Fathu Makkah (Bagian 4)
Fathu Makkah: Penghancuran Berhala, Adzan di Atas Ka'bah, dan Ampunan untuk Semua
Setelah pasukan Islam masuk ke Mekah dengan damai, tibalah
saat-saat paling bersejarah: pembersihan Ka'bah dari berhala-berhala, seruan
tauhid yang menggema dari atas rumah Allah, serta pengampunan agung dari
Rasulullah ﷺ
kepada penduduk Mekah yang pernah memusuhi beliau bertahun-tahun.
Perlindungan Ummu Hani' untuk Dua Saudara Iparku
Di tengah suasana Fathu Makkah, terjadi sebuah peristiwa
yang menunjukkan tingginya nilai perlindungan (ijarah) dalam Islam. Ummu
Hani' binti Abi Thalib —saudara perempuan Ali bin Abi Thalib dan
istri Hubairah bin Abi Wahb al-Makhzumi—memberikan perlindungan
kepada dua orang dari keluarga suaminya (iparnya), yaitu Al-Harits bin
Hisyam dan Zuhair bin Abi Umayyah (keduanya dari Bani
Makhzum). Kedua orang itu melarikan diri ke rumah Ummu Hani' karena ketakutan.
Saudaranya, Ali bin Abi Thalib, datang dengan
maksud ingin membunuh kedua orang tersebut. Ummu Hani' melarangnya. Kemudian ia
segera pergi menemui Rasulullah ﷺ yang sedang berada di daerah atas Mekah.
Ketika Rasulullah ﷺ melihat Ummu Hani', beliau bersabda dengan ramah:
“مَرْحَبًا
بِكِ وَأَهْلًا يَا أُمَّ هَانِئٍ، مَا جَاءَ بِكِ؟”
Artinya: “Selamat datang bagimu dan keluargamu, wahai
Ummu Hani'. Ada apa sehingga engkau datang?”
Ummu Hani' menjawab: “Wahai Nabi Allah, aku telah memberi
perlindungan kepada dua orang iparku, tetapi Ali ingin membunuh mereka.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda dengan tegas:
“قَدْ
أَجَرْنَا مَنْ أَجَرْتِ يَا أُمَّ هَانِئٍ”
Artinya: “Kami telah memberikan perlindungan kepada siapa
yang engkau lindungi, wahai Ummu Hani'.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keduanya pun selamat. Kemudian Al-Harits dan Zuhair masuk
Islam. Adapun suami Ummu Hani', Hubairah, tidak masuk Islam dan
tetap tinggal di Mekah hingga meninggal dalam keadaan kafir.
Menuju Ka'bah: Menghancurkan Simbol Kemusyrikan
Rasulullah ﷺ
kemudian menuju Ka'bah. Beliau melaksanakan tawaf tujuh putaran. Di tangannya,
beliau membawa sebuah mihjan (tongkat bengkok) yang digunakan
untuk menyentuh Hajar Aswad.
Di sekeliling Ka'bah, terdapat 360 berhala yang
dilekatkan dengan timah. Satu per satu, Rasulullah ﷺ menusuk berhala-berhala itu dengan
tongkatnya sambil membaca firman Allah:
جَاءَ
الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
Artinya: “Kebenaran telah datang dan kebatilan telah
lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isra': 81)
Dan juga firman-Nya:
وَقُلْ
جَاءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ
Artinya: “Dan katakanlah: ‘Kebenaran telah datang dan
kebatilan tidak akan memulai dan tidak akan mengulangi (lagi).’” (QS.
Saba': 49)
Berhala-berhala itu berjatuhan satu per satu, tidak pernah
kembali. Ka'bah kembali suci sebagaimana pada masa Nabi Ibrahim —sebagai simbol
tauhid murni dan penyembahan hanya kepada Allah semata.
Di Dalam Ka'bah: Penghapusan Gambar dan Patung
Rasulullah ﷺ
memanggil Utsman bin Thalhah bin Abi Thalhah —penjaga kunci
Ka'kah dari Bani ‘Abdud Dar. Beliau mengambil kunci darinya, lalu Ka'bah
dibuka. Beliau masuk ke dalam, bertakbir di setiap sudutnya, dan melaksanakan
salat dua rakaat.
