Fathu Makkah (Bagian 4)

seorang laki-laki berkulit hitam (Bilal) berdiri di atas atap datar bangunan Ka'bah yang sederhana, mulut terbuka seolah sedang mengumandangkan adzan dengan penuh khusyuk. Kedua tangannya di dekat telinga. Di bawah, terlihat halaman Masjidil Haram dengan beberapa orang yang berdiri mendengarkan. Latar belakang adalah langit pagi yang cerah dengan awan tipis dan gunung-gunung di kejauhan.

Fathu Makkah: Penghancuran Berhala, Adzan di Atas Ka'bah, dan Ampunan untuk Semua

Setelah pasukan Islam masuk ke Mekah dengan damai, tibalah saat-saat paling bersejarah: pembersihan Ka'bah dari berhala-berhala, seruan tauhid yang menggema dari atas rumah Allah, serta pengampunan agung dari Rasulullah kepada penduduk Mekah yang pernah memusuhi beliau bertahun-tahun.


Perlindungan Ummu Hani' untuk Dua Saudara Iparku

Di tengah suasana Fathu Makkah, terjadi sebuah peristiwa yang menunjukkan tingginya nilai perlindungan (ijarah) dalam Islam. Ummu Hani' binti Abi Thalib —saudara perempuan Ali bin Abi Thalib dan istri Hubairah bin Abi Wahb al-Makhzumi—memberikan perlindungan kepada dua orang dari keluarga suaminya (iparnya), yaitu Al-Harits bin Hisyam dan Zuhair bin Abi Umayyah (keduanya dari Bani Makhzum). Kedua orang itu melarikan diri ke rumah Ummu Hani' karena ketakutan.

Saudaranya, Ali bin Abi Thalib, datang dengan maksud ingin membunuh kedua orang tersebut. Ummu Hani' melarangnya. Kemudian ia segera pergi menemui Rasulullah yang sedang berada di daerah atas Mekah.

Ketika Rasulullah melihat Ummu Hani', beliau bersabda dengan ramah:
مَرْحَبًا بِكِ وَأَهْلًا يَا أُمَّ هَانِئٍ، مَا جَاءَ بِكِ؟

Artinya: “Selamat datang bagimu dan keluargamu, wahai Ummu Hani'. Ada apa sehingga engkau datang?”

Ummu Hani' menjawab: “Wahai Nabi Allah, aku telah memberi perlindungan kepada dua orang iparku, tetapi Ali ingin membunuh mereka.”

Maka Rasulullah bersabda dengan tegas:
قَدْ أَجَرْنَا مَنْ أَجَرْتِ يَا أُمَّ هَانِئٍ

Artinya: “Kami telah memberikan perlindungan kepada siapa yang engkau lindungi, wahai Ummu Hani'.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keduanya pun selamat. Kemudian Al-Harits dan Zuhair masuk Islam. Adapun suami Ummu Hani', Hubairah, tidak masuk Islam dan tetap tinggal di Mekah hingga meninggal dalam keadaan kafir.


Menuju Ka'bah: Menghancurkan Simbol Kemusyrikan

Rasulullah kemudian menuju Ka'bah. Beliau melaksanakan tawaf tujuh putaran. Di tangannya, beliau membawa sebuah mihjan (tongkat bengkok) yang digunakan untuk menyentuh Hajar Aswad.

Di sekeliling Ka'bah, terdapat 360 berhala yang dilekatkan dengan timah. Satu per satu, Rasulullah menusuk berhala-berhala itu dengan tongkatnya sambil membaca firman Allah:

جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Artinya: “Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isra': 81)

Dan juga firman-Nya:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ

Artinya: “Dan katakanlah: ‘Kebenaran telah datang dan kebatilan tidak akan memulai dan tidak akan mengulangi (lagi).’” (QS. Saba': 49)

Berhala-berhala itu berjatuhan satu per satu, tidak pernah kembali. Ka'bah kembali suci sebagaimana pada masa Nabi Ibrahim —sebagai simbol tauhid murni dan penyembahan hanya kepada Allah semata.


