Qahthani dan 'Adnani: Konflik Identitas yang Lahir di Masa Islam

Lukisan suasana majelis sastra dan politik di istana Umayyah, sekitar abad ke-7 hingga ke-8 M. Di dalam ruangan terbuka dengan tiang-tiang batu putih, lantai bermarmar, dan lampu minyak gantung, terdapat sekelompok pria Arab berjubah dan sorban yang duduk melingkar. Di tengah, dua orang pria berdiri saling berhadapan dengan ekspresi tegang namun tidak marah—satu orang memegang gulungan perkamen bertuliskan aksara Arab kuno (sebagai seorang penyair), yang lain menunjuk dengan pena buluh ke arah diagram pohon silsilah yang terbentang di atas meja rendah. Beberapa pria lain tampak mendengarkan dengan saksama, ada yang mencatat. Di latar belakang, terlihat pemandangan padang pasir dengan langit senja jingga keemasan melalui jendela besar.

Fakta Mengejutkan: Akar Konflik Bukan di Jahiliyah

Kita sering mendengar bahwa bangsa Arab sejak zaman kuno terbagi menjadi dua kabilah besar: Qahthani (Yaman) dan 'Adnani (Arab Utara). Tapi tahukah Anda? Ini hanyalah ilusi sejarah.

Penelitian modern mengungkapkan bahwa apa yang kita sebut Qahthani dan 'Adnani sebenarnya hanyalah salah satu halaman dari konflik politik yang terjadi di masa Islam. Para pemicu konflik sengaja mengembalikannya ke masa lalu yang jauh, membuatkan sejarah kuno untuknya, dan meriwayatkan syair-syair palsu—bahkan sampai menisbahkan syair kepada Nabi Adam, Habil, Qabil, dan jin!

Konflik ini menjadi pemicu utama pencatatan nasab Arab ke dalam buku. Persaingan dan pengelompokan suku pada masa itu berdampak sangat besar terhadap pembukuan nasab—baik nasab suku-suku Islam maupun nasab suku-suku Jahiliyah. Semua dicatat berdasarkan pandangan yang sedang populer saat pencatatan, yaitu puncak fanatisme kesukuan di awal Islam.

Maka, untuk memahami Qahthani dan 'Adnani, kita harus memahami konflik keduanya di masa Islam—bukan di masa Jahiliyah.


Para Pencatat Nasab: Bukan Pihak yang Netral

Siapa yang mencatat dan membukukan nasab-nasab ini?

Mereka adalah orang-orang yang memiliki fanatisme—baik kepada kubu Nizar (Arab Utara/'Adnani) atau kepada kubu Yaman (Qahthani). Mereka sangat terpengaruh oleh kondisi politik saat itu. Karena itu, kita menemukan dalam perkataan mereka kecenderungan memihak dan sikap ekstrem.

Inilah sebabnya kita harus waspada saat mempelajari konflik ini. Jangan langsung menganggap semua riwayat tentang Qahthan dan 'Adnan sebagai fakta sejarah murni.


Istilah yang Populer: Qahthan vs Nizar, Bukan vs 'Adnan

Pada masa konflik ini, istilah yang sering digunakan adalah:

  • "Mudhar" berhadapan dengan "Al-Azd"
  • "Al-Azd" berhadapan dengan "Tamim"
  • "Ahlul Yaman" (Penduduk Yaman) atau "Al-Yamaniyyah"

Namun anehnya, kita jarang mendengar kata "'Adnan" berhadapan dengan "Qahthan" dalam peperangan dan berita-berita masa itu.

Dalam syair-syair, misalnya syair Al-Farazdaq, ia menggunakan kata "Qahthan" berhadapan dengan "Nizar", atau "Yaman" berhadapan dengan "Nizar", atau "Al-Azd" berhadapan dengan "Nizar"Al-Hakam bin 'Abdal menyebut "Qahthan" berhadapan dengan "Ma'ad"Al-A'sya dalam syairnya menyebut: "Dan dari Ma'ad, telah datang Ibnu 'Adnan"—ini berhadapan dengan "Qahthan".

