnya Qahthan dan Ismail sama-sama berbahasa Suryani, dan
Ya'rub diberi keistimewaan bahasa Arab. Tapi Ismail juga memiliki kedudukan
lebih tinggi, jadi mengapa Ismail tidak diberi bahasa Arab?" Perdebatan
ini menghabiskan banyak lembaran buku.
Para Pengarang Kisah-Kisah Palsu
Konflik ini melahirkan banyak pemalsuan sejarah.
'Ubaid bin Syariyah Al-Jurhumi—seorang perawi—membuat
banyak cerita dan syair tentang bangsa Arab kuno dan tentang Qahthani. Ia menciptakannya
untuk Mu'awiyah bin Abu Sufyan, karena Mu'awiyah sangat gemar
mendengar legenda-legenda orang-orang dahulu.
Yazid bin Rabi'ah bin Mufarrigh (wafat 69
H)—seorang penyair fanatik Yaman—adalah pembuat cerita-cerita Raja
Tubba'. Al-Ashma'i ditanya tentang syair Tubba' dan siapa pembuatnya. Ia
menjawab: "Ibnu Mufarrigh".
Bahkan Al-Mas'udi dalam bukunya menyebut
adanya "Kitab-kitab Tabābi'ah" (Buku-buku tentang
raja-raja Yaman)—yang jelas berisi dongeng-dongeng karangan 'Ubaid, Wahb, Yazid
bin Mufarrigh, dan sejenisnya.
Konflik Melebar hingga ke Masalah Aqidah
Yang lebih tragis, fanatisme ini sampai mempengaruhi
sebagian teolog (mutakallimīn). Misalnya Dharrar bin 'Amru dan Al-Jahiz—meskipun
Al-Jahiz terkenal cerdas—namun karena terpengaruh pandangan Ahli Kitab tentang
nasab keturunan Ismail, mereka berpendapat bahwa bangsa Nabath
(Nabathaean) lebih baik daripada bangsa Arab, karena Rasulullah berasal
dari keturunan mereka (Nabath?). Anehnya, mereka secara tidak langsung merendahkan
keturunan Ismail—yang merupakan 'Adnani dan Qahthani sama-sama.
Pendapat ini ditolak mentah-mentah oleh
kedua kubu—Qahthani dan 'Adnani bersatu melawan pendapat ini. Al-Mas'udi
mencatat bantahan-bantahan mereka.
Kesimpulan: Antara Sejarah dan Rekayasa Politik
Apa yang bisa kita petik dari kisah panjang ini?
Pertama, pembagian Arab menjadi Qahthani dan 'Adnani
sebagaimana kita kenal sekarang bukanlah warisan dari zaman Jahiliyah
yang murni. Ia lahir dan berkembang di masa Islam awal,
terutama pada akhir abad ke-1 hingga ke-2 Hijriyah, sebagai akibat
dari:
- Perseteruan
politik antara Makkah dan Madinah (Muhajirin vs Anshar)
- Perebutan
pengaruh di era Bani Umayyah antara kubu Qays dan Yaman
- Fanatisme
para penyair yang menyulut api kebencian
- Kebijakan para
khalifah yang tidak bijaksana dalam memilih kubu
- Penciptaan
cerita-cerita palsu oleh para perawi bayaran
Kedua, para ahli nasab yang mencatat silsilah sama
sekali tidak netral. Mereka adalah pelaku fanatisme. Maka catatan
mereka tentang silsilah kuno—terutama yang menyangkut hubungan dengan bangsa
Persia, Yunani, Turk, dan lain-lain—harus disikapi dengan sangat hati-hati.
Ketiga, klaim bahwa suku-suku Arab Yaman (Qahthani)
adalah pemilik peradaban agung yang menguasai dunia, sedangkan
suku-suku 'Adnani hanyalah badui terbelakang, serta klaim sebaliknya bahwa
'Adnani adalah keturunan para nabi dan Qahthani hanyalah pendatang—semua itu
adalah bagian dari propaganda politik, bukan fakta sejarah yang
terbukti.
Keempat, Islam datang untuk menghapus
fanatisme jahiliyah dan mempersatukan umat di bawah bendera ketakwaan,
bukan keturunan. Namun sayangnya, umat Islam sendiri—karena kepentingan politik
dan kekuasaan—telah menghidupkan kembali semangat kesukuan ini dan
menjadikannya sebagai alat pemecah belah.
Firman Allah:
"إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ"
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara
kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa." (QS.
Al-Hujurat [49]: 13)
Ayat ini sudah cukup. Tidak perlu membanggakan Qahthan atau
'Adnan. Tidak perlu mengklaim hubungan darah dengan Persia atau Yunani. Yang
membedakan hanyalah ketakwaan.
Refleksi Akhir
Kisah perdebatan Qahthani dan 'Adnani—yang berlangsung
berabad-abad dan menghabiskan tinta begitu banyak—seharusnya menjadi pelajaran
berharga bagi kita. Betapa energi umat Islam terbuang untuk saling
membanggakan asal-usul, saling mengaku lebih mulia, saling merendahkan—hingga
lupa bahwa musuh sebenarnya adalah kehinaan moral, kebodohan, dan
keterbelakangan.
Para sejarawan modern seperti Jawad 'Ali telah
membuka tabir ini dengan kritis. Kini terserah kita: apakah terus terjebak
dalam mitos lama, atau melangkah maju membangun peradaban berdasarkan iman
dan ilmu, bukan berdasarkan darah dan tanah.
Sumber Kisah
Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl
al-Islam"

Komentar
Posting Komentar