Di Dalam Ka'bah: Penghapusan Gambar dan Patung

Rasulullah memanggil Utsman bin Thalhah bin Abi Thalhah —penjaga kunci Ka'kah dari Bani ‘Abdud Dar. Beliau mengambil kunci darinya, lalu Ka'bah dibuka. Beliau masuk ke dalam, bertakbir di setiap sudutnya, dan melaksanakan salat dua rakaat.

Di dinding Ka'bah, beliau melihat lukisan-lukisan (gambar) para malaikat, serta gambar Nabi Ibrahim dan Ismail sedang memegang azlam (anak panah untuk mengundi nasib). Rasulullah bersabda dengan tegas:

قَاتَلَهُمُ اللَّهُ، لَقَدْ عَلِمُوا مَا اسْتَقْسَمَا بِهَا قَطُّ

Artinya: “Semoga Allah memerangi mereka. Sungguh mereka mengetahui bahwa keduanya (Ibrahim dan Ismail) tidak pernah mengundi nasib dengan azlam itu sama sekali.”

Beliau memerintahkan agar semua gambar tersebut dihilangkan, dan semua patung dikeluarkan dari Ka'bah.


Adzan Bilal di Atas Ka'bah: Suara Tauhid Menggema

Setelah Ka'bah dibersihkan dari segala bentuk kemusyrikan, Rasulullah memerintahkan Bilal bin Rabah —sahabat berkulit hitam yang merdeka—untuk naik ke atas Ka'bah dan mengumandangkan adzan.

Bilal naik ke atas Ka'bah. Dengan suara lantang dan penuh getaran iman, ia berseru: Allahu Akbar, Allahu Akbar... Asyhadu alla ilaha illallah... Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah...

Ini adalah pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Seorang budak hitam yang dahulu disiksa karena keimanannya, kini berdiri di atas rumah Allah menyeru tauhid.

Peristiwa ini menyulut kemarahan orang-orang yang masih menyimpan kesombongan jahiliah. Sebagian dari mereka berkata dengan nada getir: “Segala puji bagi Allah yang telah mewafatkan fulan (kerabat kami) sebelum dia melihat budak hitam ini di atas Ka'bah.”

Namun sejak hari itu—dan terus berlangsung selama 14 abad hingga sekarang—Bilal dan para penerusnya (para muazin) menyeru manusia lima kali setiap hari: “Laa ilaaha illallah, Muhammadur Rasulullah” —dan menyeru kepada keberuntungan serta sebaik-baik amal, yaitu salat.


Kunci Ka'bah: Hari Kebaikan dan Ketepatan Janji

Ketika Rasulullah keluar dari Ka'bah, Ali bin Abi Thalib datang seraya memegang kunci Ka'bah. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, gabungkan untuk kami tugas penjagaan pintu (hijabah) bersama dengan tugas memberi minum jamaah haji (siqayah).”

Rasulullah bertanya: أَيْنَ عُثْمَانُ بْنُ طَلْحَةَ؟ (Di mana Utsman bin Thalhah?) Ia pun dipanggil. Beliau bersabda:

هَذَا مِفْتَاحُكَ يَا عُثْمَانُ، الْيَوْمُ يَوْمُ بِرٍّ وَوَفَاءٍ

Artinya: “Ini kuncimu, wahai Utsman. Hari ini adalah hari kebaikan dan ketepatan janji.”

Beliau kemudian bersabda kepada Bani Syaibah (keluarga Utsman):

خُذُوهَا يَا بَنِي شَيْبَةَ خَالِدَةً تَالِدَةً، لَا يَنْزِعُهَا مِنْكُمْ إِلَّا ظَالِمٌ

Artinya: “Ambillah kunci ini wahai Bani Syaibah, secara turun-temurun dan abadi. Tidak akan mencabutnya dari kalian kecuali orang yang zalim.” (HR. Bukhari)

Hingga hari ini, kunci Ka'bah masih berada di tangan keluarga Bani Syaibah (dikenal dengan sebutan Asy-Syaibiyyun —dinisbatkan kepada Syaibah bin Utsman bin Abi Thalhah, sepupu dari Utsman bin Thalhah). Mereka tetap menjadi pemegang amanah kunci Ka'bah sebagaimana sabda Rasulullah .