Jadi, istilah 'Adnan muncul tetapi tidak dominan.


Titik Api Konflik: Perang "Qays" dan "Kalb" di Zaman Mu'awiyah

Pada masa Mu'awiyah, putranya Yazid, dan Marwan bin Al-Hakam, suku Kalb mendapat posisi tinggi karena Mu'awiyah menikahi Maysun binti Bahdal—seorang wanita dari suku Kalb. Akibatnya, suku Kalb dan sekutunya menjadi dekat dengan para khalifah—padahal para khalifah dari Quraisy, dan Quraisy berasal dari kelompok Qays.

Situasi ini membuat marah suku Qays yang terkenal sebagai musuh bebuyutan Kalb.

Pada masa itu, kata "Qays" identik dengan "Ma'ad""Mudhar", dan "Nizar". Sedangkan "Kalb" identik dengan "Yaman".

Puncaknya adalah Perang Marj Rahith—antara pendukung Marwan dan pendukung Ibnu Az-Zubair. Ini adalah perang antara Qays (pendukung Ibnu Az-Zubair) dan Kalb (pendukung Marwan). Kemenangan Marwan melahirkan dendam besar antara Qays beserta sekutunya melawan Kalb beserta pendukungnya yang mengaku dari Yaman. Terjadilah perang berkepanjangan yang memakan banyak korban dari kedua belah pihak.

Perang ini berperan penting dalam mengelompokkan suku-suku menjadi kubu Qahthani dan 'Adnani.


Para Khalifah Justru Memperkeruh Keadaan

Sayangnya, para khalifah setelah Abdul Malik bin Marwan ikut campur dalam konflik ini—terpengaruh oleh ikatan darah mereka dengan ibu-ibu mereka. Seorang khalifah akan mendukung Qays jika ibunya dari Qays; khalifah lain akan mendukung Kalb jika ibunya dari Yaman.

Para gubernur dan pejabat pun mengikuti kebijakan ini. Hasilnya: suku-suku terpecah menjadi dua kubu besarQays dan Yaman. Kubu Yaman dipimpin oleh Azd 'Uman di Bashrah dan Khurasan, berhadapan dengan Qays dan Tamim.

Terjadilah pertempuran berdarah antara Yaman dan Qays yang melemahkan seluruh bangsa Arab—dan menjadi salah satu faktor penyebab runtuhnya Dinasti Umayyah.


Para Penyair: Katalisator Kebencian

Para penyair menjadi pembawa obor konflik ini. Mereka menuangkan bahan bakar yang melimpah ke dalam api persaingan. Mereka menggubah puisi-puisi untuk memuji Qays atau memuji Yaman, atau mencela Yaman atau mencela Qays—tergantung suku dan nasab sang penyair.

Nama-nama besar terlibat: Al-AkhtalAl-KumaytDi'bil Al-Khuza'iJarir bin 'Athiyyah At-TamimiIshaq bin Suwaid Al-'Adawi, dan lain-lain. Terjadilah saling puji, saling bangga, saling cela, dan saling hina.

Apa yang dilakukan para penguasa? Alih-alih memadamkan api fitnah dan membungkam para penyair, mereka justru ikut berperang dan menyemangati para pejuang konflik! Kebijakan memecah belah ini mengakibatkan:

  • Terhentinya penaklukan (futuhāt) Islam
  • Bangsa-bangsa asing (non-Arab) menjadi berani karena melihat kelemahan Arab
  • Orang Arab saling membunuh satu sama lain

Konflik ini tidak berhenti pada kebanggaan terhadap Qahthan, 'Adnan, hari-hari kemenangan, dan para pahlawan. Ia bahkan melangkah lebih jauh: mengklaim hubungan darah dengan bangsa-bangsa asing.