Di dinding Ka'bah, beliau melihat lukisan-lukisan (gambar)
para malaikat, serta gambar Nabi Ibrahim dan Ismail sedang
memegang azlam (anak panah untuk mengundi nasib). Rasulullah ﷺ bersabda dengan
tegas:
“قَاتَلَهُمُ
اللَّهُ، لَقَدْ عَلِمُوا مَا اسْتَقْسَمَا بِهَا قَطُّ”
Artinya: “Semoga Allah memerangi mereka. Sungguh mereka
mengetahui bahwa keduanya (Ibrahim dan Ismail) tidak pernah mengundi nasib
dengan azlam itu sama sekali.”
Beliau memerintahkan agar semua gambar tersebut dihilangkan,
dan semua patung dikeluarkan dari Ka'bah.
Adzan Bilal di Atas Ka'bah: Suara Tauhid Menggema
Setelah Ka'bah dibersihkan dari segala bentuk kemusyrikan,
Rasulullah ﷺ
memerintahkan Bilal bin Rabah —sahabat berkulit hitam yang
merdeka—untuk naik ke atas Ka'bah dan mengumandangkan adzan.
Bilal naik ke atas Ka'bah. Dengan suara lantang
dan penuh getaran iman, ia berseru: Allahu Akbar, Allahu Akbar...
Asyhadu alla ilaha illallah... Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah...
Ini adalah pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Seorang budak hitam yang dahulu disiksa karena keimanannya, kini berdiri di
atas rumah Allah menyeru tauhid.
Peristiwa ini menyulut kemarahan orang-orang yang masih
menyimpan kesombongan jahiliah. Sebagian dari mereka berkata dengan nada
getir: “Segala puji bagi Allah yang telah mewafatkan fulan (kerabat
kami) sebelum dia melihat budak hitam ini di atas Ka'bah.”
Namun sejak hari itu—dan terus berlangsung selama 14 abad
hingga sekarang—Bilal dan para penerusnya (para muazin) menyeru manusia lima
kali setiap hari: “Laa ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah” —dan
menyeru kepada keberuntungan serta sebaik-baik amal, yaitu salat.
Kunci Ka'bah: Hari Kebaikan dan Ketepatan Janji
Ketika Rasulullah ﷺ keluar dari Ka'bah, Ali bin Abi Thalib datang
seraya memegang kunci Ka'bah. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, gabungkan untuk
kami tugas penjagaan pintu (hijabah) bersama dengan tugas memberi minum jamaah
haji (siqayah).”
Rasulullah ﷺ
bertanya: “أَيْنَ
عُثْمَانُ بْنُ طَلْحَةَ؟” (Di mana Utsman bin Thalhah?) Ia
pun dipanggil. Beliau bersabda:
“هَذَا
مِفْتَاحُكَ يَا عُثْمَانُ، الْيَوْمُ يَوْمُ بِرٍّ وَوَفَاءٍ”
Artinya: “Ini kuncimu, wahai Utsman. Hari ini adalah hari
kebaikan dan ketepatan janji.”
Beliau kemudian bersabda kepada Bani Syaibah (keluarga
Utsman):
“خُذُوهَا
يَا بَنِي شَيْبَةَ خَالِدَةً تَالِدَةً، لَا يَنْزِعُهَا مِنْكُمْ إِلَّا ظَالِمٌ”
Artinya: “Ambillah kunci ini wahai Bani Syaibah, secara
turun-temurun dan abadi. Tidak akan mencabutnya dari kalian kecuali orang yang
zalim.” (HR. Bukhari)
Hingga hari ini, kunci Ka'bah masih berada di tangan
keluarga Bani Syaibah (dikenal dengan sebutan Asy-Syaibiyyun —dinisbatkan
kepada Syaibah bin Utsman bin Abi Thalhah, sepupu dari Utsman bin Thalhah).
Mereka tetap menjadi pemegang amanah kunci Ka'bah sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ.