Tentang peristiwa inilah Allah menurunkan firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (memerintahkan kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa': 58)


Khutbah Fathu Makkah: Pengampunan dan Persamaan Derajat

Rasulullah berdiri di depan pintu Ka'bah. Masjidil Haram dipenuhi oleh manusia. Kaum musyrikin yang tadinya ketakutan hingga hati mereka tercekat di tenggorokan, memandang dengan cemas ke arah Rasulullah .

Namun Rasulullah —sosok yang terzalimi namun kini menang—memilih untuk memberikan teladan langka dalam hal pemaafan. Beliau berkhutbah:

لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ...”

Artinya: “Tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dia menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan golongan yang bersekutu sendirian...”

Kemudian beliau melanjutkan:

أَلا إِنَّ كُلَّ مَأْثَرَةٍ كَانَتْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، أَوْ دَمٍ، أَوْ مَالٍ يُدْعَى، فَهُوَ مَوْضُوعٌ تَحْتَ قَدَمَيَّ هَاتَيْنِ، إِلا مَا كَانَ مِنْ سِدَانَةِ الْبَيْتِ وَسِقَايَةِ الْحَاجِّ فَإِنِّي أُمْضِيهِمَا لأَهْلِهِمَا عَلَى مَا كَانَا...”

Artinya: “Ketahuilah, setiap kebanggaan jahiliah, setiap darah yang ditumpahkan, setiap harta yang diklaim (di masa jahiliah), semuanya aku letakkan di bawah kedua telapak kakiku ini—kecuali tugas menjaga Ka'bah dan memberi minum jamaah haji, maka aku tetap meneruskannya kepada pemiliknya sebagaimana adanya...”

Beliau juga menetapkan aturan tentang diat untuk pembunuhan semi-sengaja (seperti dengan cambuk atau tongkat): diyat yang diperberat, seratus ekor unta, empat puluh di antaranya sedang hamil.

Kemudian beliau bersabda dengan penuh makna:

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ نَخْوَةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَتَعَظُّمَهَا بِالْآبَاءِ، النَّاسُ مِنْ آدَمَ، وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ

Artinya: “Wahai sekalian Quraisy, sungguh Allah telah menghilangkan dari kalian kesombongan jahiliah dan kebanggaan dengan nenek moyang. Manusia berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah.”

Kemudian beliau membaca firman Allah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)


"Pergilah, Kalian Semua Bebas!"

Setelah itu, Rasulullah bertanya kepada penduduk Mekah:

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، مَا تَرَوْنَ أَنِّي فَاعِلٌ بِكُمْ؟

Artinya: “Wahai sekalian Quraisy, apa yang kalian kira akan aku lakukan terhadap kalian?”

Mereka menjawab dengan penuh harap: خَيْرًا، أَخٌ كَرِيمٌ، وَابْنُ أَخٍ كَرِيمٌ (Kebaikan. Engkau saudara yang mulia, dan putra saudara yang mulia.)

Maka Rasulullah bersabda dengan kalimat yang mengguncang jiwa:

اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ

Artinya: “Pergilah, kalian semua (sekarang) adalah orang-orang yang merdeka (bebas, tidak ada tuntutan apa pun atas kalian)!”

Inilah puncak akhlak agung. Sebuah pengampunan total tanpa syarat. Sebuah kemenangan yang dihiasi dengan maaf. Hari itu, seluruh penduduk Mekah yang sebelumnya memusuhi Islam, diangkat derajatnya menjadi thulaqa' —mereka yang dibebaskan.


Sumber Kisah:
Kitab As-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau’ al-Qur’an wa as-Sunnah (Sirah Nabawiyah dalam Sorotan Al-Qur’an dan Sunnah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun Ke-8 Hijriah: Tiga Bintang Quraisy Menyinari Islam

Mu'tah: Ketika 3.000 Melawan 200.000

Bani Nadhir: Ketika Pengkhianatan Berujung Pengusiran