Klaim Hubungan Darah dengan Bangsa Lain

Kubu 'Adnani (Nizariyyah): Bersaudara dengan Persia dan Bani Israil

Kaum Nizariyyah (pengikut Nizar bin Ma'ad) berbangga memiliki hubungan darah dengan bangsa Persia—dan menganggap Persia sebagai saudara mereka. Mereka mengklaim bahwa Persia adalah keturunan Ishaq bin Ibrahim. Dengan begitu, mereka membanggakan Ibrahim sebagai kakek orang Arab dan Persia.

Jarir bin 'Athiyyah At-Tamimi menggubah syair:

"Bapak kita adalah Khalilullah (Ibrahim), jangan kalian ingkari. Sungguh mulia Ibrahim sebagai kakek dan kebanggaan.
Putra-putra Ishaq adalah para singa ketika mereka mengenakan...
Jika mereka berbangga, mereka menyebut Al-Shahbahad (gelar raja Persia) di antara mereka, dan Kisra, dan Al-Hurmuzan, dan Qaisar..."

Ishaq bin Suwaid Al-'Adawi berkata:

"Kami telah menguasai mereka sejak awal—Ishaq adalah paman kami. Mereka adalah penolong kami di masa sulit..."

Mereka bahkan mengklaim bahwa bangsa Persia di masa lalu biasa datang ke Baitul Haram mempersembahkan kurban besar untuk mengagungkan Nabi Ibrahim.

Bahkan, mereka menyusun silsilah yang menghubungkan raja-raja Persia dengan 'Adnan. Mereka mengklaim bahwa raja Persia legendaris Manusyahr (Manūchehr) adalah keturunan Ishaq bin Ibrahim! Mereka juga mengubah nama Ishaq menjadi "Wīzak" (dari bahasa Ibrani Yitzhak), lalu menghubungkannya dengan silsilah Persia.


Kubu Qahthani: Bersaudara dengan Yunani, Turk, dan Mendompleng Dzul Qarnain

Sebagai tandingan, kaum Qahthani mengatakan bahwa Yunani (Yūnān) adalah saudara Qahthan—juga keturunan 'Abir bin Syalikh. Mereka mengklaim bahwa Yunani keluar dari bumi Yaman bersama pengikutnya hingga ke ujung barat, lalu menetap di sana, lidahnya menjadi 'ajam (asing), dan terputuslah nasabnya.

Mereka juga mengklaim bahwa Iskandar Agung (Alexander) berasal dari keturunan Tabābi'ah (raja-raja Yaman)!

Kaum 'Adnani tentu saja keberatan—masa saudara Qahthan (Yunani) lebih hebat dari Persia? Seorang penyair 'Adnani, Abu Al-'Abbas An-Nāsyī', berkata dengan nada mengejek:

"Mereka mencampurkan Yunani dengan Qahthan—sungguh keliru! Demi umurku, sungguh engkau telah menjauhkan keduanya dengan sangat jauh!"

Kaum Qahthani juga mencaplok bangsa Turk ke dalam silsilah mereka. Mereka mengklaim bahwa sebagian besar ras Turk—khususnya Tibet—berasal dari Himyar (kerajaan Yaman kuno). Mereka mengatakan bahwa raja Himyar Syammar Yir'asy lah yang membangun Samarkand dan menempatkan bangsa Tibet di sana.

Di'bil bin 'Ali Al-Khuza'i—seorang penyair Qahthani—dalam syairnya yang terkenal membanggakan:

"Merekalah yang menulis kitab di pintu Marw dan pintu China—merekalah para juru tulis.
Merekalah yang mengumpulkan pasukan di Samarkand—dan merekalah yang menanam bangsa Tibet di sana."