Tentang peristiwa inilah Allah menurunkan firman-Nya:
إِنَّ
اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا
حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا
يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk
menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (memerintahkan kamu)
apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.
Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah
Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa': 58)
Khutbah Fathu Makkah: Pengampunan dan Persamaan Derajat
Rasulullah ﷺ
berdiri di depan pintu Ka'bah. Masjidil Haram dipenuhi oleh manusia. Kaum
musyrikin yang tadinya ketakutan hingga hati mereka tercekat di tenggorokan,
memandang dengan cemas ke arah Rasulullah ﷺ.
Namun Rasulullah ﷺ —sosok yang terzalimi namun kini menang—memilih untuk
memberikan teladan langka dalam hal pemaafan. Beliau berkhutbah:
“لا
إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ
عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ...”
Artinya: “Tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu
bagi-Nya. Dia menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan
golongan yang bersekutu sendirian...”
Kemudian beliau melanjutkan:
“أَلا
إِنَّ كُلَّ مَأْثَرَةٍ كَانَتْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، أَوْ دَمٍ، أَوْ مَالٍ
يُدْعَى، فَهُوَ مَوْضُوعٌ تَحْتَ قَدَمَيَّ هَاتَيْنِ، إِلا مَا كَانَ مِنْ
سِدَانَةِ الْبَيْتِ وَسِقَايَةِ الْحَاجِّ فَإِنِّي أُمْضِيهِمَا لأَهْلِهِمَا
عَلَى مَا كَانَا...”
Artinya: “Ketahuilah, setiap kebanggaan jahiliah, setiap
darah yang ditumpahkan, setiap harta yang diklaim (di masa jahiliah), semuanya
aku letakkan di bawah kedua telapak kakiku ini—kecuali tugas menjaga Ka'bah dan
memberi minum jamaah haji, maka aku tetap meneruskannya kepada pemiliknya
sebagaimana adanya...”
Beliau juga menetapkan aturan tentang diat untuk
pembunuhan semi-sengaja (seperti dengan cambuk atau tongkat): diyat
yang diperberat, seratus ekor unta, empat puluh di antaranya sedang hamil.
Kemudian beliau bersabda dengan penuh makna:
“يَا
مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ نَخْوَةَ
الْجَاهِلِيَّةِ وَتَعَظُّمَهَا بِالْآبَاءِ، النَّاسُ مِنْ آدَمَ، وَآدَمُ مِنْ
تُرَابٍ”
Artinya: “Wahai sekalian Quraisy, sungguh Allah telah
menghilangkan dari kalian kesombongan jahiliah dan kebanggaan dengan nenek
moyang. Manusia berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah.”
Kemudian beliau membaca firman Allah:
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ
شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ
أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami menciptakan kamu
dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sungguh,
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)
"Pergilah, Kalian Semua Bebas!"
Setelah itu, Rasulullah ﷺ bertanya kepada penduduk Mekah:
“يَا
مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، مَا تَرَوْنَ أَنِّي فَاعِلٌ بِكُمْ؟”
Artinya: “Wahai sekalian Quraisy, apa yang kalian kira
akan aku lakukan terhadap kalian?”
Mereka menjawab dengan penuh harap: “خَيْرًا، أَخٌ
كَرِيمٌ، وَابْنُ أَخٍ كَرِيمٌ” (Kebaikan. Engkau saudara yang
mulia, dan putra saudara yang mulia.)
Maka Rasulullah ﷺ bersabda dengan kalimat yang mengguncang jiwa:
“اذْهَبُوا
فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ”
Artinya: “Pergilah, kalian semua (sekarang) adalah
orang-orang yang merdeka (bebas, tidak ada tuntutan apa pun atas kalian)!”
Inilah puncak akhlak agung. Sebuah pengampunan total tanpa
syarat. Sebuah kemenangan yang dihiasi dengan maaf. Hari itu, seluruh penduduk
Mekah yang sebelumnya memusuhi Islam, diangkat derajatnya menjadi thulaqa' —mereka
yang dibebaskan.
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar
Posting Komentar