Mereka juga mencaplok tokoh legendaris Persia, Dahhak (Zahāk). Mereka menjadikannya dari suku Al-Azd (Yaman). Dahhak adalah "Bīwarāsb" dalam cerita Persia—raja yang berkuasa seribu tahun, seorang pahlawan mitos. Menariknya, kaum Qahthani mengambil nama "Dahhak" dari kata "Yishak" (Ishaq)—sama seperti kaum 'Adnani mengambil "Wīzak" dari Ishaq—karena makna "Ishaq" dalam bahasa Ibrani adalah "yang tertawa" (adh-Dhahāk). Jadi, kedua kubu sama-sama memanfaatkan nama Ishaq untuk klaim kebanggaan mereka!


Para Hamba Sahaya (Mawali) Ikut Berperang

Bahkan para mawali (budak yang dimerdekakan, keturunan non-Arab) ikut dalam konflik ini. Mereka fanatik membela pihak yang memerdekakan mereka.

Abu Nuwas—penyair terkenal—adalah mawali dari Bani Hakam bin Sa'd Al-'Asyirah (yang dari Yaman). Ia menulis syair yang menghina seluruh suku Nizar, dan memuji Qahthan. Syairnya sangat menyakitkan hati kaum Nizariyyah sehingga mereka mengadu ke Khalifah Ar-Rasyid (yang dari Nizar). Khalifah pun memenjarakannya.

Syair Abu Nuwas antara lain:

"Kamilah pemilik (kota) Na'izh, dan kami memiliki Shan'ā' dan minyak wangi di tempat-tempat peperangan.
Dahhak termasuk dari kami—yang disembah oleh Al-Khābil dan burung-burung di sarangnya...
Hinalah Nizar, cambuklah kulit mereka, dan bukalah tabir aib-aib mereka!"

Kaum Nizariyyah membalas dengan syair-syair serupa.


Klaim Nasab Mulia kepada Para Nabi

Karena konflik ini, setiap kubu berusaha mengklaim para nabi sebagai milik mereka.

Klaim Qahthani

Merekalah yang mengklaim bahwa Qahthan adalah putra Nabi Hud—menghubungkan silsilah mereka langsung dengan seorang nabi. Mereka juga mengklaim Nabi Shalih sebagai orang Yaman asli, dari suku Himyar—dan bahkan merendahkan suku Tsaqif (yang 'Adnani) dengan mengatakan bahwa Tsaqif dahulu adalah pelayan Nabi Shalih!

Mereka juga mengklaim seorang nabi lain dari Himyar bernama As'ad Tabi' Al-Kamil—dan mengklaim bahwa dialah Dzul Qarnain yang disebut dalam Al-Qur'an!

Allah berfirman:

"أَهُمْ خَيْرٌ أَمْ قَوْمُ تُبَّعٍ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ أَهْلَكْنَاهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ"

"Apakah mereka (orang-orang kafir Quraisy) yang lebih baik ataukah kaum Tubba' dan orang-orang yang sebelum mereka? Kami telah membinasakan mereka karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdosa." (QS. Ad-Dukhan [44]: 37)

Mereka juga meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad melarang mencaci Raja Tubba' karena ia telah beriman sebelum kedatangan Islam. Hadits Nabi:

"لَا تَسُبُّوا تُبَّعًا فَإِنَّهُ كَانَ قَدْ أَسْلَمَ"

"Janganlah kalian mencela Tubba', karena sesungguhnya ia telah masuk Islam." (HR. Ahmad dan Al-Hakim)

Kaum Qahthani juga mengklaim bahwa Dzul Qarnain (dalam Surat Al-Kahfi) adalah salah satu raja Yaman. Mereka menyebut namanya Al-Hamīsa' bin 'Amr atau Ash-Sha'ab bin Abdullah atau Tabi' Al-Akbar—semuanya dari Yaman. Mereka mengatakan bahwa Dzul Qarnain beriman, adil, menguasai seluruh bumi, dan mati di utara negeri Romawi di tempat yang siangnya terasa malam karena matahari berada di ujung selatan.

Luar biasanya, mereka juga mengarang syair-syair yang dinisbahkan kepada Dzul Qarnain—yang didalamnya ia memberitakan tentang kedatangan Nabi Muhammad!

Al-Qur'an tentang Dzul Qarnain:

"وَيَسْأَلُونَكَ عَن ذِي الْقَرْنَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُم مِّنْهُ ذِكْرًا"

"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzul Qarnain. Katakanlah: Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya." (QS. Al-Kahfi [18]: 83)

"حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِن دُونِهِمَا قَوْمًا لَّا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا"

"Hingga ketika ia sampai di antara dua gunung, ia mendapati di hadapan kedua gunung itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan." (QS. Al-Kahfi [18]: 93)

"قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَن تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا"

"Mereka berkata: 'Wahai Dzul Qarnain, sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu berbuat kerusakan di bumi, maka bolehkah kami memberikan suatu pembayaran kepadamu agar kamu membuatkan dinding antara kami dan mereka?'" (QS. Al-Kahfi [18]: 94)

Ayat-ayat ini kemudian diklaim oleh kaum Qahthani sebagai bukti bahwa raja mereka (Dzul Qarnain) adalah seorang nabi atau wali Allah.


Klaim 'Adnani

Sebaliknya, kaum 'Adnani berpegang pada fakta bahwa Rasulullah sendiri dari keturunan Ismail, dan Ismail adalah putra Ibrahim. Mereka mengklaim Ibrahim sebagai kakek khusus mereka, meskipun Al-Qur'an menyebut Ibrahim sebagai bapak bagi seluruh Arab.

Allah berfirman:

"مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَٰذَا..."

"(Ikutilah) agama bapakmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini..." (QS. Al-Hajj [22]: 78)

Ayat ini jelas menyebut "bapak kalian Ibrahim" untuk seluruh umat Islam—bukan hanya 'Adnani. Namun kelompok 'Adnani bersikukuh bahwa mereka yang paling berhak.

Mereka juga menolak klaim Qahthani bahwa Ismail berbahasa Suryani dan belajar bahasa Arab dari suku Jurhum. Kaum 'Adnani mengatakan: "Mustahil jika Qahthan—yang konon lebih tua—tetap berbahasa Suryani, sementara putranya Ya'rub tiba-tiba berbahasa Arab. Maka sebenarnya Qahthan dan Ismail sama-sama berbahasa Suryani, dan Ya'rub diberi keistimewaan bahasa Arab. Tapi Ismail juga memiliki kedudukan lebih tinggi, jadi mengapa Ismail tidak diberi bahasa Arab?" Perdebatan ini menghabiskan banyak lembaran buku.


Para Pengarang Kisah-Kisah Palsu

Konflik ini melahirkan banyak pemalsuan sejarah.

'Ubaid bin Syariyah Al-Jurhumi—seorang perawi—membuat banyak cerita dan syair tentang bangsa Arab kuno dan tentang Qahthani. Ia menciptakannya untuk Mu'awiyah bin Abu Sufyan, karena Mu'awiyah sangat gemar mendengar legenda-legenda orang-orang dahulu.

Yazid bin Rabi'ah bin Mufarrigh (wafat 69 H)—seorang penyair fanatik Yaman—adalah pembuat cerita-cerita Raja Tubba'. Al-Ashma'i ditanya tentang syair Tubba' dan siapa pembuatnya. Ia menjawab: "Ibnu Mufarrigh".

Bahkan Al-Mas'udi dalam bukunya menyebut adanya "Kitab-kitab Tabābi'ah" (Buku-buku tentang raja-raja Yaman)—yang jelas berisi dongeng-dongeng karangan 'Ubaid, Wahb, Yazid bin Mufarrigh, dan sejenisnya.


Konflik Melebar hingga ke Masalah Aqidah

Yang lebih tragis, fanatisme ini sampai mempengaruhi sebagian teolog (mutakallimīn). Misalnya Dharrar bin 'Amru dan Al-Jahiz—meskipun Al-Jahiz terkenal cerdas—namun karena terpengaruh pandangan Ahli Kitab tentang nasab keturunan Ismail, mereka berpendapat bahwa bangsa Nabath (Nabathaean) lebih baik daripada bangsa Arab, karena Rasulullah berasal dari keturunan mereka (Nabath?). Anehnya, mereka secara tidak langsung merendahkan keturunan Ismail—yang merupakan 'Adnani dan Qahthani sama-sama.

Pendapat ini ditolak mentah-mentah oleh kedua kubu—Qahthani dan 'Adnani bersatu melawan pendapat ini. Al-Mas'udi mencatat bantahan-bantahan mereka.


Kesimpulan: Antara Sejarah dan Rekayasa Politik

Apa yang bisa kita petik dari kisah panjang ini?

Pertama, pembagian Arab menjadi Qahthani dan 'Adnani sebagaimana kita kenal sekarang bukanlah warisan dari zaman Jahiliyah yang murni. Ia lahir dan berkembang di masa Islam awal, terutama pada akhir abad ke-1 hingga ke-2 Hijriyah, sebagai akibat dari:

  • Perseteruan politik antara Makkah dan Madinah (Muhajirin vs Anshar)
  • Perebutan pengaruh di era Bani Umayyah antara kubu Qays dan Yaman
  • Fanatisme para penyair yang menyulut api kebencian
  • Kebijakan para khalifah yang tidak bijaksana dalam memilih kubu
  • Penciptaan cerita-cerita palsu oleh para perawi bayaran

Kedua, para ahli nasab yang mencatat silsilah sama sekali tidak netral. Mereka adalah pelaku fanatisme. Maka catatan mereka tentang silsilah kuno—terutama yang menyangkut hubungan dengan bangsa Persia, Yunani, Turk, dan lain-lain—harus disikapi dengan sangat hati-hati.

Ketiga, klaim bahwa suku-suku Arab Yaman (Qahthani) adalah pemilik peradaban agung yang menguasai dunia, sedangkan suku-suku 'Adnani hanyalah badui terbelakang, serta klaim sebaliknya bahwa 'Adnani adalah keturunan para nabi dan Qahthani hanyalah pendatang—semua itu adalah bagian dari propaganda politik, bukan fakta sejarah yang terbukti.

Keempat, Islam datang untuk menghapus fanatisme jahiliyah dan mempersatukan umat di bawah bendera ketakwaan, bukan keturunan. Namun sayangnya, umat Islam sendiri—karena kepentingan politik dan kekuasaan—telah menghidupkan kembali semangat kesukuan ini dan menjadikannya sebagai alat pemecah belah.

Firman Allah:

"إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ"

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Ayat ini sudah cukup. Tidak perlu membanggakan Qahthan atau 'Adnan. Tidak perlu mengklaim hubungan darah dengan Persia atau Yunani. Yang membedakan hanyalah ketakwaan.


Refleksi Akhir

Kisah perdebatan Qahthani dan 'Adnani—yang berlangsung berabad-abad dan menghabiskan tinta begitu banyak—seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita. Betapa energi umat Islam terbuang untuk saling membanggakan asal-usul, saling mengaku lebih mulia, saling merendahkan—hingga lupa bahwa musuh sebenarnya adalah kehinaan moral, kebodohan, dan keterbelakangan.

Para sejarawan modern seperti Jawad 'Ali telah membuka tabir ini dengan kritis. Kini terserah kita: apakah terus terjebak dalam mitos lama, atau melangkah maju membangun peradaban berdasarkan iman dan ilmu, bukan berdasarkan darah dan tanah.


Sumber Kisah

Kitab "Al-Mufashshal fi Tarikh al-Arab Qabl al-Islam" 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasulullah ﷺ: Secercah Matahari Kedermawanan dan Lautan Zuhud

Rasulullah ﷺ: Pribadi yang Paling Pemalu dan Merendah

Kaum Hajar: Kisah Bangsa Arab dalam Catatan Kitab Suci